[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] What’s Wrong With Xiumin? — Fearlessais_

What’s Wrong With Minseok? – Fearlessais_

Kim Minseok (Xiumin) || Fantasy || General

 

 

Ada yang aneh dari Minseok. 17 menit yang lalu Ia terdiam sembari menggerak-gerakkan kepala nya ke kiri-kanan selama selang 10 detik sekali. Entah apa yang membuat laki-laki berambut pirang itu sibuk mengalihkan pandangan nya tanpa memperdulikan Jongdae yang memandang Minseok bingung.

“Sedang apa hyung?”

Minseok mendongak. Masih belum menjawab pertanyaan Jongdae. Mata indahnya menyipit. Menatap tajam wajah Jongdae. “Diam di situ Jongdae-ya” Minseok berujar. Badan nya terangkat. Bersiap melakukan ancang-ancang sebelum telapak tangan nya menempel sempurna di pipi kiri Jongdae.

“Hyung!” Jongdae berteriak keras. Membuat Minseok terkejut bukan kepalang. Minseok melupakan satu hal, teman nya itu adalah pemimpin grup vocal di sekolah nya. Tidak heran suara nya melengking tinggi.

“Jika kau bosan, kau boleh meninggalkan aku di sini. Tidak perlu sampai menampar ku seperti itu!” Jongdae merengut. Tidak terima dengan perlakuan Minseok yang tiba-tiba itu. Minseok hanya memasang wajah flat-nya. Telinga nya masih memerlukan waktu untuk kembali normal.

“O–! Maafkan aku Jongdae. Tapi sesuatu menempel di pipi mu. Lihatlah—“ Minseok memperlihatkan telapak tangan nya. Mencoba membuktikan bahwa ucapan nya adalah benar. Namun hal itu tidak membuat Jongdae senang. Justru Jongdae melenggang dengan wajah kesal nya meninggalkan Minseok di depan toko buku.

Minseok melongo. Bukankah ucpan nya benar? Bukti nya kotoran itu memang ada di telapak tangan nya. Mengapa Jongdae malah pergi begitu saja? Menyebalkan sekali.

=====

“Kau tahu jika hari ini ada praktik Biologi? Mengapa kau datang terlambat sih” gadis berkaca mata ber-name tag Cha Young Gi tengah merutuki Minseok yang datang terlambat ke ruang laboratorium Biologi. Gadis kutu buku itu dengan gaya yang terlihat sangat ‘lawak’ di mata Minseok, beberapa kali mengacak-acak rambut panjang nya. Sekarang Ia sudah persis orang gila – batin Minseok.

“Sudahlah cepat masuk. Karena mu yang lain nya jadi kebingungan sedari tadi” Minseok hanya diam saja sejak gadis itu memulai ceramah nya. Justru Ia terlihat santai sembari menikmati udara sejuk laboratorium Biologi.

“Akhirnya kau datang hyung” Jongdae menyambut kedatangan Minseok dengan senyum hangat nya. Tentang kejadian kemarin sore, Jongdae sudah melupakan nya. Toh Ia juga merasa bersalah telah membuat Minseok menunggu sekitar 2 jam kemarin. Ditambah kepergian diri nya begitu saja. “Tentang kemarin—“

“Apa?” belum sempat Jongdae melanjutkan ucapan nya, Minseok terlebih dahulu memotong nya. “Aku minta maaf telah meninggalkan mu begitu saja”

“Ah, itu? Tidak masalah” Minseok berujar santai. Sembari mengecek pencahayaan pada mikroskop di depan nya. “…dan ! berhenti memanggil ku dengan sebutan ‘hyung’ kita hanya beda 6 bulan Jongdae! Aku tidak setua itu” Minseok mengajukan protes nya yang hanya dibalas cengiran Jongdae.

“Pst—jangan berisik. Cha Young Gi datang” Sehun yang sedari tadi setia menjadi pendengar antara Minseok dan Jongdae, kini bersuara. Minseok dan Jongdae langsung mengalihkan pandangan mereka pada sosok gadis yang sangat ditakuti di kelas mereka itu.

“Dia norak sekali” –Sehun.

====

Keadaan kamar Minseok sangatlah berantakan. Barang-barang berserakan di mana-mana. Belum lagi aroma menyengat yang keluar entah dari mana. Berbagai bungkus makanan ringan menumpuk di sudut meja kamar nya.

“Minseok-a! Kemari kau!”

“Berhentilah berteriak ibu! Aku di belakang mu”

Ibu Minseok membalikkan tubuhnya. Tersenyum penuh arti. Hari ini adalah hari yang Ia tunggu-tunggu. Untuk membuktikan apa yang diberikan cenayang lusa bekerja dengan baik.

“Lihatlah kamar mu!” Ibu Minseok mendorong tubuh Minseok kuat-kuat. Minseok yang tidak siap malah tersungkur ke lantai. “Ough—“ Minseok merintih. Siku tangan nya berciuman dengan lantai kamar nya cukup keras. Ibu Minseok yang melihat Minseok terjatuh, segera membangunkan anak semata wayang nya itu.

“Kau baik-baik saja? Maafkan Ib—“

“Apa itu yang ada di sela-sela jari mu, ibu?” Minseok menunjuk sesuatu yang menempel di sela-sela jari milik ibunya. Ibu Minseok hanya memasang wajah tidak tahu. Namun detik berikutnya Ia tersadar. “Assa! Ramuan nya berhasil!”

Minseok beralih menatap tajam ibu nya. “Ramuan apa?” tidak mengerti dengan ucapan ibu nya, Minseok bertanya dengan tidak sabaran. “Apa ibu memberikan ku ramuan aneh lagi?”

Ibu Minseok menggeleng. “Itu bukan ramuan aneh Minseok-a. Kau ingat kopi yang kuberikan pada mu waktu itu?” Minseok tampak berpikir. “Yang mana? Aku tidak ingat” jawabnya.

“Astaga! Lupakan saja. Yang terpenting sekarang ramuan nya bekerja dengan baik. Apa kau melihat sesuatu dari tumpukan sampah di sudut sana?” pandangan Minseok menuju tempat yang ibu nya tunjuk. “Aish menjijihkan sekali! Apa itu yang menempel pada bungkus makanan ringan itu? Wait—aku sepertinya pernah melihat nya. Tetapi dimana?”

“Itu adalah ramuan yang bisa membuat seseorang yang meminum nya bisa melihat kuman dan bakteri dengan mata langsung. Bukan kah itu hebat? Asal kau tahu saja, aku membayar itu dengan mahal” Bangga Ibu Minseok.

“APA?”

“MENGAPA IBU MEMBERIKAN RAMUAN MENGERIKAN SEPERTI ITU PADA KU, HUH? AISH!!”

“YA! Berhenti berteriak! Salahkan pada dirimu sendiri yang jorok itu!” Ibu Minseok meninggalkan Minseok dengan wajah bingung nya. Tidak habis pikir bahwa Ia terlahir dari rahim ibu yang aneh seperti ibu nya. Sekarang apa yang harus Ia lakukan? Jika seperti ini Minseok tidak akan bisa tidur bersama kuman-kuman yang bergerak tidak beraturan di atas ranjangnya. Menjijihkan!

“Tolong hentikan ini IBU!”

====

“Apa tidur mu nyenyak sayang?”

Minseok mendengus sebal. Masih tidak terima dengan tindakan ibu nya. “Ini keterlaluan ibu. Tolong hentikan ini. Ibu pasti memiliki penawar nya bukan?”

Ibu Minseok menggeleng. Membuat wajah tampan Minseok memucat seketika. “Apa ibu tidak tega melihat ku yang kesulitan untuk sarapan, huh?”

“Kenapa harus susah? Kau hanya tinggal makan saja. Tidak repot sama sekali” Ibu Minseok melanjutkan mengunyah roti berselai kacang miliknya. “Ibu jahat sekali” Minseok bergumam pelan.

“Baiklah baiklah. Jika kau berjanji untuk tidak membuang sampah sembarangan di kamar mu, ibu akan memberikan penawar nya. Bagaimana?”

“Mana bisa begitu?”

“Yasudah tidak jadi”

“Baiklah baiklah aku akan melakukan nya. Cepat berikan penawarnya padaku. Perutku sangat lapar”

“Penawar nya—“

“Penawarnya—“

“Adalah—“

“Mentimun!”

“Aish menyebalkan! Aku tidak mau! Ibu tahu sendiri aku benci mentimun! Pokoknya tidak mau! Lainnya saja!”

“Yasudah terserah padamu”

Dengan berat hati, hari itu, Minseok sarapan dengan setengah kilo mentimun segar tanpa sedikit pun sisa. Membuat nya hampir saja terjatuh di atas aspal. Sial sekali!. Ia berjanji untuk menuruti semua perkataan ibunya. Ini terdengar menggelikan, tetapi bagi nya, Ibu nya adalah seorang penyihir yang siap membahayakan hidup nya seperti hari ini. Mengerikan.

END.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s