[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] – Our Memories

Xiumin/ Mi-Cha (OC)/ Jimin (AOA)

Romance, Family

Oneshoot/ General

***

 

“Huhh.” Jimin mendengus kesal. Ia mendapati pintu gerbang rumahnya di gembok. “ini baru jam 10 malam, resek sekali sih.” gadis itu menggerutu. Umpatan itu sudah pasti ditujukan untuk kakak laki-lakinya yang super overprotective itu. Rasa malu akibat kejadian minggu lalu, bahkan belum hilang. Saat itu Xiumin Oppa membopong Jimin dipundaknya, membawa gadis itu pulang dari acara festival music dikampus. Padahal acaranya baru setengah berlangsung. Ah lupakan. Jimin tak langsung putus asa. Gadis itu masih punya rencana B, yaitu memanjat pagar.

Jimin meloloskan tas punggungnya terlebih dahulu, melambungkannya melewati pagar yang tingginya hampir 3 meter. Setelah itu, baru lah ia beraksi. Jimin menjadikan tong sampah almunium menjadi pijakan pertama. Lalu beralih ke dahan pohon yang kebetulan tumbuh subur di sebelah pagar rumahnya. Dan akhirnya Jimin sampai di puncak pagar tembok itu. ia terduduk beberapa detik untuk menghela napas. Aksinya itu cukup membuang energi.

Ini dia saat yang mendebarkan sekaligus membuatnya takut, yaitu melompat dari pagar. Salah sedikit salah satu tulang ditubuhnya bisa patah. Tapi dipikir-pikir, ia sudah kepalang memanjat pagar. Tidak ada cara lain kecuali melompat. Jimin menghitung mundur 3,2,1 dalam hatinya, tepat dihitungan ke 1, dia melompat.

Benturan tubuhnya dengan tanah halaman rumah terdengar cukup keras. Tapi beruntunglah Jimin, karena tidak ada satupun tulang yang patah seperti anggapannya beberapa menit yang lalu. “Ck…pemikirannya kuno sekali, seperti tidak pernah muda saja.” celoteh Jimin seraya membersihkan rumput yang menempel di pakaiannya.

“Aku pernah muda.”

Kkamjjagiya.” Jimin terkejut luar biasa ketika mendapati kakak laki-lakinya berada di belakangnya.

“Se-Sejak kapan Oppa disana? Seperti hantu saja, muncul tiba-tiba.” Lanjutnya lagi.

“Kuliahmu selesai jam 4 sore. Seharusnya jam 5 sore kau sudah ada dirumah.” Selisik Xiumin.

“Em itu…tadi aku ada acara bersama teman kampusku.” jawab Jimin berusaha memutar otak mencari alasan yang logis dan tentunya dapat diterima oleh kakaknya itu.

“Tapi Sang Wook bukan teman kampusmu. Jadi jangan buat alasan untuk pergi dengan pria itu lagi. Sejak awal Oppa tidak mendukung hubungan kalian.”

Skak mat. Mau bagaimanapun Jimin menyembunyikan hubungannya dengan Sang Wook. Kakaknya itu pasti bisa mengendusnya. ‘Ternyata Oppa melihat Sang Wook mengantarku tadi.’ lirih Jimin.

“Biar ku jelaskan, Sang Wook tidak seperti yang kau pikirkan”

“Masuk, lalu tidurlah. Tunggu hukumannmu besok.”

Oppa…jebal…”

***

Air mata Jimin bercucuran. Bukan karena nonton drama ataupun sedang patah hati. Hukuman dari kakaknya kali ini lebih kejam dari hukuman sebelumnya. Siapa sangka pria berwajah imut nan ramah itu memperlakukan adik perempuannya dengan sadis. “Uwaaa…air mataku bisa habis kalau begini caranya…” rengek Jimin yang sedang memotong tipis-tipis 2 kilo bawang merah.

Jimin membanting pisaunya dimeja. Cukup sampai disini Jimin menerima hukuman-hukuman konyol dari kakak laki-lakinya itu. Sekarang ia tidak peduli dengan ancaman uang jajannya akan dipotong ataupun Jimin akan dipulangkan ke orang tua mereka di Taiwan. ia tidak gentar akan itu semua. Yang ia inginkan adalah mengeluarkan unek-uneknya yang selalu mencoba menerobos benteng kesabarannya. Ya, ia harus mengatakan semuanya kepada Xiumin. Sebelum ia frustasi dan kesurupan, lalu bertingakah seperti orang gila.

Oppa…kau harus sadar bahwa sikapmu itu berlebihan. Aku sudah dewasa, umurku sudah 20 tahun. Berhentilah memperlakukanku seperti anak SD. Berikan aku sedikit kebebasan. Eoh?” Jimin berhasil menumpahkannya.

Xiumin meletakan remot tv yang sejak tadi ia utak-atik. Beranjak dari posisi santainya, lalu menghampiri adik perempuannya itu.

“Maksudmu…termasuk kebebasan bergaul dengan Sang Wook?”

Jebal,,,kau harus mengenalnya dulu sebelum menilainya.” rajuk Jimin.

“Aku sudah mengenalnya jauh sebelum kalian bertemu.”

“Terserah. Tidak ada gunanya berdebat dengan Oppa. Oh, mungkinkah karena sikap Oppa yang seperti ini, jadi Mi-Cha eonni meninggalkanmu?”

Sreeeet…Prang…

Xiumin menarik taplak meja di ruang tv sekaligus menjatuhkan vas bunga yang menempel diatasnya. “Jangan bahas wanita itu didepanku.” kata Xiumin kemudian berlalu meninggalkan adiknya yang tertegun.

***

Sejak pertikaian itu. Xiumin dan Jimin tak saling bicara. Ibarat 2 orang asing yang tinggal dalam satu atap. Uang jajan Jimin utuh, tidak ada potongan satu sen pun. Barang-barangnya pun masih tertata rapih dikamarnya. Tidak ada tanda-tanda ia akan dipulangkan ke Taiwan. Situasi teraneh yang pernah Jimin rasakan. ‘apakah Oppa tersinggung dengan kalimat ku?’ Sangkanya.

Tiba-tiba saja Jimin berubah pikiran. Omelan kakaknya laki-lakinya lebih cocok untuknya daripada ia terperangkap dalam situasi seperti ini. Serba salah. Bahkan Jimin merasa bersalah. Ia menyeruput kopi cup yang tinggal setengahnya itu seraya melihat keluar jendela mini market. Hujannya masih sangat deras.

“Jimin-ah…”

“eoh…Mi-Cha eonni…” gumam Jimin seraya bangkit dari kursinya. “oraemaniyeyo.” Sambungnya, lalu membungkuk 45 derajat. Mi-Cha balas membungkuk.

“sedang apa kau disini?” tanya gadis berparas cantik itu.

‘Walaupun tanpa polesan make-up. Perempuan bernama Mi-Cha itu tetap terlihat cantik dan bersinar. Pantas saja Xiumin Oppa tergila-gila padanya.’ Batin Jimin.

“aku sedang menunggu hujan reda. Setelah itu aku berencana untuk pulang. Eonni sendiri sedang apa?”

“aku baru pulang kerja, lalu mampir ke sini untuk membeli beberapa cemilan. Aku antar kau pulang ya. Kebetulan aku bawa mobil.”

“em…sebenarnya aku tidak benar-benar ingin pulang sekarang juga. Bolehkah aku ikut ke rumah eonni, boleh ya?” rajuk Jimin.

“ne, arraseo. Kajja.” Mi-Cha tersenyum seraya menarik tangan Jimin yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.

***

“jadi, ada masalah apa kau dengan kakakmu?” tanya Mi-Cha sesampainya dirumah.

“apakah didahiku ada tulisan ‘aku sedang ada masalah’?” balas Jimin dengan ekspresi polosnya.

“hahahaha… aku mengenalmu sejak kau belum tahu bagaimana caranya menggunakan lipstick. Jadi jangan heran jika aku tahu apa yang sedang kau rasakan. Ceritakan kepadaku, aku akan berusaha membantumu.”

Jimin tersenyum getir. Benar juga kata wanita itu. Dulu aku sering sekali berlari kerumahnya sambil menangis karena diomeli eomma atau oppa. Dan wanita itu akan memelukku lalu mengantarku pulang untuk membantuku bicara dengan mereka. Aku merindukan saat-saat seperti itu. Sangat disayangkan Xiumin opaa dan Mi-Cha eonni harus putus.

“aku pacaran dengan seorang pria, namanya Sang Wook. Xiumin Oppa tidak menyetujuinya. Setiap kali aku katahuan bertemu dengannya. Oppa selalu menghukumku. Dia menyuruhku membuat anyaman bunga dari sedotan, tidak tanggung-tanggung…dia memberiku setumpuk sedotan mungkin jumlahnya ratusan. Tanganku sampai keriting karena mengerjakannya. Bukan itu saja, dia juga menyuruhku memotong 2 kilogram bawang merah. Betapa pedasnya mataku saat itu. Uwaaaa….” tangis Jimin tumpah.

Mi-Cha termenung. ‘anyaman bunga? Bawang merah?’ lirih dalam hatinya.

FlashBack

Mi-Cha menempelkan dagunya di atas punggung tangannya yang bertumpangan. Matanya menatap takjub ke arah Xiumin yang masih terlelap di ranjangnya. Saking pulasnya, pria itu bahkan tidak terusik saat Mi-Cha datang kerumahnya lalu menimbulkan keributan kecil di dapur. Mi-Cha melirik jam weker yang bertengger di nakas samping ranjang. Jarum pendek jam menujuk ke angka 9. Menurunya sudah cukup membiarkan Xiumin berada di zona nyamannya. Ia mencubit pipi cuby pria itu seraya menggumamkan namanya “Xiumin oppa, ireona!”. Mi-Cha melakukan tindakan yang sama sampai pria itu membuka matanya.

Xiumin mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu terduduk. Masih diranjangnya. “good morning.” Sapa Xiumin kepada gadis manis yang begitu gigih membangunkannya. “Cepat mandi. Aku akan membuat sarapan.” Kata Mi-Cha setelah memastikan pria itu telah terjaga seutuhnya.

Oppa, bawang merah nya habis.” Teriak Mi-Cha sambil mengaduk-ngaduk lemari es.

“Pakai saja bawang bombai atau bawang putih dulu.” Balas Xiumin yang baru saja selesai mandi.

Shiro, aku tidak bisa makan tanpa bawang merah goreng.”

“Baiklah, aku akan membeli nya. Jhakamman.”

***

Matahari semakin tinggi. Akhir pekan yang cerah. Namun, sepasang kekasih, Xiumin dan Mi-Cha lebih memilih menghabiskan hari liburnya di rumah ketimbang piknik atau ke taman hiburan seperti kebanyakan pasangan lain.

“Untuk apa barang-barang ini?” Tanya Xiumin yang melihat wanitanya mengeluarkan berpak-pak sedotan, kater, benang kasur dan lem lilin dari sebuah tas karton berukuran lumayan besar.

“Aku akan membuat kerajinan tangan.”

“Bagaimana caranya?”

“Pertama-tama kita buat anyaman bunga dari sedotan. Mau membantu ku?”

“Apa kau sangat menyukainya?”

“Aku tambah suka jika kau membantuku membuat anyaman bunga dari sedotan ini. Seberapa banyak anyaman bunga yang kau buat, itu menunjukkan seberapa banyak rasa cinta mu kepadaku.” Goda Mi-Cha sambil mengulum senyumnya.

“Kalau begitu akan aku anyam semua sedotan yang ada di dunia ini.”

“Hahahaha…lakukan saja.”

FlashBack End

Pria yang setiap hari Mi-Cha rindukan ternyata masih mengingatnya. Ia senang tapi juga kecewa. Senang karena Xiumin masih menyisakan perasaan nya , tak peduli sekecil apapun tetap saja Mi-Cha merasa lega. Namun ia juga kecewa, pria itu menahan perasaannya. Dia masih saja bergelut dengan egonya.

“Ayo pulang kerumahmu, akan kubantu kau berbicara dengan kakakmu.”

“Tidak usah, kalian pasti canggung. Aku akan menyelesaikan nya sendiri.”

Jimin tidak berharap bantuan lebih dari wanita itu. Mi-Cha mau mendengarkan keluh kesahnya saja, itu sudah cukup baginya.

“Mungkin Aku dan kakakmu bisa putus hubungan sebagai kekasih, tapi denganmu? Aku sudah menganggap mu sebagai adikku sendiri. Sampai sekarang pun masih.”

“Hem, kalau begitu… antarkan aku pulang saja. Kau tidak harus berdebat dengan Oppa. Itu sudah sangat membantu. Oke?”

“Oke.”

“Tapi tidak sekarang. Aku masih ingin disini. Nanti malam saja ya pulang nya.” Sergah Jimin ketika Mi-Cha hendak beranjak mengambil kunci mobilnya.

***

Xiumin memandang keluar jendela ruang tamu. Keadaan diluar sana tidak cukup jelas. Kacanya berembun akibat intensitas hujan yang tinggi sejak tadi sore sampai malam ini hujan nya masih awet. Diselingi Gemuruh guntur dan kilatan nya saling bersahutan. ‘dimana dia?’ gumamnya. Xiumin mengecek layar ponsel nya. Jam digital di layar datar itu menunjukkan pukul 10.15 pm. Tidak ada telfon atau pesan singkat dari Jimin. Karena nya membuat Xiumin gelisah.

“Oh, mungkinkah karena sikap Oppa yang seperti ini, jadi Mi-Cha eonni meninggalkanmu?”

Kalimat Jimin saat itu terus terputar dalam rekaman otaknya. Layaknya sebuah hukuman yang harus Xiumin jalani dengan penuh penyesalan. Mungkinkah? Adik perempuan nya itu akan meninggalkan nya juga? “Tidak boleh.” Kata Xiumin cepat memotong jalan pikiran nya yang sudah keluar jalur. Pria itu sungguh bertekad menjaga orang yang ia sayangi dan tidak akan ia biarkan pergi. Seperti saat itu….

Saat itu Mi-Cha bersikeras ingin mendaftar di fakultas hukum. Gadis itu ingin menjadi jaksa. Melindungi hak asasi manusia dan berlaku seadil-adilnya. Motivasi yang bagus menurut Mi-Cha dan orang-orang. Namun dimata Xiumin, definisi jaksa bukanlah seperti itu. Menurut nya profesi jaksa adalah ajang mencari musuh. Keadilan menjadi kata klise yang hidup di zaman modern ini. “Jangan membuat dirimu dalam bahaya.” Ucapan Xiumin dengan penuh harap gadis itu akan menurut.

Banyak rangkaian kata yang Xiumin lontarkan. Tujuan nya sama, untuk mematahkan keputusan Mi-Cha. Tapi sayangnya gadis itu lebih rela Xiumin melepas nya. Perbedaan pendapat memicu perdebatan. Perdebatan panjang tidak akan menemukan keputusan. Tidak ada alasan untuk mempertahankan suatu hubungan. begitu lah pemikiran Mi-Cha.

Jam 11.30 Jimin sampai dirumah. ia melirik ke pintu kamar kakaknya. Apakah dia sudah tidur? Ah bukan, apakah dia ada dirumah? Jika dia dirumah, sudah pasti dia akan menghadang ku di depan pintu gerbang. Batin Jimin.

“emh… dingin…”

Jimin menyalakan lampu ruang tamu. ia melihat kakaknya meringkuk di sofa. Pria itu ketiduran di sana dan melindur. Jimin menghampiri Kakaknya, lalu menyelimuti tubuh Xiumin dengan selembar kain tebal. “Kau sudah tampak menyedihkan, jangan tambah lagi dengan cara menahan perasaanmu kepada Mi-Cha eonni.” Lirih Jimin sambil memandang wajah Kakaknya yang tengah terlelap. Air wajah orang yang sedang tidur tidak pernah berbohong. Sangat terlihat di setiap guratan wajahnya, jika hatinya sedang kacau. Jimin tau jika kakaknya itu masih sangat mencintai Mi-Cha.

***

Mi-Cha keluar dari taksi dengan memapah Jimin yang setengah sadar. Tapi Mi-Cha bersyukur, gadis itu masih bisa menelfonnya. Saat itu juga Mi-Cha melesat ke bar yang disebutkan Jimin.

“Kenapa dengan Jimin?” Tanya Xiumin yang baru saja keluar dari rumah.

“Aku menemukan adikkmu pingsan di bar, seperti nya dia mabuk berat.”

Xiumin mengambil alih Jimin, ia membopongnya ke kamar.

Oppa…Maaf… hiks…Hiks…” Jimin terisak ketika akan disandarkan di ranjangnya. Ia merengkuh pundak kakaknya dengan erat.

Wae?”

“Sang Wook telah mengkhianati ku. Maaf kan aku…Hiks…Hiks…”

Namja itu yang bersalah, kenapa kau yang meminta maaf ?”

“Maaf karena aku tidak mendengar kan mu.”

***

Xiumin berjalan menuju dapur. Terdengar samar-samar suara alat dapur yang beradu. Mi-Cha masih disini, dirumah Xiumin. Rumah yang sudah ia anggap sebagai rumah keduanya beberapa tahun lalu. Dan kelihatan nya ia masih menganggap nya begitu sampai sekarang. Gadis itu sedang memasak bubur dan minuman hangat. Mi-Cha melakukan nya dengan cekatan, seakan sudah tau seluk beluk perabot dapur dirumah Xiumin.

“Jangan terus berdiri di sana dan  menatapku seperti itu. Aku akan pulang setelah menyelesaikan ini.” Kata Mi-Cha yang sadar gerak-geriknya sedang diawasi. Ada rasa takut yang bersarang dihari Mi-Cha. Ia takut pria itu masih marah padanya.

“Kembalilah padaku…” Ucap Xiumin lugas. Hati nya seakan ingin meledak sampai ia kehilangan akal, lalu mengatakan apa yang harusnya dikatakan beberapa tahun lalu. Xiumin tidak memusingkan segala kemungkinan yang terjadi pada gadis itu. Mungkin dia sudah tidak mencintai nya lagi. Mungkin dia sudah punya pacar. Dan mungkin mungkin lainnya.

“Saat itu harusnya aku bilang akan melindungi mu bukannya melepaskan mu.” Lanjut Xiumin.

Mi-Cha tak menyangka jika pria itu akan mengatakan hal seperti ini. Kakinya melangkah dengan mantap ke arah Xiumin. “Aku selalu berharap kembali kepadamu, walaupun kau tidak mengatakan nya.” Balas Mi-Cha.

~The End~

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s