[Chaptered] Feel So Fine (1st Chap) | by L.Kyo

IMG_20170321_225933

Title: Feel So Fine | Author: L.Kyo | Artworker: bangsvt@PosterChannel | | Cast: Shin Gaeun (OC/YOU), Park Chanyeol (EXO), Oh Sehun (EXO), Son Eunseo (WJSN) | Support Cast: Son Wendy (Red Velvet), Do Kyungsoo (EXO) | Genre: Comedy, Drama, Fluff,  Life, Romance  | Rating: PG-17 | Lenght: Chaptered | Disclamer: This story is mine. Don’t plagiriaze or copy without my permission.

.

.

[ http://agathairene.wordpress.com/ ]

.

.

Collage 2017-03-25 00_00_03

HAPPY READING

.

.

 

Dunia itu sempit.  Kita tidak tahu seseorang yang dulu berarti bagi kita,  yang pernah mengisi hari-hari kita dulu,  membuat sebuah kenangan entah itu pahit atau kenangan yang sukar untuk dilupakan.  Kenangan setahun lalu,  dimana Sehun adalah sosok pria yang pernah singgah di dalam hatinya.  Istilah dunia sempit itu benar-benar ada dan nyata.  Karena Gaeun mengalami itu hari ini.

 

Kedua tangan Gaeun berkeringat.  Tak hentinya ia merapikan rambut, kemeja putih dan rok hitam selututnya. Sembari berjalan perlahan dengan hak tinggi, mengikuti pegawai personalia yang saat ini memperkenalkan kantor dan karyawan disana. Dan tentu saja Gaeun kaget bukan kepalang. Awalnya sama sekali tidak ada dalam benaknya bahwa ia akan mendapatkan sebuah kejutan.

 

Dan demi Tuhan juga,  ia tidak dengan sengaja melamar di Perusahaan ini hanya karena ada Sehun.  Sehun yang notabene adalah senior di Kampusnya dulu.  Sehun yang notabene adalah mantan kekasihnya dulu,  yang pernah mengisi hatinya selama satu tahun.  Dan kini mereka saling menatap tak percaya.

 

Sehun dengan kemeja putih dan dasinya melotot memandang Gaeun.  Sama-sama tidak mengerti hari apa yang mereka alami hari ini.  Gaeun mengigit bibir bawahnya,  berharap Paman personalia yang memperkenalkan mereka segara membawa mereka pergi ke ruangan lain.  “Kau tidak apa-apa?” Wendy menepuk bahu Gaeun yang sedari tadi memilih bersembunyi di punggungnya.

 

“Tidak apa.  Aku hanya sedikit malu”. Gaeun tersenyum pada Wendy yang sama -sama pegawai baru sepertinya.  “Tidak perlu malu.  Wajah mereka sepertinya menyenangkan.  Apalagi pria disana?  Aku rasa jantungku berdetak melihatnya.  Bukankah dia terlihat tampan?” Wendy menepuk bahu Gaeun gemas.

 

Heol. Gaeun menelan salivanya dan menatap ke atas.  Seolah ia tak mendengar apa-apa.  Akhirnya mereka berhenti dan Gaeun merasa bahwa keringat dingin semakin menyerangnya.  Bagaimana perasaanmu jika kau berdiri di depan mantanmu seperti ini?  Sehun pasti mengira jika Gaeun mengejar-ngejarnya.  Jika Sehun berpikir seperti itu, lalu Gaeun seperti apa di mata Sehun?  Gadis yang susah move on? Sungguh klasik.

 

“Hei,  kau tidak dengar?” Paman Personalia itu menatap Gaeun seolah meminta Gaeun berbicara.  “A…  Apa?” Wendy yang berdiri di sisi Gaeun menahan senyum.  “Perkenalkan namamu!  Kau melamun?” Paman itu pun sedikit membentak membuat Gaeun sedikit kelabakan.  Namun di ujung sana,  Sehun tampak tersenyum tipis sembari menyelesaikan laporan disana.

 

Oh God,  Gaeun  lama tidak melihat senyuman itu. Wajah tegas itu membuat Gaeun semakin terperosok dalam,  semakin lama tidak bisa melupakan Sehun.  Dan kali ini ia berada  di dalam satu bangunan,  satu atap bersama Sehun.  Gaeun menatap kedepan,  berusaha percaya diri dan memperkenalkan diri.  “Halo.  Perkenalkan nama saya Shin Gaeun,  21 tahun,  lulusan dari Universitas Seoul.  Untuk para sunbaenim,  mohon bimbingannya!”

 

Gaeun membungkuk 90 derajat dan selesai. Nafas Gaeun kembali lega setelah ia sudah sekuat tenaga memberanikan memperkenalkan dirinya. Jika tidak ada Sehun di sini, mungkin perasaan menjengkelkan ini tidak akan terjadi.  Dunia memang sempit you know?  Lamunan Gaeun buyar saat salah satu senior wanitanya menepuk bahunya memberikan semangat.

 

“Semoga kau betah disini Gaeun-ssi, Perusahaan kita akan melakukan proyek besar dan belajarlah. Dan bantulah kami. Jangan lama beradaptasinya ya!” Wanita seksi dan berlipstik merah itu tersenyum menatap Gaeun.  Gaeun berdecak, menatap wanita genit itu berjalan menjauh.

 

Gaeun kira wanita itu pergi ke meja kerjanya melainkan ke meja Sehun.  ‘Apa-apaan ini?’ Mata Gaeun melotot.  Kedua tangan Gaeun menggegam seolah ia tidak suka.  Tapi ayolah Shin Gaeun, seharusnya ia sadar diri karena mereka sudah tidak ada ikatan lagi. Gaeun mana tahu,  Sehun sudah punya tambatan hati atau tidak.  Yang jelas itu bukan tipe Sehun.

 

Baiklah,  Gaeun mulai sok tahu saat ini.  Namanya juga perasaan alami.  Tentu saja ia merasa was was.  Apalagi wanita itu,  yah.. Memang cantik,  berdada besar,  rambut hitam nan tebal,  bibir merah menggoda.  Sehun juga pria normal. Jika diingat Sehun dulu saat menciumnya dengan penuh gairah,  tentu saja melihat wanita itu pasti akan cepat luluh.  Pipi Gaeun memerah saat ia mengingat adegan ciuman dulu dengan Sehun.

 

‘Ah,  ini hari apa sebenarnya?  Sungguh brengsek. Tidak tidak! Kau tidak boleh mengingatnya lagi eun’. 

 

Hati Gaeun melorot saat Sehun menanggapi wanita itu.  Tanpa sadar Gaeun menghela nafas panjang. ‘Menyerahlah. Tidak ada gunanya menggapai kenangan lama’.  Lagipula mereka sudah tidak ada hubungan,  jadi hak Sehun untuk berbicara pada siapapun.  Sifat cemburu berat Gaeun masih kentara dan seharusnya ia tidak boleh merasakan itu.

 

“Gaeun-ah! Ayo! Kita menuju ke ruangan lain. Apa yang kau lihat sih?” Wendy menengok namun Gaeun sigap menarik lengan temannya untuk menjauh, mengikuti gerombolan karyawan baru yang sudah mencapai pintu keluar. “Tidak ada! Ayo ikuti mereka!” Bisik Gaeun sembari menarik lengan Wendy menjauh. Sehun yang masih duduk di kursinya menghela nafas, sembari tersenyum kecil pada wanita yang berbicara padanya sedari tadi.

 

“Hun-ah, bagaimana dengan pakaian ini? Bagus kan?” Wanita itu menunjukkan sebuah baju di ponselnya dan Sehun hanya menggangguk singkat. Matanya kembali menatap layar komputer. Dan tanpa sadar bibirnya tersungging senyum tipis. Dan kita tidak tahu, apa makna senyuman dari Oh Sehun. Pria dingin dan misterius yang selalu membuat Gaeun sukses untuk tak melupakannya.

 

***

 

“Eun-ah! Apa kau juga sama denganku?” Wendy mengapit lengan Gaeun sembari mengikuti Paman Personalia menuju ruangan lain. Gaeun melirik mata Wendy sekilas dan menatap lengan Wendy yang mengapit lengannya, merasa tidak nyaman. Tanpa babibu, Gaeun melepas seakan risih. Namun Wendy justru kembali mengapit lengan Gaeun semakin erat.

 

“Ya! Bisakah kau melepasnya? Aku tidak bisa berjalan dengan benar. Jangan lakukan itu, jangan seolah aku pacarmu! Kenapa mengapit segala sih?” Teriak Gaeun kesal. Karena gadis itu memang tak suka. Wendy memonyonkan bibirnya dan berdecak kesal. “Ada apa kau ini? Bukannya kau mencari teman baru malah memperlakukanku seperti ini! Setelah keluar dari ruangan itu, kau jadi aneh! Apa yang terjadi? Apa kau terbayang-bayang pria itu? Sudah kuduga!”

 

Protes Wendy sembari sedikit berbisik, tak ingin Paman Personalia itu mendengarkan pertengkaran mereka. “Ti … tidak! Aku baik-baik saja. Karakterku memang begini!”  Alis Wendy naik dan ia tahu bahwa Gaeun berbohong. “Hei, wajahmu sangat kelihatan eun. Baiklah, memang kita masih mengenal kurang dari 24 jam ini, tapi wajahmu mengatakan hal lain. Sudahlah, jangan berbohong padaku. Aku juga menyukainya!”

 

Kedua alis Wendy terangkat. Dan sepertinya Gaeun salah memilih teman. Gaeun acuh dan berpura-pura tidak mendengarkan.  “Kalau dipikir pikir,  pria itu memang tampan. Dia terlalu tampan jika ia hanya sebatas karyawan seperti kita. Akan lebih keren jika dia jadi pemilik perusahaan. Kau bisa bayangkan jika usia muda seperti dia sudah memegang perusahaan besar!” Ucap Wendy tak mau berhenti.

 

“Terus, pasti akan beruntung yang memikat hatinya. Kau bisa bayangkan apa yang kau inginkan dari baju mahal, perhiasan mahal pasti pria itu sanggup membelinya. Omong-omong dia sudah punya pacar atau belum ya?” Tanya Wendy saat selesai dengan pujian lebarnya. Gaeun mengedikkan bahu tak tahu.

 

Karena memang ia tidak tahu,  karena sudah setahun mereka memutuskan kontak.  Bisa saja menjalin hubungan baik layaknya senior junior tapi sepertinya Sehun masih enggan berbicara padanya.  Jadi sudah dipastikan bahwa mereka tidak akan bersama lagi. Itu mustahil.  “Wendy-ya!” Panggil Gaeun dalam lamunannya. Wendy berdehem sembari menggandeng lengan Gaeun yang masih dengan pikiran kosongnya.  Tentu saja supaya Gaeun tak ketinggalan berjalan bersama mereka.

 

“Jika kau ingin jadi temanku, diamlah sebentar. Jangan bergosip yang tidak-tidak. Berkonsentrasilah hari ini. Kau tidak lihat mood ku jelek seketika karena kau?” Pinta Gaeun lirih. Wendy mengangkat alisnya. “Apa sih yang kau katakan? Aku tidak mengerti”. Wendy cekikan dan Gaeun pun hanya menhela nafas panjang.

 

***

 

‘Dia sudah punya pacar atau tidak?’

‘Bagaimana pendapatnya saat melihatku?’

‘Dia masih punya perasaan atau tidak?’

 

Gaeun mematikan lagu Don’t Recall dari ponselnya. Gadis itu berguling-guling di atas ranjang sembari memeluk gulingnya frustasi. Ia tidak boleh seperti ini terus. Menjijikkan memang mengharapkan seseorang yang bahkan sama sekali tidak menghubunginya. Kalau dipikir-pikir sih jika seseorang lama tidak bertemu, pasti ia akan menanyakan kabar dan membuat janji untuk bertemu sebentar.

 

Tapi sampai malam ini nihil. Gaeun berusaha tidak mengharapkan terlalu tinggi. Tapi,  sifat Sehun yang dingin sudah melampaui batas. Jika Gaeun yang mengajaknya, lalu ia pasti tak bisa menahan malu.

 

’Apa sebaiknya kita putus?’

‘Baiklah jika itu mau mu!’

 

Dan kata-kata yang ia ucapkan setahun lalu tiba-tiba terdengar bak sebuah rekaman yang masih mulus. Gaeun menghela napas panjang lalu duduk di pinggir sofa. Bola matanya tertuju pada bingkai foto di nakas meja, tak jauh dari hadapannya. Beberapa bulan lalu, ia ingat masih memasang foto mereka berdua saat di pantai, mencium pipi Sehun penuh sayang.

 

Masih ia pampang walau nyatanya ia putus saat itu. Penyesalan itu memang mengerikan. Selalu datang terlambat. “Aku tidak mengerti perasaan ini membuatku begitu menderita. Sadarlah eun”. Gaeun beranjak dan mendekati nakas meja.  Memandang fotonya sendiri dengan senyum bahagia.

 

Ia mengelus bingkai kaca itu lembut lalu tersenyum. “Lihatlah! Bagaimana aku bisa tersenyum tanpa beban seperti ini?” Senyum tipis Gaeun memyeruak,  namun ia tak bisa menyembunyikan perasaannya.  Ia membalikkan bingkai foto itu dan melepas pengait belakangnya. Dan tampak dua foto dengan sisi berbeda.

 

Gaeun membalikkan foto yang sedari tadi tertutup dengan foto dirinya. Dan salivanya terasa berat ia telan. Ia membuka pengait dibelakang dan tampak dua foto diletakkan dalam sisi berbeda. Ia membalikkan dengan hati-hati dan terpampang jelas bahwa itu adalah foto favoritnya saat bersama Sehun.

 

Gaeun tersenyum tipis lalu menjentikkan lembut muka Sehun yang terlihat tampan di balik senyum dinginnya. “Kau tahu hun? Kau menyebalkan!” Bibir Gaeun sedikit bergetar dan ia segera mengembalikan foto itu asal dan tentu saja ia membalikkan ke sisi fotonya sendiri dan kembali memperbaiki bingkainya.

 

“Aku tidak tahu kenapa aku harus menyimpannya”. Gaeun merengut, kemudian ia menatap langit di luar sana. Langit gelap, tak ada satupun bintang terhias di sana. Ia mengusap ingusnya yang hampir keluar dan Gaeun merengut. “Tck, kenapa aku mau menangis sih?” Gaeun berjalan menuju lemari dan mengambil jaketnya. Lalu tak lupa membuka rak untuk mengambil dompet.

 

“Sebotol soju akan membuat pikiranku jernih. Okay, no Sehun, no broken heart!” Gaeun mengepalkan kedua tangannya dan berlari kecil menuju pintu lalu memakai sepatu kets nya asal. Sebenarnya Gaeun tidak bisa minum banyak, karena ia gampang mabuk. Bahkan ia pernah membuat gara-gara setelah ke toko kelontong dan tiba-tiba muntah mengenai kemeja seseorang.

 

Alhasil ia pagi-pagi mendapatkan sumpah serapah dan tak tahu terimakasih karena sudah mengotori baju mahal yang Gaeun muntahi. Sudah baik jika orang itu tidak melakukan apapun dan mau membawa Gaeun kembali ke Apartemennya. Jika tidak mungkin Gaeun akan tidur di pinggir jalan. Tapi Gaeun sudah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia tidak akan minum sampai satu botol. Cukup setengah botol saja.

 

Sisanya ia minum jika ia benar-benar mengalami depresi. Gaeun memasuki toko  kelontong dan segera mengambil sekotak ramen dan sebotol soju. Sekalian makan malam pikirnya.  Setelah memasukkan air panas kedalamnya, ia membuka botol soju dan meneguknya perlahan. Suara kepuasan terdengar keras saat ia berhasil satu tegukan. “Hah, leganya. Satu tegukan supaya aku tidak masuk dalam jebakan Oh Sehun!”

 

Setelah beberapa detik minum, Gaeun tersenyum tipis. Menatap ramennya yang masih diseduh.  “Apa sih istimewanya dia? Dia cuma modal tampan. Baiklah, mungkin aku memang tak bisa sebanding dengan Sehun. Betul, aku pendek, jelek dan dekil. Jadi saat itu dia minta putus padaku! Tentu saja aku jelek!” Gaeun menggerutu.

 

Lalu bola matanya menatap botol sojunya dan tanpa babibu ia langsung meneguk beberapa ml di dalam mulutnya. Dan suara glegekan muncul setelahnya. Gaeun menggelengkan kepalanya sekedar menghilangkan pusing yang tiba-tiba. “Ramenmu dingin. Lebih enak kau makan dulu baru menikmati minummu!” Suara berat muncul begitu saja di sisi Gaeun.

 

Gaeun tak menoleh dan ia hanya mengangguk lemas. “Benar. Kau benar! Seharusnya aku makan ramen dulu baru meminumnya. Mungkin aku punya pemikiran terbalik, maka dari itu pria yang aku sukai meninggalkanku!” Gaeun menepuk dadanya pelan. Pria yang berada di samping Gaeun hanya menaikkan alisnya, sembari membuka kaleng kopinya.

 

“Kenapa? Jangan bilang kau baru saja putus cinta?” Senyum pria itu tipis lalu ia meneguk kopinya. Gaeun tercengang, seolah pria itu dukun dadakan. “Apa kau dukun? Hah? Darimana kau tahu aku sedang memikirkan putus?Apa kau ounya keahlian membaca pikiran?”  Gaeun sedikit berteriak dan pria itu sedikit terkejut.

 

Lalu pria itu sedikit tertawa dan meletakkan kopinya di atas meja. “Kau mabuk? Hah gadis ini!” Pria itu meletakkan kedua tangannya di dalam saku dan menatap Gaeun sedikit kasihan. “Apa sebegitunya kau menyukai pria itu? Apa kau dicampakkan?” Dan pria itu semakin ingin tahu.

 

Gaeun terdiam, menatap jalanan yang sudah terbilang sepi oleh kendaraan. Gadis itu mengangguk pelan. “Aku belum mabuk dan aku 100% sadar. Aku tanya padamu, apa dosa jika aku mengingat masa lalu?” Gaeun menoleh, menatap  lelaki itu bahkan ia memandang sedikit buram karena efek pusing mulai menghajarnya. Gaeun menggelengkan kepalanya meminimalisir kepalanya yang pusing.

 

“Tidak! Kenangan bukan untuk dilupakan. Tapi masa dimana kita harus memperbaikinya dimasa mendatang”.  Ucap lelaki itu. “Tapi jangan terlalu kau pikirkan. Bukankah lebih baik kau melupakannya dan bersama pria lain? Kau bisa membuatnya menyesal melepasmu?” Lelaki itu membungkuk, bermaksud menjelaskan ucapannya karena Gaeun sudah tak fokus.

 

Tck, Aku bukan anak SMP. Kenapa aku berpikiran seperti itu? Lalu siapa yang mau menjadi pacarku? Kau?”  Tangan telunjuk Gaeun mengarah pada lelaki itu, hingga lelaki itu memundurkan langkahnya. Kemudian lelaki itu berdecis, menatap jalanan yang sudah sepi sembari meneguk kopinya lagi. Merasa yang dilakukan Gaeun adalah hal biasa baginya.

 

“Lalu jika kau mau jadi pacarku, apa kau bisa mengertiku? Mengerti semua kesibukanku? Selalu berkata jujur jika aku melakukan kesalahan? Kau bukan tipe pria yang memutuskan gadis manis seperti ku kan? Jika iya, kau sama saja pengecut sepertinya!” Gaeun kembali berteriak. Lelaki itu menatap kasir yang menatapnya aneh seolah ia yang sudah mencampakkan gadis itu, bahkan ia tidak mengenalnya sama sekali.

 

Ya! Kau mabuk. Lebih baik kau pulang ke Rumah. Ini sudah malam dan hentikan minum mu!” Pria itu meletakkan botol soju yang hampir saja akan diteguk Gaeun. Gaeun menurut, menatap sojunya yang sudah setengah botol. Gadis itu terdiam lama membuat pria itu menatap Gaeun penasaran. “Jangan terlalu dipikirkan! Semua akan baik-baik saja”. Pria itu membalikkan badannya dan meninggalkan Gaeun yang masih terdiam.

 

“Ambil ini!” Pria itu meletakkan sekotak susu di depan meja. Gaeun mengeryitkan dahi lalu menatap pria itu. “Anggap saja ini sebagai hadiah sudah mempercayaiku mendengarkan curhatanmu. Jangan sedih!” Pria itu tersenyum lebar lalu meninggalkan Gaeun.

 

Gaeun menatap pria itu di balik kaca kelontong, menatap punggung lebar itu menjauh. Gadis itu tersenyum tipis lalu memegang susu pemberian teman tak bernama. Nama? Mata Gaeun melebar, ia berlari keluar dari toko kelontong lalu melihat jalanan sekitar.

 

Pria itu sudah hilang. Ia tidak temukan. “Haish, bodoh! Aku tidak tahu namanya. Bahkan aku belum mengucapkan terimakasih”. Gaeun memukul kepalanya pelan. Lalu ia menatap susu itu di tangannya. Lalu semburat senyuman terhias di bibirnya. “Terimakasih!”

 

***

 

“Sehun Oppa!” Panggilan yang terdengar manis sama sekali tak didengar Sehun. Pria itu masih sibuk menatap jalanan raya yang terlihat seperti cahaya kecil di atas Apartemen megahnya. “Oppa, kau dengar aku atau tidak?” Gadis itu menepuk bahu Sehun pelan.

 

Sehun menoleh tanpa ekspresi lalu kembali menatap jendela. “Aku akan turun! Kau duluan. Kau seharusnya tidak perlu ke Kamarku”. Gadis yang bernama Eunseo itu terdiam, menatap tunangannya itu dengan perasaan kecut. “Apa kau terganggu? Aku kan tunanganmu. Bukannya tidak apa-apa jika aku memintamu turun. Ayah dan Ibu sudah duduk di meja makan dan aku khawatir karena kau tak kunjung turun”.

 

Sehun menutup matanya, seakan muak dengan sebutan tunangan. Tapi ia mencoba menahan diri. “Turunlah! Sebentar lagi aku akan turun!” Eunseo tersenyum. “Aku akan menunggu! Ayo kita turun sama-sama! Apa aku perlu mengambis jasmu? Kau suka jas yang mana?” Eunseo berlari kecil menuju lemari besar Sehun.

 

Sehun  menoleh, menatap Eunseo dengan tatapan tak suka saat gadis itu membuka lemarinya. “Berhenti!” Sehun sedikit menekan nadanya membuat Eunseo mengurungkan niatnya. “Turunlah! Aku akan memilih jasku dan aku yang lebih tahu dengan seleraku”. Wajah Sehun mengarah pada pintu, mengartikan untuk Eunseo segera keluar dari kamarnya.

 

Mata Eunseo membulat, tangannya kembali ia turunkan. Terlihat senyumnya kecut, berusaha tersenyum walau ia tahu bahwa Sehun tak menyukainya. “Ba … baiklah. Aku akan menunggu di bawah!” Eunseo memundurkan langkah lalu keluar dari kamar Sehun.

 

Gadis itu menuruni tangga dan ia berhenti sejenak. Eunseo sedikit berdecis lalu menundukkan kepalanya. Menyembunyikan bulir air matanya yang hampir saja turun. Ia suka Sehun. Sangat teramat. Rasanya seperti terbang di angkasa saat orang-orang menyebutnya adalah tunangan Oh Sehun. Sebuah harapannya dan juga harapan orang tuanya.

 

Selain menjadi pernikahan perusahaan untuk mengembangkan bisnis, Eunseo pun menyukai Sehun dari jaman SMA. Mencintai Sehun dalam diam dan memperhatikan pria itu dari kejauhan. Saat  ia tak berani menyapa pria itu yang terkenal sebagai Pangeran es. Jadi bukan alasan lagi untuk menolak perjodohan karena bisnis. Sebelum itu terjadi, Eunseo mengharapkan itu semua.

 

Selama dua tahun bertunangan memang terasa pahit bagi Eunseo. Pria itu masih tak menganggap Eunseo ada. Seolah ia hanyalah sebagai pajangan dan sederet nama, bukan sebagai manusia yang disebut tunangan. Ia tahu semua hal tentang Sehun, makanan kesukaan, warna, kelebihan, kekurangan. Semuanya. Tapi jika ditanya, apakah Sehun tahu semua hal tentang Eunseo? Eunseo jamin bahwa pria itu tak akan mengetahuinya.

 

“Kau masih disini?” Lamunan Eunseo buyar tatkala suara yang ia kenali terdengar di belakang.”Ahh? Aku menunggumu disini!” Eunseo  memperbaiki rambut panjangnya. Sehun mengangguk sembari membenarkan dasinya. Tahu dasi Sehun sedikit miring, ia sigap mengambil alih untuk memperbaikinya. “Aku akan memperbaikinya!”

 

Sehun terdiam, menatap Eunseo yang sibuk memperbaiki dasinya. “Apa kau tidak lelah?” Tiba-tiba Sehun bertanya. Bersamaan dengan Eunseo yang berhenti tatkala pria itu bertanya. “Pertunangan dengan alasan bisnis seperti ini menurutku sangat kuno. Jangan terlalu memikirkan hubungan ini, kita masih muda. Banyak hal yang kita lakukan! Dan …” Sehun menurunkan tangan Eunseo dari dasinya. “Kau tidak perlu melakukan ini seolah kau akan jadi istriku nanti, aku sama sekali tidak memikirkan sejauh itu”. Eunseo mendongak, menatap senyuman Sehun yang justru masih terlihat  dingin.

 

“Bagaimana jika aku memang mengharapkan itu? Berharap kau akan menjadi pendampingku? Ini bukan soal pertunangan karena bisnis, sebelum itu aku sudah menyukaimu Oppa”. Ucap Eunseo lirih. Sehun berdecis, menuruni beberapa tangga lalu berhenti. “Jangan membuatku semakin canggung. Dan satu hal lagi, jangan katakan soal pertunangan. Apalagi kau dengan percaya dirinya menyebutmu adalah tunanganku? Sejujurnya aku terganggu”.

 

Sehun mengucapkan itu dingin dan terdengar menekan. Walau tak membentak, tapi hati Eunseo terasa ciut. Gadis itu memandang punggung Sehun yang semakin jauh. ‘Segitunya kau membenciku? Bahkan aku sama sekali tak membuat salah padamu’. Ya, Eunseo sangat berhati-hati berbicara pada Sehun, tapi pria itu keterlaluan dinginnya,  perasaannya seolah beku.

 

“Apa karena kau sulit melupakan gadis itu?” Kedua tangan Eunseo tergenggam, mengingat Sehun selalu tak lupa memandang foto yang terlihat sedikit rusak itu sebelum tidur. “Mantan pacar? Sungguh ia tidak beda dengan anak remaja.” Protes Eunseo lirih.

 

“Kau turun atau tidak?” Sehun berbalik setelah sampai ke lantai dasar dan tentu saja dengan tanpa ekspresinya. Kedua mata Eunseo berkaca, menatap mata Sehun yang bahkan menatapnya tak manusiawi, layaknya ia melihat benda mati berbentuk patung yang berhias di sekitar tangga. Eunseo mengangguk dan menuruni tangga, sembari menatap Sehun yang berjalan menuju meja.  Tanpa menunggu Eunseo turun. Yah, seperti ini lah kehidupan pertunangan Eunseo, tanpa adanya cintanya Sehun.

 

-TO BE CONTINUE-

 

Hallo, L.Kyo kembali dengan membawa FF Chaptered. FF Chapter L.Kyo terakhir disini adalah Heart Attack. Setahun kemudian akhirnya L.Kyo kembali membangun mood dengan buat FF Chap lagi. Semoga FF Chap ini ga kalah boom /plak/ yah >////< Lama ga bikin FF juga, jadi maaf semisal ada kata-kata typo atau malah semakin kemampuan menulis L.Kyo jelek. Wkwkwk~ Tolong di maklumi eaak! Jangan lupa tinggalkan jejak dan aku mohon jangan menjadi silent reader ya uys.. Karena satu kalimat penyemangat kalian adalah vitamin nya L.Kyo~ Seperti biasa L.Kyo usahakan untuk update seminggu sekali. Hari ini hari jumat kan? Jadi L.Kyo usahakan Ff ini rilis tiap hari Jumat. See U again~~

IMG_20170325_002245

Iklan

19 pemikiran pada “[Chaptered] Feel So Fine (1st Chap) | by L.Kyo

  1. Ping balik: [Chaptered] Feel So Fine (2nd Chap) | by L.Kyo | EXO FanFiction Indonesia

  2. omo…omo… I’am late?. Ga eun baperan.. aku jdi ngebayangin jdi ga eun.. so, ceye jdi malaikat yg dtang tiba” untuk ga eun..
    anyeonghaseo thor (L.Kyo) 🙂 🙂

  3. Seru bnget ceritanya..

    Itu yang bareng ama Gaeun, chanyeol kan?
    Sehun masih ada rasa juga kan ama Gaeun?

    Penasaran sma next chapnya 😊😊

    Semangat 💪💪
    💕💕💕

  4. Ceritanya menarik, jadi g sabar sma lanjutannya..
    Itu yg ketemu sma gaeun, apakah CY Oppa?? Jadi penasaran.. 😀
    Di tunggu next chapnya ya thor..
    Fighting… 👊👊😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s