[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Delusion – XavirenaD

timeline_20170322_133843

 

Delusion – XavirenaD

Kim Minseok, Xi Luna || Au,Hurt/Comfort, Angst|| G

Happy Reading Happy People.

“Minseokie ayo berangkat!” Minseok mengalihkan pandangannya lalu tersenyum lebar, dia kembali menyimpan ponselnya kedalam saku celana saat melihat orang yang dia tunggu telah datang.

“Kau menunggu lama ya? Maaf tadi mama menyuruhku membeli kecap di kedai bibi Lim, kau tahu sendirikan bibi Lim kalau bertemu denganku pasti bertanya macam-macam” Minseok tersenyum makin lebar, dia sangat merindukan ocehan cerewet orang di hadapannya ini.

“Tak apa Luna, menunggumu sampai aku tua pun tak apa asalkan kita bisa bertemu” Minseok menatap kedua mata rusa itu penuh kerinduan. “Ayo! Aku sudah tak sabar, kau selalu mengajakku ke tempat yang bagus” Luna menarik tangan Minseok tak sabaran bahkan mereka berdua telah berlari kecil meninggalkan halte bis menyisakan dua orang yang tengah menatap kepergian Minseok dengan tatapan yang berbeda.

_oOo_

Minseok mengajak Luna ke tempat yang biasa mereka datangi, Cafe milik Junmyeon contohnya. Minseok dan Luna sangat bahkan mungkin sudah kecanduan pada kopi buatan Junmyeon yang memang sangat enak, tak heran Cafenya sangat ramai meskipun di hari kerja seperti ini.

“kita duduk di sini saja oke?” Luna mengangguk saat Minseok memilih tempat duduk di pojok Cafe tepat di depan dinding penuh foto juga tulisan tangan. Minseok menarik kursi agar Luna bisa duduk yang di tanggapi tawa geli dari Luna. “Aku merasa seperti kekasihmu” Luna masih tertawa geli mengingat perlakuan Minseok beberapa saat yang lalu, sedangkan Minseok hanya mengangkat bahunya acuh.

“Aku lebih menyukai wanita tulen daripada kau yang jadi-jadian” Minseok menatap Luna jail sedangkan Luna hanya memberengut kesal “Jadi maksudmu aku bukan perempuan? Tak lihat hari ini aku pakai dress pemberianmu?” Luna melipat kedua tangannya diatas meja dengan pandangan kesal sedangkan Minseok hanya menatap wajah Luna terhibur, menikmati ekspresi lucu gadis itu.

“Aku-“. “Minseok?” Minseok menoleh menatap Junmyeon yang tengah menatapnya juga. “Junmyeon, tumben kau disini” Minseok segera berdiri lalu memeluk Junmyeon sekilas, biasanya Junmyeon hanya berada di Cafe tiga kali dalam seminggu saat weekend dan biasanya dihari kerja seperti ini Junmyeon memilih untuk berada di rumah.

“Ada beberapa urusan mendadak di Cafe, kenapa kau bicara sendiri?” Junmyeon menatap heran pada kursi tempat Luna duduk, dahi Minseok mengernyit bingung Jelas-jelas Luna duduk disana. “Hei aku bersama Luna lihat sekarang dia terlihat marah karena ucapanmu” Minseok kembali tersenyum saat melihat ekspresi cemberut Luna,  Junmyeon terkejut lalu kembali menatap kursi tempat Luna duduk. Hatinya tercubit, lalu sebuah senyum terpatri pada bibirnya, senyum dengan seribu makna darinya.

“Ah! maafkan aku Luna sepertinya aku harus segera memeriksakan mataku karena tak melihat gadis secantik dirimu” Junmyeon kembali tersenyum sambil menatap Luna, Junmyeon mengalihkan pandangannya pada Minseok lalu memegang pundak sahabat sekolahnya itu. “Aku pergi dulu, semoga kencan kalian menyenangkan” Junmyeon melepaskan pegangannya lalu melangkah pergi berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengganggu Minseok.

_oOo_

Tempat kedua yang akan Minseok datangi adalah taman kota, yah tempat yang sangat umum tapi bagi Minseok ini adalah tempat bersejarah baginya. Karena disini dia bisa bertemu dengan Luna, sekitar dua puluh tahun yang lalu saat ia berusia lima tahun.

Minseok memilih duduk dibawah pohon yang lumayan rindang sambil memperhatikan Luna yang tengah bermain bersama beberapa anak kecil yang ia perkirakan berusia sekitar empat sampai enam tahun, Luna memang lebih mudah dekat dengan anak kecil daripada dengan yang seumurannya.

Minseok memasang senyum lebar saat Luna berlari kecil menuju tempatnya duduk, dia sedikit bergeser saat Luna mendudukan diri disampingnya.

“Lelah?” Minseok menyingkirkan beberapa anak rambut di dahi Luna, keringat masih menetes dari dahi gadis dua puluh tiga tahun itu bahkan nafasnya masih terengah.  Luna menggeleng membenarkan posisi duduknya lalu menatap Minseok lucu. “Mereka sangat lucu, nanti kalau aku sudah menikah aku akan memiliki banyak anak pasti sangat menyenangkan” Luna kembali menatap anak-anak yang tengah bermain ular naga antusias.

“Bukankah dulu kita sering bermain seperti itu? Kau, aku, Junmyeon, Sehun, Taeyeong, Chanyeol, Jennie, Seulgi, dan Luhan Ge” Luna tersenyum saat mengingat kenangan mereka. Minseok mengangguk pandangannya menerawang mengingat masa kecilnya. “Yah, dulu tak ada aku. Seandainya kau tidak menarikku untuk bermain bersama aku tak akan mengenal kalian” Minseok tersenyum makin lebar, bersyukur dulu tuhan mempertemukannya dengan Luna. Dia orang yang agak pemalu dan sulit untuk bersosialisasi Minseok akui itu, tapi gadis di sampingnya mampu membuatnya menjadi lebih percaya diri dan menghilangkan sikap pemalunya.

Minseok menatap wajah Luna dari samping. Hidung mungil, garis rahang yang lembut, bulu matanya terlihat panjang sekali kalau dilihat dari samping , dan mata berbinar terang. Bukankah gadis disampingnya ini sangat sempurna, Oh dan jangan lupakan rambut hitam sepunggungnya yang sangat lebat, wangi permen karet selalu menguar saat angin meniup helaian surai Luna.

Tanpa aba-aba Minseok memeluk Luna dari samping, menghirup aroma manis yang seolah memenuhi rongga hidungnya lalu turun ke paru-parunya. Menyiksanya dengan rasa sesak yang menyenangkan hingga rasanya dia bisa mati dengan tenang setelah ini. “Minseok oppa?” Luna menggenggam lengan Minseok lalu mengusapnya.

“Biarkan seperti ini dulu, aku sangat merindukanmu” tidak Minseok tidak bohong dia memang merindukan Luna, sangat merindukannya. Luna hanya tersenyum, tangannya tetap megusap lengan Minseok lembut memberi kenyamanan untuk Minseok.

Beberapa meter dari tempat Minseok duduk dua orang laki-laki tengah menatap Minseok sedih, tak menyangka akan seperti ini akhirnya. “Sekarang bagaimana hun?” lelaki dengan telinga peri itu menunduk tak kuasa menahan airmata yang akan menetes, sedangkan Sehun dia menatap Minseok dengan pandangan kosong.

“Bahkan setelah lima tahun Minseok hyung masih mencintainya, aku tak tega kalau harus melakukannya Chanyeol hyung” Sehun terduduk lemas diatas rumput hijau, dia tak akan sanggup melakukan permintaan Luhan selaku kakak Luna. Dia tak akan pernah bisa menyakiti Minseok, setelah kejadian lima tahun lalu. Chanyeol memegang pundak Sehun lalu menggeleng, mereka harus melakukannya.

_oOo_

Sehun dan Chanyeol hanya menatap Minseok yang terus tersenyum sembari menatap kearah samping, sesekali Minseok berbicara bahkan tertawa terbahak-bahak. Dua orang yang berdiri di depan Minseok hanya menghela nafas putus asa, kenapa jadi seperti ini.

“Minseok hyung” dengan senyum yang dibuat senyata mungkin Chanyeol memanggil Minseok, kedua pupil mata Minseok melebar saat mengetahui siapa yang memanggilnya. “Chanyeol? Eh Sehun juga? Kebetulan sekali kita bertemu disini” bukan kebetulan kalau sejak keluar dari rumah Chanyeol juga Sehun telah mengikutinya.

“Hehe iya kebetulan” Sehun tersenyum canggung, Minseok kembali menoleh kesamping lalu mengangguk dan tersenyum. “Hyung sedang apa?” Chanyeol mendudukan dirinya didepan Minseok diikuti Sehun yang hanya memainkan ponselnya.

“Aku hanya duduk saja, menemani anak manja ini bermain” Minseok tertawa lalu mengangkat tangannya keudara seolah dia sedang mengusak rambut seseorang.

Chanyeol tersenyum miris, dia tidak bisa membiarkannya lagi. Chanyeol menyodorkan undangan berwarna hitam dan abu-abu pada Minseok, lelaki bermata kucing itu menatap undangan ditangan Chanyeol lekat.  “Apa itu?” Minseok masih menatap undangan itu tanpa berkedip, memperhatikan tulisan yang ada dibagian atas undangan.

“Kau tahu ini apa hyung, jangan menyangkalnya lagi” Chanyeol menatap Minseok nanar, dia terpaksa membuka luka lama yang berusaha Minseok sangkal. “Ini…. Undangan peringatan kematian Luna” Chanyeol melihat mata Minseok menggelap, tak ada ekspresi berarti selain kekosongan. Minseok menoleh kesamping namun tak ada siapa pun disana.

“Maafkan aku karena harus melakukan ini, tapi kami tak bisa lagi melihatmu bersikap seolah Luna masih ada di sampingmu. Ini sudah lima tahun hyung” Chanyeol meletakan undangan pada tangan Minseok, lelaki dihadapannya ini sudah benar-benar hancur. Namun ia tak punya pilihan lain.

Minseok hanya mampu menangis dalam diam. Merasakan tiap detak pada jantungnya adalah rasa sakit yang teramat sangat, apa ia mampu menjalin hidupnya tanpa Luna? Tentu tidak, gadis itu adalah poros hidupnya, segalanya bagi Minseok.

Minseok tak perlu berkata ia terluka karena hanya dengan melihat saja Chanyeol dan Sehun tahu, hyung v mereka sangat terluka dan hancur.

END

Jujur agak kehilangan feel waktu nulis endingnya, rasanya seperti menggali luka lama. Hehehe

HAPPY BIRTHDAY to MINSEOKIE OPPA. HYUNG RASA MAKNAE. CENAHKU HAHA WISHNYA NTAR AKU KASIH TAU LANGSUNG BIAR AFDOL.

Akhir kata. Terimakasih sudah mau baca, saranghae.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s