[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] What Do I Know? –haneul88

1490239490275.jpg

[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] What Do I Know? –haneul88

Xiumin || AU, Slice of Life || G

 

What Do I Know?

Angin berhembus pelan siang ini, namun cukup bisa menerbangkan beberapa helai rambutku. Aku masih ditempat yang sama sejak dua jam yang lalu. Ditemani gitar yang ada dipelukanku dan sebuah gelas plastik kecil didepanku. Aku memainkan gitarku dan bernyanyi dengan indah. Sesekali kepalaku ku gerakkan kekanan dan kekiri mengikuti irama musik yang kubuat.

Aku sudah mulai melakukan ini sejak lama. Sekitar satu tahun yang lalu mungkin, namun aku tak terlalu ingat tepatnya. Akan tetapi ini sudah merupakan hal yang kugemari sehari-hari. Aku baru bisa memainkan gitar sekitar tiga bulan yang lalu. Dengan bantuan Chanyeol yang merupakan teman semasa sekolah dasarku yang tak sengaja melihatku bernyayi di tempat ini dengan botol berisi beras. Sejak itu ia mulai mengajariku bermain gitar karena suaraku terlalu bagus jika harus disandingkan dengan botol beras itu katanya. Hahaha, ia memang aneh-aneh begitu orangnya.

Ini sudah cukup siang sesungguhnya. Namun aku tak peduli. Aku sudah terlalu jatuh akan permainanku sendiri. Saat-saat seperti ini, aku teringat akan pesan terakhir ayahku. Saat itu beliau berkata padaku, “Nak, kau jangan terlibat dalam politik, agama, atau pendapat orang lain.” Aku yang saat itu sangat ingin terjun dalam dunia politik, seketika mengubur mimpi itu dalam-dalam dan mencari kesenangan lain karena pesan terakhir ayahku. Aku tak ingin menjadi anak pembangkang yang keras kepala, aku hanya ingin dapat menyenangkan orang tuaku. Sehingga aku mencoba mewujudkan perkataan ayahku itu.

Dengan sebuah gitar yang menciptakan melodi manis kemudian dipadukan dengan lirik yang kubuat sendiri, aku merasa sudah pada duniaku sendiri. Aku merasa di planet antah berantah dengan lukisan corak warna yang kupadukan sendiri, merasa menjadi seorang sutradara dalam kehidupan yang kuatur sendiri adegannya. Aku tak pernah peduli dengan perkataan orang lain yang sesekali dengan samar terdengar menyepelekanku bahkan mengataiku yang ini dan itu. Pertunjukanku, selalu banyak yang melihat, bahkan orang-orang berebut berada ditempat terdepan. Namun, itu hanya pada duniaku. Tidak dengan di planet yang bernama bumi. Kenyataan yang sebenarnya selalu menjadi kisah yang amat pahit. Tak ada yang melihat bahkan melirik permainanku dipinggir jalan. Mereka hanya berjalan dengan tangan mereka yang menjatuhkan uang 10 won tanpa berhenti sejenak padaku. Sudah kubilang, bahkan melirikpun tidak. Padahal, yang kubutuhkan bukan recehan uang yang mereka jatuhkan. Aku hanya ingin mereka yang menikmati musikku.

Apa yang harus kupahami tentang dunia ini jika aku hanya terpaku pada dunia khayalku? Yang kutahu hidup hanyalah tentang rasa bebas dan tanpa beban ataupun yang lainnya. Hidup hanya dengan mengikuti skenario yang telah Tuhan buat dan selalu berada didekatnya. Itu menurutku. Selama aku tak menyalahi aturan apa aku salah?

Aku membuka kedua kelopak mataku ketika lagu yang kumainkan berakhir. Seorang pria berbadan kekar nampak berjalan dengan langkah lebarnya seakan menuju kearahku. Tatapannya tersirat rasa tak suka, namun aku merasa tak pernah berbuat sesuatu yang salah selama ini. Ketika pria itu sampai didepanku, dengan tanpa kata-kata ia merebut paksa gitar yang masih dalam genggamanku tadinya, kemudian membenturkan sisi badan gitar itu keras pada jalanan yang ada dibawah. Tak hanya sekali, ia melakukannya berkali-kali hingga badan gitar itu remuk dan membuat beberapa senar putus. Aku hanya dapat tertegun dan bergeming. Tak menyangka hal itu akan terjadi.

“Apa kau tak tahu bagaimana buruknya permainanmu itu?” pria itu berteriak memakiku dengan telunjuknya yang menunjuk-nunjuk wajahku ketika ia berbicara. Aku tak paham dengan maksudnya sehingga aku bertanya.

“Memangnya bagaimana dengan permainanku?”

“Apa kau tak sadar?” volume pria itu makin meninggi. “Permainanmu buruk! Amat sangat buruk! Telingaku mau pecah mendengarnya. Apa kau tak sadar mengapa selama ini banyak orang tak ingin berhenti sekadar mendengar kau bernyanyi dan memainkan gitarmu? Karena semua permainanmu tak pernah semakin baik!” pria itu melakukan napas pendek-pendeknya dan menatapku nyalang. Aku tak pernah tahu bila memang permainanku seburuk itu hingga sosok dihadapanku ini mengatakannya tanpa jeda.

“Hentikan permainanmu disini lagi! Lagu-lagumu hanya dapat merusak pendengaranku!” pria dihadapanku berkata final, sebelum ia pergi meninggalkanku sendiri.

Aku melamun sesaat namun kemudian tersadar. Kupikir hidup ini hanya tentang mengikuti kata hati tanpa memdulikan ungkapan maupun gagasan orang lain. Kupikir dengan bernyanyi dan ditambah gitar yang selalu kulakukan kemudian aku dapat pergi dengan begitu saja tanpa peduli apa kata orang. Aku memang tak pernah mengerti bagaimana hidup ini harus dijalani. Kupikir ketika orang sibuk dengan dunia mereka sendiri aku juga harus sibuk dengan duniaku tanpa mencoba untuk bersimpati terhadap mereka jika ia kesulitan satu hal. Hidup ini terlalu rumit untukku. Memangnya apa yang kutahu?

-Selesai-

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s