[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Gone — inkusa_1396

[XIUMIN BIRTHDAY] Gone-inkusa_1396

Terinspirasi dari lagu
Gone- Jin Loveyz
Miracles in December- EXO
Hal yang paling menyakitkan adalah ketika kita memimpikan seseorang yang bahkan di dunia nyata tak dapat dilihat hanya dapat dirindukan.

***

Kakiku melangkah menyusuri setapak jalan batu, kemudian berhenti di sebuah taman yang dipenuhi bunga. Angin sepoi sore hari membelai lembut pipiku. Tubuhku kaku seketika ketika menangkap sosok yang selama ini aku rindukan, sosok mungil berpakaian gaun one piece putih tersenyum ramah padaku, di tangannya tampak ada sebuket bunga mawar putih.
“ Minseok-Oppa.” Panggilnya lembut sambil mengambil langkah ringan.
“Bukankah kamu sudah meninggal?” Aku bertanya ketika ia sudah ada dihadapanku. Ia tertawa kecil lalu menggeleng.
“Tidakkah kau lihat aku sehat-sehat saja. Aku ada di sini Oppa. Bersamamu.”
Tanpa kata-kata lagi kurengkuh badan mungilnya lalu berbisik aku merindukanmu, sangat sangat merindukanmu.
“Ahh..”
Aku melepaskan pelukan ketika mendengar rintihannya. Aku terkejut mendapati tangannya sudah dipenuhi noda merah, bunga mawar yang ia pegang tadi berubah layu.
“ Yeri kamu baik-baik saja?”
“ Maaf aku tak bisa bertahan lagi Oppa. Kau tahu aku sangat mencintaimu kan? Jangan terlalu menyalahkan dirimu. Aku pergi dulu Oppa, jaga dirimu baik-baik ya”
Semuanya mengabur seolah ditelan kabut, sosok Yeri pun perlahan menghilang dari pandangan. Aku ingin berteriak namun suaraku tiba-tiba hilang, badanku pun kaku tak bisa digerakkan.
“Haah. . Haah. .”
Ketika mataku terbuka, aku merasa tak ada oksigen disekitarku, sesak. Dan lagi aku menangis karena memikirkan ia yang tak ada lagi untukku.
Kami bertemu pertama kali di tempat les piano. Aku yang jatuh cinta pada pandangan pertama padanya mencuri-curi untuk melihatnya sedang latihan piano. Usianya tiga tahun dibawahku namun pembawaannya dewasa dan anggun. Wajahnya yang manis apalagi ketika tersenyum juga jarinya yang lentik ketika menekan tuts piano membuatku terpana dan ingin selalu melihatnya. Secara perlahan dan hati-hati aku mencoba mendekatinya.
Waktu demi waktu mengalun kami pun menjadi dekat. Pada saat white day aku memberinya sekotak coklat, dengan mata berbinar ia memakan coklat itu. Sungguh ia sangat manis saat itu. Tak hanya itu kami juga sering menghabiskan waktu akhir pekan bersama misalnya menonton bioskop, duduk di cafe,jalan-jalan di taman, dan lainnya. Banyak hal yang kami lakukan bersama hingga tak terasa sudah sekita sembilan bulan kami saling mengenal.
Pada penghujung musim gugur kami pergi ke sungai han untuk melepaskan letih setelah berlatih piano. Malam telah tiba dan kami masih betah berada disini. Udara yang dingin sedikit menusuk kulit untungnya kami memakai sweater yang lumayan tebal. Dengan sedikit keberanian aku mencoba mengenggam tangan Yeri, ia sempat terkejut dengan perlakuanku tiba-tiba tapi ia tak melepaskan kemudian ia tersenyum teduh.
“ Malam ini indah ya Oppa?” Yeri menengadah menatap langit. Ia terlihat asyik.
“Iya.” Jawabku singkat.
Kami terdiam untuk beberapa saat. Lalu aku teringat dengan permen yang kusimpan di dalam tas. Yeri sangat suka makanan yang manis, jadi aku ingin memberikannya.
“Yeri.” Yeri menolehkan kepalanya menatapku.
“ Iya Oppa.”
“Aku ingin memberi sesuatu padamu. Bisakah kamu menutup matamu sebentar?”
“ Kenapa harus pakai tutup mata sih.”
Ia memprotes sebentar lalu menutup matanya. Ketika ia sudah menutup mata, aku memperhatikan wajahnya yang manis dengan intens sebentar lalu membuka permen strawberry kesukaan Yeri dan memasukkannya kemulut. Dengan perasaan yang gugup aku mendekatkan wajah. Ketika bibir kami saling beradu waktu terasa berhenti dan menjadi milik kami. Yeri tak menolak ia kemudian membuka mulutnya untuk menerima permen tadi. Aku melepaskan ciuman singkat itu ketika permen tadi sudah masuk di mulut Yeri.
Kami saling bungkam. Aku sedikit merasa malu, kulihat Yeri juga begitu tampak dari pipinya yang merona. Aku belum bisa untuk mengungkapkan perasaanku sekarang padanya. Biarlah saat tiba waktunya aku akan menyatakan dan memberi kenangan yang tak terlupakan untuknya. Dan saat kami sampai di depan rumah Yeri aku mengatakan bahwa akan memberikan sesuatu pada saat natal, dan bertemu di dekat air mancur di taman kota.
Kulirik jam tangan yang melingkar ditangan, ini sudah dua jam aku menunggu Yeri. Aku sudah berulangkali menghubunginya namun ia tak mengangkat. Hatiku semakin gundah, entah mengapa perasaanku menjadi tak enak. Ketika aku mendongak ke langit, butiran kecil berwarna putih mulai turun, salju sudah turun. Aku menghembuskan nafas pelan sambil melihat sebuket bunga mawar putih ditangan. Aku terkejut ketika ponselku bebunyi, kupikir itu Yeri tapi ternyata tidak.
Jantungku serasa berhenti seketika ketika mendengar dari orangtua Yeri yang mengatakan kalau Yeri masuk rumah sakit akibat serangan jantung dipertengahan jalan sebelum ke tempatku. Tanpa pikir panjang aku langsung melesat kerumah sakit tempat Yeri berada.
Saat tiba disana tubuhku mati rasa melihat Yeri terbujur lemah ditempat tidur. Orangtua Yeri bercerita bahwa Yeri kurang sehat selama beberapa hari lalu, dan aku juga baru mengetahui bahawa Yeri memiliki sakit jantung. Namun ia tetap memaksakan untuk bertemu denganku dan mengakibatkan ia mendapat serangan jantung ditengah jalan. Aku tak bisa berpikir apa-apa, nyawaku serasa meleyang meninggalkan tubuhku. Tiba-tiba suara rintihan Yeri membuatku sadar kemudian dengan langkah yang berat aku berjalan mendekatinya lalu mengenggam tangannya yang dingin. Tak berselang lama Yeri menghembuskan nafas terakhirnya setelah mengatakan Maaf aku tak bisa bertahan, aku mencintaimu. Dan bodohnya aku tak sempat untuk memberitahu perasaanku padanya. Semua telah terjadi dan aku harus menerima kenyataan bahwa aku kehilangan Yeri.
Setahun berlalu setelah Yeri pergi meninggalkan dunia fana ini. Aku telah berhenti bermain piano untuk menghindari kenangan bersama Yeri yang membuat hidupku semakin hampa. Hampir setiap malam aku menangisi Yeri namun rasa sesak didadaku tak kunjung berkurang. Aku benar-benar menyesal tak bisa memberitahu Yeri tentang perasaanku dan menyalahkan diri karena menyebabkan Yeri tiada. Andai waktu itu ia tak pergi menemuiku ia takkan pergi meinggalkanku. Entah setan apa yang merasukiku aku berencana untuk mengakhiri hidup. Ketika aku membongkar laci, aku menemukan benda kotak yang bertuliskan To Minseok Oppa yang diberikan orangtua Yeri setelah Yeri meninggal. Kemudian aku membukanya dan mendapatkan flashdisk berwarna pink.
Sebuah irama piano mengalun di seisi kamar setelah membuka file di flashdisk tadi. Aku ingat ini adalah musik yang biasa dimainkan Yeri, saat itu ia mengatakan kalau ini belum selesai. Alunan piano ini membuat hatiku bergetar hebat kemudian airmataku mengalir dengan derasnya. Tanpa sadar akupun terlelap, dan kembali memimpikan Yeri. Ia datang dengan wajah yang sangat manis lalu mengatakan.
“ Hiduplah dengan baik, Aku mencintaimu.”

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s