[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Last Day – MRH

timeline_20170322_155206

 

Last Day – MRH

Xiumin and you || Romance and sad || G

“Kita boleh berencana, tapi kalau Tuhan punya rencana lain, kita harus menerima.”

Bagaimana kalau besok kita ke taman bermain?

Berulang kali aku berpikir untuk menekan tombol “send” di layar smartphoneku. Namun, akhirnya jari-jariku memberanikan diri untuk mengirimkannya kepada Minseok, seseorang yang sangat berharga bagiku.

Keesokan harinya…

“Annyeong. Tumben kamu ngajak aku pergi? Bukankah…” belum sempat ia merampungkan pertanyaannya, aku sudah menyela, “Hyaa, apa kau tak suka? Kajja”

Kami menikmati perjalanan menuju taman bermain itu. Lokasinya tidak jauh, sekitar 15 menit lagi mungkin kami akan sampai. Alunan damai lagu for life mengiringi perjalanan kami.

“Sudah lama kita tidak pergi berdua.”

“Apa kau senang?”

“Senang sekali. Ingin aku menghentikan waktu agar selalu di sampingmu.”

“Semoga Tuhan mengizinkannya.”

Akhirnya kami sampai di sebuah taman bermain di Seoul. Wajah Minseok begitu ceria pagi itu. Aku senang melihatnya. Kami segera membeli tiket dan menikmati satu hari bersamanya.

“Wah, kyopta. Ahh…” ucapnya sambil melihati bando kemudian memakaikannya di kepalaku.

Aku tertawa saat itu, “kau juga harus pakai. Aah, lucunya bayiku.”

“Hey, your baby? Ash…” ucapnya dengan kesal.

“Ah, mianhae Minseokaaa.”

Kemudian kami menaiki bianglala. Aku menikmati setiap detik bersama Minseok. Kupandangi terus wajahnya dan kugenggam tangannya. Tak ingin aku melepaskannya, walau sekejap. Sekarang kami sudah berputar dibawa bianglala.

“Minseokaa, saranghae. Jeongmal saranghae.”

Minseok benar-benar bingung saat aku mengucapkan kalimat itu padanya, kemudian ia menaruh tangannya di dahiku, “Apa ini benar-benar dirimu?”

“Aku bahagia bisa bersamamu sampai musim semi ini.” Minseok tambah terlihat bingung dengan kata-kataku. Maklum saja, aku bukanlah seorang yang romantis apalagi pandai mengucap cinta.

“Apa ini artinya kau menerima lamaranku?”

“Minseokaa, mianhae. Aku pikir kita sudah tidak bisa bersama-sama lagi.”

Ia seketika pucat mendengar ucapanku, “bukankah kau baru saja menyatakan perasaanmu? Tapi kenapa kau mengatakan ini?”

“Aku benar-benar minta maaf. Aku tahu aku egois. Tapi ini untuk kebahagiaan kita. Kamu harus mengerti nantinya. Maafkan aku.”

Akhirnya kalimat itu keluar dari mulutku. Memang ini yang harus aku sampaikan. Aku harus segera mengakhirinya. Jika kamu berpikir aku egois, kamu salah. Kamu akan mengetahui sebabnya, nanti.

Cukup lama kami menatap satu sama lain untuk meyakinkan apa yang sekarang terjadi. Air mata pun tidak kuasa aku bendung melihat wajah tampan seorang pria yang ada di hadapanku itu. Cukup dekat. Kemudian aku memeluk tubuhnya yang tangguh itu.

“Kita pulang yuk.” ajakku

Setelah sampai rumah…

“Aku masih tidak mengerti jalan pikiranmu. Namun, aku akan berusaha mengerti. Jika kamu menyesali keputusanmu, aku akan selalu ada untukmu. Aku pulang.” kata Minseok saat hendak pergi dengan mobilnya. Ia mendekat kepadaku, mengecup lembut keningku.

Mobil warna merah itu hilang di persimpangan jalan. Aku menangis. Aku tidak menyesali keputusan ini. Aku sudah memikirkannya berulang kali.

Satu minggu kemudian -Minseok’s point of view-

Hari ini dia ulang tahun. Seharusnya ia memberi selamat kepadaku. Apa dia benar-benar tidak menyesali keputusannya? Sudah satu minggu ia tidak menghubungiku. Aah, aku benar-benar tidak bisa berpisah dengannya. Aku segera mengambil teleponku.

Tung tung tung. Kok nomornya nggak aktif sih? Akhirnya aku putuskan untuk ke rumahnya.

Kuparkirkan mobilku tepat di depan rumahnya. Tampak sepi sekali. Tok tok tok.

Terdengar suara langkah kaki menuju pintu, semoga itu y/n. Namun, “maaf, mau cari siapa yaa?” ternyata seorang ahjumma yang tidak aku kenal.

“Y/n nya ada?”

Wajah ahjumma itu tiba-tiba tampak gelisah, kemudian tanpa menjawab pertanyaanku ia masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian ia keluar membawa sebuah kertas bertuliskan alamat. “Datanglah ke sini.” sambil memberikan sepucuk kertas itu padaku.

Aku yang masih bingung menerima kertas itu. Kemudian aku pamit kepada ahjumma itu. Mobilku melesat cepat menyusuri jalan kota yang ramai. Aku gelisah, perasaanku tidak enak. Semoga tidak terjadi apa-apa dengannya.

Mobilku sampai di alamat yang ada di kertas itu. Apakah ini tempat yang ingin ditunjukkan ahjumaa itu. Tidak mungkin. Aku sangat tidak percaya. Kulihat orang-orang memasuki tempat itu menggunakan pakaian rapi berwarna hitam. Aku memberanikan diri masuk ke tempat itu.

“Apa kau yang bernama Minseok?” seseorang mengacaukan lamunanku.

“Ne, saya Minseok. Hmm, ini siapa yang…?”

“Ia selalu tepat memilih laki-laki. Seleranya tinggi sekali. Ada sesuatu untukmu. Ku harap kau tahu setelah membaca ini. Permisi.” memberikan sebuah kotak kemudian perlahan meninggalkanku.

Annyeong, Minseokaa. Saengil chukae, uri Minseok. Mianhae aku tidak bisa langsung memberi selamat padamu. Di hari ulang tahun kita ini kuharap kau bahagia. Aku di sini sudah sangat bahagia. Maafkan aku karena tidak menepati janjiku untuk selalu ada di sampingmu. Kau jaga kesehatanmu.Tuhan sudah tidak bisa menahan rindunya padaku. Minseokaa, saranghae. Y/n.

Langkahku menyusuri ruangan itu. Air mataku deras mengalir. Semua orang memandangiku. Aku sampai di depan sebuah foto seorang wanita cantik yang sudah tak asing lagi bagiku. Lilin dan bunga tertata rapi di sana. Aku tidak kuat lagi. Tiba-tiba tubuhku lemah dan perlahan terjatuh.

“Kau jahat sekali, y/n. Kau bahkan tidak memberi selamat padaku.” aku memberikan penghormatan terakhir padanya di depan raganya yang sudah kosong.

Terdengar langkah seorang wanita mendekatiku. Ia berada di belakangku sambil menepuk lembut punggungku, “Minseokaa, aku y/n eomma. Aku harap kau bisa menerima semua ini. Sekarang dia sudah sangat bahagia, dia tidak harus menahan rasa sakit tubuhnya. Ia mengidap gagal ginjal stadium akhir. Dia sering sekali menceritakanmu kepadaku. Aku bahagia ketika mendengar akan punya menantu sepertimu. Dia mempunyai selera baik. Minseokaa, y/n sangat mencintaimu, tapi dia ingin kau melepaskannya agar ia dapat tidur tenang.”

Jika itu permintaan terkahirmu, aku akan berusaha menepatinya. Namun, aku tidak janji. Tidak mudah untuk melepaskan separuh hidupku. Nadoo saranghae, y/n. Semoga kau tenang di sana.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s