[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Kim Fire – Jo Liyeol

timeline_20170322_181218

 

Kim Fire – Jo Liyeol

Xiumin & Shin Jimin (AOA/OC; YOU) || Drama, Slice of life, Romance || T

________________________________

Jimin ingat benar, saat itu hari kelulusan SMU mereka di akademi YaGook. Kim Minseok beserta rambut pirangnya yang panjang juga seragam sekolah berantakan, dengan almamater entah ke mana menariknya ke pojok lapangan basket indoor, menatapnya begitu intens melalui obsidian dingin yang sarat jenaka namun terlampau mendominasi. Bersuara amat rendah di sisi telinganya dengan seringai mematikan yang membuat Jimin hanya mengangguk pasrah menanggapi untaiannya.

“Aku menyukaimu, jadi kekasihku ya, Shin Jimin?”

Salah satu waktu yang tak pernah Jimin sesalkan dalam hidupnya. Kala muara cintanya berlabuh pada sosok tak terduga Kim Minseok.

— Kim Fire —

( because you’re my fire )

[]

“Apa?!” setengah tersentak Minseok menyuarakan ketidak percayaannya.

Jimin yang duduk pada kursi lain di hadapannya menjawab tanpa beban, mengulang perkataanya yang butuh pengulangan, “Berubah, Kim.”

“Tunggu-tunggu. Kukira ada yang salah dengan telingaku. Bisa ulang sekali lagi, Ji? ” cepat-cepat Minseok kembali bersuara. Menyingkirkan beberapa pesanan di hadapannya pada meja kafe yang memisahkan mereka. Menyilangkan kedua tangan di atas meja dengan kedua alis hampir bertaut.

“Astaga,” helaan napas terdengar beriring Jimin memejam mata beberapa detik, sebelum kembali membukanya dan menjawab dengan tatapan malas tertuju ke sang kekasih, “Berubah, Kim, berubah. Ber-u-bah, haruskah aku mengejakan itu untukmu?”

“Kenapa? Apa dasarnya? Kenapa aku harus berubah?”

Kini kedua alis Jimin ikut bertaut. Nadanya meninggi pada intonasi kesal yang tertutup rapih, “Apanya yang kenapa? Jangan bertanya kerena kelakuanmu jelas kelewat parah, kau tidak pernah berkaca? Sampai kapan mau dianggap berandalan terus, hah?”

“Persetan deh—maksudku, aku kurang paham,” buru-buru Minseok meralat saat retina Jimin menggempur sadis obsidiannya, “Jadi inti dari pembicaraan ini kau memintaku berubah, begitu?” tuturnya sembari menegakkan tubuh kembali, kedua tangan masih melipat di atas meja hinga dirinya melanjutkan, “Kau ingin aku berubah? Karena kelakuan barbarku? Kerena orang-orang mengecapku berandalan? Kau pikir ini sudah kelewatan? Menurutmu—begitu? Hei! Tenang saja, Ji, meski begini aku masih menawan kok.”

“Berhanti bicara atau kujagal kepalamu di sini,” tak main-main Jimin menyuarakannya. Wajah datar beserta tatapan sengit telah ia pasung dalam air mukanya.

Namun dengan tanpa dosa Minseok memampangkan cengiran, lalu menjawab sambil menarik kedua tangan hingga jatuh ke pangkuan beriring menyandarkan punggung ke sandaran bangku, “Ayolah, Ji. Kau paham aku, biarkan saja apa kata orang toh ini hidupku.”

Dengan sebal Jimin mengigit bibir bawah kesal. Mendengus pelan sebelum mambalas, “Hidupmu masa depanku, Kim.”

Mengundang ketermanguan Minseok untuk sesaat, lantas menanggapi lewat tatapan kosongnya, “Jadi inti pembicaraan ini yang asli—” tiba-tiba pemuda Kim itu terbahak di tempat mengundang beberapa pasang mata dalam kafe menoleh padanya.

“Jangan tertawa atau detik ini juga aku minta putus.”

Ancaman Jimin cukup buat Minseok mengulum bibir agar tawanya terhenti paksa, meski tak terpungkiri gemetar bahunya menandakan bahwa rasa geli masih menggelitik bagian bawah lambungnya. Setengah terkekeh ia berujar santai, “Ayolah, Ji. Kau mencintaiku, dan aku sangat mencintaimu. Kita saling menerima apa adanya, bahagia, dan happy ending.”

Pernyataannya mengundang atensi tak setuju dari Jimin. Pertanda dari kerutan di kening gadis manis itu yang makin menebal, “Bukan itu yang kupermasalahkan, Kim. Kita sudah menjalin kasih lima tahun, apa kau tidak pernah berpikir ke jenjang berikutnya? Kau tidak mau menemui orang tuaku? Jangan bilang lima tahun kebelakang hanya main-main buatmu?” suaranya mengecil bersama picingan mata penuh intograsi kala ia menyuarakan pertanyaan di akhir.

“Hey-hey, kuakui aku ini bajingan. Tapi aku tidak kelewat brengsek untuk menyia-nyiakanmu, Ji,” Minseok bersuara dengan rasa geli di dasar perutnya yang tiba-tiba hilang, “Aku serius padamu—sungguh. Kau mau aku menemui orang tuamu? Ayo, sekarang kita pergi ke rumahmu,” lanjutnya dengan ujung bibir sedikit naik.

“Tidak selama penampilanmu masih seperti itu.”

Jawaban ketus Jimin malah membuat Minseok mengusung raut datar pada ekspresinya, “Nah! Maumu itu sebenarnya apa, haaah?”

“Kau berubah.”

Seketika raut datarnya berubah menjadi ekspresi lelah yang kentara, “Ya Tuhan, Shin Jimin aku bukan power rangers atau sailor moon. Aku Kim Minseok yang tidak punya kekuatan mistis atau benda keramat buat mengubah diri.”

“Jangan bercanda! Apa kau tidak berpikir bagaimana tanggapan orang tuaku nanti kalau aku membawamu ke rumah dengan penampilan seperti ini? Piercing, labret, ditambah rambut pastelmu itu? Kau pikir orang tuaku akan rela menyerahkan putrinya pada tampang kriminal sepertimu? Ayolah … bahkan besar kemungkinan adikku akan mengacungkan jari tengah padamu di depan pagar nanti. Dan lebih besar kemungkinan ayahku bakal langsung menarikku masuk dan menutup pintu tepat di depan hidungmu!” gamang, suaranya sedikit bergetar menahan kesal juga kuatir akan pemikirannya sendiri yang takut menjadi nyata, “Aku tidak menuntut banyak darimu untuk saat ini. Asalkan kau menjaga sikap dan mengubah tampilanmu saja sudah cukup.”

Dan di detik itu Minseok termangu.

Bukan, bukan akibat raut kuatir Jimin pula keseriusan hati padanya. Namun ketermanguan berkat tanggapan Jimin yang membuatnya bergumam ‘Wow’ sebelum bersuara sambil kembali menarik ujung bibir, “Kau tau, Ji? Ini kali pertama aku dengar kau bicara begini panjang setelah lima tahun.”

Detik itu pula Jimin mengatupkan bibir rapat-rapat, lantas menyerapah tidak jelas dan mencibir kesal, “Bajingan sialan.”

Mengundang tawa lucu Minseok yang menguar penuh kehumorisan, menampakan bagaimana pipi berisinya yang mengembung imut, “Baiklah-baiklah. Menjaga sikap dan mengubah tampilan, benar?” Jimin mengangguk, “Akan kulakukan demi Shin Jiminku tersayang,” tuturnya setengah bercanda meski obsidiannya memasung retina Jimin pada tanggapan tanpa gurau.

Dua hari kemudian Jimin dikagetkan dengan teriakan Shin Woo—adiknya yang berteriak dari arah pintu depan menyerukan, “Noona! Ada yang mencarimu!” dengan embel-embel perintah, “Cepat ke mari!” pada oktaf yang tidak bisa dibilang kecil. Dan tepat ketika Jimin meninggalkan seluruh tugas kuliahnya untuk keluar kamar, mencapai lantai bawah di mana sang adik berada, gerhana matahari total menyambut atsmosfer sekitarnya tiba-tiba. Gelap dan tak terkira rasa terpukaunya akan keindahan langka pemandangan seseorang di depan pintu rumahnya.

“K-Kim? M-Minseok oppa?” tergugu Jimin mengeja nama yang tiap-tiap hari menghiasi waktu perdetik sudut hati pula rotasi kehidupannya.

“Yeah, ini aku. Hai, Sayang?”

Salah satu waktu yang tak pernah Jimin sesalkan dalam hidupnya.

Kala sosok Kim Minseok berdiri di depan pintu rumahnya, menyapanya penuh kasih setelah tersenyum begitu lembut pada adiknya yang membukakan pintu lebar-lebar. Memberi salam begitu sopan pada ayah dan ibunya yang muncul dari arah belakang, membungkuk sebelum kembali menampakkan senyuman.

Kim Minseok beserta rambut pastel terangnya yang di wax sedemikian rapih hingga menampakan kening indahnya, juga balutan kemeja semi-formal yang melekat pas pada tubuhnya, duduk di tengah-tengah keluarga Shin yang tersenyum penuh kehangatan menerima kehadiran sosoknya di kediaman mereka.

Karena cinta Kim Minseok hanya untuk Shin Jimin.

Meski bagai api melulu lantakan sekitarnya, tak peduli akan apapun asalkan lebih besar dari air yang dapat memadamkannya, mengalahkan musuh yang dapat menghentikannya, bertindak sesukanya kerena ini adalah hidupnya.

Dia, Kim Minseok—sosok bagaikan api yang dengan caranya selalu menghangatkan Shin Jimin.

end.

 

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s