[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] My Winter Woman–WhitePingu95

1490239462792.jpg

[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] My Winter Woman–WhitePingu95

Xiumin & OC || Romance, Sad || Teen

 

 

Penghujung musim gugur, sepasang sneakers menapaki trotoar. Lengkungan tipis pun tergambar indah kala butiran-butiran putih mulai menyerbu Minseok.

Salju. Satu kata yang sangat disukai Minseok, pun dua silabel yang menandakan musim dingin telah tiba, yang juga digemari pria Kim ini. Hidupnya seolah hanya berwarna merah muda pada saat musim itu datang.

 

“Han Heebin dan Kim Minseok,” gumamnya pelan tatkala mendapati ukiran sederhana di ambang pintu.

Minseok merangsek masuk ke dalam rumah yang sempat ia tinggalkan untuk beberapa waktu yang lama. Semuanya masih sama seperti apa yang ia lihat terakhir kali. Tata letak perabotan, warna cat dinding, dan hiasan bunga Baby’s Breath yang telah meranggas. Namun tak ia sangka bingkai foto pernikahannya dengan Heebin yang menggantung, tidak berdebu.

 

Apa dia datang berkunjung? batin Minseok.

 

 

©©©

 

 

Dari balik jendela, Minseok memandang keluar rumah yang mulai tertutupi salju. Angin musim dingin berhembus lembut menyapa kokohnya pepohonan di pekarangan. Sesekali masuk dan membelai pipi gembul Minseok melalui celah ventilasi. Secangkir Ethiopia Yirgacheffe panas yang ada di hadapannya pun kini telah mendingin. Dingin, seperti hatinya saat ini.

 

Oppa! Aku pulang,” sapa seorang wanita bersurai kemerahan seraya menyampirkan mantel, sebelum berjalan mendekati Minseok.

 

“Heebin-ah!” pekik Minseok dengan raut tak mengerti.

 

Mereka bertemu. Dua sejoli yang sempat terpisahkan waktu, pada akhirnya bersua. Sejenak, turbulensi-nya memutar kembali kenangan pada masa itu, upacara sakral sebuah pernikahan. Yang mampu mengikat dua anak manusia ke dalam satu bagian, yaitu keluarga.

 

Heebin mengibaskan tangannya di depan muka Minseok. “Oppa?”

 

Minseok masih terdiam. Seakan ia terus berjalan memasuki alam kenangan yang semakin jauh dan semakin dalam.

 

Tak habis akal, Heebin menangkupkan kuasa hangatnya ke pipi Minseok. “Oppa.”

 

Ampuh. Sentuhan serta usapan lembut dari tangan Heebin telah membawa Minseok kembali ke dunia nyata, bukan lagi dunia lamunan. Minseok tersenyum hangat lalu menggenggam erat tangan Heebin yang masih setia singgah di pipinya.

 

“Mengapa baru pulang?” tanyanya melirih.

 

 

©©©

 

 

Sesenang apapun Minseok, takkan pernah menandingi kebahagiaannya saat bersama perempuan yang ia cintai. Selalu berdua dengan Heebin. Mereka menghabiskan musim dingin ini selayaknya sepasang suami-istri yang baru saja menikah kemarin.

 

Memasak berdua, yang terkadang mendapat pelukan hangat dari Minseok; bermain salju bersama, yang rambut dan jaket Heebin penuh dengan butiran salju; menonton acara televisi yang berakhir tidur bersama dalam pelukan dan kecupan-kecupan memabukkan sebagai pasangan yang tengah bahagia dalam dunia merah jambu.

 

Terus seperti itu hingga musim semi akan tiba.

 

Manik Heebin tak luput dari mobilitas suaminya yang tengah sibuk di depan perapian. Mengambil sebongkah kayu dari belakang kemudian memasukkannya satu per satu ke dalam perapian. Tak lupa ia memberikan percikan api untuk memulai membakarnya.

 

Minseok segera menghampiri Heebin. Memeluk tubuh kecil itu dari belakang lantas berbagi selimut berdua. Hangat sekali rasanya. Seolah cinta dan hati merekalah yang membuat kehangatan ini terjadi, bukan karena perapian.

 

“Kau mencintaiku, Oppa?” tanya Heebin lembut.

 

Minseok mengegatkan dekapannya. “Kurasa ada yang salah dengan pertanyaanmu. Tentu saja mencintaimu.”

 

Heebin menolehkan kepalanya pada Minseok hingga membuat hidung mereka tak sengaja bersentuhan. “Kalau begitu janganlah mencintaiku. Aku akan pergi di penghujung musim dingin.”

 

 

©©©

 

 

…Aku akan pergi di penghujung musim dingin.

 

Pernyataan itu terus bergema dalam mimpi Minseok. Sepasang elangnya sontak terbuka dan tak mendapati siapapun kecuali dirinya yang tengah berbaring di depan perapian dengan selembar selimut.

 

Heebin menghilang, sontak ia menyibak selimutnya dan bergegas mencari ke seluruh penjuru ruang yang ada di rumah itu.

 

Namun, hasilnya nihil hingga kakinya tiba-tiba terhenti di muka dapur.

 

Syukurlah. Batin Minseok seraya menghela napasnya, lega.

 

Good morning,” sapa Heebin dengan senyuman manis candu Minseok. Ia menoleh dan mendapati Minseok yang sedang terengah-engah. “Ada apa?”

 

Minseok beranjak dari posisinya, menghampiri Heebin dengan langkahnya yang berat. “Kukira kau pergi,” paraunya sembari cepat-cepat mendekap erat istrinya.

 

Oppa.”

 

Minseok hanya merasa takut.

 

 

©©©

 

 

“Enaknya!” seru Minseok selepas mencicipi masakan Heebin.

 

Heebin sang juru masak tersenyum lebar. “Bagaimana? Apa aku sudah cocok jadi koki?”

 

“Tentu saja sudah!” sahut Minseok bersemangat.

 

Fokus Minseok yang semula tertuju pada mangkuk nasi, kini beralih menatap dalam manik Heebin. Mengunci pandangannya untuk beberapa menit ke depan. Kembali teringat kata-kata yang sempat berputar-putar di kepalanya pagi tadi. “Heebin-ah,”

 

“Hmm?”

 

“Apa maksudmu kau akan pergi di akhir musim dingin?”

 

Heebin dan Minseok sama-sama bergeming. Membiarkan kesenyapan menyelimuti ruang makan yang mulai dirayapi oleh hawa dinginnya musim. Heebin pun terlihat hanya dapat menyuap napasnya kasar sebelum saat-saat itu tiba.

 

“Ikutlah denganku Oppa,” pintanya dengan meraih pergelangan tangan Minseok.

 

 

©©©

 

 

Di taman belakang yang masih dipenuhi oleh salju, Heebin melepaskan tautannya. Kemudian menjauh memberi spasi yang sangat konkrit dengan suaminya. Heebin tersenyum di depan sebuah gerbang putih yang entah sejak kapan ada di sana.

 

Oppa, sudah saatnya aku pergi.”

 

Minseok hanya terdiam.

 

“Benar, aku sudah tiada dua tahun lalu. Tuhan mengizinkanku merawat rumah ini sepanjang musim dingin karena tulus cintamu padaku yang tak pernah berubah sedikitpun.”

 

Minseok masih bergeming.

 

“Jaga dirimu, Oppa.” Heebin tetap tersenyum dengan senyuman yang disukai Minseok. Ia melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan mereka.

 

Lekas Minseok melangkah maju, mendekati Heebin sebelum membawanya ke dalam rangkulan cintanya. Sangat-sangat erat waktu itu. Hingga tak ia sadari, tubuh Heebin perlahan melebur bersama desauan angin musim semi yang baru saja hadir.

 

Minseok menangis tertahan diiringi bahunya yang bergetar. Ingatan Minseok akan Heebin yang menyukai musim semi menambah tangisan Minseok kian memekik, menjerit lantang.

 

Katamu, kau menyukai kehangatan. Kau menggemari bunga-bunga bermekaran. Kau ingin merasakan musim semi. Bahkan kau ingin melewati semua musim bersamaku.

 

Minseok ambruk, hanya ditopang kedua lututnya. Tangannya meraih dada, mencengkeram kuat sebelum memukulnya keras. Sakit, rasa sakit itu dari sana. Dan sekarang, itu semua hanyalah sekedar kata-kata kenangan dari Heebin. Pernyataan yang sewaktu-waktu dapat lebur juga bersama angin, seperti yang terjadi pada tubuh Heebin.

 

 

©©©

 

 

Lelaki penggemar senyum Heebin itu menyeret tungkainya mendekat pada sebuah gundukan tanah yang bernisan. Lamat-lamat ia meletakkan rangkaian bunga musim semi tepat pada nisan yang bertuliskan nama seseorang yang sangat ia tahu, bahkan yang amat ia cintai.

 

Han-Hee-Bin.

 

Dan mulai saat itu, Minseok akan menyempatkan diri untuk berkunjung ke rumah lamanya kala musim dingin tiba. Bukan untuk apa-apa, melainkan untuk bertemu wanitanya. Wanita musim dinginnya, tepatnya.

 

END

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s