[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Waiting — AL

(Waiting) – AL

Cast :

Kim Minseok (Xiumin)

Kim Hani

Genre : Romance

Rating : T

***

Takut…

Hani benar-benar takut untuk memasuki rumahnya sendiri. Aneh, ini memang aneh. Hani juga merasa hal itu juga aneh. Tapi, ia tahu pasti alasan penyebab kenapa ia takut untuk memasuki rumahnya sendiri. Hampir tiga puluh menit ia berdiri didepan rumahnya sendiri tanpa berniat sedikitpun untuk membuka pintu ataupun hanya sekedar menekan bel rumah itu. Padahal, cuaca saat ini benar-benar sangat dingin. Beberapa kali Hani bahkan harus merapatkan jaketnya dan menggesekkan tangannya sambil membuang nafas mencari kehangatan.
“Noona, kenapa kau tidak masuk?”

Suara itu mengejutkan Hani. Ia bahkan mundur beberapa langkah begitu pemilik suara itu mendekat. Tapi nampaknya pemilik suara itu tidak menyadarinya, ia tetap berjalan mendekati Hani yang setelah itu buru-buru melepaskan jaket miliknya dan mengaitkannya ke punggung Hani rapat-rapat.
Saat ini ia bahkan menggenggam tangan Hani erat dan menggosoknnya dengan tangan miliknya sambil meniupnya sekali-kali. “Berapa lama kau ada disini? Kacamatamu bahkan sudah berembun. Lalu tanganmu juga sampai membeku seperti ini,” ucapnya yang terlihat sangat khawatir. Ia tidak henti-hentinya menggenggam tangan Hani. “Kau tau sudah berapa lama aku menunggumu? Bahkan ponselmu saja tidak aktif. Kenapa kau hebat sekali untuk membuat orang lain khawatir.”
Hani menatap pria yang ada dihadapannya saat ini dalam-dalam. Entah sejak kapan ia menganggap orang yang ada dihadapannya ini sebagai sosok pria. Ia kemudian berdeham halus dan mulai mencoba menarik tangannya dari genggaman pria itu. “Minseok, berhentilah bersikap seperti ini,” ucap Hani yang kemudian menundukkan kepalanya. “Aku bisa menjaga diriku sendiri. Berhentilah menghawatirkan diriku seperti aku ini anak-anak. Aku sudah dewasa, lagipula aku ini kakakmu. Aku lebih pandai dalam menjaga diri.”
Minseok menatap Hani dengan pandangan menerawang. Ia baru ingin membelai rambut kakaknya itu namun gagal begitu Hani menjauhkan kepalanya dari jangkauan tangan Minseok. Wajah kecewa tampak jelas terukir diwajah Minseok. “Noona, sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini?” tanyanya cemas.
Hani tidak segera menjawab. Ia kemudian membalas tatapan Minseok sambil menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa canggungnya. “Aku hanya ingin bertindak seperti kakak yang seharusnya,” ucap Hani berusaha mencoba tegas.
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut kakaknya itu malah membuat Minseok lebih khawatir. Melihatnya menggigil seperti ini ditambah perubahan sikapnya yang mendadak benar-benar membuat Minseok kehabisan kata-kata. Jujur, saat ini ia benar-benar ingin memeluk kakaknya itu dan menuntut penjelasan tentang semuanya. Tapi ia lebih memilih diam dan hanya memandang kakaknya lama.
“Sebaiknya kita masuk, noona,” ucap Minseok sambil menunjuk pintu rumah dengan dagunya. Ia kemudian mempersilahkan kakaknya untuk masuk terlebih dahulu. Begitu mereka sampai didalam rumah, baru Minseok ingin membantu kakaknya itu menaruh mantelnya, ia malah dibuat kesal dengan sikap Hani yang tiba-tiba saja menghindar dan memilih buru-buru memasuki kamarnya.

Dengan sekali gerakan Minseok mencoba menghentikan langkah Hani. Ia menarik lengan Hani paksa dan langsung memberikan tatapan seolah semua tindakan Hani yang dilakukan padanya itu tidak benar. Ia benar-benar tidak mengerti tentang semua perubahan sikap kakaknya itu. “Sebenarnya ada apa denganmu? Kenapa kau seperti ini? Apa aku melakukan kesalahan? Kau marah padaku?” ucap Minseok masih tetap mencengkram lengan Hani. “Bicaralah padaku. Kenapa kau melakukan ini padaku? Tidakkah kau tau aku benar-benar menghawatirkanmu?”
Hani mencoba melepaskan genggaman adiknya itu, namun nampaknya itu semua tindakan yang percuma. Meskipun Minseok lebih muda darinya bukan berarti ia bisa dengan mudah mengalahkannya. Tenaga yang dimiliki adiknya itu lebih besar dibandingkan dengannya.

Merasa ia benar-benar telah gagal, Hani hanya bisa membuang nafas panjang. Ia kemudian memejamkan matanya untuk beberapa saat. “Minseok, tidak bisakah kau berhenti melakukan semua tindakan perhatianmu itu untukku?” tanya Hani tiba-tiba. Ia kemudian memandang Minseok dalam-dalam. “Kau membuatku benar-benar gila. Tidak bisakah kau hanya mengabaikanku saja. Kau tau kalau aku menyukaimu kan, kau jelas tau itu, tapi kenapa kau malah melakukan ini padaku? Jika kau tidak menyukaiku, jika kau ingin menolak perasaanku, seharusnya berhentilah melakukan semua tindakan ini. Tidakkah kau pikir aku bisa salah paham terhadapmu? Kenapa kau melakukan ini? Kenapa kau seperti ini?”
Minseok tidak segera menjawab pertanyaan Hani. Ia hanya diam dan memandangi perubahan ekspresi kakaknya itu lama.
“Aku tau perasaan ini salah. Aku tau seharusnya aku tidak melakukan ini padamu. Aku seharusnya tidak boleh menyukai adikku sendiri, aku paham betul akan itu. Baru aku ingin membuang jauh semua perasaan itu, tiba-tiba saja kenyataan lain membuatku tidak bisa melupakanmu dengan mudah,” lanjut Hani. “Saat aku tau kita bukan saudara kandung, kau tau betapa gembiranya aku saat itu? Tapi, tapi, tidakkah apa yang kau lakukan padaku itu jahat? Kenapa kau malah mencium wanita lain dihadapanku disaaat kau tau aku menyukaimu? Kenapa kau malah melukai hatiku? Jika kau tidak menyukaiku, tidak bisakah kau hanya mengabaikanku saja saat ini? Berhentilah bersikap sok perhatian yang justru malah akan membuatku semakin sakit. Berhentilah melakukan itu.”
Minseok menggelengkan kepalanya pelan mendengar ucapan Hani. “Kau salah paham. Kau benar-benar salah,” ucapnya masih terus menggelengkan kepalanya pelan. “Aku menyukaimu, noona. Sangat menyukaimu. Mana mungkin aku bisa dengan mudah untuk mengabaikanmu?”
“Pembohong,” ucap Hani dengan nada sarkatis. Hani mulai meneteskan air matanya. Kacamatanya kini mulai basah. Baru Minseok ingin membantunya menghapusnya, lagi-lagi Hani berusaha menghindar. Hani merasa muak dengan semua tindakan perhatian Minseok.

“Noona,” Minseok mengucapkan kata itu lirih. Ia benar-benar tidak tahan ketika kakaknya bersikap menjauh dan mencoba untuk menghindarinya. “Maaf, maaf atas semuanya. Jangan menangis, kumohon. Hatiku sakit ketika melihatmu menangis seperti ini. Ku mohon, tersenyumlah oke?”

“Aku hanya ingin mengucapkan ini padamu, noona,” ucap Minseok melanjutkan begitu ia mendekatkan bibirnya pada telinga kakaknya itu. “Satu-satunya wanita yang kusakai hanya dirimu. Hanya kau seorang, Oh Hani.”
Hani membulatkan matanya begitu Minseok menyebut namanya. Ini pertama kalinya ia mendengar Minseok memanggil dirinya tanpa embel-embel kakak ataupun yang lain. Dia benar-benar menyebut nama Hani secara utuh.

“Aku tau kau menyukaiku. Aku sangat mengetahuinya. Alasan aku tidak menjawabmu hanya satu, kau tau bagaimana kondisi eoma kan? Dia punya penyakit jantung, bagaimana mungkin aku akan mengakui semua perasaanku padamu dengan kondisi seperti ini?” lanjut Minseok. “Aku sangat menyukaimu, sangat noona. Jadi, bisakah kau menungguku?”
Hani memberanikan diri untuk berbalik begitu ia melepas kaca matanya dan menaruh itu ditasnya. Ia kemudian menatap Minseok dalam-dalam meskipun pandangannya sedikit buram tanpa kacamatanya itu. “Aku selalu menunggumu, Kim Minseok.”

**FIN**

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s