Gotta Be You – [3] First Impression – Shaekiran & Shiraayuki

gottabeyouposter

Gotta be You

A Collaboration Fanfiction by Shaekiran and Shiraayuki

 

Maincast

EXO’s Park Chanyeol and RV’s Bae Irene

Genre

Romance, campus-life, action, AU, angst, sad, etc.

Length

Chaptered

Rating

PG-15

DISCLAIMER

Lagi-lagi dengan Shaekiran & Shiraayuki, ada yang kenal?

Cerita ini adalah hasil buah pikiran kami berdua, second project collaboration from us.Merupakan perpaduan karya sepasang neutron otak yang bersinergi merangkai kata hingga menjadi sebuah cerita utuh.Standard disclaimer applied. Hope you like the story. Happy reading!

.

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

.

Previous Chapter

Teaser | 00. Prolog | 01. The Girl |02. The Boy | [NOW] 03. First Impression |

.

[ PLAY]

.

Even if your love ruins me and hurt me.” —Gotta Be You; 2NE1

.

Author’s side

 

Kelamnya malam tak sedikitpun melunturkan aksi sosok tegap itu. Ia berdiri di tengah jalan, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana hitamnya. Dibalik topi yang juga hitam itu, ada sepasang mata tajam yang mengintai bagai elang. Tak lama, sebuah seringai tipis mencuat mengukir di bibir tipis miliknya. Setengah tertawa ia kini mengeluarkan tangannya dari dalam saku celana, menunjukkan eksistensi sebuah revolver jenis Magnum, lalu mengarahkan moncong pistol itu ke depan tatkala sebuah mobil jenis Audi kini mengarah dengan kecepatan sedang ke arahnya.

Dor!

Satu tembakan terdengar mengaum malam itu. Bunyi yang tak seberapa keras karena eksistensi peredam suara yang dipasang sebagai pelengkap revoler-nya pun membuat si pria tenang-tenang saja setelah menembakkan sebuah timah panas ke arah mobil. Si Pria tersenyum, misinya kali ini sukses besar. Dengan cepat ia akhirnya melangkahkan kaki ke arah mobil, dan makin mencuat senyumnya karena menemukan pengemudi mobil itu yang sudah meregang nyawa dengan darah mengucur di pelipis. Si Pria serba hitam pun meraih sebuah kartu di kantong jaketnya, kemudian meletakkan kartu itu ke atas kursi penumpang yang kosong.

“Si—siapa?” lirih pengemudi itu tertatih. Rupanya kesadarannya masih ada, meski hanya sekian persen lagi. Pria itu menyeringai, lalu dengan cepat berbisik. “Zen.”

Akhirnya, pria yang mengaku Zen itu pergi meninggalkan si pengendara mobil yang tengah meregang nyawa, yakin bahwa setelah ini diplomat itu tidak akan bisa berbicara lagi karena sudah dijemput malaikat maut. Zen menekan sesuatu di kantong jaketnya, lalu tersenyum menyeringai penuh kemenangan saat sekon selanjutnya suara percikan mendominasi area sepi di bawah jembatan itu. Lidah api pun mulai muncul ke permukaan, membakar mobil dan isinya itu dalam sekali sentakan.

Killed.

Sebuah pesan pun terkirim lewat ponsel milik Zen yang kini berjalan santai seakan tak ada yang salah. Ia berjalan lambat menuju jalan raya utama —ingin pulang karena udara malam ini serasa semakin dingin memenuhi raganya.

Thanks Zen. I’ll send you the money right now.

Senyum Zen pun terukir makin lebar saat membaca pesan balasan dari klien-nya itu. Ia kemudian membuka sarung tangan karetnya, lalu membuangnya asal ke tong sampah tepi jalan.

Ia tertawa kecil. Setelah ini, satu milyar won akan bertambah dalam hitungan detik di dalam rekeningnya. Bukankah menarik? Satu milyar won untuk satu nyawa manusia yang ia bunuh tanpa belas kasihan.

 

 

Breaking News 
Telah ditemukan sebuah mobil yang dalam keadaan hangus terbakar di bawah jembatan sungai Han. Belum diketahui pasti penyebab terbakarnya mobil jenis Audi tersebut. Pihak kepolisian menyebutkan mungkin saja dikarenakan kerusakan mesin dan berbagai kemungkinan lainnya. Mereka akan menyelidiki hal tersebut lebih lanjut dan melakukan investigasi secara mendetail. Korban sendiri adalah pengemudi mobil yang baru saja pulang dari kantor, seorang diplomat muda bernama Kim Jun Myeon (26) yang ditemukan dalam keadaan hangus terbakar di lokasi kejadian. Pemakaman sendiri akan dilakukan setelah otopsi jenazah selesai dilaksanakan. 
Demikian Breaking News pagi ini. Kita berlanjut ke berita selanjutnya dimana

Pip!

Chanyeol menghempaskan remote-nya dengan kasar ke atas sofa setelah sukses mematikan benda persegi panjang yang menurutnya sangat berisik — juga menurunkan mood-nya di pagi hari. Si pria Park pun mendudukkan bokongnya di atas sofa, lalu mulai menyesap kopi buatannya yang masih panas.

“Dasar bodoh,” katanya kini bermonolog saat tiba-tiba teringat berita pagi yang menurutnya tidak berbobot itu. Ia terkekeh pelan, lalu kini beralih menyantap sepotong roti selai kacang yang sudah ia siapkan sebagai sarapan paginya hari ini.

“Bagaimana bisa polisi itu menyimpulkan sebagai kecelakan? Bodohnya, sebagai kerusakan mesin. Memangnya mereka belajar apa selama berada di akademi kepolisian? Inilah kenapa aku benci polisi bodoh. Sama sekali tidak menantang.” Monolog pria itu lagi sambil mengunyah roti yang kini sudah berpindah tempat ke dalam mulutnya. Dengan susah payah Chanyeol menelan roti kacang itu, lalu meneguk kopinya lagi.

“Ah, mereka pasti akan kewalahan karena kasus ini. Apa perlu aku kirimkan surat permintaan maaf karena sudah membuat mereka lembur?” Chanyeol terkekeh, lalu berdiri dari duduknya. Perlahan lelaki itu menghampiri televisi miliknya, lalu menyentuh sayang figura foto yang terpajang di sebelah televisi itu.

“Sejeong-ah, bukankah mereka bodoh? Ah, karena ini oppa jadi malas, tidak ada tantangan,” rengek Chanyeol pada adiknya —yang kini hanya tinggal seberkas kenangan yang terpatri dalam potret adiknya beberapa tahun lalu dalam balutan seragam sekolah dasar.

Chanyeol lantas melirik jam yang bertengger di pergelangan tangannya, lalu tersenyum kecut. “Sejeong-ah, oppa harus berangkat ke kampus. Mianhae, sepertinya oppa akan pulang larut malam ini.” ucap Chanyeol lirih, sarat akan nada kesedihan yang mendalam. Chanyeol lantas meletakkan pigura foto itu kembali ke tempatnya, lalu bergerak meraih tas ranselnya yang tergeletak begitu saja di atas lantai.

Sudah sebulan adiknya pergi, dan sebulan itu juga Chanyeol seperti orang gila. Baginya, figura foto adiknya itu adalah satu-satunya barang berharga, adiknya tersayang yang ia yakin selalu memandangnya dari jauh, dan entah keyakinan darimana Chanyeol selalu merasa adiknya tengah menunggunya sambil tersenyum di rumah keluarganya itu. Setiap pagi Chanyeol bahkan menyempatkan diri untuk menyapa adiknya, seperti— “Selamat pagi adikku sayang. Sudah sebulan berlalu, apa kau baik-baik saja disana? Apa kau sudah bertemu dengan eomma dan appa di atas sana? Apa kalian bertiga bahagia?”  

Atau sesekali saat Chanyeol pulang dari kuliahnya yang sampai malam dengan kelelahan —atau bahkan jika ia pulang setelah menjadi Zen selama beberapa waktu demi uang— Chanyeol akan tetap menyapa adiknya sambil tersenyum lebar. “Bagaimana harimu Sejeong-ah? Apa menyenangkan? Apa sekarang kau sudah hafal rumus mencari volume limas?”

Miris. Namun itulah Chanyeol.

Perlahan Chanyeol kemudian meraih gagang pintunya setelah melambaikan tangan pada si adik—foto si adik maksudnya. Tak lupa kini Chanyeol sudah memakai sebuah kacamata yang membingkai sepasang manik cokelatnya secara sempurna. Chanyeol menutup pintu rumahnya, lalu mengunci satu-satunya rumah peninggalan keluarganya yang masih bersisa itu. Ia tersenyum samar sambil merapikan letak kacamatnya, ini waktunya menjadi Park Chanyeol—si mahasiswa jurusan bisinis berpenampilan cupu dan menipu. Malam sudah terganti pagi, dan itu artinya Zen sedang tertidur lelap karena telah lelah membunuh orang.

 

 

Suasana Univerisitas Seoul sangat ramai pagi ini. Meski memang biasanya ramai, toh pagi ini tempat itu semakin ramai dikarenakan banyaknya mahasiswa maupun mahasiswi tahun ajaran baru dan orangtua mereka yang mendampingi putra-putri mereka di hari pertama masuk universitas.

“Oh, Hyun-ah. Kau sudah bawa semua perlengkapanmu ‘kan?” seorang ibu nampak bertanya pada anak lelakinya, dan putranya itu segera mengangguk cepat. Lantas ibu itu langsung merangkul anaknya bangga, diikuti ayah si anak yang baru saja keluar dari dalam mobil.

“Kalian mau meninggalkanku? Jahat sekali,” rengek si ayah pura-pura marah, dan si ibu langsung pura-pura mendecih sambil menggandeng suaminya. “Ayolah yeobo, uri-Hyun bisa terlambat kalau kita lama,” terang wanita yang agaknya baru memasuki awal 50-an itu. “Arraseo,” kata si ayah sambil mempercepat langkahnya lalu menggandeng anak juga istrinya.

“Oh ya nak, kau harus membanggakan appa dan eomma. Arraseo?” pesan si ayah kemudian yang langsung diangguki si anak yang dipanggil Hyun itu.

Jauh di sana, Irene memandang sebuah keluarga lengkap itu dengan pandangan nanar. Ia melihat sekelilingnya, hanya ada sebuah mobil Mercedes Benz yang pagi ini menjadi kendaraannya datang untuk pertama kalinya ke kampus. Padahal rambut Irene sudah layaknya model dengan surai halus yang ditata sedemikian rupa, make-up yang dipoles tipis dan cantik. Pakaian Irene yang mahal, sepatu seharga jutaan won milik Irene, juga tas samping keluaran Channel terbaru yang jika ditotal bisa membayar uang kuliah satu semester mahasiswa fakultas kedokteran.

Harusnya Irene percaya diri karena penampilannya yang jauh dari kata buruk. Hanya saja hari ini Irene merasa minder —takut— karena tidak ada ayah dan ibunya yang mengantarnya ke kampus di hari penyambutan mahasiswa baru ini. Irene bisa memaklumi ibunya yang sudah tiada, tapi Irene benci ayahnya yang lebih memilih rapat di Paris ketimbang membahagiakan Irene untuk sekali saja. Bahkan Irene lupa, kapan ayahnya pernah mengantarnya di hari pertama sekolah seperti anak-anak seusianya? Sepertinya tidak pernah, dan itu sukses membuat Irene minder karena pandangan siswa-siswa lain yang prihatin padanya. Ia benci dikasihani.

Merasa air matanya akan lolos seperti yang sudah-sudah, Irene lantas segera merajut langkahnya menuju ke dalam gedung universitas. Tak lama kemudian Irene sudah sampai di depan sebuah aula yang akan menjadi tempat penyambutan mahasiswa baru itu, dan dengan setengah berani Irene membuka pintu yang ia sendiri pastikan sudah dalam keadaan terlambat. Ya, Irene sengaja datang di menit-menit terakhir —bahkan terlambat seperti sekarang. Bukannya ia tidak bisa bangun pagi dan malas berangkat lebih awal, hanya saja ia malas menatap iri pada semua orangtua yang hadir di tempat ini. Irene malas ditanya kemana orangtuanya, juga Irene malas mendapat tatapan menjijikkan dari para mahasiswa baru yang satu almamater SMA dengannya. Irene benci itu semua.

Akhirnya, gadis itu berakhir berdiri di barisan paling belakang, hampir tidak bisa melihat apa-apa karena suasana aula yang sesak dan sosok tinggi yang berdiri tepat di depannya. Irene menghela nafas, sadar kalau sebentar lagi kakinya akan kram karena berdiri terlalu lama. Perlahan Irene melirik siapa saja yang membuat aula besar ini terasa begitu menyesakkan, dan sebuah nada mencelos muncul dari bibir Irene yang hanya dilapisi pelembap ringan sebagai polesan; orangtua yang menyanyangi anaknya —ah, membuat Irene iri saja. Lihat Irene sekarang, berdiri di titik yang hampir tidak terlihat dunia dan bahkan tidak dipedulikan eksistensinya sama sekali. Sementara di depan sana, di atas bangku yang hangat duduk para anak-anak beruntung dengan orangtua yang mengapit di sisi kanan dan kirinya.

Brughh!

Irene kaget bukan main saat kini badannya ambruk ke depan padahal sedang asyik memperhatikan sebuah keluarga kecil di sisi depan sana dan bukannya fokus dengan kata sambutan seorang rektor yang sedang menyampaikan pidatonya. Nampaknya ada seseorang yang keluar dari aula dengan tergesa-gesa dan tak sengaja menyenggol Irene karena kini bunyi derit pintu yang membuka dan menutup dalam hitungan detik memenuhi pendengaran si gadis.

Irene mendengus kasar, merasa kalau ini adalah hari sialnya. Sekon selanjutnya setelah nyawanya terkumpul dan fokusnya kembali, gadis itu merasakan sesuatu yang janggal. Harusnya ia ambruk —jatuh ke depan dan mencium lantai— tapi yang kini ia rasakan hanyalah punggung bidang dengan wangi mint segar yang menguar dari tubuh yang sedang di dekap Irene tanpa sadar itu. Irene terhenyak, lalu dengan cepat mundur selangkah dan berbalik badan. Sekarang dia benar-benar malu.

Apa yang akan dikatakan pemuda jangkung itu kalau tahu Irene ‘memeluknya dari belakang’ barusan?

Bisa saja Irene ditandai sebagai gadis kecentilan, dan Irene tidak mau itu. Mana mau dia merendahkan harga dirinya sendiri.

Jadi gadis itu dengan cepat meraih ponsel pintarnya dari dalam tas, lalu mulai memainkan benda persegi panjang berwarna putih itu. Irene menggeser-geser layar menu ponselnya, berusaha sibuk agar pemuda itu tidak tahu siapa yang baru saja dengan lancang memeluknya.

Sudah semenit Irene seperti orang konyol memainkan ponselnya secara acak, dan tidak ada apapun yang terjadi selama 60 detik berlalu. Merasa sudah aman, Irene akhirnya membalikkan badan, yakin kalau pemuda tadi tidak terlalu peduli dengan ulah tidak sengaja-nya itu.

Namun yang didapati Irene adalah pemandangan dada bidang seorang pria jangkung yang lewat kaosnya pun Irene sudah tahu kalau itu milik lelaki yang sama dengan pria yang ia peluk tadi. Irene meneguk ludahnya kasar sambil mendongak yang cukup membuat lehernya sakit karena pemuda jangkung di depannya itu.

Disana, Irene tidak mendapati raut marah atau kesal—yang mau tak mau membuat Irene sedikit lega. Anehnya, lelaki yang tidak Irene kenal itu malah tersenyum tipis ke arahnya, hingga menampakkan sebuah lesung pipit di pipi bagian kanan si pria. Dan entah sejak kapan Irene terlena. Aneh.

Pria itu jauh dari kata tipenya Irene. Jika selama ini Irene menargetkan pria modis tampan dan memakai barang bermerk dari atas ke bawah, maka yang ada di hadapan Irene sekarang adalah pria berkacamata yang terkesan cupu. Bukan barang bermerk, Irene malah mendapati lelaki itu menggunakan kaos oblong yang Irene sempat berpikir mungkin lebih mirip kain lap di rumahnya, juga celana jeans berwarna kusam yang sumpah demi Tuhan Irene bahkan tidak sudi menjadikannya sebagai alas tidur Ellisa—kucing anggora kesayangannya. Irene yang biasanya mencintai bulu halus kucing anggora yang mahal itu kini bagai tersihir oleh penampilan buruk rupa seekor kucing kampung yang ketahuan mencuri lauk di rumahnya. Ya, semua karena senyum yang dengan didefinisikan dengan satu kata adalah ‘manis’ bagi Irene. Dan jika dua kata menjadi ‘sangat manis’ dan jika berlanjut akan menjadi ‘sangat teramat manis’. Sepertinya Irene mulai gila.

Jantung Irene tiba-tiba berdegup kencang saat tiba-tiba pria jangkung yang sudah membuatnya terlena itu maju selangkah ke depan Irene, lalu menyentuh pergelangan tangan Irene yang super halus. Bagai tersihir, Irene tidak melawan sama sekali saat si kucing kampung beraroma mint segar itu tersenyum padanya dan memposisikan Irene menjadi mengangkat tangan kanannya ke atas. Tunggu, mengangkat tangan?

“Aku sudah menemukan contoh yang cocok,” Irene terhenyak saat kini suara bass itu memenuhi rungu-nya. Ya, bahkan suara pria itu kini memabukkan Irene.

Masalahnya, Irene sekarang merasa ada sesuatu yang janggal saat semua orang tiba-tiba menoleh ke arahnya dan embuat Irene menjadi pusat perhatian seketika. Hei, apa yang salah dengan Irene? Apa penampilannya aneh? Atau, ada make-up yang luntur? Sepertinya tidak mungkin mengingat make-up Irene adalah yang terbaik dan termahal dan langsung didatangkan dari Paris. Lalu kenapa mereka semua memandangi Irene dengan tatapan memuakkan itu?

“Tunggu apa lagi, kau harus maju ke depan.” Irene menunjuk dirinya sendiri, dan sebuah anggukan dari pria berkacamata yang memabukkannya itu segera menyadarkan Irene bahwa memang ia yang pria itu maksud.

Lantas pria itu tersenyum penuh arti sambil mendorong tubuh Irene agar berjalan ke menuju podium di depan. Jantung Irene mulai berdegup tak karuan. Entah kenapa, baru saja ia merasa senyum kucing kampung itu tidak semanis yang tadi malah lebih mirip sebuah seringaian di mata Irene. Dan gadis itu tahu, sesuatu yang tidak beres akan terjadi padanya beberapa menit lagi saat sampai di panggung sana.

 

 

Irene keluar dari aula dengan emosi membludak. Siapapun lelaki tadi, Irene pastikan akan membuatya menyesal karena sudah mempermalukan si gadis. Ayolah, bagaimana Irene tidak malu jika saat maju ke depan tadi semua orang menertawainya? Irene di cap sebagi contoh mahasiswa yang tidak berkelakuan baik karena Irene ketahuan menggunakan ponsel di saat acara berlangsung padahal sudah diberikan larangan menghidupkan ponsel selama acara. Ya, mana Irene tahu peraturan itu karena dia datang terlambat! Lagipula gadis itu membuka ponsel juga bukan karena maunya, tapi karena ingin menghindar dari si kucing kampung itu!

Irene menghentak-hentakkan kakinya keluar ruangan, lalu menyusuri universitas seperti orang gila. Kalian tahu bagaimana rasanya dipermalukan di depan satu angkatan plus di depan para orangtua yang menatapnya bagai gadis tidak tahu aturan? Belum lagi tadi ia melawan saat mereka menyita ponsel Irene dan gadis itu sempat mengumpat ‘shit!’ sakin marahnya —yang tentunya membuat Irene makin di cap sebagai anak berkelakuan buruk.

Ya, Irene memang bukan gadis baik. Tapi seingatnya dia belum pernah mencari perkara di universitas barunya ini. Irene yang menjadi bahan tertawaan sudah semacam menabuh genderang perang saja, dan itu semua hanya karena satu kucing kampung yang membuatnya harus maju ke depan. Si kucing kampung itu, astaga, Irene benar-benar ingin membunuhnya sekarang ini juga!

“Lihat, bukannya dia gadis yang dipermalukan tadi?”

“Awalnya aku kasihan, tapi melihatnya bengis begitu pada senior membuatku malah setuju dia dipermalukan. Orang yang membuatnya maju ke depan tadi perlu di beri penghargaan.” 

“Cih, gadis tidak tahu aturan.”

Telinga Irene sudah panas, tapi ia tidak peduli dan tetap melanjutkan langkahnya. Lihat, baru beberapa jam dia ada di universitas ini tapi dia sudah menjadi bahan cemoohan hampir semua orang. Berita kelakukan Irene sepertinya menyebar sangat luas sebagai mahasiswa calon pemberontak yang patut diberi pelajaran, dan Irene yakin hidupnya di universitas ini tidak akan tenang di MOS besok. Semuanya karena si kucing kampung sialan itu! Astaga, Irene benar-benar emosi sekarang dan bersumpah akan mencari lelaki yang membuatnya bernasib sial itu hingga dapat hari ini juga!

Akhirnya Irene bernafas lega saat kini menemukan lelaki yang ia cari—si cupu berkacamata sialan itu—tengah duduk di kantin bersama teman-temannya. Penampakan beberapa buku dan cemilan serta jus yang terlihat menggiurkan di meja pemuda itu membuat Irene makin panas. Dia baru saja membuat seorang gadis menjadi bahan tertawaan satu universitas, dan dia dengan enak-enaknya bersantai di kantin? Demi Tuhan, Irene ingin mendorongnya ke jurang penyesalan sekarang juga karena sudah mencari perkara dengan gadis Bae itu.

YA!”

Irene memekik keras sambil memasuki arena kantin dengan wajah beringas. Gadis itu langsung menghampiri meja orang yang sudah membuatnya naik pitam begini, dan sepertinya lelaki itu belum menyadari kedatangan Irene karena dia masih asyik bercanda dengan temannya. Irene mendecih pelan, lalu segera menendang sebuah kursi yang kebetulan kosong di meja si kucing kampung.

PRAKK!

—dan seketika, Irene kembali menjadi pusat perhatian.

“Apa-apaan kau?” tanya seorang teman pria itu dengan nada tak suka. Irene kenal manusia itu, salah satu komplotan si kucing kampung yang tadi juga menertawakannya saat dipermalukan di aula.

“Aku ingin bicara dengan manusia brengsek satu ini!” Irene menunjuk pria yang ia maksud —si kucing kampung cupu — tapi sosok jangkung itu malah asyik membaca dan tidak menggubris kehadiran Irene sama sekali.

Ya! Aku sedang berbicara denganmu!” pekik Irene lagi karena merasa tidak diacuhkan pria itu.

“Jongdae-ah, ayo kembali ke kelas. Sepertinya ada angin ribut.” frasa yang menguar dari mulut si kucing kampung itu pun seketika membuat Irene semakin naik pitam dan emosinya membuncah di kepala. Ia melengos saat kini pria yang sempat ia puji bersenyum manis itu —yang detik ini juga ingin Irene bunuh — kini berdiri dari duduknya sambil menenteng tas ransel.

Tak habis akal, Irene akhirnya meraih segelas besar jus yang masih terisi penuh di meja itu.

Lalu dengan segera menyemburkannya pada wajah si pria—

Byuurrr!

—tepat ke bagian wajahnya.

Ya! Apa yang kau lakukan?”

“Chanyeol-ah, gwenchana?”

Irene hanya diam, sambil tersenyum cukup puas. Belum merasa puas karena kini pemuda itu sudah memegangi matanya yang perih, Irene melanjutkan aksinya dengan menginjak sepatu usang si pria dengan high heels 7 senti miliknya.

Akh!” lelaki itu memekik kesakitan, dan entah kenapa itu membuat sebuah senyum kemenangan mengukir di bibir ranum Irene.

“Menyesal karena sudah membuat masalah denganku?” tanya Irene sarkatis sambil memangku tangannya angkuh.

“Hei cupu, aku bisa berbuat lebih dari ini, asal kau tahu. Kau pikir siapa kau sehingga bisa mempermalukanku seperti itu, eoh? Apa kau tidak tahu kalau aku adalah—“

BRUKKK.

Irene terdiam. Badannya kini sudah menghempas merapat ke dinding tembok. Nampak sosok yang masih memegangi matanya yang perih itu kini mengunci pergerakan Irene dengan tangan kanannya yang bersarang di samping bahu si gadis. Irene mengerjap. Entah kenapa, ia merasa sedikit takut dengan sosok cupu di depannya itu.

Irene tahu sebentar lagi ia akan mendapatkan umpatan seperti biasanya, tahu kalau ia akan dihina habis-habisan dengan berbagai macam sebutan; sebutan jalang, sialan, dan banyak lagi. Irene tahu, lelaki itu mungkin akan—

“Seorang gadis tidak seharusnya berbuat seperti ini.”

—menamparnya.

Irene terdiam. Tidak satupun dari tebakan Irene yang benar. Lelaki di depannya itu hanya berucap satu kalimat dengan satu tarikan nafas. Sederhana, tapi sukses membuat Irene membeku di tempat.

Setelah mengucapkan itu, sosok yang disebut Irene cupu pun tersenyum tipis, kemudian membalikkan tubuhnya —meninggalkan Irene yang masih membeku di tempatnya. Irene berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya, dan tubuh gadis itu ambruk pun ke lantai dengan posisi duduk.

Irene menyadari satu hal sekarang. Senyuman pria itu memiliki makna yang berbeda dari senyuman lainnya. Senyum itu —senyum yang tidak bisa Irene definisikan.

 

 

Chanyeol menghempaskan tubuhnya ke kasur ber-seprai hitam itu. Tubuhnya benar-benar terasa sangat lelah hari ini. Untunglah malam ini dia tidak punya pesanan, sehingga dia boleh memejamkan mata meski jarum jam masih menunjukkan pukul sembilan malam. Lagipula Chanyeol harus mempersiapkan tubuhnya. Besok adalah hari MOS pertama akan dilaksanakan dan Chanyeol adalah salah satu panitia MOS tahun ajaran baru ini. Pria itu sudah mampu membayangkan bagaimana para anak manja akan merengek-rengek minta pulang saat MOS berlangsung besok —dan itu pasti akan sangat membuat tenaga Chanyeol terkuras.

Tapi ntah kenapa, Chanyeol teringat dengan sosok gadis yang tadi pagi menyiramnya dengan segelas penuh jus jeruk itu. Chanyeol akui dia sempat terpikat dengan bola mata coklat jernih yang gadis itu miliki. Namun mengingat gadis itu bersikap angkuh, Chanyeol yakin 100% bahwa gadis itu berasal dari kalangan konglomerat.

Atensi Chanyeol beralih ketika ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk melalui e-mail-nya. Pria itu segera membuka pesan tersebut dengan buru-buru.

Apakah ini Zen?

Chanyeol tersenyum simpul, uang semilyarnya saja belum tersentuh sama sekali dan sekarang sudah ada orang yang ingin meminta jasanya lagi. Sepertinya bulan ini adalah bulan keberuntungan Chanyeol sebagai Zen.

Iya.

Chanyeol mengirim balasan atas pesan itu, namun belum genap lima menit ponselnya kembali bergetar.

Hai Zen, aku Bill sebut saja begitu. Aku kira kau pasti sudah tahu apa tujuanku menghubungi-mu. Aku ingin kau membunuh seseorang, tapi secara perlahan-lahan. Aku ingin kau menyiksanya secara psikologis, perlahan-lahan namun pasti. Apa kau bisa? Aku beri kau waktu sebulan, dalam waktu sebulan aku akan membayarmu 100 juta won per-harinya. Tertarik?

Chanyeol membelalakkan matanya. 100 juta won per-hari berarti dalam waktu sebulan dia akan mendapatkan 3 milyar won?! Astaga, Chanyeol merasa sangat bersemangat. Klien-nya kali ini cukup berbobot mengingat dia menawarkan uang sedemikian banyak demi nyawa seorang manusia — Chanyeol yakin klien-nya kali ini benar-benar kaya. Ini pasti menjadi tugas yang menarik bagi Chanyeol.

Penawaranmu sangat menarik tuan. Aku terima. Kau tinggal kirimkan fotonya dan besok aku akan segera memulai tugasku.  

Chanyeol tersenyum puas dengan pesan balasan yang dia kirim. Entah kenapa dia begitu merasa semangat kali ini. Ini pertama kalinya dia merasa tugasnya benar-benar menarik.

Ponsel pria itu bergetar, sebuah e-mail masuk dan dengan cepat Chanyeol membuka pesan itu dengan tidak sabaran. Sebuah file terlampir bersama pesan itu. Lekas saja Chanyeol membuka lampiran yang dia yakini adalah foto targetnya yang ia minta.

Irene Bae, 18 tahun. Putri tunggal David Bae, pemilik SKY Group.

eeccb45cec6198f528dcd9a72e166678

 

“Bukankah dia..”

 

[to be continued]


Author’s Note

Jeng! Jeng! Inilah pertemuan pertama Irene dan Chanyeol, wakwaw XD

Kayaknya ini lebih pas disebut chapter pertama kan dibanding yang the girl? karena The girl dan the boy semacam side story aja, kek kisah hidup para pemeran utama sebelum saling kenal pairingnya hoho/plakkk/ 😀

Hmmz, ada yang semakin tertarik dengan Gotta be you ini?

Salam kethcupz

Double S ❤

Iklan

39 pemikiran pada “Gotta Be You – [3] First Impression – Shaekiran & Shiraayuki

  1. Seru banget 😍 tapi aku cuma mau koreksi dikit boleh ga? *mulaidehsotoy 😒😂
    Tapi serius, kalo masa orientasi di universitas itu bukannya namanya ospek ya? Karena kalo MOS itu kepanjangannya Masa Orientasi Siswa padahal kalo dia masuk universitas berarti dia bakal jadi mahasiswa bukan siswa lagi 😆 ini setahu aku sih maaf kalo salah 😂
    Tapi so far kayanya bakalan keren ni cerita 😍
    Keep writing and FIGHTING! 😍

  2. Ping balik: Gotta Be You – [8] Kiss – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  3. waaah makin seru niiih ceritanya. penasaran gimana reaksinya chanyeol pas dia disuruh buat bunuh irene. tapi lebih penasaran sama orang yang nyuruh Cy buat bunuh irene

  4. Ping balik: Gotta Be You – [7] Revenge – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Gotta be You – [6] Kill Her – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Gotta Be You – [5] Let’s Play – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  7. Kirain Zen bkalan nerima email fotonya dy sndri dan pengirim nya adl Irene :v
    siapa yaa di pengirim? Kog ad yg mw bnuh Irene segala sih?
    Tertarriikkkk… Mulai skrg nungguin GBY tiap tgl 10 n 23 :v
    hahaayyy ketjup sayang buat Shae n Yuuki :*

    • hoho, ide chingu bagus lo, perlu kita coba?/plakk. XD
      Siapa hayoo yg ngirim? wkwk, masih rahasia yaw chingu XD
      DUH, cie tertarik, makasih lo apresiasinya chingu, tungguin terus ya 2 tgl itu, hehe XD
      Ketchup sayang juga chingu, thanks for reading ❤

  8. Ping balik: Gotta Be You – [4] Bad Behaviour – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ngakak pas baca kucing angora irene,trus cy dibilang kucing kampung cupu😄😄 gitu2 juga suka ㅋㅋㅋ. Irene jadi calon korban pembunuhan terus nih-_- aaaa ditunggu tgl 10 yaa, CANT WAIT!!! pas ujian nasional smk di bali pulaaa😂😂 waktu ujiannya ga tepat bgt masa pas hari rya galungan kuningan/curhat/ㅜㅜ

    • Ceye disamain sama kucing 😶😶
      Mweheeh, kayaknya update malam ini, maaf bulan ini updatenya telat :’)
      Wow, EXO-L Bali, salam kenal dari EXO-L Sumatera mwehehe😋
      Thankyouuu yaa 😍

  10. Aaaa,,, keyen keyenn thorr….
    Chan,, pesonamu chann… gakuat akutu😂😂😂/plak/
    Irene omegat…
    Okelah ditunggu chap selanjutnya,,, sampai jumpa tgl 10 thorrr…..

    Salam dari chaichai….

  11. wahh ceritanya menarik banget..
    jadi Irene yang bakal jadi target selanjutnya si Zen ya? kira” si Zen bakal tetap nerima misiny g ya?? penasaran banget thor aku..
    cerita kalian selalu ku tunggu next chapnya.. Fighting.. 🙂

  12. Wuah keren…… Gak nyangka muka imut kyak gtu bsa jadi pembunuh……..
    Maaf Thor bru moment di part ini soal.a qw bru bca JD skalian aka koment d sni……
    JD g sbar nunggu tanggal 10…. Yg semangat ya Thor jgn pantang menyerah………
    Cerita.a kn brasal dr dua pemikiran JD yg akur yaaaa Thor biar ceritanya tambah kerennnnnnnnnnnnn

    • No problem, it’s okey kamu mau ninggalin jejak dimana aja asal gak siders, hehe 😄

      Maaf ya chapter nextnya telat, maybe malam ini bakal update 😊 thankyouu yaaaq 😍

  13. dan akhirnya irene yg jadi buruan -,- . yeay apdet! kak,,boleh ga sih updatenya 1bulan 3kali gitu? rasanya lama banget kalo 1bln 2 chapter doang. :v hehe . kutunggu lah apdetannya ntar, ^^ fighting author

    • Irene mangsa yah😁
      Hehe, maaf ya sayang, update nya cuma bisa dua kali, tapi nanti kami bisa aja tiba-tiba update lohh😄
      Thankyouuu yaa 😍

  14. Bukankah dia…….

    Masa depanku 😂😂😂😂😂 “gubrak”

    Uluuuhhh uluuhhh si chan, cupu aja irene kepincut apalagi kalo “topengnya” dibuka tambah klepek² tuh….😂😂

    Next chap kapan nih??

    • Masa depan oh masa depan 😍
      Yok mbak Rene, mas Ceye ini tak seperti kelihatannya lohh~~ yakin ngatain dia kucing kampung?

      Next chapnya maybe malam ini, thankyou 😍

  15. aku ragu apa chanyeol mau disuruh ngebunuh irene atau malah dia akan jatuh cinta ke irene dalam 1 bulan itu.. aku suka karakter irene dan chanyeol disini dan udah gak sabar nunggu chapter selanjutnya..
    author bisa gak sekali seminggu aja updatenya?? nunggu tgl 10 itu lama bgt rasanya..
    next chapter lebih keren lagi yah ^^

    • Cinta atau uang yaa? 😗
      Hehe, maaf ya sayang, kita cuma bisa update dua kali sebulan, tapi kalo lagi free kami bisa update tiba-tiba lohh😋

      Thankyouu 😍

  16. Kukira misinya Chanyeol yang terakhir itu masih ngebunuh orang lain, eh langsung ke Irene ya. Langsung ke konfliknya gitu WAAH irene banyak yang ngga suka kali yah, makanya ada yang pengen dia celaka. Irene waktu masuk kampus kaya rada lebih tenang gitu, ngga agresif, apa perasaanku aja ya XD Kalo waktu pas SMA itu dia kaya lebih ke brutal/? gitu XD
    Anyway, first impression-nya mereka lumayan menarik. Oiya, aku nemu beberapa typo sih tadi, tapi tidak begitu mengganggu kok 🙂
    Ditunggu next part-nya! Keep writing~

    • Irene disini bejat, gak mungkin banyak yang suka, hahaha😁 belum keluar aja brutalnya mbak ee 😂

      Thanks yaa 😍 maaf soal typonya 😂

  17. Wuhuuuu.. Aku ga bisa ngmong apa2. Aku suka bgt apalagi karakternya baechu cocok bgt anak konglomerat yg seenaknya dan ga sopan walaupun banyak yg bilang dia itu introvert tp kalo dibayangin dia meranin yg kaya gini itu cocok bgt. Dan q jg udh tebak kalo sasaran “zen” yg dimaksud itu pasti baechu dan itu bakal jadi step mereka buat jatuh cinta wihhh puing puing hahay bayangin aja udh seneng ditunggu buat tgl 10 ahhh masih lama

    • Irene mah jadi apa pun bisa, asal jadi jangan Hulk aja/eh?/ Step step jatuh cinta, ekhemm… Ada cinta~~ mwehehe, maaf ya bulan ini telat update bikos si Eki atit ati :”)
      Thankyouu 😍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s