[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HONGDAE (3) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

MELODRAMA in Hongdae   ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO`s Xiumin

Special appearance EXO’s Baekhyun, D.O. & anneandreas`s OC Reen

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH ft. anneandreas

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Xiumin of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Jung-gu (2) [Kai]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Katakan padaku apa maksudmu memperlakukan wanitaku seolah ia adalah sampah.”

Kyungsoo, tengah menyiapkan diri untuk menyabung nyawa sekali lagi dengan seorang pria asing saat didengarnya kalimat itu mengawali konversasi. Dari apa yang sekarang Kyungsoo dengar, pertanyaan pria itu bukan ingin menghakimi, atau menantangnya, melainkan sebuah kalimat penuh kemarahan karena merasa bahwa kepunyaannya telah diperlukan dengan tidak wajar.

“Dia berusaha membunuhku dan rekanku.” Kyungsoo berucap.

“Dia? Wanita selemah itu?”

Lemah? Kyungsoo ingin tergelak. Tidakkah pria di hadapannya tahu bagaimana tiap kata yang wanita itu luncurkan adalah senjata cukup mematikan yang bisa saja menjebak pendengarnya?

“Aku tidak tahu apa yang dia sembunyikan di balik setelan gelap itu. Dan aku yakin kau akan lebih marah lagi jika aku menyentuhnya, bukan? Mengikatnya seperti itu adalah cara yang lebih baik.”

Minseok mendengus cukup keras. Penuturan rival di hadapannya sudah jelas tidak masuk akal sama sekali.

“Lalu mengapa dia datang ke sini bersamamu?”

“Apa kau ingin aku datang bersama rekanku saja sementara wanitamu meregang nyawa di Hongdae?” tatapan Minseok sontak membulat saat mendengar kata Hongdae tercetus dari bibir pria di depannya.

Sudah jelas, dua orang ini lah yang Reen temui sampai berujung pada hilangnya wanita itu selama beberapa jam. Dan sekarang, tentu Minseok harus tahu lebih banyak lagi.

“Siapa kau?”

Kyungsoo, menahan senyumnya saat pertanyaan itu terlontar. Konyol memang, baru menanyakan identitas seperti itu saat perdebatan mereka sudah berjalan cukup jauh.

“Aku hanya seorang pengelana, yang hendak pergi ke Songpa-gu untuk mempertemukan rekanku dengan saudaranya. Ya, memang aku mengenal Alessa Cho, tapi gadis yang datang bersamaku tidak ada hubungannya dengan masalahmu, atau masalahku dengan putri dari Tuan Cho.”

Oh, tentu Minseok juga tidak mau ambil pusing dengan urusan pribadi bosnya itu. Cukuplah Minseok kelimpungan sendiri lantaran masalahnya, ia adalah seorang yang begitu enggan untuk ikut campur dalam masalah orang lain.

“Mengapa kau melibatkan wanitaku?” tanya Minseok.

“Karena aku bukan seorang yang senang melihat kematian orang lain. Gadis yang datang bersamaku juga begitu. Dia bahkan mengobati luka yang secara ‘tidak sengaja’ kuciptakan di kulit wanitamu. Kuyakini, selain luka memar karena ikatanku, wanitamu tidak merasakan sakit di mana pun.”

Konyol. Oh Tuhan. Minseok rasanya sekarang ingin tertawa. Pasalnya, konversasi kelewat tenang yang sekarang terjadi antara dirinya dan Kyungsoo adalah hal yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Sebenarnya, Minseok sendiri sudah siap dengan revolvernya yang tersembunyi di punggung. Tapi melihat bagaimana pria di hadapannya bisa bicara dengan begitu tenang, dia yakin bahwa pria ini juga bukan sembarang orang. Apalagi pria ini mengenal seorang Alessa Cho.

Tidak, Minseok tidak ingin ikut campur dalam hubungan pribadi orang lain. Satu-satunya prioritas bagi Minseok hanyalah keselamatan Reen saja.

“Kalau begitu lepaskan wanitaku.”

“Baik, akan kulepaskan asal kita sepakat untuk saling bekerjasama.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Minseok tidak sadarkan diri. Kaki kanan pria itu bahkan terlihat lebih buruk lagi keadaannya. Well, Reen ingat benar bagaimana jelasnya bunyi retakan tulang yang tadi ia dengar kala sebongkah batu terjatuh tepat di atas kaki Minseok saat dia menjerit ketakutan.

Berlarian panik, Reen segera mencari pertolongan, dan satu-satunya pertolongan yang ada hanyalah Kyungsoo dan gadis itu, Jia-yi.

Terhitung, sudah dua jam berlalu sejak Minseok terjatuh. Menurut Jia-yi, pria itu hanya mengalami shock karena tulang keringnya patah, itu saja. Tapi Jia-yi tidak bisa meyakini pemikirannya, sebab Reen katakan dia sempat melihat Minseok terbelalak selama beberapa sekon sebelum akhirnya terpejam.

“Bisa jadi gegar otak ringan, atau lebih.” vokal Jia-yi terdengar mendominasi.

Ugh, Reen sekarang memejamkan matanya, lantaran membayangkan hal-hal buruk macam apa yang akan terjadi pada Minseok jika saja dia tidak terbangun.

“Wah, awalnya kupikir kita bisa bekerjasama untuk sampai ke Songpa-gu. Kupikir, sekarang kau harus membawanya ke rumah sakit terdekat.” ucap Kyungsoo.

Terdengar isakan pelan keluar dari bibir Reen, ia kemudian menggeleng.

“Tidak bisa. Bosku pasti sudah memasang pelacak lokasi di masing-masing mobilnya. Dia pikir, mobil yang kau bawa aku lah yang mengendarainya. Bosku juga pasti berpikir jika aku dan Minseok telah bertemu di tempat ini.

“Jika mobil Minseok kubawa ke rumah sakit, sedangkan mobilku kalian bawa ke tempat lain, mereka pasti akan curiga. Aku tidak yakin, tapi kupikir melakukan perjalanan dengan terpisah hanya akan membahayakan nyawa saja.

“Bosku bukan orang sembarangan. Jika dia curiga aku dan Minseok berkhianat, dia mungkin bisa membunuh kami berdua.”

Penuturan Reen sekarang membuat Jia-yi dan Kyungsoo sama-sama menghela nafas panjang. Benar juga pendapat wanita itu. perjalanannya menuju Namdaemun bisa saja terlihat wajar karena dia pada akhirnya bertemu Minseok.

Tapi perjalanan ke dua tempat yang berbeda arah? Membayangkannya saja Jia-yi sudah bisa berspekulasi tentang hal-hal buruk sekarang. Seperti mobil mereka yang tiba-tiba saja meledak, atau apa.

“Terakhir kali kulihat, bahan bakar mobilku sudah hampir habis. Mungkin lebih baik jika kita melakukan perjalanan dengan mobil Minseok saja. Aku akan mengemudi, kuturunkan kalian di Songpa-gu setelah itu aku akan membawa Minseok ke rumah sakit di jalur yang sama.”

“Kau mungkin akan terlam—”

“—Aku baik-baik saja.”

“Minseok!” pekikan Reen terdengar lantang, pembicaraan mereka agaknya berlangsung kelewat serius sampai sadarnya Minseok pun tidak mereka sadari.

Pria itu, tersenyum tipis, dan berkata. “Aku baik-baik saja, Reen-ah. Kita lakukan sesuai rencanamu ta—akh.” Minseok baru saja akan menggerakkan tungkainya saat ia sadar bahwa indera penggeraknya itu tidak lagi berfungsi dengan maksimal.

“Kau tidak bisa mengemudi, Minseok.” Reen menjelaskan.

“Dia benar. Tulang keringmu… patah, kurasa. Aku tidak bisa memastikannya tapi melihat bagaimana memar separah itu dalam waktu dua jam, aku tidak bisa menjamin seberapa parah luka di dalam sana.”

Minseok memperhatikan tungkainya, dan lantas menghembuskan nafas dengan kasar.

“Sialan!” umpat pria itu membuat Reen mengalihkan pandang, sadar benar bahwa terlukanya Minseok sekarang juga ada sangkut pautnya dengan keteledoran Reen tadi.

“Maaf, Minseok.” Reen berucap.

“Bukan salahmu, Reen-ah. Tempat ini yang salah. Negara ini yang bersalah. Berapa lama aku sudah tidak sadarkan diri? Kita tidak bisa mengulur waktu terlalu lama. Orang-orang di tempatku bekerja bukanlah orang bodoh, jadi kita sebaiknya terus bergerak.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Keputusan telah diambil. Mereka akan menaiki mobil Minseok, sementara mobil Reen ditinggalkan di sana sebagai barang rongsokan. Sempat Jia-yi terkejut saat Reen sibuk mengangkut persenjataan yang tersembunyi di bagasi mobil yang mereka kendarai selama berjam-jam itu.

Pikirnya, sudah jelas bahwa tadinya bila usaha Kyungsoo gagal untuk merobohkan bodyguard yang menghadang, mungkin mereka harus berhadapan dengan senjata-senjata ini. Well, membayangkannya saja sudah membuat Jia-yi bergidik ngeri.

Bertahan hidup dengan berlarian menghindari bumi yang mengamuk jauh lebih terdengar masuk akal dibandingkan berusaha bertahan hidup dengan berlarian menghindari peluru.

“Kita membutuhkan itu?” tanya Jia-yi tanpa sadar.

“Tentu saja. Aku tidak tahu apa yang akan kita hadapi dalam beberapa jam ke depan. Dan aku butuh persiapan. Minseok tidak lagi bisa kuandalkan untuk melindungiku, jadi sebisa mungkin aku harus bersenjata supaya bisa menyelamatkan diri.” penuturan Reen sekarang membuat Jia-yi mengangguk-angguk paham.

“Bisa kau bantu pria itu membawanya? Dia mungkin terlihat sebagai petarung yang kuat tapi membawa senjata laras panjang saja sudah merepotkannya.” Reen berkata, mengedikkan dagunya ke arah Kyungsoo yang tampak kepayahan membawa empat buah senjata laras panjang di lengan kiri sementara lengan kanannya membawa boks berisi amunisi.

Hey, Kyungsoo! Biar kubantu!” Jia-yi berucap, gadis itu melangkah cepat menghampiri Kyungsoo, membuat Reen memperhatikannya dalam diam.

Pikir Reen, mereka sekarang mungkin terlihat sebagai sekelompok kecil keluarga yang berusaha menyelamatkan diri padahal tidak, mereka sama sekali tidak saling mengenal.

Akhirnya, Reen menghembuskan nafas panjang. Ia lemparkan pandang ke jalanan hancur yang menyambut di depan sana sementara pandangnya kemudian bersarang pada kap depan mobil Minseok yang terbuka.

“Apa yang kau perhatikan, Reen-ah?” pertanyaan Minseok terdengar.

Ya, hampir saja Reen lupa pada eksistensi Minseok yang duduk dengan setia di kursi penumpang dengan kaki kanan terbalut papan dan perban—usaha Jia-yi untuk tidak memperburuk keadaan pria itu tentu saja.

“Tidak ada. Aku hanya membayangkan rute macam apa yang menyambut kita di luar sana, Minseok-ah.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Mengapa kau bersikeras ingin mengemudi?” sebuah tanya Kyungsoo utarakan dengan penuh protes, saat ia sadar bahwa Reen tidak memberinya kesempatan untuk menguasai medan sementara pria bermarga Do itu menaruh curiga.

“Kau tidak tahu rute mematikan apa yang akan kita lewati, Kyungsoo-ssi. Sedikit saja salah langkah, kita bisa mengaktifkan bom itu secara tidak langsung.” Reen menjelaskan.

“Apa maksudmu?” tanya Jia-yi, gadis itu duduk di kursi depan—enggan duduk di belakang bersama Minseok karena dipikirnya berada di dekat Minseok akan mengancam nyawa.

“Elektromagnetik. Kontak elektromagnetik bisa menggerakkan kabel fiber di dalam bom itu. Kudengar, bom itu diaktifkan dengan sistem bom bunuh diri. Sebuah kendaraan dengan fiber khusus akan lewat dan berdiam di dekat area dimana ada dua atau tiga bom aktif di sana kemudian bam!”

“Tapi mobil ini bukan mobil yang sama, bukan?” tanya Jia-yi lagi.

“Memang tidak. Tapi kita membawa banyak amunisi, dan mobil ini juga terlihat begitu mencolok sebagai mobil dari pekerjaan yang berbeda—kalian tahu maksudku, bukan?—bagaimana jika mereka ada di area-area tersebut dan menyadari keberadaan kita?

“Sudah kukatakan, aku tak mau membuat masalah lain di atas masalah yang sudah ada. Meskipun aku dan Minseok tidak ada kaitannya dengan bom ini, tapi orang-orang di atas sana akan saling mencurigai.

“Siapa yang bekerja sama dengan siapa, dan lain sebagainya. Cara teraman adalah menghindari semua resiko untuk dicurigai. Dan aku sudah hafal rute itu di dalam otakku. Ya, maaf Kyungsoo-ssi, tapi kau ketinggalan cerita ini dan aku enggan mengulangnya.”

Reen menjelaskan—wanita itu tentu memperhatikan ekspresi Kyungsoo dari spion depan—mengingat Kyungsoo sekarang memasang ekspresi curiga pada Jia-yi, sebelum akhirnya penuturan dari Reen membuatnya kembali memasang raut datar.

“Ada tiga di Hongdae, tiga di Namdaemun… aku tidak ingat di mana yang lain tapi sepanjang perjalanan kita menuju Songpa-gu, kita akan kembali melewati Hongdae. Karena sudah satu hari berlalu, aku yakin ketiga bom itu sudah meledak di sana.”

“Apa semua bomnya diatur dengan waktu?” tanya Jia-yi.

“Ya, seperti bayi yang tertidur. Jika salah satunya terbangun dan menangis, yang lain akan ikut terganggu dan ikut terbangun—bahkan mungkin, menangis juga.”

“Ah…”

Minseok sendiri berdiam. Ia alihkan pandangan ke luar jendela lantaran pembicaraan macam ini sudah kelewat sering ia dengar. Bahkan, jika Reen tidak ingat di mana rute lain selain Hongdae dan Namdaemun, Minseok juga tahu kalau di Songpa-gu yang mereka datangi, ada dua bom yang masih terlelap.

Well, Minseok tentu tak mau repot-repot membicarakannya pada siapapun. Dia lebih senang menyimpannya, menjadikan informasinya sebagai kejutan yang benar-benar terjadi di saat sudah waktunya.

“Reen, ada seseorang di sana.” Minseok akhirnya berucap saat netranya menangkap pemandangan yang janggal.

Ada seseorang berpakaian serba hitam, tampak menatap ke kiri dan kanan sementara dirinya bersandar di depan kap mobil berwarna senada.

PIP!

Belum sempat Kyungsoo maupun Jia-yi—bahkan Reen—melempar pandang, perhatian mereka sudah dialihkan oleh pekikan Reen.

“Sial!” tiba-tiba saja wanita itu mengumpat.

“Ada apa?” Jia-yi berucap khawatir.

“Berpeganganlah, kalian semua. Rupanya, masih ada satu bom di Hongdae yang belum meleda—”

BLAR! BLAR!

Belum selesai Reen dengan ucapannya, dari radius lima puluh meter di depan mereka sekarang, bumi tiba-tiba saja terbelah.dan menghempaskan benda-benda di atas permukaannya ke udara.

Ledakan tadi bukanlah ledakan bom, melainkan ledakan karena terbakarnya dua buah mobil yang sekarang menjadi bola api di udara.

“Pegangan!” titah Reen sementara dia mulai memainkan gas mobilnya dengan gila-gilaan.

Benar saja, hal yang luar biasa mengerikan kemudian terjadi. Untuk ke sekian kalinya, Jia-yi kembali mendapati dirinya menyabung nyawa di tengah kehancuran bumi.

Ketiga manusia yang berada dalam kemudi Reen itu berpegangan erat pada benda terdekat yang bisa mereka gapai di dalam mobil, sementara Reen tampak kesulitan dengan kemudi yang ia pegang. Reen tampak panik saat ia tak mampu memegang stir dengan baik, terlebih getaran akibat terbakarnya dua mobil tidak jauh di depan mereka tadi membuat laju mobil mereka menjadi tak terkendali.

Mobil yang mereka tumpangi semakin bergoncang hebat, apalagi ternyata Reen tidak memutar stir mobilnya namun justru menekan pedal gas kuat-kuat bermaksud melewati kobaran api tidak jauh di depan mereka.

Kyungsoo segera memekik, “Hey apa yang kau lakukan?”

“Kita harus ke Songpa-gu, ‘kan? Sepertinya kobaran itu bisa kita lewati.” Reen berusaha menjawab dengan tenang, namun tentu saja nada suaranya bergetar dan matanya tak lepas dari kobaran api yang sudah semakin mendekat itu.

Jia-yi yang berada di kursi penumpang depan memekik saat mobil mereka semakin melaju kencang ke arah kobaran api, sementara Minseok yang duduk di kursi belakang tampak sudah pasrah dengan keputusan yang di ambil Reen.

Reen memekik tertahan dan berusaha menekan pedal gasnya dengan konsisten saat kap depan mobil mereka mulai dilalap masuk ke dalam kobaran api itu. Kobaran api itu memang tidak terlalu besar—persis seperti prediksi Reen—namun tetap saja suhunya terlalu panas untuk Reen tetap konsisten menginjak pedal gas dan mempertahankan stir nya lurus.

Di akhir kekuatannya, Reen akhirnya membanting stirnya ke arah kanan hingga mobil mereka terpelanting keluar dari kobaran api itu tapi—sialnya, menabrak puing-puing bangunan besar yang sudah ambruk.

Akh!” Jia-yi memejamkan matanya saat ia rasakan tubuhnya berbenturan cukup keras dengan benda tumpul. Gadis itu yakin, dia mengenakan seatbelt dengan baik, tapi mengapa tubuhnya sekarang terasa seolah melayang di dalam mobil dan terhempas ke sana kemari?

Nyatanya, mobil mereka memang berguling beberapa kali di atas puing-puing itu hingga akhirnya mendarat persis di samping sink-hole yang entah baru tercipta akibat ledakan ini atau sudah ada sebelumnya.

Reen membuka matanya pelan, sekujur tubuhnya berlumuran darah dan merasakan sakit yang teramat sangat, pun perutnya terasa mual. Ia menoleh pelan ke kursi samping kemudi, tempat Jia-yi duduk, gadis itu tampak memejamkan mata. Kondisinya berlumur darah juga, tidak jauh berbeda dengan kondiri Reen. Reen tidak bisa menerka apakah gadis itu masih bernapas atau tidak.

Kemudian Reen berusaha keras menoleh ke belakang, ke tempat dua orang laki-laki sebelumnya duduk di sana tanpa seatbelt. Keadaan keduanya terlihat mengenaskan, terlebih Kyungsoo. Reen sempat melihat bagaimana laki-laki itu sempat mengejang sebentar kemudian diam tak bergerak, pecahan kaca mobil yang tertancap di bagian belakang kepalanya mungkin penyebab darah bersimbah ruah dari kepala lelaki itu.

Sedangkan keadaan Minseok tak jauh berbeda, ia terbaring terlungkup dengan wajah sangat kotor dan dahi mengeluarkan darah.

Reen menghela napas panjang dan berat akibat dadanya terasa sesak, namun ketika ia mencoba menoleh lagi ke arah Minseok, ia melihat laki-laki itu membuka matanya pelan. “Reen-ah…” panggilnya terbata.

Reen menegang mendengar panggilan lirih itu sementara kepalanya sendiri semakin pusing akibat terlalu banyak bergerak. “Minseo—”

“Aku… tahu… ini… bagian dari… rencanamu… ‘kan…?” Minseok memotong ucapan Reen.

Reen berusaha menoleh lagi agar matanya dapat menjangkau Minseok, “Maafkan—aku Minseok-ah, Tuan memintaku untuk melenyapkan semua orang yang berusaha menghentikan rencana ini, termasuk kau…” jawab Reen lirih kemudian mengernyit tertahan, rasa sakit di kepalanya benar-benar terasa menyiksa.

Minseok hanya membalasnya dengan senyum dan tatapan lembutnya sempat beradu sekali dengan mata Reen sebelum akhirnya laki-laki itu terpejam. Dada Reen terasa sesak namun melihat keadaan mereka saat ini, Reen rasa ia telah melakukan pekerjaannya dengan benar. Ketika sakit kepala itu akhirnya sampai ke puncaknya, Reen memuntahkan cairan darah dari mulutnya dan pandangannya mulai kabur.

Apakah ini akhir bagi kehidupan Reen?

Tidak. Tuhan tidak menuliskan takdirnya seburuk itu. Setidaknya, Tuhan kirimkan seseorang untuk menyaksikan bagaimana malaikat pencabut nyawa tengah bertugas.

Ah… bicara tentang malaikat pencabut nyawa, penampilan seseorang yang sekarang menghampiri mobil ringsek mereka juga tampak serupa dengan seorang malaikat pencabut nyawa.

“Tsk, tsk. Kecelakaan konyol macam apa ini? Aku tidak tahu ada pengemudi yang begitu buruk.” vokal seorang pria terdengar, cukup keras ucapannya hingga membuat Reen—yang telah menghitung mundur waktu terakhirnya hidup—memaksakan diri untuk membuka kedua kelopak matanya dan berusaha mengenali siapa gerangan yang datang.

“K-Kau…”

Pria itu, menyunggingkan sebuah senyum kecil sebelum tangannya bergerak membuka paksa pintu penumpang—yang letaknya berlawanan dengan kedudukan Reen sekarang. Sayang, usahanya justru membuat kedudukan mobil ringsek tersebut menjadi tidak imbang.

Oops. Aku tidak bermaksud menjatuhkan kalian ke dalam sana.”

Baru saja, ia menyelipkan sebuah tawa muak lantaran melihat dua orang mayat di kursi belakang, ia alihkan pandangan ke bagian depan mobil. Dilihatnya, seorang wanita yang tubuhnya begitu menjorok ke arah sinkhole di tepi sana. Senyum miris tanpa sadar muncul di wajah pria itu saat maniknya bersarang pada tubuh tidak sadarkan diri wanita satunya di kursi depan.

“Kita bertemu lagi… apa ini sebuah takdir, Nona?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Jia-yi yakin, dia sudah mati. Sungguh. Rasa sakit kelewat luar biasa yang ia rasakan ketika seluruh tubuhnya serasa dihempas ke sana kemari dan kemudian berujung pada sebuah kehampaan dan kepasrahan, sudah Jia-yi yakini akan berujung pada kematian.

Tapi mengapa sekarang ia masih bisa bernafas? Tidak, tunggu. Jia-yi bahkan bisa merasakan tungkainya. Ia sadar kalau sekarang wajahnya tengah bersentuhan dengan permukaan lembut dengan aroma asap rokok yang membekas.

Bukan hanya rokok, gadis itu bahkan bisa menghirup tajamnya aroma wine yang kemungkinan besar ada di dekatnya. Ya, dia bahkan mendengar gumaman seseorang.

Pria.

Sontak, kedua mata Jia-yi terbuka. Si gadis mengerjap cepat lantaran berusaha beradaptasi dengan cahaya menyilaukan yang menyambut netranya sementara nafas gadis itu memburu. Namun, Jia-yi cepat beradaptasi.

Dengan mudah ia memberanikan diri untuk kembali membuka mata dan berusaha mengenali tempatnya sekarang berada.

“Syukurlah, kau masih hidup.”

Suara itu.

Jia-yi segera menggerakkan tubuhnya, gadis itu berusaha menolehkan kepalanya dan—

Akh…” rintihan pelan justru lolos dari bibirnya. Sekujur tubuhnya sekarang mengirim rasa sakit—rasa yang tadi sempat tidak disadarinya selama beberapa sekon.

“Jangan banyak bergerak, Nona. Aku tidak tahu apapun soal pengobatan jadi luka-luka di tubuhmu hanya kubebat menggunakan kain seadanya—oh, aku tidak menghitung luka terbuka itu karena kupastikan rasanya akan sangat sakit jika dibebat.”

Perlahan, Jia-yi memaksakan diri untuk menoleh—meski rasanya luar biasa menyakitkan—dan samar-samar, Jia-yi pikir dia mengenali siluet pria berpakaian gelap itu.

“Mungkinkah… kau…”

Pria itu—yang tengah menyibukkan diri menatap ke arah jalanan di depan sana dengan tangan kiri berada di setir mobil dan tangan kanan yang bersadar di jendela mobil dengan sebuah rokok terselip di sela jemari—menolehkan pandang ke arah Jia-yi.

“Aku sebenarnya membenci orang-orang baik sepertimu. Tapi aku lebih benci jika harus berhutang pada seseorang—terutama, hutang budi.”

Kalimat itu. Jia-yi mengenalinya. Meski gadis itu sekarang terpejam, tapi jelas ia ingat siapa yang pernah diberinya kalimat serupa.

Byun Baekhyun. Pria—yang dikatakan Kyungsoo sebagai pembunuh—beberapa hari lalu dan dengan sukarela Jia-yi rawat lukanya. Bagaimana pria itu bisa terlihat baik-baik saja hanya dalam waktu beberapa hari?

Bagaimana dengan Kyungsoo? Apa pria itu berhasil bertahan? Mengapa Jia-yi sekarang bahkan tak punya kekuatan untuk sekedar membuka mata lagi?

“Istirahatlah, Nona. Aku akan membawamu ke tempat yang lebih baik.”

Well, setidaknya Jia-yi berharap pria itu bukanlah malaikat maut baginya.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Keadaannya tidak bisa lebih buruk dari ini. Dan juga, dia terkena dehidrasi akut. Sudah berapa hari sejak terakhir kali lambungnya dihampiri makanan? Dia pasti sangat kelaparan…”

Samar-samar, pendengaran Jia-yi kembali berfungsi dengan normal. Hal kedua yang gadis itu lakukan ketika kesadarannya pulih adalah berusaha mengenali tempatnya berada dengan bau.

Anyir, dan ada aroma tajam khas rumah sakit.

Apa ia ada di rumah sakit? Tapi mengapa ia mendengar suara pembicaraan orang-orang dengan begitu jelas sekarang?

“Dia masih butuh istirahat. Aku bahkan tidak bisa memastikan kapan dia akan terbangun.”

“Tapi aku ingin melihatnya.”

Jin-yi?

Perlahan, Jia-yi membuka matanya, kali ini ia tidak harus beradaptasi dengan cahaya menyilaukan karena ruangan tempatnya berada punya pencahayaan yang minim.

Sebuah tenda, agaknya.

Jia-yi, menggerakkan kepalanya perlahan, menatap ke arah seorang pria berpakaian seperti dokter yang masuk dari celah kecil ruangan tempat ia terbaring.

“Jin… yi.” lirih vokal Jia-yi terdengar, gadis itu bahkan bersusah payah bersuara.

“Oh, kau terbangun?” pria itu segera melangkah menghampiri Jia-yi, mengawasinya sejenak sebelum jemarinya bergerak menyentuh beberapa anggota tubuh Jia-yi tanpa izin.

Bukan menyentuh dengan cara tidak sopan. Jia-yi tahu pria itu pasti seorang dokter sukarelawan—karena ia sadar ia ada di dalam tenda yang kemungkinan besar merupakan tenda pengungsian—yang telah menolongnya.

Perlahan, Jia-yi membaca deretan huruf hangeul yang tertulis di jas putih yang dokter pria itu kenakan.

Oh. Se. Hoon.

Belum sempat, Jia-yi membuka bibir untuk kembali bicara, sebuah suara sudah terdengar menginterupsi.

“Dia bangun! Aku dengar dokter bilang dia terbangun!”

Jin-yi.

Sungguh. Jia-yi yakin siapa pemilik suara itu. Dia tidak berhalusinasi.

Beberapa sekon berlalu, terdengar suara langkah gopoh di belakang dokter bernama Sehun itu, diikuti dengan sebuah siluet wajah yang membuat Jia-yi terpaku.

“Kakak!”

Jin-yi.

Jin-yi benar-benar ada di hadapannya.

anneandreas’s Note:

Akhirnya Part Final selesai juga!!

Aku masih gak nyangka baru ngediskusiin cerita ini hari Sabtu yang lalu dan dengan gercepnya sehari bikin sehari publish seperti ini. Biasanya it’s not my style *lalu inget Kriseu dengan paha ayam di tangannya /plak.

Sumveh ini pertama kalinya aku bikin EpEp segercep ini, dan pertama kalinya juga terjerembab bikin genre begini. Kitamah biasanya bikin romens-romens anak ingusan. So so gomawo nomu sarangek buat kembar jenjer aku, aku berhasil mencoba sesuatu yang baru dan collab pertama kita akhirnya terealisasi jugak sampek END!! N.b: Collab yang direncanain dari jauh hari malah gak jadi-jadi /plak. Nanti kita jadiin, yash! /highfive

*NariTortorBerduaIrish

Aku bahagia liat bagaimana Reen jadi pengkhianat di sini; pengkhianat cinta, pengkhianat pada orang yang percaya padanya, tapi tidak berkhianat pada negara. You’re so cool, Reen! /tos sama Reen /digamparin readers

Dan aku lebih bahagia lagi karena endingnya pada mati. Iya sayamah bahagia banget kalo baca atau nulis yang ada mati-matinya. Ha. Ha. Ha. /psikopat detected /tapi gasuka genre thriller atau yang dimatiin pelan-pelan gitu, lebih enak tembak dor mati, kecelakaan dhuar mati gitu /dasar DID /plak

Untuk semua pembaca, si Anne dan si Irish siap dimaki untuk plot twist yang kurang ajar ini. Bhaks bhaks bhaks.

Dan untuk hari ketiga dan ketiga kalinya,

Selamat ulang tahun KIMMINSEOK
*dari aku, wanita bersuami yang masih kau curi hatinya

— Behind Story: 1 —

“Alessa ada di Hongdae.”

Seorang pria paruh baya yang duduk di balik meja jati gelap mendongak. Menatap wanita yang berdiri tidak jauh darinya dan baru saja memberi kabar tentang keberadaan putri semata wayangnya.

“Bawa dia kembali, Nona Do.”

“Baiklah.” si wanita—Reen Do—mengangguk paham. Wanita itu kemudian berbalik, hendak melangkah keluar dari ruangan ketika didengarnya dehaman pelan lolos dari bibir pria tersebut.

“Ya, Tuan?” ucap Reen sambil membalik tubuh.

“Kau tahu apa yang harus dilakukan, bukan?” tanya pria tersebut.

Reen, mengangguk pasti.

“Tentu saja, Tuan. Membawa Nona Alessa kembali, dan melenyapkan siapapun yang datang bersamanya.” Reen berucap, seolah paham benar komando apa yang harus ia lakukan.

Pria tersebut, mengangguk-angguk pelan. Ia kemudian menumpukan kedua sikunya di atas meja, menatap Reen seolah kembali menguji si wanita.

“Kau tahu, tidak seorang pun boleh kita biarkan tahu tentang rencana ini. Apa yang akan kau lakukan jika mereka mengalahkanmu, atau membawamu pergi?” tanya pria itu.

Reen, mendongak sementara pikirannya lekas ia paksa untuk menemukan sebuah solusi.

“Aku akan menjebak mereka, Tuan. Aku tidak akan lupa, siapapun yang berusaha menghalangi rencana penghancuran ini, harus mati.”

Sudut bibir pria itu kemudian terangkat sedikit.

“Bagaimana jika nyawamu jadi taruhannya?” tanyanya retoris.

“Tentu saja, nyawaku tidak ada harganya jika dibandingkan dengan rencana ini, Tuan. Aku akan dengan senang hati membiarkan diriku mati demi melindungi rencana ini.”

“Baguslah.” senyum puas terukir di wajah sang pria, “Kau bisa pergi sekarang, Nona Do.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Apa yang kau perhatikan, Reen-ah?” pertanyaan Minseok terdengar.

Ya, hampir saja Reen lupa pada eksistensi Minseok yang duduk dengan setia di kursi penumpang dengan kaki kanan terbalut papan dan perban—usaha Jia-yi untuk tidak memperburuk keadaan pria itu tentu saja.

“Tidak ada. Aku hanya membayangkan rute macam apa yang menyambut kita di luar sana, Minseok-ah.”

Mendengar ucapan Reen, Minseok hanya terkekeh pelan.

“Aku tidak tahu jika kita akan berakhir seperti ini. Kupikir, kau adalah seorang kepercayaan Tuan Cho. Tapi ternyata, kau juga punya niatan untuk berlari darinya.” komentar Minseok kemudian.

Reen, hanya tersenyum kecil.

“Semua orang punya keinginan untuk terbebas, Minseok-ah.” ujarnya sebelum ia kemudian melangkah meninggalkan Minseok sendirian di sana.

Reen, melangkah dengan terburu-buru, mencari tempat yang tertutup sehingga wanita itu bisa mengeluarkan telepon genggam kecil yang terselip di lipatan rok yang ia kenakan.

Lekas, ia gunakan telepon itu untuk menghubungi satu-satunya nomor yang tersimpan. Terdengar dua kali suara ‘tut’ panjang sebelum telepon diangkat.

“Tuan, ini Reen.”

Reen terdiam sejenak mendengar ucapan di seberang sana.

“Ah, ya. Tentu saja. Akan kuselesaikan urusan di sini. Mereka ternyata sudah tahu terlalu banyak, Tuan. Aku harus membunuh mereka untuk menghentikan semua informasi tersebar luas.” Reen menuturkan, kembali ia terdiam untuk mendengarkan jawaban, sebelum maniknya kemudian melebar karena satu kalimat.

“Kim Minseok? Ah, aku juga sudah mencari cara untuk membunuhnya, Tuan. Tapi rencana pertamaku gagal. Jangan khawatir, Tuan. Akan kupastikan jika Minseok juga akan mati di tanganku. Tidak ada hal lain yang lebih penting dibandingkan rencana ini.”

“Ya, saya mengerti, Tuan.”

IRISH’s Note:

EH, JANGAN DITINGGALKAN DULU, WKWKWK. Belum end loh, spesial kukasih bonus-bonus kecil di tengah author’s note supaya engga ditinggal a/n-nya. Huhu. AKU ENGGA TAU KENAPA TAPI KALO REEN-UMIN EMANG PALING JOS KALO DIBUAT BERPISAH DI AKHIR.

MUNGKIN EFEK SI PEMILIK BIAS UDAH MENIKAH JADI GITU, YA…

Terus ya terus… Jia-yi idup dong… padahalmaunyakubunuhbiargregettapienddong…

AH, EFEK NGANTUK, jadi enggak bisa banyak berceloteh…

OH, OH. MASIH ADA CERITA BONUS DI BAWAH, WKWKWKWK

Eniwei, thanks a lot buat Kak Ne karena udah bersedia untuk berkontribusi dalam pengerjaan epep gajelas ini dan udah rela OC-nya kubuat jadi seorang pengkhianat negara dan pengkhianat cinta juga berpura-pura lemah demi kebangsaan.

REEN DI SINI PAHLAWAN BANGSA, LOH. /SLAPPED/.

Kak Ne, jangan kapok buat berkolaborasi sistem SKS dengankuh ~ muah LAFYU!!

P.s: CIEH, ABIS INI OSEH SAMA SICANTIKHAN.

— Behind Story: 2 —

“Kita bertemu lagi… apa ini sebuah takdir, Nona?”

Baekhyun, tadinya telah merasa bahwa kehidupannya benar-benar berakhir karena perkelahiannya dengan Do Kyungsoo ketika dia temukan dirinya terbaring di depan sebuah bangunan.

Masih hidup.

Ya, pikir Baekhyun, ia bertahan hidup karena usahanya sendiri. Tapi menyadari bahwa tubuhnya dibalut dengan sehelai selimut hitam-putih bergaris khas rumah sakit, juga melihat beberapa bekas jahitan rapi yang ada di permukaan kulitnya…

Dia sadar bahwa seseorang telah menyelamatkannya.

“Do Kyungsoo. Aku sudah tahu kalau kau akan mati dengan cara menyedihkan.” Baekhyun terkekeh, ia pandangi pria berlumur darah dengan sebuah pecahan kaca panjang beserta logam menembus kepalanya.

Tatapan Baekhyun kembali tertuju pada wanita yang ada di hadapannya. Sekarang, sosok yang Baekhyun yakini telah menyelamatkannya itu justru terbaring tidak berdaya, berlumuran darah dengan sebuah logam menembus perut.

Kalau saja, Baekhyun tidak memilih untuk berdiam di Hongdae dan mencuri sebuah mobil, mungkin dia akan melewatkan momen dimana ia lihat sebuah mobil dengan gila-gilaan berusaha menghancurkan diri dan menerobos api.

Bunuh diri. Sudah jelas Baekhyun tahu si pengemudi tengah berusaha membunuh seisi mobil karena Baekhyun melihat bagaimana pengemudi tersebut membawa mobil itu mendekati maut.

Yang tidak Baekhyun mengerti, mengapa ia justru berkeinginan untuk menyelamatkan wanita yang telah menyelamatkan hidupnya, daripada menyelamatkan wanita di balik kemudi?

Ah, memangnya siapa wanita yang ada di balik kemudi itu bagi Baekhyun?

“Lama tidak berjumpa, istriku…”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Mengapa kau ada di sini, hyung?”

“Selamatkan seseorang untukku.”

“Apa?”

Baekhyun, menatap seorang pria berkemeja biru di depannya—yang kini menatap tidak mengerti. Menyadari bahwa penjelasannya tidak akan terdengar masuk akal di telinga lawan bicara, Baekhyun akhirnya menggeser tubuh. Mengizinkan lawan bicaranya untuk melihat keadaan yang sebenarnya.

“Bukan aku yang melukainya. Kutemukan dia hampir mati di Hongdae karena kecelakaan.” Baekhyun berucap.

“Oh Tuhan! Apa dia masih hidup?” lawan bicara Baekhyun berucap panik, lekas ia melangkah melewati Baekhyun, memeriksa keadaan wanita yang tubuhnya terbalut selimut di kursi penumpang mobil yang Baekhyun bawa.

“Dia masih hidup, kurasa. Kakinya patah, mungkin, tapi sudah kubalut dengan pakaianku. Luka terparah adalah perutnya.” Baekhyun menjelaskan, sementara ia melangkah mendekati lawan bicaranya dan wanita itu.

“Aku akan membawanya ke tenda.”

Baekhyun tersenyum.

“Aku tahu kau akan menolongku.”

Lawan bicaranya menatap tak senang. “Aku tak suka kalau kau sering datang ke sini, hyung. Seseorang mungkin akan mempertanyakan hubungan kita. Kau jelas-jelas terlihat seperti seorang mafia.”

Baekhyun hanya memutar bola mata jengah. Pria itu lantas melepaskan kalung yang ia kenakan, memasang benda tersebut di leher si gadis sementara jemarinya bergerak menyelipkan sebuah lipatan kertas kecil di celah sempit yang ada di kalung rantai dengan manik sebuah botol kaca mungil tersebut.

“Apa ini, kenang-kenangan? Ingat, hyung. Kau sudah punya istri.” lawan bicaranya memperingatkan, sementara ia memindahkan tubuh gadis itu dari kursi—ke dalam gendongannya.

“Aku hanya ingin memastikan, kalau kami tidak akan bertemu untuk ke-tiga kalinya dalam keadaan genting.” Baekhyun berucap ringan, ia melangkah mundur, memberi celah pada lawan bicaranya untuk melangkah menjauh.

“Lagipula, istriku sudah mati, Oh Sehun. Kulihat dia mati dengan mata kepalaku sendiri.”

please wait for the next story: Hol(m)es in Songpa-gu

Iklan

17 pemikiran pada “[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HONGDAE (3) — IRISH’s Tale

  1. Ping balik: [SEHUN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in SONGPAGU — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  2. Annyeong…
    Baru baca part nya Bang Umin doang,(secara ultimate bias baru ultah) jeongmal mianhae ya author-nim.. Nanti pasti baca yg lain, biar mudeng semudeng-mudengnya!!

    GAK TAHAN PENGEN KOMEEEEENNNNNN
    Gomawo buat authornya, karena sudah menista bang uminku senista-nistanya.. Bang uminku yg unyu kayak hamster jadi BANGSADH (gak rela karna dinistanya bukan sama aku /plak/ mang loe siapa??)

    Daebak buat ceritanya, bisa complicated gini, pake acara mainin politik segala..
    Bener2 ngebayangin kalo jd serial tv, pasti seru.. (biar sekalian ot12 reunian #eeaaaakkk) Tapi mungkin g lulus sensor kali yak karena adegannya banyak yg liar..
    jiiiaaahhh…

    Terakhir
    Hwaiting buat author dan readernya..
    Harus sama2 kuat bayangin siapa yang dinista, bahkan mati mengenaskan.. Huhuhuhuhuhu

    Sekali lagi, GAMSAHAMNIDA.. *bow*bow*
    Annyeoooooonnggg…

    • Mbb ya sayangs :* buakakakak ini semacem pilih kasih sama Umin tapi gapapa XD masih bisa baca yang lainnya nanti kalau ada waktu XD wkwkwkwkwkwk ini percobaan politik pertamaku anyway :”) semoga aja bisa cucok sama adegan2 politik yang suka ada di tipi wkwkwkwk XD thanks yaa ~

  3. Aku butuh beberapa saat buat mastiin semua yang ada di sekeliling aku baik2 saja. /lebay/ persiapkan mata anda, pastikan sedang tidak mengemudi atau melakukan hal yg berbahaya…

    DEMI APAAAH PERASAANKU DIBONTANG BATING 3CHAP INIH.
    AKU TAHU. AKU TAHU. AKU PUNYA FIRASAT SEPERTI INI UJUNGNYA. MAKANYA KEMAREN AKU NITIP KYUNGSU SUPAYA GA BIKIN DIA LUKA ATAU METONG. EH EH EH…. TAUKNYAAAA AAAAAAAAK.
    AKU UDAH NYIAPIN DIRI BUAT KEMUNGKINAN SEPERTI INI WAKTU RISEU BILANG DI NOTE SEBELUMNYA TENTANG KARAKTER SI CINTA YANG TERLALU MENONJOL. DITAMBAH MENGINGAT DUA ORANG YG KUKENAL DAN MENULIS PLOT EMEJING INI ADALAH RIRISEU SAIKOPAT ABAD INI, DAN KANE YANG GILA DENGAN ENDING MENGENASKAN. /DIKULITI/
    TAPI KENAPA AKU BEGITU SYOK. YAAMSYONGS. /GULING-GULING/ INI JAM 3 PAGIH. YAALORD!
    UNTUNG REEN SAMA UMIN IKUT MATI JUGA. JADI CUMA PAPIH SATU2NYA ORANG YANG HARUS AL BUNUH DAN AL SALAHIN ATAS KEMATIAN SI SAYANG /APA INI/

    BODO AMAT AKU GAK BISA MATIIN KEPSLOK, AKU UDAH GEREGET BANGET. DITAMBAH SIDESTORY… IMAJINASIKU UDAH KEPALANG LIAR, PAPIH, AKU GAK BISA LAGI. MESKI DI TULIS PRIA TUA SEKALIPUN, MUKA EVIL PAPIH TETEP YG JADI VISUAL. MAYGAT, AKU BENER2 BISA BAYANGIN YG SIALNYA SEMPURNA SYEKALI WAKTU TUAN CHO NGUJI LOYALITAS REEN. BANGSAT, ITU COCOK BANGET SAMA STYLE PAPIH. SIAL PANGKAT LIMA.

    AKU RAPOPO. CUKUP DENGAN “SEBUAH PECAHAN KACA YANG MENANCAP”. TAPI KENAPAAA? KENAPAA? SI CABE HARUS MEMPERJELAS DENGAN “LOGAM YANG MENEMBUS KEPALANYA (KYUNGSOO)” KENAPAAA? KENAPAAA? AKU GAK SAMPAI HATI. AAAAAAAAAH. /ANDAI KEPSLOK ADA ATURAN SIZE FONTNYA, AKU BIKIN YG LEBIH GEDE LAGI DARI INI /DIGILAS/

    BAEK TERNYATA SUAMI REEN. INI JUGA BIKIN AKU SYOK. /PLOT TWIST BANGSAT PANGKAT TUJUH/ TAPI AKU BEGITU LELAH DENGAN SEMUA TRAGEDI YG TERJADI SEBELUMNYA.
    TENGS, REEN. KAMU UDAH LOYAL BANGET SAMA PAPIH. TAPI KAMU BARU AJA NGANCURIN PUSAT DUNIA AL. /LEBAY PANGKAT DIATAS PANGKAT/PAAN

    GODS, INI KEREN. AKU GATAU HARUS NGOMONG APA BUAT GAMBARIN APA YG KURASAIN. /LU UDAH NGOMONG PANJANG KALI LEBAR KALI TINGGI PANGKAT TIGA TA/DITABOK
    SEMUANYA CAMPUR ADUK.

    SELAMAT NONA CHINA, KAMU AKHIRNYA KETEMU JIN YI, KYUNGSU PASTI LEGA DI ALAM SANA, /BUANG INGUS/
    DAN OH BANGSAT YANG LAINNYA, MUNCUL, PAMAN SEHUUUNNN. (‘0’9 JADI DOKTEL YHAAA.
    SEE, SIAPA YG BAKAL JADI KORBAN BERIKUTNYA BERSAMA PAMANKU? RUNA? TANTE MIREN? AKU TERLAMPAU EKSAITID BUAT NUNGGU NEXT EPISOD.

    SEMANGAT TERUZZZ BEB! MAKASIH BANYAK UDAH NYIPTAIN FF SEKECEH INIH.
    KANE, U’RE BESTUUUU!

    NB: MAAP SAMPE AKHIR GAK BISA BERHENTI KEPSLOK. MAAP KALO BAHASAKU KASAR. AKU TERLALU FRUSTASI BUAT NUMPAHIN UNEG UNEG.
    UDAH. AKU BAKAL AKHRI KOMEN RASA CERPEN. /BHAY/GULING-GULING BARENG HANBIN/

    EH.
    TUNGGU.
    JANGAN SAMPE JIA SAMA BAEK UJUNGNYA. AKU MASIH CHANJIA HARD SHIPPER! /LALU DI CEBURIN KE SINKHOLE/

    IYA UDAH. AKU GAK BAKAL NGEMENG LAGI.
    UNCH, TATA, YANG TERLAMPAU SAKID DAN BAHAGIA DISAAT YANG SAMA/GILAK

    • wkwkwkwkwk, ini misalnya komen kamu didubbing orang lalu ditayangin di tv mungkin ga lolos sensor ta, atau mungkin sepanjang komen bakal banyakan niiit nniiiiittt nya daripada kalimatnya wkwkwkwkw..

      Akupun pas pertama kali ngobrolin plotnya sama iriseu (sebagian besar plotnya iriseu yg bikin, aku cuma ikut terjerembab aja bhaks), aku udah bahagia banget karena tau reen umin bakal dibikin mati. HAHAHAHAHAHA KAMU TAU BANGET AKU SUKA SAMA YANG MATI MATI BUAHAHAHAHAHHAHA..

      dan kami uda so uwow uwow sekali sama part 3, apalagi ngomongin behind2nya bhaks bhaks bhaks. ngebayangin di tiap behind orang2 bakal mengumpat, dan rata2 ngumpatin reen kalo ga papa cho sih, cuma aku yang ngumpatin bekyun di akhir kayaknya wkwkwkwk..

      dan Aku juga sudah menyiapkan diri untuk diumpatin orang2 karena reen yang keliatan so baik dan lemah dari part 1 ternyata jadi manusia paling jahad sejagad series hol(m)es wkwkwkwkwkw..

  4. NGUKUK ASTAGA,
    BAEK, KENAPA KAMU TEGA SAMA ISTRI SENDIRI BAEK? CURIGA AING GIMANA DULU MEREKA NIKAHNYA. ASTAGA, 2 ORANG KOREA SELATAN YANG CINTA NEGARA, BAEKHYUN SI MATA-MATA SAMA REEN SI SEKRETARIS YG TAU BANYAK RENCANA. MCMCM, RUMIT SUNGGUH. REEN, KAMU PEN EKI GAMPAR DENG/KEDULUAN DIGAMPAR YG PUNYA OC/PLAKK/ XD
    PADAHAL UDAH SERING EKI PINJEM, TAPI KENAPA EKI KESEL SAMA KAMU REEN? SEBEGITU UMIN MENCINTAI DIRIMU, KENAPA TETAPA AJA DIBUNUH EHHH??? OIYA LUPA, INI GENRENYA BUKAN ROMANCE MAK/PLAKKK/ XD
    TAPI GAPAPA REEN, KUSUKA DIRIMU NASIONALISNYA TINGGI, HAHA, GUT XD
    DAN KYUNGSOO ASTAGA, KAMU MATI NAK? NANTI JIA YI HARUS NGEMENG APA SAMA CY (KALAU SEMISAL KETEMU) KALAU TANGAN KANANYA MATI? HIKS, SEDIH AKUTUH. DAN KAMU BAEK, INGET KATA SEHUN, AH, JAN BAPERIN ANAK ORANG, DAN JIA YI, JAN MAU SAMA BAEKHYUN MESKI DIA CAKEP DAN BANGSAD DISINI, DIA ITU DUDA, JAN MAU SAMA DUDA YANG ISTRINYA AJA GAK DITOLONGIN/PLAKK/PAAN DAH/ XD. MENDING SAMA CY AJA, BHUAKAKA (JIAYICYSHIPPER/PLAKK/XD)
    DAN SEHUN, ASTAGA, KAMU JADI DOKTER? MAU DONG DIRAWAT BG/DIRUQIAH RAME-RAME XD/
    PENASARAN LUHAN JADI APA, WKWKW XD
    JIN YI OH JIN YI, ENTE DICARI KAGAK KETEMU, GILIRAN GAK DICARI KETEMU SENDIRI. HMZ -_____-
    GPP DENG, NTAR JIA YI FT JIN YI PULANG KE CHINA NTAR ANE TUNGGUIN/PLAKK/ XD
    GASABAR MENUNGGU APRIL HMZ XD

    • lha aku jadi ikutan mikir gimana dulu pas reen bekyun nikah buakakakakka, jadi pengen bikin adegan ratednya reen bekyun /plis /sethap kak sethap
      gakpapaa gampar aja si reen wkwkwkwk, si anne sudah siap di maki dari awal pas ngobrolin plot ini sama iriseu kok BUAHAHAHAHAHAHHAAH

      aku ngakak so hard pas kamu ngatain bekyun duda. itu sama kaya yg aku tanya ke iriseu pas ngobrol, “Artinya nanti pas Mei seriesnya Bekyun, Bekyun jadi duda ya riseu?” wkwkwkwkwkw

      IYA BEKYUN EMANG, ISTRI SENDIRI AJA GAK DITOLONGIN, MALAH DIDENGUSIN!! KECEWA REEN SAMA KAMU, BAEK. REEN MAU CERAI!! /plak

  5. ini karena behind storynya pun aku baru baca sekarang kok ya aku mengkamvret kamvretkan si bekyun, wuanjir lo hyun, bini mati bukannya berduka malah ngasih kalung ke cewek cina dan ngomong seenteng itu ke si cadel. dasar kamu lakilaki laknat.
    *digampar bekyun /lo juga istri selingkuh, reen /plak
    *digampar cewek cina /lo juga sipit woy /plak

    ehetapi ini endingnya dikemas kiyeeeennn, si reen mah mantap emang jadi yang paling jahad, bahagia dia, minta dibikinin peran begini lagi katanya /tos sama reen

    AKU BAHAGIA KOLAB KITA RAMPUUUNNNGGGG
    SINI PELOKAAAANNNN

  6. Kenapa yungsoo harus mati, kenapa, kenapa ? Jia yi selamat dan yang nyelamatin nya baekhyun kalo gak ada baekhyun mungkin jia yi sudah mati dan ternyata reen itu istrinya baekhyun ? Wah dunia memang sempit.
    Akhirnya jia yi ketemu juga sama jin yi. Next ke chapter selanjutnya

    • Kyung harus mati karena ulang taunnya udah lewat /plak /gakgitu wkwkwkw..
      iyaaah, si jiayi sama bekyun semacam takdir gitu, bikin reen iri *lap ingus
      hooh, di sini dunia sempit sekaliiii..
      hihihih..
      makasi sudah komen.. >.<

  7. INI YANG ANE TUNGGU2 KETIKA DAPET SIGNAL

    ejigile plot twist sekali kak rish plus kak ne. Gak nyangka si reen pengkhianat cinta tapi dia setia sama negara, gud job aja deh /di gampar/ kukira reen tuh gak gitu, reen saikopat :”””’))) dan tambah shock pas pada mati semua ya lord… iya sih keanya rame jiayi mati tapi gak rame ntar end wkwkwkwkwk. Dan ane girang2 sendiri masa pas adegan tegang yg nembus kobaran api alias bunuh diri WAKAKAK. Baca kek gitu ane jelimpatan gak jelas emang XD XD

    Dan ehhh… endingnya mengharukan. Jiayi sm Jinyi ketemuan horee, jangan2 prediksi aku bener mereka ketemuan lalu berusaha lari dari korea selatan dengan terseok-seok wkwkwkwk. Itu kode amat ya si Sehun muncul eyakkk gak sabar april nih kak rish XD dan itu behind storynya ntaps sekali, tambah heboh pas Baekhyun bilang “Lama tak berjumpa, istriku” anjay. Si Reen kamvret yaaa. Udh mau bunuh Minseok. Selingkuhin suami sendiri plus ninggalin. Akhirnya ya si selingkuhannya dia bunuh jg, tbc di chapter sebelumnya si Reen make sengaja. Ya gak apa reen yg penting kamu setia sama negara kamu /langsung digampar/

    Btw, Baekhyun gak mau ketemu ketiga kalinya sama Jiayi? Sepertinya gak mungkin Baek, kamu akan ketemu lagi sama dia ahahaha. Dan ane tadi pen batuk pas dibilang si cantik han akakakakak. Sudah kutunggu april kak rishhh ~~~

    • Elsa diduga saikopat, dia senang ada adegan nembus kobaran api. /plak

      Silahkan kamvret-kamvretin Reen, aku bahagia tiap kali Reen dimaki. Wkwkwkwk
      Reen juga bahagia dia jadi penghianat els, dia minta peran begitu lagi katanya, tapi akunya manabisa /ini kode minta dibikinin /tampol aja /plak

      Ah bekyun begitu sok sok an aja dia itu, buktinya dia bahagia kok istrinya mati mengenaskan, bukannya sek reen dipeluk2 sedih gitu, malah didengusin. huh. wkwkwkwkwk

  8. W.O.W..!! 😲
    Mo mulai komen dr mn ya, sigh..
    Amazing? 대박? 짱?! Kyny ga ckp di pk bwt mnilai ff ini. Reen ky dah kena doktrin. Brain-wash. Jihad slh kaprah demi cita2 agung her govt! Very clever, pretending, hiding her true color! Pd kena tipu semua! Even umin yg sngt cintah metong ke Reen. E-v-e-r-y-t-h-i-n-g, is so upredictable!! 백, suami yg di slngkhn reen??
    백 musuh bebuyutan d.o, pembunuh berdarah dingin, pnampilan ky mafia, tp deket sm good doctor ohseh?? Whoah.. 😦
    Jin yi is a boy? All these time (dr nm’ny) tak kira dy 여자. Runa jd apa ya di lnjtn kisah seru ff ini? Twist plot ini trasa smooth aja, cz crita’ny emang kelas box office 👍
    Xan para author kesayangan kuh 😗 pd jd scriptwriter aja, visual-kan ff× mahakarya xan di exoffi ini, spy 우리 나라 pny karya yg hi-quality tyngn2ny.
    Couple reen-umin ini dr awal sk main 🔥jd terbakar, love affair smp brujung pd kmatian yg tragis demi cita2 agung govt.
    Duh, gmn reaksi 찬열 & kai klo tau tmn mrk, d.o jd korban ga slmt 😰
    Ini prtm x’ny hol(m)es tembus 3chptr jg prtm x’ny mmbr eksoh yg besdey brakhir hdp’ny 😢 udah brhrp umin reen bnrn bkl runaway bdua aja cem kawin lari gt, lovey dovey, tp.. trnyt reen pengkhianat cintah! 😒
    Trnyt di blk lipatan rok’y reen ada tlp khss bwt hub sohib evil’ny 창민 kuh toh mk’ny di part1 pas umin mo braksi lbh, reen nolak 😒 huh, kirain bnrn msh pny ksadaran/guilt ke suami, trnyt!! Sbg pnutup, pnjm tag-line’ny jarjit aja deh bwt nilai overall ff hol(m)es smp this latest part, Marvelous!! 😘

    • Iyaaa, reen sejenis di brainwash. Sebenarnya ya rencananya negaranya itu jahad, tapi si Reen ngerasa itu paling benar sampe2 dia ogah setengah mati berkhianat sama negara wkwkwkwkw..
      iyaaah, si baek teh suaminya reen, kak. Ga nyangka ya? aku juga /plak. Buahahahahahaha

      Mungkin nanti si cunyul sama si kai bakal dimention di series berikutnya kaaak..

      Mueheheheh, Reen memang laknat kak, maki saja dia wkwkwkwkwk..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s