[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Starlight – capungterbang

timeline_20170321_223827

 

Starlight – capungterbang

Xiumin & EXO members || Friendship || T

 

Minseok menyeduh kopinya perlahan, memutar lihai teko air panas saat menuangkannya. Harum dari kopi segar seduhan sendiri memang terbaik dengan satu celup gula beku kotak. Ia membawanya bersama piring kecil dan kukusan bolu kayu manis berselai nanas menarik sebelum duduk rileks di salah satu kursi dekat jendela.

“Kapan kita berkumpul lagi?” gumam Minseok.

Lima tahun berlalu seperti kereta ekspres, cepat dan tidak terbayangkan setelah mereka memutuskan bubar sepenuhnya. Cukup sudah dalam menghibur anak-anak muda hingga bermacam usia. Entertaiment sudah banyak menyuguhi grup-grup berkualitas diatas kemampuan dan segar. Sudah saatnya mereka mundur secara pasti saat itu.

Mereka menyebar tanpa sadar dan Minseok lebih suka hidup santai dengan membuka kafe menyenangkan yang merambat seluruh Seoul, seluruh Korea Selatan. Termasuk cabangnya disini. Busan. Menghadap birunya laut tanpa batas.

Setengah tahun lalu terakhir mereka makan bersama, sekarang awal tahun. Bulan maret, peralihan musim dan kesibukan datang. Hanya beberapa orang yang muncul di group chat, bahkan lainnya menjawab pas dini hari. Sepi aneh.

Yixing masih berkelut di dunia entertainment. Dia memimpin beberapa acara variety show memasak terkenal di China sana. Dengan resep diluar nalar, menciptakan rasa berkualitas.

Jongdae dan Baekhyun bertahan dalam segi suara, vokal menakjubkan mereka selalu menjadi original soundtrack drama-drama ditelevisi setiap malam.

Chanyeol suka bergelung malas di studio, mengurung diri puluhan jam sebelum keluar dengan karya menariknya. Menjadi produser bukan selalu hal mudah.

Bagi Jongin, menampilkan tarian adalah panggung terbaik yang selalu disempurnakannya. Performance director adalah kemampuannya saat ini.

Aktor Kyungsoo masih setia berada dalam beberapa poster memikat dibeberapa bioskop, papan besar raksasa gedung-gedung tinggi mencapai langit.

Sehun menjadi model, tingginya yang bagus, bahunya yang semampai menenangkan menjadi iklan dalam jeda ditelevisi, dalam stasiun kereta api, pemberhentian bus. Dimana-mana.

Junmyeon memilih kembali normal— tidak juga. Kepala staff salah satu perusahaan inovasi terkemuka, beberapa kesempatan dirinya harus memutari seluruh bagian dunia.

Minseok ingin bertemu dan ingin bernostalgia tanpa bosan dengan pembicaraan yang terus bersambung bersama teman-temannya.

“Oppa, boleh minta tanda tanganmu?”

Minseok terkesiap lucu begitu melihat perempuan di depannya, memakai seragam sekolah menengah dengan tangan terulur memegang marker juga album pertama mereka dulu, MAMA.

Minseok menerimanya ragu-ragu, membuka tutup marker sebelum mendongak,“Tentu, err—”

“Ahyeon. Jeon Ahyeon.” perempuan itu berucap mantap, “Boleh minta tuliskan ‘Yeon-a, tetap ada disisi kami ya? Jangan lupa.’ disini?”

Minseok menulisnya sesuai arahan dan tangannya bergetar stagnan, mengingat kenangan lama, tentang kegiatan yang dulu sering ia lakukan. Minseok mengambil nafas banyak dan berucap lamat, susah dalam membangun kosakata, “Sudah.”

Ahyeon memekik tertahan ketika ia mengambil album langka bertanda tangan itu, poninya bergoyang manis. Ahyeon membungkuk beberapa kali sopan, “Kamsahamnida, oppa! Aku selalu mendengarkan lagu kalian, walau terlambat beberapa tahun. Tapi, sekarang aku adalah EXO-L!”

“Terima kasih untuk menjadi fans kami, untuk menjadi EXO-L.” Minseok tersenyum, ikut berdiri dan membungkuk. Ahyeon mengangguk kuat, ia membungkuk sekali dan berpaling dengan cekikikan bahagia, menghilang dibalik pintu kafe.

Minseok mengingat masa-masa menyenangkannya. Awal mulanya. Perjuangan menanjak dari trainee hingga debut, piala kemenangan acara musik pertama dengan Wolf dan hits menagihkan dari Growl yang menyalurkan mereka menuju kemenangan acara-acara besar akhir tahun hingga terulang menuju tahun berikutnya, seterusnya.

Ia mendadak rindu dengan riuhnya suasana sebelum naik menuju panggung menyilaukan, gugupnya untuk tidak menampilkan yang terbaik atau ributnya dorm saat dipenuhi mereka yang banyak anggota. Astaga, dia rindu. Sangat. Melimpah.

“Hyeong! Sini!” seseorang menarik lengannya lembut.

“Huh? Apa?” Minseok menoleh ringkas, ingatannya buyar cepat melihat Baekhyun berdiri dengan senyum lebarnya.

Sejak kapan Baekhyun ada disini?

Baekhyun menggeleng tak mau menjelas, ia mengambil penutup mata dan melingkupinya dimata berkerlip Minseok. Baekhyun berucap meyakinkan, “Aku akan menutup matamu dan hyeong cukup ikuti langkahku, oke?”

“Tunggu sebentar, Baekhyun! Apa yang kau lakukan? Sejak kapan ada disini?” Minseok berontak, mundur satu langkah namun, Baekhyun lebih tangkas darinya.

“Ssst. Diam dan ikuti aku.”

Bisikan Baekhyun terdengar banyak sarat tersembunyi. Yang Minseok tahu, selanjutnya ia naik mobil. Minseok tak perlu muluk melepaskan penutup mata jika nantinya Baekhyun akan mengomel dengan kapasitas tidak dapat ditebak. Jadi, Minseok lebih mengajukan diri untuk bersender nyaman, mendengarkan lagu Baekhyun terputar dalam radio lokal. Semuanya ringan saat dipenghujung lagu. Gelap mengkonsumsi begitu banyak.

Minseok mengerjap kilat, matanya terbuka, penutup mata hilang dan ia berada salah satu sofa krim nyaman. Menatap sekeliling hanya ada orang-orang tidak dikenal. Seorang berjalan kearahnya, terlihat sangat dikenalnya. Minseok menajamkan matanya, “Huh? Siapa?”

Jongdae. Kim Jongdae. Teman satu grupnya dulu.

“Minseok hyeong, ayo!” Jongdae mengulurkan tangannya, bibirnya mengerucut lucu hingga membentuk senyum khas memikatnya. Minseok tergugu, matanya yang seperti menajam lembut keujung seperti kucing berpendar bingung. Ia berucap sedikit tergagap, “Jongdae– apa– mau kemana?”

“Hyeong lupa? Tentu saja untuk bertemu mereka?”

“Mereka?”

“Galaksi, hyeong. Kita akan bertemu galaksi.”

Minseok berlari mengikuti langkah terburu-buru Jongdae, beberapa orang sekitarnya sibuk berbicara tidak terdengar, berlalu lalang dengan giat. Ketika mereka berdua menaiki tangga, menyongsong cahaya dibalik tirai hitam diatas, Minseok mendengarnya.

Teriakan nyaring. Lampu terang mengaburkan pandangan. Amplifier yang berdengung. Instrumen menakjubkan yang membuat Minseok ingin mengikutinya. Mengeluarkan perasaannya, rindunya, semuanya. Suasana yang benar-benar familiar, seperti rumah dan hangat.

“Minnie hyeong!” suara melengking Baekhyun dengan lambaian kekanakan datang menyapanya. Chanyeol ikut melambaikan tangan kelewat hiper. Senyum hati Kyungsoo yang memikat. Tawa polos dengan gigi taring menawan Sehun. Tatapan Jongin yang selalu takjub dengan sekitarnya. Kerjapan bingung lucu dari Yixing. Betapa maklum dan tenangnya senyum Junmyeon melihat tingkah mereka.

Mereka nyata, disini, berpijak sama di atas panggung.

Diantara mereka semua ada bintik-bintik terang putih tersebar acak namun indah, ayunan ringan lightstick yang setia mengadu dan saling berbaur juga nyanyian tersusun rapi atas instrumen lagu Angel.

Minseok tertawa lebar, lepas dan terdengar ringisan selanjutnya. Ringisan penuh rindu bahagia hingga Minseok harus menengadah menahan semuanya yang ingin menguar. Ia bukan seseorang yang sukarela menangis tapi, untuk kali ini. Minseok melepasnya. Isakan lirih terseguk, “Aku rindu kalian. Aku rindu semuanya.”

Minseok pulang.

Ke rumah.

Dalam gugusan bintang cantik tanpa batas yang berkerlap-kerlip mengagumkan.

Galaksi. Aeri. EXO-L.

Bersama EXO, keluarganya.

         Its home.

        Just two of us

        EXO and EXO-L.

.end.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s