[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Silly Proposal – by Gxchoxpie

1489807379128.jpg

SILLY PROPOSAL

.

Romance, Slice-of-life, (slight!) Comedy || Vignette || PG-13

.

Starring
Kim Minseok aka EXO’s Xiumin, anneandreas OC Do Reen

.

“Kau pikir lamaran itu adalah sebuah lelucon?

.

© 2017 by Gxchoxpie

.

Specially made to celebrate Xiumin’s 28nd (Korean age) b’day

.

I own the plot. Big thanks to ayshry for the moodboard

.

== HAPPY READING ==

.

.

.

Kalau mau jujur, sebenarnya Minseok ingin hari ulang tahunnya yang ke 28 ini menjadi sesuatu yang spesial. Ia bahkan sudah merencanakan agenda kegiatan yang akan ia lakukan sepanjang hari itu, featuring Do Reen, sang kekasih. Reen sibuk akhir-akhir ini, omong-omong, dan mereka jarang bertemu. Padahal Minseok sudah merindukan gadis itu amat sangat, rindu akan interaksi yang biasa mereka lakukan ketika sedang bersama, plus tingkah malu-malu nan imut khas Reen.

Oleh sebab itu, ketika Reen bertanya apa yang Minseok inginkan sebagai hadiah ulang tahun, tanpa ragu Minseok langsung menjawab, “Dirimu.”

Respon Reen? Hanya tersenyum kecil sambil memukul lengan lelaki tersebut.

Meski Minseok ikut tertawa dan mungkin konversasi tersebut kerap hanya akan dianggap sebagai angin lalu, namun Minseok bersungguh-sungguh. Pada tanggal 26 Maret kelak ia akan menawan Do Reen seharian – gadis itu harus menurut ke mana pun Minseok membawanya.

Oh, jangan lupa, Minseok sudah menyiapkan sebuah cincin perak dalam kotak beludru hitam yang akan menjadi puncak misi penculikan-nya.

Namun rencananya buyar ketika pada tanggal 25 Maret malam Chanyeol menghubunginya, hanya untuk memberi tahu bahwa ada beberapa restoran di sebuah pusat perbelanjaan yang baru buka dan sedang melakukan promosi untuk mencari pelanggan. Makan gratis! Syaratnya cukup mudah: hanya perlu melamar pasangan di depan umum, kemudian dua porsi nasi paket beserta minuman akan menjadi imbalannya.

Menarik, kan?

Sebagai tambahan, Chanyeol bilang makanan di sana sangat enak. Hal itu makin menambah kuriositas Minseok.

“Lalu, siapa yang kau lamar waktu itu? Kau, kan, belum mempunyai kekasih.” Demikian respon Minseok terhadap kisah sahabatnya.

“Baekhyun. Aku menyuruhnya memakai wig dan berdandan seperti seorang wanita.”

Seketika tawa Minseok menyembur, bahkan jus jeruk yang ada di dalam mulutnya sampai memuncrat. Ia tak habis pikir akan tingkah kedua kawannya tersebut, hanya demi sebuah makanan gratis.

Sekarang, lupakan soal Baekhyun yang menjelma menjadi seorang gadis demi memenuhi kebutuhan perut. Bagaimanapun, promosi ini cukup unik dan mudah. Ditambah bila ia mengikutinya, banyak keuntungan yang ia dapat. Ia tak perlu mengeluarkan kocek dalam-dalam untuk mentraktir Reen. Selain itu, sang cincin perak tak perlu menunggu sampai malam hari untuk dikeluarkan dari kotak.

Sekali dayung, dua hingga tiga pulau terlampaui.

***

Kedua pasangan itu pun tiba di area food court yang dimaksud, tepat ketika jam makan siang. Sebab itu suasana di sana tampak ramai; umumnya diisi dengan pasangan kekasih. Awalnya Reen tak mengerti mengapa Minseok membawanya ke tempat penuh orang seperti ini. Ini bukan gaya berpacaran mereka, terus terang saja. Bahkan setau Reen, Minseok lebih memilih tempat yang sepi makhluk dibandingkan di tengah lautan manusia.

Lagipula, pertanyaannya sejak awal berangkat belum terjawab. Mengapa mendadak Minseok mengubah destinasi kencan mereka? Mengapa seluruh rencana kencan mereka yang semula batal? Apa yang ada dalam pikiran lelaki itu?

Awalnya Reen memilih untuk diam. Toh baginya itu semua tak masalah selama ia bisa melewatinya bersama dengan Minseok. Namun, tak ayal kuriositasnya lama-lama tak terbendung. Pertahanan Reen untuk tak bertanya pun bobol.

“Ada apa mengajakku kemari? Kita akan makan siang, Minseok-ah?”

Belum sempat terjawab pertanyaannya, tahu-tahu Reen merasa Minseok menarik lengannya, menyuruhnya untuk berjalan mengikutinya. Tanpa banyak tanya Reen pun menurut – meski agak heran.

Rupanya Minseok membawanya naik ke sebuah podium biru kecil. Reen menelan ludah, bingung dengan tindak-tanduk kekasihnya. Ia ragu-ragu, namun ketika Minseok menyuruhnya naik, Reen hanya menurut. Baru dua detik, ia sudah jengah ditatap oleh khalayak ramai.

Tiba-tiba terdengar suara dari speaker. “Ya, inilah pasangan berikutnya yang akan melakukan pelamaran! Beri tepuk tangan serta dukungan yang meriah!”

Dwimanik Reen membulat, seraya otaknya berusaha keras mencerna setiap frasa yang baru saja terucap. WHAT?

Belum selesai benaknya memproses, tahu-tahu Minseok sudah berlutut di hadapannya. Tak sekedar itu, kotak beludru yang terbuka pun tampak di depannya, menampilkan keindahan sebuah cincin perak.

“Reen-ah, maukah kau menjadi kekasihku?”

Satu sisi Reen merinding, di sisi lain ia malu. Rasanya agak ganjil bila pelamaran dilakukan di depan orang banyak. Maka yang ia lakukan adalah cepat-cepat mengambil cincin itu dari kotaknya dan langsung menyelipkan pada jari manis kirinya. Sendiri. Setelah itu hadirin yang hadir bertepuk tangan.

Well, rasa malunya cukup terbayar begitu ia tahu bahwa mereka mendapat kupon makan siang berupa dua nasi paket beserta minuman. Reen tersenyum sendiri. Ia punya satu lagi momen penting dalam kehidupannya. Meski acara lamarannya tak berlangsung romantis, namun cukup unik, benar?

***

“Reen-ah.” Minseok memanggil nama kekasihnya usai mereka keluar dari kedai nasi ayam, tempat keduanya menikmati makan siang. “Kau masih lapar?”

“Sebenarnya sudah cukup,” tukas Reen. “Namun satu cone es krim cokelat terdengar lezat.”

Serta-merta pemuda Kim itu menggamit tangan kekasihnya. “Kalau begitu, ayo!”

Rupanya tak jauh dari kedai ayam tersebut, sebuah toko es krim juga sedang dalam masa awal pembukaan, dan kalau Minseok tidak salah lihat dari spanduk besar yang tertera, toko itu juga mempunyai program promosi serupa: melamar pasangan di tempat dan mereka akan mendapat kupon diskon hingga setengah harga.

“Lepas cincinmu,” cetus Minseok.

Reen mengernyitkan dahi. “Untuk apa?”

“Lepas saja.”

Reen bukan gadis yang amat polos yang selalu langsung menuruti apa yang kekasihnya bilang. Ketika sesuatu agak tidak masuk di akal, ia akan menahan diri terlebih dahulu.

“Tidak mau. Bukankah kau sudah melamarku, tadi? Berarti cincin ini sudah menjadi milikku, kan?”

Minseok pun mengacak-acak poni kekasihnya. “Siapa bilang lamaranku tadi itu serius?”

“Eh?”

Reen tak sempat menolak, karena tahu-tahu Minseok meraih tangan kirinya dan mencopot cincin manis itu begitu saja. Setelah itu sang pemuda menarik Reen memasuki area toko es krim – tanpa menghiraukan keluhan si gadis.

“Saya ingin melamar kekasih saya!” celetuk Minseok tiba-tiba pada seorang pramutamu yang sedang memegang mikrofon.

Seketika suasana menjadi riuh karena orang-orang yang hadir di sana bertepuk tangan.

Kembali lagi, di depan banyak orang, di hadapan Do Reen, Minseok pun berlutut. Mengucapkan kata-kata sakral yang sama – well, sekarang menurut Do Reen, sih, kata-kata itu sudah berkurang kesakralannya – lalu menyelipkan cincin yang sama di jari manis dara garis Do tersebut.

Dan lagi, para pengunjung yang ada bertepuk tangan. Dua kupon potongan harga menjadi hadiah bagi keduanya. Ketika Reen mendapat es krim cone cokelat yang ia harapkan, kekesalannya agak berkurang.

***

Entah ini hari spesial apa, namun ternyata hampir seluruh toko makanan di pusat perbelanjaan tersebut mengadakan promo yang serupa. Bukan hanya di daerah food court itu saja, namun beberapa toko makanan lainnya yang berada di lantai bawah atau lantai atas juga memiliki program yang mirip. Hadiahnya memang berbeda, ada yang memberi potongan harga, atau tak perlu membayar, atau bonus makanan lain. Baik itu toko pizza, toko roti, bubble tea, bahkan toko makanan cepat saji sekalipun.

Parahnya, lama-lama Minseok makin tidak terkendali. Entah selera makannya yang sedang menggebu atau apa, ia tampak seperti orang kelaparan yang ingin mencicipi semua makanan – makanan promo, lebih tepatnya. Hampir semua toko makanan mereka datangi, hanya untuk melakukan misi yang simpel ini. Tanpa menghiraukan perasaan Reen yang sebenarnya sudah amat tak nyaman.

Bahkan ketika Reen mencoba menyudahi dengan berkata bahwa ia sudah kenyang dan semacamnya, hasilnya nihil. Minseok tetap memaksanya untuk dilamar.

Sementara bagi Reen, hal ini benar-benar membuatnya jengkel. Acara lamaran seharusnya merupakan momen yang sakral, penuh hormat dan benar-benar dari hati. Namun, Minseok membuatnya seolah bahan permainan.

Tapi, apa daya. Sepanjang kegiatan ia hanya mengatupkan mulut. Tak ada satu pun kata-kata yang ia ucapkan untuk menghentikan tingkah sang kekasih. Meski emosinya sudah mencapai ubun-ubun, Reen tak bisa mengatakan apapun pada kekasihnya. Terang saja, hal itu membuatnya makin frustrasi dan kejengkelannya bertumpuk hingga memuncak.

***

“Kau marah, Reen-ah?”

Sejujurnya, Minseok agak heran dengan kebisuan Reen sejak saat-saat terakhir kencan mereka. Setiap cerita Minseok hanya direspon dengan gumaman singkat, atau gelengan dan anggukan seadanya, atau malah tak direspon sama sekali. Reen memang tidak menolak bila Minseok meraih tangannya untuk digenggam selama keduanya melangkah, hanya saja melihat gadis itu yang terus mengatupkan mulut membuat Minseok bingung.

Berkencan dengan Reen sejak lama membuat Minseok paham akan kebisuan kekasihnya. Reen bukan tipe gadis yang akan berteriak keras-keras, mengomel dengan rentetan panjang, atau membanting barang ketika sedang marah. Sebaliknya, ia akan memendam semuanya sendiri. Ia mungkin mengatakan bahwa ia tidak marah, namun bahasa tubuhnya jelas-jelas berucap yang sebaliknya. Reen yang agak pendiam berubah menjadi Reen yang tak mau bicara. Itu artinya, seseorang yang ia diamkan telah berbuat salah padanya. Tugas dari si terdakwa itulah mencari tahu kesalahannya sendiri dan meminta maaf.

“Kau marah padaku?”

“Tidak,” balas Reen agak ketus.

Tuh, kan?

Minseok mendesah. Baiklah, sudah saatnya ia memutar memori ke beberapa jam yang lalu, menilik setiap momen yang telah mereka lalui, lalu melihat apa kesalahan yang telah ia buat.

“Baiklah, Do Reen. Katakan saja hal salah apa yang sudah kulakukan. Aku minta maaf atas perbuatanku itu.”

Reen melipat tangan di depan dada. Nada ketus masih belum hilang dari kata-katanya. “Kau masih belum paham apa yang menjadi kesalahanmu?”

Damn. Memahami jalan pikiran wanita itu benar-benar sulit.

Minseok hanya membisu, seraya membasahi bibir bawahnya yang terasa kering.

“Kau pikir lamaran itu adalah sebuah lelucon? Pikirmu acara melamar gadis setara dengan membeli dua porsi makan siang?” lanjut Reen.

Minseok mengangkat kepala, agak terkejut dengan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh kekasihnya. “Kupikir … kau malah senang.”

“Ya, pada awalnya aku memang menikmatinya, Minseok-ssi. Aku merasa menjadi gadis yang paling bahagia di dunia karena proses lamaranku dilakukan di depan umum, walau rasanya agak aneh karena dilihat oleh banyak orang. Tadinya aku hendak menyimpan ini sebagai memori terindah dalam hidupku. Namun ternyata, semuanya hanya permainan. Sandiwara. Bahkan kau memaksaku untuk melepas cincin hanya karena kau ingin makan lagi.” Reen mendesah. “Aku … aku merasa hanya seperti alat bagimu. Kukira kau sungguh-sungguh melamarku.”

Pemuda Kim itu pun tertunduk. Maksud hati ingin membahagiakan sang kekasih, namun semuanya berakhir kacau. Gadis itu benar; apa yang ia lakukan seharian ini menjatuhkan ekspetasinya pada sebuah lamaran yang romantis dan sungguh-sungguh. Tadi, semua terkesan hanya permainan, lelucon. Minseok mengakui memang ia sempat berada di titik egois, di mana ia hanya mementingkan selera makannya dibandingkan perasaan Reen.

Bahkan ia sempat lupa kalau sebenarnya rencana hari ini akan diakhiri dengan proses melamar Do Reen sebagai acara puncak.

“Kalau aku melamarmu dengan sungguh-sungguh, maukah kau memaafkanku?” ujar Minseok akhirnya.

Reen melirik kekasihnya sekilas. “Sungguh-sungguh? Bukan karena imbalan makan gratis dan sebagainya?”

Minseok mengangguk cepat.

“Baiklah. Akan kupertimbangkan.”

Keduanya memutuskan untuk singgah sejenak di tepi Sungai Han, menikmati pemandangan petang di mana semburat jingga sudah mulai memancar di angkasa, saat mentari hendak kembali ke peraduannya. Lukisan mahaindah yang tergambar di langit itu terpantul pada permukaan sungai, menghasilkan tampilan yang menawan.

Reen duduk di salah satu bangku besi yang tersedia. Di hadapannya, Minseok kembali berlutut. Sebuah kotak beludru hitam ada dalam genggamannya.

“Do Reen, aku senang bisa mengenalmu. Semua hari yang kulewati bersamamu, setiap waktu yang kita habiskan bersama, setiap canda, tawa, pertengkaran, suka, duka, semuanya tampak menyenangkan bagiku. Aku mencintaimu sungguh-sungguh, dan aku siap membangun masa depan yang indah denganmu.”

Minseok membuka kotak beludrunya, dan dari dalam terlihatlah sebuah cincin perak. Setelah itu ia menggamit tangan kekasihnya.

“Karena itu … maukah kau menikah denganku?”

Reen mengerjap. Ditatapnya dwimanik Minseok lurus-lurus. Bulu kuduknya merinding. Meski sebenarnya ia sudah mendengar kalimat sakral serupa di kedai nasi ayam tadi, namun kali ini sensasinya berbeda. Reen dapat menilik ketulusan dan kesungguhan hati Minseok dari irisnya. Reen tahu, kali ini Minseok memaknai setiap frasa yang ia ucapkan.

Tanpa sadar, kekesalannya meluluh. Dan ia pun mengangguk.

Bagi Minseok ataupun Reen, tak ada perasaan yang lebih membahagiakan saat pemuda Kim itu menyematkan cincin pada jari manis kiri sang dara Do, yang kemudian diakhiri dengan sebuah pelukan erat. Minseok tahu, hatinya milik Reen, begitu pun hati gadis itu kini menjadi miliknya.

-fin-

A/N

Happy birthday untuk hyung paling tua-nya EXO … Hahhaa sudah berumur tapi muka masih tetap imut fluffy macem bapao (walau di balik baju tersimpan roti sobek yang WOW /pfft). Semoga tambah sukses, terus nanti pas udah mau wamil baik-baik ya… Duhh makin nambah umur makin dekat ke waktu wamil euy /baper

Untuk kak anne selaku pemilik OC… maaf kalau hasil eksekusinya jd gini kak hahahaha Reen-nya maaf kalau jd OOC, tapi makasih sudah meinjemin Reen yaa 😀

Anyway, mind to review? 🙂

Iklan

4 pemikiran pada “[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Silly Proposal – by Gxchoxpie

  1. WAAAAAAKKKK..
    Bentar Ce, awalnya aku bahagia si Reen dilamar begitu, kok disuruh copotin lagi dan lagi cincinya, aku berkamvret ria wkwkwkwkw..
    Semua ini garagara cunyul, pake ngasih tau segala dapet makan gratis kalo ngelamar, maka ceweknya si bekyun nyamar pula, /keplakin cunyul sama bekyun

    Dan aku ngakak lagi pas bagian ini..
    “Tugas dari si terdakwa itulah mencari tahu kesalahannya sendiri dan meminta maaf.”
    and I be like “Sukurin kamu minsok!” wkwkwkwk

    Tapi ya gimana ya namanya Reen mah pasti luluh aja sama si Umin mah. hatinya mah mana bisa boong kalo cuma umin yg ada di sana /plak.
    wkwkwkw..

    Makasi ya geceeee, p.s. aku reblog yaaaa.. >.<

    • First of all sorry for the late reply kaknee… Terus makasih udh minjemin reen ya hahahaha
      Iya tuh cuma pengen makan aja si umin mah untung reen sabar ya kak yaaa…
      Iya kan biasanya gitu kan kalo reen marah ga ngomong ga apa ya xiu yg hrs introspeksi diri pfft
      Makasih loh kaknee ud mampir ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s