[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HONGDAE (2) — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

MELODRAMA in Hongdae   ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO`s Xiumin

Special appearance EXO’s Baekhyun, D.O. & anneandreas`s OC Reen

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH ft. anneandreas

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Xiumin of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Jung-gu (2) [Kai]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

“Dimana mereka akan menemuimu?”

Sebuah tanya Jia-yi utarakan begitu dilihatnya Kyungsoo dan Alessa keluar dari telepon boks yang ada di pinggir jalan. Dua orang itu saling melempar pandang, sejenak sebelum kemudian Alessa buka mulut.

“Hongdae. Di dekat sekolah dasar tempatku dulu.” ujarnya.

Jia-yi kemudian mengangguk-angguk paham. “Dimana tempat itu? Apakah jauh dari sini? Keadaan kita mengerikan, dan aku tidak suka karena orang-orang terus menatapku seolah aku baru saja membunuh seseorang.” Jia-yi menuturkan.

Well, mereka sudah sampai di pemukiman, dan sudah jelas bekas darah juga kotoran lain yang mengotori pakaian Jia-yi jadi spotlight orang-orang. Keadaan Kyungsoo dan Alessa sendiri sudah serupa dengan gembel-gembel yang berpakaian mewah hasil menemukan pakaian di tempat sampah.

Keadaan mereka memang mengerikan. Tapi orang-orang tentu tidak tahu kalau mereka adalah tiga orang yang semalam berusaha menyelamatkan diri dari kehancuran bumi yang berusaha menelan mereka untuk ikut serta dan hancur juga.

“Salah satu toko pakaian milik perusahaan kami ada di dekat sini. Kita bisa singgah di sana sebentar untuk berganti pakaian.” Alessa menawarkan bantuan.

“Kau tidak perlu uang untuk mendapatkan pakaian?” tanya Jia-yi kemudian.

Sebuah tawa lolos dari bibir Kyungsoo sebagai jawaban.

“Tentu saja dia tidak butuh uang. Toko itu ada karena uang dari perusahaan Ayahnya.” komentar Kyungsoo, seolah paham benar tentang kehidupan Alessa.

Ekspresi Alessa sendiri tampak terkejut. Well, agaknya gadis itu tidak menduga kalau Kyungsoo akan ikut berkomentar. Hal itu membuat Jia-yi menduga-duga, apa benar mereka sedang ada di hubungan khusus? Sedangkan salah satu dari mereka terlihat tidak tahu apa-apa.

Hey, aku tidak pernah memberitahumu itu.” Alessa berkomentar.

Kyungsoo mengangkat bahu acuh. “Kau sudah tahu siapa aku. Sudah jelas juga dairmana aku tahu tentangmu bukan, Al?” tanyanya dengan menyunggingkan sebuah tawa kecil di sela-sela penjelasannya.

Alessa kemudian merengut.

“Aku tidak pernah bercita-cita untuk menyukai seorang dari Korea Utara.” komentarnya ketus membuat Jia-yi membulatkan mata. Pasalnya, reaksi terkejut Kyungsoo tidak kalah aneh.

“Kau menyukaiku?”

Oh, Tuhan. Sekarang rasanya Jia-yi mual. Dua orang di hadapannya bisa ia pastikan selama ini selalu bersikap saling tidak menyukai, atau mungkin hanya salah satunya saja yang sibuk mengejar-ngejar yang lain sementara pasangannya cuek-cuek saja.

Tapi sekarang mengapa mereka justru terlihat begitu kekanak-kanakkan?

“Sudahlah, kalian berdua. Sampai kapan kalian ingin berdebat?”

Alessa segera buang muka. Rengutannya malah tertuju pada Jia-yi yang baru saja menginterupsi perdebatannya dengan Kyungsoo.

“Ayo, kita jalan kaki ke sana karena kita sudah tidak punya uang.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Habisi mereka.”

Helaan nafas panjang terdengar lolos dari bibir Kyungsoo. Dipandanginya Jia-yi yang sekarang berdiri dengan sepasang pandang sarat akan kekhawatiran.

“Kalau tahu akan berakhir dengan sebuah keributan kecil, kita tidak seharusnya berbelanja tadi, Jia-yi-ssi.” ujar Kyungsoo berusaha memulai sebuah candaan.

Agaknya, Kyungsoo paham benar kalau Jia-yi tahu apa yang akan segera terjadi di sini. Tatapan Kyungsoo sekarang tertuju pada Reen—yang berdiri menyandarkan tubuh di bawah sebuah pohon dengan tangan terlipat di depan dada—sementara dia melihat jelas bagaimana dua buah senjata api terselip di pinggang masing-masing bodyguard yang ada di hadapannya.

“Aku tahu darimana kalian berasal, di mana kalian bekerja, jadi kupikir kalian bukan saingan yang tepat untukku.” ujar Kyungsoo. Well, jangan remehkan bagaimana Kyungsoo terlihat, meski dia sering dikira sebagai mahasiswa—atau parahnya lagi, murid sekolah menengah—tapi pria itu sudah begitu sering membunuh orang.

“Kau bicara seperti itu seolah bisa mengalahkan mereka saja, Tuan.” Reen berucap sinis, jelas sudah dalam pandangan wanita itu, dengan tubuh seperti itu—mungil, dalam pandangan Reen—mana mungkin dia mampu—

BUGK!

Akh!”

well, dugaan Reen rupanya salah.

“Mundur, Jia-yi. Dan tangkap apapun yang kulemparkan padamu.” Kyungsoo memerintahkan. Dan dengan patuh, Jia-yi membawa tungkainya untuk mundur beberapa langkah.

Tidak mudah, memang, bagi Kyungsoo untuk menghindari pukulan-pukulan dari pria bertubuh besar dan terlatih di hadapannya. Beberapa kali pria itu bahkan terkena pukulan yang membuatnya terjerembap ke tanah.

Tapi, bukan Kyungsoo namanya kalau dia tidak berbuat tanpa strategi. Terbukti dengan bagaimana jemari cekatannya berhasil menarik dua buah senjata api milik bodyguard tersebut dan melemparkannya ke arah Jia-yi.

“Tangkap!” serunya, sementara secepat kilat dia meraih dua senjata api lainnya yang masih tersisa di tubuh dua pria itu. Secepat kilat, Kyungsoo menjatuhkan tubuh tidak jauh dari tempat kedua pria itu berdiri, sebelum ia bangkit dan menodongkan dua senjata api itu.

“Kenapa kau melakukan hal ini, Reen-ssi?” tanya Kyungsoo tanpa mengalihkan pandang. Reen sendiri berdiri takjub, tidak disangkanya jika dua orang terlatih itu bisa begitu saja dikelabui oleh Kyungsoo.

“Kalian berdua tidak pantas hidup.” Reen berucap sarkatis.

DOR!

Satu tembakan Kyungsoo sarangkan di dahi bodyguard yang ada di hadapannya, sebelum suara ‘dor’ lainnya terdengar diikuti dengan tumbangnya dua orang bertubuh kekar tersebut.

Jia-yi sendiri berdiri dengan mata melebar, sungguh tidak menyangka jika akan terjadi pembunuhan secara langsung di depan mata, gadis itu sekarang gemetar ketakutan. Sungguh, dia sadar benar kalau pria yang berdiri di hadapannya sekarang adalah seorang pembunuh.

“Apa yang kau la—”

DOR!

“Tidak!”

Jia-yi memekik cukup keras saat melihat tubuh Reen ambruk begitu saja di tanah. Sementara Kyungsoo mendengus cukup kasar.

“Sialan, wanita itu bahkan tidak terkena apapun tapi dia jatuh seolah aku menembak jantungnya.” gumaman pria itu terdengar cukup jelas di telinga Jia-yi.

“Kau gila!?” teriak Jia-yi kemudian membuat Kyungsoo menatap ke arahnya.

“Mengapa? Mereka mencoba untuk membunuh kita.” komentar pria itu enteng.

“Tapi wanita itu tidak mencoba untuk membunuhmu!” Jia-yi berucap panik, ia lemparkan dua senjata yang ada di tangannya ke arah Kyungsoo—yang menangkap dua benda itu dengan santai sementara netranya memperhatikan kemana Jia-yi sekarang bergerak.

“Aku tidak benar-benar menembaknya, dia mungkin pingsan karena shock saja. Aku hanya sedikit menggores kulitnya.” komentar Kyungsoo santai, pria itu kemudian bergerak membuka satu persatu saku pakaian dua orang bodyguard yang sudah ambruk—mengingat ia tidak perlu khawatir pada CCTV karena Hongdae adalah salah satu titik evakuasi kemarin.

“Masih beruntung dia bernafas.” lagi-lagi Kyungsoo berkomentar saat dilihatnya Jia-yi sibuk dengan obat-obatan dan bahkan, gadis itu dengan cekatan merawat luka kecil yang sudah Kyungsoo tinggalkan di permukaan kulit wanita itu.

“Kalau kau sudah selesai dengan pekerjaanmu, aku akan membawa kita pergi dari tempat ini dengan cara lebih cepat.”

“Apa maksudmu?” tanya Jia-yi sementara dia sekarang tengah memasang sebuah plester di lengan kiri Reen—lengan yang memang benar-benar tergores karena peluru yang Kyungsoo ‘lewatkan’ di sana.

Kyungsoo menunjukkan sebuah kunci mobil di tangan.

“Dari awal mereka berencana untuk membunuh kita, entah apa alasannya. Kita bisa gunakan mobil yang mereka sembunyikan untuk pergi dari tempat ini.” Kyungsoo mengusulkan.

Jia-yi sendiri tampak ogah-ogahan. Dia sudah cukup trauma—dan sekarang bahkan merasa takut—untuk berada di dekat Kyungsoo. Karena jelas saja dia tahu kalau pria itu adalah seorang pembunuh—setidaknya label itu kembali melekat pada diri Kyungsoo beberapa menit lalu.

“Kenapa kau berdiam di sana? Jangan katakan, kalau kau tidak tahu hal-hal semacam ini akan kita hadapi karena perjalanan ini, Nona.” Kyungsoo berucap enteng, ia kemudian menekan sebuah tombol yang ada di kunci mobil tersebut, dan kedipan lampu di kejauhan membuatnya tersenyum puas.

“Konyol sekali, bagaimana mereka berusaha membunuh seorang mantan pembunuh ulung benar-benar menggelikan. Untung saja Alessa tidak ada di sini dan melihatnya.”

Untung? Duh, Jia-yi rasanya ingin tertawa sekarang. Ada atau tidak ada Alessa di sini, gadis itu pasti tahu benar apa yang terjadi. Sudah jelas bahwa Kyungsoo adalah seorang agen dari Korea Utara yang membelot, dan sudah jelas pula bagaimana kehidupan pria itu sebelumnya.

Mana bisa Jia-yi berpikir kalau Alessa sekarang santai-santai saja?

“Tunggu di sini, Nona. Aku akan bawa sebuah mobil ke sini.”

Baru saja Kyungsoo hendak melangkah pergi, tiba-tiba saja bumi bergetar. Sontak, Jia-yi memekik. Ini bukan pertama atau kedua kalinya bagi gadis itu, sehingga jeritan ketakutan pun hanya sekedar jeritan saja.

Dia sudah bisa bertahan dengan cara lebih baik.

“Jia-yi!” Kyungsoo berteriak.

“Cepat bawa mobilnya!” Jia-yi balik berteriak. Gadis itu sekuat tenaga melingkarkan lengan kirinya di pinggang Reen sementara dia berpegangan pada pohon berdiameter kecil yang jadi sandarannya sejak tadi.

Pohon bukan sandaran yang aman, pikirnya. Akhirnya, Jia-yi menyeret langkah, menjauh dari gedung-gedung yang ada di sekitarnya karena dia sekarang tahu, bumi cenderung ingin menelan gedung-gedung ketimbang jalan raya.

Tanah yang terbelah kini tak lagi jadi adegan mengerikan bagi Jia-yi. Mental gadis itu sudah cukup kuat hingga jika sekarang dia bisa disuruh memilih, melarikan diri atau mengabadikan momen, mungkin dia akan memilih untuk mengaktifkan mode selfie kamera ponselnya dan mengabadikan bagaimana dia bisa tertawa begitu bangga di depan salah satu celah menganga yang tengah menelan bangunan di sana.

Jia-yi tidak lagi takut. Tapi keadaan wanita yang bersama dengannya lah yang membuatnya khawatir. Jia-yi bisa saja berlari tak tentu arah jika dia sendirian, tapi bagaimana dengan wanita yang masih tidak sadarkan diri ini?

“Kyungsoo! Cepatlah!” lagi-lagi Jia-yi berteriak. Gadis itu lelah, dan kelaparan, sehingga dibebani oleh tubuh Reen sekarang tidak terasa semudah keadaannya semalam saat dibebani tubuh Baekhyun.

Teriakan terdengar dari arah mobil Kyungsoo datang. Rupanya, mereka tidak sendirian. Sudut-sudut taman di Hongdae mulai berubah menjadi kolam tanah dan longsor, semua orang berusaha berlari dari sana, tapi Kyungsoo justru mendatangi bahaya.

Dia tahu, beberapa puluh meter di depan sana, seseorang tengah berusaha menyelamatkan nyawanya dan nyawa orang lain untuk kedua kalinya.

“Tidak!” sempat Jia-yi memekik saat dilihatnya tubuh dua orang bodyguard itu tertelan sinkhole, sementara dirinya dengan kepayahan menarik tubuh Reen menuju arah mobil Kyungsoo berada.

Pria yang berada di balik kemudi itu juga agaknya tidak mau mengambil resiko dengan menaruh satu-satunya kendaraan yang mereka miliki dekat dengan sinkhole. Jadi, dia hentikan mobilnya di tanah lapang, kemudian keluar berlari dari mobil dan mengambil alih tubuh Reen.

“Cepat lari ke mobil!” perintahnya pada Jia-yi.

Sekarang, dengan dramatis keduanya berusaha berlari ke mobil—dengan Reen yang telah berpindah ke gendongan Kyungsoo.

Paham dengan tindakan Kyungsoo, Jia-yi segera membuka pintu penumpang mobil dan memberi celah bagi Kyungsoo untuk masuk. Dengan cepat, Kyungsoo hempaskan tubuh Reen ke kursi belakang dan ia tutup pintunya.

Dan saat pria itu duduk di kursi kemudi, Jia-yi sudah duduk dengan seatbelt terpasang di sebelahnya.

“Kau cepat juga,” sempat Kyungsoo berkomentar.

“Apa yang kau lakukan?” ucap Jia-yi menanggapi candaan Kyungsoo.

Tanpa bicara apapun, Kyungsoo menjalankan mobilnya. Kendaraan berwarna hitam itu baru saja akan bergerak mundur saat getaran bumi berhenti begitu saja.

“Sialan,” umpat Kyungsoo menyadari bahwa mereka telah terlepas dari menit mengerikan yang bisa saja membuat nyawa dijemput malaikat maut, “apa bumi sedang mempermainkan kita?” sambung pria itu.

“Tidak. Ini tidak benar. Cepat bawa mobil ini pergi.” Jia-yi mengomando.

“Apa? Mengapa?” tanya Kyungsoo, tapi toh dia ikuti juga ucapan gadis itu, dengan cepat ia membawa mobil mundur dan menjauh.

Tak lama, lagi-lagi bumi bergetar, kali ini lebih mengerikan karena saat jarak mereka sudah cukup jauh, getaran itu masih terasa dan mengganggu jalanan, bahkan membuat jalanan retak.

“Sudah kuduga ada yang tidak beres.” Jia-yi berkomentar.

“Apa maksudmu?” tanya Kyungsoo sembari mengendarai mobilnya menghindari orang-orang yang berlarian panik di luar sana.

“Aku sudah menghitungnya. Sejak dua gempa terakhir. Gempa ini sangat aneh. Getarannya membutuhkan waktu sekitar satu sampai dua menit untuk menghancurkan satu wilayah dan memunculkan dua atau tiga sinkhole itu.

“Selalu dua atau tiga. Jika getarannya berhenti, akan ada selang waktu sekitar setengah menit sampai satu menit. Saat aku di Namdaemun, hal seperti itu yang terjadi. Gempa terhenti sebentar, dan kemudian terjadi gempa lain yang lebih mengerikan.

“Tapi… ada yang aneh. Bukankah seharusnya sekarang negaramu sedang berada di dalam tahap evakuasi? Tapi kenapa… mereka masih menayangkan iklan di megatron? Mengapa kegiatan sehari-hari berjalan seolah tidak ada yang salah?”

Penuturan Jia-yi membuat Kyungsoo terdiam.

“Kau benar. Rasanya aneh, saat kita ada di Jung-gu. Melihat bagaimana tidak ada korban nyawa di sana—atau ada, segelintir orang tapi kita tidak tahu karena sibuk menyelamatkan diri sendiri—rasanya seolah gempa ini sudah diprediksi.” komentar Kyungsoo.

Jia-yi mengangguk-angguk mengiyakan.

“Namdaemun…” gumaman terdengar lolos dari bibir wanita yang terbaring di kursi penumpang. Vokalnya berhasil mengalihkan perhatian Kyungsoo dan juga Jia-yi.

“Ada apa dengan Namdaemun?” tanya Jia-yi membuat Kyungsoo mengukir sebuah senyum kecil.

Sekon kemudian, ia aktifkan maps di mobil, mengetuk Namdaemun di sana dan ia lemparkan sebuah senyum penuh arti pada Jia-yi.

“Siapa yang tahu? Kita bawa saja dia ke tempat yang ia inginkan.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Alessa katakan, adikmu mungkin ada Songpa-gu.”

Kantuk yang sedari tadi menggoda Jia-yi untuk membuat gadis itu merebahkan diri dan terlelap di kursi penumpang kini tiba-tiba saja hilang. Baru saja, Kyungsoo mengucapkan sebuah kalimat yang menyebut nama adiknya.

“Adikku?” ulang Jia-yi.

“Ya.” Kyungsoo mengangguk.

“Mengapa kau baru mengatakannya?” tanya Jia-yi dengan nada tak percaya.

“Karena kupikir memberitahumu terlalu cepat akan membuatmu tergesa-gesa mengambil keputusan. Alessa adalah salah satu relawan dalam penanganan bencana ini—kuketahui itu dini hari tadi saat kami bicara—dan dia mengenal seorang bernama Jin-yi. Setidaknya, dia tahu gadis itu ada di tempat yang sama dengannya.”

“Lalu kemana adikku pergi?” Jia-yi kini bicara menuntut penjelasan.

Well, Alessa juga tidak tahu. Mereka masih bersama sampai panggilan-panggilan darurat terdengar. Alessa pikir, adikmu mungkin benar-benar ada di Jung-gu saat kita mencarinya.”

“Dan mengapa gadis itu bicara seola ia mengenal baik adikku?” tuntut Jia-yi.

“Setidaknya mereka sempat bicara. Menurut Alessa, Jin-yi mengatakan sesuatu tentang Songpa-gu, jadi dia pikir gadis itu mungkin ada di sana sekarang.”

Jia-yi menarik dan menghembuskan nafas secara teratur. Jangan paksa gadis itu untuk memahami makna tersembunyi di balik penjelasan Kyungsoo sekarang. Karena dia sendiri sudah merasa panik.

Bagaimana tidak, nyawa adiknya lagi-lagi mengambang di tengah bahaya, dan Jia-yi tidak bisa berbuat apa-apa. Sungguh, dia merasa seperti orang bodoh.

“Apa kita tidak akan pergi ke Songpa-gu?” tanya Jia-yi sejurus kemudian.

Kyungsoo tersenyum tipis. “Kita akan ke sana, Nona. Setelah misteri di Namdaemun kita selesaikan. Sudah kukatakan kalau aku akan menepati janji, bukan? Mana bisa aku kembali da menemui Chanyeol jika aku tidak menyelesaikan tugasku?”

Chanyeol? Ah… rasanya sudah berbulan-bulan berlalu semenjak terakhir kali Jia-yi mengingat eksistensi pria itu padahal baru dua hari berlalu. Mengapa waktu jadi terasa melambat saat Jia-yi ada di situasi yang tidak dimengertinya ini?

“Kita akan benar-benar menemukan adikku bukan, Kyungsoo?”

“Tentu saja, aku sudah berjanji pada Chanyeol untuk membawamu menemui Jin-yi meski nyawaku jadi taruhannya. Aku adalah seorang pembelot yang hidup dengan mempertaruhkan nyawa, ingat?”

Mendengar ucapan Kyungsoo, kurva kecil akhirnya bisa muncul di wajah Jia-yi. Setidaknya, gadis itu tahu dia tidak sendiri, saat ini. Dia tidak bisa menduga apa yang kemudian akan terjadi, bukan?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Pikiran Minseok sekarang tidak bisa tenang. Hari sudah hampir gelap, dan wanita-nya masih belum kembali juga. Alessa—putri tunggal Tuan Cho yang jadi tempatnya bekerja—sudah kembali sejak beberapa jam lalu, tanpa luka sedikit pun, tapi wanita-nya tak kunjung kembali.

“Pasti terjadi sesuatu yang tidak beres.” Minseok menyimpulkan.

Tak mungkin ada asap jika tidak ada api, pikirnya. Sekarang, absennya Reen dari barisan sekertaris yang dipekerjakan Tuan Cho adalah sebuah bukti bahwa sesuatu yang salah telah terjadi.

Minseok juga tak punya kesempatan untuk bicara pada Alessa, satu-satunya kesempatan adalah menelepon dua orang yang bersama Reen, dan menelepon wanita itu sendiri. Tapi ponsel tiga orang itu tidak bisa ia hubungi.

Lengkap sudah alasan Minseok untuk menyusul wanita-nya ke tempat ia tadi bertemu dengan beberapa orang asing dan mengirim Alessa pulang.

“Aku tidak bisa diam dan menunggu perintah.” akhirnya Minseok memutuskan, pria itu kemudian menyelinap keluar dari ruangan tempat ia sedari tadi mengurung diri. Diraihnya kunci mobil yang ada di meja sebelum ia mengenakan mantelnya dan berlari keluar dari gedung megah yang jadi tempat tinggal Tuan Cho sekaligus persembunyian bagi semua orang-orang yang bekerja untuk pria itu.

Deru mobil terdengar begitu Minseok masuk ke dalam mobilnya. Pria itu kemudian menatap ke arah secarik kertas yang ada di dasbor mobilnya.

Tae-Hu Plaza, Namdaemun’

Tulisan Reen. Dia yakin benar tulisan tangan itu adalah milik Reen, wanita yang tengah dicarinya. Tapi kapan? Kapan wanita itu menaruh coretan kecil di sana? Seingat Minseok, dia baru saja datang dari tugasnya saat kemudian perdebatan kecil terjadi antara dirinya dan Reen, sebelum wanita itu kemudian keluar dari kediaman Tuan Cho dan pergi.

“Namdaemun…” Minseok melirik ke arah kursi penumpang di sampingnya, sebuah revolver sudah bertengger manis di sana, siap untuk menjadi partner pria itu untuk menemukan Reen dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada si wanita.

“Tunggu aku di Namdaemun, Reen-ah.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hari mulai gelap ketika Reen mendapatkan kesadarannya kembali, ia mengerjapkan matanya pelan, melenguh sesaat akibat nyeri yang masih terasa di salah satu lengannya yang terkena peluru Kyungsoo. Reen sungguh tidak menyangka lelaki yang ia remehkan itu bisa menghabisi begitu saja dua orang bodyguard Tuan Cho yang terkenal sadis. Ia lebih tidak menyangka dirinya yang seharusnya sudah pulang kembali ke markas justru terlihat menyedihkan dengan dua tangan terikat di jok belakang mobilnya sendiri, untung saja mulutnya tak disumpal.

“Kau sudah bangun, Nona Pembunuh?” Kyungsoo yang menyadari bahwa Reen sudah sadar angkat bicara.

Reen melengos, namun dalam hatinya ia sedikit bersyukur laki-laki itu tidak menembaknya tepat di dahi seperti yang ia lakukan pada dua bodyguard Tuan Cho. “Pergi kemana kita?” tanya Reen kemudian, nada suaranya melemah. Ia jelas tahu bahwa ia sedang menjadi sandera sekarang.

“Ke Namdaemun. Dan kita sudah nyaris sampai di sana.” jawab Kyungsoo sambil menyunggingkan senyum sinis, membuat Reen menoleh ke jendela untuk mendapati mobilnya memang dibawa ke arah Namdaemun, terlihat dari suasana bekas bencana alam yang terpampang di luar mobilnya.

“Kenapa kita ke sana?” tanya Reen, sejenak wajahnya berubah panik dan berusaha meronta melepaskan ikatan tangannya.

“Reen-ssi. Kau seharusnya tidak bergerak terlalu banyak, kau masih terluka.” kali ini suara Jia-yi mendominasi, membuat Reen terdiam. Namun diam-diam Reen merasa tenang, entah dari mana ia yakin kedua manusia ini tidak berniat membunuhnya.

“Sebenarnya, mengapa kau hendak membunuh kami?” kali ini suara Jia-yi lagi, sementara Kyungsoo berpura tidak peduli namun tetap menjaga pendengarannya dengan baik.

“Sudah kubilang, karena kalian terlalu banyak mengetahui rahasia negara.” jawab Reen sambil mendengus.

“Tapi rahasia apa—” Jia-yi menghentikan kalimatnya tiba-tiba lalu ia memandang lekat-lekat pada Kyungsoo yang masih mengemudi tampak tak peduli. “—Kyungsoo-ssi, apakah rahasia yang disebut-sebut wanita ini ada hubungannya dengan gempa-gempa aneh yang kita alami? Gempa yang kubilang tampak sudah diprediksi?” Jia-yi masih menatap Kyungsoo yang kini tampak berpikir, sementara Reen yang ada di kursi belakang mengulum senyum penuh arti.

“Apa benar begitu?” tanya Jia-yi lagi, ia sungguh tak bisa menahan rasa penasarannya saat ini. Bahkan Kyungsoo ikut menoleh sesekali ke tempat Reen duduk.

“Kau cukup pandai rupanya. Ya, seperti yang kalian duga, begitulah.” jawab Reen, berusaha terlihat santai.

“Tapi, kenapa? Apa tujuannya?” tanya Jia-yi lagi.

“Mengapa aku harus menjawab pertanyaanmu? Apakah ini sesi wawancara pribadiku?” Reen melengos, membuat kali ini Kyungsoo mendengus kasar lalu angkat bicara, “Karena mungkin saja kau akan mati jika tak menjawab pertanyaan kami.” jawabnya kasar, Reen menelan ludah lalu berdeham kasar. “Tujuannya tentu saja untuk mengurangi jumlah masyarakat yang tidak berguna dan hanya menghabiskan pasokan oksigen di negara kita.”

Jia-yi menganga mendengar jawaban Reen, sementara Kyungsoo jelas-jelas mengumpat, “Kalian yang tidak berguna, sampah!”

Reen terkejut mendengar umpatan Kyungsoo, ia pun kembali menahan dirinya. Bagaimanapun juga laki-laki yang tampak tidak akan membunuhnya ini nyatanya adalah seorang pembunuh.

“Jadi apakah gempa itu benar sudah direncanakan?” tanya Jia-yi lagi, ia tidak peduli dengan mimik wajah Reen yang sangat terlihat tidak nyaman. Pun gadis itu hanya mengangguk seadanya guna menjawab pertanyaan Jia-yi.

“Bagaimana caranya?” kali ini ganti Kyungsoo yang bertanya, rupanya laki-laki itu melihat anggukan Reen lewat cermin yang ada di dalam mobil.

“Tiga tahun lalu, saat mereka katakan mereka akan memasang fiber-optic bawah tanah untuk kelancaran komunikasi. Mereka telah menanam bom berantai di beberapa tempat, menunggu waktu sampai pemiliknya mengaktifkan masing-masing bom tersebut dan yah… kau tahu apa yang kemudian terjadi.” jawab Reen dengan nada yang sedikit tertahan.

“Siapa dalangnya?” tanya Kyungsoo lagi, kali ini dengan nada memerintah.

“Aku tidak akan memberitahu kalian.” jawab Reen.

Kyungsoo baru hendak mendebat wanita sandera yang masih terikat di jok belakang mobilnya itu ketika tiba-tiba cahaya lampu mobilnya menyorot sebuah kendaraan lain yang terbentang menghalangi jalan raya dan seorang laki-laki yang berdiri di depannya. Mendadak Kyungsoo menginjak pedal rem membuat mobil mereka berdecit keras.

Kyungsoo pun tersulut emosi karena siapapun manusia tidak tahu diri yang memarkirkan mobilnya di tengah jalan seperti itu. Ia lantas melepas seatbeltnya dengan kasar, pun Jia-yi menyusul tidak lama kemudian. Sedangkan Reen dengan kondisi tangan yang masih terikat berusaha melihat orang yang dimaksud Kyungsoo disela-sela cahaya menyilaukan, hingga akhirnya bayangan seseorang itu tertangkap oleh mata Reen dan ia menggumam.

“Minseok?”

“Kau mengenalnya?” pertanyaan Jia-yi segera menyambut, sementara Kyungsoo sendiri hanya melempar pandang sekilas, manik bulatnya mengawasi langkah pria bernama Minseok tersebut—yang kini melangkah mendekati mobilnya—sementara jemari Kyungsoo segera bergerak menekan tombol ‘lock’ di dekat pintu.

Minseok sendiri, agaknya sudah tahu tentang pertahanan konyol yang tengah rivalnya bangun sekarang. Ia lantas membungkukkan badan, menyejajarkan tinggi badannya dengan kaca mobil sementara netranya mengelana, berusaha menemukan sosok yang dicarinya.

Ketika ia temukan bayangan samar wanita yang terikat di kursi belakang, Minseok segera menghembuskan nafas panjang.

TOK! TOK!

Pria itu mengetuk kaca jendela di sisi Kyungsoo.

“Biarkan aku bicara padanya.” Reen berucap.

“Kau sengaja membawa kami padanya.” Kyungsoo menyahuti.

“Apa?” Reen menatap tak mengerti. Ia merasa bahwa dirinya sekarang tengah jadi korban, tapi mengapa pria yang menyanderanya justru berkata bahwa dia tengah—

“Kau pasti cukup sadar saat mengatakan Namdaemun pada kami.” Kyungsoo berkata, ia lepaskan seatbeltnya sementara pandangannya bersarang pada Jia-yi. “Aku tahu kau mungkin tidak pandai bela diri. Tapi wanita di belakangmu adalah wanita yang sangat berbahaya jadi sebaiknya kau kunci pintu mobil ini setelah aku keluar.”

“Kau akan keluar? Menemuinya? Untuk apa?” Jia-yi bertanya dengan nada menuntut.

Well, sekarang mereka tengah diuntungkan. Menurut Jia-yi, pria di luar sana mungkin tidak membawa senjata apa-apa. Minimal, dia tidak membawa bom atau granat, atau bahan-bahan peledak sejenisnya yang bisa membuat mereka mati seketika.

Tapi mengapa Kyungsoo justru berniat menemuinya?

“Pembicaraan man to man, Nona. Kunci pintu ini setelah aku keluar.” Kyungsoo berucap. Sekon kemudian dia bergerak membuka pintu di sebelahnya, begitu cepat hingga Jia-yi bahkan belum mengedipkan mata saat pintu itu sudah kembali tertutup.

Lekas, Jia-yi menekan tombol yang tadi Kyungsoo tekan. Bunyi ‘klik’ cukup keras terdengar menyapa, sementara dia dan Reen sama-sama larut dalam kediaman. Pandang Reen sendiri tertuju pada dua pria di luar sana, yang salah satunya jelas dia pedulikan.

“Mereka tidak akan saling membunuh, bukan?” Jia-yi tiba-tiba saja bertanya. Pertanyaan yang sebenarnya terdengar konyol bagi Reen karena dalam pendengarannya, gadis Wang itu tengah berusaha bersikap ‘dekat’ dengannya.

“Tidak, tidak mungkin.” apa boleh buat, Reen jawab juga pertanyaan konyol itu.

“Mereka bicara,” Jia-yi menggumam, ia lemparkan sebuah lirikan pada Reen sebelum akhirnya ia hembuskan nafas panjang, “kurasa kita juga perlu bicara.” sambungnya membuat Reen mengalihkan pandang dari konversasi di luar sana.

“Apa maksudmu?”

Jia-yi, terdiam sejenak. “Aku tidak datang ke negara ini hanya untuk menyaksikan bagaimana buminya dihancurkan, Reen-ssi. Bisa kukatakan, aku separuhnya tidak peduli, pada apa yang terjadi di negara ini, tapi separuh dariku ingin menghentikannya.

“Adikku ada di sini, dan aku masih belum tahu apa dia masih hidup… atau sudah di telan sinkhole yang muncul selama beberapa hari berturut-turut. Kau katakan, kalau semua ini hanya bagian dari rencana negara.

“Tapi sepengetahuanku, negaraku, dan Rusia lah yang punya rencana untuk menghancurkan Korea Selatan.”

Penuturan Jia-yi sekarang membuat Reen terkesiap. Tidak disangkanya, gadis ini ternyata tidak sekedar tahu rahasia kecil yang mungkin dicuri-dengarnya dari Alessa, atau diketahuinya dari Kyungsoo.

“Seberapa banyak yang kau ketahui?” tanya Reen kemudian.

“Tergantung, berapa banyak yang bisa kau beritahukan padaku?” Jia-yi balik bertanya—tidak. Ia memberi sebuah penawaran. Lantaran tahu benar wanita di hadapannya tidaklah bodoh dan tidak pula Jia-yi mudah untuk ia bodohi.

Keduanya sama-sama punya kartu As di tangan, tinggal memilih untuk melemparnya, atau memilih pass untuk kemudian mengeluarkan As tersebut di saat yang tepat.

“Rusia tidak terlibat.” Reen memulai penuturannya. “Sama sekali tidak terlibat, malah. Yang terlibat adalah orang-orang mereka yang haus akan uang. Beberapa orang yang tidak mendapat tempat di pemerintahan sehingga menipu negara lain untuk bekerja sama dengan mereka.

“China adalah salah satunya. Rusia mengajak negara bambu itu untuk bekerja sama dalam menyelundupkan senjata api dan bahan peledak ke Semenanjung Korea. Mengatas namakan Korea Utara untuk menyamarkan maksud sesungguhnya dari kerjasama mereka.

“Korea Selatan, adalah dalang di balik bencana ini, Nona. Ledakan ini, adalah ledakan yang direncanakan pemerintah sebagai cara untuk mengurangi populasi penduduk sekaligus cara untuk mendapatkan suara rakyat yang tersisa dan menjadikan ‘orang pilihan’ mereka duduk di bangku pemerintahan.

“Kemudian, mereka akan menguasai semua yang ada di Korea Selatan. Ingat, mereka sudah membuat masyarakat percaya kalau Korea Utara, Rusia, dan China ada di balik semua ini. Padahal tidak. Rusia dan China hanya menjadi perantara senjata, sementara yang lainnya? Semua adalah ulah orang-orang Korea Selatan sendiri.

“Mereka bahkan sudah menyelundupkan bahan bangunan. Tujuannya apa? Agar mereka semakin dipuja dan dijadikan Tuhan oleh masyarakat Korea sendiri karena telah menyelamatkan mereka di saat semua kekayaan mereka dihancurkan.”

Jia-yi terperangah. Mendadak, semuanya terlihat begitu jelas dalam pikirannya. Bagaimana China tampak tenang-tenang saja, bagaimana orang-orang Rusia tidak tampak ambil pusing, dan bagaimana pemerintah Korea sendiri… mengabaikan bencana ini.

Negara ini telah mengisolasi warga negaranya sendiri untuk mereka hancurkan. Mereka telah memanipulasi informasi dan mencuci otak warganya sehingga dapat mereka perbudak setelah bencana ini berakhir.

“Apa sekarang semuanya sudah jelas? Apa aku sudah menjawab pertanyaanmu tentang siapa dalang di balik semua ini?” pertanyaan Reen terdengar.

Tawa sarat akan cemooh kemudian lolos dari bibir Jia-yi.

“Pantas saja, mereka semua tidak peduli pada bencana ini. Gedung-gedung pemerintahan dihancurkan, tapi tidak kulihat satupun dari mereka yang bekerja di sana mati. Tapi tempat-tempat umum dimana orang-orang dengan perekonomian menengah ada, justru dihancurkan bersamaan dengan orang-orangnya.

“Apa negara ini… tengah berusaha membangun peradaban baru dengan mengeliminasi warganya yang dianggap tidak layak untuk hidup hanya karena tingkat ekonomi?” ada kemarahan yang terselip dalam suara Jia-yi.

Sungguh, dia sudah muak dengan kelakar politik macam ini. Terutama, karena kali ini rencana negara kelewat tidak bermoral, dan tidak manusiawi. Bagaimana mungkin mereka merenggut hak hidup seseorang untuk sebuah kekuasaan dan kekayaan?

“Bagi mereka yang duduk di atas sana, semuanya layak untuk dikorbankan. Lagipula, cara yang mereka gunakan cukup bagus, bukan? Menghancurkan negara untuk kemudian membangunnya kembali dengan uang yang mereka dapatkan dari rakyat. Win, win. Pemerintah agaknya sudah merencanakan hal ini dengan cukup matang.”

Sebuah tawa kecil terselip di akhir kalimat Reen. Hal yang kemudian menyadarkan Jia-yi bahwa penuturan dari Reen sudah terlampau luar biasa. Dia bahkan tidak perlu mencari Arshavin, atau orang-orang pemerintahan lainnya untuk tahu tentang apa yang tengah terjadi di negara ini.

Penjelasan dari Reen saja sudah lebih dari cukup.

“Darimana kau tahu semua ini, Reen-ssi?” tanya Jia-yi kemudian.

Reen tersenyum tipis. “Aku dulu pernah bekerja untuk mereka. Sebelum mereka kemudian memintaku untuk mengorbankan nyawa demi rencana mereka.”

“Dan kau pergi dari mereka?” Jia-yi berucap, sedikit tidak percaya karena Reen pada akhirnya memilih untuk berlari pergi dari rencana mengerikan itu daripada melakukannya dan tetap hidup.

“Memangnya kau bisa bertahan di tempat itu jika kau jadi aku?”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Apa yang kau bicarakan dengannya?”

Sebuah tanya Reen lontarkan pada pria di sampingnya—pria yang kini tengah mengobati luka memar di pergelangan tangannya dengan begitu telaten.

“Tidak banyak. Dia katakan semuanya padaku, bahwa dia tengah mengantar seorang gadis untuk menemukan adiknya yang mungkin ada di Songpa-gu. Dan beberapa cerita kecil lain yang tidak begitu penting.” Minseok menjelaskan.

“Ah… Dia katakan juga mengapa dia membawaku pergi?”

“Hmm. Karena kau berusaha membunuh mereka, tapi pria itu tak sampai hati untuk membunuhmu jadi dia membawamu pergi saat gempa di Hongdae terjadi. Dia pikir, sesuatu ada di Namdaemun jadi dia bawa kau ke sini.”

Reen, tersenyum kecil sebelum ia berkata. “Aku mungkin tengah mengingat tentangmu saat aku bicara tentang Namdaemun di tengah kesakitanku.” ucapan Reen kini berhasil membuat sebuah senyum muncul di wajah Minseok.

Mengabaikan euforia kecil yang tengah melanda, Minseok akhirnya berusaha berpikir tenang. Ia perhatikan raut lelah wanita-nya sejenak sebelum jemarinya bergerak mengusap noda debu yang mengotori wajah Reen.

“Apa kau tidak lelah?” tanya Minseok.

“Sangat lelah,” jawab Reen.

“Haruskah aku lenyapkan mereka?” pria itu kemudian berucap serius. Tapi, gelengan pelan justru jadi jawaban Reen.

“Tidak perlu, Minseok. Kupikir, mereka adalah orang-orang yang tahu terlalu banyak tentang masalah negara ini. Tapi kemudian kupikir-pikir lagi, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Kita bawa saja mereka ke Songpa-gu, kemudian kita pergi.” tutur Reen.

“Kau akan kembali ke tempat Tuan Cho?” tanya Minseok tak percaya.

Reen, tersenyum kecil sebelum akhirnya dia menggeleng pelan.

“Kau gila? Keberadaanku di sini saja sudah begitu menyenangkan. Karena aku akhirnya jauh dari diktator itu. Apa kau tidak bisa membawaku pergi, Minseok?”

Lagi-lagi, ucapan Reen berhasil memancing sebuah senyum di wajah Minseok.

“Baiklah, aku akan membawamu pergi setelah kita tinggalkan mereka di Songpa-gu. Kupastikan aku akan membawamu ke tempat yang indah, untuk kita berdua.” Minseok bergerak mengecup lembut bibir wanita-nya.

Reen sendiri, memilih untuk memejamkan mata dan membiarkan Minseok melumat bibirnya. Setidaknya, kali ini wanita itu memang merasa ‘perlu’ menikmati ciuman itu karena tubuhnya terlampau lelah.

“M-Minseok—” ucapan Reen terhenti saat Minseok bergerak di luar kendalinya. Bibir pria itu mulai bermain ke dagunya, lantas turun ke rahang dan lehernya.

Sontak tangan Reen bergerak mencegah ketika tangan Minseok bergerak membuka pakaiannya.

“Tidak jangan seka—”

Naas. Tindakan Reen agaknya tidak tepat waktu. Karena ketika dia menahan tubuh Minseok, rupanya pria itu secara tidak sengaja kehilangan keseimbangan sehingga pijakannya di runtuhan gedung yang mereka duduki pun tak lagi bisa seimbang.

Tak sempat berpegangan pada Reen atau runtuhan lain yang mungkin bisa menyelamatkannya—

Akh!”

“Minseok! Tidak!”

—tubuh Minseok akhirnya terjatuh begitu saja menimpa runtuhan gedung.

please wait for the next story: Hol(m)es in Hongdae (3)

anneandreas’s Note:

Part kedua yeyeyeyee~

Di sini aku melongo sendiri baca bagian Kyungsoo yang pandai berantem begitu, dia tanpa ciat ciat bisa ngambil pistol lalu dor dor dor lalu nyulik noonanya sendiri, diiket pula tangannya. Tega kamu Kyungsoo pada noona, siapa yang ngajarin kamu berbuat jahadh seperti itu? Tidak sayangkah lagi kamu padaku? /plak /di sini gak jadi noona dongsaeng pliseu /plak

Mangapin di part ini si Anne gak banyak kontribusi sebab di kantor susah sekali dapetin mood yang enak buat nulis. *bow ke Iriseu. /alesan aja kamu kak /plak. Karena besok libur, mungkin di part ketiga si Anne ngasih kontribusi lebihan. /gak usah janji palsu kamu kak /kamu tukang pehape kak.

Buat semua yang masih baca sampe di part ini, terima kasih yaaa.. Terus cintai karya-karya kembar jenjer aku yaaa~ /eaaakkk /ngambil hati gegara ngerjain part cuma sedikit /ditabok.

Dan jangan lupa baca Part Finalnya!!

IRISH’s Note:

EH INI KENAPA BERHASIL NEMBUS LIMARIBU KATA… WKWKWKWK. Dan tumben, series Hol(m)es bisa nembus sampe tiga sesi, BUAKAKAKAK. INI PRESTASI. Ehem, ehem. Berhubung udah sampe ultah Umin, jadi dikit-dikit kudu mulai keungkap lah tentang 5W plus 1H di balik gempa ini dan semua kejanggalan yang terjadi.

WKWK. GAK DIKIT YA, 60 % PENJELASAN UDAH DIKASIHTAU SAMA REEN DAN SISANYA NANTI DICARI DI ENAM SERIES LAIN YANG BELUM MELUNCUR, PLUS SERIES ATU LAGI KHUSUS BUAT ICING. Eh kurang berapa sih member Ekso yang belum besdey?

Btw, Kyung masih banyak nampang… Mianek… imej Kyung di cerita ini kuat amat sih :” KYUNGSOO KAMU TEH KENAPA BODI IMUT TAPI CUCOK BUAT PERAN BEGINI DI KEPALA EYKE?

[    IRISH SHOW    ]

Iklan

13 pemikiran pada “[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HONGDAE (2) — IRISH’s Tale

  1. Ping balik: Job’s Goal : Finding Love [EPILOG + AfterWord] -anneandreas | EXO FanFiction Indonesia

  2. ketika denger penjelasan reen tentang korea selatan yang memonopoli negaranya sendiri dengan jadi muka 2, dan tanpa ada hubungan sama china dan rusia yang dikabing hitamkan, eki langsung melengos. Jadi buat apa si jia-yi ketemu chanyeol dan cari tau tentang arshavin? -_____-
    merasa aing bodoh mah sampek bikin email arshavin dari anaknya pake password kode pramuka/pllakkk/ XD. Gpp deng, karena itu Jia-yi jadi ketemu cy. Kak Rish, ku masih setia menjadi shipper-nya jia-yi x chanyeol nih, jadi salfok pas cy dinotis/PLAKKK/OOT WOI! XD/
    dan well, cuma ngasih satu kalimat sama umin ‘MAKANYA BG, KALAU NAENA LIAT TEMPAT, JATUH PAN JADINYA’/PLAKK/ DIGAMPAR/ XD
    huhu, kutaksabar bang icing ultah/plakkk/ XD

    • Reen membuat semua perjalanan jiayi tampak sia-sia ya.. /ditampar jiayi
      Di sini umin cuma jadi bodyguard tuan Cho yang gampang bergairah ya buahahahahhahaha..
      akusih reen-bekyun shipper, suami istri beneran. /gak ding boong /digranat bekyun

  3. LAGI LAGI.
    OH. AMPUN. UMIN… KENA KAN LO, NAPSUAN SIH, /dibalang

    TITIP MAS-KU, KYUNGSU, JANGAN SAKITIN DIA. APALAGI BIKIN DIA METONG. GAK. GAK BOLEH. TOLONQ QAQAH.

    oh. Jadi itu rencana pemerintahnya sendiri? Tidakkah miris seperti negri kita? /gak
    Mantep. Keren banget beb, kak. Makin ketjeh ajaaaah. Alurnya emejing. Gak ketebak,
    Semangat terus buat lanjutinnya!

    Cuss next part~

  4. AKHIRNYA PINDAH KOTA, AKHIRNYA DAPET WIFI LANCAR GAK MESTI KE LOBBY /GULING2/

    INI ANJAYYY, ACTIONNYA NTAPS SEKALI. Si kyung kecil2 gimana, aku baru mikir sebelum liat note kak ne @neurosistoexo kok reen-kyung gini padahal mereka adek-kakak hikseu. DAN ENTAH MENGAPA KUINGIN KYUNG TETAP ADA DI SERIES INI WKWKWK, kuat amat emang perannya.

    Dan dan dan…. 5W + 1Hnya udah kejawab sama Reen. Wah Reen so daebak perannya, dan ini korsel jahat banget sumpah bft. Politic memang salah satu hal yang kejam, jadi china sm rusia jadi kambing hitam? Sip saya paham /plak/

    Dan itu apaan…. umin…. antara mau ngekek atau gimana lagi cium2an tau2 ketiban rerutuhan njayyy. Kutunggu yang ketiga 😘

    • Iyaaaah, sebenarnya ada getar2 sedih selama mereka berdebat itu ta, walau bagaimana kan namanya darah lebih kental dari air.. /iya /bodo amat kak wkwkwkwkw

      Iyaaah si reen hoki dia di casting dapet peran begini, jadi penghianat gitu. dan dia bahagia pengen lagi katanya main yg jahad jahad /klepak pala reen /diklepak balik

  5. Mgkn d.o pnjm skill martial art’ny tao x 😁 jd all of a sudden bs jago gt numbangin 2 bodyguard Mr.초 1xgus. Oh iyaya, 😅 itu reen kan 누나ny d.o ya 😂 br keingetan lg stlh anne bahas! ㅋㅋㅋㅋㅋ dngrn penjelasan reen ttg dalang dr smua catastrophe yg ky settingan ini trnyt no other than its own ruler/govt, jd keinget sm U.S yg nuduh timteng pny nuklir sbg xcuses u/ nguasain oil field mrk 😒
    Msh kurang 세훈, luhan, tao, 백, suho & 첸, rish yg blm besdei 😀 wah bkl da bonus di lay 😃
    Kesian amat umin 😬 keperosok gt, mbok ya cari t4 yg lbh aman dulu klo mo lovey dovey gt, kan jd’ny ciloko, haduh..😯

  6. Iya si Kyungsoo kuat banget perannya 😀 , lebih kuat daripada Xiuminnya yg betewe lagi besdey. Yang bikin diriku terkaget-kaget, ini kenapa Xiumin makin tua makin napsu aja orangnya, tiap dicerita bagian dia pasti dibarengi ama kegiatan tak pantas bagi yang dibawah umur 😀 ehehe.
    Yasudahlah, yang terpenting terima kasih kakak-kakak yang baik hati dan tidak sombong yang sudah meluangkan waktunya 😀 Fighting!!

    • Iyaah setelah kubaca lagi, si Kyung imagenya kuat banget di sinii, untung aja Umin ngalah /plak mueheheheh..
      Berhubung si Umin uda tua, dia mau nyoba peran dewasa katanya /gakgitukak wkwkwk
      Makasih juga Dee sudah bacaa.. >.<

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s