Mea Alterum – [4] Secret – Shaekiran

ir-req-mea-alterum2.jpeg

Mea Alterum

The Other

 

A Fanfiction written by Shaekiran

With OC’s Yara Lee

Supported by : EXO’s Sehun, Suho and Kyungsoo, NCT’s Taeyong, Red Velvet’s Seulgi and Wendy, Blackpink’s Jisoo and also Ayushafiraa OC’s Ahra Yoo.

A Romance, Fantasy, Friendship, Family, AU and School Life

Chaptered Fanfiction with T Rated.

Disclaimer

This fanfiction is pure mine. EXO and other grup are belong to God, their family and agency. OC is belong to author. Thanks to Ayushafiraa and other who had permission to me to borow their OC. Please enjoy this fiction! ^^

Previous Chapter

Teaser | [0] Two Moons | [1] Arestal | [2] Skrytol | [3] Examination | Now –  [4] Secret |

Art by Kak IRISH (Thanks for an amazing poster kak <3) @ Poster Channel

Summary

“Yang gadis itu tau ia hanya sedang diusir pergi jauh, memilih hidup diantara cacian maki menggores hati atau katam mempasrahkan diri dalam mau yang kian menghampiri.”

 

[4] Secret

 

“I’m not a human.”

 

 

©2017 Shaekiran’s Art and Story All Rights Reserved

 

 

 

In Yara’s Eyes

04.15

Aku ingat waktunya, waktu saat Sehun mengaku menyukaiku untuk kedua kalinya. Tak tanggung-tanggung, ia kembali menjelaskan bagaimana ia bisa menyukaiku tanpa diminta. ‘Bukan dari keluarga bangsawan, masih berumur belasan, cukup cantik dan kelihatannya berkepribadian baik’ menjadi 4 tipe idel Sehun, dan dia bilang aku memenuhi semua tipe sederhananya itu hingga dia terus memikirkanku dan berakhir dengan menyukaiku. Satu kata yang kulontarkan –bullshit– sebagai jawaban pada lelaki itu. Ntahlah apa dia masih berani mengaku suka padaku dengan 4 alasan aneh itu kalau tau siapa aku yang sebenarnya.

Sehun tidak mempermasalahkan jawaban kasarku. Malah dia mengantarku sampai ke depan pintu kamar dan melambaikan tangan sebelum pamit pergi kembali ke kamarnya sendiri di asrama putra. Aku segera masuk ke dalam kamar, menutup pintu rapat-rapat sambil memegangi jantungku yang bergemuruh tanpa bisa dicegah. Sial, apa yang sudah dilakukan bangsawan Niverda itu padaku?

“Kau darimana?” satu pertanyaan lolos dari bibir Jisoo yang baru saja bangun. Aku menatap gadis cantik nan angkuh itu dengan mata membola, kemudian menggeleng perlahan. “Ah, tidak, aku hanya….lari pagi. Ya, lari pagi,” jawabku mencari alasan, dan Jisoo hanya mengangguk-angguk mengerti.

“Ka-kau mau kemana?” tanyaku akhirnya. Setidaknya meski enggan aku seharusnya berbicara lebih akrab dengan teman sekamarku ini.

“Huh, tidak kemana-mana. Aku terlambat bangun, dan sepertinya percuma kalau aku pergi ke sana,” jawab Jisoo hingga membuatku makin bingung. Kemana maksudnya? Belum Jisoo bicara, belum aku semakin pusing karena merana dengan jawabnnya yang penuh tanda tanya.

“Maksudmu?” tanyaku seperti orang bodoh, dan Jisoo nampak memutar bola matanya malas.

“Lupakan saja,” jawabnya ketus hingga membuatku harus buru-buru mengakhiri konversasi ini dengan menggumam ‘iya’ dengan nada begitu lirih. Ingat, Jisoo tidak menyukaiku, dan berpura-pura akrab dengannya sepertinya bukan pilihan yang bagus.

Demi segala nenek moyang bangsa vampire selama 19 keturunan dalam 21 abad, kenapa mereka harus berada di sini? Ya, mereka, maksudku adalah senior-senior Sktryol. Kenapa harus ada yang namanya kumpul keluarga ini, huh? Membuatku muak saja.

Jadi, sederhananya sekarang aku sedang duduk di kantin, tidak sendirian, tapi berada di antara sekitaran 30 pria tulen. Ayolah, bagaimana pandangan kalian saat melihat satu wanita diantara 30-an pria kelas petarung? Itulah yang sedang kuhadapi sekarang. Seisi kantin yang luasnya luar biasa ini menatap intens ke arah meja kami, menatap ke arahku, dan itu sungguh risih.

Belum lagi kenyataan bahwa Sehun sekarang duduk tepat di depanku karena memang susunan bangku disusun dimana satu deret bangku panjang berisi kumpulan murid baru, sementara di depannya duduk para kakak asuh mereka. Otomatis Sehun yang kata mereka tumben-tumbennya ikut acara semacam ini duduk di depanku dengan wajah datar. Ntahlah, Sehun di malam hari bagai seorang lelaki dengan jiwa melankolis dan penuh senyum manis, sedang di siang hari dia seperti harimau kelaparan yang punya emosi labil. Sekarang dia bahkan menatapku sinis padahal baru beberapa jam lalu –tepatnya pukul 04.15– dia mengaku menyukaiku. Dasar lelaki aneh!

“Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?” Luhan, yang jabatannya paling tinggi di sini sebagai Ketua Osis sekaligus senior tingkat 5 yang akan lulus musim semi beberapa bulan lagi membuka konversasi setelah masing-masing dari kami semua mendapatkan secawan besar darah singa gunung hasil buruan mereka kemarin. Katanya, khusus untuk calon penerus Skrytol guna menyemangati kami yang akan mengikuti ujian dari Kai 5 hari lagi. Semangat H-5, itu tema kumpul keluarga hari ini katanya.

“Bukankah adu panco yang terbaik?” Jinwoo, satu yang kuingat tidak hadir dalam pemilihan adik asuh kemarin berucap dengan santai. Sementara di depan Jinwoo duduk Taeyong yang tidak ambil pusing dengan saran kakak asuhnya itu. Kadang aku bertanya, kapan Taeyong tidur? Kenapa dia tidak nampak kelelahan sama sekali padahal aku memergokinya berlatih hingga dini hari?

“Benar juga, panco saran yang cukup bagus,” Luhan menimpali dengan wajah berbinar. Di depan Luhan duduk Ten, vampire yang satu keluarga dengan Jisoo; keluarga Cyeal. Aku penasaran, apa mulut Ten juga sepedas teman sekamarku itu?

“Ya, bukannya tidak adil? Adik asuh Sehun seorang wanita, tentunya dia akan menang dengan mudah,” Tao nampak menyuarakan ketidakadilan dari bangku paling ujung, membuatku berada di antara fase senang dan tidak. Pengakuannya memang benar, tapi secara tidak langsung bukankah Tao menyebutku lemah?

“Baiklah, bagaimana kalau mereka sebagai penerima hukuman saja?” ide Luhan, sementara Sehun sedaritadi hanya diam. Dia memicingkan matanya ke arah Luhan, tanda dia tidak suka dengan saran Ketua Osis yang juga dari Niverda sepertinya itu.

“Baiklah, penerima hukuman saja.” terima Tao dengan senang hati.

“Hm, kau pandai minum ‘kan gadis Lee?” seorang kembali bertanya, sepertinya ditujukan ke arahku. Ah, siapa ya namanya? Key-kah? Atau Taemin? Aku masih agak lupa dengan nama-nama mereka semua. Bingung dengan maksudnya, aku hanya mengangguk saja. Lantas mereka tertawa riang dan mulai beradu panco.

“Jangan menyesal,” ucap Sehun lirih, ntah ditujukan untuk siapa.

“Aku?” tanyaku menunjuk diri sendiri, dan Sehun mengangguk. Memangnya apa yang akan ku sesali? Toh aku tidak beradu panco denganmu ‘kan Oh Sehun?

“Baiklah, Doyoung kalah. Kau harus minum segelas Lee Yara,” Tao nampak berucap riang dari ujung, membuatku bingung sendiri. Minum apa maksudnya? Minum darah singa gunung ini kah?

Tak lama Tao akhirnya berjalan memutar sambil membawa cawan miliknya sendiri, lalu memberikan benda berisi darah itu kepadaku. “Minumlah, ini hukumanmu karena angkatanmu kalah,” jelas Tao dengan riang. Aneh, tumben si panda ini bahagia. Seingatku kemarin wajahnya super datar.

Dengan cepat aku akhirnya meraih cawan yang disodorkan Tao, lalu menenggaknya habis. Ah, ternyata begini rasanya darah singa gunung.

“Itu darah betina, kualitas terbaik,” tambah Tao sebelum kembali duduk di tempatnya dengan super riang.

Entah angkatanku yang lemah atau memang kakak senior kami ini sangat kuat, sekarang aku sudah meminum hampir semua cawan mereka. Hampir semua angakatanku kalah, hanya bersisa Taeyong dan Ten yang menang karena menurut penglihatanku Jinwoo dan Luhan nampak mengalah. “Dia sudah minum terlalu banyak,” suara vokal Jinwoo yang sekarang sepertinya sudah ada 2 orang. Akh, kenapa pening begini?

“Memangnya kenapa? Toh itu hukumannya ‘kan? Siapa suruh angkatannya kalah?” Tao berucap seakan tidak ada yang salah. Ntahlah aku bingung. Semuanya nampak buyar sekarang.

Brughh.

Ah, meja ini keras sekali. Membuat kepalaku semakin sakit karena jatuh menimpa meja keras ini. Sialan. Ah, semuanya menghitam. Eoh, siapa yang berdiri? Siapa yang–

“Aku akan mengantarnya ke UKS.”

-menggendongku?

“Jangan sakiti adikku!” 

“Ya, siapa kalian?” 

“Noona, aku takut, noona.”

Andwae, andwae!”

Hahh..hahh

Aku mengerjap. Nafasku memburu, seakan mencekikku berulang-ulang. Nampak keringat mengucur dari keningku. Mimpi buruk, shit. Kenapa mimpi itu lagi? Kenapa mimpi sialan itu lagi?

“Kau sudah bangun?”

“Taeyong?” kagetku saat mendapati ternyata sosok adik paling menyebalkan sejagat raya itu ada di sebelahku, duduk di atas kursi tamu sambil membaca sebuah buku tua yang kutebak adalah pemberian ayah.

“Kenapa aku ada disini?” tanyaku dan Taeyong nampak berdiri dari duduknya kemudian menghampiriku.

“APA KAU BODOH?!” pekiknya begitu keras, sambil menatapku nyalang.

“Kenapa kau membentakku? Aku kan bertanya baik-baik!” balasku tak terima dan Taeyong nampak mengacak rambutnya. Frustasi kah?

Ya, Lee Yara, apa kau benar-benar tidak tau darah singa gunung, eoh? Kau tidak tau atau pura-pura tidak tau?” katanya sambil menyejajarkan mata nyalangnya dengan mataku, menyerang batinku secara tidak langsung karena tatapannya yang begitu mematikan.

“Memangnya kenapa dengan singa gunung?” tanyaku seperti orang bodoh. Ya, aku tau pasti ada yang tidak beres sekarang, dan aku tau Taeyong akan mengumpatku super bodoh setelah ini.

“DARAH SINGA GUNUNG ITU BISA MEMBUNUHMU, APA KAU TIDAK TAU LEE YARA?!” aku mengerjap, cukup kaget dengan penjelasan Taeyong.

“Membunuhku?” beo-ku bodoh, dan Taeyong nampak makin frutasi. Ia lantas menyudutkanku ke tepi tempat tidur, kemudian meletakkan tangannya di kanan dan kiri bahuku, mengukungku seperti biasanya.

“Kenapa kau bisa begitu bodoh?”

Aku diam.

“Darah singa gunung, apalagi singa betina, itu mematikan. Satu atau dua cawan memang tidak apa, tapi apa kau tau bagaimana jadinya kalau kau minum puluhan cawan seperti tadi? Itu membuatmu mabuk, pingsan, lalu secara perlahan menghancurkan seluruh fungsi tubuhmu. Singa gunung punya zat darah yang berbeda dengan binatang kebanyakan, dan apa kau tidak tau kalau darah singa gunung betina-lah yang dulu dipakai manusia untuk memanipulasi para vampire hingga banyak vampire yang mati karena mengira itu darah manusia? Apa kau tidak sadar betapa bodohnya kau Lee Yara? Sadar! Kau hampir mati kalau saja tidak ada Professor Yixing dari divisi Healer yang punya ramuan penangkal racun darah singa itu!”

Mataku berkaca-kaca, kaget dengan penjelasan Taeyong. Aku hampir saja mati konyol karena permainan bodoh senior-senior Skrytol itu.

“Kau pikir untuk apa para senior itu memberikan kita darah singa gunung yang mereka buru, huh? Mereka ingin membunuh kita karena kita adalah para pesaing mereka untuk lulus. Asal kau tau, Jinwoo bilang aku adalah adik asuhnya yang ketiga hingga dia sampai di tingkat 4 seperti sekarang, dan itu artinya dia sudah membunuh 2 orang adik asunya sebelum ini. Kau tau ‘kan Skrytol itu kelas pertumpahan darah. Berita kematian sudah seperti makanan sehari-hari bagi mereka, lalu kenapa kau tidak berhati-hati di kelas tak punya hati ini, huh? Ini kelas pembunuh Yara, masih tidak sadar? Dan dengan bodohnya tadi kau terima saja saat Tao itu memintamu meminum darah singa gunung, kau tidak tau kalau wanita lebih rentan mati 2 kali lebih cepat hah?! Dia menjebakmu bodoh!”

Kini aku menangis, seluruh air mataku tumpah begitu saja saat Taeyong selesai dengan penjelasan menggebu-gebunya itu. Matanya nyalang, memerah. Apa karena kami kembar dan cenderung punya ikatan karena berbagi rahim hingga dia jadi ingin menangis juga? Kenapa matanya berkaca-kaca, huh? Dasar adik bodoh. Ah tidak, kakaknya yang bodoh, malah super bodoh.

“Maafkan aku Taeyong, noona memang bodoh,” ucapku lirih, dan tidak ada respon dari Taeyong sama sekali.

“Lee Taeyong, kau membenciku, huh? Jangan menangis, uljima, aku baik-baik saja,” kataku lagi sambil menyentuh pergelangan tangan, lalu mengusap-ngusapnya pelan. Melihatnya seperti ini membuatku merindukan Taeyong yang dulu. Ah, kenapa aku jadi ingin bernostalgia?

“Lepas.”

Aku diam, tetap mengusap-usap telapak tangannya dalam diam tanpa menghiraukan permintaannya.

“Lepas!” pekiknya lagi, kali ini sambil menghempas tanganku dari permukaan tangannya.

“Apa kau pikir aku menyukaimu? Sungguh, aku sangat benci karena terlahir kembar, benci karena aku harus berbagi rahim selama 9 bulan lebih bersamamu!”

Teriak Taeyong kesal, lalu segera pergi meninggalkan ruangan tempatku berada ini sambil membanting pintu. Rasanya aku ingin mengejar Taeyong, namun mengingat betapa cepat sosok punggung adikku itu menghilang dibalik pintu, aku merasa itu tidak ada gunanya. Taeyong membenciku, ya, benar-benar membenci noona-nya yang selalu bertindak bodoh sejak kecil ini. Noona yang tidak bisa diandalkan.

Angin malam nampak menelusup lewat celah jendela kecil di kamar. Seulgi juga Wendy baru saja pamit beberapa menit lalu. Katanya Seulgi punya les tambahan dengan Professor Yixing karena dia tidak terima gagal dalam ujian praktek, juga aku sempat menitipkan ucapan terimakasih pada Professor jenius obat-obatan itu lewat Seulgi. Sementara Wendy pamit ingin mengunjungi perpustakaan. Katanya ada pertidaksamaan yang tidak bisa dia pecahkan, dan dia belum tenang untuk tidur kalau belum menyelesaikan soal yang diberikan sebagai PR oleh Professor Matematika-nya yang bernama Bogum itu. Lucu sekali melihat bagaimana kedua teman sekamarku itu sangat rajin belajar sementara aku hanya berdiam diri meringkuk sendirian di dalam kamar, mempersipkan diri untuk mati sekitar kurang dari 5 hari lagi.

“Kenapa tidak pergi?” aku mengerjap saat menemukan suara itu lagi, dan benar saja, sudah ada sosok Sehun yang duduk dengan angkuhnya di atas meja rias Wendy.

“Wendy akan marah kalau kau mengacaukan letak bedaknya. Dia itu benar-benar teratur mengatur semua benda miliknya dan dia akan membunuhmu kalau bedaknya bergeser 1 milimeter saja,” kataku memperingatkan Sehun karena itu memang kenyataan, Wendy sangat perfeksionis dan super bersih, bisa mati kalau sampai ketahuan menggeser benda miliknya yang ada di atas meja.

“Wendy itu sepupu jauhku, tidak apa, toh dia tidak akan berani membunuhku,” jelas Sehun tidak peduli, dan aku hanya mengiyakan saja mengingat Sehun dan Wendy memang sama-sama berasal dari Niverda. Aku tidak pernah membicarakan Sehun pada Wendy, dan aku juga tidak mau membicarakannya meski Wendy kemungkinan tau lebih banyak tentang Sehun.

“Untuk apa kau ke sini?” tanyaku akhirnya, dan Sehun nampak menerawang jauh.

“Kau tidak datang ke aula,”katanya menggantung, meski demikian aku tau apa maksud Sehun itu. “Tidak minat,” jawabku singkat, dan Sehun nampak menatapku tak suka.

“Jadi kau ingin mati 5 hari lagi?” tanyanya, dan aku menggeleng. “Ntahlah, mau mati atau tidak, itu bukan urusanmu ‘kan?” balasku bertanya dengan nada tak suka.

“Pokoknya kau harus latihan,” paksa Sehun sambil menarik badanku mendekat ke arahnya. Dia menyentuh tanganku, dan benar saja, sekarang kami sudah ada di aula. Teleportasi sialan itu lagi.

“Aku hanya mengenakan piyama bergambar beruang berwarna pink,” kataku datar, dan Sehun nampak tidak peduli.

“Memangnya kenapa? Toh tidak ada hubungannya gambar baju dengan kemampuan bertarung,” aku menatap Sehun kesal, namun dia tidak peduli dan sekarang sudah bersiap men-summon senjatanya. Tak lama, sebuah busur berwarna keemasan keluar dari tangannya.

“Bisa pakai busur?” tanyanya, dan aku menggeleng.

“Sudah kuduga, kau akan mati kalau tidak belajar. Kemarilah, aku akan mengajarimu,”

“Tidak mau,” tolakku, tapi Sehun belum menyerah. Dia menarikku lagi, lalu dengan teleportasinya dia sudah berada di sebelahku dan menempatkan busur miliknya di tanganku.

“Caranya seperti ini,” jelasnya sambil memperbaiki posisi busur dan anak panah di tanganku, dan tanpa kuduga ternyata kami berdua sudah terbang dengan Sehun yang berada di belakangku. Nampak angin melingkupi kami berdua, yang tebakku juga adalah salah satu kemampuan magis Sehun.

Crashhhh.

Sehun melepas anak panahnya lewat tanganku, dan anak panah itu langsung melesat tepat sasaran ke papan tembak yang sudah Sehun siapkan.

“Kau harus belajar sampai bisa memanah seperti itu, aku tida mau tau, kau harus bisa,” bisik Sehun sambil menurunkanku dari gulungan anginnya. Kini aku berdiri sendirian di tengah aula, sementara Sehun dengan anginnnya sudah berada di atas balkon tempat berdirinya Luhan waktu pembagian kelas dan pemberian pidato selamat datang kepada murid baru Arestal.

“Baiklah, sekarang coba belajar memanah yang benar dari garis merah yang pertama,” aku memutar mataku malas. Dasar lelaki pemaksa satu ini.

“Yara Lee.” Professor Do nampak memanggil dari kejauhan. Jadi dengan cepat aku berbalik dan merajut langkah menemui lelaki berusia hampir sama dengan ayahku itu, Perofessor yang sudah menjadi guru terbaik yang aku punya karena selalu dengan senang hati melakukan konseling padaku.

“Ya Prof ? Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku penuh tanda tanya, pasalnya hari sudah hampir malam dan ini seharusnya waktu untuk beristirahat, bukannya waktu untuk konseling siswa. Aku sangat ingat kalau Professor Do tidak mau melakukan konseling di malam hari, dan seingatku pun aku tidak membuat janji konseling dengan Professor ini.

Kutatap Professor yang sudah menginjak usia 200 tahun itu, dan bisa kulihat sebuah senyum samar terlukis disana, di bibir tebal miliknya itu. 

“Aku sudah menunggumu sejak lama, Kim Yara,” ia berucap pelan, lebih tepatnya seperti berbisik dan membuat bulu kudukku mulai meremang. Ia mengenalku, ia tahu nama asliku. Kenapa? Kapan? Bagaimana bisa? Aku tidak pernah menceritakan identitas asliku padanya.

“Kajja, sepertinya banyak yang harus kita bicarakan kali ini nona muda, seharusnya aku mengenalimu dari awal,” katanya berucap sambil menggandengku menuju kantornya. Aku menurut pasrah. Professor Do adalah orang yang baik, jadi ragaku mengikut saja kemana lelaki ini pergi.

“Jadi, bagaimana kabar Yang Mulia Raja Suho? Ah, atau lebih tepat ku sebut Junmyeon saja?” ucap Professor itu penuh selidik. Hei, Junmyeon katanya?

“Ah, kau pasti tidak tau nama kecil ayahmu. Lucu juga karena kau adalah putrinya. Apa aku salah?” aku mengangguk perlahan, mengiyakan semua ucapan lelaki dengan mata hitam berkilat itu. Sinar matanya agak berbeda malam ini, tidak seperti biasanya.

“Dulu, saat ia seumurmu, namanya bukan Suho, tapi Junmyeon. Park Junmyeon tepatnya.” jelasnya lagi sambil mulai menghidupkan perapian di kantornya yang sudah cukup berumur dan betapa kagetnya aku saat mendapati api yang menyala-nyala itu mulai bergerak naik, seakan menghipnotis mataku seketika.

“Itu ayahmu,” katanya sambil menunjuk seorang lelaki berbalut sweater merah sebatas leher dan duduk di sebelah perapian, tepat seperti yang kami lakukan sekarang. 

“Apa yang ia-“

Crashhh!

 

“Kau sudah bangun?” aku mengerjap pelan saat perlahan bahuku sedikit berguncang. Lantas aku memposisikan diriku bangun dan menatap seseorang yang baru saja menepuk bahuku ringan. Itu Wendy, teman sekamarku.

“Ah, ya. Aku sudah bangun,” jawabku singkat, agaknya belum sadar sepenuhnya dari alam mimpi.

Wae? Tidak biasanya kau seperti ini Yara, apa kau mimpi buruk? Makanya jangan terlalu sering belajar dan berakhir terkapar di meja seperti ini. Kemarin kau pulang sangat larut karena terlalu asyik berlatih,” omelnya cerewet sambil memakai sepatunya. Sial, ternyata aku hanya bermimpi. Ini semua gara-gara Sehun memforsir begitu banyak tenagaku di hari pertama latihan kemarin malam hingga mendapat mimpi aneh semacam itu.

“Pergilah sarapan. Seulgi pergi pagi sekali tadi karena harus ke hutan mencari tanaman obat untuk kelas ramuannya. Aku pergi dulu, ada kelas magis yang harus ku ikuti pagi ini. Kau taulah, Professor Kim Jongdae guru yang terlalu tepat waktu, tidak seperti Professor Kim Jongin kalian itu yang selalu terlambat,” sanggah Wendy, lalu tanpa menunggu persetujuanku gadis itu sudah melesat pergi dari kamar. Agaknya ia terburu-buru karena kini ku dengar langkah berlari di luar pintu.

“Maaf Wen, sepertinya kau jadi terlambat karena membangunkanku terlebih dahulu,” batinku sambil beranjak dari depan meja belajar yang sudah kualih fungsikan sebagai tempat tidur. Kemarin aku bahkan terlalu lelah untuk berpindah posisi ke tempat tidur. Si Sehun sialan itu hanya menteleportasikanku ke meja belajar. Jadilah aku tertidur di meja ini dan bukannya di atas tempat tidur karena terlalu kelelahan.

Lantas aku mencek jadwalku sendiri. Ada kelas bahasa Professor Park 2 jam lagi, Kelas magis Professor Kim setelah makan siang, dan kelas eksakta Professor Do petang nanti.

“Baiklah, pertemuan kali ini akan saya tutup,” seorang lelaki dengan coat coklat tebal dan kacamata minus yang bertengger memagari matanya berucap dari depan kelas, itu Professor Do, guru eksakta sekaligus konseling yang anehnya ada di mimpiku kemarin.

Selepas perginya guru eksakta itu dari dalam kelas, dengan cepat aku mengemasi barangku sendiri. Saatnya beristirahat karena tengah malam nanti aku akan diforsir tenaga lagi karena harus berlatih dengan manusia baja seperti Oh Sehun. Yah, sudah kepalang latihan, jadi aku harus latihan yang serius agar tidak mati minggu depan.

Jadi, setelah selesai dengan peralatan belajarku di meja, aku segera melangkah keluar kelas, berniat segera kembali ke kamar sebelum akhirnya kudengar sebuah suara mengintrupsi langkahku.

“Lee Yara,” professor Do memanggilku dari kejauhan, jadi dengan cepat aku berhenti melangkah dan menjawab panggilannya sebelum ia beralih dan mengurangi point sopan santun milikku.

“Ya Prof ? ada yang bisa saya bantu?” tanyaku penuh tanda tanya, pasalnya hari sudah berganti malam dan seingatku tidak ada konseling malam di jadwalku dengan guru satu ini. Cukup lama professor berumur 200 tahun itu memandangiku dari atas ke bawah, membuatku sedikit risih sebelum akhirnya ia melukiskan sebuah senyum lewat lengkung bibir tebalnya.

“Aku sudah menunggumu sejak lama, Kim Yara,” ucapnya penuh penekanan pada nama terakhir meski dengan nada berbisik. Jantungku mulai berdegup kencang. Kim Yara. Kim. Ia menyebut marga asliku. Kenapa, kenapa professor ini tau?

Kajja, sepertinya banyak yang harus kita bicarakan kali ini nona muda, seharusnya aku mengenalimu dari awal,” lanjutnya lagi sambil menarik tanganku berjalan mengikuti langkahnya menuju kantor. Aku terlalu kaget untuk melawan, jadi dengan pasrah kubiarkan ragaku mengikuti professor itu. Lagipula, aku penasaran kenapa ia bisa mengenali nama asliku.

“Jadi, bagaimana kabar Yang Mulia Raja Suho? Ah, atau lebih tepat kusebut Junmyeon saja?” tanyanya kini saat kami berdua sudah duduk berhadap-hadapan di atas kursi goyang tua miliknya yang menghadap perapian. Ia menatapku lagi, sementara kini bulu kudukku mulai meremang. Professor Do nampak aneh malam ini, dia tidak seperti biasanya.

“Ah, kau pasti tidak tau nama kecil ayahmu. Lucu juga karena kau adalah putrinya. Apa aku salah?” tunggu, sepertinya aku mengenal kalimat ini. Sungguh, bukankah ini benar-benar sama dengan mimpiku?

“Dulu,saat ia seumurmu, namanya bukan Suho,tapi Junmyeon. Park Junmyeon tepatnya.”

“Dulu,saat ia seumurmu, namanya bukan Suho,tapi Junmyeon. Park Junmyeon tepatnya.”

Benar, kalimat yang kulafalkan dalam hati benar-benar sama dengan yang kini diucapkan Professor padaku. Dan seperti dalam mimpiku juga, perapian di depan kami kini menyala dan menampakkan api yang berkobar-kobar, kemudian waktu seakan bergulir ke masa lalu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi sekarang?

“Itu ayahmu,” tunjuk Professor Do pada seorang lelaki ber-sweater sebatas leher berwarna merah, persis dalam mimpiku. Aku menyerngit. Ayahku –yang pada waktu yang kami lihat ini bernama Park Junmyeon– kini berdiri dari posisi duduknya kemudian berbalik.

Crashhh!

Dan ntah sejak kapan ditangan ayah sudah ada sebilah pedang tajam yang kini menggoreskan luka menyilang di tubuh seorang wanita berambut ombre kecoklatan.

“Dasar picik kau Junmyeon!” kata wanita yang kini berlumur darah itu sambil menarik badan ayah dengan sisa tenaganya. Tak menunggu lama, kini badan gadis itu lunglai dan jatuh terkapar ke lantai dengan mata terbuka meski kuyakini jiwanya sudah pergi ntah kemana. Perlahan, badannya berubah menjadi api yang menyala-nyala, lalu secara perlahan pula menghilang dan menyisakan abu yang terbang tertiup angin. Ayah tersenyum, sangat tipis, sementara tak ada raut bersalah terukir di wajahnya.

“Itu bibi jauhmu,” ucapan Professor Do seakan mengembalikan kami ke masa sekarang. Semua bayangan tadi hilang, tergantikan dengan ruangan yang kami diami sedari tadi.

“Maksud anda apa Prof?” tanyaku masih agak bingung. Sungguh, ini membuat kepalaku hampir pecah.

Ayah pernah membunuh keluarganya sendiri saat ia masih berumur belasan tahun, sama seperti usiaku sekarang. Ayah membunuh saat ia masih bersekolah di Arestal ratusan tahun yang lalu, tapi kenapa? Kenapa ayah membunuh, juga kenapa ayah harus mengganti namanya padahal ia adalah calon tunggal dan bukannya anak kembar seperti aku dan Taeyong? Lalu kenapa semua kejadian ini muncul di mimpiku kemarin malam? Apa aku bisa melihat masa depan lewat mimpi? Sial, pertanyaan itu terus saja bergejolak di otakku!

“Sudah kuduga, kau pasti bertanya-tanya kenapa ayahmu si vampire darah murni dari keluarga Ares dan punya kekuatan magis paling suci diantara kaum vampire harus membunuh’kan?” lantas aku menggangguk, menunggu professor Do membuka mulutnya lagi.

“Jangan bodoh Yara, tidak selamanya takhta itu suci. Takhta vampire Ares sama artinya dengan pertumpahan darah.” jelas Professor Do sambil menatapku intens.

“Seperti perebutan jiwa kekal vampire murni yang kulakukan dengan adik kembarku?” lanjutku semakin bergairah. Sepertinya Professorku ini tau banyak tentang vampire darah murni keluarga kerajaan, atau umumnya disebut keluarga Ares. Kerajaan vampire; Ares.

“Kau beruntung, karena kau tau siapa yang harus kau bunuh untuk mendapat setengah jiwamu lagi Yara-ssi. Kau beruntung karena kau adalah anak kembar, jadi kau bisa dengan mudah membunuh adikmu saja,” ia berbisik, seakan-akan menjelaskab bahwa ia tau semua hal tentangku.

“Apa untungnya? Ada pepatah yang mengatakan tidak boleh ada 2 bulan di langit Ares. Jadi satu bulan harus menjadi gelap, dengan kata lain mati. Aku dan Taeyong, salah satu diantara kami akan mati, cepat atau lambat untuk menggantikan takhta ayah suatu saat nanti sebagai pewarisnya. Itu hukum alam yang sudah ada sejak sebelum kami lahir. Tapi ayahku? Dia itu calon tunggal. Ia lahir sebagai satu-satunya bulan di bangsa ini. Jadi untuk apa ia membunuh saudari jauhnya sendiri, eoh?” tanyaku berkelakar cukup jauh. Professor Do nampak menghembuskan nafasnya perlahan sambil membuka kacamata mungil yang memagari matanya

“Rupanya kau tidak tau apa-apa tentang Ares Yara, kau masih terlalu polos.”

“Mak-maksud Professor apa? Professor siapa? Kenapa tau semua tentangku?!” pekikku akhirnya, dan sebuah senyum tersungging di bibirnya dengan begitu sempurna.

“Aku ada di pihakmu Yara. Aku akan mendukungmu untuk hidup. Aku akan membuatmu menang dari saudara kembarmu si Kim Taeyong itu. Ingat, aku ada di pihakmu.”

“Kenapa kau terlihat begitu lemas, eoh? Mana semangatmu bodoh?” aku tidak memperdulikan omelan Sehun, sungguh, aku sedang tidak mood berlatih dengan lelaki ini sekarang.

“Aku kurang enak badan,” bohongku akhirnya sambil meletakkan kasar pedang kayu yang Sehun berikan sebagai bahan berlatih ke lantai, lalu mendudukkan bokongku sama kasarnya di atas lantai kayu aula itu.

Ya! Aku bilang latihan dan bukannya duduk Lee Yara!” perintah Sehun yang kini sudah turun dan memarahiku. Dia nampak berkacak pinggang, sementara aku hanya menatapnya datar.

“Aku tau cara agar kau bisa memang dari Taeyong, agar kau bisa hidup sebagai pewaris Ares.”

“Oh Sehun, menurutmu Luhan itu orangnya seperti apa?”

Sehun nampak menyerngit, kemudian duduk di sebelahku dengan segera.

“Tumben sekali kau membicarakan Luhan, memangnya ada apa?” tanyanya penasaran, dan aku hanya tersenyum tipis.

“Aku menyukai Luhan. Bagaimana menurutmu kalau aku mengencani Luhan, eoh?”

To Be Continued

Iklan

16 pemikiran pada “Mea Alterum – [4] Secret – Shaekiran

  1. Hai kak. Reader baru nih…
    Well, ak suka banget sama karya kakak yg mea alterum ini. Tp maaf ak baru bisa comment sekarang. Dan aku mau nanya nih kak. Kok kayanya mea alterum gak dilanjutin lg sih? Kenawhy kak? Kenapa? Aku selalu menunggu updatean dri kakak tp ga up 😭😭

    Aku gak maksa kakak buat nglanjuti. *tp sbnrnya berharap bgt. Aku cuman penasaran alasan atas tidak dilanjutinnya ff ini. Tlg bls aku dong kak plissss….

    Btw kakak ktanya 00line tp akhir oktober ya? Trs skrg kls 2 ap 3 sma kak? Kalo 2 sma brrti kita seumuran donggg

    • maaf aku mau nambahin komentar…
      kapan kamu bakal publish lanjutannya ki,ini udah lebih dari sebulan,aku sampe baca berulang2 gara2 gak ada ff yang seru buat kubaca,plus nungguin semua ffmu,aku ini penggemar ffmu,terutama rooftop romance dan semuanya sih.
      jujur aku nunggu banget klimaks nya,terutama klimaks cintanya mereka,dan banyak banget yang bikin aku penasaran abis,tapi nantilah kutunggu dichapter selanjutnya.
      Aku tahu kamu lagi sibuk sama ujian and remedinya kamu ki,tapi please yang ini aja kamu upload kumohon padamu ki…
      maaf terlalu banyak koment….

  2. salam kenal kak, aku ngebut nih bacanya. Sukaaaa bgt epep kk. Itu prof do merencanakan membunuh luhan melalui sehun atas kecemburuannya kah? itu yg terlintas di pikiranku. Semangat buat ngetik next chap ny!!

  3. Aku yakin sebenarnya Taeyong sayang sama Yara buktinya dia sangat khawatir ketika Yara minum darah beracun. Dan apa-apaan Yara nanyain Luhan? Bagaimana dengan ekspresi Sehun saat Yara mengatakan hal itu. Apa ada kaitannya dengan ucapan Prof. Do Kyungsoo? Ah penasaran kak, cepat dilanjut 🙂 🙂

  4. Omo.. yara nanyain luhan wehh… Ekspresi sehun gimana yee… wkwkwk
    Baper sama taeyong😭😭

    Fighting thor.. ditunggu chap selanjutnya😉😉
    .
    .
    ❤Chaichai❤

  5. KENAPA SEREM BANGET ITU MINUM DARAH SINGA GUNUNG BETINA BIKIN MATI WADU WADU WADUW ITU SEHUN KENAPA SIH ILAAH LABIL BANGET JIWANYAA DIA TUH UDAH BERAPA TAHUN IDUP MASIH AJA GAK PUNYA PENDIRIAN GITU DEH AKH ILAH HEUU JADI DO ITU SEBENERNYA SIAPAAA?!! AKU TUH MAKIN BINGUNG /LOH/ next update nya sangat amat banget terlalu di tunggu😂 fighting!💪

  6. Wuhuuuuuy… akhirnya bisa baca fanfict ini walau nyuri nyuri waktu.
    Ekiiiiiiiii!!!!! Aku kasih empat jempol buat kamu! Tulisan kamu bagus dan sukses bikin aku terbuai meleleh kayak eskrim dipanasin. Kok ini beda banget ya sama tulisan kamu yang lain? Atau mungkin ini efek fantasy?
    Ini kayaknya banyak kode dan petunjuk. Dan well, itu yang dimiring dikira masa lalu, eh taunya visi masa depannya si yara, kan kamvret-_- udah capek spot jantung, keringet dingin gak kelas, dan harus menerima satu fakta bahwa itu cuma mimpi!
    Eh btw ada mamas ten! Eki, ente sengaja masukin list suami ane ya? Pertama yuta, terus ten, apakah setelah ini ada mamas bulan? //itumahngarep!
    Sebenernya masih gak ngerti sama kata yang dicantumin di atas ‘im not human’. Itu siapa yang ngomong sih? Yara? Atau taeyeong atau siapa? Maksudna naon coba? Saya juga tau ente bukan manusia, lah ini kan cerita vampir. dan kesimpulan yang dapat ditarik, si yara bukan manusia ataupunvampir?/sumpahiningaco
    Karena ini bahasannya vampir, berarti si yara bukan vampir biasa atau mungkin bukan vampir/blablablajangandengerin
    Ekhem cie taeyeong khawatir nih? Malu malu meong ya? Mencurigakan, si taeyeong kayaknya kejebak siscon deh/vikirankuhdengansegalakekacauannya
    Dan untuk kamu sehun, yang sabar ya nak. Yara emang gak suka sama kamu, ditambah lagi sekarang si yara mulai ngincer luhan. Waks, tragis banget sih kisah cintamu/digeplaksehun/geplakbalik/digeplaklagi/geplakbalik/danterjadilahaksigeplakmenggeplak

    Ini cunyul kapan muncul????? Jangan sama wendi ya, chanyeolnya mending sama seulgi, gak mungkin yara karena yara milik sehun/ditampoleki

    Akhir kata, wasalam. (Keep writing &fighting!)
    An.jangan galau mulu, nanti kesambet?//ngomong avah syeeeh?

  7. Geregetan sumpah astaga 😂 Prof. Do ekekek xD anakanakku kenapa kalian bikin gereget eomma wkwk lanjutkan nak! Lanjutkan! Eomma sudah terlalu gereget dengan cerita ini /plak😂

  8. Bikin penasaran sama kelanjutanya supah suka banget ceritanya. Itu sebenarnya kayaknya taeyeong khawatir sama yara ya. Penasaran jangan jangan kekuatan yara bisa ngeliat maa depan lagi. Dan ditunggu reaksi sehun selanjutnya wkwk.
    Fighting buat nulis next chap.😊

  9. Si taeyong khawatirin yara ? Dia tulus atau dia gak mau yara mati duluan ?
    Si D.O ada dipihak yara ? Dia beneran atau ada maksud yang lain ?
    Yara suka sama luhan terus gimana perasaan sehun ? Sehun juga suka sama yara beneran apa bohongan sih ?
    Ditunggu chapter berikutnya, jangan lama-lama kak update nya, gak sabar nunggu kelanjutannya.

  10. BATUK BATUK. KODE YA MBA HYERIM MUNCUL DI NEXT CHAPTER. AYO YARA JAMBAK2AN SAMA HYERIM DULU WKWKWK.

    Dan ini what, why. Taemin, Bogum. Itu bebeb aku yang lain atidakkk T.T /digampar/

    Balik ke cerita. Itu anjyr ya… ya… ya…. darah singa betina itu kelas Yara ekstrim weh. Dan apa itu Taeyeong, dia yg gendong kan? Kok kayak perhatian atau takut dia ikut kebunuh juga karena 1 jiwa? Udah terharu bagian itu eh tapi si teyongnya songong lagi, ogahin. Dan bagian dilatih Sehun, yihihi, Yara yg dilatih ane yg baper /langsung digampar/

    Eh keanya emang Yara bisa liat masa depan lewat mimpi ya? Iwiss kerennnn, gaes. Coba Yar, mimpiin aku jodoh sama perwira TNI /langsung nari hula2/ wekwekwekwek dan kok bagian liat masa lalu kek harpot ya dan bagian perebutan takhta kok jadi kek drama koriya kolosal /terlalu banyak menonton/ dan the secretnya adalah…. salah 1 pewaris Ares tetep harus membunuh 1 sodaranya yg berbagi jiwa kan ya kan kan kan /soktoy mode on/

    Walau ingin jambak2an sama Yara /ga/ tp kutau chapter depan peran Hyerim yg kukepo akan muncul ahahah. Gud luck juga untukmu Yar, senengnya si Dio ada dipihak dia asikasik. Silahkan kamu sukain Luhan sesuka hati, asal jan baper beneran ya /ga

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s