[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Memorias de Agua – HyeKim

| Memorias de Agua |

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

—Kim Minseok x Reen Do/Do Kyungrin—

Fantasy & Romance — PG-13 — Vignette

Poster Design by Scarlett©2017

standart disclaimer applied, copy-paste without permission and plagiat are prohibited

—Dedicated to Minseok’s Birthday and Little Gift for Kak anneandreas—

Kala maniknya menyapa air, Minseok selalu teringat sosok Reen. Gadis manis itu layaknya air yang mengalir tenang, karena tatkala melihatnya, Minseok merasakan ketenangan dalam hati. Namun karena air juga, Reen harus pergi. Tetapi gadis Do itu berjanji akan menemui Minseok lagi, akankah janji tersebut terpenuhi?


HAPPY READING

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Semilir layaknya simfoni indah musim semi menyeruakan wangi-wangi pohon-pohon bunga sakura yang mulai menguncup. Gemericik air yang mengalir di tengah musim itu terlihat tenang serta menyejukan hati. Kala manik Kim Minseok menjatuhkan diri pada aliran tersebut, hatinya menghangat disertai munculnya sosok jelita dibenaknya.

“Dirimu lebih suka air daripada aku, ya?” vokal seorang gadis menyapa telinga Minseok. Kepalanya terputar ke arah sumber suara.

Seorang gadis manis sedang menyunggingkan senyum kepada Minseok, dirinya terduduk di bebatuan yang ada di pinggir sungai. Ujung bibir Minseok pun tertarik mengikuti Reen untuk menampakan seuntas senyum.

Tubuh Minseok dituntun untuk berjongkok di sebelah gadis Do tersebut, yang sedang menjulurkan tangan ke dalam sungai dan mengayun-ayunkannya, mengakibatkan beberapa ciptratan air tercipta.

Sambil mencermati lekuk wajah Reen dari samping, ranum Minseok bersuara. “Melihat air sama saja mengingatkanku padamu. Air membuatku tenang. Seperti diriku yang selalu nyaman selagi bersamamu.”

Antensi kelereng mata Reen beralih pada Minseok. Kedua netranya menyapa netra lembut pria marga Kim ini. Pipi Reen pun sudah bersemu dengan senyum malu-malu. “Jangan banyak menggombal seperti itu,” kepalanya menunduk diikuti kekehan Minseok yang lepas.

Hening lantas menyapa dua insan tersebut yang memilih duduk di bebatuan di pinggir sungai. Kadang kala air menabrak batu yang mereka tempati. Namun baik Reen maupun Minseok tak mempedulikannya. Sepasang kekasih itu hanya menikmati atmosfer nyaman yang terbatas ini bersama-sama.

“Reen,”

“Hmm?” Reen menoleh dengan alis berjungkit, menatapi profil samping Minseok dengan raut bertanya.

Tatkala menoleh ke arah Reen, terlihat tersemat senyum tipis berunsur pedih dikurva Minseok. “Aku menyukai air karena air mengingatkanku padamu…” terambil jeda diikuti anak rambut Reen dimainkan dengan nakalnya oleh angin yang berhembus. “tapi karena air juga dirimu harus pergi, ‘kan?”

Senyum yang mengembang diranum Reen, perlahan luntur. Namun dirinya mempertahankan diri untuk tak melihatkan kesedihannya. “Aku akan menemuimu lagi, Minseok.” Reen mengayatkan frasa tersebut dengan mantap.

Obsidian Minseok pun larut pada dwimanik Reen. Kedua netra itu hanya saling pandang dengan backsound gemericik air sungai yang mengalir tenang diiringi senja yang mulai nampak.

“Apa dirimu berjanji?” vokal Minseok memecah kesunyian yang terajut. Segera, anggukan Si Gadis Do menjadi jawaban.

“Aku akan menemuimu lagi, Seok-ah. Karena aku mencintaimu,” bibir Reen mengulaskan senyum yang juga menular dikurva Minseok.

“Aku juga akan menunggumu, meski hal tersebut sangatlah tidak mungkin. Karena aku juga mencintaimu.”

Kupu-kupu dalam diri Reen rasanya sudah mabuk kepayang mendengar lontaran cinta Minseok ke sekian kalinya. Pandangan dara marga Do itu terbuang ke arah depan dengan sunggingan senyum tipis. Aliran tenang partikel-partikel air di hadapannya membuatnya tercengung beberapa saat, pikiran Reen Do pun berlari ke sana-ke mari.

“Kalau dipikir-pikir kenapa kita bisa jatuh cinta, ya?” ujaran Reen terlontarkan kemudian disambut oleh dengusan geli darinya juga Minseok. “Apa aku perlu menanyai Dewi Aphrodite, kenapa dirinya melayangkan cinta pada kita?” Reen kembali bersajak dengan kepala menoleh ke arah Minseok. Senyum geli terlukis dimuka keduanya.

“Ya, tanyai saja sana. Bukannya dirimu kenal dengan Dewi Aphrodite?” sambut Minseok diunsuri intonasi gurauan pada ucapan gadisnya.

Gelak tawa akhirnya bergema dari mulut kekasih tersebut. Kepala Minseok maupun Reen pun sampai mendongak dengan tawa yang terlolongkan. Tawa tersebut mencapai akhirnya, kembalilah keduanya bersitatap dalam hening dengan gemiricik air sungai nan tenang. Warna keoranyean dari ufuk barat makin terlihat, hal tersebut ditangkap dari ujung netra Reen yang seketika terkesiap teringat sesuatu.

“Seok-ah,” penggal Reen pada nama kekasihnya. Gumaman Minseok merupakan respon Si Lelaki. Menyunggingkan senyum simpul yang sebenarnya sulit untuk ia rangkai, Reen kembali memenggal kata. “Sekarang waktunya aku harus pergi.” meski dilafalkan selembut simfoni, hati Reen tergores, begitupula Minseok.

Si Jaka Kim itu menelan ludah yang sulit ia teguk masuk ketenggorokannya. Terpatri sebuah senyum paksa dikurvanya. “Pergilah. Aku akan menunggu sesuai janjiku,” Minseok berfrasa seraya mengangkat tangan guna mengelus surai Reen.

Aksi Minseok pada surainya ini berusaha Reen dalami. Sentuhan prianya berusaha ia ingat untuk menyalurkan rasa rindu yang akan membelunginya nanti. Dengan beratnya, kepala Reen mengangguk. Berusaha dirinya tak menumpah ruahkan tangis dengan isakannya.

Tangan milik Reen terangkat serta terhenti  pada pipi kiri Minseok, memegang serta mengelusnya. “Aku juga akan kembali sesuai janjiku.” Reen kembali berjanji, meyakinkan dirinya juga Minseok bahwa keduanya akan berjumpa lagi. “Aku akan memohon pada Poseidon—maksudku ayah, untuk membuatku berenkarnasi setelah dihukum untuk hilang di segitiga bermuda.” Si Gadis Do berujar lagi dengan binaran mata meyakinkan.

Minseok pun mengangguk dengan memasang mimik bahwa ia percaya pada Reen, disertai juga senyuman simpulnya. “Baiklah. Sampai berjumpa lagi, Reen Do.” akhirnya sajakan perpisahan yang kelu terucap pun, tersuarakan dengan pelan.

Tangan Minseok yang masih setia berada dipuncuk kepala Reen pun, menarik kepala Sang Dara mendekat kemudian wajah Minseok pun mengikis jarak serta menyarangkan ciuman dikening perempuan bernama lengkap Reen Do tersebut. Kala ranum Minseok menyapa keningnya, obsidian Reen pun terpejam untuk menikmatinya.

Reen adalah seorang duyung yang merupakan keturunan Poseidon. Well, anggap saja ia seperti Percy Jackson yang merupakan manusia dan anak dari Poseidon. Tapi bedanya, Reen seorang duyung dan putri dari Poseidon. Ada aturan dalam kerajaannya untuk tidak keluar dari air bahkan berurusan dengan manusia. Namun perasaan penasaran menggelitik Reen tatkala banyak kapal manusia tenggelam di dasar laut, menggelitik jiwanya untuk ke daratan serta membuka mata pada kehidupan manusia. Siapa sangka dirinya malah bertemu Minseok dan saling jatuh cinta. Keluar dari laut, pergi ke daratan, serta menjalin kasih dengan seorang manusia. Tiga pelanggaran lah yang Reen aksikan, menyebabkan Poseidon marah dan mencetuskan hukuman menghilangkan putrinya itu di segitiga bermuda.

Merasa waktunya tiba. Reen menjauhkan diri dari Minseok. Sekilas, keduanya melempar senyum sejenak. Tubuh Reen pun terstir menghadap kembali pada aliran air yang terpampang jelas di hadapannya. Gadis Do ini menarik napas lalu menghembuskannya. Perlahan, kaki milik Reen pun diulurkan ke arah air. Kala kakinya menyentuh air, penggerakan Reen selanjutnya adalah menggoyang-goyangkan pelan kakinya sebanyak sepuluh kali. Tak lama, kakinya berubah menjadi bersirip berwarna hijau layaknya ekor-ekor duyung kebanyakan.

Arah fokus Reen kembali tertancap pada Minseok yang terpaku memandanginya dengan sendu. Dengan senyum lembut, “Aku pergi sekarang, Minseok. Tunggu aku kembali, ya?” Reen Do mengucapakan hal tersebut lalu menstrikan kepalanya untuk beralih dari Minseok.

Bergeming hanya dilakukan Minseok dengan kelereng mata melekat pada figur Reen. Di lain sisi, meski dadanya membuncahkan kesesakan akan perpisahan ini, Reen berusaha menahan hasrat tersebut. Sekon kedepan, tubuh Reen menyapa air keseluruhannya. Tanpa mau berbalik sekalipun, Reen mulai menyelami permukaan air dan kemudian larut ke selak-beluk yang tak diketahui oleh Kim Minseok. Gadisnya pergi menghilang diiringi matahari yang terbenam total dan aliran sungai yang masih mengalir tenang.

║ ♫  ║ ♪  ║ ♫  ║ ♪  ║

Musim semi dengan bunga-bunga indah yang menguncup itu tersapu rapi tergantikan musim gugur dengan keidentikannya akan daun kecoklatan yang berserakan malang. Angin mulai lebih menyisir kulit dengan nakalnya di musim gugur. Maka dari itu coat dan jaket lebih tebal dipakai oleh orang-orang yang menyapa musim gugur. Kim Minseok pun tampak begitu, dirinya membuka coat coklatnya dan menyampirkannya di kursi kafe yang ia singgahi ini. Bokongnya ia banting ke kursi dan tangannya sibuk memainkan game di ponsel pintarnya.

Masih banyak waktu yang bisa Minseok gunakan sebelum latihan renangnya dilaksanakan. Kim Minseok merupakan salah satu atlet renang, dirinya suka sekali menyelami air dengan hobinya itu. Dan tatkala melihat air pun, pasti Minseok kembali merindu. Merindukan seorang gadis yang sering kali hadir dalam labirin otaknya.

Annyeong haseyo, apakah anda Kim Minseok sunbaenim?” vokal ayu seorang gadis menyentil liang pendengaran Minseok yang tengah terlarut pada permainan di ponselnya.

Kala mengangkat wajah, kacamata kornea Minseok disapa oleh wajah seorang gadis yang tersenyum agak kaku. Seketika tubuh Minseok kaku, matanya tak sanggup berkedip untuk menelaah lebih rinchi gadis yang ada di hadapannya, tiba-tiba adrenalin tubuhnya pun meningkat. Gadis ini adalah Reen Do, Reennya.

Gadis yang berwajah mirip dengan Reen itu, menyarangkan tatapan ragunya pada Minseok. “Kim Minseok sunbaenim?” kembali dirinya memastikan, takut-takut orang yang ia maksud adalah salah.

Barulah, dwimanik Minseok mengerjap lalu dirinya membuka mulut meski tak melolongkan kata. Aksinya membuat gadis yang mirip dengan Reen ini kelinglungan. “Ahh…” keluar sebuah desahan dari mulut Si Pria Kim ini. Dengan senyum ramah dan tak enak, Minseok merangkai kata untuk merespon. “Iya, aku Kim Minseok.”

Setelah mendapatkan konfrimasi bahwa sosok pria ini adalah orang yang ia cari. Lawan konversasi Minseok itu mendudukan diri di hadapan Si Pria, dirinya pun melempar senyum yang menyebabkan gempa mini didada Minseok.

“Kenalkan, aku Do Kyungrin. Diriku baru pindah dari Tokyo, Jepang. Aku baru mau memulai karirku menjadi atlet renang dan katanya sunbae akan mebimbingku karena sunbae salah satu aset berharga di klub ini.” gadis yang ternyata lahir dengan nama Do Kyungrin ini, mengenalkan diri dengan menjulurkan tangannya kepada Minseok ditambahi senyuman lebarnya.

Logam beriris Minseok hanya menatap tangan Kyungrin yang menanti dijabat olehnya. Dirinya terpaku seketika, kemudian maniknya teralihkan kepada wajah Kyungrin yang setia menampilkan senyum lebarnya. Ujung kurva milik Kim Minseok tertarik, melukiskan senyum lebar dan tangannya pun terulur, senantiasa menyambut uluran tangan milik Kyungrin.

“Dan aku Kim Minseok. Selamat bergabung dengan klub kami dan juga salam kenal, Kyungrin-ssi.”

Membimbing seorang Do Kyungrin menjadi perenang handal adalah garis start Minseok bersama gadisnya. Dan oleh sebab itu, jalinan kisah keduanya kembali terajut karena air. Setidaknya Reen sudah menepati janjinya untuk menemui Minseok lagi, bukan?

—FIN—


YA ALLAH INI APA /CEMPLUNGIN DIRI KE RAWA-RAWA HATI MAS LUHEEN/

Sebenernya ide ini udah nyantol lama pas jalan kaki pulang sekolah lewat taman dan liatin air kolam taman yang tenang-tenang gitu wakakaka. Tau-tau Si Reen aku jadiin duyung PFTTT~~ dan tadinya ini mau buat D.O birthday tapi sayang terealisasikannya buat Umin deh muehehehe.

Buat umin, hepi besdey yha! Dan untuk Kak Ne, semoga suka T.T aku tau ini absurd sekaleeehhh. Hyerim baik hatikan? Gak dibunuh kan Uminnya? :3 Di sini juga so switkan Umin-Reennya? Gak bersatu tapi akhirnya bertemu dan dipersatukan muhehehe.

Btw, karena aku terinspirasi dari air (?) judulnya pun aku unsurin air, judul FF ini pake B.Spanyol yang artinya ‘Memory of Water’ .-. karena kalo pake B.Inggris absurd apalagi B.Indo, yaudah kupake bahasa negara keduaku aja Spanyol ._. huehehe.

Baca? Komen dong ya jan siders dong! /digampar/ wkwkwk tapi beneran lho ya, jangan jadi siders hayooo. Monggo mau komen apapun, kuterima senang hati, gaes.

P.S : KAK NEE INI MAKSUDKU NISTAIN REEN DIKIT BANGETS, DIA JADI DUYUNG TEMENNYA SIMCHEONG :3

MUCH LOVE,
HyeKim

[HYEKIM WORLD]

Iklan

7 pemikiran pada “[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Memorias de Agua – HyeKim

  1. “Memorias de Agua” dari judulnya aja ane salah baca malah Agua jadi Aqua :’v #AdaAqua? /plak!/
    Seperti judul dan ceritanya, entah mengapa aku merasa sedang membaca FF dalam air padahal baca di daratan 😂 /Maklumin diriku yang weirdnya kebangetan/. Bahasanya El…aduhai! >o<

    p.s. yang ultah siapa malah aku yang terharu :'v

    • Wkwk doeh beb berasa berdosa baru bales ini komen smp ini komen itu diurutan paling akhir di notif kwkwk

      Percayalah awal belajar bahasa spanyol, air pun aku mikirnya “what? aqua?” Wkwkwk. Dirimu butuh aqua sepertinya XD

      Ini xiumin-reen gak menyelam sambil minum aer kok di epepnya ini efek judul aja jadinya dirimu berasa di air wkwkwkwk

      Bahasanya receh kok ini wkwkwkwk. Tjiee terharu wkwkw XD thanks for reading yak

  2. WAAAAAKKKKK, aku nyembur waktu baca si reen anaknya poseidon. “Yampon Reen Reen, kebagusan kamu jadi anaknya poseidon.” /gampar reen /digampar balik

    aku sempat curiga nganjangan si umin di sini bakal mati jugaa, seenggaknya abis reinkarnasi si reen balik lagi jadi do kyungrin, yampon. si umin pasti bahagia sekaleh meskipun si kyungrin ga inget dirinya dilu sebelum reinkarnasi.
    harusnya waktu reen do ketemu sama dongwook oppa si grim reaper, reen jangan minum teh nya jadi si reen tetep inget sama umin. /iyain aja /iya kak iya /plak
    wkwkwkwk

    iya betewe kalo pake bahasa indonesia judulnya jadi gimana gitu “Kenangan Air”? “Ingatan akan Air”? wkwkwkwk
    Aaaah aku bahagia reen betebaran hari iniii wakwakkk..
    Aku reblog yaaaahhh.. >.<

    • AKU PUN RASANYA MAU NGEKEK DIA ANAK DEWA OLIMPUS /DIGAMPAR REEN JUGA/

      Kak ne nethink mulu, kulagi baik kak nee gak bunuh2an ahahahah. Yakan Reen menepati janji dan umin pun bahagia wakakak. Iya harusnya blg ke om dongwook gak mau minum tehnya kayak euntak /mulai gak nyambung/iyain aja/

      Nah iya pake B.Indo absurd banget, B.Inggris juga. Yaudah pake B.Spanyol aja kan rada beken /plak/
      Ini bukan ultah umin kayaknya kak ne, ini anipnya reen-umin wkwk

      Mangga reblog aja kak ❤❤❤

    • buahahahahha, aku ga bisa ngebayangin dia jadi anaknya poseidon wkwkwkwk. kamvret sekali pasti bangga sekali itu si reen, dagunya naek gitu dia nanti kalo jalan :v
      muehehehehe ternyata elsa bisa baik juga /plak /digamparin readersnya elsa wkwkwk
      Iyaah biasanya kalo orang gatau artinya jadi beken rasanya wkwkwkw..
      eciyeee annipnya reen umin eciyeeee /dijorokin ke kolam piranha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s