[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] I LOVE YOU FOR ONE MILLION DOLLARS -by AYUSHAFIRAA

ilyfomd-xiumin

DICARI! : LELAKI SEXY, FREE, AND SINGLE.

GAJI YANG AKAN DITERIMA : SATU JUTA DOLLAR PERBULAN.

MINAT?

 

I LOVE YOU FOR ONE MILLION DOLLARS

A fanfiction by AYUSHAFIRAA

`Starring Kim Minseok x Park Sooyoung, feat. Byun Baekhyun`

|| Hurt/ComfortRomance, Slice of Life ||

// Teen // Oneshot //

Disclaimer

Keseluruhan cerita merupakan hasil murni dari pemikiran dan khayalan saya sendiri. Sifat/sikap/kehidupan karakter di dalam cerita ini diubah untuk kepentingan cerita sehingga mungkin tidak sama dengan sifat/sikap/kehidupan karakter dalam dunia nyata.

♡ Wattpad ♡ Kakaostory ♡

© AYUSHAFIRAA, 2017. All Rights Reserved. Unauthorized Duplication & Plagiarism is Prohibited.

.

.

.

Lagi-lagi, pria berumur 27 tahun itu terbangun dari tidurnya. Menghadapi kenyataan kalau hidupnya yang tiba-tiba menjadi kaya raya hanyalah sebatas mimpi. Lagipula, mana ada pengangguran di dunia ini yang menjadi milyarder hanya dalam satu kedipan mata? Mustahal! Eh, mustahil!

Pria itu kembali menjalani hidupnya sebagai pemuda yang tak memiliki pekerjaan. Sehari-hari, ia hanya sibuk membersihkan rumahnya karena kalau ibunya tahu ia hanya mampu bermalas-malasan, mungkin sang ibu benar-benar akan mengusirnya dari satu-satunya rumah sederhana peninggalan sang ayah.

“Yak, Kim Minseok! Kau tidak ada niatan mencari pekerjaan lagi, huh?! Apa kau sudah bosan hidup?” sang ibunda tercinta baru saja masuk ke dalam rumah dengan satu sendal capit yang berhasil ia lemparkan ke kepala buah hatinya sendiri. Sungguh hubungan antara ibu dan anak yang sangat romantis.

“Aish!” Kim Minseok, ya, pria pengangguran yang baru saja diceritakan kisah hidupnya itu menjatuhkan dirinya di lantai yang baru ia pel, kesal sendiri dengan kata-kata ibunya yang setiap hari tidak pernah berubah. “Apa aku harus menjual diriku agar bisa dapat uang?! Menjual tubuhku yang seksi ini?!”

PLETAK!

“Aw! Ibu! Kau ini tidak berperike-anak-an sama sekali sih!” rutuk Minseok saat sekali lagi kepalanya terkena lemparan sendal capit lainnya.

Mata elang sang ibu melotot.

“Iya! Iya! AKAN KUCARI LAGI SI PEKERJAAN YANG AKAN LANGSUNG MEMBUATKU KAYA ITU! TUNGGU SAJA DI RUMAH YA, IBUKU TERSAYANG!” Minseok langsung berlari terbirit-birit ke luar dari rumah sebelum rak sepatu yang menjadi objek bagi sang ibu selanjutnya melayang.

“Huh, kenapa pekerjaan itu sulit sekali sih dicarinya! Seperti jodoh saja!”

Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Baru saja ia mengintip saku celananya yang super kering dan pastinya tidak bisa membeli koran untuk melihat halaman iklan lowongan pekerjaan, angin mengantarkan selebaran lowongan pekerjaan dari langit untuknya secara gratis.

“Eoh?! apa ini?! Dicari lelaki seksi, free, dan single. Akan digaji…”

“SATU JUTA DOLLAR PERBULAN?!” Minseok terbelalak. Tangannya spontan menahan seorang pria bule amerika yang sedang lalu-lalang disekitarnya untuk menanyakan berapa banyak satu juta dollar itu jika dikonversikan ke won korea.

“…Lebih dari satu milyar won (lebih dari tiga belas milyar rupiah).” Jawab pria bule tersebut.

“Be-berapa?” tanya Minseok gagap, memastikan pendengarannya bermasalah atau tidak. Namun telinganya kembali menangkap jawaban yang sama yang menyatakan satu juta dollar itu lebih dari satu milyar won.

Bunga-bunga di tepi jalan bermekaran dengan indah menyesuaikan dengan suasana hati seorang Kim Minseok yang seperti sedang melayang-layang di udara, menikmati takdirnya yang sebentar lagi akan berubah menjadi milyarder tampan nan rupawan.

“Cihuy!” sorak Minseok riang gembira, “Satu juta dollar, TUNGGU AKU!”

Meski belum jelas pekerjaan apa yang akan didapatnya nanti, pria itu langsung berlari tanpa ragu, meluncur ke alamat yang tertera di selebaran ajaib tersebut.

 

♥♥♥

 

Ruangan megah khas rumah-rumahnya orang kaya akhirnya bisa juga Minseok pijaki setelah lelah mengantri di luar selama berjam-jam. Tentu saja jika diiming-imingi satu juta dollar para lelaki di ujung dunia pun pasti rela berdesak-desakan untuk mendaftar, pikir Minseok merasa bodoh.

“Kira-kira pekerjaan seperti apa ya yang syaratnya hanya menyebutkan untuk lelaki seksi, free, dan single saja? aku mulai penasaran.”

“YAK, SEKRETARIS BYUN! APA KAU TIDAK MENAMBAHKAN KATA-KATA TAMPAN DI SELEBARAN YANG KAU BAGIKAN HUH?!” teriakan cempreng seorang gadis yang entah di mana raganya memecah gendang telinga Minseok dan juga laki-laki lainnya yang mengantri. Sebagian dari laki-laki itu yang merasa tak cukup tampan akhirnya memilih menyerah dan kabur dari barisan antrian hingga tersisalah sekitar 8 orang saja dari mereka yang bertahan, termasuk Minseok.

“Sebagai seorang lelaki jantan, aku tidak boleh gagal sebelum berperang!” ucap Minseok menyemangati dirinya sendiri. Ayolah! Demi satu juta dollar!

“Karena hanya tinggal kalian yang bertahan, saya akan mulai memotret diri kalian terlebih dulu sambil kalian memperkenalkan diri untuk selanjutnya kuserahkan foto kalian ke Nona Park.” Ujar salah seorang sekretaris muda yang tak kalah tampan juga di keluarga konglomerat Park itu, Byun Baekhyun.

Huf, sayang sekali. Minseok mendapat giliran terakhir.

“Perkenalkan namaku Kim Jongin, pria tampan nan seksi-“ CUT!

“Namaku Park Chanyeol, margaku sama dengan Nona Park itu berarti kami memang sudah ditakdirkan untuk ber-“ CUT!

“Oh Sehun, lelaki muda yang ketampanannya sudah tak perlu diragukan lagi. mau lihat keseksianku, Tuan Byun?” CUT!

CUT!

CUT!

CUT!

CUT!

Akhirnya, giliran Minseok juga.

“Apa kabar, Tuan Byun? Hehe, perkenalkan namaku Kim Minseok. Sebenarnya aku tak tahu pekerjaan apa yang akan kudapatkan nanti, tapi mendengarmu menyebut-nyebut ‘Nona Park’ berkali-kali aku jadi semakin penasaran dan ingin mencoba pekerjaan apapun yang kubisa. Aku tidak akan bilang aku ini seksi atau tidak, tampan atau tidak, karena pemikiran setiap orang berbeda-beda. Aku juga-“ ucap Minseok memperkenalkan dirinya dengan sangat amat panjang lebar dan memakan waktu.

“Eoh? tunggu sebentar, Kim Minseok-ssi. Sepertinya kameranya sedikit bermasalah.”

Apa katanya? Bermasalah? SIAL!

Ingin rasanya Minseok mengumpat saat itu juga, namun tiga pria tinggi yang ia ketahui bernama Jongin, Chanyeol, dan Sehun itu menepuk bahunya, “Sabar ya, Kim Minseok-ssi. Itu mungkin sudah takdir, HAHA!”

Tiga orang yang sepertinya lebih muda darinya itu menertawainya dan Minseok hanya bisa membalas ejekan mereka dengan senyuman lebar penuh paksaan. Lihat saja nanti, mereka pasti kuwalat!

Sekretaris Byun ijin meninggalkan para pria yang tersisa sebentar untuk mengganti kameranya. Minseok mendadak ingin buang air kecil, setelah bertanya pada pembantu yang kebetulan lewat, akhirnya Minseok bisa menemukan toilet di antara sekian banyak ruangan di rumah mewah itu.

“Hebat sekali, toiletnya saja lebih besar dari ukuran rumahku!” Minseok menyeletingkan celana jeansnya, keluar dari toilet yang kebetulan berjarak dekat dengan kolam renang.

BYUR!

“Eoh?! siapa itu?!” melihat seorang gadis yang tak bisa berenang hampir tenggelam di kolam renang, Minseok tentu tak bisa tinggal diam begitu saja.

BYUR!

Minseok dengan gagah beraninya masuk ke kolam renang, berenang layaknya seorang atlet kejuaraan nasional untuk menyelamatkan sang gadis yang tenggelam di kolam renang yang sebenarnya tak terlalu dalam.

HUP! Tangan kekar Minseok mengangkat tubuh berat sang gadis ke tepi kolam dan membantu gadis itu untuk duduk di salah satu kursi yang ada di pinggir kolam renang.

“Uhuk! Uhuk!”

“Kau baik-baik saja?” tanya Minseok pada gadis itu.

Manik mata gadis berpipi tembam yang diselamatkan Minseok menatap lurus ke arah tubuh bagian tengah Minseok. Kaos murahan yang basah kuyup membuat 6 kotak di perut Minseok nampak tercetak begitu jelas.

“Kau… seksi sekali.” Ungkap gadis itu, terpana. Kedua pipi tembamnya merona.

“Tsk, apa yang kau bicarakan?” Minseok menggaruk kepalanya, menahan rasa canggung.

Grep! Kedua tangan si gadis menggenggam sebelah tangan Minseok, di matanya ada binar penuh harap, “Apa kau mendaftar sebagai lelaki sexy, free, and single?”

Minseok mengangguk, “Kenapa memangnya?”

“Kalau begitu cepat antarkan aku ke Sekretaris Byun! Cepat!”

Wajah lelaki itu terlihat kebingungan, ia mengulurkan tangannya namun gadis cantik itu menolak.

“Gendong aku, aku kan baru saja tenggelam.” Lalu apa hubungannya dengan ‘tidak mau berjalan kaki’?, Minseok sih menurut saja orangnya meski terpaksa.

Minseok menggendong gadis itu ke dalam rumah, para pelayan yang ada di dalam ruangan seketika mengkhawatirkan gadis yang basah kuyup di atas punggungnya.

“Ba-bagaimana bisa?! Apa yang terjadi, Nona?!” tanya Sekretaris Byun yang tak berapa lama datang setelah mendengar Nona Park-nya kenapa-kenapa.

Gadis yang diselamatkan oleh Minseoklah Nona Park-nya, mendengarnya pun, Minseok langsung terkaget-kaget. Satu juta dollar itu pastilah akan menjadi miliknya!

“Yak, kau! Apa yang telah kau lakukan pada Nona Park, huh?! Cepat katakan!”

“Sekretaris Byun! Kau ini apa-apaan sih! Justru dia menyelamatkanku yang hampir tenggelam!” omel ‘Nona Park’ pada sekretaris pribadinya itu saat sang sekretaris yang belum tahu bagaimana runtut kejadiannya tiba-tiba menyalahkan lelaki yang menyelamatkannya. Sang sekretaris pun membungkukkan badannya, meminta maaf.

“Sekretaris Byun…”

“Ya, Nona?”

“Dia seksi. Aku ingin dia saja!” ucap Nona Park kemudian bergelayut manja di lengan Minseok. Keputusan pun akhirnya sudah dibuat tanpa menunggu waktu lama. Kim Minseok terpilih sebagai lelaki yang harus rela memberikan waktunya sepenuhnya hanya untuk Nona Park, putri satu-satunya dari keluarga konglomerat Park, seorang.

 

♥♥♥

 

Mimpi Minseok menjadi orang kaya dalam sekejap akhirnya akan menjadi kenyataan juga. Hanya butuh waktu sebulan baginya untuk mendapatkan satu juta dollar. Tapi tentunya, tidak akan ada uang dalam jumlah besar tanpa usaha yang besar juga.

“Namaku Park Sooyoung.”

“Namaku Kim Minseok.”

Begitulah awal perkenalan Minseok dengan seorang putri konglomerat. Park Sooyoung, gadis cantik super manja yang entah memiliki kelainan otak disebelah mana. Minseok menyimpulkan, gadis itu gila. Terlebih, dari cerita para pelayan, tidak pernah ada lelaki yang tahan dengan sikap kekanak-kanakan gadis 21 tahun itu.

‘Ibu, aku tidak akan pulang. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Yang jelas dalam waktu sebulan, aku akan pulang dan hidup kita akan berubah menjadi kaya raya.’ Pesan Minseok pada sang ibu.

Dari ujung kamar, Sooyoung tersenyum-senyum melihat Minseok yang terlihat begitu seksi menggunakan baju handuk dan dengan rambut hitamnya yang masih basah seperti bekas keramas.

“Aish, ya ampun!” Minseok tersentak kaget, ponsel jadulnya spontan terlempar dari genggamannya saat tangan Sooyoung melingkar di tubuhnya dari belakang. “S-soo-sooyoung-ah, kau membuatku terkejut.”

“Harusnya kau ketuk pintu dulu sebelum masuk ke kamar seseorang.”

“Memangnya di dunia ini ada ya aturan konyol macam itu?” bukannya melepaskan, Sooyoung malah semakin mempererat lingkaran tangannya di tubuh Minseok.

Ya Tuhan. Minseok sekarang bersama seorang gadis, berdua saja, di dalam satu ruangan besar yang mereka sebut kamar, kain yang menutupi tubuhnya hanya sebatas baju handuk, terlebih gadis itu memeluknya begitu erat seolah mengajaknya untuk berperang melawan hawa nafsu. Sebagai pria yang tergolong ‘matang’, pikiran untuk ke arah ‘sana’ pastilah terlintas di otak Minseok. Untungnya, Minseok mempunyai iman yang super duper kuat.

“Kau tidak boleh bersikap seperti ini, Sooyoung-ah.” Minseok melepaskan pelukan Sooyoung.

Gadis itu pun manyun, “Memangnya kenapa? Oppa kan punyaku.”

Kalau dipikir-pikir, iya juga. Minseok akan dibayar satu juta dollar untuk bersikap manis pada Sooyoung dalam waktu sebulan. Tapi tetap saja! Kalau ia tiba-tiba kebablasan bagaimana?! Bisa-bisa berakhir di penjaralah ia karena memperkosa anak konglomerat.

“Lebih baik, sekarang kau tidur saja, bagaimana? Lagipula hari sudah mulai larut kan? Gadis cantik tidak boleh tidur terlalu malam.”

Sooyoung membanting tubuhnya ke kasur empuk Minseok,

“Kalau begitu aku tidur di kamar Oppa saja.”

“Ye?! Tidak! Tidak! Kau harus tidur di kamarmu sendiri!” Minseok menggeleng, menarik-narik tangan Sooyoung untuk bangkit dari kasur empuk yang sama sekali belum ditidurinya itu.

“Tidak mau! Aku ingin tidur di sini saja! Aku ingin tidur bersama Oppa!” tolak gadis itu, seperti anak kecil yang ingin tidur bersama orang tuanya.

Minseok menghela nafas kasar, “Ayolah, Park Sooyoung… jangan begini.”

“Pokoknya tidak mau!”

Malam itu berakhir dengan Park Sooyoung yang terlelap di sebelah Kim Minseok. Lelaki itu kemudian mengalah, bangkit dari posisinya untuk tidur di sofa yang ada di kamar itu. toh, sofa orang kaya tak kalah empuk dengan kasur-kasurnya.

 

♥♥♥

 

Minseok dijamu dan diperlakukan bak seorang raja di rumah itu. meja makan panjang yang terdiri dari 12 kursi di ruang makan itu dilengkapi dengan berbagai jamuan makan melebihi hotel bintang lima yang sebetulnya juga tidak pernah Minseok lihat. Daging? Setahun sekali saja sepertinya jarang bagi Minseok memakan daging. Biasanya, ia hanya mengandalkan ramen warung untuk makan sehari-hari.

“Kalau masih ada yang Tuan inginkan, katakan saja. Kami akan berusaha menyajikannya untuk anda.” Padahal yang berbicara pada Minseok sekarang itu adalah pelayan pria yang rambut, kumis serta jenggotnya sudah memutih, tapi gaya bicaranya pada Minseok benar-benar formal. Minseok merasa luar biasa!

Oppa~ kenapa tidak membangunkanku dulu? aku kan ingin sarapan juga bersamamu!” jika dilihat-lihat secara seksama, Park Sooyoung benar-benar sangat cantik meski baru bangun tidur sekalipun.

“Selamat pagi, cantik!” sapa Minseok, ia bangkit dari kursinya, menghampiri Sooyoung yang masih mengucek mata dengan imut. “Ayo kita sarapan bersama, aku juga belum sarapan.”

Minseok mempersilakan Sooyoung untuk duduk di kursi meja makan. Diperlakukan seperti itu saja, Sooyoung sudah senang minta ampun.

“Kau mau makan apa? Akan kuambilkan.”

“Suapi juga ya?” pinta Sooyoung.

“Baiklah. Tapi janji satu hal!”

“Apa?”

“Makan yang banyak, mengerti?”

Sooyoung mengangguk semangat.

Minseok tersenyum, tangannya mengelus puncak kepala Sooyoung, “Anak pintar!”

 

♥♥♥

 

Di hari libur seperti hari ini, taman hiburan terbesar di Korea Selatan pasti saja ramai pengunjung. Setelah sempat meminta ijin orang tua Sooyoung yang super sibuk terlebih dahulu, Minseok mengajak gadis itu ke tempat paling mengasyikan di Republik Korea ini. Sebagai seorang anak konglomerat, Sooyoung tak diijinkan pergi berdua saja dengan Minseok. Langkah kaki Sooyoung selalu diawasi oleh Sekretaris Byun dan juga beberapa pengawal pribadinya dari kejauhan.

“Bagaimana sih rasanya terlahir sebagai anak orang kaya?” tanya Minseok yang terdorong oleh rasa penasaran. Saat ini, mereka tengah berada di dalam sebuah kereta gantung. Berdua saja, karena para pengawal Sooyoung naik di kereta belakang.

Oppa bertanya pendapatku?”

Minseok mengangguk.

“Bagaimana ya? rasanya membosankan sekali. Aku tidak suka menjadi anak orang kaya. Kalau tidak sempurna sedikit, aku pasti akan dikucilkan oleh ayah ibuku sendiri.” Ungkap Sooyoung, matanya berkaca-kaca.

Mendengar pendapat Sooyoung, Minseok merasa miris. Dirinya yang miskin setiap hari berharap menjadi orang kaya, sementara Sooyoung yang terlahir kaya malah tidak menyukai takdirnya. Manusia memang tidak pernah puas.

Tapi tunggu, apa katanya? Kalau ia tidak sempurna, ia akan dikucilkan oleh ayah ibunya sendiri?

“Maksudmu?” ah, Minseok baru mengerti. Kenapa Sooyoung tinggal sendirian di rumah mewah itu tanpa kedua orang tuanya, dan kenapa kedua orang tuanya sangat sulit untuk ditemui di rumah yang berbeda, pasti karena sosok Sooyoung yang menurut mereka tidak sempurna, Sooyoung sedikit… berbeda.

Manik Minseok mendapati Sooyoung yang menunduk sedih, sementara kereta gantung itu sebentar lagi akan berhenti.

“Jangan sedih, Sooyoung-ah. Aku bersamamu.” Ucap Minseok, menggenggam kedua tangan Sooyoung dengan tatapan meyakinkan.

Tablet yang semula digenggam oleh Sekretaris Byun tiba-tiba saja jatuh dari genggamannya, pemandangan Sooyoung yang berciuman dengan lelaki yang baru dua minggu gadis itu kenal di dalam kereta yang baru berhenti di depannya entah kenapa terasa begitu menyakitkan.

“Nona, bagaimana? Apa naik kereta gantung itu mengasyikan?” tanya Sekretaris Byun, memaksakan senyumannya di hadapan Sooyoung dan Minseok.

“Mengasyikan sekali, OppaOppa kenapa harus takut ketinggian sih?! Kan kalau tidak, kita bisa naik kereta gantung bersama.” Balas Sooyoung dengan senyuman cerah menghiasi wajah cantiknya. Di luar, Sooyoung bebas memanggil Sekretaris Byun dengan panggilan apa saja, termasuk ‘Oppa’.

Sekretaris Byun tersenyum pahit, Nona-nya benar. Seandainya saja, ia tidak takut akan ketinggian…

“Ah, Sekretaris Byun, bisakah kau meninggalkan kami berdua saja tanpa para pengawal itu? Lagipula aku kan tidak akan berbuat yang macam-macam pada Sooyoung.”

“Tinggalkan kami berdua saja ya, Oppa?” pinta Sooyoung sembari menggenggam kedua tangan Sekretaris Byun. Kalau sudah begini, Sekretaris Byun tidak bisa berkata ‘Tidak’ pada Park Sooyoung.

“Baiklah, kami akan menunggu di pintu keluar. Tolong kembali sebelum pukul 7 malam.” Ucap Sekretaris Byun sebelum akhirnya pergi bersama para pengawal pribadi Sooyoung, meninggalkan Sooyoung berdua bersama Minseok.

“Sekarang, mereka sudah pergi. Kita mau ke mana?” tanya gadis itu, tangannya mulai menggandeng tangan Minseok dengan nyaman.

Minseok pura-pura berpikir, padahal saat itu juga tujuan Minseok sudah ada di ujung lidahnya, “Kita kencan es krim? Lalu naik komidi putar? Lalu menonton festival? Lalu… apalagi ya?”

“Berciuman lagi juga menyenangkan.” bisik Sooyoung di telinga Minseok. Minseok tertawa mendengarnya, Sooyoung itu polos sekali.

Sesuai dengan yang Minseok katakan, Sooyoung ikut saja ke mana langkah pria tampan itu membawanya. Mereka membeli es krim, naik wahana komidi putar terbesar, dan menonton festival yang disuguhkan oleh pihak taman hiburan itu.

Saat tengah asik-asiknya menonton festival di lahan taman hiburan yang juga ramai penonton, telinga Sooyoung diganggu oleh tangisan keras seorang anak yang terpisah dari ibunya. Anak laki-laki berumur sekitar 7 tahunan itu menangis sangat keras, namun tak ada yang mempedulikannya karena sibuk menonton keseruan festival.

“YAK! TAK BISAKAH KAU DIAM?! TELINGAKU SAKIT MENDENGARMU MENANGIS, KAU TAHU!” bentak Sooyoung pada anak laki-laki itu, alhasil anak laki-laki itu menangis semakin kencang.

“YAK! KAU TIDAK MENDENGARKU?! KAU MAU MATI?!”

Minseok yang mendengar kata-kata kasar Sooyoung pun panas, Minseok menghampiri anak laki-laki itu dan menatap mata Sooyoung tajam, “Sooyoung-ah, Kau tidak seharusnya berkata sekasar itu pada anak kecil!”

“TAPI DIA MENGGANGGU TELINGAKU!”

Mendapat nada bicara yang tak meng-enakan dari seorang Park Sooyoung membuat Kim Minseok kehilangan kesabarannya. Daripada berlelah-lelah adu bicara dengan Park Sooyoung, Minseok lebih memilih untuk meninggalkan gadis itu sendirian dan membawa anak laki-laki itu untuk mencari sang ibu.

 

♥♥♥

 

“APA MAKSUDMU?! KAU MENINGGALKANNYA SENDIRIAN DI TENGAH BANYAK ORANG?! DASAR BRENGSEK!”

BUGH!

Sekretaris Byun meninju wajah Minseok habis-habisan. Sejak Sekretaris Byun meninggalkan Sooyoung bersama Minseok dua jam yang lalu, Sooyoung belum kembali ke tempat ia menunggu bersama para pengawal.

“Aku pikir dia sudah kembali.” Ucap Minseok.

“DIA ITU LEMAH! DIA TIDAK BISA DIBIARKAN SENDIRIAN DI TENGAH KERAMAIAN! DIA AKAN MERASA TERTEKAN DAN AKHIRNYA…”

“YAK! KALIAN CEPAT TEMUKAN NONA PARK SEKARANG JUGA!”

Sooyoung tidak bisa dibiarkan sendirian di tengah keramaian sebentar saja. Gadis itu akan merasa pusing, lemas, dan sesak jika menyadari dirinya hanya seorang diri di tengah banyak orang tanpa satupun orang yang ia kenal. Trauma itu sudah Sooyoung dapatkan sejak berumur 5 tahun, saat dirinya ditinggal begitu saja oleh orang tuanya di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di Korea. Untunglah saat itu, ayah Byun Baekhyun yang merupakan sekretaris di keluarga Park menemukan Sooyoung yang pingsan dan mengantarkannya kembali ke rumah. Meski sudah 16 tahun berlalu, trauma Sooyoung tidak pernah hilang.

Mendengar penjelasan itu langsung dari Sekretaris Byun, Kim Minseok seketika ditimpa rasa bersalah yang amat sangat karena telah meninggalkan Sooyoung sendirian.

“SEKRETARIS BYUN! KAMI MENEMUKAN NONA PARK!”

Dua lelaki itu akhirnya mampu bernafas lega karena akhirnya Sooyoung berhasil ditemukan meski dalam keadaan pingsan dengan wajah pucat dan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya.

 

♥♥♥

 

“Kenapa bukan aku saja yang kau pilih, Sooyoung-ah? Kenapa selalu saja harus lelaki lain?” sebuah pertanyaan yang sebenarnya Sekretaris Byun ketahui sendiri tidak akan mendapat jawabannya, karena saat ini, Sooyoung terbaring lemah di kamarnya. Dokter pribadi keluarga Park sudah datang untuk merawat Sooyoung, dan tidak diperkenankan untuk kembali pulang sebelum kesehatan Sooyoung benar-benar pulih.

“Jadi sebenarnya kau mencintai Sooyoung, Sekretaris Byun?”

Kim Minseok, lelaki itu dengan sembrononya masuk ke kamar Sooyoung dan mendengar semua monolog Sekretaris Byun.

“Kenapa kau tidak ketuk pintu dulu?”

“Aku sudah melakukannya, kok! Mungkin kau saja yang tidak dengar karena serius menemani Sooyoung.” Minseok menunjukkan cengirannya. “Ah iya, soal perasaanmu…”

“Jangan dilanjutkan!” tegas sekretaris muda itu. “Tidak ada yang perlu dibahas lagi tentang itu.”

“Ungkapkan saja, Tuan Byun. Akui saja padanya, dia pasti akan mengerti perasaanmu.”

Sekretaris Byun lagi-lagi tersenyum pahit, “Dia jatuh cinta padamu, Kim Minseok. Kau harusnya tahu itu sejak pertama kali ia mau berciuman denganmu di dalam kereta gantung tadi sore.”

“Jadi, kau melihatnya?” Rasa bersalah itu menyelimuti perasaan Minseok. Ia sudah menghancurkan hati seseorang yang dengan tulus setia mencintai Sooyoung. Ia yang membuat Sooyoung jatuh cinta pada dirinya yang sebenarnya hanya mengharap satu juta dollar dari gadis itu. Ia juga yang membuat Sooyoung kini jatuh sakit. Sempurnalah kesalahannya sekarang.

 

♥♥♥

 

Minseok menempelkan ponsel jadulnya ke telinga, sebuah panggilan dari sang ibunda tercinta yang pastinya sangat merindukannya setelah pergi dari rumah selama hampir satu bulan lamanya.

“Apa? Menikah? Tentu saja tidak, Bu. Aku kan hanya ingin mendapatkan satu juta dollar dari keluarganya. Dengan sikap ibu yang temperamental seperti itu mana tahan menjadikannya menantu?”

PRAK!

Minseok mengalihkan pandangannya, matanya mendapati Sooyoung berdiri 5 langkah darinya dengan nampan yang membawa semangkuk bubur panas sudah jatuh ke kakinya.

“Sooyoung-ah, kakimu…”

“Memangnya aku kenapa? Aku kenapa sampai-sampai ibumu pasti tidak akan tahan bersamaku? Ah, aku lupa kalau aku ini gila. Bahkan orang tua kandungku saja mengucilkanku.”

“LEPASKAN!” Sooyoung meronta saat Minseok mengangkat tubuhnya untuk membaringkannya di kasur.

“Aku akan mengobati kakimu, tunggu sebentar.”

“Tidak perlu,” langkah Minseok terhenti, “Kau pergi saja! kontrakmu beberapa hari lagi juga akan habis bukan?”

“Ya, hampir habis, tapi itu artinya belum habis. Sebagai seorang profesional, aku tidak boleh pergi sebelum kontraknya habis.”

“SEKRETARIS BYUN! SEKRETARIS BYUN!” teriakan Sooyoung mampu memanggil sang sekretaris tanpa butuh waktu lama.

“Ada apa, Nona?”

Sooyoung menatap Minseok dengan tatapan benci, “Selesaikan kontraknya sekarang juga! Dan jangan lupa, kirimkan satu juta dollar ke rekeningnya! Jangan sampai kurang satu dollar pun! Karena hanya itu yang dia butuhkan…”

“Nona, bukankah kau mencintai-“

“Mencintai? MENCINTAI SIAPA?! UNTUK APA MENCINTAI ORANG YANG TIDAK MAU MENCINTAI GADIS GILA SEPERTIKU?!”

Minseok berbalik menatap Sooyoung, “Aku mencintaimu! Ya! Aku mencintaimu! Tapi hanya untuk satu juta dollar. Mana berani aku menyatakan cintaku padamu sedangkan di sisimu saja ada lelaki yang bisa lebih tulus mencintaimu, Park Sooyoung?!”

“S-si-siapa yang kau maksud?” tanya Sooyoung, ia mengalihkan pandangannya ke arah sang sekretaris, Byun Baekhyun hanya mampu menundukkan kepala. “Baekhyun Oppa… kaukah itu? kaukah yang mencintai gadis gila itu?”

“M-maafkan aku, Nona. Aku tidak bermaksud lancang…“

Minseok tersenyum,

“Aku akan segera pergi. Jangan lupa obati kakimu, dan yang paling penting…”

“…Satu juta dollarku.”

 

♥♥♥

 

Hidup Kim Minseok dan ibunya berubah. Setelah berhasil mewujudkan impian menjadi seorang milyarder, Kim Minseok tak mau hanya sekedar bermimpi lagi. Ia membuka bisnis kecil-kecilan di mana-mana hingga statusnya bukan lagi seorang pengangguran, melainkan wirausahawan.

Setelah mendapat satu juta dollar, Kim Minseok bukanlah kacang yang lupa kulitnya atau bagaimana. Kim Minseok masih terus berhubungan dengan Park Sooyoung dan juga Byun Baekhyun. Tapi, bukan untuk memanfaatkan mereka lagi, lho! Kali ini kasusnya sudah jauh beda, mereka… ber-sa-ha-bat!

“Oy, Kim Minseok!” suara itu, tanpa perlu memalingkan wajahpun Minseok sudah tahu siapa yang memanggilnya.

Byun Baekhyun, ya, tepat sekali tebakan Minseok! Baekhyun mampir ke warung soju kecil milik Minseok bersama Park Sooyoung yang sudah menjadi kekasihnya sekarang, mereka pasangan yang cocok dan selalu terlihat bahagia.

Oppa, jangan lupa datang ke pernikahan kami di Amerika ya?!”

“Apa?! Amerika?! Yang benar saja! Ongkosnya kan mahal!” respon Minseok yang berlebihan itu mengundang tawa keduanya.

Sooyoung kembali merajuk seperti anak kecil di depan Minseok, “Datang ya? ya? kumohon!”

“Kau harus datang, Kim Minseok! Oh iya, bawa juga kekasihmu! Jangan pikirkan ongkos, kami yang akan menanggung semuanya.” Ujar Baekhyun.

Mendengar hal-hal berbau gratisan, Minseok pun berbinar bahagia,

“Aku pasti datang! Aku pasti datang! Selamat ya kalian! Unch..unch..unch!” ucap Kim Minseok gemas sendiri pada pasangan itu.

 

Ya, mungkin sudah jodohnya Park Sooyoung dengan Byun Baekhyun. Mereka jelas bisa saling mengerti satu sama lain. Seseorang yang hanya jatuh cinta pada satu juta dollar, mana boleh disandingkan dengan putri konglomerat? Hihi. –Kim Minseok.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s