[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Bom – kim hyomi

1490238407316

[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Bom – kim hyomi
Kim Minseok, Ahn Bomi (OC) | Romace | T

***

Musim semi. Aku menyukai bagaimana bunga-bunga bermekaran dan semerbak wanginya memenuhi penciumanku. Aku mengagumi bagaimana tunas-tunas itu tumbuh setelah membeku di dalam salju. Aku selalu merasa hangat ketika musim semi datang.

Itulah yang menjadi alasan kenapa aku berada disini. Di dunia dimana musim semi begitu indah. Bumi.

Bukan, aku tidak datang ke bumi hanya untuk melihat musim semi. Aku datang ke bumi untuk menjalankan tugasku sebagai seorang Caretaker. Dan musim semi adalah hal yang harus kulindungi.

Namanya Ahn Bomi. Gadis serupa musim semi. Wajahnya selalu mekar layaknya bunga di musim semi. Binar matanya selalu hangat sehangat musim semi. Suaranya menenangkan seperti hembusan angin di musim semi. Dia benar-benar wujud nyata dari musim semi itu sendiri.

Sejujurnya aku masih tak mengerti kenapa Yang Maha Kuasa mengutusku untuk menjadi Caretaker bagi seorang gadis sehangat dia, sedangkan diriku adalah perumpamaan dari kebekuan. Ya, kekuatanku adalah Cryokinesis. Jadi, kenapa Dia memintaku untuk selalu berada di sisi matahari seperti Ahn Bomi?

Entahlah.

***

“Bom-ah! Astaga sudah berapa kali aku katakan untuk memperhatikan langkahmu?”

Aku benar-benar tidak habis pikir. Gadis itu, dia sungguh tak memiliki rasa lelah. Berlarian kesana-kemari. Berseru pada setiap orang yang dia temui. Bersorak ketika mendapatkan balon gratis dari seorang anak kecil. Kadang aku meragukan usianya yang sudah 22 tahun.

“Hei aku tak apa Minseok-ah.”

“Katakan itu pada gadis yang lututnya berdarah!” Dia hanya meringis ketika aku memaksanya untuk duduk. Lututnya mengeluarkan darah segar dan aku tahu dia kesakitan. Tapi, Bomi bukanlah gadis cengeng. Luka seperti itu tak ada artinya baginya.

“Hanya lututku, perutku pernah terluka lebih dari ini,” dia tersenyum padaku dan aku terdiam. Ya, dia bahkan pernah terluka lebih dari ini.

Tembakan, goresan pisau, pacahan kaca.

Akhirnya aku tahu kenapa Dia memintaku menjaga gadis musim semi ini. Bomi mengalami kekerasan ketika usianya sepuluh tahun. Itu juga yang membuatnya kehilangan orang tuanya. Perutnya pernah tertembus timah panas. Lengannya tergores pisau dan kakinya menginjak pecahan kaca.

Dibalik sifat hangatnya, ada ketakutan luar biasa di dalam hatinya. Dan aku bertugas untuk menjaganya agar tak lagi merasa takut.

“Hei kenapa diam? Kau tak berniat merawat lukaku?” Aku tersentak. Dia masih tersenyum padaku dan itu membuatku ikut tersenyum. Senyumnya sudah seperti virus, mudah sekali menular.

“Ck,” aku berdecak sebelum berbalik memunggunginya, “Naiklah!”

“Yeay, Minseok memang yang terbaik!”

***

“Minseok-ah?” Aku hanya bergumam membalas panggilannya. Dia mengeratkan pelukannya pada leherku, “Aku bersyukur memilikimu.”

Dagunya diletakan di bahu kananku dan aku bisa merasakan hembusan nafasnya menerpa telingaku. Dia menyandarkan diri sepenuhnya padaku.

“Ketika kau datang malam itu, aku ingat dengan jelas bagaimana rupamu. Kau tak tersenyum, kau menggeram marah dan kau membunuh mereka semua.”

Aku ingat. Itu satu tahun lalu ketika aku pertama kali turun ke bumi. Aku menemukannya dalam keadaan benar-benar buruk. Pakaian yang terkonyak, sudut bibir membiru bercucur darah dan segerombol bajingan yang haus belaian. “Itu semua untuk melindungimu,” ujarku jujur. Karena memang benar, niatku hanya ingin melindunginya.

“Aku tahu itu,” aku merasakan kecupan di pelipisku. “Lalu, setelah kau mengatakan kau adalah Caretakerku, aku tidak bisa langsung percaya. Memang siapa aku hingga harus mendapatkan seorang pelindung tampan sepertimu?”

Diam-diam aku tersenyum mendengar ucapannya, “Yah, aku memang tampan.” Lalu dia menepuk punggungku cukup keras dan membuatku terkekeh.

“Tapi kau mengatakan padaku untuk percaya jika kau diciptakan khusus untukku, untuk menjadi Caretakerku. Dan sekarang aku percaya. Juga sangat bersyukur.” Aku bisa mendengar helaan nafasnya yang dalam. “Minseok-ah.”

“Ya Bom-ah?”

“Mungkin kau tidak sehangat matahari di musim semi. Kau juga tidak semenyanangkan musim panas. Dan lagi kau tidak berwarna merah layaknya musim gugur. Kau putih, dingin dan beku,” dia menjeda kalimatnya sejenak.
“Tapi kau tetap indah. Tuhan pasti punya alasan kenapa dia mengirimu untukku.”

“Ya, Dia punya alasan yang cukup bagus,” aku menghentikan langkahku lalu menoleh agar bisa sedikit melihat wajahnya. “Mau dengar?” Dia mengangguk.

“Dia mengirimku untukmu agar kau tahu, setelah dinginnya salju ada musim semi yang hangat. Setelah semua hal yang kau alami, akan selalu ada senyuman di akhir. Juga, agar aku tahu,” aku kembali melangkah. “Serpihan es terlihat begitu indah jika diterpa sinar musim semi. Mungkin dia akan leleh, tapi dia tetaplah indah.”

“Tapi sinar musim semi bisa membuat es itu meleleh.”

“Dia akan menjadi es lagi di musim dingin selanjutnya, jadi untuk apa takut mencair?”

Kurasakan debar jantungnya bertalu dan itu membuatku tersenyum, karena aku pun sama. Berdebar. Pelukannya mengerat lagi, “Terima kasih sudah berada di sisiku.”

“Aku akan selalu berada di sisimu. Itu tugasku dan inginku. Jadi, tetaplah mekar seperti bunga di musim semi. Karena kau adalah musim semiku, Bom-mine.”

Kakiku melangkah ringan dengan senyum terpatri di wajahku. Aku tahu di belakang sana dia juga tersenyum. Terbukti dari wajahnya yang disembunyikan di perpotongan leherku. Ah, manis sekali. “Nah sekarang kita harus lakas sampai dan obati lukamu. Aku tidak ingin gadisku menahan sakit lebih lama lagi.”

“Aku mencintaimu Minseok-ah,” bisikan lembut itu masih bisa kudengar. Ya, aku juga mencintaimu Ahn Bomi. Sangat mencintaimu.

***

Aku menyukai musim semi.

Hangat.

Berwarna.

Dan juga,

penuh cinta.

Layaknya gadis yang kini berdiri di sampingku. Gadis yang dikirim Sang Kuasa untuk kujaga. Juga, untuk kucintai.

Aku mencintaimu, Bom-mine.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s