[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HONGDAE — IRISH’s Tale

HOL(M)ES

MELODRAMA in Hongdae   ]

— in a ruined city, can you survive? —

Starring by:

OC`s Wang Jia-yi with EXO`s Xiumin

Special appearance EXO’s Baekhyun, D.O. & anneandreas`s OC Reen with Truwita`s OC Alessa Cho

An adventure, dystopia, family, melodrama and politic story rated by PG-17 served in three-shot length with series type

This story is not suitable for readers under 15 years old

2017  ©  storyline by IRISH ft. anneandreas

in association with

EXO Fanfiction Indonesia

Disclaimer:

Cerita ini murni berdasarkan fiksi dan tidak bermaksud untuk menyinggung/menjelek-jelekkan salah satu pihak. Seluruh bagian cerita yang berhubungan dengan suatu negara dan/atau organisasi, dipergunakan semata-mata hanya untuk hiburan dan bukannya merugikan salah satu pihak. Tidak ada bagian dari cerita ini yang menggambarkan kehidupan politik secara nyata. Hol(m)es sendiri berasal dari kata Holmesinspired from Sherlock Holmes—yang memiliki makna tersirat sebagai perpaduan dari kata Holes, dan Holmes yang maknanya akan didapatkan pembaca setelah menyelesaikan pembacaan cerita dengan seksama. Sekali lagi, tidak ada tujuan menjatuhkan nama baik/citra dari salah satu negara/organisasi/perorangan/kedudukan yang nantinya akan ada di cerita ini. Penyebaluasan karya, duplikasi isi cerita, dan mengadaptasi cerita ini tanpa seizin/sepengetahuan penulis,  adalah sebuah tindakan tidak menyenangkan yang tidak seharusnya dilakukan.

This story was created and dedicated for:

Xiumin of EXO

Previous story:

Hol(m)es in Jung-gu (2) [Kai]

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Author’s Eyes…

Benak Jia-yi berkemelut. Satu sisi hatinya ingin membiarkan si pembunuh yang beberapa menit lalu hendak mengakhiri hidup penolongnya—Kyungsoo—secara membabi buta, tapi secuil kebaikan di hatinya justru menolak untuk tidak peduli.

Bagaimana bisa dia biarkan seseorang meregang nyawa sementara dia sendiri bisa membantu?

Hey, Nona China. Mau sampai kapan kau menunggu di sana?” teriakan Alessa terdengar membuyarkan lamunan Jia-yi.

Jia-yi mengerjap cepat. Lagi-lagi, ia berbalik—hendak meninggalkan Baekhyun dalam keadaan mengenaskan—tapi sekali lagi, langkahnya terhenti.

“Kalian duluan saja, aku akan menolongnya.”

Sebaris kalimat itu mengejutkan Alessa dan Kyungsoo. Bagaimana bisa ada orang yang bersikap begitu aneh seperti Jia-yi? Bukankah di saat seperti ini seseorang harusnya memikirkan keselamatannya saja?

“Apa?!” Alessa terdengar memekik kaget.

“Tinggalkan saja dia di sana.” Kyungsoo menambahkan.

“Dan membiarkan dia mati? Aku tidak bersumpah untuk membiarkan nyawa melayang dengan sia-sia di depan kedua mataku.” Jia-yi berucap tegas, ia lepaskan ransel besar yang dibawanya—bukannya benda itu menggembung besar karena persediaan makanan, melainkan karena persedian obat-obatan.

Di sisi lain, Alessa dan Kyungsoo saling berpandangan. Sungguh, keduanya ingin meninggalkan Jia-yi saat ini juga, mencari tempat yang aman atau setidaknya mencari cara untuk bertahan hidup ketika gempa lain terjadi.

Tapi mengapa keduanya sama-sama tidak sampai hati melihat seorang wanita berjuang sendirian menyelamatkan nyawa orang lain? Meskipun Kyungsoo kerapkali dikatakan tidak berperasaan, tapi dia juga manusia. Ada secuil rasa kasihan yang entah bagaimana, bisa mendominasi saat keadaan ingin dibuatnya menjadi egois.

“Kita tunggu saja dia.” sedetik lebih cepat dari Kyungsoo, Alessa berkata. Tadinya, Kyungsoo sudah akan mengatakan hal yang sama pada gadis mungil di sebelahnya.

Hembusan nafas pelan Kyungsoo keluarkan, lega karena setidaknya ia tidak harus menjadi orang pertama yang meminta seorang gadis untuk menunggu. Paling tidak, Kyungsoo ingat kalau keadaan Baekhyun sekarang juga karena tindakannya.

Jia-yi sendiri sudah sibuk di sudut sana, membaringkan tubuh Baekhyun di atas mantel yang tadi pria itu kenakan sementara tangannya—yang sudah berbalut sepasang sarung tangan—dengan cekatan merobek kaos tanpa lengan berlumur darah yang Baekhyun kenakan menggunakan gunting bedah.

“Kalian hanya akan menonton?” pertanyaan bernada cukup sarkatis Jia-yi lontarkan saat ia sadar dua orang yang datang bersamanya itu berdiri diam dan hanya menonton tanpa melakukan apapun.

“Dia pembunuh, apa aku juga harus melibatkan diri untuk menolong?” Alessa berkomentar, kalimat yang kemudian membuat Jia-yi berdecih kesal.

“Kau juga akan jadi pembunuh kalau membiarkannya mati di sini.” kata Jia-yi.

Melihat sikap diam dua orang itu, mau tak mau Jia-yi tersulut emosi juga. Dia tidak pernah menangani pasien di tempat terbuka dan kotor seperti ini, karena sejujurnya saja gadis itu selalu menghindar tiap kali ada kegiatan rumah sakit di luar gedung.

Jia-yi membenci hal-hal kotor, gadis itu lebih suka terperangkap di zona nyaman daripada keluar dan mengenal hal-hal lain yang tidak lantas akan membuatnya menjalani kehidupan monoton.

Tapi yah, mau bagaimana lagi. Jia-yi terlanjur mencintai kehidupan monoton itu. Hingga sekarang ia baru merasa menyesal karena telah mengabaikan belasan kegiatan sosial rumah sakit di luar gedung.

Mengabaikan semua penyesalan terlambat itu, Jia-yi akhirnya menggeleng pelan. Dengan penerangan minim ia berusaha menyatukan robekan di kulit Baekhyun—setelah sebelumnya membersihkan luka itu dengan peralatan secukupnya—yang untungnya, tidak terlalu dalam.

Tidak lama, sebuah cahaya menerangi. Rupanya, Alessa mengeluarkan penlight untuk menambah pencahayaan Jia-yi sekarang. Tidak berkomentar apapun atas pertolongan kecil yang Alessa berikan, Jia-yi meneruskan aktifitasnya.

Hampir satu jam gadis Wang itu habiskan untuk menjahit luka Baekhyun. Belum lagi, dia harus memangku tubuh pria itu saat harus menjahit punggungnya. Jia-yi tahu, kalau pria itu sadar, mungkin dia akan mengerang kesakitan karena Jia-yi menekan area di sekitar lukanya dengan pangkuan tadi.

Tapi bukankah pangkuan Jia-yi lebih baik daripada tanah yang kotor?

“Dia bisa mati kedinginan di sini.” Jia-yi berucap ketika dia selesai. Disadarinya, tidak ada tanda kehidupan di sekitar sana. Polisi juga belum datang, entah, mereka mungkin sudah tidak peduli pada keadaan di Jung-gu, atau bagaimana.

Sekali lagi, Jia-yi merasa begitu janggal. Bagaimana bisa bencana sebesar ini diabaikan begitu saja? Tidakkah seharusnya ada wartawan yang datang untuk meliput, atau setidaknya, ada polisi? Lebih baik lagi, jika ada ambulance yang datang. Tapi semua itu terasa tidak masuk akal untuk diharapkan sekarang.

“Lalu kau berharap aku membopongnya, begitu?” Kyungsoo bertanya, suatu hal yang mustahil bagi pria itu jika dia mau menolong Baekhyun barang sedikit saja. Baginya, kematian Baekhyun adalah hal yang wajar.

Dan pertolongan Jia-yi lah yang justru membuatnya merasa gusar.

“Tidak, aku tahu kau tidak akan melakukannya. Setidaknya biarkan aku membawanya ke tempat yang lebih baik. Dia bisa memulihkan diri di sana.” Jia-yi berucap, dengan susah payah ia berusaha memindahkan tubuh Baekhyun ke punggungnya.

Jia-yi tahu, rasa sakit di tubuh Baekhyun sekarang mungkin akan bertambah karena tindakannya. Tapi Jia-yi tidak punya pilihan selain membebankan tubuh pria itu di punggungnya dan menyeret langkah ke tempat yang aman.

Gedung museum yang berjarak kurang lebih seratus meter dari tempatnya sekarang berdiri adalah pilihan terbaik saat ini, tentu saja. Karena dari pengalaman Jia-yi, gempa tidak pernah terjadi dua kali di tempat yang sama.

“Kalian boleh pergi, meski aku tidak tahu tujuanku, tapi jika aku beruntung aku mungkin akan bertemu dengan orang lain yang bersedia membantu.” Jia-yi berucap dengan nafas terengah-engah.

Mendengar ucapan gadis itu, timbul keinginan Kyungsoo untuk benar-benar meninggalkannya di sana. Dia sudah kelewat dongkol pada sikap tidak masuk akal yang baru saja Jia-yi pamerkan, menyelamatkan pembunuh.

Tapi gadis lain yang bersama mereka—Alessa—justru bersikap berbeda. Gadis itu meraih ransel Jia-yi tanpa bicara apapun, dan memandang Jia-yi dengan sebuah senyum datar.

“Aku dan Kyungsoo akan mengikutimu di belakang, Nona China.”

Anggap saja, keduanya sepakat untuk menunggu Jia-yi. Jadi, tanpa pikir panjang, Jia-yi segera menyeret langkahnya, ia lupakan kenyataan bahwa pakaiannya akan penuh darah setelah ini, bahkan, kedua lengan pria yang dipaksanya untuk merangkul bahu Jia-yi sehingga gadis itu bisa mencengkram kedua lengan si pria pun penuh darah.

Sekilas, Jia-yi mungkin terlihat seperti seorang yang berusaha menggendong seseorang di punggungnya, tapi gagal. Lagipula, mana bisa tubuh ringkih gadis itu dipaksa untuk membopong tubuh kekar Baekhyun?

Dengan langkah kepayahan, Jia-yi berusaha membawa Baekhyun. Diam-diam, ia merutuk dongkol pada sikap apatis dua orang yang sekarang mengekorinya dari jarak cukup jauh itu.

Ingin rasanya, Jia-yi pergi sendiri saja. Tapi jika dipikir-pikir lagi, Alessa adalah orang yang terakhir kali bertemu dengan adiknya, dan Kyungsoo punya hutang janji untuk mengantar gadis itu sampai ke tujuan.

Bukannya Jia-yi tidak mampu untuk melakukan perjalanan ini sendirian. Dia hanya merasa tidak sanggup. Jika sesuatu terjadi lagi, mungkin dia tidak akan bisa menyelamatkan diri.

“Aku menyelamatkanmu bukan karena aku merasa kasihan.” Jia-yi berucap pelan di tengah nafasnya yang terengah-engah, berharap jika Baekhyun cukup sadar untuk mendengar apa yang ia ucapkan sekarang.

“Aku juga sebenarnya tidak suka orang-orang jahat sepertimu. Tapi aku lebih tidak bisa lagi melihat seseorang terluka di hadapanku.” Jia-yi lagi-lagi berucap.

Erangan kecil terdengar lolos dari bibir Baekhyun, tanda bahwa pria itu telah mendapatkan kesadarannya kembali.

“K-Kau?” gumaman Baekhyun terdengar.

“Jangan banyak bergerak. Kau bahkan tidak mampu berjalan, bukan?” Jia-yi berucap, sementara pria di punggungnya tidak bersuara, hal yang berikutnya pria itu lakukan adalah mengeratkan lengannya di tubuh Jia-yi—hal yang hampir membuat Jia-yi refleks mendorong pria itu sampai terjatuh—dan menyandarkan kepalanya di bahu Jia-yi.

“Aku bukan sosok lemah yang tidak mampu berjalan sendiri, sayang.” bisikan pria itu mengejutkan Jia-yi, membuatnya sontak hendak melepaskan lengan pria itu jika saja tidak dirasakannya tubuh Baekhyun kembali pasrah, pria itu kembali kehilangan kesadarannya.

Beberapa sekon, langkah Jia-yi terhenti, sekedar memastikan jika Baekhyun benar-benar tidak sadarkan diri, sampai akhirnya gadis itu menggeleng pelan. Tidak habis pikir bagaimana Baekhyun bisa berucap dengan begitu percaya diri padahal keadaannya sekarang sangat menyedihkan.

“Kau bahkan terbangun tidak sampai lima detik tapi sudah bicara begitu sombong.” gerutu Jia-yi.

Bagi orang-orang normal—dan keadaan yang normal, tentu saja—mungkin tidak butuh waktu lima menit bagi seseorang untuk membawa orang lain ke jarak sedekat itu. Tapi Jia-yi butuh hampir setengah jam—catat, dua orang apatis itu masih setia mengekor, sibuk dengan konversasi sendiri tanpa ada niat untuk membantu Jia-yi.

Akhirnya, Jia-yi membaringkan tubuh Baekhyun di lantai depan di dekat pintu masuk museum. Tidak ada seorang pun di sana, lagi-lagi batin Jia-yi merasa aneh, bagaimana mungkin tidak ada security di sana? Sesuatu pasti telah terjadi di tempat ini, pikirnya. Lekas ia singkirkan pikiran itu, sementara netranya memperhatikan Baekhyun sekarang.

Cukup lama Jia-yi berpikir, sampai akhirnya ia putuskan untuk sekali lagi membantu Baekhyun. Gadis itu membalik tubuh, menatap Alessa dan Kyungsoo yang berdiri tidak jauh dari gedung, tampak begitu serius berbicara dengan suara rendah.

“Biar aku ambilkan selimut untukmu.” Jia-yi berucap, ia kemudian melangkah dengan cepat—hampir berlari—mendatangi Kyungsoo dan Alessa yang masih tampak begitu serius.

“Kemarikan tasku.” Jia-yi menginterupsi pembicaraan mereka, bisa Jia-yi pikirkan satu alasan nanti untuk ia gunakan saat ia ingin tahu tentang pembicaraan dua orang itu. Tapi sekarang, ia tak punya waktu. Nyawa seseorang tengah dipertaruhkan di sana.

Alessa, mengulurkan tas ransel yang sejak tadi ia jinjing di kedua bahu, tepat di depan dada, tatapannya sekarang tidak bisa Jia-yi artikan, antara kasihan, dan tidak mengerti. Sekali lagi, Jia-yi singkirkan keingin tahuannya tentang pembicaraan dua sejoli itu, untuk memikirkan satu nyawa yang tengah menunggu.

Gadis itu membawa tasnya kembali ke depan museum, membongkarnya—mengeluarkan semua isinya dengan cepat—dan dikeluarkannya sebuah selimut yang terlipat rapi di bagian terbawah ransel.

Pikir Jia-yi, selimut rumah sakit akan berguna baginya sendiri apabila dia nanti membutuhkannya. Namun, ia tidak sampai hati membayangkan seorang pria bertelanjang dada berbaring semalaman di depan gedung.

Bagaimana jika sampai esok hari tidak ada seorang pun yang menemukannya?

“Tidak mungkin, seseorang pasti akan datang esok hari.” Jia-yi berspekulasi sendiri.

Ia bentangkan selimut itu di lantai, sebelum dengan susah payah ia menarik tubuh Baekhyun untuk berbaring di atasnya, dan kemudian Jia-yi menggunakan sisa kain selimutnya untuk menutupi tubuh Baekhyun.

“Aku sudah memberimu satu suntikan penghilang rasa sakit tadi, efeknya mungkin akan hilang dalam dua atau tiga jam. Lukamu cukup parah, pasti kau akan sangat kesakitan. Apa kau tahu cara menyuntikkan obat? Aku tinggalkan satu bungkusan di sini, berisi suntikan penghilang sakit.” Jia-yi menghentikan kalimatnya, ia pandangi bungkusan plastik bening dan juga sebuah jarum suntik yang ada di dalamnya, dengan cairan berwarna bening.

“Aku tidak memberimu dua suntikan, karena kau mungkin akan menyuntikkan keduanya saat kau kesakitan… dan dosisnya akan jadi terlampau tinggi. Suntikan ini hanya morfin biasa, kau tidak perlu khawatir.” tangan Jia-yi tanpa sadar mengusap noda darah yang hampir mengering di wajah Baekhyun.

Bukannya wujud perhatian, dia hanya tidak tahan melihat wajah pria itu begitu kotor, seolah tidak lagi ada nyawa yang bertahan di dalamnya. Ingat, Jia-yi seorang penggila bersih, sebenarnya. Hanya saja selama beberapa hari ini ia dipaksa—kelewat dipaksa—untuk keluar dari zona nyaman kehidupannya.

“Aku tidak meninggalkanmu di sini untuk membiarkanmu mati, Baekhyun-ssi. Katamu kau bukan orang lemah, jadi buktikan ucapanmu.” Jia-yi berkata, penuh harapan agar pria itu tidak menyerah malam ini.

Meskipun, Jia-yi tahu pria itu akan terbangun, satu sisi hatinya tetap saja merasa iba pada keadaan Baekhyun seperti rasa ibanya pada pasien yang ada di rumah sakit.

Siapa yang tahu apa kata Tuhan pada takdir hidup dan mati seseorang?

Hey! Kau sudah selesai!?” teriakan Kyungsoo terdengar, membuat Jia-yi segera memasukkan barang-barangnya ke dalam tas, menatap Baekhyun sekali lagi sebelum dia akhirnya bangkit dan melangkah pergi menghampiri dua orang yang sedari tadi menunggu.

“Aku heran bagaimana bisa kau memintaku untuk mengikutinya.” Kyungsoo berucap pada Alessa saat dilihatnya Jia-yi dengan wajah penuh dosa menghampiri mereka.

“Aku juga sebenarnya tidak mau. Tapi, aku juga akan jadi sepertinya kalau aku tidak kabur dari sekolah, ingat?”

“Darimana kau tahu?” Kyungsoo menyernyit bingung.

“Bodoh,” umpat Alessa, menyadari kalau Kyungsoo tengah berspekulasi tentang seberapa dekat dirinya dengan Jia-yi sebenarnya.

Baru saja Kyungsoo hendak buka mulut dan kembali bicara, suara Jia-yi sudah lebih dulu menginterupsi.

“Maaf. Aku tidak bermaksud memaksa kalian menunggu.” ujarnya.

“Ya, kau memang memaksaku. Dan tentunya, memaksa dirimu sendiri, Nona China.” Alessa berucap dengan penuh sindiran.

Gadis itu ingat bagaimana keadaan Jia-yi sebelumnya. Bahkan saat ia harus menopang tubuh Baekhyun di atas sepasang kakinya, dia sudah kepayahan dan kesakitan. Tapi gadis Wang itu terus memaksakan diri. Apa yang sebenarnya ada dalam benak gadis itu? Pertanyaan itu sekarng terus berputar di benak Alessa.

Ia sering bertemu dengan orang-orang yang berusaha saling membunuh, bersikap melindungi tapi pada akhirnya membunuh. Lebih sering lagi, bertemu orang-orang yang dengan kentara ingin membunuh.

Tapi dia tidak pernah bertemu dengan seorang ‘korban’ yang justru merasa iba pada seorang pembunuh. Catat, jika saja Baekhyun tidak terhempas dan tenaganya menguar karena menghantam kayu, keadaan mereka mungkin tidak seperti ini.

“Mengapa kau menolongnya?” akhirnya kalimat itu Alessa lontarkan.

Mengapa? Sebenarnya Jia-yi juga ingin tahu. Dia tidak ingin menjebak diri dalam masalah. Sungguh, Jia-yi tadi sempat khawatir tentang kemungkinan bahwa Baekhyun akan terbangun dan tiba-tiba saja mencekiknya sampai mati.

Tapi mengapa ia terus berkeras ingin menolong?

“Karena dia terluka.” jawab Jia-yi sekenanya.

“Oh, aku tahu jawabannya tidak sesimpel itu.” Alessa mendesak.

“Sudahlah, Al. Yang jelas kita harus beranjak sekarang. Malam sudah semakin larut, bahkan mungkin sudah akan dini hari. Kita harus mencari tempat beristirahat, atau makan. Paling tidak kita harus meninggalkan kekacauan ini secepatnya.” Kyungsoo mengambil alih pembicaraan.

Percuma mendengar dua orang keras kepala berdebat—Kyungsoo tahu dirinya juga dihitung sebagai orang ke-tiga yang sama keas kepalanya—tapi saat ini ia tidak punya waktu untuk ikut berdebat dengan dua gadis itu.

Energinya sudah terkuras. Dan dia lelah. Kyungsoo tahu kematian tengah memburu, di belakang mereka, atau di depan mereka. Dan di saat seperti ini bukankah berusaha untuk hidup di saat ini jadi pilihan terbaik?

“Baiklah.”

“Baik.”

Alessa dan Jia-yi berucap hampir bersamaan. Keduanya kemudian mengikuti langkah Kyungsoo dalam diam. Jia-yi sibuk dengan pikirannya tentang waktu yang sudah terbuang dan kemungkinan tentang dimana adiknya sekarang berada.

Sementara Alessa sendiri sibuk dengan pikirannya mengenai konversasi kecil yang sudah ia buka bersama Kyungsoo berdua saja, tadi.

“Kau benar-benar akan membawaku kembali, Kyung?” tanya Alessa membuka konversasi.

“Kembali?” Jia-yi mengulang dengan nada sarat akan pertanyaan. Kembali ke mana yang sedang dua orang ini tengah bicarakan? Pikirnya.

“Ya. Di jalur yang sudah kau ceritakan padaku tentang kemana adik Jia-yi pergi, aku akan mencari telepon untuk menghubungi rumahmu. Kau tidak boleh terlibat dalam perjalanan ini, Al. terlalu berbahaya.”

“Lalu bagaimana denganmu? Kau juga membahayakan hidupmu.” Alessa berucap, oh, sungguh dramatis. Jia-yi sekarang rasanya ingin memutar bola mata jengah karena perkataan kelewat berlebihan yang tengah dua orang itu tukar.

“Kita juga belum selesai bicara tentang siapa kau sebenarnya.” Alessa menambahkan.

“Siapa aku itu tidak penting, yang penting adalah perasaanku padamu. Tidakkah begitu, Al? Memangnya kenapa kalau aku dulunya adalah seorang pembunuh seperti Baekhyun? Kau akan meninggalkanku? Atau kau akan meminta salah satu anak buah ayahmu untuk melenyapkanku?” pertanyaan itu Kyungsoo utarakan, dan sungguh, sekarang Jia-yi tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tergelak.

Hey, kalian berdua. Hentikan pembicaraan konyol ini. Sudah jelas kalian sama-sama tidak akan saling melepaskan, mengapa masih berdebat?” Jia-yi menginterupsi.

Sontak, keadaan dramatis yang sempat tercipta antara Kyungsoo dan Alessa berubah menjadi canggung. Alessa sendiri, memilih untuk mengalihkan pandang. Sementara Kyungsoo dengan canggung berdeham cukup keras.

“Kami bukannya tidak ingin saling melepaskan.” Alessa berucap, selalu, Kyungsoo kalah satu detik darinya.

“Hanya saja kalian saling membutuhkan.” Jia-yi lagi-lagi berkomentar.

Untuk pertama kalinya, Jia-yi bisa merasa begitu geli di tengah keadaan mengerikan yang sedang ia hadapi. Karena, sikap dua orang ini memang kelewat kekanak-kanakkan dalam pandangan Jia-yi.

Kalau saja sekarang mereka tidak sedang berjalan di tengah reruntuhan bangunan dimana Jia-yi yakini di dalamnya ada tubuh-tubuh tidak bernyawa, mungkin dia sudah tertawa terbahak-bahak karena geli.

Tapi, Jia-yi bisa menahan diri.

“Kau sedang menyindir kami, atau apa?” tanya Kyungsoo kemudian.

“Bukannya menyindir, aku hanya merasa kalian begitu menggelikan. Omong-omong, apa yang kalian bicarakan tadi? Well, selain mengatakan kalau aku adalah orang paling bodoh di dunia karena berusaha menyelamatkan nyawa seorang pembunuh, tentu saja.” ujar Jia-yi.

“Dia tahu kita bicara tentang bagaimana bodohnya sikap tadi,” Kyungsoo mencibir, ia lantas melanjutkan, “Aku akan membawa Alessa kembali ke rumahnya, tentu saja tidak benar-benar membawanya ke rumah. Jika kita sampai di tempat yang cukup manusiawi, aku akan menghubungi seseorang dari tempat Alessa tinggal.”

Jia-yi mengangguk-angguk setuju. Konyol juga kalau dia membawa banyak orang untuk terlibat dalam masalah hidupnya, bukan? Bayangkan saja bagaimana jadinya jika dia terus-terusan membawa orang lain.

“Baiklah, aku setuju.” Jia-yi mengangguk-angguk.

“Kau terdengar sangat senang karena bisa membawa Kyungsoo berburu kematian, Nona China.” Alessa berkomentar.

Hey, kau terus memanggilku Nona China. Apa itu salah satu wujud sikap rasisme terhadapku?” akhirnya Jia-yi mengajukan protes.

Alessa mengedikkan bahu tak peduli.

“Entahlah. Semua bangsamu terlihat buruk di mataku. Mereka yang sering datang ke kediamanku juga terlihat begitu. Diam sepertimu, tapi pandangannya terlihat seperti orang jahat.”

“Apa aku juga begitu?” tanya Jia-yi dongkol.

“Ya, kau juga begitu. Kau bahkan tidak pernah tersenyum. Bagaimana aku tidak menuduhmu sama dengan bangsamu yang lain, Nona China?”

Jia-yi melengos kesal. Percuma berdebat dengan anak-anak, batinnya. Tidak akan ada kata menang, dan dia juga tidak ingin buang-buang tenaga untuk melayani Alessa berdebat. Agaknya, Jia-yi sadar kalau dia dan Jia-yi punya karakter yang sama: keras kepala.

“Kau bicara seolah semua yang berkebangsaan sama denganku adalah orang-orang jahat.” akhirnya Jia-yi berkomentar.

Alessa, hanya menatap Jia-yi dalam diam dan tersenyum penuh makna. Tidak ada sahutan apapun yang keluar dari mulutnya, perjalanan mereka pun berlanjut dalam keheningan.

Diam-diam, Jia-yi berpikir. Mengapa keadaan di Jung-gu begitu aneh? Tidak ada seorang pun yang tampak peduli pada kehancuran di sana. Apa ada sebuah blokade? Tidak mungkin. Jelas-jelas Jia-yi merasa terisolasi.

Ia merasa seolah berada di pulau terpencil tidak berpenghuni dimana dia dan segelintir orang berusaha untuk bertahan hidup dari kehancuran pulau tersebut. Terlalu janggal, bagaimana mungkin di satu wilayah luas seperti itu tidak ada seorang pun yang peduli pada kehancurannya?

Jia-yi pikir, saat dia dan Kyungsoo tadi berusaha menyelamatkan diri—sebelum Alessa muncul—dia juga tidak melihat orang-orang yang berlarian panik, atau dia saja yang tidak memperhatikannya?

Lalu bagaimana dengan satu setengah jam yang Jia-yi habiskan untuk menolong Baekhyun? Mengapa tidak juga ada seorang pun yang muncul?

Satu lagi, Jia-yi dapatkan satu lagi pertanyaan dalam barisan puluhan tanya yang ingin ia lontarkan mengenai keadaan yang ia hadapi di negara ini.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Reen melangkah masuk ke dalam ruangan Tuan Cho sesaat setelah dirinya mendapatkan telepon dari seorang laki-laki yang saat ini berada bersama Alessa. Dengan berbekal informasi tempat mereka—Kyungsoo dan Alessa—berada saat ini, Reen melaporkan hal-hal tersebut pada atasannya, Tuan Cho yang juga merupakan ayah Alessa.

Tidak berapa lama kemudian, Reen keluar dari ruangan atasannya itu kemudian segera mengambil handphonenya lagi lalu melakukan beberapa panggilan lewat benda kotak itu sambil berjalan masuk ke dalam ruangannya sendiri. Menyandang status sebagai sekertaris pribadi Tuan Cho, memang merupakan tugas Reen untuk mengatur segalanya supaya berjalan dengan baik dan sesuai keinginan Tuan Cho.

Reen baru saja mendudukkan dirinya di sofa panjang dalam ruangannya saat tiba-tiba pintu ruangannya berdecit, seseorang masuk ke dalam tanpa meminta izin dari si empunya ruangan terlebih dahulu. Dan Reen sudah hafal betul siapa manusia yang memiliki kebiasaan tidak sopan seperti itu.

“Kudengar Alessa sudah ditemukan?” tanya laki-laki yang baru masuk itu, Reen hanya mengangguk tak acuh bahkan tanpa menatap si lelaki. Tidak diacuhkan seperti itu justru membuat si lelaki tampak gemas dan menghampiri Reen, “Lalu kau sudah memerintahkan tiga orang bodyguard untuk ikut bersamamu menjemput Alessa ke Hongdae?” tanyanya lagi.

Reen masih mengangguk tak acuh.

“Kenapa kau tidak memerintahkanku ikut bersamamu?” lanjut si lelaki, kali ini Reen mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke dalam mata si lelaki, kemudian ia berucap, “Karena jika aku mengajakmu, maka kau akan lebih mementingkan keselamatanku ketimbang keselamatan Alessa, Minseok-ah.” jawab Reen dengan nada lembut.

“Salahkah jika aku lebih mementingkan keselamatanmu?” tanya laki-laki yang baru saja dipanggil Minseok itu. Ia mendudukkan dirinya di samping Reen dan menggenggam tangan wanita itu. “Aku hanya…” jawab Reen terbata.

Minseok tersenyum lalu menarik Reen ke dalam pelukan. Melihat reaksi Reen yang pasrah, Minseok kemudian membelai tengkuk Reen lantas melumat bibir wanita itu lembut. Awalnya Reen hanya diam dan menikmati sensasi ciuman memabukkan yang memang kerap kali diberikan si lelaki padanya.

Namun ketika tangan Minseok mulai meraba salah satu kancing kemejanya yang teratas, Reen menahan tangan Minseok lantas berucap, “Tidakkah kau merasa ini salah? Aku sudah bersuami.” Reen menatap Minseok, berharap ada kewarasan di dalam sorot mata laki-laki yang menjalin hubungan terlarang dengannya ini.

Minseok tersenyum, lantas mendekatkan bibirnya ke telinga Reen yang kini sudah setengah berbaring di sofa panjang ruang kerjanya dan membisikkan jawaban, “Aku tahu. Namun kau juga tahu bahwa aku mencintaimu lebih dari suamimu.”

Tanpa menunggu jawaban Reen, Minseok melanjutkan aktivitasnya. Mengecup leher Reen lembut sambil mendorongnya agar berbaring sempurna di atas sofa dan membiarkan kuduk wanita itu meremang, Minseok tahu betul bagian sensitif yang selalu membuat Reen takluk. Minseok melumat bibir Reen lagi sambil mengarahkan sebelah tangannya untuk membuka kancing teratas kemeja Reen, namun hingga tiga kancing terbuka, tetap tidak ada perlawanan dari pihak Reen.

Minseok bahagia, ia merasa seperti mendapatkan akses penuh sekarang. Dengan sebelah tangan menggenggam pergelangan tangan Reen yang menegang, Minseok menjelajahi tubuh bagian atas Reen dengan bibirnya dan sesekali lidahnya. Suara desahan tertahan yang terkadang lolos dari bibir Reen justru membuat Minseok semakin bergairah dan menginginkan lebih banyak.

Minseok menggunakan sebelah tangannya masuk ke bagian belakang tubuh Reen, berusaha membuka kancing rok span ketat yang Reen pakai, Minseok merasa hormon kejantanannya memuncak terlebih ketika kancing itu terbuka dan rok span ketat yang Reen kenakan mulai melonggar.

Minseok mulai memasukkan tangannya ke bagian dalam rok Reen ketika wanita itu tiba-tiba mendorong tubuh Minseok dan menggeleng kasar, “Tidak, Minseok. Ini salah.” katanya.

Minseok bersabar dan mencoba mendekati Reen lagi, berniat melumat tengkuk wanita yang membuatnya bergairah itu. Namun Reen lebih cepat, ia berdiri dan segera mengancingkan kemeja dan roknya kembali sambil berjalan ke luar ruangannya, meninggalkan Minseok dengan kemeja setengah terbuka yang menghela napas kasar. Minseok harus mengguyur dirinya dengan air dingin segera.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Reen sudah berada di dalam mobil bersama tiga orang bodyguard Tuan Cho untuk menjemput Alessa di Hongdae. Reen sengaja pergi cepat supaya Minseok tidak merecokinya lagi, pun ia mengabaikan panggilan telepon dari Minseok yang barusan masuk. Sepertinya laki-laki itu sudah menyadari kepergian Reen.

Setelah melewati jalanan yang belum sepenuhnya rusak, Reen dan ketiga bodyguard sampai di bangunan yang dimaksud Kyungsoo dalam percakapan telepon mereka tadi pagi. Segera mereka berempat keluar dari mobil dan tidak berapa lama kemudian menemukan Alessa bersama seorang laki-laki dan seorang perempuan di dalam bangunan itu.

“Alessa ikutlah dengan bodyguard Kim ke mobil.” kata Reen setelah menemukan Alessa, sementara seorang laki-laki yang baru saja dipanggil bodyguard Kim itu segera mendekati Alessa dan mengarahkan Alessa untuk berjalan bersamanya.

Alessa sempat memandang Kyungsoo dan Jia-yi bergantian, namun tak ada satu pun kalimat yang berhasil keluar dari bibir Alessa pada dua manusia di hadapannya itu. “Kalian tidak ikut denganku?” tanya Alessa saat langkahnya sudah berada di depan Reen.

“Kalian duluan. Akan ada satu mobil lagi yang menjemput kami nanti.” jawab Reen dengan nada santai sambil melempar senyum polosnya ke arah Alessa, dan Alessa percaya pada sekertaris pribadi ayahnya itu. Alessa berjalan menjauh bersama bodyguard Kim kemudian masuk ke dalam mobil yang membawa Reen ke tempat ini.

Setelah deru bunyi mesin mobil terdengar menjauh dari bangunan tempat mereka berdiri saat ini, Reen melangkah mendekat ke arah Kyungsoo. “Berapa banyak yang kalian ketahui?” tanyanya sinis sambil memandang Kyungsoo dan Jia-yi bergantian.

“Kalian tahu ‘kan tidak baik untuk mengetahui terlalu banyak rahasia negara?” tanya Reen lagi, kali ini dengan nada sarkas setelah Kyungsoo dan Jia-yi tidak menjawab pertanyaan Reen sebelumnya.

Kyungsoo dan Jia-yi masih bergeming di hadapan Reen, kemudian Reen berbalik dan berjalan santai menjauhi kedua manusia itu. Ketika langkahnya sampai di antara kedua bodyguard yang masih tinggal bersamanya, Reen melempar sebuah lirikan sinis pada dua orang di belakangnya, sebelum bibirnya kemudian bergerak menguntai kata.

“Habisi mereka.”

please wait for the next story: Hol(m)es in Hongdae (2)

anneandreas’s Note:

Segala sesuatu yang terjadi sampai akhirnya FF ini dipost is so mendadak. Baru ngobrol kemarin sore, langsung diketik di hari-H dan jadilah begini, tapi ini juga so keren kan? kan? kan? /ditabok. Ide cerita datangnya dari IRISH, dan aku dengan mudahnya bisa terjerembab /bahasa apaan/ masuk ke imajinasi absurd kembar jenjerku ini, yeyeeeyy~

Bhaks, ini pertama kalinya aku pribadi bikin Umin sama Reen selingkuhan, dan dengan laknatnya aku bikin mereka selingkuh kelas tongkol. /iya semua bagian rated di atas si Anne yang nulis /plak.

Betewe, ini pertama kalinya collab sama kembaran aku terlaksana, DAN AKU BAHAGIAAA!!

Bisa collab sama kembaran buat ngerayain ulang tahun laki-laki pencuri hati wanita bersuami adalah suatu hal indah di Minggu yang malas *kayang.

Readersnya IRISH dan anneandreas, selamat membaca yaa!!

SELAMAT ULANG TAHUN
KIM MIN SEOK
*
dari wanita bersuami yang tak pernah kau kembalikan hatinya

~~~

IRISH’s Note:

INI SUMPAH MENTAL BREAKDOWN SEKALI KETIKA BACA KAKNE YANG SELAMA HAMPIR DUA TAON AKU KENAL JADI WANITA PALING INNOCENT DI EFFI TETIBA NGOMONG DENGAN POLOSNYA KALO MAU NGETIK ADEGAN RATED DAN ADEGANNYA…

AAHHH TIDAAAKK KEPOLOSANKU TERNODA T.T AKU TERNODA T.T

Kak Ne, mentang-mentang udah mengalami sendiri adegan buka-membuka kancing terus congkak di epep ))):

Btw, ini serius, aku baru ngasih tau Anne-chan storyline-nya sore kemarin, terus Kak Ne eksaitit sama endingnya /oops/ terus akhirnya malem aku kirim part pertama dan paginya Kak Ne udah kirim lanjutannya ~ sorenya aku kirim part 2 ~ kolab kami bener-bener modal nekat. WKWK.

INI KARENA KAMI ADALAH KARYAWAN-KARYAWAN YANG SELALU TERANIAYA JADI UDAH KEBIASAAN KERJA NGEBUT SEMALEMAN, YA GAK KAK NE? BUKAN AKU DOANG YANG TERSYIKSA KALO LEMBUR, KAN?

Dan ~~~ untuk pertama kalinya di dalem epep, Reen ternoda ~ wkwkwk. Reen-Umin selingkuh, BAHAGIANYA DAKU NGEBUAT MEREKA JADI KOPEL SELINGKUHAN YANG MELUPAKAN PASANGAN MASING-MASING DEMI CINTA DAN SENTUHAN SESAAT /BAHASA ENTE RISH/

Kak Ne ~ gomawosarangekmianek karena keterlambatan pengerjaan ini T.T Kak Ne tau sendiri kenapa dan kita sebagai kembarjenjer selalu sehati dan sependeritaan kan ya :”)

ENIWEI, PIBESDEI UMIN ~~ SEMOGA MAKIN AWET MUDA ~ CIEH UMIN UMUR KEHIDUPANNYA BERKURANG SETAON /EH.

P.s: kenapa makin ke sini Umin makin bikin berdelusi? :”)

[    IRISH SHOW    ]

Iklan

14 pemikiran pada “[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] HOL(M)ES in HONGDAE — IRISH’s Tale

  1. KENAPA DIRI INI MALAH SALFOK KE ADEGAN RATED? TADINYA LAGI SEDIH-SEDIHAN KESEL SAMA BAEKHYUN YG SAKIT TAPI SONGONG, JIA YI YANG TERJEBAK DI ANTARA DUO SEJOLI KYUNG SAMA ALESSA, LALU KENAPA UMIN MENGACUKAN SEMUANYA , WAEE????
    KETIKA ADEGAN RATED (INI KAKNE CURHAT APA BEGIMANA?/PLAKK/) , LAGI TERLENA ADEGAN EH SI REEN NGOMONG “AKU SUDAH BERSUAMI” THE FEEL IS KESELEK/PLAKK/
    PAANDAH, SELINGKUH AE CERITANYA MBAK? DAN AKU CURIGA INI SUAMINYA SI REEN MAS E***N/PLAKK/ XD
    KAKNE CURHAT, KAKNE CURHAT, CURHAT MASIH HATINYA DIMILIKIN UMIN MESKI SUDAH BERSUAMI/PLAKKK/ XD
    DAN WELLL, KENAPA REEN SINIS AMA KYUNGSOO? BUKANNYA ITU ADEKNYA? HIKS, APA DISINI KAGAK KARENA KYUNGSOO ORANG KORUT SEMENTARA REEN SEKRETARIS PEJABAT KORSEL?
    JENG JENG.
    EKI TELAT BACA DAN PART 2 NYA SUDAH NONGOL.BAHAGIA GAK NUNGGU DENGAN PENASARAN LAGI/PLAKKK/XD
    NEKAT TAPI MANCAP KOK KAKZ.
    KEPSLOCK KAK IRISH MENGALIHKAN DUNIAKU, MANA DITAROK FONT ‘PARAGRAF 1’ LAGI BIAR SUPER GEDE XD

    • kamu di bawah umur, adegan ratednya jangan dibayangin, nanti pengen /plak /tampar di ubunubun
      KANE BUKAN TJURHAT, INI HANYA KETIKA SEORANG ISTRI MENULIS ADEGAN RATED BUAHAHAHHAHAHAH
      itu nama suamiku di kasih bintang-bintang begitu berasa dia korban perkosaan apa gimana gitu ya wkwkwkkwkw
      Ndak, di sini ndak kakak adek an wkwkwkwkw..
      Padahal iriseu mendukung loh aku nulis rated :3

  2. AKU TERNODA T^T KEPOLOSANKU TERNODA T^T IMAJINASIKU TERNODA T^T PAGIKU TERNODAAA T^T SEMUAAH TERNODA T^T
    Aku baca ini jam 4 pagi, dan… dan… yaampun, gimana aku bisa melewati hari ini? /uhuk/

    Kenapa aku berpikir kalo suami Kane bapak Al? /ditabok bang erwin/ salah, kamsudnya suami Reen. Kan… kan… biasanya suka ada fair gitu bos sama sekertarisnya :v
    Reen tolong jangan bilang papih yg nyuruh kamu buat habisi jia-yi kyungsu, bukan kan? Iya kan? Itu cuma inisiatif reen aja kan yang menyalurkan jiwa kreatifmu? /paansiluta/dibalang

    Dan maap, aku ingin bacok Alessa dulu, sudah saatnya dia ganti otak.
    btw, makasih udah bikin percakapan manis yg bikin hasrat buat bacok mereka–kyungsu sm Al–semakin menggila di pagi buta inih :’)

    Dan maapkan aku lagi, beb, waktu aku baca “tubuh Baekhyun yang kekar”, ANE JADI INGET BEBELAK😂😂😂 WKWK

    Cuss next chap~

    • ini NC nya ga kelas berat looohh.. biasa juga baca yg kelas berat kan? /plak /digampar tata
      tunggu ta, sek aku mau ngakak dulu bayangin reen istrinya bapaknya al BUAHAHAHAHAHHAHAHAHAHA
      kalo kek gitu artinya Al anak tirinya reen
      BUAHAHAHAHHAHAHAHAH

  3. Aaa~ 1st collab duo dr (4) fave author-ku 😙
    Mr. 초.. 규현? 😅 sohib evil’ny 창민 kuh 😘
    ‘Sayang?’ dsr 백! saenae aja manggil2 sayang, kan jd 두근..두근 bc’ny ☺
    Tar jd ky oao klo tiap ktmu knalan br Jiayi bw bwt ke nex journey 😀
    Umin jd body guard? ‘cem 지창욱 di d’K2 gt? 😎
    duh, 2 sjoli d.o & Al awkward tp sweet 😁
    Wlw dah bc tlsn rated di atas tp te2p ga nyangka umin-reen bkl ‘sjauh’ ini ‘maen’ny 😆 dah gt trnyt hub terlarang pula! Siapakah suami’ny reen?? Slngkhn anne di infinite kah? 😅
    Umin jg dah pny pasangan resmi/msh single? Klo udah, sp gerangan?
    대박 sngt lah👏hsl collab master2 ini wlw sistem kebut2an dg ksibukan krj-an di RL👍keep up d’good team work! 👭

  4. Setelah ane baca ini sambil bersin2 dengan udara dingin Andorra. Akhirnya ane komen pake free wifi restoran karena wifi hotel yg sompret /turis kagak modal/

    DAN WAAAHHHH JIAYI, nalurimu sebagai suster muncul untuk nolongin Baekhyun. Sip makin kepo apa jadinya Baekhyun di series bdaynya.

    DAN TAU GAK SETELAH ANE BERSIN2 DAN DAPET UDARA ANGET, ANE NGEKEK TANPA SUARA BACA REEN BILANG UDAH BERSUAMI SO SO SO…. ANZER WKWKWK, padahal ane kira Umin-Reen itu so swit2an cium2an eh nyatanya selingkuh tingkat tongkol. DAN TAMBAH PEN BERKAMVRET RIA PAS ADA ADEGAN RATED YA TUHAN, KAK NEE @neurosistoexo MEMANG SUDAH SENPAI DAN HOREE RATEDNYA KELAR YA KAK /DIGAMPAR RAME2/ mataku ternodai mana bacanya sambil jalan /sok polos si elsa/gampar aja/

    Dan scene akhir bikin aku nahan napas. Suwerrr tercut di “Habisi mereka,” wanjuuu, akan ada action di part selanjutnya. Aku tunggu kak, maafkan elsa yg kesusahan sinyal di negara luar ini T.T rasanya pen cekek resepsionis yg blg wifinya gak nyampe ke kamar /guling-guling/sekali lagi turis ini memang tak modal kuota/

    • biar keren, gimana kalo kata “free wifi”nya dicoret aja wkwkwkwk..
      buahahahahahha iyadong, reen umin anti mainstream di sini, selingkuh tingkat tongkol wkwkwkwk..

      INI AKU GAKUKU SENDIRI PAS NULIS ADEGAN TIDAK SENONOH ITUUUU WAAAAAKKKSSSSS..

      iyah iyah iyaah doong, ada adegan habisi mereka! pake sambel biar enak /plak /gakgitu

      kok wifi bisa ga sampe kamar gimana sih? tidur di lobby aja kalo gitu.. /plak /yagakgitujuga

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s