[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] To My Dearest Husband, Kim Minseok — Marshmallowkim

[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] To My Dearest Husband, Kim Minseok – Marshmallowkim
Cast : Kim Minseok (Xiumin) & Kim Taerim (OC) || Romance || Fluff || PG-15

Hari ini, 26 Maret adalah ulang tahun suamiku. Ya, siapa lagi kalau bukan Kim Minseok. Kutatap malaikat tampan berwajah baby face itu tidur sambil memelukku seperti koala. Aigoo… gwiyeowo! Batinku, mengapa wajahnya begitu menggemaskan?
Aku tersenyum dan kuusap pipinya, “Aigoo… kenapa kau masih saja tidur?”
Ia tidak menjawab, mungkin masih tidur lelap. Perlahan, aku beranjak dari tempat tidur dan melepaskan tangan Minseok dari pinggangku. Tiba – tiba, Minseok menarik pergelangan tanganku sehingga aku terjatuh tepat di atasnya, “Jangan… pergi…” bisiknya.
“Tapi oppa, aku harus membuat sarapan.” Jawabku gugup, mendengar suara seraknya di pagi hari membuat jantungku berdegup kencang. Aish… kenapa dia seksi sekali? Kurasakan pipiku memanas.
“Bisakah kau membuatnya nanti?” Ia menatapku dengan mata setengah terbuka.
“T-tapi oppa, aku harus…“
Minseok mengecup bibirku, “Sebentaaaar saja…” pintanya sambil melakukan aegyo. Ia tahu benar aku sangat lemah kalau melihat aegyo-nya.
Mataku berkedip berkali – kali, “Terus, sarapannya bagaimana?“
“Kau tidak perlu masak hari ini, yeobo…“ Ia menguap.
“Terus kita makan apa, oppa? Aku tidak mau kalau harus makan di luar rumah!” Aku menolak. Kalau soal makan di luar rumah biasanya aku yang paling cerewet dan selektif, itupun selalu saja berujung pada pertengkaran kecil. Yah… aku dan Minseok memiliki selera yang berbeda.
Tiba – tiba Minseok tertawa, “Astaga Nyonya Kim, aku tidak menyuruhmu untuk makan di luar.“ Ia mengacak – acak rambutku menjadi tambah berantakan. Ia menatapku serius, “Hari ini kita berdua yang masak.“
“Wah, tidak biasanya suamiku yang hobinya mengomel kalau disuruh memasak sekarang malah ingin memasak.“ Ejekku, sebenarnya tidak sih.
Minseok tersenyum cegengesan, “Iya, kali ini aku beneran masak, kok.“ Perlahan, ia mendorong tubuh mungilku ke depan pintu kamar, seakan ingin mengusirku secara halus, “Sekarang kau urus dapur dulu ya, sayang! Aku mau beres – beres dulu.“
“Tunggu dulu, kau mau beres – beres apa? Kamarnya kan, sudah rapi?“
“Aigoo anak ini! Aku mau mandi dulu, kau mau ikut?“ Bisiknya sambil memperlihatkan senyum usilnya yang membuatku merinding seketika.
“Astaga, Kim Minseok!“ Seruku spontan.
“Kau sendiri suka mengajakku mandi bersama.“ Tambahnya iseng.
“Tidak tidak tidak aku tidak pernah bilang begitu!“ Cepat – cepat kututup mulutnya sebelum ia bicara yang aneh – aneh, “Ya sudah, aku pergi ke dapur dulu, bye!“ seruku dan meninggalkan Minseok yang tertawa lebar dari balik kamar.

Pagi ini, kami pergi ke supermarket untuk membeli bahan masakan, namun sesampainya di rumah, aku menyuruhnya kembali lagi ke supermarket dengan alasan aku lupa membeli beberapa bahan lagi. Tanpa ia tahu, aku merancang kejutan ulang tahun untuknya.
Diam – diam aku mendekorasi kamar, menyusun kue tart yang kubuat semalaman dan menaruhnya di meja kamar, lilin – lilin beraroma jeruk tersebar di dekat pintu kamar, bunga krisan di atas kasur, foto – foto Minseok yang kurancang di papan. Semua sudah siap, tinggal menunggu Minseok kembali pulang.
Saat ia kembali, aku menuntun Minseok menuju kamar. Begitu ia membuka pintu kamar, Minseok terkejut, kulihat matanya terpaku menatap papan bertuliskan ‘Happy Birthday to my dearest husband, Kim Minseok‘ di atas meja, lengkap dengan foto – fotonya yang kuambil dari umur 1 tahun sampai sekarang, foto – foto Minseok yang masih polos merangkak di atas kasur tanpa pakaian, foto kelulusannya saat sekolah, fotonya saat bermain sepak bola, bahkan fotonya saat ia tidur sambil ileran.
“Kenapa kau repot – repot membuat ini semua?“ tanyanya. Tanpa aba – aba ia memelukku erat, namun kali ini pelukan itu terasa hangat dan nyaman, aku bisa merasakan pancaran kebahagian dari dalam dirinya. Aku tersenyum, melihatnya bisa bahagia seperti ini.
“Happy birthday to you, happy birthday to you, happy birthday happy birthday, happy birthday to you~“ aku bernyanyi, kutatap matanya yang selalu membuatku jatuh cinta setiap kali aku melihatnya.
Minseok tersenyum, senyumannya yang manis itu juga selalu membuatku ikut tersenyum, “Thanks, baby!” perlahan bibirnya menyentuh keningku. Mataku berkedip dengan cepat, pipiku terasa panas, dan percayalah hanya Minseok yang bisa membuatku begini.

“Jagiya, mau lagi.” Sudah 5 sendok aku menyuapi ‘bayi besar’ ini dan ia masih terus merengek minta disuapi.
“Aigoo… sudah umur 27 masih saja disuapi, seperti anak kecil saja.” Omelku.
“Tapi kau suka, kan?”
Aku mengangguk malu – malu.
“Untuk pertama kalinya kau membuat kejutan yang seromantis ini.“ Ia tersenyum, merasa tersentuh dengan kejutan yang kuberikan.
“Memangnya saat kita pacaran aku tidak memberikanmu kejutan yang romantis?“ tanyaku sok ketus.
“Bukan begitu, maksudku kejutan yang ini jauh lebih romantis. Kalau dulu kau selalu membelikanku hadiah berupa barang terbungkus kertas kado, tapi sekarang,“ ia mengambil jeda, matanya menatapku dalam dan lembut, “kaulah yang menjadi hadiahku.“ Aku tersipu malu mendengar gombalannya. “Gomawo.“ Hanya satu kata yang tulus terucap dari bibirnya, namun terkandung berbagai perasaan tersirat di dalamnya. Kulihat Minseok tertunduk malu, ia ikut tersipu mendengar ucapannya sendiri.
“Oh, iya, hadiahnya kurang satu.“ Ucapku, Minseok melihatku bingung. Kuletakkan tanganku di pundaknya, kukecup bibirnya yang lembut itu perlahan. Bibir yang selalu mengucapkan kata – kata manis di saat aku membutuhkan penghiburan juga bibir yang selalu megeluarkan kata – kata bijak di saat suasana apapun menekannya.
Perlahan, kulepas ciumannya dan melihat wajahnya. Tiba – tiba aku tertawa lebar ketika melihat wajah Minseok memerah seperti kepiting rebus dan matanya terbelalak sehingga matanya menjadi lebih bulat dari biasanya.
Minseok menatapku gugup, “Boleh cium sekali lagi?“ tanyanya malu – malu kucing.
Aku tersenyum lembut sambil mengangguk pelan. Kugenggam tangannya, namun kali ini Minseok menciumku terlebih dahulu. Jantungku berdegup sangat kencang. Lebih bahagianya lagi saat kali ini aku bisa merasakan Minseok tersenyum senang saat kugenggam tangannya lebih erat. Terima kasih Kim Minseok karena sudah lahir ke dunia ini! Mulai sekarang sampai seterusnya aku akan menemanimu berjalan, berlari, bahkan sampai kita berdua kembali merangkak menuju batas hidup kita.
So lucky to have you,
Happy Birthday Kim Minseok!
I love you!

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s