[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] I’m Here — May

[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT]

I’m here – may

CAST : Xiumin, Park Yu Na, Jimin || Romance, Comedy || T

 

 

06:00 AM

Yuna POV

Pagi yang membosankan. Senin yang cocok untuk terlelap lagi dikelas. Monday. Monsterday.
Hidup ini colourful katanya kalau punya sahabat.
Apa itu sahabat? Kamu bertanya padaku?
Baiklah, sahabat itu…

“WOY BANGUN BANGKE!”

“Astaga dragon! Minta digilas kretek lo min! Sialan, Hoaam~”

“Itu mulut apa layar tancep kok lebar amat”

“Lo bekantan”

“Gue namanya, lo wujudnya”

“Xiumin bangke! JANGAN LARI WEY MINTA DIKEJAR AE NIH BOCAH!”

Sahabat? Dia? Iya.
Dia sahabat. Ingat, hanya sahabat. Dia bukan pacarku. Mana mau aku menyukai cowok yang sudah tau aibku dari kecil.

Antara menahan emosi atau tawa, aku tetap mengejar xiumin sepanjang lorong. Tanganku menggepal, siap mendarat dibahunya yang kekar. Aku siap memukulnya kesal sambil tertawa. Dan itu menyenangkan.

Kadang aku bertanya, kenapa dia tetap menganggapku ini seperti cewek bocah yang gampang dijahili, aku ini ‘kan remaja SMA yang dewasa. Kenapa juga kami harus satu sekolah, mengekor dari SD sampai SMA. Ah dasar, biarlah, dia hanyalah “oppa” ku yang gila dan cuek. Itu saja.

Anehnya, aku nyaman.

Di tikungan kelas 12, aku menabrak seorang anak laki-laki. Xiumin sialan, membuatku lupa sampai kelewatan berlari di lorong kelas para senior.

Sial, orang ini menahanku. Tanganku sakit digenggamnya.

“Minta maaflah, cantik,” pintanya.

Saat aku berani menegakkan kepala, jantungku mulai aneh.

“Jimin oppa?”
__________

AUTHOR POV

Sejak hari itu, Yuna mulai menebalkan make-up nya. Sebisa mungkin terlihat cantik dan kyeopta sesuai apa yang Jimin sukai. Memang, permintaan pacar itu harus dituruti. Sejak kapan mereka pacaran? Mungkin saat 2 jam setelah insiden tabrakan di tikungan itu.

Bel sekolah menjemput para penghuninya untuk kembali kehabitatnya masing-masing.

Sementara seorang anak laki-laki berparas bayi dengan malasnya berdiri didekat gerbang sekolah. Sesekali mengumpat dan melirik jam di tangannya yang putih itu.

“Xiumin! Heh bakpao unyu, gue gak bisa pulang bareng lo ya, Jimin oppa jemput gue! Duluan ya! Hati-hati!”

Xiumin mewajarinya, tersenyum sendiri, terbayang kalau jimin hyung pasti kewalahan menyikapi Yuna yang memang kekanak-kanakan.

Hari berikutnya, Yuna mulai mengoceh tentang kencan pertamanya. Dan xiumin selalu disana, dengan telinga yang siap mendengar siraman rohaninya.

“Makasih ya xiumin, lo emang, apa ya, em.. teman terbaik buat gue”

“Peristiwa langka emang primata kayak lo bisa-bisanya digebet Jimin”

“What? XIUMIN BANGKE!”

Dan ritual kejar-kejaran dan saling menghina masih berlanjut.

Waktu terus berdetik, seiring dengan perasaan masing-masing. Yuna untuk jimin, dan xiumin yang entah untuk siapa.

______

2 YEARS LATER

Xiumin POV

“Sudahlah Yuna-ah, jangan nangis. Tambah jelek.”

“Bantuin gue ketemu jimin, plis xiumin, kenapa dia harus kuliah di Sydney hah? Kenapa min kenapa?”

“Bawel lah namanya juga sekolah yun!”

Parkiran di bandara lumayan lengang. Hawa diselimuti kesedihan dan isakan Yuna. Disana dia, duduk meringkuk menghadap lapangan lepas landas pesawat. Aku disini, hanya bisa berdiri dibelakangnya.

“Dia gak tau gue sayang sama dia! Dia gak tahu selama ini gue yang merhatiin dia!”

“Yun..”

“TAU APA KAMU TENTANG CINTA? DIAM!”

“Aku tau, bodoh. AKU TAU!”

-Flashback starts-
2 years ago
XIUMIN POV
06:00 AM
Pagi yang menyenangkan. Senin, ataupun hari apapun itu, masa bodoh. Karena aku memiliki orang yang aku sayangi, dan aku harus, HARUS melihatnya setiap hari agar tak terjangkit penyakit rindu.

Orang yang ku sayangi? Mau tahu?

Tunggu, kubangunkan dulu. Dia sedang tidur dimejanya. Lucunya.

Tanganku yang jahil ini sedari tadi sudah gatal ingin mengacak rambutnya. Kalau aku teriaki dia, pasti dia kesal. Haha. Mukanya yang kesal itu…

Cantik.

Aku mendekatkan wajahku ketelinganya, siap untuk berteriak. Dari dekat begini, ia sebenarnya cantik. Bibirnya mungil, terpoles sedikit lipstik pink yang merona. Dasar ya, kau sudah sok dewasa sekarang. Ah, bibirmu itu, ingin ku…

Bodoh! Dia kan hanya bocah yang menganggapmu sebagai oppa nya, xiumin. Berhentilah mengagumiya.

“WOY BANGUN BANGKE!”

Yap, misiku berhasil. Sekarang dia mulai menyampah kata-kata kasar favoritnya sambil mengejarku sepanjang koridor

Di tikungan itu, mataku bertemu dengan seseorang. Siapa ya?

Aku ingat, dia adalah Jimin-hyung, ketua OSIS. Yuna sering membicarakan dia. Oh iya, Yuna menyukainya.

Yuna menyukainya.

Kalau mereka bertemu, apa yang akan terjadi ya? Pasti Yuna senang. Ah, biarlah aku sembunyi dulu disini, aku ingin melihat bagaimana reaksi Yuna si babi ngepet itu kalau bertemu kakel pujaannya. Memangnya ada cowo yang naksir cewe bocah seperti si yuna? Haha.

Aku?

Haha

Mungkin?

“Minta maaflah, cantik,”

“Iya, maafin aku kak, gak sengaja SUMPAH!”

“Santai aja kali. Asal lo berhenti senyum gitu lah, nanti gue diabetes”

“Em… kak, ketua OSIS ya? Salam kenal ya, aku Park Yu Na kelas 10 IPS 3” si Yuna mulai sok akrab.

“Ah jangan ngobrol disini, kantin adem tuh bisa duduk, ayo,” si Jimin mulai merangkul Yuna.

Aku jamin pulang sekolah nanti pasti Yuna dengan bawelnya mulai berkoar tentang kejadian tadi. Aku jamin dia pasti senang.

Tapi perasaanku ini, kenapa sakit?

Aku menyukainya. Apakah salah?
____
Flasback end

“Aku menyukaimu bodoh! Bodoh dengar aku, aku tau apa itu cinta dan aku menyukaimu!”

Deru bising pesawat yang sedang lepas landas mendengung. Angin menghempas kencang. Ia berdiri dan berbalik kearahku, dengan rambutnya yang panjang terbelai angin.

“Yun, kamu bisa dengar engga sih? Ah! Lupakan! Aku bilang disini berisik, AYO PULANG BODOH!”

Aku merogoh saku mencari kunci mobil.

Tak ada. Aduh, kemana hilangnya?

“Yun, kamu lihat-”

Ia disana, mengacungkan kunci mobilku sambil menangis.

“Kubilang kita pulang!” Aku membentaknya.

“Aku dengar tadi, kamu menyukaiku?”

Dadaku sesak lagi. Aku terdiam.

“BODOH! Yang bodoh itu kamu! Xiumin, kenapa kamu enggak bilang dari dulu? HAH? Sialan, aku enggak mau pulang!”

Ia melempar kunciku jauh.

“Apa maksudmu Yun?”

“Kalau tau begitu, dari dulu aku sudah menyukaimu!”

Waktu terasa membeku. Aku mencoba mencerna kalimat itu dengan hati, bukan akal.

Ah, iya, aku memang bodoh. Kenapa tak dari dulu aku menyatakannya?

Aku hanya bisa berlari mendekatinya. Meraih tubuhnya dan mendekapnya. Mengusap pipinya yang sudah becek. Mengusap kepalanya dengan lembut.

Aku memandang maskara dimatanya yang luntur. Lipstiknya yang terpoles dibibirnya. Saat itu juga, kubuat luntur lipstik itu dengan bibirku.

“Iya, aku bodoh, sampai membiarkanmu menangisi Jimin.”

“Apa? Kamu bodoh? Akhirnya kamu ngaku juga.”

Sialan, dia mulai tertawa kecut. Tiba-tiba ia berlari dari dekapanku.

“Ayo kejar aku, kunci mobilmu ini lumayan! Kamu sayang aku ‘kan? Ayo kejar!”

Aku tertawa. Aku siap mengejarnya. Kami ini kekanak-kanakan memang. Dan ‘kami’ bahagia.

Aku disini, untuknya. Selalu.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s