[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Coffeeshop (Oneshot) – Shaekiran

coffeeshopxiumin2.jpg

Coffeeshop

A Fanfiction by Shaekiran

Dedicated for Kim Min Seok a.k.a Xiumin’s Birthday

Cast

Kim Min Seok (EXO), Reen (OC)

Genres Fluff, Romance, Friendship, etc

PG-15 | Oneshot

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Warning, typos bertebaran.

Happy reading!

“Sampai jumpa, Reen.”

 

 

 

In Author’s Eyes

 

Sebuah hujan yang turun merintik nampak menjadi pemandangan sore hari yang sepersekian sekon lalu berisi penuh sinar terik mentari. Kini, langit yang tadinya cerah itu nampak berarakkan awan kehitaman, gelap, dan kadang pula suara menyambar terdengar membelah udara yang mulai mendingin. Melihat cuaca yang tak mendukung itu, Kim Min Seok –seorang mahasiswa jurusan hukum semester akhir yang tadinya berniat pergi ke perpustakaan kota sambil mengayuh sepeda kesayangannya– harus menepi di pinggir trotoar yang berisikan orang lalu lalang, ada yang berpayung dan ada juga yang tengah berlari karena sudah basah kuyup. Keadaan Min Seok sendiri tak jauh berbeda. Jaket denim yang dia pakai sudah cukup basah, hingga membuat dia harus menemukan tempat berteduh secepat mungkin.

Tak jauh dari sudut mata Min Seok, netra lelaki berusia pertengahan 20-an tahun itu menangkap pemandangan sebuah papan toko yang membuatnya cukup tertarik. Café bertuliskan Coffeeshop dengan huruf cantik nan melenggok berwarna-warni cerah itu akhirnya membuat Min Seok dengan cepat memutuskan untuk berlari ke sana bersama Pasal –sepeda kesayangannya.

Gemerincing lonceng yang digantung tepat di atas pintu Coffeeshop membuat Min Seok segera tersadar betapa menariknya café yang sedang dia kunjungi secara tidak sengaja ini. Café itu punya interior yang menarik, tidak terlalu feminim juga tidak bisa dibilang maskulin. Café itu terkesan netral dengan warna dominan putih dan sentuhan warna kayu di beberapa tempat. Aroma kopi pun menguar memenuhi indra penciuman pria itu kala menjejakkan sepatu basahnya ke dalam café, persis seperti nama tempat itu; Cofffeeshop.

“Terimakasih.” ucap Min Seok sembari memasang senyum terbaiknya saat seorang pelayan café mendatangi dan menghadiahi badan basahnya dengan sebuah handuk kecil berwarna putih bersih. Café yang ramah, kesan Min Seok kala itu.

Dengan cepat Min Seok pun membawa handuk kecilnya menuju sebuah tempat yang ia kira mungkin bisa membuatnya lebih nyaman lagi berteduh di café ini. Dan ia pun akhirnya jatuh hati pada sebuah meja di ujung café. Meja sederhana berisikan dua kursi tepat di pinggir jendela berbahan kaca transparan itupun menjadi tempat Min Seok sekarang mendudukkan dirinya.

Sempat Min Seok terpana dengan pemandangan luar café yang ternyata berisikan jalan raya yang cukup lenggang karena hujan yang mengguyur. Hanya beberapa kendaraan beroda empat yang bergerak lambat di atas jalan beraspal sana, dan barulah pemuda Kim itu menyadari bahwa perpustakaan yang ia tuju tadi berada tak seberapa jauh dari café yang sedang ia tempati sekarang. Hanya tinggal berjalan beberapa puluh meter, menyebrang jalan dan menelusuri trotoar selama selang semenit hingga ia mencapai perpustakaan kota itu, tebak Min Seok mengingat jarak café ini dengan gedung yang ia tuju tidak terlalu jauh.

Hm Tuan, ingin memesan sesuatu?”

Atensi Min Seok pun harus teralih dari keasyikannya meneliti berapa jarak menuju perpustakaan kota. Matanya kini bergerling menuju sosok gadis semampai berpakaian kemeja putih setengah lengan dan apron merah yang menghiasi tubuh ramping miliknya, “Cappucino.” ucap Min Seok cepat sebelum akhirnya gadis itu mengangguk dan mencatat pesananan Min Seok.

Kim Min Seok akhirnya kembali memilih memandang ke luar jendela, menyusuri pemandangan jalan yang hingga saat ini belum membuatnya bosan menatap. Tak lama, aroma khas salah satu jenis kopi yang sangat ia kenal menjadi candu penciumannya, dan benar saja, saat Min Seok berbalik sudah ada penampakan segelas Cappucino yang disajikan dengan seulas senyum oleh pelayan café tadi.

“Selamat menikmati,” kata pelayan itu masih mengulum senyum, dan mau tak mau Min Seok ikut mengukir senyum di bibir tipisnya. “Terimakasih,” gumamnya pelan sambil meraih Cappucino yang sudah menggodanya itu.

 

 

Hari ini Min Seok sukses mendekam di ruang perpustakaan kota yang apik. Deret buku yang berjejer dalam puluhan rak tinggi itu menjadi pemandangan Min Seok selama lebih kurang 2 jam, hingga ia akhirnya memutuskan menutup bukunya dan mengakhiri aktifitas membaca wajibnya itu. Tangan pemuda Kim itu lantas tergerak meraih tas ransel yang ia letakkan di atas kursi sebelahnya yang kebetulan kosong, lalu menenteng ransel itu di punggungnya. Tangan kanannya sendiri tengah membawa 2 buah buku tebal bersampul abu-abu yang sekiranya adalah buku mengenai Hukum, sedang kakinya bergerak perlahan menuju meja penjaga perpustakaan.

“Aku ingin meminjam 2 buku ini,” vokal Min Seok sambil menyodorkan 2 buah buku tebal di tangan kanannya, juga sebuah kartu kecil yang menandakan pria itu adalah anggota perpustakaan kota.

Selesai dengan urusannya meminjam buku yang Min Seok rasa bisa menjadi referensi skripsi yang tengah ia susun, pria Kim itu keluar dari gedung perpustakaan dan dengan segera menghampiri Pasal yang sudah dengan setia menunggunya di sana. “Ah, Pasalya, apa kau kesepian?” kata Min Seok menyapa sepeda kesayangannya itu, lalu tanpa basa-basi segera menaiki kendaraan yang rutin membawanya kemanapun itu.

Kini Pasal sudah menepi di atas sebuah trotoar setelah 5 menit Kim Min Seok mengayuhnya dengan senang hati. Coffeeshop menjadi tempat berkunjung Min Seok selanjutnya. Ntahlah, Capuccino di tempat itu agaknya sudah menyihir Min Seok hingga sudah lebih dari seminggu ini ia rutin mengunjung tempat itu jika baru pulang dari perpustakaan, atau sekedar jika ia ingin mengerjakan skripsi sembari ditemani minuman favoritnya; Cappucino. Min Seok rasa, ia sudah jatuh cinta dengan Coffeeshop itu.

“Kau datang lagi Min Seok-ssi?” bahkan pelayan café ini sudah mengenal Min Seok karena pria itu sudah terlalu sering berkunjung. Min Seok tersenyum, sambil menggoyang-goyangkan pintu hingga bunyi lonceng yang digantung di atas pintu itu berbunyi gemerincing cukup keras. Pelayan itu tertawa, lalu mempersilahkan Min Seok untuk masuk.

“Yang biasanya?” tanya pelayan café itu dan dengan cepat Min Seok mengangguk. Siapa lagi memangnya yang rutin memesan Cappucino dari sekian banyak sajian kopi di Coffeeshop itu selain Min Seok? Akhirnya Min Seok melangkahkan kaki menuju tempatnya duduknya yang biasa sambil bersenandung kecil, sebelum akhirnya raut mukanya berubah karena menemukan sebuah laptop yang terbuka lebar juga beberapa buah novel yang tergeletak begitu saja di atas meja.

Siapa?” batin Min Seok cukup tak suka. Baginya, kursi di meja itu adalah yang terbaik, juga sudut dan pemandangan dibalik jendela sanalah yang paling menakjubkan bagi seorang Min Seok. Rasanya Min Seok ingin marah-marah saja pada siapapun yang sudah merebut kursi yang ia dakwa sebagai miliknya itu.

“Kenapa?” tanya gadis pelayan café yang sudah membawakan Cappucino pesanan Min Seok, tapi malah menemukan pelanggan tetapnya itu tengah berdiri sambil berkacak pinggang.

“Siapa yang duduk di sana Yara-ssi?” tanya Min Seok, hingga membuat pelayan itu –Lee Yara–seketika melirik ke arah ekor mata Min Seok dan mendapati meja yang biasanya ditempati penikmat Cappucino itu sudah terisi orang lain.

Mm, pelanggan?” polos Yara yang dihadiahi aksi memutar mata jengah dari Min Seok. “Aku ingin duduk di bangku itu, seperti biasanya,” putus Min Seok cepat yang akhirnya membuat Yara-lah yang kini memutar matanya kaget.

Jinja? Aish, Min Seok-ssi, aku tidak mungkin mengusirnya,” tolak Yara cepat, dan sebuah tatapan masih memicing diberikan Min Seok sebagai balasan. “Harus.kursi.yang.itu.” kukuh Min Seok dengan penuh penekanan sambil menunjuk kursi di sudut café yang ia maksud.

“Jangan buat pekerjaanku makin rumit!” mungkin itu umpatan yang sedang dikeluarkan Yara dalam hati, namun berhubung Min Seok adalah pelayan setia Coffeeshop tempatnya bekerja itu, Yara hanya tersenyum pasrah sambil menggumam pelan, “akan ku usahakan.”

 

 

Min Seok menikmati Cappucino-nya dengan nikmat, sambil memandang keluar café lewat kaca transparan di sebelahnya seperti biasanya, juga dari meja yang biasanya. Namun bukannya merasa senang karena sudah duduk di kursi yang ia mau, Min Seok malah merasa ingin mengumpat pada pelayan café itu sekarang juga. Bagaimana tidak, ‘akan ku usahakan’ yang dipikiran Min Seok adalah Yara yang mengusir orang yang duduk di kursinya ke meja yang lain, tapi rupanya ‘akan ku usahakan’ yang dimaksud Yara adalah menempatkan Min Seok dan pelanggan satunya yang sudah menempati meja itu di meja yang sama. Ya, Min Seok sekarang tak duduk sendirian di meja sudut itu. Kini di depannya sudah duduk seorang gadis ­–pelanggan café yang merebut bangkunya– yang menatapnya dengan tatapan jengah.

“Apa kau tidak bisa mengalah?” sungut gadis yang sedari tadi hanya menggerakkan jemarinya di atas keyboard laptop, tapi detik ini ia menghentikan aktifitasnya dan beralih menatap Min Seok dengan tatapan tak suka, lengkap dengan nada bicara yang sudah jelas menandakan ia ingin Min Seok pergi sekarang juga dari meja-nya.

“Ini mejaku,” jawab Min Seok cepat sembari meminum Cappucino-nya dengan tenang, sementara gadis itu mulai memutar matanya jengah. “Kau punya lisensi untuk meja ini?” balasnya, dan dengan cepat Min Seok menggeleng, “ Tidak, tapi aku pelanggan tetap di meja ini.”

Gadis itu lantas menahan emosinya naik ke ubun-ubun. Ia baru saja keluar dari toilet sebelum akhirnya kembali ke mejanya dan mendapati sudah ada Min Seok yang marah-marah pada gadis pelayan café di sana. Pelayan café itu lantas menghampiri Si Gadis, menjelaskan ini itu hinga akhirnya dengan enggan Si Gadis berakhir duduk berdua di meja yang sama bersama Min Seok yang membuatnya super jengah karena duduk dengan orang asing.

“Kau kuliah jurusan hukum?” kali ini Si Gadis mengalihkan pembicaraan dari adu argumennya dengan Si Pria tak mau mengalah di depannya, hingga membuat Min Seok kini menatapnya dengan pandangan penasaran. “Memangnya kenapa kalau aku jurusan hukum?” tanya Min Seok sambil menarik buku hukum yang baru ia pinjam dari perpustakaan tadi mendekat, lalu meletakkannya di pangkuan karena Min Seok yakin gadis itu pasti menebak jurusannya dari judul buku yang sedari tadi ia baca sambil menyesap Cappucino.

Hm. Aku ingin bertanya. Soal hukum, kalau kau tidak keberatan.” Kata gadis itu yang membuat Min Seok akhirnya mulai agak penasaran, lalu mengangguk iya dengan cepat.

“Hm, apa di pasal perundang-undangan ada tertulis bahwa apa yang sering dikunjungi menjadi hak milik pribadi? Juga, apa ada tertulis bahwa tempat duduk tanpa lisensi kepemilikan yang sah adalah milik pelanggan tetap café? Lalu, apa para mahasiswa jurusan hukum tidak mengenal yang namanya Hak Asasi Manusia dimana–“

Gadis itu tersenyum, lalu menghentikan kalimatnya saat kini matanya mendapati pemandangan bahwa Min Seok sudah angkat kaki dari kursi di depannya. Lengkap dengan membawa serta ransel coklat juga buku hukum miliknya. “Mahasiswa pintar.” sindir gadis itu akhirnya sementara Min Seok hanya menatap gadis perebut bangku miliknya dengan pandangan datar, jengah sekaligus karena gadis itu membawa-bawa pasal hukum hanya karena perkara kepemilikan meja di sebuah Coffeeshop.

“Puas?” tanya Min Seok dengan nada tak suka, dan si gadis pun tanpa rasa bersalah langsung mengangguk dengan begitu cepat, “puas sekali,” dan ntah kenapa itu membuat Min Seok makin jengah saja.

 

 

Sore berikutnya Min Seok datang lebih cepat setengah jam dari biasanya dengan harapan gadis kemarin yang sudah merebut bangkunya belum datang, atau tidak pernah datang lagi saja ke café Coffeeshop itu. Namun yang didapati Min Seok adalah pemandangan si gadis berambut sepunggung yang digerai itu tengah duduk di bangku kesukaannya sambil membaca sebuah novel tebal. Tak ayal, gadis itu ditemani sebuah Americano dan sepiring kecil desert pudding. Membuat Min Seok kesal karena lagi-lagi bangku itu jadi milik Si Gadis yang bahkan belum ia tau namanya itu.

“Cappucino,” ucap Min Seok penuh penekanan, berharap gadis yang berbeda satu meja itu mendengar ucapannya dan menengok ke arahnya. Dan benar saja, gadis itu menatap Min seok sebentar, tersenyum kecil ke arah Min Seok, lalu kembali menenggelamkan dirinya ke dalam lembaran-lembaran sajak novel ber-cover coklat tua miliknya.

“Kau benar-benar suka merebut milik orang lain ya,” sindir Min Seok, dan gadis itu bukannya merasa tergangu malah balas menjawab Min Seok dengan tenang. “Punya lisensi kepemilikan kursi?” katanya sambil menyuap sesendok puding ke mulut, lalu kembali tenggelam dalam bukunya. Min Seok yang mendengar hanya menatap gadis itu setengah percaya, ingin rasanya ia mendebat jawaban Si Gadis, namun bibir Min Seok serasa kelu dan ia hanya bisa terdiam di tempat.

“Heol, membuatku kesal saja,” batin Min Seok akhirnya tanpa bisa melepaskan pandangannya dari Si Gadis.

 

 

Minum Cappucino sambil memandangi gadis yang duduk berbeda satu meja dengannya itu agaknya sudah menjadi kebiaasaan Min Seok selama hampir 2 minggu ini. Ya, selama 2 minggu ini Si Gadis Perebut Bangku –nama yang diberikan Min Seok pada gadis itu– ternyata rutin mengunjungi Coffeeshop, dan mau secepat apapun Min Seok datang tetap saja gadis itu sudah duduk di sana sambil membaca novel ditemani secangkir Latte dan cemilan.

Dan parahnya, agaknya Min Seok merasa kepalanya sudah teracun dengan ratusan pasal hukum yang harus ia hafal mati agar bisa lulus dengan nilai memuaskan dari fakultas Hukum, karena sekarang Min Seok memuji gadis itu cantik. Ya, Min Seok yang tadinya membenci dan kesal setengah mati pada gadis itu sekarang memuji musuhnya berebut bangku dengan sebutan cantik, meski hanya gumaman dalam hati saja. Memangnya mau ditaruh dimana muka Min Seok kalau sampai mengucapkan kata itu keras-keras, eoh? Dia bisa malu 7 turunan 8 tanjakan mengingat ia selalu beradu mulut dengan gadis itu.

Tanpa sadar, seminggu ini Min Seok menjadi sering memperhatikan gerak-gerik gadis yang tidak ia tau namanya itu. Mulai dari caranya membuka buku, menyangga dagu dengan tangan kanannya sembari menikmati tiap kata yang tersusun dalam lembaran kisah romansa novel, juga ekspresi lucu yang kerap kali gadis itu perlihatkan saat membaca, ntah cemberut, ntah senyam-senyum, bahkan tak jarang gadis itu nampak berkaca-kaca saat membaca. Ya, gadis itu penuh ekspresi, dan mau tidak mau Min Seok harus mengakui kalau dia menyukai semua ekspresi gadis satu itu.

“Kau terus memandanginya,” Min Seok mengerjap saat mendengar Yara kini berucap sambil menghitung kembalian uang yang harus ia berikan pada si pemuda Kim, membuat Min Seok lantas menatap pelayan café yang merangkap kasir itu dengan penuh tanda tanya. “Siapa?” tanyanya balik kemudian.

“Itu, kau sepertinya terus memandangi gadis perebut bangku kesayanganmu itu Min Seok-ssi, benar ‘kan?” kekeh Yara lagi sambil menyerahkan beberapa lembar won kembalian Min Seok yang lantas membuat Min Seok segera melirik ke arah belakang, ke sudut café dimana gadis yang Yara maksud masih duduk dengan tenang sambil membaca novel padahal jam sudah menunjukkan pukul 7 malam lebih.

“Aku? Memandanginya? Cih, tidak mungkin sekali,” jawab Min Seok yakin sambil menerima kembalian yang diberikan Yara. Lantas pelayan café itu tersenyum jenaka, kemudian membisikkan sesuatu kepada Min Seok.

“Namanya Reen, kalau kau mau tau namanya Min Seok-ssi,” kekeh Yara sedikit menggoda pemuda Kim itu.

 

 

Min Seok sudah tau siapa nama gadis itu dari mulut Yara; Reen. Juga Minseok sudah tau bahwa gadis berambut coklat sepunggung yang sedikit bergelombang di bagian bawah dan selalu larut dengan novel romansa sambil meminum Latte itu adalah seorang mahasiswa tingkat akhir sepertinya –juga informasi dari mulut Yara. Masalahnya, sudah 3 hari Min Seok berturut-turut datang ke Coffeeshop tapi tidak mendapati keberadaan Reen. Ya, gadis yang sudah mencuri atensi Min Seok hingga tidak fokus dengan buku Hukum-nya itu menghilang dari peredaran netranya selama 3 hari ini.

“Masih menunggu Reen?” goda Yara untuk kesekian kalinya sambil meletakkan pesanan Min Seok di atas meja; segelas Cappucino seperti biasanya. Bahkan Min Seok dengan anehnya tidak menempati bangku sudut café yang ia idam-idamkan sejak lama padahal meja itu kosong karena gadis yang selalu menempatinya tidak datang ke café. Ntahlah, Min Seok hanya merasa lebih pas duduk di mejanya yang sekarang sambil memandang meja di sudut café itu beserta penghuninya, meski sekarang penghuninya juga tidak tau dimana.

“Aku tidak menunggunya,” elak Min Seok, dan Yara hanya terkekeh pelan. “Yakin?” goda gadis yang rambutnya dikuncir kuda itu. Akhirnya Min Seok menyerah. Lantas ia menghela nafas perlahan lalu menatap Yara intens. “Baiklah, aku menunggunya,” akui Min Seok jujur hingga kini Yara tertawa terpingkal-pingkal.

“Kau tau kemana dia akhir-akhir ini?” tanya Min Seok akhirnya, dan Yara yang dengan terpaksa menghentikan suara tawanya itu menggeleng cepat. “Aku tidak tau, mungkin dia sibuk,” kata gadis itu lalu berlalu begitu saja dari hadapan Min Seok.

Hari berikutnya Min Seok juga datang ke Coffeeshop, namun belum juga menemukan batang hidung Reen. Hari berikutnya, juga esoknya, lusa, dan esok lusa, Reen masih belum juga ada di café. Min Seok lantas menghela nafasnya, lalu meneguk Cappucino-nya perlahan.

“Kenapa aku uring-uringan mencari gadis yang bahkan belum berkenalan denganku secara langsung?”

–agaknya menjadi pemikiran yang memenuhi otaknya sore itu, mengingat Reen yang bahkan tidak tau namanya tapi ia malah memikirkan gadis itu siang dan malam seperti orang gila.

 

 

Lagi, Min Seok duduk di bangku Coffeeshop sepertinya biasanya, lalu memandang kosong meja yang dulu ia perebutkan itu dengan mata menerawang jauh. Ingatannya bernostalgia pada ekspresi Reen saat membaca, juga ekspresi menyebalkan gadis itu saat menyuruhnya pindah bangku dengan menarik pasal hukum dalam konversasi mereka. Ntahlah, Min Seok hanya merasa ia sedang ditarik ke dalam panorama rindu yang berlatar Coffeeshop itu, dengan Reen yang tentu saja sebagai objek rindunya. Ya, jujur Min Seok merindukan gadis itu.

Akhirnya, Min Seok memilih membuka buku yang baru ia pinjam dari perpustakaan lalu membacanya dalam diam. Baginya, membaca buku membosankan berisi pasal-pasal itu bahkan lebih baik daripada terjebak rindu tak berarah miliknya.

Tuk.

Min Seok menengadahkan kepalanya dari buku yang sedang ia baca, lalu menatap segelas Cappucino sudah bertengger di atas mejanya. Seperti biasanya, hanya saja Min Seok merasa ada yang janggal kali ini hingga ia refleks menengadahkan kepalanya.

“Tumben cepat. Aku bahkan belum memesan Cappu–“

Min Seok menggantung kalimatnya, lantas matanya membola saat sadar siapa sosok yang sedang meletakkan Cappucino yang biasa ia pesan itu di atas meja. Bukan Yara yang suka menggodanya tentang Reen, tapi malah gadis itu sendiri. Ya, itu Reen. Gadis yang selama 2 minggu lebih ini Min Seok pikirkan lebih dari waktu ia memikirkan kapan skripsinya rampung dikerjakan dan disetujui oleh dosen pembimbingnya. Bahkan kini Reen tersenyum padanya, sangat manis hingga Min Seok merasa mungkin saja ia berkhayal sakin merindukan gadis itu.

“Masih merindukanku?” vokal gadis itu akhirnya terdengar di telinga Min Seok setelah sekian lama. Suara yang begitu jernih dan memanjakan pendengaran pemuda Kim itu ntah kenapa.

Mendengar pertanyaan Reen, tentu saja Min Seok gugup bukan main. Bahkan baru saja ia hampir keceplosan mengatakan ‘iya’ sakin gugupnya. Meski memang kenyataan, Min Seok tentunya malu sendiri kalau mengakui bahwa ia rindu gadis yang bahkan tidak mengenal siapa namanya itu.

Melihat Min Seok masih enggan menjawan, Reen akhirnya berinisiatif duduk di bangku depan pemuda itu lalu menyodorkan tangan kanannya pada si pemuda.

“Do Kyungrin,” kata gadis itu sambil tersenyum manis. Mendengarnya Min Seok membulatkan mata, lalu segera berucap setengah percaya, “bukan Reen?!” katanya hampir memekik karena merasa telah dibohongi oleh Yara –si pelayan café.

“Reen nama panggilanku, kau boleh memanggilku itu kalau kau mau,” ucap gadis itu lagi sambil menahan tawa mengingat ekspresi kaget Min Seok yang luar bisa lucu di matanya. Lantas, dengan gugup Min Seok menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa malu karena sudah salah paham.

“Kim Min Seok,” ucapnya akhirnya memperkenalkan diri sambil membalas jabat tangan Reen.

“Hm, nama yang bagus untuk pecinta Cappucino,” puji Reen sambil tertawa renyah, dan melihat ekspresi jenaka dengan jarak sedekat ini membuat Min Seok jelas terpana. Reen rupanya sudah benar-benar menjadi candu baginya.

“Jadi kau benar-benar merindukanku?” tanya Reen kali ini sambil menghentikan tawa kecilnya dan menarik tangannya dari aksi berjabat tangan yang agaknya sudah berlangsung beberapa menit, dan sadar atau tidak Min Seok belum melepaskan tangan gadis itu sedari tadi. Mungkin terlena?

“Ah, itu…anu…” Min Seok berucap gugup sambil melepas jabat tangan Reen.

“Yara yang cerita padaku,” terang Reen kali ini sambil memasukkan anak rambutnya ke belakang telinga, hal yang lagi-lagi membuat Min Seok terpaku di tempat.

“Yara?” ulang Min Seok sekali lagi, dan Reen mengangguk cepat.

Oh, apa Yara belum bilang kalau dia adalah adik tingkat sekaligus tetangga sebelah rumahku?” Min Seok terdiam, mencerna penjelasan Reen barusan.

“Yara cerita semuanya kepadamu?” Reen lantas mengangguk cepat, membuat Min Seok mengutuk dirinya sendiri yang sudah bercerita banyak kepada Yara. Ntah apa yang harus diucapkan Min Seok pada Yara setelah ini, mengucap terimakasih karena sudah memberitahu Reen bahwa ia merindukannya atau malah merutuk gadis bermarga Lee itu karena sudah membocorkan rahasianya pada manusia yang bersangkutan?

Tawa renyah Reen akhirnya menyadarkan Min Seok untuk kembali ke masa sekarang setelah lamunan panjangnya tentang apa yang harus ia lakukan pada gadis bermarga Lee itu. Lantas Min Seok menatap pahatan Tuhan di depannya, panorama sempurna yang sayang untuk ia lewatkan barang sedetik saja.

“Jadi kita berdamai? Ku lihat bahkan kau tidak menempati kursiku selama aku pergi,” kata Reen malu-malu, dan Min Seok hanya tersenyum tipis.

“Yah, kalau kau mau berdamai,” balas Min Seok senang, meski masih agak canggung mengingat gadis di depannya itu sudah tau bahwa ia tengah merindu.

“Omong-omong, kalau kau mau, kita bisa menempati meja itu bersama-sama, kalau kau tidak keberatan,” ucap Reen lagi sambil melirik meja sudut yang ia maksud, meja di sudut café yang berbatasan dengan jendela kaca transparan dan berpemandangkan keadaan jalan raya dan gedung perpustakaan kota di kejauhan.

“Tentu saja, kalau kau juga tidak keberatan,” balas Min Seok super senang, bahkan kini ia menatap Reen dengan mata berbinar bahagia.

Drttttt……

Min Seok melirik layar handphone Reen yang tergeletak begitu saja di atas meja, hingga menampilkan tulisan ‘Kyungsoo <3’ sebagai penelfon. Dengan cepat gadis bermarga Do itu akhirnya mengangkat panggilan telfon itu.

“Ya, aku ada di café, masuk saja,” kata Reen cepat lalu mematikan panggilan telfonnya.

Tak lama, seorang lelaki berparas tampan memasuki area café, lalu dengan cepat menuju meja berisikan Reen dan Min Seok. Min Seok menatap kedatangan orang yang ia tebak adalah Kyungsoo –si penelfon yang namanya diberi tanda hati itu– dengan tatapan kurang suka, tebaknya itu mungkin kekasih Reen.

“Pacarmu?” tanya Min Seok memberanikan diri, dan Reen hanya tertawa mendengarnya.

Sesampainya Kyungsoo di sana, Reen segera menarik lelaki itu dan memperkenalkannya kepada min Seok.

“Perkenalkan, ini Kyungsoo, dia –“ Minseok mengedipkan matanya sekali, takut mendengar kata kekasih yang akan segera diucapkan Reen dan membuatnya patah hati.

“–adikku.”

“Eh?” tanpa sadar, kini Min Seok berucap kaget.

“Do Kyungsoo, adiknya.” kata lelaki itu akhirnya memperkenalkan diri dan Min Seok segera menyambut uluran tangan Kyungsoo dengan bersemangat. “Kim Min Seok,” kata lelaki yang sekarang ingin menari hula-hula di langit ke-7 itu.

Noona, aku tunggu di luar saja. Cepatlah, eomma sudah menunggu,” kata Kyungsoo lalu segera pergi meninggalkan area Coffeeshop setelah Reen menangguk.

“Kau pikir dia kekasihku?” tanya Reen selepas adiknya menghilang dibalik pintu café dan menimbulkan suara gemerincing lonceng yang lumayan keras, dan dengan malu-malu Min Seok mengangguk.

“Selama 2 minggu ini aku pergi ke Busan karena ada urusan keluarga, dan baru kembali ke Seoul kemarin pagi. Maaf karena itu membuatmu jadi uring-uringan sendiri,” di dalam hati Min Seok sudah mengumpat, “Dasar Lee Yara si mulut lebar itu!”

“Kalau begitu sampai jum­–“

“Ada film yang bagus di bioskop, kisah romansa yang judulnya sering kau baca itu,” Reen diam, menunggu lanjutan ucapan pemuda Kim itu. “Lalu?” katanya pura-pura tidak mengerti.

“Mau pergi menonton film-nya besok denganku?” baik, cukup berikan tepuk tangan yang meriah karena Min Seok baru saja mengajak gadis yang sudah merebut perhatiannya untuk pergi berkencan.

“Tentu saja, aku sangat suka menonton film,” jawab Reen dengan senang, hingga mau tidak mau membuat Min Seok tak bisa menahan senyumannya lagi.

“Boleh aku menghubungimu?” tanya Min Seok lagi, dan Reen lagi-lagi mengangguk. Lantas dengan cepat gadis itu mengambil bolpoin di sakunya lalu meraih telapak tangan Min Seok. Dengan cepat gadis Do itu menuliskan beberapa deret angka yang langsung membuat mata Min Seok berbinar.

“Telfon aku kalau kau tiba-tiba merindu, arraseo?” kata Reen sambil tertawa renyah, lalu dengan cepat melambaikan tangannya pada Min Seok.

“Sampai jumpa Min Seok-ssi, adikku sudah menunggu, hehe..” pamit gadis itu dan Min Seok dengan cepat balas tersenyum sambil melambaikan tangan.

“Sampai jumpa besok Reen.”

Ntahlah, mungkin Min Seok harus mengucapkan terimakasih kepada Yara yang sedang mengintip dari balik meja kasir sambil senyam-senyum sendiri melihat interaksi antara pemuda Kim itu dan Reen ‘kan? Sepertinya, Yara berhasil menjadi mak comblang di Coffeeshop tempatnya bekerja itu. Dan setidaknya, Min Seok tidak terjebak panorama rindu lagi karena sepertinya rasa suka pria itu mungkin akan berbalas.

 

 

Fin.


 

Author’s Note 

Cuma mau bilang HABEDEH Mas Umin, maaf sudah menempatkan dirimu dalam cerita gadanta seperti ini. Hiks, moga makin ganteng dan sukses ya babang bakpao, wish you all the best pokoknya ❤

Makasih juga buat kakne yang sudah meminjam Reen untuk ku nistakan disini, huhu, cintakuh padamuh kak ❤

Iklan

11 pemikiran pada “[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Coffeeshop (Oneshot) – Shaekiran

  1. WAKKK ANE NGEKEK SERIUSAN AHAHAHA. YA LORD PAS SI UMIN KEUKEUH MO DUDUK DI SITU LALU REEN DENGAN SONGONGNYA NGUSIR PAKE PASAL2 HUKUM. NGUAKAKKKK

    Eciee yg tdnya hate at first sight malah jadi cinta /nari hula-hula di langit ke tujuh/digampar rame-rame/ dan dan… ngekek lagi itu Reen kakak goals ya nama adeknya sampe lopek-lope wakakakakak. Dan Yara, dasar kamu mulut ember! Tapi gara-gara dia juga jadi mak comblang, ayo Yara mak comblang tapi jodohmu mana nak /langsung digampar Yara/

    Dan lucu aja pas Si Reen ngenalin diri sebagai Kyungrin. Minseok kaget kirain Yara boong buahaha. Asikeu langsung cus ke bioskop, semoga langsung jadian ya wkwkwk

    • NGAKAK PAN YAK, SI REEN SOKSOKAN NGUSIR COGAN PAKE PASAL SEMENTANG BANG UMIN ANAK HUKUM, CARI TITIK LEMAH SI REEN.😂
      Benci jadi Cinta, hoho, terlalu sering mandang diam-diam jadi kesensem si umin els.😂😍
      Sebenarnya bukan biar goals aja kok els, tapi biar reen gak dikira jomblo, jadi ada kontak pake tanda lope” /plakk/DIGEPLAKREEN/DIGAMPARKAKNE/😂
      Biasanya mak comblang jodohnya belakangan els, apalagi yara mulutnya ember disini, saingan baekhyun keknya, hiks, tapi kok dalem ya els itu pas ditanya mana jodoh si yara, rada jlebb gitu ini oc,😂😂
      Kalo boong yakin dan percayalah umin bakal geplak yara setelah reen dan kyungsoo cabut dari cafe,bhaks.😂
      Asiquuee bioskop, siap” minta PJ atuh kita els sama bang umin.😂😂😍😍
      Thanks for reading els, cintakuh padamuh.😍

  2. IH IH YARA MAH LOOOHH YARA MAH LOOOHHH.. /nabok nabok yara gemes

    ini reen songong banget di sini yasumpah, bahagia gini aku liat dia songong tumben2an wkwkwkwk..
    ciyeee akhirnya duduk di meja yang barengan ciyeee /nabok nabok reen sama umin

    dan pas si kyungsoo namanya dikasih hati itu mbok ya aku ngakak, sesayang itu reen emang sama adeknya /pelukan sama kyungsoo

    waaaakkk ini aku gatau mau ngomong apa lagii, aku ngakak ngakak mereka kek musuhan gitu awalnya wakwkakakakka..
    aku reblog yaaaa.. >.<

    • YARA GITULOH KAKNE, SUKA AYAN/EH AYANG”IN ORANG/PLAKK/😂
      reen juga bisa songong katanya kakne, jual mahal, cewek takdirnya dikejar bukan ngejar gitu/plakk/apaan dah/😂
      Aciee, otw tiap hari pandang”an di coffeeshop cieee..😍😍
      Pj atuh Pj/plakk/
      Reen meski kadang gak akur tapi sayang adek kok kakne, cus peluk si kyung (*sebenernya biar gak dikira jomblo, bhuakaka/plakk/DIGAMPARREEN/DIGAMPARKAKNE/)😂😂
      Musuh yg penting akhirnya Cinta kak, hoho, monggo di reblog kak, ku bahagia sekalehh ini nista mau direblog kakne,😍😍
      Thanks for reading kakne, cintakuh padamuh…😍

    • Waaaakkk iam so happy pas liat awalnya mereka musuhan. Bhaks bhaks. Terus gaya nyindir mahasiswa hukumnya itu ngena banget minta dikeplak..
      Mongomong reen nya mahasiswa apa, akuntansi ya? /itumah pengennya kamu kak /plak
      Maaci juga uda dibikininnn.. reen bahagia katanyaah :v

    • Musuhan eakkk. Iti sindir”an Cinta kakne/digeplak/😂
      Reen-nya aku gak ngeh dia mahasiswa apa kakne, tanya umin coba , siapa tau selesai nonton cerita yekan dia itu jurusan apa sama si babang akuntasi boleh ugha tuh biar samaan kayak kakne😂😂
      Duh, aku yg makasih rern mau dipinjem kakne, wkwk, cie yg bahagiaa, unchh, PJ mana reen?😂😍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s