[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] DELUSION – Rhifaery

timeline_20170322_181136

 

DELUSION – Rhifaery

Xiumin & Cheonsa || Romance, Sad|| G

Cheonsa tidak tahu keuntungan apa yang didapat ketika dia duduk di depan cafe dan memesan secangkir kopi panas. Ini sudah menjadi runtinitasnya sejak seminggu yang lalu. Pemilik cafe adalah Luhan, teman SMA-nya yang memilih menjadi wirausaha ketimbang meneruskan kuliahnya. Harus diakui cafe ini memang menakjubkan. Desain interior simple dan posisinya langsung menghadap ke taman kota, membuat Cheonsa betah berlama-lama.

Ada satu bangku di depan cafe yang tidak boleh diduduki oleh siapapun kecuali dirinya. Luhan memang mengkhususkan bangku itu pada Cheonsa dengan catatan harus menjadi pelanggan tetapnya. Bangku itu bukan hanya menjadi tempat favoritnya, karena lewat bangku itulah, Cheonsa bisa memandang sosok pemilik tatapan lembut, senyum bersurai, serta tangan tangguh yang selalu mendribel bola. Dialah Xiumin, orang yang menjadi alasannya duduk sambil memesan kopi di sini. Meskipun Cheonsa tidak termasuk seorang penyuka kopi. Cheonsa hanya menyukai aromanya tanpa berniat mencicipi rasanya.

            Day 1

Gerimis mengguyur kota Seoul dengan bunyi gemericik memekakan telinga. Secangkir kopi panas sudah tersedia di meja Cheonsa tanpa ada niatan sedikit untuk mencicipinya. Matanya sibuk memperhatikan Xiumin yang sedang mendribel bola. Wajahnya begitu tenang, walau tangannya terlihat lelah untuk bergerak. Butiran sisa air hujan mengalir di pelipisnya dan ingin sekali Cheonsa seka.

Sangat aneh ketika Cheonsa melihatnya bermain seorang diri. Biasanya dia ditemani teman-teman sebayanya. Tak urung beberapa menit, Cheonsa sadar bahwa Xiumin tidak sendiri. Seorang gadis berteriak kepadanya sambil membawa botol minuman untuknya. Siapa dia? Ini adalah pertama kalinya Cheonsa melihatnya bersama wanita. Jika Xiumin sudah mempunyai kekasih harusnya dia tidak melakukan hal bodoh untuk memperhatikannya diam-diam.

Astaga baru disadari, Cheonsa cemburu.[]

            Day 2

Cheonsa sungguh bersyukur, karena kata Luhan gadis kemarin bersama Xiumin adiknya. Lega rasanya mendapat kesempatan untuk memandanginya diam-diam kembali. Seperti pagi ini, matanya belum lepas dari sosok Xiumin. Tak lupa dengan secangkir kopi panas pelengkap pengawasannya.

. “Memandangnya lagi?” Ujar Luhan tiba-tiba duduk manis di sebelahnya. Seminggu bukan waktu singkat atas apa yang dilakukan gadis itu.

 “Tidak.” Cheonsa menggelak.

“Tidakkah memalukan, seorang Jeon Chonsa setiap hari datang ke cafe, duduk dan memesan kopi yang tak pernah diminumnya hanya demi seorang pria ck-ck-ck?” Decak Luhan sukses membuat wajahnya memerah.

“Apa yang kau bicarakan, lihatlah di sana banyak pelanggan.”

“Masih tidak mau mengaku yah, baiklah…- Seketika ekspresi Luhan berubah, menatapnya sekilas lantas melakukan hal yang benar-benar memalukan. “XIUMIN-SSI LIHATLAH ADA WANITA YANG INGIN BERKENALAN DENGANMU…!!!”

Segera Cheonsa membungkam mulut Luhan yang kelewat keras. Karena perbuatannya itu Xiumin sempat menatap ke mereka dengan pandangan seduktif. Membuat tawa Luhan semakin menjadi-jadi.[]

            Day 3

Luhan memang sukses mempermalukannya kemarin, tapi hal itu tidak menyurutkan niat Cheonsa untuk tetap memandangi Xiumin. Tak seperti biasanya, bangkunya kini sudah terdapat dua cangkir kopi panas. Dia ingin menanyakan pada Luhan, apa ada pelanggan yang menempati, tapi karena pertanyaan tidak digubris, Cheonsa pun nekat menduduki bangkunya.

Seketika dia memandang ke penjuru arah taman. Dia tidak melihat Xiumin karena terhalang mobil putih di tengah jalan. Seperti ada keramaian di sana dan Cheonsa ingin melihatnya. Baru saja dia berniat melangkahkan kaki, netranya tiba-tiba tertuju pada sosok yang saat ini berjalan ke arahnya.

Astaga itu Xiumin. Dalam balutan pakaian kasual dan senyum mengembang. Seketika Cheonsa dibuat lupa dimana dirinya berpijak.

“Maaf, aku tidak tahu kau menempati bangku ini.” Seketika Cheonsa dibuat kikuk, bergegas beranjak tapi tangan Xiumin tiba-tiba menghentikannya.

“Duduklah disini, aku memang menunggumu.” Tak percaya dengan pendengarannya. Benarkah Xiumin menunggunya. Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. “Minumlah?”

Tiba-tiba saja Cheonsa merasa canggung. Tentu saja Xiumin tidak tahu bahwa dia tidak suka kopi. Namun demi menghargainya, Cheonsa terpaksa meminumnya dan hueekkss, pahit sekali rasanya.

“Ini pahit.” Ucapnya singkat. Xiumin seketika memiringkan senyum lantas menambahkan creemer ke dalamnya. Kembali diberikannya cangkir itu ke arah Cheonsa hingga gadis itu mencicipinya lagi.

“Aku tidak percaya jika kau setiap hari duduk disini tanpa mencoba kepahitan?”

“Kau melihatku?”

“Tentu saja.” Seutas senyum mengembang dari bibir Cheonsa. Itu berarti Xiumin pun memperhatikannya. Perasaannya pun tidak sia-sia.

 “Tidak peduli rasa pahit itu ada, kau hanya perlu merubah sedikit takarannya. Seperti hidup yang mengharuskanmu mencari cara agar rasa pahit itu tidak terlalu kentara.”

“Apa kau sedang mengajariku filsafat?”

Xiumin menggeleng, “Aku hanya mengkhawatirkamu yang tidak pernah merasakan pahit.”

Walaupun jelas tak mengerti pembicaraannya, Cheonsa tetap berusaha tersenyum. Xiumin begitu menarik untuknya hingga membuatnya tak perlu memikirkan kepahitan saat memandangnya. Sayangnya obrolan mereka berlangsung sekilas karena Xiumin memutuskan pergi karena urusan yang lain.

Hari berikutnya, masih seperti biasa, runtinitas Cheonsa untuk duduk di depan cafe dan mencari Xiumin. Secangkir Capucino tersedia di meja dan hendak diminumnya.

Ini  aneh, sejak pembicaraan kemarin Cheonsa tak menemukan sosok Xiumin di tempat ini. Dia sendiri lupa meminta nomornya sebelum dia pergi. Xiumin seolah menghilang dari pandangannya. Pagi, siang, sore, Cheonsa coba mendatangi cafe ini, ia tetap tak melihat Xiumin.

 “Luhan, apakah kau melihat Xiumin?” Luhan seolah terkejut dengan pertanyaannya. Dia hanya menepuk bahu Cheonsa pelan dengan tatapan prihatin.

“Apa kau masih belum tahu?” Cheonsa mengeryitkan mata.

“Maksudmu?”

“Xiumin meninggal tiga hari yang lalu saat kecelakaan mobil di depan cafe ini.”

“Tidak!” Cheonsa menjerit seketika. Luhan tidak benar. Dia pasti bohong. Tiga hari yang lalu adalah obrolan pertamanya dengan Xiumin, dan tidak mungkin secepat ini keadaan berubah.

“Cheonsa tenanglah, ini sudah berlalu harusnya kau bisa menerimanya.” Luhan sungguh tak dapat berkata banyak lagi saat melihat tangis hebat di kedua matanya. Cheonsa terduduk, seolah tak tau lagi caranya berdiri. Xiumin yang ditemuinya tiga hari lalu, benarkah itu nyata atau sekedar ilusinya []

Cheonsa tetap melanjutkan aktifitasnya untuk duduk di cafe, di bangku favoritnya dan menghadap taman. Walaupun orang yang diinginkan tak lagi muncul dalam pelupuk matanya. Sungguh, Cheonsa merindukannya. Orang yang berkata bahwa kehidupan seperti kopi akhirnya benar-benar meninggalkan kepahitan dalam dirinya. Waktu itu Xiumin memesan dua cangkir kopi untuknya, menunggu waktu yang tepat untuk Cheonsa datang hingga dirinya tak sadar sebuah mobil telah melaju kencang menabraknya.

 Semuanya ilusi. Xiumin yang 3 hari lalu mengobrol dengannya hanyalah ilusi. Karena pada kenyataannya Xiumin, adalah perwujudan sebuah kopi. Kopi yang selamanya tak berani Cheonsa cicipi. Karena sekali Cheonsa mencicipi, rasa pahit menyeruak!

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s