[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life – (Chapter 13)

Tittle/judul fanfic                    : Reason Why I Life

Author                                                : Park Rin

Length                                     : Chaptered

Genre                                      : Romance, Family, Angst

Rating                                      : PG-13

Main Cast&Additional Cast   : Baekhyun

Park Sung Rin (OC)

Mingyu Seventeen

All EXO’s Members

Ect.

Summary                                 : “Orang tua harus mengajari anak mereka untuk berteman agar anaknya bisa melewati harinya dengan baik disekolah, karena tidak setiap waktu orang tua bisa menemani anaknya. Terkadang seorang orang tua harus meninggalkan anaknya bermain dengan orang lain selagi mereka bekerja untuk masa depan anaknya.”

Disclaimer       : FF ini murni buatan author sendiri. Ada beberapa cerita yang mengisnpirasi author dalam membuat karakter disini. Namun, jalan cerita dan alur cerita murni buatan author sendiri. FF ini juga bisa kalian temukan di akun wattpad milik author. Id author @ParkRin98. Baca juga di blog milik author https://parkrin98.wordpress.com/

“Kenapa tiba-tiba mau pulang?” Tanya Mingyu cepat, karena Mingyu tahu serindu-rindunya Rin akan keluarganya Rin pasti akan pulang ke Anyang bukannya pulang ke Incheon, tempat nenek dan kakeknya yang sudah lama meninggal itu. Meskipun Mingyu tahu masih ada rumah dan pengasuh Rin waktu kecil disana.

Rin diam, ia sudah menyiapkan dirinya dari kemarin namun tetap saja ia masih belum siap jika ditatap oleh kedua orang ini seperti sekarang. Rin hanya diam, bibir bawahnya ia gigit perlahan. Dirinya benar-benar belum siap dengan jawaban selanjutnya.

***

“Aku butuh udara segar. Ujian masuk universitas membuatku benar-benar stress.” Jawab Rin menunduk sambil mengaduk-aduk minumannya, ia tidak berani menatap kedua lelaki dihadapannya. Rin takut semua kebohongannya terbongkar.

“Kenapa tidak ke Anyang? Kenapa harus ke Incheon?” Tanya Mingyu lagi, Mingyu benar-benar bingung dengan adiknya saat ini.

“Aku tidak mau membebani orang tuamu oppa.” Jawab Rin singkat, kali ini jawaban Rin jujur.

Mingyu bertambah bingung, “Mengapa terbebani? Kau anak mereka juga.”.

“Aku benar-benar stress dengan ujian ini. Aku hanya takut membuat mereka khawatir.” Sahut Rin kemudian. Ia menundukan dirinya makin dalam, air matanya sudah siap keluar sekarang.

“Kami tidak memaksamu harus masuk universitas “S”, Rin. Jangan terlalu memaksakan dirimu.” Kini Baekhyun ikut angkat bicara setelah beberapa saat mendengarkan percakapan kakak beradik ini.

“Benar kata Baekhyun hyung. Aku, keluargaku, Baekhyun hyung tidak peduli kau mendapatkan universitas apapun. Meskipun, tidak kuliahpun aku tidak peduli.” Kata Mingyu kemudian.

Rin menundukan kepalanya lagi, ia kehabisan akal. Air mata yang ia tahan sendari tadi mulai menetes. Beruntung rambutnya yang panjang tergerai bisa menutupi air mata itu. “Bisakah kalian tidak menahanku?” Kata Rin dalam hati.

Butuh lima hari untuk Rin agar bisa menyakinkan kedua laki-laki itu agar bisa mempercayainya bahwa Rin hanya ingin pulang karena ingin menenangkan dirinya yang akan menyiapkan ujian masuk universitas. Bukannya ingin menghilang dari kedua laki-laki itu karena tak sanggup melihat mereka mengetahui keadaanya yang sebenarnya. Rin tahu cepat atau lambat penyakitnya ini benar-benar akan merubah keadaanya yang begitu sehat menjadi lemah. Ia tidak ingin Baekhyun khususnya menyaksikannya rapuh untuk kedua kalinya.

***

Rin menyusuri kolam koi disana, kemudian berjongkok kecil memainkan air di kolam tersebut. Dibelakang Rin, Mingyu nampak menenteng box besar berisi barang-barang Rin. Hari ini hanya Mingyu yang mengantar Rin pulang, sedangkan Baekhyun? Baekhyun tidak bisa ikut karena jadwalnya yang menumpuk.

Mingyu tersenyum, saat Nam ahjumma datang menyapanya sambil meminta box yang Minyu bawa. Mingyu kemudian mengikuti Rin ke arah kolam koi itu.

“Kau masih saja seperti anak kecil.” Ucap Mingyu sambil mengacak-acak rambut adiknya sayang.

Rin mendengus sebentar, kemudian menyelesaikan acara mengaduk-aduk kolam ikan tersebut. “Bisakah kau tidak mengacak-acak rambutku?.” sahut Rin kesal, ia mengikuti Mingyu duduk dibangku dekat sana.

Mingyu tersenyum senang melihat adiknya kesal. “Rambutmu itu adalah mainanku selamanya Rin.” Ledek Mingyu, setelah itu ia harus bisa menahan sakit karena dicubit kasar dibagian pinggang oleh adiknya itu.

“Mengapa kau selalu memperlakukanku seperti anak kecil? Aku sudah sembilan belas tahun dan sudah memilki kekasih.” Tanya Rin pelan, ia menyandarkan kepalanya di bahu Mingyu.

“Umur dan kekasih tidak ada pengaruhnya bagiku. Aku akan selalu menganggapmu anak kecil yang selalu membutuhkanku kemanapun kau pergi.” Jawab Mingyu pelan.

“Tapi, kau tega meninggalkan anak kecil sepertiku dulu.” Kata Rin kemudian.

Mendengar hal itu Mingyu hanya tersenyum, “Aku meninggalkanmu demi keluarga kita khususnya dirimu, Rin.”

“Aku?” Tanya Rin bingung.

“Iya dirimu, adikku sayang.” Kata Mingyu gemas.

“Kenapa?” Tanya Rin lagi.

Mingyu menatap adik angkatnya itu sayang. “Aku tak sanggup melihatmu selalu tergantung padaku hingga kau harus meninggalkan eomma dan appa di Anyang hanya karena aku. Kau mau hidup susah dengan bekerja dan sekolah hanya untuk berada di dekatku.”

“Dari mana kau bisa tahu?” Tanya Rin penasaran.

“Aku sudah mengenal dirimu semenjak kau baru saja lahir didunia Rin. Mana mungkin aku tidak tahu?” Jawab Mingyu sedikit tersenyum.

“Jika kau sudah mengetahuinya dari awal kenapa tidak bilang padaku? Kenapa kau malah menjauhiku? Kau tidak tahukan seberapa tersiksanya aku karena selalu kau tinggalkan?” Kali ini nada suara Rin sedikit naik. Ia juga sudah tidak menyadar di bahu empuk itu.

“Rin, meskipun aku menjauhimu, tapi ingatlah saat itu aku akan selalu berusaha menjagamu, berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Satu-satunya kesalahanku adalah meninggalkanmu malam itu.” Ucap Mingyu sambil mengusap pipi putih chubby itu. “Tapi disatu titik aku bersyukur, karena itu kau bisa menemukan orang yang bisa menjagamu sama sepertiku. Kau memang anak kecil bagiku Rin, tapi kau bukan bayi. Orang tua harus mengajari anak mereka untuk berteman agar anaknya bisa melewati harinya dengan baik disekolah, karena tidak setiap waktu orang tua bisa menemani anaknya. Terkadang seorang orang tua harus meninggalkan anaknya bermain dengan orang lain selagi mereka bekerja untuk masa depan anaknya. Ingatlah Rin meskipun orang tua anak kecil itu pergi meninggalkan anaknya dan membiarkannya bermain, mereka akan selalu mengawasi anaknya dan menjaganya dari kejauhan. Begitu pula aku kepadamu.” Jelas Mingyu sambil mengusap rambut Rin sayang.

Rin yang baru pertama kali mendengar alasan Mingyu itu hanya terdiam, lidahnya seakan kelu saat mengetahui fakta yang sesungguhnya. Selama ini Rin hanya berpikir bahwa Mingyu menjauhinya karena Mingyu ingin meningkatkan ekonomi keluarganya, Rin kira Mingyu melupakannya karena tenggelam dengan dunianya sebagai calon artis. Rin melupakan fakta bahwa kini Mingyu berubah lagi, Mingyu berubah menjadi kakak hangatnya lagi. Mingyu berubah setelah Rin mulai bisa benar-benar tidak tergantung lagi kepadanya.

“Terima kasih karena selalu menjagaku, terima kasih karena kau selalu memikirkanku, terima kasih karena kau selalu memikirkan hal terbaik untukku. aku sangat-sangat menyayangimu.” Kata Rin pelan setelah bisa mengontrol emosinya, air matanya meluber. Ia tidak menyangka Mingyu bisa memikirkannya hingga sejauh itu.

“Sama-sama Rin.” Jawab Mingyu sambil membawa Rin kedalam pelukkan hangatnya.

Tak sampai tiga detik dengan posisi itu, Rin terbangun. Wajahnya berubah tak nyaman seiring dengan tangannya yang memegangi perutnya. Mingyu yang melihat kejadian tersebut terlihat kaget, tidak seperti Rin yang cekatan mengambil beberapa butir obat di tasnya dan segera meminumnya. Lima menit setelahnya Rin kembali normal.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Mingyu sambil memegang pundak adiknya.

Rin hanya tersenyum, ia berusaha menormalkan dirinya setelah perutnya yang tiba-tiba sakit. ”Maag-ku kambuh sepertinya, tadi aku lupa makan. Sebaiknya kita kedalam untuk makan oppa.” Jawab Rin setenang mungkin. Ia memang sudah mempersiapkan jawaban ini setelah ia memutuskan untuk menutupinya dari Baekhyun, Mingyu, dan semua angggota keluarga angkatnya di Anyang. Rin ingat betul bahwa dokter mengatakan ia bisa terkena sakit perut yang mendadak setelah Rin bertanya mengapa dokter itu memberikan obat penghilang rasa sakit yang begitu banyak.

Rin menarik Mingyu masuk setelahnya, Rin benar-benar bersyukur karena obat penghilang rasa sakit itu bereaksi dengan cepat. Mingyu hanya mengikuti Rin dari belakang sambil menatap adiknya heran. Mingyu tahu ada yang disembunyikan adik tersayangnya itu.

***

“Mingyu, kau mau kemana sepagi ini?” Tanya Seungcheol hyung saat melihat memakai jaket dan topinya.

“Aku mau ke apartemen Rin sebentar. Aku ingin mencari tahu sesuatu.” Jawab Mingyu sambil berjalan ke rak sepatu, mengambil sepatu nike kesayangannya. Sepatu itu adalah kado pertama yang diberikan oleh Rin untuknya saat ia mendapatkan gaji pertamanya sebagai pekerja paruh waktu.

Seungcheol menangguk sambil menuangkan air putih ke gelas kacanya. “Hati-hati dijalan.” Pesannya sebelum Mingyu keluar.

“Tentu saja, hyung.” Jawab Mingyu kemudian.

Mingyu melangkah cepat menuju apartemen adiknya. Kakinya yang panjang memudahkannya untuk sampai dengan cepat ke apartemen adiknya tersebut. Ia segera memasukkan sandi apartemen itu dan segera masuk.

Langkah Mingyu langsung tertuju pada kamar milik Rin yang terlihat lenggang karena barang-barangnya ikut pergi bersama Rin. Mingyu segera membuka satu persatu lemari dan laci-laci Rin. Mingyu sangat yakin Rin pasti menyembunyikan sesuatu darinya kali ini mengenai tubuhnya.

Pencarian Mingyu langsung terhenti saat tangannya membuka laci meja belajar Rin yang paling bawah. Biasanya Rin menyimpan barang-barang yang tidak begitu penting di laci ini sehingga mungkin Rin lupa membawanya ikut pindah. Mata Mingyu langsung terfokus pada sebuah amplop cokelat dengan tulisan Seoul Hospital.

Mingyu segera membuka amplop tersebut, isinya adalah beberapa lampiran foto pemeriksaan dan hasil pemeriksaan lab yang terlampir disana. Mingyu tidak tertarik untuk melihat foto-foto itu karena Mingyu sama sekali tidak mengerti mengenai foto itu. Mingyu tertarik untuk membaca setiap tulisan lab yang ada disana. Mingyu menghela nafasnya berat, ia sama sekali tidak mengerti dengan tulisan disana.

Tangan Mingyu kemudian tertarik untuk mengambil ponsel pintarnya untuk mencari nomor teman lamanya yang bekerja sebagai dokter. Mingyu tidak bisa tenang karena menemukan sebuah amplop rumah sakit di meja belajar adiknya, ia sangat tahu benar bahwa Rin bukan tipe orang yang akan menyimpan hasil pemeriksaan dokter. Pasti ada sesuatu dibalik hasil pemeriksaan semua ini.

“Halo Kim Mingyu, tumben telepon.” Seorang wanita diseberang sana menyahuti Mingyu dengan ceria.

“Aku ingin meminta bantuanmu, Noona. ” Ucap Mingyu to the point.

“Ada apa? Kau tidak sedang sakit kan?” Kata wanita itu lagi, kali ini nada suaranya berubah khawatir karena selama ini Mingyu tidak pernah meminta bantuannya kecuali jika ada yang sakit atau cedera.

“Bukan aku yang sakit, adikku yang sakit.” Jawab Mingyu pasrah. Ia memandang kembali amplop cokelat itu.

“Adikmu yang mana? Rin atau Minseo?” Tanya wanita itu.

“Adik angkatku Rin, untuk lebih jelasnya aku akan membicarakannya saat kita bertemu. Kapan kau ada waktu noona?”

“Sore ini aku kosong.” Jawab wanita itu cepat.

“Baiklah aku tunggu di café dekat sini, namanya reason café. Nanti aku sms alamatnya.”

“Baiklah, sampai ketemu.”

“Oke, sampai ketemu.” Kata Mingyu kemudian mematikan teleponnya.

***

Sore itu Mingyu datang ke café itu lengkap dengan sebuah amplop cokelat hasil curiannya dari apartemen adikknya. Mingyu duduk di sebuah sofa cokelat yang terletak ditengah, tangan kananya sibuk memainkan ponsel pintarnya sedangkan tangan kiri Mingyu memegang sebuah ice Americano yang sesekali ia seruput.

“Halo Mingyu lama tidak bertemu.” Sapa wanita itu dari belakang membuat Mingyu menyelesaikan acara bermain ponselnya.

“Lama tidak bertemu dirimu juga, noona.” Jawab Mingyu hangat, ia memeluk pelan wanita itu sekedar untuk melepas rindu. Tapi, ingatlah Mingyu tidak ada hubungan apapun dengan wanita ini. Mereka anya sebatas teman lama.

“Jadi apa yang harus aku lakukan untuk membantumu?” Tanya wanita yang bernama Soobin itu sambil meminum jus mangga yang ia beli.

Mingyu menyerahkan amplop cokelat itu. “Bantu aku memahami tulisan disini. Setidaknya beritahu aku Rin sakit apa.”

Soobin mengambil amplop itu kemudian membukanya cepat. Tidak seperti Mingyu, Soobin mengambil foto-foto lab disana dan mengangkatnya ke udara, berusaha menerawang agar foto tersebut terlihat jelas. Setelah melihat foto-foto disana, Soobin kemudian mengambil kertas-kertas yang berisi tulisan-tulisan. Lima menit membaca, wajah Soobin yang terlihat biasa saja pada awalnya kini berubah menjadi khawatir. Ia memasukkan kemudian kertas dan foto itu kembali ke amplopnya setelah memahami semuanya.

“Jadi ada apa dengan Rin?” Tanya Mingyu penasaran. “Tidak ada masalah seirus kan?” Tanya Mingyu lagi setelah melihat perubahan mimik dari temannya itu.

“Apa Rin tidak bercerita mengenai apapun padamu tentang hasil pemeriksaan ini?” Soobin menatap Mingyu, setelah itu Soobin meruntuki dirinya yang menanyakan pertanyaan bodoh. Jika Rin menceritakannya mengapa Mingyu harus repot-repot menghubunginya.

“Tidak, ia tidak bercerita apapun. Tetapi, aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan dirinya. Ia sering merasa mual dan tidak bernafsu makan. Ia pernah mengatakan akan check up mengenai hal itu, tapi ia tak pernah mengatakan apapun mengenai hasilnya. Jadi, kurasa ini jawaban dari hasil check up-nya.” Jawab Mingyu sambil mengaduk-aduk minumannya.

Soobin tiba-tiba merasa tidak enak, sepertinya Rin punya alasan khusus hingga sampai menyembunyikan penyakitnya yang parah ini kepada Mingyu. Soobin menatap Mingyu bingung, disatu sisi ia ingin memberi tahu Mingyu, namun disisi lain ia takut untuk memberitahunya.

Noona, kenapa melamun? Adikku kenapa?” Tanya Mingyu lagi sambil mengibaskan tanganya di depan wajah Soobin.

“Setelah kuberi tahu semuanya, kuharap kau bisa mengontrol dirimu, Gyu.” Ucap Soobin kemudian, sambil menggenggam tangan Mingyu.

Mingyu menatap heran Soobin. “Kenapa jadi begitu serius, noona? Aku ingin menanyakan mengenai penyakit adikku, bukannya menyuruhmu untuk menyatakan perasaanmu padaku.” Kata Mingyu bercanda, hm… lebih tepatnya berusaha menenangkan dirinya.

“Aku seirus, Gyu.” Jawab Soobin lagi, tidak berniat untuk ikut masuk kedalam bercandaan Mingyu.

“Baiklah noona. Aku akan berusaha mengontrol diriku. Jadi, katakan Rin kenapa.” Mingyu menangguk kemudian, melepaskan genggaman Soobin ditangannya dan mengambil minumannya. Entah kenapa kerongkongannya terasa kering.

Soobin menunduk, ia selalu membenci keadaan seperti ini. Saat ia harus mengatakan hal buruk yang menimpa seseorang, ia selalu ikut merasa bersalah saat harus menyampaikan hal ini. Meskipun begitu, Soobin tahu ini adalah konsekuensinya sebagai dokter, apalagi seorang dokter ahli penyakit dalam.

“Rin terkena kanker lambung stadium akhir.” Ucap Soobin cepat, tidak berani menatap Mingyu dihadapannya.

“Tidak mungkin.” Jawab Mingyu tak kalah cepat. Ia terlampau kaget mendengar penyakit yang diidap Rin. Akal sehatnya entah mengapa berhenti bekerja, didalam kepalanya hanya ada penolakan mengenai fakta penyakit adiknya. Tangan Minyu bergetar hebat sehingga membuat minumannya digenggamnya jatuh kelantai.

“Maafkan aku, Gyu.” Ucap Soobin lagi dengan kepala menunduk, tak berani menatap temannya.

“Tidak mungkin…” ucap Mingyu lagi kali ini dengan suara pelan. Air matanya sudah tak terbendung lagi.

***

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s