[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Reveal by ShanShoo

x

ShanShoo’s present

Xiumin . OC

friendship, fluff // ficlet // teenager

-o-

            MINSEOK baru saja meletakkan nampan makan siangnya di atas meja kantin universitasnya, ketika seorang gadis yang napasnya tak begitu teratur duduk berseberangan dengannya. Minseok menghela napas. Dilihat dari ekspresi gadis itu sudah cukup membuatnya mengambil kesimpulan, bahwa dia sedang kesal, marah dan emosinya sedang tinggi. Dan Minseok sempat membayangkan jika kepulan asap hasil emosinya membumbung tinggi di atas kepala, sudah pasti Minseok akan mengambil satu ember air dingin dan mengguyur gadis itu tanpa berpikir dua kali.

Oke, abaikan soal imajinasi itu. Minseok tidak akan pernah bisa melihat kepulan asap―oh, bukannya Minseok sudah melupakan masalah imajinasinya barusan?

“Kau tidak akan memesan?” tanya Minseok sambil duduk di kursinya, sementara pandangan terkunci pada Yoo Heejin yang saat ini tengah duduk dan melipat kedua tangan di depan dada. Minseok mendapati Heejin mendesah panjang, lalu menggeleng sebagai jawaban non verbalnya.

Laki-laki berpostur mungil itu lantas mengangkat kedua bahunya sekilas. Terserah lah, keinginan Heejin memang tidak bisa ia bantah, sekalipun ia adalah teman terdekatnya.

“Kau tidak akan bertanya sesuatu?” akhirnya, Heejin membuka suara, kemudian menangkap tatapan datar dari karibnya. “Yah, sesuatu seperti … ‘bagaimana harimu? Menyenangkan?’” katanya penuh harap, lalu ekspresinya berubah sebal. “Sialan.” Umpatnya pelan.

Belum ada tanggapan yang berarti dari Minseok. Dan, bukan berarti Minseok akan memakan makan siangnya begitu saja, pun mengabaikan Heejin. Ia justru memerhatikan Heejin kemudian melipat tangan di depan dada. Sebenarnya, Heejin tidak perlu bertanya seperti itu padanya. Minseok sudah tahu hal apa yang membuat sosok karibnya ini dirundung perasaan kesal. Lihat bagaimana kerutan dalam di keningnya tercipta, pun bibirnya yang melengkung ke bawah. Suasana hati gadis itu memang sedang tidak baik. Dan penyebabnya tidak pernah jauh dari―

“Kami bertengkar lagi.”

Minseok tak sempat menyelesaikan kalimat di dalam hatinya. Matanya tak lepas memerhatikan Heejin yang kini meletakkan kedua tangan dan kepalanya di atas meja, lantas mengembuskan napas panjang. Sementara itu, Minseok diam mendengarkan.

“Zhang Yixing tak mengizinkanku mengikuti pesta malam yang Son Wendy adakan.” Kata gadis itu lagi. “Dia bilang … pesta malam itu tidak baik, padahal aku ingin sekali mencobanya.”

Penuturan kalimat itu terdengar sendu, namun unsur kekesalan belum menghilang sepenuhnya. Minseok menekan kedua belah bibirnya, lalu menyahut, “Kali ini, aku sependapat dengan Zhang Yixing.”

“Apa?” tak perlu waktu yang lama bagi Heejin untuk mencerna jawaban karibnya. Kepalanya lantas mendongak dan menatap Minseok tak percaya. “Kau bilang apa barusan?”

“Jangan pergi ke pesta malam.” Minseok menyahut santai namun terdengar tegas, berbeda dengan Heejin yang malah memperkeras suaranya. “Pesta malam memang tidak baik untuk kesehatanmu. Bagaimana jika kau mendadak masuk angin lalu muntah-muntah? Mau ditaruh di mana wajahmu sebagai pacarnya Zhang Yixing selaku Laki-laki Paling Ngetop karena Prestasi dan Ketampanannya?” Minseok mengikuti gaya bicara Heejin, kala gadis itu membeberkan segala macam pujiannya pada sosok kekasihnya itu, yang tak lain adalah Zhang Yixing.

Well, kalau boleh jujur, Minseok juga merupakan laki-laki dengan kriteria yang Heejin inginkan. Tetapi, ya, masalahnya, Gadis Yoo itu sama sekali tidak memilihnya. Oh, bukan berarti Minseok ingin Heejin memilihnya daripada Yixing. Lagi pula, Minseok tahu, ada lagi sedikit kelebihan yang tidak ia punya dari Yixing; lesung pipitnya. Heejin selalu lemah kalau melihat lesung pipit seorang laki-laki saat sedang tersenyum.

“Wah, kau sungguh menyebalkan, Minseok.” Heejin mengeluh, tidak menyangka bahwa sekarang Kim Minseok tidak sedang berada di pihaknya, tidak seperti biasanya.

Minseok mengangkat sebelah bahunya. “Dengar, ya, aku sama sekali tidak bermaksud untuk berpihak pada Yixing yang pernah membuatmu menangis karena ‘penyakit’ lupanya yang sering kambuh, tapi karena menurutku, saran yang ia berikan memang benar. Ditambah, kau bukan tipe gadis yang sering keluar malam, benar?”

Heejin diam. Sepenuhnya membenarkan ucapan Minseok walaupun ia tidak menunjukkannya. “Tapi tetap saja, aku ingin mencoba―”

“Sekali tidak, tetap tidak, Yoo Heejin.” Minseok menghela napas panjang. “Bisa tidak, kau dengarkan nasihatku―maksudku, Yixing―sekali saja?”

Bibir gadis itu kembali melengkung ke bawah. Hatinya sedikit sakit sehabis mendapat bentakan dari karibnya. Tapi sedikit banyak, Heejin bisa mengambil pelajarannya dan kembali berpikir: bagaimana jika apa yang dikatakan Yixing dan Minseok benar?

“Oke. Oke. Terima kasih.” Heejin mendengus kesal, lebih kepada dirinya sendiri. “Kalau begitu, saat Wendy menyelenggarakan pesta malam di rumahnya, aku ingin kau menemaniku di rumah.”

“Tidak masalah.” Minseok tersenyum, dan Heejin mencoba untuk membalasnya. Perihal ia yang menemani gadis itu di rumahnya saat malam hari bukanlah perkara biasa. Ia memang sering berada di sana, bahkan sampai menginap dan tidur di kamar tamu. Hal itu tentu saja karena ia mendapat kepercayaan dari pasangan Yoo untuk menjaga Heejin. Terlebih, mereka juga sudah menjalin persahabatan itu selama lebih dari enam tahun lamanya. Itu bukan waktu yang sebentar, bukan?

“Omong-omong, Minseok, kau tidak akan memakan makan siangmu?” tanya Heejin sambil melihat nampan makan siang Minseok. Semangkuk nasi dan sup ayam kini sudah tak mengepulkan asap lagi, tetapi Heejin yakin, dua makanan kesukaan mereka tetap akan terasa enak di lidah.

“Oh, kau mau?” Minseok menatap nampannya sekilas. “Ambillah.” Katanya, lantas mendorong pelan nampan itu ke hadapan Heejin, membuat gadis itu tercengang.

“Kenapa kau memberikannya? Aku juga punya jatah―”

“Berikan jatahmu nanti, saat aku benar-benar kelaparan dan ketika satu nampan makan siang tak cukup untukku.” Potong Minseok cepat. “Sudahlah, makan saja. Aku tahu, kau belum mengisi perutmu sedari pagi.”

Mendengarnya, Heejin terkekeh. Minseok memang karibnya yang paling mengerti. Maka, tak salah apabila Heejin selalu menghabiskan waktunya bersama laki-laki berwajah menggemaskan itu sepanjang hari, sambil diisi dengan curhatan hatinya tentang Zhang Yixing―meski ia tahu, Minseok cukup bosan untuk terus menanggapi hal yang sama.

“Kim Minseok.”

“Apa?”

Manik mereka bertemu. “Aku ingin es krim rasa cokelat, ya?”

“Ap―ya, ya, baiklah.”

“Traktir, kan?”

“Iya.”

-end

ShanShoo’s note :

  • Firstly first, ff birthday ini dibuat ketika aku lagi dilanda webe (writer’s block) juga kesibukan nyusun tugas akhir :”)
  • Tapi, aku juga pengen banget ikut ngerayain ultahnya mas Minseok di sini, bareng sama penulis dan pembaca :””
  • Maapkeun kalau ffnya gak jelas begini, kalau udah kena webe mah ngetik aja bingung(?) :”D
  • Ohiya, bagi yang punya akun wattpad, mampir dan follow, ya? Sekalian menjelajahi beberapa karya aku yang kuposting di sana juga x) ini user-nya @ikhsaniaty (tinggal klik) ^^
  • Last but not least, makasih buat kalian yang udah baca ff ini sampe akhir dengan selamat sentosa(?) wkwkwk
  • Kritik dan saran diterima bangeeet
  • And, happy birthday, Xiumin! ❤

Tertanda,

Hanbin’s wife

Iklan

3 pemikiran pada “[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Reveal by ShanShoo

  1. Aduuh, pengen deh punya temen kaya bang umin. Udah mah ganteng, baik, imut, ngerti sama perasaan sahabatnya lagi. Umin mah tipe ideal cowo atau sahabat aty/gak nanya//curhat/ 😀 😀 , kak, maaf ya, aty telat komen 😥 😥 sori sori bingit

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s