Rooftop Romance (Chapter 24) – Shaekiran

rooftopromancesad.png

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol, Sehun (EXO)

 

Other Cast

Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Friendship? AU? Angst? Sad? School Life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | Chapter 20 | Chapter 21 | Chapter 22 |Chapter 23 | [NOW] Chapter 24 |

“Aku baik-baik saja.”

 

 

 

-Chapter 24-

 

In Author’s Eyes

 

Langit layaknya sebuah saksi bisu. Pagi itu, Wendy terbangun dari tidur singkatnya, menghadap sinar mentari yang masuk lewat celah kecil jendela kaca di kamarnya. Gadis itu masih benar-benar mengantuk. Sekarang masih pukul 5 pagi, bukan kebiasaan Wendy untuk bangun sepagi ini terlebih kemarin ia baru sampai di kamarnya pukul 1 dini hari. Hanya saja, pagi ini Wendy memang ingin bangun meski matanya masih memerah karena kurang istirahat —juga karena ia yang menangis semalam suntuk.

“Pagi oppa.” sapa Wendy sekiranya kakinya menapak di lantai 1 dan menemukan kakak tirinya —Jinwoo— sedang mengoleskan selai pada roti tawar miliknya.

“Pagi Wen, ah tumben kau bangun secepat ini,” kekeh Jinwoo ringan sambil menepuk kursi di sebelahnya yang kosong. Layaknya Wendy yang bingung dengan tingkahnya sendiri, sepertinya Jinwoo pun bingung dengan sikap si adik yang agak berbeda selama beberapa hari belakangan.

“Memangnya salah bangun pagi?” cerca Wendy sambil mengerucutkan bibir, lalu meraih roti selai yang selesai dibuat kakaknya.

“Kau buat lagi saja, aku sebenarnya masih mengantuk,” cerca Wendy cepat saat melihat kakaknya akan protes. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Wendy langsung naik kembali ke lantai atas. Meninggalkan Jinwoo yang hanya melongo di tempat.

Loteng menjadi tempat kesukaan Wendy sekarang. Sebenarnya bukan loteng, hanya saja dia sedang berdiri di atas balkon. Loteng hanya menjadi tempat angan-angannya untuk berdiri sekarang, sementara tempat itu sendiri sudah dikunci dengan rapat selama beberapa tahun ini dan Wendy pun tidak tau dimana letak kunci yang disembunyikan ayahnya itu.

Gadis itu menghela nafas pelan sambil mengunyah rotinya perlahan. Wendy memandang kosong langit pagi yang cukup cerah dari atas balkon, menghirup udara pagi yang cukup bersih dan menyapa dedaunan pohon yang rasanya semakin rimbun saja.

“Kita akhiri sampai disini saja.”

Ucapan Chanyeol tiba-tiba terngiang di ingatan Wendy. Ya, mereka berdua sudah berakhir. Lantas gadis itu meraih ponselnya di atas nakas sebelah tempat tidurnya, lalu mulai mengetikkan pesan pada Moon Taeil.

to: Taeil
Aku membolos hari ini.

Ragu, namun akhirnya Wendy mulai mengetikkan pesan kedua lagi setelah mengirim pesan pertama.

to: Taeil
Temani aku ke suatu tempat.

 

—-

Chanyeol duduk terdiam di dalam kelas. Matanya benar-benar mengantuk dan itu cukup membuatnya kesulitan mendengar penjelasan guru di depan sana. Bukan karena ia tidur larut kemarin—meski memang demikian— tapi juga karena faktor pil tidur yang ia tenggak kemarin malam. Yah, dia masih kesulitan tidur dan sepertinya ia makin ketergantungan dengan obat tidur itu.

“Yeol-ah,”

Chanyeol mengerjap saat kini dirasakannya sebuah tangan yang dengan lembut menyenggol pergelangan tangannya. Ia membuka mata, menyesuaikan diri dengan cahaya ruangan. Ah, ternyata ia ketiduran sedari tadi.

“Hm, Irene? Ada apa?” tanya Chanyeol saat sadar bahwa sosok yang membangunkannya adalah Irene —kekasihnya sendiri.

“Ini buku catatan. Kulihat kau sangat kelelahan dan malah ketiduran selama beberapa jam pelajaran ini.” Irene menyerahkan 3 buah buku tulis bersampul coklat kepada Chanyeol, hingga membuat lelaki itu lekas mengerjap kaget. “Sekarang jam berapa?” tanyanya cepat.

“Pukul 3 sore. Kau sudah tidur dari mata pelajaran kedua tadi.” Chanyeol merutuk dirinya sendiri. Pukul 3 sore itu berarti adalah jam berakhirnya sekolah. Chanyeol sendiri tidak yakin sudah tidur sangat lama di kelas, namun nyatanya memang hari sudah sesore itu.

Chanyeol akhirnya dengan berat hati menerima sodoran 3 buah buku tulis milik Irene, lalu mengucapkan terima kasih dengan tulus. “Hari ini kau les juga?” tanya Chanyeol akhirnya membuka konversasi dan Irene menganguk. “Hm, aku les. Mungkin sampai malam.” jawab Irene singkat.

“Sayang sekali,” kekeh Chanyeol akhirnya yang membuat Irene bingung, “Memangnya kenapa?” tanya gadis itu penasaran.

“Aku ingin mengajakmu berkencan, tapi kau selalu sibuk dan—“

“—Besok aku tidak punya les. Aku luang!” Chanyeol tersenyum melihat semangat Irene. Lantas ia berdiri kemudian menepuk pelan kepala gadisnya itu. “Besok di taman dekat Sungai Han, pukul 4 sore. Arraseo?” lalu Irene mengangguk dengan rona di pipi wajah yang tidak bisa disembunyikan. Demi apapun, Irene sangat bahagia.

 

—-

 

Chanyeol berjalan santai menuju rumahnya. Hari ini Baekhyun punya les tambahan matematika, jadi dia lebih memilih pulang sendiri ketimbang menunggu hyung-nya itu. Lagipula, Chanyeol perlu mencatat dan mempelajari semua isi buku catatan Irene kalau tidak ingin ketinggalan pelajaran dan harus lulus dengan nilai tidak memuaskan. Masalahnya, minggu depan Chanyeol sudah harus berhadapan dengan ujian kelulusan dan tes masuk universitas.

Sekitar 15 menit berjalan, Chanyeol akhirnya sampai di rumahnya, lalu terkaget saat menemukan sebuah mobil asing terparkir di depan restoran tteokboki milik ibunya. Sedikit penasaran, lelaki itu lantas melirik ke dalam resoran tteokboki. Hanya ada 2 orang murid SMP dan seorang nenek tua disana, dan agaknya mobil Porsche itu terlalu mewah untuk menjadi kendaraan salah satu dari pelanggan ibunya itu.

Chanyeol akhirnya memasuki restoran milik ibu tirinya itu yang langsung disambut dengan pelukan hangat sang ibu. “Kau sudah pulang? Sudah makan siang?” cerca ibunya langsung, dan Chanyeol dengan cepat mengangguk.

Eomma, mobil yang diluar itu, mobil siapa?” tanya Chanyeol akhirnya, dan sang ibu langsung ber-oh ria.

“Itu mobilnya Seungwan, dia ada di atas sekarang,” jawab ibunya santai.

Mendengar nama Seungwan disebut —yang itu artinya adalah Wendy berada di rumah atap— Chanyeol sedikit mencelos. Ia bahkan harus berusaha mengendalikan ekspresi wajahnya agar terlihat tenang. Dan dengan senyum dipaksakan Chanyeol mulai bertanya lagi pada sang ibu, “Untuk apa Seungwan kemari?”

“Seungwan ingin pindah dari rumah atap kita, katanya dia akan kembali ke rumah orangtuanya saja.”

Chanyeol hanya ber-oh ria meski sedikit rasa tidak setuju mencubit hatinya. Itu wajar, memangnya untuk apa lagi Wendy tinggal di rumah atap padahal dia punya rumah mewah di Gangnam ‘kan? Lagipula, hubungannya dengan ayahnya sudah membaik, sementara hubungan Chanyeol dan Wendy pun kini sudah berakhir.

“Oh ya Yeol, kalau kau tidak keberatan, bisa kau antarkan tteokboki ini ke atas? Dia penyewa yang baik, dan selama ini eomma belum pernah melihat dia makan tteokboki disini. Bolehkan?”

Chanyeol terdiam, mencerna kata-kata ibunya. Itu artinya, dia harus bertemu Wendy lagi?

“Ayolah, eomma tau kalian berdua sudah putus, tapi itu tidak berarti kalian musuhan ‘kan? Antar ini sebagai temannya, juga sebagai anak pemilik rumah atap yang selama beberapa bulan ini ia tinggali,” pesan sang ibu sambil menyodorkan sepiring penuh tteokboki yang sudah dilapis plastik agar tetap higenis. Chanyeol terdiam, hanya memandangi tteokboki yang kini sudah ada di tangannya sambil menerawan jauh.

Akhirnya, selama 60 detik berpikir kilat, Chanyeol mengangguk dengan ragu, lalu mengguman iya meski lidahnya tercekat.

 

—-

 

“Kau mau kemana?” tanya Taeil yang kini sudah duduk di balik bangku pengemudi, sementara Wendy dengan santai duduk di bangku penumpang sebelahnya.

“Rumah atap.” jawab gadis itu ringan.

“Aku ingin pindahan. Ada beberapa barangku yang masih tertinggal di sana,” lanjut Wendy cepat saat sadar Taeil akan mulai mewawancarai alasan kepergiannya ke rumah atap, yang itu berarti dekat dengan rumahnya Chanyeol.

Akhirnya, tanpa banyak bicara Taeil pun menekan pedal gas, lalu sekon selanjutnya Porsche milik Wendy sudah melaju di jalan raya. Tak banyak percakapan yang terjadi, hanya ada diam hingga kini Taeil menepikan mobil mewah itu di depan restoran tteokboki milik keluarga Park.

Wendy keluar dari mobil dengan riang, lalu langsung menyapa Nyonya Park yang juga langsung memeluknya hangat. Perbincangan terjadi selama kurun waktu hampir sejam, dan Taeil hanya menunggu dengan sabar. Nyonya Park bertanya banyak hal pada Wendy, juga kenapa gadis itu jarang di rumah akhir-akhir. Juga, nyonya Park bertanya tentang hubungan si gadis dengan salah satu putranya —Park Chanyeol.

Wendy menjelaskan dengan seadanya. Berusaha menjaga ekspresi wajahnya saat pembicaraan mereka membentur kepada kata ‘Chanyeol’ dan segala hal yang berbau tentang pria itu. Tak banyak, Wendy hanya menjelaskan bahwa dia ingin pindah dan kembali ke rumah orangtuanya.

Akhirnya, Wendy dengan senyum diwajah naik ke rumah atapnya —mungkin sebentar lagi bekas rumah atapnya mengingat Wendy akan segera pindah. Gadis itu hanya bisa memandang tempatnya yang sedikit berdebu. Dia menaiki tangga sambil menahan haru mengingat betapa banyak kenangan yang ia lewati dengan orang itu di tangga ini; bergandengan tangan, berpelukan, bertengkar, dan banyak lagi.

Sesampainya di atas mata Wendy langsung bersibobrok dengan pemandangan tempat duduk panjang yang dulu digunakannya bersama Chanyeol untuk melihat bintang bersama —lalu ia teringat deifinisi rindu bintang. Kali ini, satu lelehan bening turun bebas membasahi pipi Wendy. Dengan cepat gadis itu segera memasuki rumah atapnya, lalu dengan suara hampir serak karena memangis Wendy meminta Taeil untuk pergi secara sangat halus.

“Tolong belikan aku 2 mangkuk ramyeon di minimarket depan, juga satu coca-cola kaleng ukuran sedang,” titah Wendy pada bodyguard-nya itu yang segera menganguk dan turun ke bawah —berniat membeli semua pesanan majikannya itu.

Merasa Taeil benar-benar pergi, Wendy mengeluarkan semua tangisnya. Lihat, dia bahkan memberi perintah pada Taeil untuk membeli barang-barang yang dulu ia lemparkan pada Chanyeol pada kali pertama pertemuan mereka. Miris, Wendy bahkan masih ingat kenangan memalukan itu.

Wendy pun masuk ke dalam rumah atapnya, lalu menutup pintu biru itu cepat dari dalam. Isaknya makin hebat saat mendapati ruangan itu masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan tanpa pamit. Sekelebat bayangan saat ia mendekap Chanyeol di ruangan itu pun masuk bagai sebuah tayangan film yang dengan kurang ajarnya mengingatkan Wendy tentang kenangan mereka berdua untuk kesekian kalinya.

Ya, rumah atap ini mengingatkannya tentang Chanyeol, dan selalu tentang orang itu.

Wendy pun makin membiarkan tangisnya lolos, berharap setelah ini ia bisa merasa lebih baik dan boleh bernafas dengan lega seperti sebelum ia mengenal seorang Park Chanyeol.

 

 

Chanyeol berdiri mematung di anak tangga terbawah. Harusnya ia sudah menancapkan kakinya di atas rumah atap Wendy kalau saja ia tidak terdiam selama kurun waktu 10 menit di tangga penuh kenangan itu. Ia menghela nafasnya. Tadi, ia sudah menyakinkan diri untuk naik dan dengan percaya diri menemui Wendy, tapi kenapa dia malah ketakutan begini? Ia takut tidak bisa menahan rasa yang ia pendam selama ini, takut ia malah berlari dan memeluk Wendy di saat ia tidak seharusnya memeluk gadis itu. Sebut saja Chanyeol tengah dilema, dan itu sungguh menyiksanya lahir dan batin.

“Apa yang kau lakukan di sana?” Tak lama, sebuah suara nampak menyapa gendang telinga Chanyeol yang sekon selanjutnya langsung berbalik karena ingin tau siapa gerangan pemilik suara itu.

“Taeil?” spontan Chanyeol saat menemukan bahwa Taeil —bodyguard Wendy— yang ternyata menyapanya. Taeil menatap Chanyeol bingung, sementara yang ditatap hanya membalas dengan sebuah senyuman canggung.

“Kau mau menemui nona Wendy?” tanya Taeil akhirnya karena sedari tadi mereka hanya terjebak dalam diam. Sebuah helaan nafas lolos dari bibir Chanyeol. Perlahan, lelaki Park itu menggeleng.

Ani, aku tidak ingin menemuinya, haha…kalau begitu aku permisi dulu Moon Taeil, sampai jumpa,” kata Chanyeol cepat sambil berjalan turun dari anak tangga pertama, lalu dengan segera berjalan menuju restoran tteokboki ibunya sebelum akhirnya sebuah tangan dengan cepat menahan pergerakan lelaki itu.

Jinja? Lalu kenapa aku malah berpikir kau ingin menemuinya?” tanya Taeil yakin, dan Chanyeol dengan sebuah senyum tipis melepaskan tangan Taeil dari lengannya, “Mungkin hanya perasaanmu saja,” katanya lalu kembali melanjutkan langkah menjauhi Taeil.

“Temui dia!” teriak Taeil kemudian, namun Chanyeol hanya terkekeh dan terus melanjutkan langkah.

“Nona Wendy akan kembali ke Kanada!” Chanyeol diam di tempat, berbalik, lalu menatap Taeil dengan pandangan membola. “Apa katamu tadi?” tanyanya sejurus kemudian dengan pandangan yang sulit diartikan oleh Taeil sekalipun.

Taeil pun mendekati Chanyeol, lalu berdiri selangkah di depan pria Park yang adalah sunbae-nya di sekolah itu.

“Nona Wendy akan kembali ke Kanada setelah ujian kenaikan kelas, kurang dari 2 minggu lagi.” Chanyeol terdiam, hampir saja ia menjambak rambutnya frustasi kalau saja ia tidak mengingat ada Taeil yang notabene orangnya Wendy di depannya.

“Kau tidak ingin menemuinya? Hanya saja aku takut sewaktu-waktu kau mungkin akan menyesal. Ujian kelulusan sunbae tinggal beberapa hari lagi, dan setelah ujian kelulusan kalian langsung mengikuti tes ujian masuk universitas ‘kan? Sayangnya, keberangkatan Wendy tepat di hari terakhir ujian, dan aku takut kau tidak bisa bertemu dengannya lagi. Menemuinya sekarang, bukankah tawaran yang menarik? Setidaknya kau bisa mengucapkan selamat tinggal dengan baik.”

Chanyeol menghela nafasnya dalam mendengar penuturan Taeil yang adalah benar adanya, perlahan ia menggigit bibirnya sendiri, rasanya mengambil keputusan di saat seperti ini benar-benar membuatnya kesulitan.

“Baiklah….Moon Taeil, bisa aku minta bantuanmu?”

 

—–

 

Dan disinilah Chanyeol berada, di rumah atap Wendy. Perlahan lelaki jangkung itu berjalan mendekati pintu rumah Wendy yang tertutup, lalu meletakkan tteokboki di tangannya di depan pintu. Lalu dengan perlahan pula Taeil muncul dari belakang Chanyeol. Bodyguard itu tersenyum, kemudian menepuk bahu Chanyeol sangat pelan. “Pergilah,” ucapnya tanpa suara, hanya lewat gerakan bibir, dan Chanyeol pun mengangguk. Sekon selanjutnya Chanyeol melangkahkan kaki sangat pelan, lalu mulai mengetikkan pesan saat ia sudah ada di bagian belakang rumah Wendy.

from: Chanyeol hyung
Ketok pintunya.

Selanjutnya, Taeil yang menerima pesan itu langsung melaksanakan sesuai pesan Chanyeol. Ia mengetuk pintu rumah atap Wendy.

Tok..Tok…

“Nona Wendy, ini aku Taeil.” ucap Taeil, dan sebuah teriakan muncul sebagai jawaban.

“Ah, kau sudah kembali rupanya? Sudah beli yang aku pesan, huh?” suara Wendy terdengar akrab dari balik pintu berwarna biru itu.

“Hm, cola dan ramen,” jawab Taeil lagi, dan Wendy di dalam sana nampak mengangguk-angguk.

“Baguslah. Hm, Taeil-ah, maaf tapi sepertinya aku tidak bisa membuka pintu. Kau tau, aku baru saja selesai mandi dan kau mengertilah…”

“Ah, arraseo, tidak usah buka pintu.” jawab Taeil tiba-tiba gugup.

“Selalu saja alasan baru selesai mandi saat ia tidak mau membuka pintu, saat dengan Baekhyun yang mencariku pun kau juga begitu. Kau tidak pernah berubah Wen,” batin Chanyeol dalam diam, lalu mulai mengetikkan pesan.

from :Chanyeol hyung
Gwenchana, kalau kau ingin menangis, menangis saja. Tidak usah malu, tak ada yang salah dengan menangis.

Anu, Nona Wendy…”

“Tanpa nona!” titah Wendy kemudian saat mendengar suara gugup Taeil dari balik pintu, dan lelaki itu langsung mengangguk. “Ah, maksudku Wendy.” ralatnya cepat.

“Wendy-ah, kalau kau ingin menangis, menangis saja. Gwenchana. Tidak usah malu, tak ada yang salah dengan menangis.” ucap Taeil kemudian, sesuai dengan isi pesan Chanyeol padanya.

“Haha, siapa yang menangis? Aku tidak menangis kok, kau sok tau saja,” kekeh Wendy dari dalam sana meski memang benar ia tengah menangis tertahan. Alasannya tidak mau membuka pintu pun sama, ia tidak ingin dilihat orang lain saat tengah menangis seperti ini.

from: Chanyeol hyung 
Bohong, isakanmu terdengar sampai luar bodoh, kau mau membohongiku, huh?

Mwo?!” pekik Taeil tiba-tiba karena membaca pesan Chanyeol. Bisa-bisa dia dipecat kalau berkata kasar pada majikan ‘kan?

“Moon Taeil, ada apa?” tanya Wendy tiba-tiba karena teriakan spontan Taeil itu.

“Haha, tidak ada apa-apa Wen, kau salah dengar, haha…” jawab Taeil di luar sana dengan gugup sambil mengetikkan pesan balasan pada Chanyeol.

to: Chanyeol hyung
Kirim pesan yang benar, kau mau aku dipecat setelah ini?

Tak sampai sedetik, sebuah pesan balasan beruntun masuk ke ponsel Taeil.

 from: Chanyeol hyung
Maaf.
 from: Chanyeol hyung
Benarkah? Ku pikir kau menangis. Sudahlah, abaikan saja.

“Ah, abaikan saja Wendy, kupikir kau menangis sehingga tidak mau membuka pintu. Haha, lupakan saja ucapanku.” lanjut Taeil kemudian sesuai pesan Chanyeol meski tidak sama persis.

“Oh, terserahlah, aku tidak peduli.” jawab Wendy dari dalam sana.

from: Chanyeol hyung
Gwenchana?

“Wendy-ah, Gwenchana?” tanya Taeil kemudian yang membuat Wendy di dalam sana menyerngit bingung. “Maksudmu? Tentu saja aku baik-baik saja. Kau aneh-aneh saja Moon Taeil.” jawab Wendy cepat, lengkap dengan sebuah kekehan ringan di akhir kalimatnya.

from: Chanyeol hyung
Maksudku, apa kau baik-baik saja dengan Chanyeol?
Ingat, dia itu bajingan brengsek yang sudah mematahkan hatimu begitu saja.
Harusnya kau memukulnya saat bertemu, ah, tidak, sebaiknya kau tidak perlu bertemu dengan bajingan brengsek itu lagi. Kau hanya akan sakit hati saat melihat wajah pas-pasannya itu.
Bukankah dia tidak seperti pria sejati? Harusnya ia bertanggung jawab saat membuat seorang gadis menangis karena tingkah bejatnya.

“Harusnya ia mengaku bahwa ia juga menyukaimu.”

 

Taeil terdiam saat membaca pesan Chanyeol, haruskah ia mengucapkan itu semua?

“Maksudku, apa kau baik-baik saja dengan Chanyeol sunbae?” tanya Taeil kemudian, dan gadis di dalam sana langsung tertawa renyah.

Gwenchana, kalau dia tidak suka kepadaku mau apalagi ‘kan? Memangnya siapa yang suka dengan gadis jelek sepertiku? Dia punya Irene, sunbae itu bukankah sangat cantik? Aku saja sampai iri karena selain cantik Irene sunbae juga bisa mendapatkan hati Chanyeol sunbae, haha…” tawa terpaksa Wendy meledak dari dalam sana. Namun tak terasa, sebuah bulir bening pun ikut jatuh turun seiring gadis itu menertawai nasibnya.

 

“Kau cantik Wen. Bagiku kau bahkan lebih cantik dari Irene.”

“Kau tidak perlu iri, hatiku ini milikmu.”

from: Chanyeol hyung
Itu tandanya dia brengsek ‘kan? Dia sudah mempermaikanmu, harusnya kau menyumpahinya saja.

Taeil menghela nafasnya, lalu mulai berucap lagi. “Wendy-ah, aku mau mengaku, sebenarnya selama ini Chanyeol sunbae itu—“

from: Chanyeol hyung
Kau mau mati Moon Taeil?

“Iya, sebenarnya Chanyeol sunbae itu?” tanya Wendy karena ucapan Taeil tertahan karena mendapat pesan ancaman dari Chanyeol. Awalnya Taeil ingin mengaku kalau sekarang ia tengah berbicara dengan Chanyeol sunbae yang meminta bantuannya secara tidak langsung, namun Taeil mengurungkan niatya. Ia sadar, ini urusan Chanyeol dan Wendy, dia tidak seharusnya memperkeruh suasana. Biar Chanyeol sendiri yang mengaku suatu hari nanti, batinnya.

“Sebenarnya Chanyeol sunbae itu bukan pria. Ah, maksudku bukankah pria seharusnya melindungi dan bukannya menyakiti wanita? Tapi dia malah mempermainkan seorang gadis dan membuatnya patah hati, haha…” kata Taeil asal, dan efeknya Wendy di dalam sana semakin murung.

“Mungkin? Tapi bukankah itu bukan salahnya juga? Aku saja yang terlalu menaruh rasa dengan semua perhatiannya ‘kan? Aku yang terlalu terbawa perasaan padahal Chanyeol mungkin hanya bersikap sebegitu baik padaku hanya demi peran pura-pura kami. Ini bukan salahnya, tapi salahku yang sudah jatuh cinta.”

 

“Salah kita berdua yang saling jatuh cinta disaat kita seharusnya tidak bisa saling memiliki. Maafkan aku Son Wendy.”

 

from: Chanyeol hyung
Menyanyilah.
to: Chanyeol hyung
Aku tidak bisa menyanyi. Kau saja.
from: Chanyeol hyung
Kalau aku bisa, aku bahkan sudah membawa gitar kemari dan bernyanyi untuk menghibur Wendy. Masalahnya aku tidak bisa. Tolonglah. Hanya itu yang terlintas di otakku sekarang ini.

Taeil menghela nafasnya, lalu mulai mengetikkan pesan balasan.

to: Chanyeol hyung
Kau harus bayar mahal untuk suaraku sunbae, ingat, kau berhutang padaku.
from: Chanyeol hyung
Gwenchana, aku akan membayar hutangku kapan-kapan. Aku akan mentraktirmu sampai kau kekenyangan dan bahkan ingin muntah. Kalau kau ingin meminta hal yang lain selain traktir juga boleh. Aku akan membantumu saat kau butuh bantuan, kapanpun itu. Terimakasih Moon Taeil, ini permintaanku yang terakhir. Sekali lagi terimakasih karena sudah menjadi suara bayanganku.

Taeil menghela nafasnya. Sebenarnya ia ingin berteriak saja pada Wendy untuk keluar karena Chanyeol ada di sini untuknya, tapi akal sehatnya masih menahan lelaki itu melakukan tindakan yang pastinya membuat Chanyeol marah besar padanya.

“Wendy-ah, aku ingin menyanyi untuk menghiburmu, boleh?” tanya Taeil kemudian, dan Wendy di dalam sana langsung bersorak girang sambil menghapus sisa-sisa air matanya yang mengering.

“Boleh, wah, kau baik sekali Moon Taeil. Uri chingu Taeil, you’re the best!” teriak Wendy dengan semangat. Taeil hanya tersenyum miris, lalu mulai bernyanyi.

 

[PLAY : Because of  You —Moon Taeil ]

 

Amu maldo haji moshago

(Aku tidak bisa mengatakan apa-apa)

Geudael baraboneun na

(Saat aku melihatmu)

Bureugo tto bulleo boado
(Tidak peduli berapa kali aku memanggilmu)

Deulliji anhneun geudaeui moksori
(Aku tidak bisa mendengar suaramu)

 

Meomchul su eopsneun sarang nareul salge haejun saram

(Cinta tak terbendung
Orang yang membuatku tetap hidup)

Nae moksumboda sojunghan geudael bonaeji moshae

(Orang yang lebih berharga dari diriku sendiri
Aku tidak bisa menghapusmu)

 

Apado gwaenchanha saranghagi ttaemune

(Tidak apa-apa meskipun ini menyakitkan, karena cinta)

Ijeuryeo doraseo bwado gaseumi neol chajaga

(Bahkan saat aku mencoba melupakanmu dan berbalik
Hatiku terus mencarimu)

Ureodo gwaenchanha geudael sarang hanikka

(Tidak apa-apa meskipun ini menyakitkan, karena cinta)

Apado gidaril nae majimak sarang

Geudaeraseo

(Meskipun ini menyakitkan, aku akan menunggu cinta terakhirku
Karenamu)

 

Naesaenge dan han saram nae salme jeonbuin saram

(Hanya ada satu orang di dalam hidupku
Segalanya dalam hidupku)

Nunmuri nae apeul garyeodo

Bonaeji moshae

(Bahkan air mata jatuh dan menyakitiku
Aku tidak bisa melupakanmu)

Apado gwaenchanha saranghagi ttaemune

(Tidak apa-apa meskipun ini menyakitkan, karena cinta)

Ijeuryeo doraseo bwado gaseumi neol chajaga

(Bahkan saat aku mencoba melupakanmu dan berbalik
Hatiku terus mencarimu)

Ureodo gwaenchanha geudael sarang hanikka

(Tidak apa-apa meskipun ini menyakitkan, karena cinta)

Apado gidaril nae majimak sarang

Geudaeraseo

(Meskipun ini menyakitkan, aku akan menunggu cinta terakhirku
Karenamu)

 

Gateun haneurarae isseodo
(Bahkan saat kita hidup di bawah langit yang sama)

Geudaereul chaja hemaeineun na

(Aku terus mencarimu)

Gaseumi apaseo nunmuri heulleoseo
(Hatiku terasa menyakitkan
Dan air mata terus mengalir)

Harudo geudae eopsi sal su eopsneunde

(Aku bahkan tidak bisa hidup sehari tanpa dirimu)

Yeongwonhi saranghae naega jukneun nalkkaji
(Aku akan mencintaimu selamanya sampai akhir aku hidup)

Neomudo gomaun saram nae gaseume saraga

(Orang yang sangat ku hargai
Hidup di dalam hatiku)

Ureodo gwaenchanha geudael sarang hanikka

(Tidak apa-apa meskipun ini menyakitkan, karena cinta)

Apado gidaril nae majimak sarang

Geudaeraseo

(Meskipun ini menyakitkan, aku akan menunggu cinta terakhirku
Karenamu)

 

BRAKKK!”

Wendy membuka pintu kasar sesaat setelah Taeil selesai bernyanyi. Matanya memerah dan air mata nampak turun di sudut matanya. Dengan membabi buta gadis itu segera menatap sekeliling, lalu mulai mengitari seisi rumahnya. Ia menatap bagian belakang rumahnya, kosong. Chanyeol sudah tidak ada disana.

“Ke—kenapa?” tanya Taeil gugup saat Wendy kini sudah sedikit tenang dan kembali berdiri dengan bahu bergetar di depannya. Gadis itu menggeleng, lalu tersenyum lemah.

“Kupikir ada seseorang yang memintamu bernyanyi demikian. Kupikir ada Chanyeol yang berdiri di belakangmu dan itu adalah ungkapan hatinya, haha, aku bodoh sekali. Kenapa aku selalu berharap disaat aku sendiri tau kalau harapanku itu hanyalah khayalan semata? Kau bodoh Son Wendy.”

Ani, nyanyianmu sangat bagus hingga aku merinding sendiri. Lihat, haha, aku bahkan sampai menangis sakin terharunya dengan lagumu itu,” jawab Wendy berbohong meski setengahnya benar. Nyanyian Taeil memang bagus sekali, bahkan Wendy baru sadar bodyguard-nya itu punya suara emas.

Taeil hanya tertawa renyah mendengar jawaban Wendy.

“Kenapa aku harus terjebak di anatara kalian berdua? Melihat kisah kalian, kenapa aku ikut merasa miris?” batin Taeil dalam diam.

Gwenchana?” tanya Taeil akhirnya, dan Wendy kembali mengangguk meski air matanya masih turun tanpa henti.

“Hm, nan gwenchana (aku baik-baik saja)”

Sementara jauh di sana, di atas sebuah atap rumah sebelah yang menjadi tempat persembunyian Chanyeol saat melarikan diri dari Wendy, ada seorang lelaki jangkung yang meringkuk. Ia menangis, setengahnya ia berterimakasih pada Taeil karena sudah menyanyikan lagu yang sangat bagus, tapi setengahnya lagi ia ingin mengumpat. Kenapa lagu itu begitu pas dengan isi hatinya yang tak bisa diungkapkan kepada dunia? Kenapa ia merasa miris dan mengasihani dirinya sendiri?

Chanyeol terisak sekuat tenaga karena tau Wendy tak akan mungkin mendengar suaranya. Ia menangis hebat. Semuanya terasa menyakitkan. Memori pertemuannya dengan Wendy hingga sekarang saat hatinya tertambat pada gadis itu, kenapa semuanya berputar bak drama singkat yang berakhir menyedihkan?

 

Apado gwaenchanha saranghagi ttaemune

(Tidak apa-apa meskipun ini menyakitkan, karena cinta)

Karena inilah Chanyeol benci saat menonton film atau drama di televisi yang berakhir sad ending. Ia benci menangis dan merutuki para pemeran utama yang menurutnya sangat bodoh saat menyia-nyiakan cinta yang harusnya diungkapkan dengan lantang. Masalahnya, di kisahnya yang ingin ia umpat ini, apa akan berakhir sad ending juga? Chanyeol ingin mengatakan happy ending, tapi kenapa sangat sulit rasanya mendapat akhir bahagia itu di saat masalahnya semakin pelik? Chanyeol mencelos, rasanya sad ending sudah menyambutnya di depan mata. Atau, apa kisahnya dan Wendy memang sudah berakhir dengan kata tamat yang terukir di layar? Rasanya, tidak ada lagi yang bisa diperjuangkan antara ia dan Wendy.

Dan itu rasanya, menyakitkan.

 

—-

 

Hari semakin bergerak lambat di mata Chanyeol. 24 jam rasanya sangat sulit ia lewati. Hari ini harusnya ia ber-akting bahagia saat menunggu Irene di taman karena hari ini adalah kencan pertamanya dengan kekasihnya itu, tapi kenapa Chanyeol malah merasa hambar? Kenapa ia merasa menjadi sangat jahat karena memanfaatkan Irene? Mengetahui bahwa gadis cantik itu sudah menyukainya sejak lama, Chanyeol dengan seenaknya menggunakan Irene sebagai pelampiasan. Ia menjadikan Irene sebagai bukti palsu bahwa ia menyukai gadis lain pada Wendy. Kenapa Chanyeol begitu brengsek menjadi seorang pria?

Senyum Chanyeol dengan terpaksa merekah saat mendapati Irene tengah melambaikan tangan padanya dari jarak sekian meter. Rupanya gadis bermarga Bae itu baru tiba di taman, dan dengan langkah bahagia Irene menemui Chanyeol dengan perasaan berbunga-bunga. Irene bahkan sudah sengaja berdandan semaksimal mungkin untuk menemui kekasihnya itu.

Sebuah dress selutut berwarna merah muda yang kelihatan anggun dan sangat pas membungkus tubuh ramping Irene menjadi andalan busana kencan pertama Irene hari itu. Irene yang biasanya menguncir rambutnya kini membiarkan rambut coklatnya tergerai cantik dengan sebuah pita kecil yang menghiasi mahkotanya. Dilengkapi tas samping berwarna senada dengan dress yang ia kenakan dan sepasang flat shoes cantik yang masih baru, Irene kelihatan begitu cantik dan sempurna. Tak jarang banyak mata pria yang menatap Irene yang berjalan mendekati Chanyeol dengan tatapan kagum, dan seketika tatapan mereka berubah iri saat melihat si gadis cantik itu bersanding dengan sang pangeran.

Ya, Chanyeol pun tak jauh beda. Meski hanya mengenakan sebuah hoodie hitam kebesaran, jeans belel berwarna biru dengan aksen robek-robek dan sepasang sepatu sport Nike edisi terbaru berwarna putih dengan liris hitam, Chanyeol sudah kelihatan begitu sempurna. 10 menit Chanyeol menunggu di taman pun agaknya cukup membuat fokus gadis yang ada di taman itu bersarang padanya dengan tatapan kagum dan memuja. Namun semuanya berubah menjadi tatapan iri saat Irene sampai di dekat Chanyeol dan pria Park itu menggenggam tangan kekasihnya dengan hangat.

Sebuah helaan lolos dari pengunjung taman untuk kedua insan itu, “Mereka pasangan yang sempurna, si tampan dan si cantik.”

“Kau sudah lama menungguku?” tanya Irene dengan senyum merekah di bibir yang ia poles dengan lip balm berwarna pink peanch itu. Chanyeol menggeleng, lalu mulai menarik Irene berjalan mengitari taman.

“Jadi kau ingin melakukan apa untuk kencan pertama kita, huh?” tanya Chanyeol kemudian, dan kini giliran Irene yang menggeleng. “Ntahlah, aku bingung. Menurutmu kita harus melakukan apa?” tanya balik Irene.

“Astaga, kalau begini kita tidak akan jadi berkencan karena tidak tau mau melakukan apa Rene-ah.” kekeh Chanyeol kemudian sambil tertawa kecil. Mendengarnya Irene langsung meloloskan sebuah ide setelah melihat keadaan sekitar taman, “Bagaimana kalau bermain layang-layang, eoh? Seperti mereka, bermain layangan bersama-sama seperti itu kelihatannya sangat romantis.” Usul Irene sambil menunjuk sepasang kekasih yang tengah bermain layang-layang berwarna jingga di salah satu sudut taman.

Bukannya senang mendapat ide, Chanyeol malah terpaku di tempat. Kenapa rasanya layangan di pinggir sungai Han sangat tidak asing di matanya? Sekelebat kisahnya dan Wendy yang bermain layangan pun terputar otomatis di benak Chanyeol.

 

“Apa ini?” tanya Wendy polos saat Chanyeol menyodorkan sebuah benda berwarna warni dengan benang. Lelaki itu memutar matanya tak percaya. 

“Kau tidak kenal layang-layang?” tanya balik Chanyeol setengah percaya, dan Wendy dengan polosnya menggeleng. Demi Tuhan, sebenarnya dimana gadis itu tinggal hingga dia tidak mengenal layang-layang? 

Wendy menatap Chanyeol dengan pandangan curiga. Tiba-tiba saja Chanyeol datang dengan 2 buah benda berwarna menyolok dan memiliki benang setelah pamit pergi ke kamar mandi tepat sedetik setelah Wendy melepaskan pelukan Chanyeol karena sudah puas menangis. Apanya yang kamar mandi kalau nyatanya kini Chanyeol membawa benda yang katanya bernama ‘layang-layang’ itu.? Lama-lama Wendy berpikir, “Apa toilet umum di Korea kini memberikan layang-layang sebagai souvenir?” 

“Tadi aku membelinya setelah dari toilet. Jangan bilang kau sedang berpikir kalau layang-layang adalah souvenir toilet umum di Korea.” lanjut Chanyeol yang kini menggulung-gulung benang di sebuah kayu kecil berdiameter kira-kira 3 cm. Wendy cepat-cepat menggeleng. “Bagaimana bisa dia menebak pikiranku?” batin Wendy kemudian.

“Kajja. Sudah selesai. Sekarang kau pegang layangannya.” perintah Chanyeol kemudian yang membuat Wendy bingung bagaimana cara memegang layangan itu. Alhasil, Wendy memegang layangan berwarna merah bercorak orange hitam itu dengan posisi bagian ekor di atas. 

“Sudah?” kata Wendy yang lebih mirip pertanyaan. Chanyeol menepuk jidatnya pelan. “Gadis ini benar-benar.”batin Chanyeol yang kini menghampiri Wendy.

“Well…Kau seharusya memegangnya seperti ini.” kata Chanyeol sambil membalik posisi layangan di tangan Wendy. Ternyata gadis itu benar-benar tidak tau tentang layang-layang. Kalau saja Chanyeol tidak membalikknya tadi, ditunggu 100 tahun pun layangan itu tidak akan pernah terbang. 

“Sekarang, lepas layangannya dalam hitungan 3, arra?”, perintah Chanyeol dan Wendy dengan kikuk mengangguk.  

“Hana…..dul…..set…lepas!” perintah Chanyeol sambil berlari kecil. Kini layangan itu sudah naik sampai ke atas. Chanyeol tertawa kecil, kemudian pria itu mendekati Wendy dengan membawa benang layangan yang sudah terbang itu bersamanya. 

“Nah, sekarang pegang tongkat ini sambil tarik benangnya seperti ini.” jelas Chanyeol sambil memeragakan cara menarik benang sedikit demi sedikit pada Wendy. Gadis itu mengangguk paham. Lantas Chanyeol menyerahkan tongkat berisi benang layangan itu pada Wendy.

Gadis itu nampak bersemangat bermain sampai 2 detik kemudian layangannya jatuh ke bawah.

“Chanyeol sunbae, bagaimana ini?”, tanya Wendy bingung sambil memandangi layang-layangnya yang jatuh ke tanah. Chanyeol mendengus. “Sepertinya aku rugi membeli 2 layangan karena Wendy tidak tau cara…ah..bahkan dia tidak mengenal layang-layang itu apa.” batinnya mendumel dalam hati.

“Gwenchana.” jawab Chanyeol pasrah lalu mengulang langkah demi lagkah menerbangkan layangan dari awal. Wendy benar-benar tidak bisa diandalkan.

“Kau akan memberikannya lagi padaku? Bagaimana kalau 

Aku akan mengajarimu. Tenang saja.” potong Chanyeol saat Wendy dengan ragu menerima uluran tongkat kayu berisi benang itu dari tangan Chanyeol. Wendy meneguk salivanya kasar, lalu mulai mempraktekkan ajaran Chanyeol tentang cara menerbangkan layang-layang barusan. Sampai 2 detik layangan itu masih utuh terbang di langit, namun pada detik ketiga

“Bagaimana ini sunbae?”

—layangan itu mulai tidak stabil dan hampir jatuh ke tanah.

“Setidaknya ada peningkatan 1 detik.” batin Chanyeol sambil menghampiri Wendy dengan cepat, kemudian berdiri di belakang gadis itu sambil menggerak-gerakkan benang layangan yang sedang ‘oyong’ di langit dan Wendy yang tetap memegangi tongkatnya.

“Kau harus melakukannya seperti ini,” jelas Chanyeol sambil memainkan benang layangan dan 5 detik kemudian layang-layang itu pun kembali terbang dengan baik di langit. Wendy mengangguk-angguk mengerti sementara Chanyeol terus memainkan layangan itu dari belakang Wendy.

Dua menit berlalu dengan posisi yang sama. Wendy mulai mahir memainkan layang-layang meski masih sering kali benda itu hampir jatuh mengenaskan ke tanah setidaknya layang-layang itu tetap terbang di langit kan?

“Ekhmm…Son Wendy, bukankah sekarang kita terlihat seperti sedang kencan?” goda Chanyeol kemudian saat menyadari banyak penghuni taman yang menatap mereka dengan pandangan yang sulit diartikan. Semacam pandangan iri karena Chanyeol nampak bersikap romantis pada Wendy dengan mengajari Wendy bermain layangan dari belakang, mungkin? Oh jujur saja, adegan ajar- mengajar itu bahkan mirip dengan adegan back hug yang ada di drama-drama.

Wendy memutar kepalanya agak ke belakang, lantas matanya langsung bersitatap dengan manik Chanyeol. 

“Eh?” lirihnya polos dicampur bingung karena belum sadar dengan tatapan iri yang dilontarkan para penghuni taman pada mereka berdua. Chanyeol hanya tersenyum penuh arti, membiarkan Wendy harus berpikir lebih keras mengenai maksud ucapannya.

  

“Ah….oppa dan eonnie itu cocok sekali. Romantis.” 

“Iya, ah…romantis sekali. Aku jadi ingin cepat-cepat SMA dan mencari pacar seperti oppa itu.”

 

Wendy seketika mendapat pencerahan saat mendengar percakapan itu tanpa disengaja. Nampak tak jauh dari mereka berdiri 2 orang siswi SMP yang sedang menyatukan 2 pasang tangan mereka dan melompat-lompat histeris saat melihat mereka berdua, persis seperti tingkah kartun anime jepang yang sering muncul di TV.

Sedetik kemudian Wendy langsung menatap Chanyeol. Mereka berdua saling berpandangan cukup lama sampai sekon selanjutnya entah kenapa mereka berdua mulai tertawa lepas. Mungkin merasa lucu melihat tingkah anak SMP itu atau malah merasa malu sudah jadi bahan tontonan? Entahlah, yang pasti mereka berdua sangat bahagia saat bermain layang-layang di pinggir taman sungai Han itu.

 

“Chanyeol, kau melamun?” tanya Irene sambil menyenggol tangan Chanyeol yang nampaknya tengah melamunkan masa lalu. Sadar akan eksistensi Irene yang notabene adalah kekasihnya, Chanyeol segera mengerjap. “Ah, tidak, aku tidak melamun.” Jawabnya cepat meski sepenuhnya adalah bohong belaka. Buktinya Chanyeol memang melamun, bayangan Wendy seketika mencuat di benaknya tanpa bisa dicegah saat sudah berbicara tentang layang-layang.

“Jadi, kau mau bermain layang-layang?” tanya Irene lagi, menyadarkan Chanyeol kalau mereka berdua tengah dalam diskusi bermain layang-layang atau tidak. Sadar mungkin hatinya tak akan sanggup, Chanyeol lantas menggeleng dengan cepat. “Aku tidak tau bermain layang-layang, bagaimana kalau melakukan hal yang lain saja?” usul Chanyeol. Jujur saja, ia tidak mau terjebak nostalgia saat bermain layang-layang. Bisa saja ia malah salah menyebut nama Irene karena menyangka gadis itu adalah Wendy jika mereka berdua benar-benar bermain layangan ‘kan?

“Hm, begitu ya, sayang sekali, haha..” Tawa Irene menguar ke udara bebas, lantas gadis itu memperat genggaman tangannya pada Chanyeol.

“Kalau begitu kau mau naik sepeda mengelilingi taman?” tawar Irene kemudian mengusulkan ide baru, dan Chanyeol nampak tersenyum setuju. “Ide bagus, bermain sepeda sepertinya tidak terlalu buruk. Kajja, kita harus menyewa sebuah sepeda dan mengelilingi taman ini sepuas yang kita mau.” Jawab Chanyeol yakin dan mulai menarik Irene menuju tempat penyewaan sepeda di taman itu.

 

 

Angin sepoi-sepoi nampak menerpa wajah Irene yang kian tersenyum sepanjang perjalanan saat mereka berdua mengelilingi taman dengan sepeda. Ya, gadis itu benar-benar bahagia. Irene yang tengah duduk di bangku belakang sepeda itu nampak melingkarkan tangannya dengan erat ke pinggang Chanyeol yang tengah asyik mengayuh sepeda. Mereka sengaja memilih sepeda dengan bangku belakang seperti ini. Selain karena Irene mengenakan rok, juga karena mereka ingin mendapat kesan romantis di kencan pertama mereka.

“Kau bahagia?” tanya Chanyeol di tengah aksinya mengayuh sepeda.

Irene nampak mengangguk. Gadis itu mendekatkan kepalanya ke punggung Chanyeol yang lebar, lalu mulai menyandarkan kepalanya di sana. Ia tersenyum tipis, “Ya, aku bahagia. Terimakasih banyak Chanyeol-ah.”

“Syukurlah,” jawab Chanyeol kemudian meski masih fokus dengan aksi mengayuh sepedanya. Tak lama kemudian Chanyeol membelokkan benda beroda dua itu kembali ke tempat penyewaan.

“Sayang sekali waktu sewanya habis, Rene-ah” kata Chanyeol menyesal sambil memarkirkan sepeda putih itu kembali ke tempat yang semestinya. Irene menggeleng, lalu dengan dibantu Chanyeol gadis bermarga Bae itu turun dari atas sepeda. “Gwenchana, satu jam mengelilingi taman sudah lebih dari cukup.” kata gadis itu lagi, dan Chanyeol hanya tertawa ringan menanggapi jawaban jujur Irene.

Selesai membayar uang sewa, Chanyeol lantas menggenggam tangan Irene lagi dan menariknya berjalan menjauh dari tempat penyewaan.

“Setelah ini, kau mau melakukan apa lagi?” tanya Chanyeol, dan Irene nampak berpikir sejenak. “aku mau makan gulali,” jawabnya kemudian setelah menghabiskan 2 detik untuk berpikir. Chanyeol tertawa, kekanak-kanakan batinnya. Namun toh ia tetap menuruti permintaan Irene.

Chanyeol membeli sebuah gulali besar berwarna merah muda yang di terima Irene dengan senang hati. Ia hanya membeli satu, karena katanya ia tidak suka makanan manis.

“Ah, tidak seru. Kau benar-benar tidak suka makanan manis, eoh?” tanya Irene tak yakin, dan Chanyeol mengangguk dengan cepat. “Hm, aku tidak suka yang manis-manis,” jawabnya.

“Yah, sayang sekali. Padahal aku ingin makan gulali dengan kekasihku.” kata Irene sedikit kecewa dan mulai memakan gulalinya lagi, dan tanpa disangka, Chanyeol ternyata melakukan hal yang sama. Chanyeol memakan gulali Irene di saat yang bersamaan dengan aksi Irene memakan gulali. Bisa dibilang, mereka berdua nampak seperti berciuman dengan gulali sebagai penghalangnya.

Blushhh!

Seketika pipi Irene langsung merona.

“Sedikit gulali sepertinya tidak masalah, hehe..” ucap Chanyeol tanpa merasa bersalah sudah membuat hati Irene berdegup tak karuan.

“Setelah ini, mau melakukan apalagi?” tanya Chanyeol pada Irene yang kini tengah membuang tusuk gulalinya yang sudah habis. Mereka berdua duduk di atas kursi taman. Irene nampak berpikir sejenak.

“Kenapa harus kemauanku terus, huh? Kau tidak punya rencana mau melakukan sesuatu mungkin?” tanya balik Irene yang merasa tak adil jika hanya permintaannya saja yang dituruti. Chanyeol nampak berpikir sejenak, “Aku mau

Byurrrr!

“—Astaga, hujan!” pekik Irene kemudian saat merasakan tetes-tetes bening mulai berjatuhan menerpa kulitnya. Dalam hitungan detik mereka berdua serentak berdiri, Chanyeol segera membuka jaket hoodie-nya dan menempatkan benda berwarna hitam itu di atas kepalanya dan Irene.

Kajja, sepertinya kita harus berteduh.” Usul Chanyeol sambil memayungi Irene dengan jaketnya. Irene tersenyum, lalu mulai mengikuti langkah Chanyeol mencari tempat berteduh.

“Mau ke café?” tanya Chanyeol saat maniknya menemukan penampakan sebuah café tak jauh dari jarak mereka. “Ide bagus, kajja,” jawab Irene setuju tak lama kemudian. Akhirnya, mereka berdua pun berlari dan memasuki café itu dengan keadaan basah kuyup.

Bangku di sudut café pun menjadi tempat berteduh Chanyeol dan Irene saat ini.

“Ah, kau basah. Gwenchana? Wajahmu kelihatan pucat. Padahal ujian tinggal beberapa hari lagi, bagaimana kalau kau malah jatuh sakit, huh?” khawatir Chanyeol melihat penampilan Irene dimana hidung gadis itu sudah memerah dan kulitnya berubah pucat. Irene menggeleng tidak apa-apa, namun Chanyeol dengan keras kepala segera berdiri dan berlari menuju meja kasir.

“Kalian punya handuk?” tanyanya pada kasir jaga, dan sebuah handuk berwarna putih pun kini dibawa Chanyeol kembali ke bangkunya bersama Irene.

“Kau harus mengeringkannya.” Kata Chanyeol sambil mengelap rambut Irene yang basah dengan telaten. Mendapat perlakuan demikian, pipi Irene semakin memerah.

“Pipimu merah, kau sakit, huh?” tanya Chanyeol lagi, dan Irene menggeleng dengan cepat. “Tadi kau ingin bilang apa? Kau ingin melakukan apa?” kata Irene memulai konversasi baru, tidak mau wajah meronanya menjadi bahan perbincangan mereka berdua.

“Aku—“

“Aku apa?” tanya Irene sambil tersenyum.

“Aku tidak tau, haha, lupakan saja.” jawab Chanyeol sambil terus mengelap rambut Irene yang basah. Mendengar itu, sebulir air mata pun meleleh dari sudut mata Irene.

“Park Chanyeol, kau sungguh menyukaiku?”

“Eh, apa maksudmu, eoh? Ah, kenapa kau menangis?” tanya Chanyeol panik, namun Irene malah menggeleng lemah.

“Park Chanyeol, jawab aku. Kau sungguh menyukaiku?”

Dan seketika Chanyeol terdiam. Dia harus menjawab apa?

 

 

 

To be Continued

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

28 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 24) – Shaekiran

  1. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 33) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 32) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 31) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 30) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 29) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 28) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 27) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 26) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 25) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  10. ASTAGAAA THOR NIMM AKU SPEECHLESS BACA CHAPTER INI T_T /capslok jebhol wkwk
    Pertama, kaget denger tbtb ada lagunya kan:’v ternyata lagu dr Soundcloud Taeil haha, ngena bgt feelnya.

    Terus chap 24 ini yg paling banyak flashback sama lyric nya, jadi ngabisin lapak /apa:’v lupakan/

    Aku suka banget baca pembatinannya chanyeol :v pengen rasanya Wendy bisa denger. Trs ngakak pas Taeil bilang, “Chanyeol sunbae itu bukan pria. Ah maksudku dia tidak seperti pria” Ya itulah:’v ngakak ajawkwkw.

    Wenyoul shipper disini kaa, deg degan pas liat covernya gantii, ihh seneng akutu :v :3
    Moga semangat authornyaa jan cepet kelar yaa, cuz aku bakal kangen bat ama ff nya, jan lama2 juga updatenya thor nim huehehe

  11. ahhh aku salah, harusnya aku koment disini dulu setelah tau caranya, tapi aku ngirim di epep kk yg lain. maaf kak baru komen krn baru ngerti caranya n jadi siders selama ini /sedih/
    semoga chanyeol mau mengakui php yg telah dilakukannya pada anak orang, kesian Irene n Wendy

  12. waaahhhhh… taeil emang jago nyanyi, baru nyadar apa…heol
    chan nangis sembunyi”.. ahh kasian kisah mereka..
    masih blm ngeh sama teks yg rata kanan.. itu suara hati siapa??? chan/taeil???
    kirain taeil jg suka sama wendy.. yg suka sama wendy banyak lho… chanyeol, taeyong, sehun on the way… hahahahahah
    tapi gk ada yg beruntung semua percintaannya…hahhhh… buat mreka semua bahagia dong..

  13. Haddduuhh gimana nihhh sampe nangis baca ceritanya…lebayy banget..😒😒..Chanyeol harus jawab apa loh???…dilema dilema dahh..hahaha..kocak banget pas chanyeol bilang ada peningkatan 1 detik..ditunggu chapter selanjutnya thor..Fighting!!!😘😚😀😊…

  14. MAMPUS LU CHANYEOL HAHAHAHHAHHAHHAHAAA, biarin emang dari awal cerita aku udah ngeship Wendy ama Taeil bukan kamu hahahhahahhahahhahahahahhahahahhaha. jangan harap ya ama Wendy lagi karena dia hanya untuk Taeil yang bersuara emas hahahhahahhahahahhahahahahhahhahahhahahhahhahahahhahahhahahaa. silahkan jawab Irene hahahhahaha semoga kau berbahagia dengan dia hahahahhahahhahahhahaha

  15. benerankah kalo Wendy mau ke Kanada? trs CY Oppa gimana donk.. 😦
    tapi aku jga agak greget sih sma CY Oppa, sampai kapan dia bakal nyembunyi.in perasaannya, kan kasihan Wendynya juga..
    itu kenapa Irenenya tiba2 nangis ya?
    penasaran sama lanjutannya.. ditunggu next chaptnya ya thor..
    Fighting.. 😀

  16. Kenapa harus tbc thor?!!
    Haduhhh
    Rasanya ikut jantungan denger wendy bakal balik ke kanada.
    Semangat terus nulisnya ya thor, fighting !! ☺

  17. Yaa chanyeol mau jawab ap tuh? Apa jangan2 selama ini irene tau kalau chanyeol masih sayang dengan wendy? Jd penasaran.Udah nggak sabar nunggu next chap.y.Fighting eki 😊
    Oh iy,aku suka banget dengan penggunaan bahasa.y.Jd kita yg baca jg enak ngebaca.y 👍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s