[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] SHE ㅡbichany

1490239341601.jpg

[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] SHE ㅡbichany

Xiumin & OC | Friendship, Drama | G

‘Gadis aneh.’

Kalimat itu mungkin mewakili kesanku saat bertemu dengan gadis itu. Ketidaksengajaan saat aku memergokinya sedang berdiri di lorong rumah sakit sendirian, berbuah dengan gadis itu yang kini terus menemuiku. Saat itu aku memang sedang berstatus sebagai pasien karena sakit tifus yang ku derita. Awalnya aku takut, bayangkan kau melihat seorang gadis berdiri di lorong. Yang membuatku bergidik ngeri itu, waktu ku dapati ia sedang berbicara. Sendirian.

Saat itu aku melongok, mencari-cari, siapa tahu ia sedang bicara dengan orang lain di sekitarnya tapi gadis itu memang sendirian. Apakah ia berbicara dengan tembok? Atau arwah di rumah sakit ini? Aku berpikir sampai tak menyadari bahwa gadis itu sudah menoleh dari tadi, dan ia sedang menatapku kini.

“Hai!” Sapanya ramah saat memergokiku. Aku yang terkejut, langsung lari waktu itu.

Tapi sejak hari itu, dia malah datang ke kamar rawatku. Sekedar menyapa di depan pintu atau mencoba mengobrok denganku.

“Minseok? Nama yang lucu!” Ia menanggapi setelah bertanya namaku.

Gadis itu menyodorkan tangannya, “Aku Yui. Salam kenal, Minseok-a.”

Aku ragu-ragu membalas tangannya, namun Yui terus tersenyum kepadaku dan akhirnya aku menyodorkan tanganku juga.

Tidak kusangka, sejak perkenalan itu, kami menjadi teman. Ia jadi keranjingan datang ke tempatku. Kadang kami nonton televisi di kamarku, atau pergi ke kantin rumah sakit. Yui juga pernah mengajakku ke atap rumah sakit yang tidak banyak diketahui orang-orang.
“Kok kau tahu tempat ini?” Tanyaku tatkala kami menginjakkan kaki di atap.

Yui tersenyum, berlagak sombong, “Siapa dulu dong, Im Yui.”

Dari atas atap, kami bisa melihat jalan depan rumah sakit dan taman di sebelah rumah sakit. Juga gedung-gedung yang tak kalah tinggi berjajar di sekitarnya. Di sana, dapat merasakan angin sore sepoi-sepoi yang menyenangkan.

“Bagaimana? Senang kan kuajak kesini?”

Aku mengangguk, tahu saja gadis ini kalau aku bosan di kamar terus.

Aku menoleh pada Yui yang tengah memejamkan matanya. Rambut panjangnya meliuk-liuk tertiup angin. Sepertinya, aku tidak sadar kalau Yui ternyata cantik juga.

“Semoga aku masih bisa menikmati sore seperti ini.” Ungkap Yui sambil tersenyum.

Aku tertegun. Aku merasa ada yang aneh dari kalimatnya kali ini.

“Hoi!” Yui mengagetkanku.

Aku terkejut, “Ya?”

“Jangan melamun!” Sindirnya.

Tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan di kepalaku, “Yui.”

Yui menoleh, “Apa?”

“Dulu aku pernah melihatmu bicara sendiri di lorong rumah sakit,”

Belum sempat aku melanjutkan, ia sudah memotongnya,

“Yang waktu kau jadi lari itu? Aku membuatmu takut ya?” Yui tertawa.

Aku menyangkalnya, “Tidak. Siapa yang takut?” Aku berbohong, daripada aku malu?

“Aku sedang telepon waktu itu. Pakai earphone, ponselnya ku kantongi di saku celana. Mungkin kau tidak melihatnya.” Lalu Yui tertawa lagi.

Oh, ternyata aku telah salah paham.

“Kau pasti mengiraku aneh ya?”

“Tentu. Gadis normal mana yang terlihat berbicara sendiri?”

Yui memukul lenganku, “Seharusnya kau perhatikan dulu, jangan langsung lari.

Aku meringis, malu.

Waktu itu, saat aku hendak pulang dari rumah sakit, aku menyadari sesuatu. Kemana Yui? Sudah dua hari tidak mengunjungiku. Biasanya ia akan datang dengan suara melengkingnya itu. Aku mengemasi bajuku. Ku tatap pintu di depanku, siapa tahu Yui akan muncul tiba-tiba dari sana.

“Minseok-a, ayo pulang.” Suara Ibu membuyarkan lamunanku. Ku hela napas, setelah itu aku keluar dari kamarku.

Tubuhku kaku, kakiku lemas sampai rasanya seperti tak bisa lagi menopang tubuhku. Ku tatap batu nisan di depanku. Aku menutup mata sejenak, lantas kubuka dan ku tatap lagi batu nisan itu. Aku mengharap kalau pemandangan di depanku ini tidak nyata.

‘Im Yui’

Begitu tulisan yang terpahat di sana. Aku bersimpuh. Ku pegang batu nisan dingin itu.

“Hei, kenapa tidak bilang?”

Tak terasa bulir bening jatuh dari mataku. Ku pegang erat ujung batu nisan itu.

“Yui, kenapa tidak bilang?”

Aku tidak percaya. Sungguh. Yui yang kutahu, ia adalah gadis yang ceria dan cerewet. Tanpa ku tahu, sebenarnya ia menyimpan semua rasa sakitnya selama ini.

‘Nona Yui mengidap kelainan jantung. Memang, ia sudah lama dirawat disini. Penyakitnya juga sudah tahap parah.’ Begitu kata perawat yang merawat Yui.

‘Semoga aku masih bisa menikmati sore seperti ini.’

Suara Yui masih terngiang di kepalaku. Seperti tidak mau hilang. Walau belum lama aku mengenalnya, menurutku Yui gadis yang baik.

Ku pandangi lagi batu nisan Yui, “Selamat tinggal, Yui. Gadis paling tangguh yang ku kenal. Baik-baik ya disana.”

Aku berdiri, ku usap bekas air mata di pipiku. Tersenyum terakhir kali untuk Yui. Ku taruh sebuket bunga di atas nisannya.

“Dari Minseok, untuk Yui, temanku.”

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s