[XIUMIN BIRTDAY PROJECT] (Not) The Ending — Classicopeia


[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] (Not) The Ending – Classicopeia
||xiumin with Han Seonnie (OC)|| Friendship, Romance || T

..

Masa-masa sekolah selalu diliputi banyak cerita. Cerita pertemanan, percintaan, kesedihan, kehilangan maupun cerita lainnya. Semua sempurna tersimpan bagai cetak film yang bisa terputar sebagai kenangan manis dikehidupan esok. Bergulir waktu, cerita baru terekam di memori dengan segala kemanisan dan kepahitan yang membuat kita makin mempelajari arti ‘menghargai’. Kenangan yang tak mungkin terulang yang membuat itu memiliki harga tak terbanding apapun selain sesal kala mengingat semua itu hanya sebuah memori lama. Just an old memories.

Kata menghargailah yang Seonnie garis bawahi menggunakan spidol merah. Karena baru hari ini ia mempelajari bahwa banyak waktu yang ia buang kemarin karena ambisinya untuk menerawang hari esok. Semua waktunya terbuang percuma sampai ia hidup dalam garis lingkaran monoton. Berputar dan berulang seperti yang hari ini ia lihat sama dengan apa yang akan ia lihat di hari esok. Monotonously.

Seonnie merasa ada kesalahan yang harus ia perbaiki. Yaitu hidupnya. Bagaimana bisa ia menikmati dunia penuh monotonnya itu? Hidup dalam kehitam putihan yang bergerak sementara orang lain mewarnai hidup mereka dengan segala spidol yang mereka miliki. Sebut Seonnie bodoh dan buat dia menyesalinya.

Sebagai awal, ia menggarisi kanvasnya dengan warna biru. Menebar ketenangan dan keramahan dirinya pada siapapun orang yang ia sapa. Sungguh bukan awal yang buruk tapi juga bukan hal yang merubah banyak harinya. Masih banyak warna yang ia perlukan untuk melukis.

Dihari pertamanya ini suatu yang asing. Ini bukan dirinya yang biasa dikenal banyak orang sebagai perempuan cuek dan berhati dingin. Dari hari ini ia mencoba melelehkan kebekuan hatinya dengan kehangatan musim gugur di dirinya. Dan di akhir harinya sungguh baik saat Yebin -sahabat satu kampusnya- berkata bahwa;

‘kau memang pantas dengan aura musim gugurmu.’

Seonnie puas mendengarnya. Setidaknya usahanya untuk berubah masih dipedulikan dan dihargai. Setiap langkah kakinya kini makin terpancar kepercayaan diri lebih. Kini ia tak ragu lagi untuk melangkah, tak ada lagi Seonnie si hati es, si penyendiri, dan lain sebagainya. Sekarangpun ia meng-hak patenkan senyum tulus baik hatinya yang menarik siapapun untuk membalasnya. Ia tak lagi menutup diri pada dunia.

Melompat ke minggu berikutnya, Seonnie lupa caranya untuk berkata ketus dengan orang. Entah mulai kapan kepribadian buruknya itu menghilang, yang jelas ia lebih betah bertahan di sisi positifnya yang mulai berwarna.

Beralih ke tahun berikutnya, Seonnie berhasil lulus dari perguruan tingginya dan bersiap untuk mengarungi dunia sesungguhnya. Berbekal gelar dan pengetahuan yang dimilikinya, ia merasa jalannya semakin dekat karna tinggal selangkah lagi maka ia bisa mengawali hidup barunya yang lain. Ditemani seorang pemuda berponi caramel yang sudah beberapa bulan belakangan menjadi teman baiknya saat dikampus, mereka melangkah masing-masing setelah memberi ucapan ‘semoga beruntung!’ satu sama lain. Seonnie melangkah menuju dunia desainnya dan si poni caramel dengan dunia musiknya.

Hari berganti hari. Di sela waktu senggang yang jarang ia miliki, belakangan Seonnie sering menyempatkan waktu untuk si poni caramel. Bertempat di cafe favorit mereka, ia dan si poni caramel memulai berbincang hangat sehangat kepulan espresso di cangkir miliknya. Seonnie banyak bercerita mengenai client yang membanjiri butiquenya dan kalimat kepuasan client-clientnya disana. Si poni caramel memberi applause dibangku hadapannya disertai kalimat-kalimat pujian. Seonnie suka dihargai dan ia menyukai cara si poni caramel memberinya simpatik tak terduga, tetapi yang ini terdengar aneh.

‘kau memang tidak meragukan! mungkin akhir pekan aku akan datang ke butiquemu dan memilih hasil rancangan gaun dan tuxedo pernikahan buatanmu.’

Yang membuat Seonnie berpikir ulang. Sedikit tidak percaya juga tapi Seonnie enggan bertanya lebih lanjut meski pikirannya penuh oleh tanya.

Si poni caramel? Akan menikah? Dengan siapa?

Kedua alis Seonnie tertarik bingung. Banyak sekali pertanyaan yang muncul, benaknya mencari-cari jawaban melalui kilatan memorinya selama ini bersama si poni caramel, tapi nihil. Ia tidak pernah ingat poni caramel punya kekasih. Satu-satunya wanita terdekatnya hanya adik berpipi bakpao yang mirip dengannya.

Bergulir minggu berikutnya, Seonnie yang sedang merapihkan beberapa gaun di etalase harus dikejutkan kedatangan si poni caramel yang tiba-tiba. Ternyata dia benar-benar datang, itu suara batin Seonnie yang tak terdengar si lelaki. Meski Seonnie menampilkan senyum ramah, tapi dalam hati ia merasa was-was. Jadi benar dia akan menikah? Itu kesejuta kali hatinya bertanya tapi kesejuta kalinya juga menggantung dalam hati.

Seonnie membawa teman baiknya itu berkeliling-keliling sambil memberi beberapa saran. Tapi hanya dikomentar ‘entahlah’ ‘aku tidak tahu pasti’ atau ‘mungkin tidak’.

Eih, bagaimana bisa dia menjawab begitu? Temannya ini benar-benar aneh dan juga tak terduga tentunya.

Setelah membuang banyak waktu percuma yang berujung sia-sia karena ia berkata ‘tidak jadi’ dipenghujung waktu, Seonnie akhirnya mendumel padanya yang hanya tersenyum tak bersalah. Seonnie mengantarkan si poni caramel ke depan pintu butique miliknya, dan mereka kembali mengobrol kecil sampai ketika si poni caramel berkata sendiri tanpa ditanya.

‘sebenarnya aku kesini hanya ingin mengobrol denganmu’

Modus
Seonnie beralih kearah lain disertai senyum malu-malu. Apa-apaan laki-laki ini? Sudah membuatnya kesal sekarang menggodanya. Maka Seonnie memilih mengeplak lengannya seraya menggumam merutuki si poni caramel dengan kata-kata bodoh.

‘tapi aku tak berbohong dibagian mencari sepasang pakaian pengantin’

Apa lagi ini?
Pikirannya bercabang lagi memikirkan perkataannya. Dia akan menikah dengan siapa, sih? Tak pernah ada satupun wanita dipantauan mata Seonnie yang kelihatan dekat dengannya, kalau adapun itu pasti Seonnie sendiri.

‘hyung ku yang akan menikah, si tua itu akhirnya mempunyai wanita untuk dinikahi–’

Kalimat sepintas yang terdengar Seonnie setelah ia melamunkan tentang ‘wanita bodoh mana yang akan menikah dengan si poni caramel?’

Dan pertanyaan terjawab sudah. Dalam hati Seonnie menggerutu hebat menyadari fakta ini. Gerutuannya dipenuhi sumpah serapah akan kebodohannya sendiri. Lagipula kenapa ia begitu mempermasalahkan? Mengapa ia begitu cemas? Kembali ia membuat gerutuan.
Oh, sialan. Kukira kau yang akan menikah, baozi caramel!!

….
….

Umurku sudah terhitung 24 tahun detik ini. Rasanya baru kemarin aku memasuki sekolah menengah atas lalu berangan-angan memakai gaun peach hasil tanganku sendiri. Aku masih mengingat impian kecilku itu, dan kini aku melangkah kedalam restoran menggunakannya, rambut kecoklatan kubiarkan tergerai melewati bahu, lipstick natural membalut tipis bibir menyempurnakan senyumku.

Meja-meja restoran di rooftop semua tak berpenghuni, kecuali satu dekat panggung dimana terdapat grand piano hitam disana.

“Xiu Oppa!”

Aku memanggil dia yang sedang berdiri memandangi langit malam Seoul di tepi pagar pembatas. Ia menoleh padaku, dan aku menyadari sesuatu yang berbeda darinya. Tidak ada poni caramel, hanya ada rambut dark brown yang di tata keatas menampilkan dahi putihnya yang mempesona.

Laki-laki itu tersenyum. Dia berjalan mendekat dan aku memperhatikan balutan jas hitam di tubuhnya yang tak terkancing memperlihatkan uluran dasi hitam polos.

Dia.. Aku belum pernah melihatnya yang seperti ini.

“Han Seonnie..”

Senyumnya.. Entah mengapa terasa berbeda malam ini. Dia terus tersenyum memandangiku, seolah tak memperdulikan sekitar. Lagipula.. hanya ada aku dan dia di ruang ini.

“Kau sangat cantik, selamat ulang tahun untukmu.”

Aku tersipu. Astaga.. Entah mengapa aku tak bisa menahan senyum mendengarnya.

“Selamat ulang tahun juga untukmu.”

Ucapku. Hal yang kebetulan, kami lahir di tanggal bulan yang sama. Hanya saja aku dua tahun lebih muda darinya.

“Aku tidak membawa Hadiah–.”

“Tidak tidak, kau datang pun sudah lebih dari cukup bagiku.”

Cheesy.
Apa hanya pada malam hari dia menunjukkan sifat dewasa seperti ini?

“i will show you something.”

Aku tak bergerak. Mataku mengamati langkah yang dia ambil menuju panggung, tepatnya pada grand piano hitam diatas sana. 3 tahun lalu, dia begitu menggemari piano. Masih sama hingga saat ini, dia mendenting lagu dengan baik, menyalurkan seluruh perasaannya melalui irama dan semakin lama aku paham. Aku berjalan mendekatinya yang sedang memainkan nada akhir dari lagu. Aku berhenti tepat ketika lagu berakhir. Dia bangkit dari bangku dan memandangiku, kami bertatapan dalam diam.

Selangkah dua langkah aku mendekat, menempatkan tatapanku dalam irisnya yang kelam. Dan lelaki dihadapanku –Xiumin menyuruhku berhenti melangkah. Dia merogoh saku kanan celana hitamnya.

“I love you, do you want to be my wife?”

Dia berlutut, membuka kotak beludru merah yang terdapat cincin putih yang indah. Aku tidak menolak, hanya dapat membalasnya dengan pelukan hangat lalu mengecup pipinya lembut. Tidak mengelak, aku mencintainya, aku mencintai laki-laki ini.

Aku bersyukur ini terjadi, aku bersyukur memiliki kenangan ini, kenangan yang takkan pernah kusesali keberadaannya, dan akan selalu menjadi hal paling terbaik dalam hidupku. This is not an ending, just a beginning of another story.

..
“Aku mencintaimu.”
“Aku juga mencintaimu.”
..

Fin.
170326

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s