[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Family – Samdeer

timeline_20170322_180815

 

Family – Samdeer

Minseok, Baekhyun | Family | PG-15 | 7.512 Characters

Minseok terdiam merenung di balkon kamarnya. Kopinya yang sudah mendingin pun tidak disentuhnya sama sekali sejak tadi. Bahkan hembusan angin yang terasa menusuk itu tidak mampu membuatnya bergeming barang sesenti-pun. Ia duduk diam seperti patung di atas sebuah kursi kayu dengan meja bundar berlapis kaca yang di atasnya ada secangkir kopi dingin. Duduk merosot dengan tengkuk yang tersandar di ujung sandaran kursi dan mata yang tidak terlepas dari gemerlap yang menghiasi langit malam.

“Minseok, ayo bersenang-senang di malam tahun baru!” Yifan menghentikan langkahnya sesaat setelah membuka pintu kaca -penghubung kamar dan balkon- lalu menghela napas pelan. Ia menatap Minseok yang sekilas terlihat seperti sedang menatap langit-tapi Yifan tahu gelagat Minseok kalau sedang tenggelam dalam pikirannya yang terlalu banyak menyimpan penyesalan beberapa hari ini.

“Penyesalanmu itu takkan merubah apapun, Minseok.”

***

10 Desember 2016. Baekhyun menatap kalendernya sambil tersenyum. 3 minggu lagi akan ada perayaan tahun baru. Ia sudah bisa membayangkan betapa bahagianya mereka -ayahnya, ibunya, hyungnya, dan dia- merayakan tahun baru di halaman belakang rumah mereka. Sambil memanggang daging mungkin akan menyenangkan, lalu-Oh! Baekhyun lupa, ia juga harus mengundang Yifan yang notabenenya adalah teman kakaknya, Minseok.

“-Oh, hyung!” panggil Baekhyun saat melihat Minseok melintas di depan kamarnya. Baekhyun berlari ke luar untuk menahan Minseok yang hendak berjalan lagi.

“Apa?” tanya Minseok ketus.

“Hyung ingin daging panggang dan soda untuk tahun baru nanti? Aku akan minta ayah dan ibu untuk membeli itu. Kita bisa merayakannya di halaman belakang rumah. Hyung jangan lupa mengundang Yifan hyung, ya! Aku juga akan mengundang beberapa temanku. Aku yakin ayah akan setuju dengan ideku in-”

“Jangan berkata seolah-olah kita ini keluarga!” bentak Xiumin dan berlalu meninggalkan Baekhyun yang tengah mematung menatap punggungnya miris.

Baekhyun ingat saat dirinya beberapa hari yang lalu menyaksikan pemandangan ibunya dan calon ayah barunya sama-sama berdiri di atas altar untuk membuka lembaran baru untuk keluarga baru mereka. Dan saat itu pula ia menyandang status sebagai ‘adik tiri’ Kim Minseok. Baekhyun masih ingat senyum hangat Minseok saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah barunya-yang ternyata adalah senyum palsu semata. Karena hari-hari berikutnya, Minseok tidak benar-benar memperlakukan Baekhyun sebagai adiknya-setidaknya saat orang tua mereka tidak sedang di rumah.

Tapi Baekhyun bersyukur karena Minseok tidak menyiksanya secara fisik seperti yang biasa terlintas di pikirannya. Namun, ia segera mengusir bayangan-bayangan itu, dan mencoba bersabar atas sikap dingin Minseok. Karena pada kenyataannya, Minseok tidak pernah menyentuh Baekhyun, apa lagi menyakitinya-Ah! lebih tepatnya, enggan menyentuhnya sama sekali.

***

Tepat satu minggu sebelum malam tahun baru tiba. Baekhyun semakin tidak sabaran saja. Ia sudah memberitahukan orang tuanya tentang semua rencananya untuk malam tahun baru. Ia semakin senang lantaran ibu dan ayahnya menyetujui idenya itu. Tapi tidak dengan Minseok, ia masih saja bersikap dingin dan mengabaikan Baekhyun.

Minseok malah lebih sering menghabiskan waktunya di luar. Karena Minseok sendiri tidak mau tahu lagi apa kegiatan ‘keluarga’ itu. Ia pulang pagi, dan pergi saat malam tiba. Tentu saja orang tuanya merasa khawatir. Akan tetapi, mereka tidak pernah bertanya, dan itu membuat Minseok merasa semakin tidak dipedulikan saja. Padahal, jika Baekhyun tidak mengarang alasan pada orang tuanya, Baekhyun yakin Minseok akan dimarahi habis-habisan oleh ayahnya.

Seperti malam ini, Minseok keluar rumah pukul 9 malam tanpa sepengetahuan ayahnya. Ia pergi ke apartemen Yifan untuk melepas penat. Seharian bersama Baekhyun di rumah membuatnya lelah. Padahal ia hanya bersantai di kamarnya dan Baekhyun yang membersihkan rumah. Dia hanya lelah karena melihat wajah bangsat Baekhyun; begitu katanya.

“Berikan aku sebotol lagi!”

“Hei sadarlah, sudah berapa botol yang kau minum?! Bisa-bisa aku habis persediaan sampai malam tahun baru.” Yifan menggerutu kesal. Namun, akhirnya tetap sama; ia berjalan ke kulkas, dan mengambil sebotol soju untuk Minseok.

“Tahun baru…” Minseok tertawa hambar, “Ah!! Sialan! Baekhyun benar-benar sialan!” Minseok memegang botolnya erat-erat.

“Hei, jangan begitu. Dia itu adikmu.” Ujar Yifan sambil menenangkan Minseok.

Minseok menghela napas, “Dia bukan adikku, Yifan. Adikku itu Luhan. Dan anak sok polos itu membuat Luhan dan ibuku pergi.”

“Astaga Minseok, kau masih berpikir begitu? Terimalah kenyataan bahwa ibumu bercerai dan membawa Luhan pergi.”

“Itu karena keluarga sialan itu!” Minseok menenggak minumannya, “Aku sudah berusaha keras membuat orang tuaku rujuk, dan keluarga itu datang lalu mengacaukan semuanya! Aku kesal, Yifan.”

Yifan mengela napas. “Pulanglah! mereka pasti khawatir denganmu.”

Minseok tertawa hambar, “Mereka siapa? Ayahku bahkan tidak pernah bertanya padaku.”

“Aku di sini saja” lanjutnya.

***

“Minseok, kamu bisa antar Baekhyun ke toko buku? Ibu ada urusan dengan klien sebentar.”

Minseok ingat betul kalimat itu. Dan dia juga ingat waktu itu dia mengangguk dan tersenyum-senyum palsu yang biasa ditunjukkannya pada ’ibu’nya. Jadi, di sinilah Minseok, di toko buku bersama Baekhyun. Baekhyun sedang sibuk memilih buku, sedangkan Minseok lebih memilih untuk duduk di kursi tunggu di luar toko. Minseok terbayang, bagaimana keadaan ibu dan Luhan sekarang? Ia berharap bisa bertemu mereka berdua. Dan-

“Luhan?”

-siapa sangka mereka bisa bertemu di sini?

Luhan menoleh, dan langsung tersenyum sumrigah. Seorang wanita di sampingnya pun menoleh dan mendapati Minseok yang tengah melambai-lambai kegirangan.

“Minseok hyung!” Luhan baru saja ingin berlari menghampiri kakaknya kalau ibunya tidak menariknya dan segera naik ke bus.

Senyum Minseok luntur seketika. Ia berharap salah lihat; bahwa ibunya tidak senang sama sekali dan langsung menarik Luhan seolah tidak ingin bertemu Minseok.

“Hyung? Ayo kita pulang!”

Minseok menoleh, menatap tajam Baekhyun yang bingung. Matanya berkaca-kaca. Namun, sebelum yang tidak diharapkan terjadi, ia memutuskan untuk pulang.

***

“Baekhyun tidak selamat.” Begitu kata ayahnya beberapa saat yang lalu, yang berhasil membuat Minseok kegirangan.

“Mati juga kau, sialan!” runtuknya dalam hati.

 ***

“Dia mendonorkan darahnya, padahal dia juga kekurangan darah.” Kalimat yang Minseok curi dengar itulah yang membuatnya merenung di balkon kamarnya. Ia ingat kalimat terakhir yang ia ucapkan pada Baekhyun sebelum kecelakaan itu terjadi.

“Sialan, kau Baekhyun! Aku membencimu! Karenamu, aku tidak bisa berkumpul dengan keluargaku! Mati saja kau! Kau tahu? Hidupku bahagia sebelum kalian hadir.”

Ia juga ingat bagaimana Baekhyun membalas kalimatnya dengan hangat. “Kalau begitu, hiduplah bahagia tanpaku, hyung.”

Tanpa sadar, Minseok menangis.

“Penyesalanmu itu takkan merubah apapun, Minseok.” Ujar Yifan yang baru saja tiba.

Minseok menunduk dalam-dalam. Sebelum akhirnya ia bangkit dan menghampiri Yifan. “Aku ingin mengunjungi Baekhyun besok.”

“Aku tahu sudah terlambat, tapi aku harus menyampaikan penyesalanku padanya.”

Setidaknya, Minseok harus menyampaikan maafnya pada Baekhyun atas sikap dinginnya selama ini dan menjadi penyebab kecelakaan tempo hari. Sebagai seorang kakak, Minseok tahu, Baekhyun juga ingin mendapat kasih sayang darinya walaupun sudah terlambat.

Terima kasih Baekhyun. Adikku.

END.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s