[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Invisible — HeartBeatLil’Girl

Invisible – HeartBeatLil’Girl

Starring : Xiumin/Kim Minseok || Kel Park [OC]
Genre : Angst, Romance, etc.
Rating : General
Lenght : Oneshoot

~”~

‘Mereka hanyalah bagian dari ketidakterlihatan dan mereka bilang, ia tidak pantas untuk terlihat.’

~”~

Ketika itu, hujan turun pada tanggal ke dua puluh enam bulan Maret. Minseok menyelipkan kedua tangannya ke dalam jaketnya, telinganya ia tempel dengan sepasang ‘earphone’.

Ia bersenandung pelan, menghentakkan kaki kirinya di kubangan air kecil. Ia terlalu larut berpikir ‘bagaimana cara mendapat hati gadis itu’.

“Hei,”

Merasakan ada senggolan kecil, Minseok melepas ‘earphone’-nya, melirik ke arah yang memanggilnya. Berseragam sama dengannya, rambutnya diikat satu, kemudian bibirnya ia angkat ke arah Minseok.

Sejenak, Minseok terpaku dengan gadis itu.

“Hai? Namaku Kel. Kau murid disini? Aku baru pindah seminggu yang lalu. Senang bertemu denganmu.” Dia berucap, mengulurkan tangan kanannya, tangan kirinya memegang payung berwarna hijau.

Haruskah Minseok berteriak kencang di tengah hal semua ini? Gadis di depannya, adalah cinta pertamanya. Gadis itu, gadis itu datang padanya seakan – akan gadis itu tahu apa yang Minseok butuhkan.

~”~

“Kau tidak perlu mengalikan bilangan ini dengan bilangan ini. Cukup kau tambahkan bilangan pertamanya dan bilangan keduanya. Kau akan mendapatkan hasilnya.” Gadis itu – Kel – berusaha mencairkan suasana canggung mereka ketika ia melihat Minseok kesusahan mengerjakan soal matematikanya.

Harus Minseok akui, ia merasa sedikit canggung dengan tatapan aneh dari teman sekelasnya. Ketika gadis ini masuk, tidak ada perkenalan – bahkan tidak ada yang melihat – dan gadis ini langsung menuju tempat duduk Minseok.

Minseok menghela napasnya.

“Kel, ayo kita ke kantin. Aku lapar.”

Gadis itu mendongak ke atas, kemudian membiarkan Minseok memimpinnya.

~”~

Minseok memandang lurus ke arah gadis itu. Seutas garis kecil tampak di wajah Minseok kemudian berlanjut dengan kekehan kecil ketika ia melihat gadis itu kesusahan untuk memasukkan suapan yang menurut Minseok cukup besar.

“Assa, aku berhasil!” gadis itu meninju udara kosong, mulutnya masih terpenuhi dengan aksi ‘satu suapan besar’.

Minseok tertawa kecil, menggeleng kepalanya pelan kemudian mengambil satu suap bibimbap ke arah mulutnya.

“Minseok?” Baekhyun menyenggol Minseok pelan, kemudian duduk di sampingnya. Minseok reflek melihat ke arahnya kemudian berdeham pelan.

“Kau terlihat mengerikan. Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Baekhyun berucap kemudian mencuri satu suapan bibimbap Minseok.

“Hei!”

Baekhyun mengedikkan bahunya pelan, kemudian beranjak dari tempat duduknya.

“Jangan tersenyum seperti itu Minseok. Itu mengerikan.”

“Kenapa? Setidaknya, senyumku menawan bukan?” Minseok terkekeh pelan kemudian kembali mengambil satu suapan bibimbap lagi.

“Menjijikan. Setelah kau menghabiskan itu, temui aku di kelas. Tugas kelompok kita belum selesai.”

Minseok menoleh kemudian menghadap kembali ke arah gadis itu. Gadis itu masih asik melakukan aksi ‘mari makan satu suap besar bibimbap’.

~”~

Minseok benar – benar jatuh cinta dengan gadis ini.

Ketika gadis itu mengajak Minseok ke ruang musik, gadis itu memilih piano sebagai alat musik yang akan ia mainkan.

Suaranya, harus Minseok akui, itu benar – benar indah. Matanya ia pejam rapat. Gadis itu sungguh menghayati lagu yang ia bawa. Minseok terlarut dalam alunan gadis itu.

Cahaya matahari yang melewati kaca jendela terpancar tepat di depannya.

Baru kali ini Minseok mengagumi betapa cantiknya gadis ini. Minseok memperhatikan gadis ini dari bawah hingga ke atas, sampai –

Mereka berdua melakukan kontak mata yang membuat Minseok terdiam dan gadis itu merona.

Segaris senyum tenang muncul di wajah Minseok. Gadis itu memalingkan matanya ke arah piano, tersenyum kecil.

“Minseok, kau … kenapa?”

Minseok masih terdiam, masih asik untuk mengagumi gadis yang masih merona itu.

“Minseok?”

Minseok tersadar dengan lambaian tangan di depannya. Ia segera mendongakkan kepalanya ke arah sosok yang memanggilnya. Jongdae.

“Apa?”

“Kenapa kau tersenyum seperti itu? Ada sesuatukah?” Jongdae berucap mengikuti arah mata Minseok.

Minseok mencibirkan bibirnya ketika melihat gadis itu beranjak, memberi lambaian kecil, kemudian pergi.

“Jongdae, kurasa, aku jatuh cinta.”

“Eung? Apakah dia cantik? Seksi?” Jongdae
mengedikkan bahunya, mengambil duduk di depan piano.

“Hoi, kau tidak boleh disitu. Itu tempat Kel.”

“Kel? Sia–. Ouh gadis yang membuatmu jatuh cinta?” Jawab Jongdae, air wajahnya berubah cepat ketika Minseok menyebutkan nama gadis itu.

“Kenapa wajahmu seperti itu?” Minseok berucap, tersenyum kecil ketika ia beranjak dan mendekati piano yang tadi gadis itu mainkan.

Datar, Jongdae hanya menghela napas pelan kemudian pergi.

~”~

Minseok memegang seiikat bunga ‘baby breath’ di tangan kirinya dan sebuah gitar di tangan kanannya.

“Hai, Kel.” Minseok meletakkan gitarnya kemudian memegang pundak gadis itu. “Mungkin ini cukup canggung. Mengingat kita tidak begitu dekat, dan kau kira – kira baru dua bulan disini. Tapi, harus kuakui. Kau sungguh cantik. Kau membuatku jatuh cinta kepadamu. Sungguh.” Minseok melanjutkan kemudian ia mengambil gitar milik Chanyeol, dan memetik senar gitar tersebut.

Semalam, ia meminta Chanyeol untuk mengajarkan kepadanya cara bermain gitar. Sulit. Kulit tangannya terkelupas kecil. Namun, cukup. Hasilnya memuaskan.

“Jadi Kel, aku ingin serius dalam hubungan kita, jadi, aku memintamu untuk mejadi kekasih dari pria kesepian ini.” Minseok berucap canggung sambil memberikan seikat bunga yang ia bawa.

Gadis itu diam, tersenyum kecil, mengambil bunga tersebut kemudian menganggukkan kepala.

~”~
Minseok bahagia.

Tawa bahagia selalu ia pancarkan.

Gadis itu juga.

Tapi, gadis itu menunjukkan bahagia yang palsu.

Tawa yang dikeluarkan hambar.

Minseok menyadarinya. Ia tidak bodoh. Ia tahu, gadis itu berusaha terlihat bahagia.

~”~

“Kau, tidak bahagia denganku?” Minseok berucap pelan, mengoleskan selai anggur di atas roti yang baru ia beli tadi sebelum mereka piknik di taman. Gadis itu hanya tersenyum, mengambil roti yang sudah Minseok olesi.

“Jujur saja. Jika kau tidak bahagia, kau bisa, tidak, kita bisa mengakhiri hubungan ini.”

Gadis itu tetap diam, memandang anak – anak yang bermain gelembung di taman tersebut. Minseok mengikuti arah pandangan gadis itu. Tersenyum kecut.

Minseok mengernyitkan dahinya kecil. Mendapat tatapan sebagai ‘orang aneh’ bukanlah yang biasa Minseok dapatkan.

“Orang – orang melihat kita aneh.” Gadis itu akhirnya membuka suaranya.

Minseok menoleh ke arahnya, “mereka hanya iri mungkin. Jangan dipikirkan. Ah, aku mengajak Baekhyun dan Jongdae untuk bergabung dengan kita. Kau tidak keberatan?”

Gadis itu menggeleng pelan. Kemudian tersenyum dan Minseok mengelus kepala gadia itu pelan.

“Minseok!” Baekhyun memanggil dari seberang. Minseok menoleh ke arah panggilan, kemudian melambaikan tangannya.

“Hei.” Jongdae menyapa pelan.

Minseok melihat mereka. Meneliti wajah mereja yang menurut Minseok cukup janggal. Wajah mereka seakan –

Seakan prihatin dan sedih kepada dia.

Minseok tidak perlu dikasihani. Ia tidak perlu sama sekali. Harusnya ia dapatkan tatapan kebahagiaan dari temannya. Bukan tatapan keprihatinan dan kesedihan yang Minseok inginkan.

“Minseok, gadis –, gadis yang kaubicarakan mana? Aku ingin bertemu dengannya.” Baekhyun berucap kecil, seakan takut untuk bertemu dengan gadis itu.

Minseok mengedikkan bahunya pelan, mengelus kepala gadis itu pelan. “Dia disini. Kurang besar apalagi dia.”

Gadis itu memukul dia pelan, kemudian terkekeh kecil.

Baekhyun dan Jongdae hanya diam. Minseok melihat mereka. Sama dengan orang – orang, tatapan aneh.

“Minseok.” Jongdae membuka suara. “Kau, kau membicarakan Kel? Kau, tahukan, dia sudah tiada?” Jongdae melanjutkan hampir seperti berbisik.

“Jangan berbicara yang aneh – aneh, jelas dia disampingku.” Minseok berucap kemudian memandang gadis itu yang sedikit tertunduk.

“Minseok, dia sudah lama pergi. Kalian mengalami kecelakaan, Kel menyelamatkanmu. Saat itu, kondisi kalian sungguh parah.”

Minseok terdiam, kemudian kembali memandang gadis itu meminta penjelasan.

“Dia sudah tiada. Relakan. Apa yang sudah tiada, tidak bisa terlihat, Minseok. Kau berhalusinasi.”

Minseok mengerti sekarang. Mulai dari gadis itu masuk dan tidak ada yang melihatnya, mendapat tatapan aneh, Minseok mengerti.

– Fin –

Ini gajelas. Maapkan. Nulis di antara ujian – ujian yang numpuk dan berusahan untuk nyelesain ini.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s