[EXOFFI FREELANCE] FRIDAY’S LOVE STORY (Chapter 1)

POSTER FFSY

FRIDAY’S LOVE STORY

A story by Fallensnapcat

Length: Chaptered

Genre: Romance, Drama

Rated: T to M/NC17

Cast:

Kim Yeri

Oh Sehun

Jeon Somi

Park Chanyeol Kai and others.

Summary:

“Mendapat skorsing di minggu pertama sekolah sama sekali bukan keinginan Yeri. Disaat itulah Yeri yang hanya iseng mengikuti temannya clubbing, berakhir dengan keputusan untuk menetap di apartemen seorang Oh Sehun. Sementara itu Chanyeol mulai ragu dengan perjodohannya dan Jongin yang tiba-tiba terjebak cinta segitiga.”

 

Disclaimer&A/N: this story belong to fallensnapcat, also published on my own wordpress, do not copy or remake or republish and repost without my permission and credit thankyou! I warn you this fiction may contain some sexual contents in some chapter.

.

“It’s friday night when we first met.”

: : chapter1 : :

“Don’t forget to check your bag, if there’s something left just tell your brother, okay?”

“Yes, mom.”

“Take care sweetie, I love you!”

“I love you too, mommy.”

Pip

Yeri menutup teleponnya bersamaan dengan koper soft pinknya yang keluar dari mesin pemeriksaan. Segera ia mengambil koper tersebut dan menyeretnya menuju pintu keluar. Lebih tepatnya kedatangan luar negeri, ya, tentu saja karena gadis cantik tersebut baru saja datang ke tanah kelahirannya, Korea Selatan. Yeri yang kini hampir berusia 18 tahun memutuskan untuk pindah ke Seoul, ia merasa bosan dengan Kanada. Apalagi kalau bukan kesibukan kedua orang tuanya. Jadi lebih baik ia kembali saja setelah hampir tiga tahun bersekolah di sana. Apalagi di Seoul juga ada kakak sepupunya, she think she’ll be fine.

“Yeri-ah!”

Gadis itu pun langsung berjalan cepat begitu mengenali suara yang sangat familiar di telinganya. Siapa lagi kalau bukan kakak sepupunya, Kim Jongin. Pemuda itu masih mengenakan baju rapih—mungkin akan pergi ke kampus—dengan sebuah kertas kecil bertuliskan ‘Y E R I’.

“Aku kira oppa akan telat menjemputku, Kim Hitam,”ucap Yeri sambil terkekeh.

Aigoo, kau ini belum juga masuk ke mansionku sudah berani meledek. Dasar anak kecil!” Jongin—yang lebih akrab dipanggil Kai sebenarnya, langsung membantu Yeri membawa kopernya. “Seriously, Kim Yeri, kau hanya membawa satu koper ini saja? Kau ini berniat pindah sekolah atau liburan huh?”

Mereka berdua berjalan beriringan keluar bandara menuju parkiran, tempat mobil Jongin dan sopirnya berada.

First, I’m running out of time. Kedua, aku tidak ingin berlama-lama mengemasi barang bersama Darla. Kau tahu kan? Jadi aku berniat membeli saja di Seoul,”jawab Yeri yang mendapatkan cibiran dari Jongin.

“Kenapa kau selalu tidak akur dengan ibu tirimu itu, huh? I mean, she’s great and well kind.”

Yeri menghela napas.

I’m sorry, sweetie, I didn’t mean,”

It’s okay, oppa. Aku hanya, belum bisa melupakan mendiang ibuku. Apalagi Darla baru setahun bersama ayah.”

Wajah yeri mendadadk murung dan Jongin mengumpati dirinya dalam hati atas pertanyaannya tadi.

“Alright, this is my car and on Friday I promise you we gonna have a great hangout, how do you think?”

                Yeri tersenyum lebar, “Call!”

: : : : :

Jam masih menunjukkan pukul 8 pagi. Mansion milik keluarga Kim terlihat sudah sangat rapi. Tidak heran memang, ada sekitar sepuluh atau lebih maid dan bodyguard di sana. Belum lagi petugas kebun yang seminggu dua kali berganti. Mobil yang ditumpangi Jongin dan Yeri pun sampai.

“Nah, ayo masuk,”ajak Kai begitu mereka keluar dari mobil.

“Bagaimana kabar Krystal dan J eonni?”tanya Yeri mengekor langkah Jongin.

“Mereka baik, hanya sedang sibuk di China. Jadi masion ini kosong, karena eommonim dan abeoji juga sedang keperluan bisnis di Jepang, entah sampai kapan,”jelas Kai sambil merebahkan dirinya di sofa ruang keluarga.

“Koper ini ditaruh di mana, tuan muda?”tanya si sopir.

“Di depan pintu pertama lantai atas saja,”jawab Jongin.

Yeri pun ikut mendudukkan dirinya di sofa. Tangannya mengambil majalah yang tertata rapi di meja keca di sana.

“Wow, is this Krystal eonni? She looks so stunning.”

Gadis itu membolak balik halaman majalah Vogue China yang menampilkan Krystal sebagai modelnya. Tak heran kenapa Jongin bisa jatuh cinta dengan mudah pada gadis tersebut, pikir Yeri. Yang seharusnya dipertanyakan adalah,

“Aku heran kau memberi racun apa pada Krystal eonni sehingga dia mau bertunangan dengamu, Kim Hitam?”

Jongin jawdrop.

“Kau ini benar-benar,”geram Jongin. Sementara Yeri sudah tertawa sambil mengacungkan tanda v sign dengan jarinya.

Oppa, kau tahu kan aku tidak akan lama di sini, menurutmu Suho oppa mau tidak mencarikanku apartemen yang bagus?”tanya gadis itu sambil berpikir. Sedetik kemudian ia tersenyum geli lalu melanjutkan ucapannya,”yang dekat dengan apartement artis-artis di KLM, hehe.”

“Yang pertama aku 100% yakin dan yang kedua, hmm, 0,1% yakin. Kau tahu, hyung selalu melindungi aset berharganya.”

Yeri berdecih.

“Besok kau kuantarkan kesekolah, lebih baik kau mepersiapkan hari pertamamu jangan malah memikirkan artis-artis tidak bermutu itu, Kim Yeri!”

“Yaa! Itu aku sedang mempersiapkan masa depan percintaanku, Kim Hitam, ish!”

Kemudian perdebatan kecil tersebut terus berlanjut sampai Jonginyang harus segera berangkat ke kampusnya.

: : : : :

Tiffany berjalan dengan anggun di kelasnya siang itu. Sambil menjelaskan, layar di depan ruangan menunjukkan serangkaian presentasinya yang didesain apik oleh Microsoft power point. Sebagai pengenalan atau gambaran awal materi baru hari itu, Tiffany selalu memberikan sedikit materi untuk dirangkum. Slide demi slide berlalu hingga sampai pada slide terakhir bertepatan dengan jam mengajarnya yang berakhir. Waktu yang ditunggu-tunggu oleh semua mahasiswa di kelas tersebut.

“Silabusnya akan dibagikan besok lusa,”ujar Tiffany.

Mata foxynya memandang ke seluruh penjuru kelas, namun kemudian terkunci pada sepasang obsidian kelam. Tengah beradu pandang dengannya, jangan lupakan seringaian tampan tersebut dan senyuman menggoda dari Tiffany. Tentunya tidak ada seorang pun yang menyadari hal tersebut. Hanya Tiffany dan murid ‘kesayangannya’—

—Park Chanyeol. Setelah semua mahasiswa keluar dari ruang kelas tersebut, Tiffany yang siang itu mengenakan kemeja putih longgar yang kental dengan bohemian style dipadukan dengan pencil skirt diatas lututnya berjalan menghampiri Chanyeol sambil membuka dua kancing teratas kemejanya. Memperlihatkan belahan dadanya yang dibalut dengan push-up bra warna burgundy.

“Ada masalah dengan nilaiku, Miss Hwang?”tanya Chanyeol santai, sembari menikmati pemandangan indah di hadapannya.

“Tidak, bukan nilaimu, Chanyeol—tapi kau.” Tiffany mengerling nakal kemudian merendahkan tubuhnya untuk berbisik di telinga pemuda tampan tersebut,”Let’s have lunch.”

Chanyeol tidak bodoh untuk menangkap maksud dibalik ajakan Tiffany yang mengajaknya makan siang bersama.

“Di mana?” Chanyeol bertanya.

“Di tempatku tentu saja, kebetulan tadi aku membuat lasagna.”jawab wanita berambut hitam legam tersebut. Sangat kontras dengan kulitnya yang putih.

“Baiklah, noona,”ujar lelaki itu sambil mengedipkan sebelah matanya pada Tiffany.

Chanyeol dan Tiffany pun berjalan keluar beriringan. Dengan beberapa map di tangan Chanyeol, wanita itu berjalan menuju mobilnya di parkiran. Walaupun aktifitas di kampus cukup ramai, tak ada satu orang pun yang menangkap gelagat aneh dari Tiffany dan Chanyeol.

Lelaki tinggi itu punya reputasi bagus di Seoul National University. Tentunya, semua dosen dan mahasiswa—terutama yang seangkatan dengannya—sudah mengetahui bahwa ia adalah pewaris tunggal dari Park Enterprises.

Perusahaan ayahnya tersebut juga merupakan perusahaan yang sangat welcome terhadap lulusan SNU. Beberapaka kali diadakannya jobfair, ada sekitar 10-20% Park Enterprises mempekerjakan fresh graduated dari SNU. Sementara itu Tiffany adalah dosen pembimbingnya untuk skripsi beberapa bulan kedepan.

“Terimakasih Chanyeol, segeralah berangkat, aracchi?

Chanyeol mengangguk dan Tiffany pun berlalu dengan mobilnya. Setelah itu barulah Chanyeol berjalan menuju tempat dimana ia memarkir mobilnya. Ia menajamkan matanya begitu melihat siluet pemuda yang hampir tinggi dengannya tengah bersandar di mobil kesayangannya.

“Kau bilang ada kelas sampai jam makan siang? Jadi ada apa ini?”tanya Chanyeol.

“Aku butuh bantuanmu hyung, antarkan aku ke—”

“Wow, kau bahkan memanggilku hyung? Sudah katakan kau mau apa, Sehun-ah!” Yang lebih tua berkata dengan sedikit sarkas. Sementara yang lebih muda—Sehun, tersenyum samar.

“Aku lupa membeli peralatan untuk hari ini, turunkan aku di stationary terdekat. Kau tahu kan ayah menyita mobilku sampai hari Jumat nanti.”

Yang lebih tua kini memutar bola matanya malas.

“Masuk.”

Sehun pun bergegas masuk ke dalam mobil Chanyeol.

“Setelah ini kau sudah tidak ada kelas?”tanya Sehun sambil memainkan ponselnya, lebih tepatnya mencari stationary terdekat dari kampusnya.

“Hm, kurasa tidak ada.”jawab Chanyeol yang fokus mengemudikan mobil.

“Aku lihat kau bersama dosenmu tadi, ada bimbingan?”

“Ya, begitulah. Kau tahu aku harus lulus tahun ini, kan?”

I know Park, dan kemudian menikah dengan wanita pilihan ayahmu, Son Naeun.” Sehun terkekekh di akhir ucapannya.

“Yoora dan ibu sudah mempersiapkan pernikahan itu sejak dua bulan yang lalu.” Chanyeol mengendikkan bahu. “Bahkan Yoora sudah memesan dua kereta bayi, entahlah terkadang aku sendiri tidak memahami kakak perempuanku itu.”

“Mungkin Yoora noona ingin keponakannya dan anaknya lahir bersama, mungkin… Stop! Stop!”

Sehun berteriak dan Chanyeol pun segera menepikan mobilnya. Lebih tepatnya Chanyeol reflek menepikan mobil tanpa menghidupkan lampu sennya, karena kaget, dan mendapat hadian berupa beberapa klakson dari kendaraan di belakangnya.

“Kebiasannmu tidak bisa dihentikan atau bagaimana?”tanya Chanyeol ketika Sehun beranjak turun dari mobilnya.

“Maaf hyung. Oh, kau tidak lupa ada fitting baju di butik J noona bukan?” Sehun memamerkan layar ponselnya yang berisi pesan dari Jongin.

From: Jongin

Katakan pada Chanyeol, J akan ada di butiknya setelah makan siang atau lebih.

 

sent to me at 12:25 KST

Chanyeol mengumpat dalam hati dan langsung mengegas mobilnya menuju apartemen Tiffany.

: : : : :

Somi berjalan gontai menuju kelasnya. Tidak mungkin ia tertinggal pelajaran matematika lagi karena terlalu lama berganti baju setelah olahraga. Begitu sudah dekat ia berjalan pelan-pelan dan mengintip. Fiuh, untung gurunya belum datang.

Gadis itu pun lekas berjalan menuju tempat duduknya, di sampingnya, Nancy, tengah bersolek. Maklum, setelah berolah raga yang menguras keringat, memperbaiki penampilan itu perlu.

“Kemana si serigala pemangsa?”tanya Somi.

“Entahlah, aku dengar dia tidak masuk. Ketua kelas sedang dipanggil. Jadi tunggu saja.” Nancy menjawab tanpa menoleh pada Somi. Seolah cermin di depannya adalah Somi jadi ia tetap fokus kesana.

Gadis itupun segera merapikan mejanya—bekas pelajaran sebelum olahraga tadai dengan buku matematikanya. Tak lama setelah itu sang ketua kelas pun masuk.

“Jae sonsaeng tidak ada, jadi kita mendapat tugas untuk mengerjakan—”

“Apa aku bilang, serigala itu tidak akan datang,”sambar Nancy sambil menatap Somi. Mengacungkan jempolnya dan berwink.

“Ya, ya, ya. Dasar kau ini.” Somi tersenyum geli melihat sahabatnya seperti itu.

“Hey, aku dengar akan ada murid pindahan dari Amerika.” Nancy mulai bergosip. “Katanya, dia adalah keponakan donator utama sekolah kita. Pasti sangat cantik.”

“Memangnya dia kelas satu seperti kita?”

Itu Yeeun, yang tiba-tiba ikut berkomentar. Nancy berpikir—mungkin mengingat-ingat informasi yang ia dapatkan tadi pagi.

“Ada yang bilang dia kelas dua.” Nancy mulai membolak-balik halaman buku matematikanya, lalu melanjutkan,”aku yakin dia akan segera diperebutkan oleh tim basket sekolah.”

“Yakin sekali kau ini!” Yeeun menjulurkan lidahnya sementara Somi tertawa.

“Ya, aku mungkin sependapat denganmu. You know, USA girl.

Just like you two, gals? Ada dua manusia seperti kalian saja sekolah ini jadi tidak tenang apalagi ditambah satu lagi,”protes Yeeun.

Somi dan Nancy kemudian tertawa terbahak-bahak sampai beberapa teman mereka yang melihatnya heran. Jeon Somi bukan berdarah asli Korea, begitupula dengan Nancy.

Ibu Somi adalah seorang wanita Korea asli, Kwon Yuri. Sementara ayahnya adalah seorang berkebangsaan Amerika—yang telah meninggal dunia tiga tahun yang lalu. Sementara Nancy kedua orang tuanya adalah asli Amerika, hanya saja mereka menjadi duta besar untuk Korea Selatan jadilah Nancy tinggal disini sejak ia berumur 9 tahun.

“Hey, kalian masih sering datang ke July*?”tanya Yeeun setelah tawa Somi dan Nancy berhenti. (*July di sini adalah nama tempat, kependekan dari Julianne de Calbrode)

“Hmm, hanya seminggu sekali,”jawab Nancy.

“Kenapa?”tanya Somi. “Kau mau ikut?” Gadis cantik itu menaik-naikkan alisnya. Yeeun memandangnya kesal sementara Nancy sudah terkikik.

“Yaa! Aku hanya bertanya!” Yeeun sedikit berteriak kesal lalu memajukan bibir bawahnya—seperti merajuk.

Lagi-lagi Somi dan Nancy terbahak melihat Yeeun seperti itu.

: : : : :

Apartemen milik Tiffanya bernuansa minimalis. Walaupun tidak terlalu luas, kelihatannya cukup luas—apalagi jika ditempati seorang diri. Tiffany segera menghangatkan lasagna buatannya ke dalam microwave begitu sampai. Sementara menunggu, ia berjalan ke dalam kamarnya untuk bersiap diri.

Roknya ia naikkan hingga terlihat seperti model high waist yang memamerkan paha mulusnya. Serta push-up bra yang tadi ia kenakan, kini ia lepas. Hanya tinggal kemeja putih yang dua kancing teratasnya terbuka yang kini melekat di tubuh bagian atasnya. Sempurna.

Wanita itu kemudian kembali ke dapur untuk menyiapkan piring dan peralatan lainnya di meja makan. Tak lama setelah itu tersengar bunyi bell. Tiffany pun bergegas menuju ruang tamu untuk membuka pintu.

“Selamat datang Chanyeol, masuklah,”ajak Tiffany.

Lelaki itu hanya mengangguk lalu berjalan mengekor Tiffany masuk ke dalam.

“Kau datang lebih cepat dari perkiraanku,”ucap wanita itu lagi.

“Ya, aku sengaja menyusulmu secepat mungkin noona.” Chanyeol menaruh tasnya di ruang tamu.

Lalu ia berjalan ke meja makan, dan duduk di salah satu kursi, sementara Tiffany masih menghidangkan lasagna  yang baru saja ia keluarkan dari microwave.

Noona, aku rasa aku tidak akan lama berada di sini. Ibuku dan Yoora mungkin sudah menungguku di butik.”ujar Chanyeol sambil memperhatikan Tiffany. Lebih tepatnya ke arah dua gundukan di balik kemeja putih yang tengah dikenakan wanita itu.

“Butik? Kau akan fitting baju pengantin hari ini, Channie?”tanya Tiffany setelah menyajikan lasagna dan beberapa minuman bersoda di meja makan. Kemudian ia berjalan mendekat pada Chanyeol.

“Ya, butik milik J noona, you know.”

“She’s daughter of—I’m sorry. I mean it’s must be our time, isn’t it?”

Tiffany menjatuhkan pantat sintalnya di pangkuan Chanyeol, kemudian mengalungkan tangannya ke leher pemuda itu dan memeluknya posesif. Membuat kedua buah dadanya menekan dada bidang Chanyeol. Yang lebih tinggi pun melingkarkan tangannya pada pinggang Tiffany.

I know. Masih ada banyak waktu lain, kurasa.” Chanyeol mulai memainkan tangannya di punggung Tiffany.

: : to be continued : :

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] FRIDAY’S LOVE STORY (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s