[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Selfish — dokidiko

[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Selfish – dokidiko

Cast: Kim Minseok, Minah (OC)

Romance, hurt

rate: G

Minah tersenyum manis ketika menatap mata Minseok. Mata itu masih sama. Kehangatannya masih bisa membuat Minah tenggelam di sana.

“Jatuh cinta dengan mataku, Minah?” Minseok sadar Minah menatap matanya sedari tadi. Namun ia diam. Dia suka Minah menatapnya seperti itu.

Minah mengngangguk. Itu memang benar. Ia jatuh berkali-kali hanya karena menatap mata Minseok. Padahal tak ada yang menarik dari matanya. Mata itu kecil, bahkan akan bertambah kecil ketika Minseok tersenyum. Tapi entah kenapa Minah suka.

Minseok tersenyum kecil. Minah benar, bahkan hanya sebuah senyum kecil bisa membuat mata Minseok menghilang. Namun tak apa, Minah tetap jatuh cinta dengan Minseok.

Terdengar suara dering ponsel. Minah sejenak memindahkan pandangannya pada ponsel yang sudah berada di telinga Minseok. Minseok terlihat emosi untuk beberapa saat. Suaranya di ponselpun terdengar meninggi. Tertinggal wajah frustasinya setelah ponsel itu kembali masuk ke dalam saku Minseok.

“Kenapa lagi? Apakah itu Ara?”

Minah bertanya hati-hati. Minseok mengangguk enggan. Minah hanya bisa tersenyum miris. Lagi pula ia bisa berbuat apa? Dia hanya yang kedua, bukanlah sebuah prioritas. Ia tahu itu lebih dari siapapun.

“Aku harus pergi.”

“Selarut ini? Tidak bisakah pergi pagi-pagi saja?”

Minah memang bukan tipe orang egois yang suka memaksakan kehendaknya, tapi kali ini saja. Hanya kali ini saja. Minah ingin egois tentang Minseok. Ia ingin menghabiskan malam yang manis dengan Minseok. Ia ingin mencium dan memeluk Minseok sebanyak yang ia mau.

Namun Minseok menggeleng, “Aku harus pergi. Jangan lupa untuk makan sebelum tidur. Kau belum makan apapun dari pagi.”

Setelah mengucapkan itu Minseok pergi meninggalkan Minah. Minah menuruti ucapan Minseok. Ia memakan sereal sebelum tidur. Mencuci muka dan menggosok giginya. Lalu pergi ke kamarnya untuk tidur. Namun ia tidak bisa tidur. Tempat biasanya Minseok tidur terlihat kosong. Minah diam sejenak, tangannya mengusap seprai kasur yang terasa dingin di kulit.

Sedetik kemudian jantungnya mendesak mata Minah untuk menangis, dan Minah menurut. Ia menangis tersedu-sedu hingga matanya bengkak dan suaranya serak. Bantalnya ikut menjadi korban dari tangis malam Minah.

Minah bukan menangis karena Minseok meninggalkannya, hanya saja ia menangis karena keegoisannya. Ia tahu Minseok tak akan memilihnya, namun meskipun begitu ia tetap ingin memiliki Minseok.

Keesokannya matanya bengkak tak karuan. Badanya terasa sedikit panas. Minseok datang setelah Minah meneloponnya. Namun Minah bukan menelopon Minseok untuk menengoknya.

“Kita akhiri saja. Ini terlalu sakit untukku.”

Minah berpikir semalaman untuk apa yang ia ucapkan barusan. Alasan itu terdengar sangat egois. Minah hanya memikirkan dirinya yang tersakiti, namun ia tak peduli. Minseok terlihat menolak awalnya, namun ia setuju untuk berpisah.

Setelah Minseok meninggalkannya hari itu, Minah menangis lagi. Ada pikiran di benaknya untuk membatalkan ucapannya, namun sebagian dari dirinya tak ingin itu. Akhirnya Minah hanya menangis. Membiarkan perasaannya larut dan membiarkan Xiumin pergi. Ini mungkin akan terasa sakit sekarang, tapi entah jika besok.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s