[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Shouldn’t Come Back – Alya utami

timeline_20170321_231826

 

Shouldn’t Come Back

by Alya utami (lilacmxrine on wattpad)

EXO’s Xiumin x BLACKPINK’s Rose || romance, angst || PG-13

**

 

 

 

Shouldn’t Come Back

**

5 missed calls

Brooklyn masih terlalu gelap untuk seorang yang mendapat panggilan telepon di tengah malam begini. Lagipula, siapa sih orang sinting yang telah berani mengganggu kententraman Brooklyn pada jam tiga pagi? Baiklah, New York itu negara bagian besar yang tak pernah tidur, tapi penduduknya juga butuh tidur kan?

Wanita awal tiga dekade itu sebenarnya masih ingin bergelut dengan kasurnya, namun dering ponselnya cukup kuat untuk meruntuhkan rangkaian mimpinya. Dalam keadaaan gulita, ia meraih ponselnya di atas nakas lalu mengaktifkan ponselnya.

“Ah, lima panggilan tak terjawab,” wanita itu berdecak kesal, “dari nomor tak dikenal.” Lanjutnya seraya melempar benda persegi itu ke atas kasur di sebelahnya.

Drrt.

2 new messages!

“Huh?”

Dengan setengah mengerjap, wanita itu mengambil ponselnya.

“Maaf, Ann. Aku mengganggu malam-malam begini. Bisakah besok siang kita bertemu?”

Ann yang bingung sekarang terlarut dengan satu pertanyaan yang berdendang di kepalanya, ‘Siapa?’

Jemari Ann dengan cepat menggeser layar ponselnya ke bawah. Ah, satu pesan lagi belum terbaca.

“Oh ya, ngomong-ngomong ini aku, Minseok.”

**

“Jadi Ann, meskipun teori tentang mantan jadi kawan itu bisa dikatakan benar, apa kau tak berencana untuk bertemu dengan si Minseok itu?”

Jennie mengekor Ann sampai ke dalam ruang pantry. Ann menghela napas dengan kasar. Seandainya menyiram Jennie dengan kopi panas yang sekarang sedang diteguknya itu bukan tindakkan jahat, Jennie pasti sekarang telah kuyup oleh kopi.

“Apa hubungannya?”

Ann menjawab dengan nada datar. Jennie meringis kesal. Gadis bersurai brunette itu sebenarnya sudah hilang kesabaran menghadapi Ann.

“Kau bisa saja kan menganggap Minseok itu kawanmu dan kau tak usah mengungkit masa lalumu dengannya. Lagipula, dia datang kembali ke dalam hidupmu pasti ada suatu hal yang penting baginya—”

“—tak penting bagiku.” Potong Ann sarkas, “Lagipula, daripada mengurusiku lebih baik kau urusi saja desain amburadulmu untuk artikel fashion of the week yang akan deadline jam empat nanti, darl.”

“W-what?” Jennie memasang tampang terbodohnya, sementara Ann sudah meninggalkan pantry. Sudah cukup Jennie menceramahi masalah kehidupan percintaan Ann yang sangat random.

“Hey Roseanne!”

**

Kata orang, melupakan orang yang sangat dicintai itu sulit, sepertinya ini tidak berlaku untuk Ann. Enam belas tahun setelah ayahnya meninggal, Ann bahkan telah melupakannya. Apalagi dengan Minseok yang cuma lewat di hidupnya selama lima tahun?

“Kalau Ms. Anderson bertanya, bilang saja aku pergi mengurus adikku yang akan wisuda.”

Bahkan Ann sendiri adalah anak tunggal di keluarganya. Entah setan apa yang mengacaukan pikiran Ann sehingga dia mau pergi menemui Minseok. Ann sudah mendeklarasikan bahwa Minseok hanya figuran saja dalam hatinya. Minseok harus bertanggung jawab setelah ini.

“Kedai di seberang Wendy’s,” Ann berguman seraya melirik ke arah ponselnya, “Ini tempatnya.”

Dengan suara heels miliknya memekakan telinga, Ann melangkah pasti memasuki kedai. Manik hazel Ann tak berhasil menemukan sesosok pria Asia di dalam kedai tersebut. Sudah Ann duga, Minseok cuma mempermainkannya saja, persis seperti sepuluh tahun yang lalu.

Ann bahkan belum menduduki kursi kosong manapun di dalam kedai itu. Wanita itu terlalu cepat untuk berspekulasi. Di usianya yang sudah begini, menunggu seseorang hanya menghabiskan sisa umurnya saja secara sia-sia.

“Sorry,” Ann segera berlalu setelah menabrak seorang pria dengan setelan jas kerja seraya menunduk.

“Chaeyoung!”

Ann terkejut, siapa yang memanggil nama aslinya itu? Ann masih ingat betul, seluruh kerabat serta koleganya di Brooklyn tak pernah ada yang memanggil Ann dengan nama Koreanya. Yang tahu nama asli Ann hanya ayah dan ibunya.

Oh iya. Jangan lupakan Kim Minseok.

**

“Aku sudah memesan Americano kegemaranmu,” Pria Asia itu berujar seraya mempersilakan Ann duduk, “dengan croissant, kan?”

Ann mengamini perkataan Minseok dengan mengangguk pelan. Rasa canggung mulai muncul diantara Ann dan Minseok. Tak ada yang berani untuk mulai berbicara.

“Um, jadi Minseok, kau ingin bertemu denganku—eh, kenapa?”

Pertanyaan itu seperti menginterupsi Minseok dari air minereal yang diteguknya. Ditatapnya Ann lamat-lamat, lalu Minseok angkat bicara, “hanya ingin bertemu denganmu,” jemari Minseok meremas taplak meja bermotif kotak merah, “oh ya, maaf aku terlambat sampai disini, aku tadi menjemput putriku dulu.”

Oh, jadi Minseok memanggil Ann untuk bertemu hanya untuk pamer kalau dia sudah menikah dan hidup bahagia setelah memiliki seorang putri sedangkan wanita bernama Ann ini hidup menjomblo selama sepuluh tahun karena gagal move on dari Minseok?

“Jangan bertele-tele Minseok,” Ann mulai gusar, “Bicaralah yang jelas dan pasti, aku sedang tidak berbicara dengan Minseok sepuluh tahun yang lalu.”

“Aku hanya ingin meluruskan semua dan berteman baik denganmu, Chaeyoung.”

Matamu, Kim Minseok. Kau pikir setelah sepuluh tahun berlalu, semua baik-baik saja, huh?

Ann menarik napas, kepalanya sudah mulai panas dan akan pecah jika dia tidak segera mengenterupsi perkataan Minseok.

“Kau pikir setelah apa yang kau lakukan sepuluh tahun yang lalu itu tak berbekas dalam ingatanmu? Siapa itu Kim Yoojung? Apa mantra yang dia berikan sehingga kau meninggalkanku? Oh bukan, aku dan bayiku.”

Ada sebuah sungai kecil yang mengaliri pipi Ann sekarang, “Apa kau tahu setajam apa pisau bedah yang melukai putri cantik kita ketika aku berjuang sendirian dan memutuskan untuk membunuh putriku?” Ann mulai terisak, “kau bahkan tak peduli! Sepuluh tahun berikutnya aku cuma figuran di hidupmu—”

Ann bersandar pada kursinya, mengatur napas sejenak, dan menyeka air matanya.

“—Tapi kau masih pemeran utama dalam hidupku.”

“Aku harusnya tak bertemu—”

“—ya kau memang harusnya menghilang saja dari muka bumi, pergilah ke inti bumi dan kubur dirimu hidup-hidup sehingga tak ada lagi yang dapat menemuimu.”

“Aku sudah menegaskan, bayimu itu bukan anakku! Kaulah yang berhubungan dengan Chanyeol sialan itu!”

Minseok membentak Ann dengan berapi-api, dia sudah muak dengan drama yang dibuat oleh Ann.

“Sadarlah, Chaeyoung. Apa kau sekarang sudah tidak bisa membedakan ilusi dan kenyataan? Kau dulu memang kekasihku tapi kau berselingkuh dengan Chanyeol.”

Ann membeku dalam tangisnya. Wanita itu tahu betul kenyataannya, kenyataan bahwa ia tak bisa lepas dari Minseok dan fatamorgana sudah menutup matanya dari kenyataan yang ada. Minseok, pria itu tak sejahat dalam pikiran maya Ann. Minseok adalah obsesi terbesar Ann, dia tak bisa melupakan Minseok. Dan Ann tidak menerima kenyataan bahwa Minseok tak bisa ia miliki.

Persetan dengan Ann yang bisa melupakan seseorang dengan mudah. Nyatanya, Ann ada dalam daftar ‘orang orang yang tak bisa melupakan dengan mudah’.

Keheningan mulai tercipta lagi, di tengah derasnya hujan di luar kedai, Ann dan Minseok membatu.

“Jernihkan pikiranmu, Chaeyoung. Aku kesini untuk memberimu ini,” Minseok mengeluarkan selembar kartu nama dari tas kerjanya. Detik berikutnya, Minseok audah bangkit dari kursi, “kalau kau butuh, kau bisa menghubungiku.” Lanjut Minseok seraya pergi keluar kedai, bergabung dengan derasnya rinai hujan.

Ann mengintip dari jendela kedai, pria itu masih sama seperti sepuluh tahun lalu, nekat. Seperti saat Minseok nekat melamar Ann yang saat itu masih tujuh belas tahun. Sekarang, hujan diterobosnya tanpa perlindungan apapun di atas kepalanya.

Kurva manis tersungging di bibir Ann. Dilihatnya kartu nama Minseok. Tertulis nama inggris Minseok disana, Aiden. Dan juga nama perusahaan tempat Minseok bekerja. AIA Insurance.

Tunggu, asuransi?

Ann sekarang mengerti mengapa Minseok menelepon Ann setelah satu dekade lamanya.

“Seharusnya memang dia tak usah kembali dalam hidupku.”

FIN

 

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s