[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Cold – andnaprlynpus

timeline_20170322_075945

 

Cold – andnaprlynpus

 

“Kim Min Seok-ah! Love you!” seorang perempuan berwajah oriental indo tengah berteriak bersama penonton lain. Ia meloncat kegirangan ketika orang yang ia serukan berjalan lewat tepat di depannya. Kalian tahu Kim Min Seok? Ya! Dia adalah salah satu member idol Korea yang terkenal juga kekasih perempuan itu selama enam bulan ini. Matanya berbinar memancarkan kekaguman yang luar biasa ketika melihat namja-nya bernyanyi, tertawa, menari di depannya. Ia tak mempedulikan beribu penonton lain disekelilingnya, ia merasa tengah menonton seorang diri.

“Annyeong! Sampai jumpa EXO-L!” tirai panggung perlahan tertutup dan lampu perlahan meredup. Kaki mungilnya berjalan cepat menuju pintu backstage, ia menyapa ramah setiap kru yang dilewatinya. Seluruh kru bahkan member EXO tahu jika ia kekasih Minseok, namun mereka menyembunyikan semua itu dari para fans dengan alasan takut celaka. Perlahan didorongnya pintu rest room itu, “Minseok-a!”.

“Ya! Annyeong Floria noona!”, “Kenapa?”. Senyumnya sedikit memudar. Saat member lain menyapanya dengan hangat bahkan memeluknya, kekasihnya hanya diam terduduk sesekali menyeka peluh di wajahnya. Air mukanya sangat berbeda dengan di panggung tadi. Anehnya, hanya dengan Floria ia seperti itu. Floria berjalan pelan ke arahnya, jantungnya berdegup kencang, alih-alih bahagia, rasa takut lebih mendominasinya sekarang.

“Ani, mau aku lap keringatmu?”

”Mmm, mau aku ambilkan minum?”

“Atau bagaimana jika pulang denganku nanti? Aku yang akan menyetir dan kamu bebas tidur, bagaimana?”

Terdengar helaan nafas kasar, Minseok mengalihkan pandangan ke arahnya. Kedua bola matanya menatap tajam kekasihnya itu yang seketika diam. “Cukup diam dan pulanglah, aku tak ingin diganggu,” kata-katanya biasa namun penuh penekanan. Floria merasakan nyeri di ulu hatinya, ia kebal. Floria tersenyum paksa, “Ne, aku akan pulang sekarang. Selamat beristirahat Minseok-a, EXO, annyeong!” ia berjalan cepat, rasanya seperti ingin menghilang saat ini juga.

Ia membanting tubuhnya pada kasur empuk, meraih handphonenya dan mengetikkan sesuatu di sana,

To : Minseok-ie!

Bisakah kita bertemu besok? Di cafe biasa.

To : Floria Park

Tdk, aku sibuk.

Ia tersenyum miris, sudah biasa dan sudah kuduga, batinnya. Selalu seperti ini di setiap harinya selama enam bulan mereka bersama. Kekasih yang tidak seperti kekasih, kekasih yang serasa tidak memiliki kekasih. Terkadang ia ragu, apa ada cinta di hati Minseok untuknya? Apa saat dulu ia menyatakan cinta padanya itu hanya pura-pura? Idol dengan fans, rasanya tidak mungkin. Ia mencoba memejamkan kedua kelopak matanya, berharap jika ini hanyalah mimpi, Minseok yang dingin hanyalah mimpi.

Floria berjalan dengan riang menuju toko buku langganannya. Ia menyapa semua orang yang dilewatinya. Hatinya kini cerah kembali secerah langit yang mengiringinya. Dengan atau tanpa Minseok, Floria tetap Floria tanpa embel-embel “Minseok Girlfriend”. Ia berhenti ketika menyadari jika toko buku itu telah berada di seberang jalan. Kedua bola matanya menatap jauh melihat ada tidaknya kendaraan yang melintas, namun netranya menangkap kedua sosok adam dan hawa tengah tertawa bersama, terlihat sangat serasi. “Halo, Minseok kamu di mana? Sibuk? Temani aku ke toko buku, mau?”

“Manja! Aku sedang sibuk, kamu tau kan aku idol? Sekarang aku sedang berlatih dengan lainnya. Jangan ganggu!” tes- bulir air mata perlahan membasahi kedua pipinya. Floria menghela napas panjang kemudian mengusap air matanya dengan kasar. “Apa ini yang kamu sebut berlatih? Berlatih menyakiti hatiku? Jika iya kamu berhasil, selamat!” ia berlari kencang, air matanya terus mengalir secepat ia berlari. Aku akan bertahan dan akan terus bertahan hingga aku merasa lelah dan jenuh dengan semua ini. Aku akan berhenti berlari jika lelah menyelimutiku. Aku hanya berharap, kamu akan berbalik ke arahku ketika aku berhenti nanti agar tak hanya aku yang mengejarmu.

Mata sembabnya telah terlukis di wajahnya. Ia merasa lelah baik hati maupun fisik. Ia berjalan terseok-seok menuju sofa di depan televisinya. Mungkin dengan menonton televisi ia akan merasa lebih baik. Namun, tangannya tanpa sengaja menekan sebuah saluran dan ia menyesalinya tapi tak ingin menggantinya, “Minseok, ada hubungan apa anda dengan Victoria?” terlihat Minseok tengah tersenyum begitu juga Victoria, “Kita hanya teman dekat saja, mungkin, sudah ya jangan ganggu kami, terima kasih.” Teman dekat? Mungkin? Lalu aku siapa? Besok hari jadi kita yang ke-6 bulan apakah ini hadiahmu? Atau ini hanya kejutan untukku?

Kucoba untuk menelponnya, “Halo, Minseok? Bisa kita bertemu besok? Besok hari jadi kita aku ingin bertemu denganmu, sangat! Ku tunggu di cafe dekat tempat tinggal kalian besok ya, annyeong!” ia menutup secara sepihak. Enggan mendengar jawabannya, hanya berharap besok Minseok akan datang.

Floria mengusap lengannya perlahan ketika dingin kembali menyelimutinya. Dua jam ia menunggunya, namun tak tampak sama sekali perihal kedatangannya. Ia jenuh, Floria berjalan keluar cafe berinisiatif menemui Minseok di rumahnya. Diketuknya perlahan pintu itu, “Flo noona! Ayo masuk. Minseok sedang keluar tadi.” Keluar? Batinnya. “Boleh aku menunggu di kamarnya?” Sehun mengangguk perlahan.

Aku bersembunyi di samping lemari bajunya, harum maskulin perlahan menelusup ke dalam indra penciumannya, “Khas Minseok,” batinnya. Setengah jam Floria di sini, tak lama terdengar suara pintu berdecit, “Minseok Oppa, terima kasih telah menemaniku. Kekasih oppa tidak apa-apa kan? Oppa beda jika bersamaku dan orang lain jika dibandingkan dengan bersama Floria, maksudku jika bersamanya Oppa terkesan dingin,” terdengar suara perempuan yang terasa familiar di telingaku. “Haha, santai aja, Vict. Dingin? Entah jika disampingnya emosiku terasa meluap, mungkin itu karena…”

“Cukup Minseok! Aku cukup bersabar. Aku menunggumu dua jam di cafe dan setengah jam di sini dan kamu melupakanku. Kamu menyatakan perasaanmu tujuh bulan yang lalu dan mencampakkanku setelahnya. Aku lelah berlari untuk mengejarmu, ketika aku berlari kamu semakin menjauh, aku lelah mencoba tersenyum namun nyatanya menangis, mencoba tegar namun nyatanya rapuh. Jika mencintaimu sesakit ini, aku lebih baik tidak bersamamu. Jika mencintaimu hanya membuatku menangis, aku lebih baik melepasmu. Sekarang kita hanyalah seorang fans dan idol. Selamat tinggal!” air matanya merebak keluar. Lepas, jika itu membuatku dan kamu lega walaupun sangatlah sulit bagiku melupakanmu, namun aku akan mencoba jika itu membuatmu bahagia.

Minseok diam terpaku, “Aku pikir kamu akan terus mengejarku, aku terlalu percaya diri yang menganggap walau aku tak mengejarmu, tapi kamu akan terus mengejarku. Maafkan aku Floria, aku terlalu menganggap remeh perasaanmu. Kini aku tahu jika akupun mencintaimu,” batinnya.

“Aku akan berhenti jika itu membuatmu bahagia. Jangan tarik ulur hatiku. Aku lelah jika harus terus berlari. Berusaha menggenggammu yang ternyata semakin menjauh.”

-Keut!-

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s