[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Secangkir Espresso by l18hee

8afd41c014480903ba98b7cb047c9a79.jpg

Secangkir Espresso

―by l18hee

.

Kim Minseok | Reen | Other

Ficlet | lil!Riddle? | Romance | Teen

.

Baru kali ini Reen menemukan kopi pahit yang bisa berubah manis tiba-tiba.

.

“Jadi begini,” sebuah tarikan napas Kyungsoo lakukan untuk mengisi peparunya, “kakak bisa pulang sendiri hari ini?”

Tuh, kan. Sudah Reen duga jika telepon dari Kyungsoo sore ini pasti menyusahkan. “Kenapa tidak bilang dari tadi? Tahu begitu aku pulang naik bus saja.” Jelas sangat kesal. Bagaimana tidak? Dia sudah terlanjur senang diizinkan pulang tanpa perlu mengambil lembur. Tapi sebagian waktu berharganya malah terbuang sia-sia karena menunggu jemputan yang tak pasti.

 

“Prediksiku tentang berapa lama mengerjakan tugas sepertinya sangat meleset. Dan aku juga tak tahu kakak akan pulang lebih awal. Ada suara percakapan lain yang sampai di telinga Reen, pasti teman-teman Kyungsoo. Ah, walau kesal tetap saja Reen tak bisa berpikiran negatif jika itu berkaitan dengan Do Kyungsoo, si adik kecil nan rajin serta dianugerahi otak cemerlang dan wajah tampan. Sayang sekali jika akhir-akhirnya diberi umpatan. Kalau tampan atau pintarnya luntur, bisa-bisa Reen dituntut ke pengadilan. Walau kesal juga sih, Kyungsoo sama sekali tak meminta maaf. Awas saja kalau dia malah menghabiskan waktu untuk bermain game.

“Ya sudah. Selesaikan saja urusanmu, aku akan pulang sendiri.” Tak mau berlama-lama kesal, Reen memutuskan sambungan. Dijambaknya sedikit anak rambut yang mencuat dari ikat rendah surai kecokelatannya. Kalau begini, mood-nya untuk pulang sudah ludes―berkat bayangan penat penuh keringat dalam bus.

Tungkainya masih terayun asal, perlahan meninggalkan gedung menjulang di belakang. Berhubung cuacanya masih lumayan bagus, Reen akhirnya memutuskan untuk berjalan menyusuri pertokoan demi mampir ke kedai kopi yang―katanya―punya rasa lumayan enak. Entah enak yang bagaimana, Reen tak ambil pusing. Lagipula ukuran enak setiap orang memang berbeda, bukan? Kali saja setelah ia mencoba salah satu kopi yang ditawarkan, lidahnya malah menolak cocok.

Ah, sudah, sudah, pikirannya terlalu jauh melayang jauh, sepertinya.

Kala kedai incaran sudah hinggap di depan mata, sempat Reen bergumam ragu, “Kalau tidak seenak yang dikatakan, sebaiknya besok-besok aku beli kopi instan.” Hak tingginya menghasilkan suara detak teratur begitu pintu kedai terbuka. Obsidiannya meneliti setiap sudut kedai yang dapat dijamah pandangan. Terlihat beberapa bekas cangkir di salah satu meja baru saja dibersihkan oleh seorang lelaki bercelemek cokelat.

“Oh, selamat datang.” Peka terhadap pengunjung yang baru tiba, lelaki tersebut menoleh dan menundukkan badan sekilas. Seraya memberi senyum tipis, suaranya terdengar lagi, “Silakan pesan di meja kasir, nona.” Parasnya rupawan dengan tinggi menjulang. Rambut legamnya terbebat beannie kuning cerah.

Memberi kesan menarik. Pantas saja sekumpulan gadis di salah satu meja saling berbisik di tengah curi-curi lirik.

Balasan yang Reen beri cuma lengkung kurva seadanya, sebelum akhirnya ia beralih ke meja kasir untuk mendapati lelaki lain di sana. Celemeknya cokelat juga, bedanya lelaki yang ini tak membiarkan helai rambutnya tertutup apa pun. Karena posisi membelakangi yang si lelaki pasang, Reen mengumpulkan tenaganya lagi untuk bicara―yang mana sedang malas ia lakukan.

“Permisi. Aku ingin satu―”

Yang pertama Reen temukan tatkala sang lelaki berbalik adalah sepasang manik bening terkungkung lensa kacamata. Sangat familier.

“Oh,” sepertinya lelaki tersebut sedang dalam mode terkejut. Selain dari nadanya yang meninggi, juga dapat dilihat dari bagaimana matanya membelalak dengan mulut sedikit terbuka, tanpa senyum sama sekali.

Seribu persen Reen ragu. Kendati begitu ia langsung sadar bahwa hening yang dibiarkan berlarut-larut hasilnya percuma. “Double espresso.”

“Ya?” Lelaki di depannya seolah tersadar, tepat saat Reen memutus kontak mata untuk beralih sebentar ke papan nama―berdoa semoga ada keajaiban sebaris nama asing tertera di sana. Beribu sayang, doanya tak terkabul.

Kim Min Seok.

Nama yang membuat degub jantungnya makin menderu ada di sana.

Double espresso. Aku pesan itu.”

Yah, harusnya memang Reen langsung pulang. Karena mengulang kalimat barusan saja dia enggan, apalagi mengulang ingatan manis bersama mantan.

.

.

.

Kalau saja bisa memilih, Reen mungkin akan langsung melangkah keluar kedai saat Minseok menempatkan diri tepat di seberang mejanya. Double espresso yang tersaji rasanya ingin ia habiskan sekali teguk jika Minseok tak kunjung enyah dari sana. Bukannya tak suka atau bagaimana, Reen hanya belum punya persiapan apa-apa bertemu lelaki tersebut.

“Tidak diminum?” Suara Minseok biasa saja. Lebih-lebih maniknya yang melayang tatap santai. Inginnya Reen mengumpat karena paras yang tersaji masih sama memesonanya, ah, bahkan kadarnya bertambah.

“Oh? Iya.” Begitu menyeruput kopinya, Reen mati-matian menahan ekspresi agar tetap terlihat biasa. Sialan, refleksnya memesan double espresso sama sekali tak berimbas baik. Sialannya lagi, Minseok malah menahan tawa seolah tahu apa yang tengah Reen tutup-tutupi sekarang. Andai saja lidah Reen sampai untuk berkata senyum si lelaki kepalang manis.

“Kalau tidak kuat pahit, kenapa memesan double espresso?” Mendengar tanya ini, Reen diam saja, lebih suka memutar-mutar jari di atas meja.

“Kaget, tidak?” Kedua kali sebuah tanya mencuat dari katup bibir Minseok, pun masih diperjelas, “Bertemu dengan mantan kekasih setelah sekian lama. Kaget, tidak?”

 

Tolol, bagian mana yang tidak membuat kaget? Rasanya Reen ingin berseru keras, tapi itu ide buruk.

“Ya begitu, deh.” Usai mengedik bahu, Reen mengembuskan napas diam-diam―setidaknya mencoba lebih rileks. Dibalasnya tatapan yang tersuguh, setingkat lebih percaya diri ketimbang sebelumnya, “Bagaimana kabarmu? Sudah lama di sini?”

Ada jeda yang Minseok gunakan untuk menatap dalam, “Kabarku baik. Dan aku baru bekerja di sini sekitar sebulan.”

“Oh.”

Tak ingin konversasi berakhir, Minseok menutur lagi, “Kenapa baru mampir? Padahal teman-temanmu sering kemari.”

“Ya?” Rasanya bodoh karena terlalu gampang terkejut. Cepat-cepat Reen menurunkan alis terangkatnya yang pasti terlihat konyol. Ah, kenapa jadi canggung begini? “Um, baru sempat.”

“Padahal aku menunggu, lho.” Betapa Reen benci saat Minseok tetap dalam mode tenangnya. Apa hanya dia yang tengah gugup di sini? Apa sang lelaki tidak merasa aneh atau bagaimana di perutnya? Sial memang, lelaki memang kadang mengesalkan.

“Kau tidak mengabariku.” Reen cukup mampu menciptakan senyum di sudut bibir Minseok. Si gadis tak habis pikir. Kenapa setelah sekian lama mereka putus dan saling melupakan kenangan masing-masing, kini semuanya seakan buyar? Masa-masa manis memabukkan mulai hinggap di otak, memeluk paksa ingatan yang dengan susah payah Reen buang. Jika setelah ini perasaannya mulai menggebu lagi, siapa yang harus disalahkan? Bos yang memberi izin pulang lebih awal? Kyungsoo yang tidak sempat menjemput? Kakinya yang melangkah menuju kedai kopi begitu saja? Bah, mengesalkan.

“Salahku yang ingin membuat kejutan,” ucapan Minseok mendepak lamunan si gadis. Menarik paksa kesadaran logika kembali hadir di antara mereka.

“Terima kasih. Aku cukup terkejut.”

Lalu Minseok tertawa kecil sembari mengangguk-angguk (yang parahnya terlihat lucu di mata Reen). “Sama-sama,” leleki itu tersenyum dan mengeluarkan kupon dari celemeknya, “Omong-omong, aku masih menyimpan kupon diskon untuk mampir ke sini.” Diulungkannya setumpuk kupon di samping kopi pesanan Reen. Entah salah atau bagaimana, Reen bisa dengan jelas memperkirakan sebanyak apa kupon yang disuguh. Kisaran 20 atau 25 kupon. Dasar tidak waras.

“Hanya bisa dipakai setiap sekali kunjungan.”

“Terlalu banyak.” Masa Reen harus bolak-balik mampir sampai sebanyak itu? Kepalang sering bertemu mantan kekasih bukan hal yang bagus untuk hati, info saja.

“Bukan masalah,” sang lelaki mengedik, “tambahan, kupon itu cuma untuk satu orang.” Kali ini Reen memicingkan mata, membuat Minseok melanjutkan kata, “Hadiah buat mantan kekasihku. Apa itu hal yang salah?”

Reen super sebal karena jantungnya bertalu tak karuan, “Terlalu banyak, Kim Minseok.”

Apa yang Minseok tunggu akhirnya hinggap di telinganya. Rasanya ia ingin tertawa bahagia sampai kaku mengingat begitu rindunya dia pada panggilan yang keluar dari mulut si gadis. Kalau bisa, sih, langsung peluk dan cium sekarang juga. Tapi bukan pilihan yang bagus sama sekali, bukan? Minseok belum sepenuhnya gila.

“Kalau begitu akan kuberi satu kupon di setiap kunjunganmu.”

“Konyol.” Yang bisa Reen lakukan untuk menutupi gugup setengah bahagianya hanya dengan menyeruput sedikit si kopi pahit. Bersamaan dengan itu, suara Minseok perlahan terbang untuk hinggap di pendengarannya.

“Yah, siapa tahu akan ada yang mau menciptakan manis yang baru dengan orang masa lalu, kan?”

Reen rasa, mendadak kopinya berubah manis seketika. Kini dia bisa mengira-ngira alasan Minseok dapat mengenali beberapa kawan kantornya.

.

.

.

.end

Eyak, bikin kopi-kopian lagi. Nida mah sukanya gitu, yang pait-pait, mentang-mentang idupnya udah pait/GAGITU/ /tabok/

Jadi, tebak-tebakan mudahnya adalah … apa maksud kalimat terakhir? Ah, pasti gampang wkwk Aku mah gak niat banget bikin riddle /emang gak niat kali/ /kayang/ Iya gak niat banget aku mah wkwk Buktinya jawabannya di bawah ini habis a/n /kurangajar kan yak :’v miyane.

Udah gitu aja.

SELAMAT ULANG TAHUN KIM MINSEOK

YUHUU~ JAN LUPA MAKAN2 YAK, ENTAR DATE BARENG (nanti ceritanya kencan jamaah para OC ini mah wkwk)

/nid/

Udah gitu aja (2).

.nida



Jadi gini wkwk. Ada dialog Minseok yang isinya nyinggung masalah temen Reen. Padahal tau sendiri Minseok baru ketemu Reen secara face to face itu sore ini (di cerita). Nha, bisa diasumsikan kalok Minseok emang udah ngincer kedai itu buat kerja, sekaligus deket sama Reen. Bahkan sampe tau temennya Reen lho wkwk Jangan-jangan malah kayak saiko dia/GAA/ Lha, kalok masalah kaget pas momen ketemu ya itu tergantung Minseoknya juga sih sengaja atau cuma akting biar Reen gak tau (ini apa-apaan). Tapi pada akhirnya Minseok ngode-ngode juga tuh wahaha.

Kalok di posisi Reen samar-samar ketahuan juga kalok Reen-nya sendiri gak mau mengakhiri pertemuan itu cepet-cepet. Ya bisa aja dia langsung pergi tanpa peduli apa pikiran Minseok, toh mereka udah putus. Tapi nyatanya Reen malah ngeladeni obrolan Minseok, walau dia tau ada kenangan yang mulai muncul lagi. Yah, pada akhirnya bisa disimpulkan sendiri yak mereka emang saling kangen atau sejenisnya, eyak wkwk :3



Iklan

4 pemikiran pada “[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Secangkir Espresso by l18hee

  1. Halo kangen dirimu shayyyy…. lupa nggak sama aku? Ahehehehehe…. aku baca kok kak nid. Baca sampe akhir kok. Ciye hati reen jumpalitan… 💃💃💃

  2. WAAAAKKK WAAAAKKK..
    DUA KALI REEN UMIN DIBIKININ KOPI KOPIAN WAAAAAKKK..
    SEBAGAI KOPI ADDICT YANG LAGI GABOLE MINUM KOPI, AKU BAHAGIAAAAA
    WAAAAKKKK..
    INI BETEWE CAPSLOCKNYA JEBOL, BODO AMAT AKU BAHAGIAAAA
    WAAAAAAAKKKK..

    IH TAPI TAPI AKU GA MAKSUD SAMA KALIMAT TERAKHIR, MUNGKIN KARENA AKU SIBUK JUMPALITAN SI MINSOK TEH JADI MANTAN SONGONG SONGONG PURAPURA GA PEDULI TAPI PEDULI KAYA YG KITA BAHAS DI CHAT WAAAAAKKKKK..

    /udah sadar/
    artinya si Reen ini emang diincer sendiri pan sama Umin? Bukan pertemuan mereka ini direncanain sama temennya Reen? *ini beneran bingung wkwkwk

  3. Nyimak interaksi mrk ☺ seolah bs ikut ngrasain manis dr double espresso bwtn umin ☕ ‘tmn’ yg di mksd tu, runa kah? Bete emang udah minta jmpt ade trus dy lbh mentingin urusan’ny/batal ngjmpt 😓 /balada ga bs ngendarain mtr 😢 untunglah skrg udah jmn ojek online 😁 ㅋㅋㅋㅋㅋ
    Mao dong ikut kencan berjamaah 😍 /biar dpt pahala’ny lbh bnyk ya kan 😄 hahah..
    Prnh bc ff nida ttg ☕ starring by 우리 사랑하는 세훈아 itu terkait dg ‘mantan’ jg, emang co2k ya menga-asosiasi-kan pht’ny kopi dg kenagan brsm mantan 😞 but ☕ ga friendly in my stomach 😟 I prefer something sweet 😊 ky.. 세훈 bronis kesayangan 누나 😍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s