[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Stay — coralblue

STAY

Author : coralblue

Starring Kim Minseok and Seo Eunho (OC)

Romance, angst | PG-15

Disclaimer : Overall ; the storyline, oc, and poster 100% are mine. Exclude our Kim Minseok aka Xiumin. Happy reading XOXO

July, 1950

“DUH ! Gantengnya calon suamiku ! Kalau hidupku begini terus sampai mati, aku rela tidak berangkat kerja, dan bangun cuma buat bikin sarapan kita.”

Kim Minseok tersenyum sesaat sebelum mengantam kepala Seo Eunho dengan bantal—yang omong omong bisa dihindari seorang Seo Eunho dengan mudahnya.

“Sekarang kamu baru sadar kalau selama ini ada titisan pangeran ada disampingmu ?”, Minseok terkikik geli mendengar ucapannya sendiri.

Titisan pangeran katanya ? Agaknya lebih mirip kalau diganti menjadi ‘Titisan Setan’ atau ‘Titisan Siluman’ sekalian karena saking galaknya.

Eunho ikut terkikik geli, “Sejak kapan kamu jadi tukang rayu begini ?” . Ia lalu bergerak pelan mendekati calon suaminya dan menjatuhkan kepalanya keatas pangkuan Kim Minseok. Seo Eunho menatap langit langit atap vila tersebut sampai ia—secara tiba tiba—melebarkan matanya dan kembali terduduk.

“Ooh ooh ! Aku tahu ! Apa ini yang namanya fase pra-menikah ? Apakah ini fase, dimana semua pasangan akan merasa sangat bahagia, sampai sampai dada mereka rasanya akan meledak ? Apa kamu juga begitu ?”

Minseok menatapnya gemas sebelum akhirnya mengangguk. Masa pra-menikah katanya ? Ppft. “Ya…, aku bahagia”, Minseok meraup wajah Eunho dengan kedua tangannya. “Sangat bahagia. Lalu, bagaimana denganmu ?”

Rona dipipi Eunho semakin memerah. Tanpa jawabannya Eunho pun, sepertinya Minseok dapat menebaknya kelewat mudah—apalagi tatapan calon istrinya tampak sangat berbinar saat mendengar kata ‘pasangan’, disandingkan dengan kata ‘menikah’.

“Ya, aku juga !”, Eunho mengangguk mantap sambil tersenyum. “Karena kita sama sama bahagia, bagaimana kalau kita sedikit melihat persiapan didepan ? Orangtuaku akan datang setelah ini, dan kita berdua tidak bisa menemui mereka dengan pakaian ini kan ?”, lanjutnya sembari membuka koper dan mulai memilah baju.

Ya, siapa juga yang tidak bahagia jika akhirnya setelah 5 tahun lamanya, aku akan menikah dengan Kim Minseok ! Iya, Kim Minseok yang itu. Pemimpin pasukan Tentara Angkatan Udara Korea Selatan yang termahsyur itu. Akhirnya dia melamarku sebulan yang lalu. Dan kalian tahu dimana dia melamarku ? Diatas helikopter ! Tentu saja helikopter sungguhan yang sedang terbang.

Ia tiba tiba saja menantangku dalam pantun tiga kata, yang berakhir dengan memberiku sebuah kotak cincin dan sebuah pantun konyolnya, “Will you marry me ?” —dimana semua orang tahu kalau itu terdiri atas 4 kata, tapi masa bodoh juga karena aku sadar sedang dilamar orang.

Aku lantas membuang kotak itu dan membuatnya sedikit terkejut. Namun sepersekian detik kemudian akhirnya dia sadar, bahwa cincin berlian yang dibelinya, sudah tersemat cantik dijari manis ku. Lantas aku ingat betul kalau aku menangis dibahunya, mengingat betapa beratnya menjadi kekasih seorang pemimpin pasukan tentara yang selalu pergi entah kemana, berbulan bulan, tanpa pamit, dan tanpa kabar. Menyadari bahwa setelah ini kami akan bahagia bersama, membuatku menangis begitu saja.

Minseok melihat baju mereka berdua dicermin. Baju tidur, piyama. “Ya, kurasa kita memang harus berbenah benah sedikit…”, jawabnya sambil berlalu ke kamar mandi. Sesampainya didalam, ia menatap pantulannya kembali dicermin bulat yang tergantung didinding.

Aku ? Kim Minseok. Seorang petinggi pasukan AU Korea Selatan. Yah, tidak bisa disebut ‘petinggi’ juga sih, karena tinggiku yang hanya berada dibatas minimal tentara.

Aku akan menikah besok.

Besok ? Ya, besok.

Yang benar ? Benar. Seo Eunho sepertinya sudah memberitahu kabar ini pada semua orang, tak terkecuali guru sekolah dasarnya ataupun teman kecilnya di desa.

Apakah aku bahagia ? Ya. Kenapa aku harus berkata tidak, jika besok adalah hari yang sudah kutunggu bertahun-tahun. Bertahun-tahun mengumpulkan dana, mengumpulkan keberanian, mengumpulkan kepercayaannya padaku. Kurasa besok adalah balasan yang setimpal atas semua perjuangan kami.

Kim Minseok adalah anak pembangkang dari seorang Jendral bintang lima Angkatan Darat yang termahsyur, Kim Yeongsoo. Sementara Seo Eunho, adalah anak desa yang sederhana dan polos, yang sangat menyukai keperawatan.

Lima tahun yang lalu, aku pergi kedesanya, dan bertemu dia di ladang. Pada saat itu, aku lengah. Aku dengan sukarelanya membuang ego, demi sebuah entitas aneh bernama ‘kasih sayang’. Tapi kalau dipikir pikir, itu adalah salah satu kesukarelaan yang jenius, bukan ?

Jam kuno itu berdenting tiga kali. Jarum kecilnya menunjuk ke arah angka sembilan romawi. Ayah, Ibu—dan tentu saja, Kim Minseok, juga aku yang asik melamun ini, tengah duduk mengitari kursi panjang berwarna kuning pucat dibelakang halaman.

“Nak”, Ayah tiba tiba membuka percakapan dengan suara dalamnya. “Aku tidak percaya kalian berdua akan menikah besok.”, ia terlihat tersenyum kaku sambil mengarahkan tangan kearah Kim Minseok. Hendak memberi selamat rupanya.

Melihat itu, Ibu dan aku saling lempar tatapan dan terkikik geli. Memang ya, laki laki tidak mudah mengungkapkan emosi !

Minseok membalas tangan Ayah yang mengambang di udara sambil tersenyum—membuat kami tidak bisa tidak ikut tersenyum melihatnya.

BRAK!

Seorang laki laki berpakaian serba hijau tua tiba tiba mendobrak pintu depan dan masuk kedalam vila dengan santainya. Melihatnya, Minseok langsung terbangun dari kursi dan memposisikan tubuh tegap, layaknya sedang latihan fisik.

“Lapor, Komandan. Kota Seoul telah diserang oleh pasukan tentara Korea Utara pukul delapan tadi. Markas telah dibom, dan beberapa warga sipil tertembak.”

Minseok terlihat kaget dan marah disaat bersamaan. Tangannya mengepal kuat, dan wajahnya memerah seperti hampir meledak.

“Baik, ayo kita pergi sekarang.”, perintah Minseok, membuat laki laki itu langsung pergi keluar.

Aku terdiam. Mencoba mencerna apa yang tengah terjadi.

“Kau akan pergi ? Sekarang ?”

Minseok terdiam.

“Kau akan pergi, walaupun kau tahu besok kita akan menikah ?”

Ia masih terdiam. Semua terdiam. Ayah dan Ibu bahkan memalingkan muka mereka. Berpaling dari semua kenyataan yang ada.

“Jadi…ini akhirnya ?”

“Tidak.”

“Kita tidak akan menikah.”

“Kita akan menikah, suatu hari.”

“Suatu hari ? Kapan itu ?”

Seorang Kim Minseok terdiam lagi.

“Jadi kalau kamu bahkan tidak tahu kapankah suatu hari itu…bisakah kamu tetap tinggal, dan menunggu hingga semuanya berakhir ?

Ia terbisu. Semua membisu. Hanya ada isakanku dan desahannya yang terdengar.

“Aku akan kembali…, pasti.”

Sementara ia berlalu, aku tersenyum.

Kami bagai angkasa dan bumi. Dia angkasa, terlalu jauh dan menakjubkan untuk digapai. Aku bumi, terlalu kecil dan lemah untuk mendekati angkasa.

-FIN-

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s