[EXOFFI FREELANCE] Twin (Chapter 1)

POSTER TWIN.jpg

Twin ( Chapter 1)

Author : Bacon14

Length : Chaptered

Genre : Romance

Disclaimer : Semua cast milik Tuhan, orangtua mereka, dan SM. FF ini resmi punyaku dan jangan diplagiat. FF ini aku share bukan hanya di facebook pribadi tapi juga di EXO Fanfic Indo, Wattpadku @AyuMeyliana, https://www.fanfiction.net/u/8926667/, maybe bakal kushare di EXO fanfiction tergantung mood juga. So jangan bilang kalo aku plagiat atau apapun karena ff itu ceritanya dari orang yang sama yaitu aku. Okay?

Main Cast :

– Kim Minseok

– Park Seori

– Kim Xiumin

Author Note :

Semoga kalian suka ffku yang sebelumnya.Love you my readers

Happy Reading😊

Bagaimana jika kau memiliki kembaran yang sama persis wajahnya tanpa perbedaan sedikitpun? Bagaimana jika kalian adalah dua orang yang kembar yang menyukai satu yeoja yang sama? Apakah hubungan kalian akan tetap baik-baik saja? Atau hubungan kalian akan rusak?

Minseok POV

Halo.. Namaku Kim Minseok. Aku punya kembaran bernama Kim Xiumin. Bukan hal yang mudah memiliki kembaran seperti dia.. Dari segi wajah kami benar-benar sama. Hanya dari segi rambut saja memang kami sengaja bedakan untuk mempermudah orang lain membedakan kami. Xiumin memiliki rambut emas kecoklatan sedangkan aku hitam dengan highlight coklat muda di beberapa bagian. Aku memakai kacamata sedangkan Xiumin memilih memakai soflens. Tapi jika kami sama-sama memakai kacamata akan terlihat sama. Kadang aku seperti melihat diri Xiumin dalam diriku. Dari segi sifat untungnya kami berbeda. Xiumin lebih blak-blakan, urakan, berantakan dan terkesan bad boy sedangkan aku lebih memilih menjadi anak yang kalem, tidak banyak bicara, dan dingin.

“Hei Minseok.. Apa aku harus berganti warna rambut? Aku bosan dengan warna rambut seperti ini.” Aku hanya meliriknya sekilas tanpa berusaha menanggapi. Bukannya sombong atau apa tapi aku menganggap pertanyaannya kekanakan. Xiumin selalu saja begitu.

“Ya! Selalu begini.. Kau mengabaikanku.” Aku menutup buku tebalku dan melepas kacamataku. Lihatlah… Kami terlihat mirip jika aku melepas kacamataku.

“Mau kau berganti rambut atau botak sekalipun. Aku tidak peduli.” ucapku pedas. Xiumin menghembuskan nafasnya. Ia menatap cermin dan tersenyum kecil.

“Tuhan benar-benar adil ya walaupun kita diciptakan dengan wajah yang sama. Sifat kita berbeda. Aku tidak tahu jika aku memiliki sifat yang sama sepertimu. Dingin, pendiam, kalem. Ck.. Membosankan.” Aku hanya memutar bola mataku. Mataku terpaku pada gelangnya.?

“Gelang itu dari siapa?” Kuakui memang aku terkesan dingin tapi sebenarnya aku peduli hanya saja aku tidak bisa mengungkapkannya. Xiumin melirik gelangnya sekilas dan tersenyum kecil.

“Ini dari yeoja yang kusuka. Dia memberikanku saat aku tadi terjatuh di lapangan basket. Aaah~ dia benar-benar cantik dan aku semakin menyukainya.” Aku penasaran dengan ceritanya. Walau terkesan badboy tapi percayalah Minseok tidak pernah menyukai yeoja satupun. Sempat aku menganggapnya gay karena alasannya tidak mendekati yeoja itu tidak logis. Dia mengatakan yeoja adalah makhluk yang menyebalkan, bawel dan sangat menganggu dan aku rasa dia harus menarik ucapannnya saat ini. Dia sekarang mengelus gelangnya itu dan terus tersenyum seperti orang gila.

“Memangnya siapa dia?” Xiumin tersenyum misterius padaku. Aku tidak menyukai senyumannya. Aku tidak suka ia menyembunyikan rahasia dariku.

“Nanti kuperkenalkan, hyung.” Aku sudah lama tidak mendengarnya mengucapkan “hyung”. Dia memanggilku seperti itu jika dia senang. Aku berbeda kelas darinya jadi aku tidak tahu tentang teman-temannya termasuk yeoja yang memasuki kehidupannya. Aku cukup penasaran karena menurut asumsiku yeoja ini sangat menarik karna berhasil menarik minat Xiumin.

“Ya, baiklah.” Aku menyerah dan membiarkan diriku kembali larut dalam buku yang kubaca.

“Aku takut kau menyukainya juga. Dia milikku.” gumam Xiumin sambil melirik sekilas ke arahku. Xiumin bangkit dari tempat duduknya dan keluar kamar. Gumamannya membuatku termenung. Apakah aku dianggap ‘rival’ nya sampai ia mengatakan hal seperti itu? Memang apa yeoja itu sangat menarik sampai aku jatuh cinta dengannya? Aku hanya mendecih kecil dan kembali membaca buku dengan tenang.

Minseok POV end

“Minseok.. Tolong kamu ke perpustakaan dan ambil buku sesuai daftar ini.” Minseok mengambil daftar nama buku dan membungkuk hormat. Langkah kakinya membawa dirinya ke perpustakaan. Ia membungkuk hormat pada petugas perpustakaan. Petugas perpustakaan sudah cukup hafal dengan Minseok karena setiap istirahat dia selalu berkunjung sekedar Membaca buku atau meminjam buku.

“Anatomi manusia sudah dan anatomi hewan sudah.. Sistem saraf dimana ya?” gumam Minseok. Minseok berjalan berkeliling dan menemukan buku sistem saraf yang ia cari.

“Hiks… ” Langkah kakinya terhenti. Minseok penasaran dengan suara tangis seorang yeoja di perpustakaan. Setahunya petugas perpustakaan itu namja bukan seorang yeoja. Minseok mulai mencari suara tangisnya yang semakin lirih terdengar.

“Hey kau..” Yeoja itu mendongak sambil masih sesenggukan. Ia kembali menenggelamkan wajahnya, mengabaikan kehadiran Minseok. Minseok mendecak kesal karena ucapannya tidak dihiraukan. Ia ingin pergi lagi tapi suara yeoja itu membuatnya terdiam.

“Xiumin, kau juga akan meninggalkanku seperti ini?” Minseok menoleh mendengar yeoja itu memanggilnya Xiumin. Ia ingin menjelaskan bahwa ia bukan Xiumin tapi kembarannya. Namun suaranya kembali menginterupsi.

“Aku tidak mau kau pergi juga. Cukup sahabatku saja yang pergi. Aku mau kau di sisiku saja.” ucapnya lirih tapi masih cukup untuk didengar Minseok. Minseok melihatnya dengan tatapan kasihan. Ia mendekati yeoja itu dan duduk di sampingnya.

“Kau tidak mau bicara padaku? Ck.. Kau sama saja dengan teman lain yang mendekatiku hanya karena uangku.” Minseok sekilas membaca name tag yeoja itu. Park Seori. Dia dengan canggung menarik Seori dalam pelukannya.

“Aku tidak tahu apa masalahmu tapi kalau dengan pelukan membuatmu tenang, kau bisa memelukku dengan erat.” Seori semakin erat memeluk Minseok dan membuat Minseok sedikit gugup. Jantungnya berdebar tidak karuan hanya karena sebuah pelukan.

“Sudah merasa lebih baik?” Tanya Minseok. Seori mengangguk dan menghapus air matanya. Ia baru menyadari siapa yang dia peluk.

“Xiumin, kau merubah penampilanmu ya? Kau terlihat lebih culun tau.” kekehnya. Minseok hanya tersenyum kecil menanggapi ucapannya. Dia menunda untuk memberitahu Seori bahwa ia bukan Xiumin.

“Kau suka penampilanku sekarang atau sebelumnya?” tanya Minseok. Seori terlihat berpikir sejenak dan tersenyum cerah.

“Aku suka dua-duanya. Kau terlihat tampan dengan penampilanmu sebelumnya tapi kau juga terlihat imut dengan penampilanmu yang sekarang. Lebih seringlah untuk memakai gaya ini. Kau terlihat pintar.” Minseok tersenyum kecil dan mengacak poni Seori perlahan. Rona merah menjalar di kedua pipi Seori dan senyuman malu-malu tampak di bibirnya.

“Apa aku terlihat bodoh dengan tampilan urakan?” Seori menggeleng dan tersenyum manis. Ia menatap Minseok dengan tatapannya yang berbinar-binar dan tampak polos. Minseok jadi ingin berlama-lama disini mengobrol dengan Seori tapi ia tidak mau dihukum karena melupakan pelajarannya.

“Kembalilah ke kelasmu dan aku akan kembali ke kelasku. Okay?” Minseok kembali mengacak rambut Seori perlahan dan bangkit berdiri.

“Apa mungkin dia orang yang disukai Xiumin?” gumamnya dalam hati.

Dari kejauhan seseorang menatap Minseok dan Seori dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Xiumin disana berdiri dengan tatapan cemburu pada saudaranya yang terlihat begitu akrab dengan yeoja yang disukainya. Ia berlalu pergi ketika Minseok berdiri dan meninggalkan Seori. Ia tahu Seori tersenyum bahagia menatap kepergian Minseok dan ia tahu apa arti tatapan Seori pada saudaranya. Tatapan seorang yeoja yang sedang jatuh cinta.

*********

“Seori-ya!!” Seori menoleh dan sedikit mengernyit heran melihat Xiumin berlari ke arahnya. Dia menatap aneh penampilan Xiumin.

“Apa ada yang salah dengan penampilanku?” Xiumin melihat baju dan celananya. Tidak ada yang salah kok.

“Bukannya kau tadi memakai kacamata dan oh shit astaga jadi tadi di perpustakaan itu… Saudara kembarmu?” Xiumin memutar bola matanya malas. Ia hanya mengangguk malas.

“Astaga kenapa aku tidak menyadarinya? Bahkan tadi aku memeluknya erat dan aku menangis di pelukannya. Aku benar-benar malu, Xiumin.” Seori menutup wajahnya dengan pipi yang merona merah.

“Kan aku sudah pernah bilang padamu. Aku ini rambutnya emas kecoklatan sedangkan Minseok itu hitam kecoklatan. Kau selalu salah. Apa perlu aku operasi plastik agar berbeda darinya?” Sisi cemburu Xiumin menguar dari dirinya. Dia benar-benar cemburu jika Seori dekat dengan siapapun termasuk saudaranya sendiri.

“Yah jangan marah, Xiumin. Aku benar-benar tidak tahu. Mataku blur karena menangis. Jadi aku anggap dia itu kau. Pelukannya juga terasa hangat sama seperti saat kau memelukku. Maafkan aku, ne?” Xiumin hampir hilang kesabaran jika tangan Seori tidak menggenggam tangannya dengan erat. Β Dia menghembuskan nafasnya sesaat dan mengacak rambut Seori.

“Aku maafkan tapi kau tidak boleh mengulanginya. Oh ya kenapa kau menangis tadi? Kau harusnya bercerita padaku bukan pada Minseok. Dia bukan seseorang yang bisa diajak bercerita.” ucap Minseok masih dengan sisa kecemburuan yang sangat kentara.

“Kau tahu Semi sahabatku? Dia meninggalkanku dan kau tahu dia menyebutku sampah, sok polos, dan banyak lagi. Aku sudah bersahabat dengannya selama 5 tahun tapi ia meninggalkanku setelah berteman dengan orang yang jauh lebih kaya dariku. Aku sangat sedih, Xiumin. Tapi Minseok itu sangat enak kok diajak bicara. Kau harus tahu itu Xiumin. Dia membuatku tertawa hanya karena ucapannya yang formal.” Xiumin memutarkan bola matanya malas. Lagi-lagi Seori membahas tentang Minseok. Xiumin muak. Apa Seori tidak bisa melihat perasaannya?

“Apa kau tidak bisa melupakan kejadian tadi dengan Minseok? Aku sedang tidak mood membicarakannya.” Xiumin berlalu pergi setelahnya. Seori menatap kepergian Xiumin dengan sedih.

“Padahal aku mau bilang kalau aku menyukainya.” Seori menghembuskan nafasnya kesal. Ia sudah memendam perasaannya sejak lama. Ia selalu berada di sekitar Xiumin hingga akhirnya Xiumin tertarik padanya. Mereka akhirnya bisa bersahabat dengan akrab seperti ini. Beberapa kali ia ingin mengungkapkannya tapi selalu saja waktunya tidak pas. Ia hampir menyerah karena menganggap Xiumin tidak menyukainya dan menganggapnya sebatas sahabat. Lagipula banyak yeoja yang lebih cantik darinya yang tertarik dengan Xiumin. Xiumin itu tampan, menarik, pemain basket, sexy dan lucu. Keberadaannya sebagai yeoja yang dekat dengan Xiumin saja cukup membuat penggemar Xiumin menatapnya iri dan sinis.

******

“Kau tadi bertemu Seori ya?” ucap Xiumin sinis. Minseok mengangguk santai. Ia tahu Xiumin akan membahas tentang ini.

“Apa yang kau bicarakan sampai ia terus membicarakanmu saat bersamaku?” Minseok mengendikkan bahunya. Xiumin yang mulai hilang kesabarannya menarik kerah Minseok dan menatapnya tajam.

“Jangan bermain-main dengan milikku. Aku tidak peduli kau saudaraku tapi jangan kau rebut apa yang sudah menjadi milikku.” desisnya tajam. Minseok tersenyum miring. Ia baru tahu sifat posesif yang dimiliki Xiumin. Sedikit menggodanya akan membuat situasi ini semakin menarik.

“Memang dia sudah menjadi milikmu? Apa kau pernah mengungkapkan perasaanmu? Kau saja baru mengenalnya dan baru dekat beberapa saat. Aku bisa merebutnya asal kau tahu.” ucapan Minseok membuat Xiumin melepaskan genggamannya dan menatap marah Minseok. Ucapan Minseok benar. Seori bukan miliknya.

“Aku terima tantanganmu, Minseok. Kau kira aku akan membiarkan Seori jatuh di tanganmu?” Awalnya Minseok hanya bercanda saja tapi sepertinya Xiumin tidak menganggapnya seperti itu. Minseok merasa tertantang juga dan ia juga merasa Seori sangat menarik. Bahkan hanya dengan sekali lihat saja Seori adalah yeoja yang menarik, ramah dan menyenangkan. Minseok hanya berharap perasaannya tidak berperan lebih dalam tantangan ini.

“Lihat saja.. Seori akan menjadi milikku dan kau tidak akan kubiarkan memilikinya.” ucap Xiumin dingin. Xiumin meninggalkan kamarnya dengan bantingan pintu yang cukup keras. Minseok memejamkan matanya lalu menghembuskan nafasnya perlahan. Ia tahu saat tantangan ini dimulai hubungannya dengan Xiumin akan merenggang. Tapi ia juga harus mencari tahu perasaan nyaman yang ada dalam hatinya saat berdua dengan Seori. Perasaan tenang dan tentram ketika Seori tertawa. Perasaan ingin memeluknya ketika Seori menangis.

“Maafkan aku, Xiumin. Aku harus mencari tahu perasaan itu.”

TBC

Thx yang udh baca cerita aku. Inget comment ya😊😊😊😊

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s