[EXOFFI FREELANCE] [9th& 10th] The Wedding

FG

[9th& 10th] The Wedding

 

Author: WhiteBLove

Cast: Oh Se Hun. Oh Hye Ra. Jung Jae Mi. And others cast.

Genre: Hurt. Marriage Life. Fluff.

Summary:“Lalu bagaimana dengan Jae Mi dan bayinya?”

Ket : This story pure from my Imagination! Please don’t be plagiator and try to copy my story without my permission.

 

https://whiteblove.wordpress.com/

 

Hye Ra. Aku hanya bisa menatapmu, melihatmu terus menjatuhkan air matamu yang sebenarnya sangatlah aku benci. Paru-paru ku terasa kehilangan oksigen saat aku mendengar bahwa dua bulan lalu kau bertemu dengan bajingan itu. Jantungku terasa kehilangan fungsinya saat kau berkata bahwa kau telah tidur bersamanya.

Jadi sungguh? Anak dalam rahimmu bukalah buah hatiku?

Kau mengecewakan delapan tahun yang telah kita jaga meski banyak orang yang berkata bahwa kau bukanlah wanita sempurna untukku.

Sekarang apa yang harus aku perbuat, Hye Ra? Otak ku tak dapat berpikir, bahkan kau telah berhasil membuat hatiku tertutup dengan begitu rapat. Beritahu aku Hye Ra, apa yang sekarang harus aku perbuat? Tolong beritahu aku!!

 

 

Hembusan angin malam kini menerpa wajahku yang terlihat begitu kacau. Kali ini Tuhan begitu menyempurnakan hari ku. Menyuruh Malaikat pembawa berita bahagia datang dipagi hari, lalu dihari yang sama, saat sore menjelang datanglah Iblis yang membuatku merasakan kehilangan segala atas apa yang ku miliki saat ini.

Hye Ra, kau berhasil menghancurkanku dengan sepersekian detik yang tadi kau ciptakan. Kali ini aku tak tau apa yang harus aku lakukan saat tau bahwa ternyata bayi dalam rahimmu bukanlah buah hatiku. Aku membencinya Hye Ra, aku sangat membencinya jika kau memperbolehkan aku untuk jujur.

Aku tersenyum kecut saat mengingat kembali ucapan Hye Ra beberapa menit lalu.

“Aku bertemu Chanyeol.. kami minum dikedai pinggir jalan..”

“Kami berakhir tidur bersama.. aku minta maaf..”

Aku tak pernah berpikir bahwa kau bisa sejahat itu.

Pikiranku kacau. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan setelah beberapa saat lalu aku bergegas pergi keluar untuk menenangkan pikiranku. Namun nyatanya, semua semakin menjadi. Pikiranku membawaku kembali pada masa lalu. Masa dimana aku bertemu dengan Hye Ra, jatuh cinta padanya, mempertahankannya, menikah dengannya, melewati masa-masa sulit kami berdua, sampai akhirnya pengakuan Hye Ra terucap, kini semuanya terasa begitu sia-sia.

Aku hanya bisa mendudukan tubuhku diatas kursi taman ditemani udara dingin yang cukup menusuk kedalam tulangku. Namun tak aku perdulikan, karna kini pikiranku hanya tertuju padamu, Hye Ra.

 

 

Hye Ra terus menerus menangis, menyesali perbuatannya yang telah berhasil membuat Sehun kecewa. Rasanya ia ingin kembali memutar waktu, menolak ajakan Chanyeol untuk minum dikedai pinggir jalan, dan lebih memilih untuk bergegas pulang.

Kini semuanya terasa hancur. Hye Ra sadar, ia lah yang telah menghancurkan segalanya. Ia menghancurkan dirinya sendiri, menghancurkan mimpinya dengan Sehun, menghancurkan harapan Sehun, dan ia juga telah berhasil menghancurkan cinta Sehun. Hanya tinggal menunggu waktu untuk semua yang telah ia hancurkan sirna, menunggu Sehun untuk memintanya pergi dari hidup pria yang telah lama ia cintai.

“Sehun!! Maafkan aku!!”isak Hye Ra yang masih terduduk ditepi ranjang seorang diri.

Sama dengan apa yang tengah Sehun rasakan, kini Hye Ra tak tau apa yang harus ia lakukan setelah kejujurannya tadi terucap dengan begitu beraninnya. Ia benci, ia membenci dirinya sendiri.

 

 

Jae Mi masih terdiam dibalik pintu kamarnya. Ia sama sekali tak tau apa yang harus ia lakukan setelah tanpa sengaja mendengar pengakuan Hye Ra terhadap Sehun yang berakhir dengan perginya Sehun entah kemana beberapa saat lalu.

Kini yang hanya dapat Jae Mi dengar adalah tangis Hye Ra yang sedari tadi terus menerus memanggil Sehun dan meminta maaf pada pria itu. Pengakuan Hye Ra beberapa saat lalu benar-benar membuat jantung Jae Mi hampir copot, apalagi Sehun, yang ia ketahui bahwa pria itu sangat menyayangi Hye Ra. Gadis ini tak dapat membayangkan perasaan Sehun yang pasti sangatlah hancur.

 

 

Waktu telah menunjukan pukul 8 pagi. Jae Mi baru saja membuka matanya saat pergerakan kecil terasa didalam perutnya. Ia sadar bahwa tadi malam ia terlelap dikursi merah yang berada tepat tak jauh dari pintu kamarnya. Mungkin itu karna ia terlalu lelah mendengar tangisan Hye Ra yang terus menerus memanggil Sehun.

Hye Ra? Sehun?

Jae Mi langsung bangkit dari kursi meski sedikit kesusahan oleh perut buncitnya. Ia segera bergegas pergi menuju kamar Hye Ra. Nihil, Jae Mi tak dapat menemukan keberadaan wanita itu. Kini Jae Mi mulai melangkahkan kakinya menuju dapur, berharap Hye Ra tengah berada disana. Namun lagi-lagi Jae Mi tak dapat menemukan Hye Ra.

“Apa dia pergi?”pikir Jae Mi.

Jae Mi menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar. Ia tau bahwa semalam Sehun sama sekali tak pulang, mungkin ia membutuhkan waktu untuk berpikir. lalu kemana perginya Hye Ra? Apa mungkin Hye Ra pergi mencari  Sehun? tanya batin Jae Mi.

Ddrrrttt.. ddrrtttt..

Lamunan Jae Mi terpecah saat menyadari ponsel dalam sakunya bergetar menandakan panggilan masuk yang harus segera ia jawab.

“Ne, yeoboseo?”

“…”

“Kenapa?”

“…”

“Apa dia baik-baik saja?”

“…”

“Aku akan segera kesana. Terimakasih paman”

Jae Mi mematung. Otaknya tak bisa berpikir meskipun semestinya ia harus segera bergegas pergi menemui seseorang yang keadaanya sedang tak baik-baik saja.

 

 

“Omma?”ucap Jae Mi saat melihat seorang wanita paruh baya tengah duduk termenung disebuah kursi tunggu lorong rumah sakit dengan mata yang begitu sembab.

“Jae Mi?”ucap sang wanita membuka tangannya menyuruh Jae Mi untuk segera duduk disampingnya.

Wanita tua ini langsung memeluk Jae Mi seraya menangis. Jae Mi masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi, semua masih terasa buram dalam pikiran Jae Mi. Bahkan ia tak mau berekspektasi tentang apa yang telah terjadi.

“Apa semuanya baik-baik saja, Omma?”tanya Jae Mi.

Tak lama terlihat seorang pria keluar dari dalam ruangan yang berada tepat dihadapan Jae Mi. Wajahnya terlihat sangat kacau. Bahkan pria ini masih menggenakan pakaian yang sama seperti tadi malam saat ia pergi dari rumah.

“Bagaimana Sehun?”tanya Nyonya Oh.

Jae Mi hanya terdiam saat Ibunda Sehun menatap anaknya yang tengah terdiam dihadapan mereka. Jae Mi benar-benar tak bisa membaca wajah Sehun yang seperti ini.

“Maafkan aku, Omma!”ucap Sehun yang langsung berlutut dihadapan Nyonya Oh.

“Sehun!!”ucap Nyonya Oh lemah dan langsung memeluk putranya ini.

Nyonya Oh menangis. Dan Jae Mi juga yakin bahwa Sehun tengah menangis dalam dekapan ibunya. Sesuatu yang buruk telah terjadi.

 

 

Hye Ra kehilangan bayi dalam rahimnya karna ia terlalu nekat meminum obat Mifepristone, obat penggugur kandungan.Ini semua ia lakukan karna Hye Ra benar-benar merasa bersalah mengandung anak yang bukan darah daging Sehun.

Menjadi alasan Hye Ra mengugurkan bayi dalam kandungannya juga berhasil membuat Sehun merasa bersalah. Terlebih lagi saat mengetahui bahwa setelah beberapa hari Hye Ra keluar dari rumah sakit, Sehun menerima surat permohonan cerai dari Hye Ra. Semuanya terasa kacau bagi Sehun. Semuanya benar-benar terasa muak bagi pria itu.

Kini yang tersisa hanya Jae Mi dengan bayi yang masih berada didalam kandungannya.

Sejak keluarnya Hye Ra dari rumah sakit, Jae Mi tak pernah lagi melihat Sehun pulang ke apartemen. Sudah hampir tiga bulan lebih pria itu tak menampakan batang hidungnya. Jae Mi tak mau ambil pusing dengan masalah yang telah terjadi antara Hye Ra dan Sehun, justru untuk kali ini ia bersyukur, bahwa dalang perpisahan Sehun dan Hye Ra bukanlah dirinya.

Ya, Jae Mi masih tetap tinggal di apartemen Sehun. Meskipun terkadang ia merasa heran pada dirinya sendiri, mengapa ia masih tetap tinggal di apartemen pria itu sementara sang pemilik sudah lama sekali tak pulang.

Jae Mi tengah terdiam disamping ranjang dengan memegang sebuah Kalender kecil ditangan kanannya,  terlihat guratan dari tinta hitam pada angka 10dibulan April. Tanpa sadar Jae Mi tersenyum saat memperhatikan tanggal tersebut.

Dokter Hyo Ra bilang, perkiraan bahwa Jae Mi akan melahirkan adalah pada tanggal 10 April. Itu artinya sekitar 3 Minggu lagi bayinya akan lahir. Jae Mi sadar bahwa belakangan ini sudah bisa merasakan kontraksi hebat pada perutnya, ini tak menutup kemungkinan bahwa memang bayi nya akan lahir pada tanggal tersebut.

 

 

Pria ini tak sadar sudah berapa lama ia tak keluar dari dalam rumah mewahnya, ia terlalu asik memikirkan masalah yang tak henti menerpanya. Ia merasa kini semuanya sudah berakhir, tak ada lagi hal yang dapat membuatnya untuk tetap hidup. Ia kehilangan bayi Hye Ra, yang meskipun ia sadari bahwa itu bukan darah dagingnya. Terlebih lagi kini Hye Ra entah pergi kemana, wanita itu tak terdengar kabarnya bagai lenyap ditelan bumi saat Sehun menerima surat permohonan cerai darinya.

Kini hidupnya hanya dipenuhi dengan meratapi apa yang telah terjadi. Memikirkan apa yang semsetinya tak ia pikirkan meskipun ia tau bahwa tak ada alat pemutar waktu yang akan kembali membawanya ke masalalu.

“Sehun?”Nyonya Oh memanggil Sehun yang kini tampaknya tengah sibuk dengan pikirannya.

Sehun terdiam. Tapi sebenarnya ia sadar bahwa Ibunya tengah berada diambang pintu ruangan ini, tengah memperhatikannya.

“Kau masih belum mau pulang?”tanya Nyonya Oh.

“Ini rumahku juga, bukan?”tanya Sehun tanpa membalikan tubuhnya untuk menghadap Nyonya Oh.

“Lalu bagaimana dengan Jae Mi dan bayinya?”

Pertanyaan Nyonya Oh benar-benar membuat Sehun mematung.

“Jika memang Omma harus kehilangan Hye Ra, Omma tak mau kehilangan Jae Mi.”terang Nyonya Oh yang berlalu pergi keluar dari dalam ruangan ini.

Sehun masih diam, ia lupa bahwa ia masih mempunyai Jae Mi dan bayinya yang sudah lama ia tinggalkan. Kini rasa bersalah kembali berkecamuk didalam dirinya, Sehun berpikir mungkin Jae Mi tengah membenci dirinya karna telah pergi seenaknya.

 

 

Belakangan ini Jae Mi benar-benar tengah menekuni hobi barunya, ia begitu senang berbelanja perlekapan bayi untuk buah hatinya nanti saat lahir. Sepatu, baju, piyama, dan barang-barang lainnya tak luput dari perhatian Jae Mi.

Sudah hampir satu jam ia berkeliling mengunjungi beberapa toko perlengkapan bayi. Membeli ini dan itu yang berhasil menyita pandangannyan sampai bayi didalam perutnya terus bergerak, memprotes sang Ibu yang belum juga mau berhenti dengan aktifitas belanjanya.

Kini Jae Mi baru saja menapakan kakinya kembali ke apartemen dengan beberapa kantung belanja ditangannya yang tak terlalu banyak. Ia mengalah pada bayinya yang sedari tadi terus menendang. Terlebih lagi kini kakinya mulai terasa pegal, ia membutuhkan waktu untuk segera istirahat.

Ia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar. Namun saat Jae Mi memasuki kamarnya, ia sedikit terdiam saat menyadari ada sesuatu yang aneh dengan suasana kamarnya. Ia tampak bingung bahwa ternyata tak ada satu pun perlengkapan bayinya yang ia taruh belakangan ini didalam kamarnya.

“Apa seseorang mengambilnya?”ucap Jae Mi yang panik seraya langsung mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya.

“Paman? Apa paman memindahkan semua perlengkapan bayi dalam kamarku?”lontar Jae Mi pada pria tua diseberang sana melalui sambungan telpon.

“…”

“Apa?”Jae Mi mengerutkan keningnya saat mendengar penjelasan dari paman Kim.

“…”

Ia langsung melangkahkan kakinya menuju sebuah kamar kosong yang tak jauh dari kamarnya sesaat setelah menutup telpon dari paman Kim. Terlihat dari jauh pintu kamar yang berwarna putih itu sedikit terbuka, Jae Mi langsung membukanya lebar saat kini ia telah berada diambang pintu. Namun kini ia hanya bisa terdiam.

Semua peralatan bayi yang telah ia kumpulkan dari beberapa bulan lalu ada disana. Semua tertata rapi seperti apa yang diinginkan Jae Mi, mulai dari pakaian bayi yang terlihat tetata dan sepatu-sepatu mungil yang berjajar rapih diatas sebuah lemari kecil.

Senyum Jae Mi terus megembang, sampai akhirnya ada sesuatu yang berhasil membuat senyumnya luntur.

Seorang pria tengah sibuk menempelkan sebuah wallstiker berbentuk awan putih disudut tembok yang tak jauh dari tempat Jae Mi berdiri.

“Kau sudah pulang?”tanyanya saat menyadari keberadaan Jae Mi yang berada diambang pintu kamar.

Sehun. Pria ini menampakan hidungnya dihadapan Jae Mi setelah hampir 3 bulan ia pergi meninggalkannya sendirian diapartemen ini.

Sehun tak terlihat berbeda bagi Jae Mi, tak ada perubahan yang Jae Mi tangkap dari Sehun, pria ini masih terlihat dingin untuk sang gadis.

Sehun berjalan menghampiri Jae Mi yang kali ini perutnya terlihat sangatlah buncit, pria ini sadar bahwa kini usia kandungan Jae Mi sudah menginjak usia sembilan bulan.

Jae Mi ia hanya terdiam saat Sehun terus berjalan kearahnya, ia ingin sekali mengumpat melihat kedatangan pria ini yang datang dan pergi seenaknya. Namun nyatanya tak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya.

Sehun terdiam menatap mata Jae Mi untuk sesaat sebelum akhirnya pria ini memeluk Jae Mi, gadis yang telah lama ia tinggalkan.

“Maafkan aku!”ucap Sehun.

Jae Mi masih terdiam, bahkan ia sama sekali tak mau membalas pelukan Sehun.

Kini Sehun melepaskan pelukannya, ia menangkup wajah Jae Mi dengan kedua tangannya, mencoba melihat keadaan Jae Mi. Mata Jae Mi memerah, ia seperti akan menangis.

“Maafkan aku Jae Mi!”ucap Sehun yang langsung mencium kening Jae Mi.

Beberapa detik kemudian Jae Mi mendorong tubuh Sehun untuk menjauh darinya, ia menatap pria itu sesaat sebelum akhirnya ia pergi kedalam kamarnya.

“Jae Mi?”panggil Sehun yang kini berusaha mengejar langkah Jae Mi.

“Jae Mi aku mohon, aku benar-benar minta maaf telah mengabaikanmu.!”

“Seharusnya kau tak usah menemui ku, lagi pula aku akan membawa perlengkapan bayiku kembali kerumah Ibu ku!”ucap Jae Mi dalam isakannya. Benar, ternyata kini wajah Jae Mi telah dipenuhi dengan air matanya.

“Tidak, Jae Mi! Aku mohon, maafkan aku!”ucap Sehun yang menarik tubuh Jae Mi kedalam pelukannya. Kini Jae Mi terasa semakin menangis dalam pelukannya, Ia tau bahwa gadis ini sangat amat kecewa atas sikapnya.

“Sekarang aku hanya memilikimu, Jae Mi. Aku mohon, beri aku kesempatan!”ucap Sehun memohon dalam dekapanya.

 

 

Satu minggu berlalu. Ternyata Jae Mi memberikan Sehun kesempatan kedua untuknya. Benar, Sehun sekarang hanya memiliki dirinya dan bayi yang ada didalamnya, Jae Mi tak mau membuat Sehun terpukul jika pria itu harus kehilangannya juga.

Kini Sehun terlihat begitu banyak berubah, ia begitu perhatian terlebih lagi belakangan ini Jae Mi sering merasakan kontraksi pada perutnya. Ya, Sehun benar-benar menjadi suami yang siaga untuk kali ini.

“Kau tak kasihan melihatnya terus berada disana?”ucap Jae Mi saat mereka baru saja selesai makan malam dan melihat Vivi yang belakangan ini terus terkurung didalam kandangnya.

Sehun terdiam. Jae Mi sadar bahwa secara tak langsung ia telah membuat Sehun teringat akan sosok Hye Ra.

Jae Mi menarik nafas sesaat. Ia berlalu pergi kedalam kamarnya meninggalkan Sehun yang tengah sibuk dengan pikirannya sendiri.

 

 

Waktu telah menunjukan pukul 8 pagi. Hari ini Sehun berniat mengajak Jae Mi untuk berjalan-jalan ditaman meskipun ia tau bahwa Jae Mi seharusnya terus berada dirumah karna kondisinya yang sebentar lagi akan melahirkan.

“Dokter Hyo melarangku untuk untuk tak terlalu kelelahan, mengapa kau malah membawaku kemari?”tanya Jae Mi saat mereka baru saja sampai diarea taman kota.

Sehun tersenyum, “Sebenarnya aku tau bahwa belakangan ini kau terus merasa tegang, khawatir akan proses persalinanmu nanti, bukan?”ucap Sehun.

Tanpa sadar senyum tipis Jae Mi terukir dibibirnya. Baiklah, ia menyadari niat baik Sehun.

“Ahh, tunggu sebentar.”ucap Sehun yang pergi meninggalkan Jae Mi. Pria itu terlihat bergegas pergi ke area parkir yang tak jauh dari tempat Jae Mi berdiri untuk mengambil sesuatu dari dalam bagasi mobilnya.

Jae Mi sedikit memicingkan matanya saat melihat Sehun membawa sesuatu ditangannya. Vivi. Sehun menggendong anjing putih itu.

Dari jauh Jae Mi manatap Sehun seolah bertanya ‘mengapa kau membawanya?’

Sehun tersenyum. Ia berjalan menghampiri lima orang anak kecil yang sedang bermain, sedikit terjadi perbincangan antara mereka. Setelah beberapa menit kemudian Sehun kembali berjalan kearahnya tanpa ada Vivi ditangannya, ia tersenyum lagi pada Jae Mi.

“Kau apakan anjingnya?”tanya Jae Mi.

“Tak enak jika aku kembalikan Anjingnya ke toko, jadi aku berikan pada mereka, kurasa mereka akan menjaganya dengan baik.”jawab Sehun seraya memandang Jae Mi.

Jae Mi tersenyum. Sehun mulai gemas melihat senyum Jae Mi yang menurutnya sangat imut karna kini wajah gadis itu terlihat sedikit chubby karna efek perut buncitnya.

Cup!!

Sehun mencium bibir Jae Mi sekilas.

 

 

Hari ini adalah hari kedua dibulan April. Malam kota Seoul masih terasa ramai dibawah sana meskipun waktu telah menunjukan pukul 11 malam. Sebagian orang tengah mengistirahatkan tubuhnya setelah beraktifitas seharian.

Namun tidak dengan Jae Mi, gadis ini tengah kesulitan untuk tidur karna sedari tadi ia terus merasakan sakit pada perut bagian bawahnya. Lagi-lagi ia harus merasakan kontraksi saat tengah malam seperti ini.

“Jae Mi?”ucap Sehun yang terbangun akibat rintihan Jae Mi yang tengah berusaha menahan sakitnya.

Terlihat Jae Mi tengah menggenggam erat seprai bantalnya dengan begitu kuat demi meluapkan rasa sakitnya. Kini peluhnya pun mulai terlihat memenuhi dahi Jae Mi, Sehun merasa sedikit khawatir melihat keadaannya.

“Kau tak apa?”

“Ahh, perutku sakit!”keluh Jae Mi.

“Apa kita harus kerumah sakit?”tanya Sehun.

Jae menggeleng seraya mengigit bibir tipisnya. Sehun membuka tangannya menyuruh Jae Mi untuk mendekat kedalam dekapannya. Kini jantung Sehun benar-benar berdebar dengan tak karuan, Ia terlalu khawatir melihat keadaan Jae Mi yang terus menahan sakit.

“Beritahu aku bila kau tak kuat lagi menahan rasa sakitnya!”ucap Sehun seraya mengelus kepala Jae Mi dengan lembut.

Tak lama Sehun bisa merasakan bahwa Jae Mi menganggukan kepalanya, menjawab ucapan yang tadi Sehun lontarkan.

Waktu telah menunjukan pukul 12.30 malam. Sehun benar-benar sudah mengantuk, Ia ingin segera terlelap. Kini ia baru sadar bahwa ternyata Jae Mi sudah terlelap lebih dulu dalam pelukannya. Syukurlah, Sehun dapat merasakan sedikit ketenangan melihat Jae Mi berhasil tertidur setelah melewati beberapa kali kontraksi pada perutnya.

 

 

Pagi ini Sehun tengah mengenakan dasinya karna sebentar lagi ia akan segera berangkat ke kantor untuk kerja. Namun keberadaan Jae Mi yang tengah memandangnya dari ambang pintu kamar berhasil membuat Sehun menghentikan aktifitasnya, Ia langsung mengarahkan pandangannya penuh pada Jae Mi.

“Kenapa?”tanya Sehun seraya berjalan menghampiri sang istri.

“Kau sudah mau berangkat?”tanya Jae Mi.

“Ya, ada apa Jae Mi?”ucap Sehun yang kini menangkup wajah Jae Mi dengan kedua tangannya.

“Aku merasa sedikit tak enak dengan perutku. Boleh aku memintamu menamaniku sehari ini saja?”terang Jae Mi seraya membalas tatapan mata Sehun.

“Jika itu maumu”jawab Sehun seraya tersenyum. Lagi-lagi pria ini gemas melihat istrinya sendiri, tanpa sadar kini Sehun membuka kedua tangannya untuk memeluk tubuh Jae Mi.

 

 

Ternyata benar, siang menjelang sore hari, Jae Mi merasakan kontraksi hebat pada perutnya sampai air ketubannya pecah. Sehun segera membawa Jae Mi pergi ke Rumah Sakit. Tepat saat waktu menunjukan pukul 15.45, Jae Mi berhasil melewati proses persalinannya dengan baik. Kini Sehun dan Jae Mi telah resmi berstatus sebagai orangtua atas kelahiran bayi mereka.

 

 

Angin sore berhasil menerpa wajah pria ini yang sejak lima menit lalu terus berdiri menatap segala sesuatu yang ada dihadapannya dengan tatapan yang sangat kosong. Ya, ia tengah berada dirooftop gedung rumah sakit. Mencoba menenangkan diri dari apa yang seharusnya ia rasakan.

Hari ini ia benar-benar menyandang status sebagai seorang Ayah. Sehun sangat bahagia, tapi nyatanya ada sesuatu yang menahan rasa bahagia Sehun muncul di permukaan.

Hye Ra. Hye Ra lah yang menjadi alasa Sehun tak sebahagia seharusnya, ia teringat akan sosok wanita yang telah lama meninggalkannya ini.

“Hye Ra.. impianku memiliki seorang bayi bersamamu malah terwujud dengan wanita lain.”keluh Sehun yang langsung menunduk pasrah.

Pria ini diam. Hatinya tengah berharap bahwa ia akan bertemu dengan Hye Ra kembali.

 

 

Wanita dengan langkahnya yang masih tertatih ini tengah berusaha untuk tetap berjalan melewati jalanan trotoar disaat waktu telah menunjukan pukul 9 malam. Ia sangat ingin mengunjungi sebuah rumah untuk bertemu dengan seseorang yang selama ini selalu ada dipikirannya.

“Aku mencintaimu, Hye Ra.”

Ia hanya tersenyum mengingat perkataan suaminya yang terus berputar dikepalanya. Bukan. Bukan namanya yang pria itu sebut. Pria itu menyebut nama istri pertamanya. Mencintai. Wanita ini tak pernah mendengar satupun kalimat cinta yang terlontar dari mulut pria itu.

Jae Mi terus berusaha melangkahkan kakinya meskipun tubuh bagian bawahnya masih terasa nyeri akibat persalinan tadi siang. Peluh kini sudah mulai membasahi wajahnya yang juga terlihat pucat. Jika saja ia memberitahu seseorang yang mau membantunya pergi kerumah tujuannya, mungkin keadaan Jae Mi tidak akan seperti ini.

Namun sayangnya ia tak mungkin memberitahukan satu orangpun tentang tujuan kemana ia akan pergi. Nyatanya, sudah berhasil pergi dari Rumah Sakit saja ia sangat bersyukur, kini ia hanya perlu benar-benar sampai tujuannya agar apa yang ada diisi kepalanya dapat tersampaikan dengan baik.

Kini Jae Mi terdiam saat dirasa ia telah sampai ditujuannya, sebuah rumah sederhana yang berada tepat dipinggiran kota Seoul. Dari luar rumah ini terlihat nyaman, mempunyai halaman depan yang cukup luas dengan penyinaran lampu malam yang baik. Jae Mi tersenyum, ia harus bersyukur untuk satu kali lagi.

Jae Mi mulai memberanikan diri untuk ngetuk pintu rumah ini yang berwarna putih. Tak lama seseorang datang membukakan pintu untuknya.

“Jae Mi?”ucap sang wanita yang terlihat kaget dengan kedatangan Jae Mi yang tiba-tiba berada didepan rumahnya ini.

Jae Mi mencoba tersenyum dengan wajah pucatnya. Kali ini ia harus mengakui bahwa ia merasa kelelahan akibat sedari tadi terus berjalan dengan keadaannya yang belum pulih.

Wanita dihadapannya ini kini tengah mengamati Jae Mi dari atas sampai bawah. Perut Jae Mi sudah tak terlihat buncit lagi, ia bisa menebak bahwa bayi Jae Mi sudah lahir kedunia.

“Kau tak mau kembali pada Sehun?”tanya Jae Mi dengan nafas yang sedikit tak teratur.

“..”Hye Ra terdiam menatap wajah Jae Mi yang sangat mengkhawatirkannya.

Tak kunjung mendengar jawaban Hye Ra, Jae Mi langsung menggenggam kedua tangan wanita dihadapannya ini.

“Baiklah, jika kau tau mau menjawab. Bolehkah aku meminta bantuanmu? Kurasa Sehun akan sedikit kesusahan menjaga bayinya, tolong temanilah dia.”ucap Jae Mi dengan susah payah karna kini nafasnya benar-benar sudah terasa pendek.

“Sehun tengah berada di Rumah Sakit. Tolong bantu aku Unnie.”

“Jae Mi!”ucap Hye Ra yang kini benar-benar khawatir melihat Jae Mi.

“Aku mohon!”Pinta Jae Mi dengan mata sayunya.

“Baiklah Jae Mi, akan aku akan mengambil mantelku terlebih dahulu. Masuklah!”ucap Hye Ra yang bergegas pergi meninggalkan Jae Mi tanpa memastikan gadis itu untuk segera masuk kedalam rumahnya.

Tak lama kemudian saat Hye Ra kembali kearah pintu rumahnya, ia hanya bisa terdiam. Terheran mencari keberadaan Jae Mi yang tak terjangkau oleh matanya.

 

 

Hye Ra tengah berusaha berlari secepat mungkin saat menyadari Jae Mi sudah tak ada disekitar rumahnya. Ia berharap bahwa gadis itu sudah kembali ke Rumah Sakit karna keadaan Jae Mi tadi terlihat sangat membuatnya khawatir.

Sesaat Hye Ra hanya terdiam saat ia berhasil menerobos masuk kedalam ruang inap Jae Mi, Ia langsung mendapati Sehun dan Nyonya Oh yang tengah menggendong seorang bayi.

“Apa semuanya baik-baik saja?”tanya Hye Ra dengan nafas yang tak teratur karna sedari tadi ia telah berlari.

Sehun tetap diam, tak menjawab pertanyaan Hye Ra.

Tak berapa lama Paman Kim masuk ke dalam ruangan ini, Ia langsung membungkuk dihadapan Sehun yang masih terdiam. “Maaf, Tuan. Kami belum juga menemukan Nona Jae Mi.”jelasnya.

“Apa maksud paman?”tanya Hye Ra mengalihkan pandangannya pada Paman Kim.

Paman Kim tak menjawab pertanyaan Hye Ra, Ia terlalu takut akan Sehun yang sepertinya tengah menahan amarahnya.

 

 

Sehun kini tengah berada didalam mobilnya. Ia tengah berusaha nyari Jae Mi seorang diri. Tanpa pria ini sadari air matanya jatuh begitu saja saat ia terus teringat akan Jae Mi.

“Tolong jaga bayiku dengan baik.”

Sehun memukul stir mobilnya dengan cukup keras. Ia membenci dirinya, Ia marah akan dirinya sendiri. Seharusnya tadi ia tetep menjaga Jae Mi setelah gadis itu melahirkan bayi mereka, bukan malah pergi begitu saja demi mencari ruang hanya untuk mengingat Hye Ra.

 

 

-The End-

 

 

Note: Taraaaa… The Wedding nya udah selesai… Yee!! *Tepuk tangan

Yang nanya Jae Mi kemana, coba tebak aja sendiri yaa tu orang pergi kemana.

Terus gimana nasib bayinya Jae Mi? Ya, sebebas kalian menebak aja ya, pasti udah ketebak ko. Sehun gak bakalan mungkin ngebuang bayinya atau dia titipin ke panti asuhan. *Soalnya dapetin anak itu susah!

 

Makasih banyak yang udah luangin waktunya untuk baca ‘The Wedding’. Makasih yang udah Like dan kasih komentar. Yaa, makasih juga buat kalian Silent reader. 😀

Sorry kalo kebanyakan typo, salah penempatan kata, titik komanya masih acak kadut, atau bahkan ceritanya mainstream. Tapi ya mau gimana lagi, ini pure dari imajinasi aku. *aku bangga akan itu. :’)

Makasih banyak dan Sorry! Sampai ketemu di FanFiction lainnya yaa.. 🙂

 

 

 

 

 

 

Iklan

9 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] [9th& 10th] The Wedding

  1. hahhh kok dikasih momen sehun jaemi si kak…kan aku respect nya sama hyera. sampek nangis waktu hyera rela gugurin kandungannya, dia rela lakuin itu walaupun dia tau gimana susahnya buat hamil cuma karna gia merasa bersalah sama sehun…pokoknya suka sama ceritanya yah walaupun endingnya agak gantung sih

  2. ka sumpah ff ny keren. tapi setiap kali ak baca adegan sehun-jaemi rasa ny pengen nagis darah kasian sama hyera ny. jadi klo jaemi pergi rasa lebih tenang.btw maaf baru komen skrng ya ka.sequell dong°√°

  3. Plisss aku baca ini bawaannya pengen nglempar hp mulu
    Cerita membolak balikin hatiku banget sumpah greget gemes sebel banget kak
    Seneng hyera balik sama sehun tapi sedih juga sama jae mi
    Butuh squel ka
    Ya ya ya ~~~~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s