[EXOFFI FREELANCE] Perfect Flaws – (Chapter 2)

Perfect Flaw Cover.png

Perfect Flaws

[Tiffany Blesse]

-Present-

Starring

Kim Jongin||Kim Jiwon a.k.a Eliza Kim|| Oh Sehun a.k.a Sehun Weinner||Soulhyun||Park Chanyol a.k.a Chanyeol Smith||Park Junghwa a.k.a Jeniver Park

Multi-Chapter

Romance||Friendship||Drama||Hurt||Sad||Dark||Family||Psycology||Angst

Blog Pribadi [http://tiffanyblesse.blogspot.com]

WARNING!

17+[for Harsh words and Hard scene]

Don’t be plagiarist!

[Manipulation age]

Cerita ini juga di publish di blog lain

Happy reading!!!

Kim Jiwon a.k.a Eliza Kim|| 23 y.o

Kim Jiwon.jpg

Kim Jongin || 24 y.o

kai.jpg

Oh Sehun a.k.a Sehun Weinner || 22 y.o

sehun.jpg

Park Chanyol a.k.a Chanyeol Smith || 25 y.o

chanyeol(1).png

Love

[Second]

Summary

Disaat cinta berbicara,maka kau akan tahu ketulusanku

“Apa kau sudah gila ?! kau hampir membunuhnya?!”ucap Junghwa dengan nada tinggi sembari menatap Ji Won kesal, tapi yang di tatap hanya duduk di kursi nomor dua rumah sakit sembari melipat kedua tangannya di depan dada, tubuhnya bersandar santai di sandaran kursi dingin rumah sakit, matanya terus saja menerawang kosong lurus ke depan tanpa memperdulikan ucapan Junghwa yang kini tengah mengerang frustasi akibat perbuatannya yang hampir saja membuat nyawa orang lain melayang begitu saja.

Junghwa mengacak rambutnya kasar hingga rambut panjang yang selalu tertata rapi itu terlihat berpindah dari tempatnya semula.

”Kau yang mengatakannya sendiri jika kau mencintainya? Lalu kenapa kau me-“ ucapannya terputus saat ia melihat Ji Won mendongak ke atas mulai menatapnya serius walaupun tatapan matanya masih saja sama, kosong.

“ Dia akan baik baik saja, aku yakin dia tidak akan mati semudah itu” ucapnya dengan yakin meski kini di pelupuk matanya bulir bulir bening itu sudah siap mengalir di paras dinginnya. Ya ,Junghwa tau itu, ia tahu sekuat apapun Ji Won menyembunyikan ke khawatiran yang begitu kuat mendera hatinya dia tidak akan mampu untuk mengelabui Junghwa.

Dan baru saja Junghwa ingin menenangkan Ji Won dengan mendudukkan dirinya di samping Ji Won, tiba tiba seorang perawat yang kini tengah memakai setelan baju biru dengan masker biru yang bertengger di hidungnya keluar dari ruang operasi hingga membuat mereka mengalihkan pandangannya ke arah perawat tersebut, dan di detik berikutnya Ji Won beranjak dari dinginya kursi rumah sakit lalu dengan cepat berjalan mendekati perawat tersebut dengan raut wajah cemas, Junghwa yang baru saja berhenti di samping kanan Ji Won  perlahan kedua tangannya memegang pundak Ji Won berusaha menenangkannya.

“ Apa dia baik baik saja suster?” ucapnya terhenti saat perawat itu mulai berlari pergi meninggalkan mereka dengan terburu buru tanpa menjawab pertanyaannya hingga membuat Ji Won semakin menunjukkan raut cemas akan keadaan Jongin di dalam ruang operasi yang sejak 3 jam lalu terus tertutup. Bahunya merosot dan nafasnya berhebus dengan sangat berat, tangan kanan Ji Won reflek mencengkram lengan Junghwa sebagai penopang tubuhnya, karena ia merasa jika tulang tulang kakinya tak mampu lagi menjalankan tugasnya. Dan di detik itu pula Junghwa merengkuh tubuh Ji Won dan mengelus punggung Ji Won agar ia bisa lebih tenang.

“ Kenapa dia sangat senang di dalam sana? kenapa ia tidak ingin cepat keluar dan menemuiku?” ucapnya lirih dengan suara parau yang masih terdengar jelas di indra pendengaran Junghwa.

“ Ji Won …tenanglah ”ucap Junghwa berusaha menenangkan Ji Won yang mulai meracau tidak jelas.

“Aku hanya menginginkan dia diam, dan dia membuatku melakukan sesuatu yang tidak ingin aku lakukan padanya” Aku nya pada Junghwa yang masih saja memeluk dan mengelus punggung Ji Won , ia masih berusaha menenangkan Ji Won meskipun tidak dapat di pungkiri bahwa dirinya juga merasakan kekhawatiran yang sama seperti Ji Won. Ia takut jika Jongin akan mati karena perilaku bodoh sahabatnya itu, ia bahkan tidak menyangka setelah hampir enam tahun untuk membuat Ji Won sembuh, tapi dengan perbuatan Ji Won yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya akan terjadi, membuat usahanya selama ini sia sia dan ia harus kembali menyembuhkan Ji Won dari nol.

Racauannya terhenti kala indera pendengarannya menangkap suara bising dari roda yang menggelinding cepat dan sekejap pula box itu hilang bersama perawat di balik pintu ruang operasi membuat Ji Won melepaskan pelukan Junghwa dan dengan perlahan ia menyeret kaki jenjangnya menuju pintu ruang operasi yang telah tertutup kembali, pancaran matanya masih saja kosong sama seperti berjam jam lalu.

Disisi terdalam hati Ji Won ia merasa sangat hancur, ia bahkan tak dapat merasakan apa apa kecuali rasa sakit yang sangat dalam,hingga ia merasa sebagian nyawanya kini telah lepas dari raganya.Ia sangat kacau,ia tidak bisa berfikir jernih kala hati dan otaknya saling beradu menguasai dirinya sekarang.

“Bodoh..! apa kau benar benar sangat bodoh Kim Ji Won ?!” pemilik suara bariton yang tak asing baginya tengah menghujatnya saat ini. Ya benar, dia Oh Sehun sahabat lelaki  Kim Ji Won . Mereka bersahabat sejak mereka duduk dibangku sekolah menengah atas hingga saat ini.

Ia baru saja datang dengan tergopoh gopoh karena mendengar berita dari Junghwa jika Ji Won hampir saja membunuh Jongin setelah beberapa jam ia menyeret Jongin dari Korea ke London. Dan apa yang dia temui saat ini adalah Ji Won yang sedang mematung di depan ruang operasi rumah sakit, bahkan ia tak bergerak sekalipun meski ia tengah memakinya.

Tangan kanan yang masih saja bergetar perlahan terulur menyentuh pintu besi ruang operasi itu, jemarinya mengusap lembut besi besar itu hingga hawa dingin menyeruak menelusup pori pori epidermisnya, dengan tatapan kosong yang masih sama, seolah cahaya kehidupannya hilang di telan waktu yanng semakin lama menikam dirinya hingga belah belah nurani remuk redam. Dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri, apa yang terjadi dengannya saat ini? Hati dan pikirannya seolah tak mengizinkan dirinya mencari jalan tengah atas perang yang tengah berkecamuk dalam dirinya sendiri.

Bukankah harusnya ia merasa sangat senang jika lelaki itu tengah terkapar tak berdaya seperti itu? bukankah itu tujuan awal ia menyeretnya ke London?, bukankah ini berjalan sesuai rencananya? Menghancurkan Jongin hingga hampir sekarat di hadapannya dan membuat Jongin mencium kakinya meminta ampun karena keputus asaan yang begitu melanda jiwanya. Ataukah….

Pikiran pikiran itu terus saja berputar seperti kaset rusak yang terus membelenggu kuat hingga menyisakan ikatan ikatan yang memecah akal sehatnya, hingga derap langkah yang mengalun ke arahnya tak mampu membuat indera pendengarannya berfungsi.

Sebuah tangan kekar menyentuh lembut lengan kirinya dan menariknya di detik kemudian. Lelaki itu merengkuh tubuh kurusnya dalam dekapan hangat yang akan membawa kedamaian untuknya saat ini, Sehun meyelipkan kepalanya di sela sela surai kecoklatan milik Ji Won, merapatkan tubuhnya denga Ji Won hingga ia tak mau melepaskan barang sedikitpun, menumpukan dagunya di pundak Ji Won yang bergetar. Meskipun ke dua tangan Ji Won masih bertahan terjuntai di samping tubuhnya tapi ia cukup bahagia dengan rasa sakit yag terselip dalam di balik belah belah nurani yang terbuka hingga luka itu semakin nyata untuknya, ya , ia bahagia dapat menyentuh wanita itu, mencium aroma mawar yang seakan menjadi candu baginya dan memberikan Jiwon sedikit kedamaian.

Perlahan ia mengangkat kepalanya dan membisikkan sesuatu tepat di indra pedengaran wanita itu “ Tenanglah Ji Won , dia akan baik baik saja, percayalah padaku” ucap Sehun sembari mengelus lembut punggung Ji Won berusaha memberi ketenangan kembali.

“ Dia akan membutuhkanku Sehun, dia tidak akan meninggalkanku karena Jongin mencintaiku, benarkan Sehun?” racau Ji Won lagi yang hanya di balas dengan hembusan nafas panjang dari Sehun.

Ia memejamkan mata lamat lamat saat ucapnya direspon baik oleh wanita yang kini masih enggan beranjak dari rengkuhannya, tapi respon itu menambah luka yang amat perih disana, walaupun ia berusaha menjadi seseorang yang selalu berada di sampingnya, menjadi seseorang yang akan menjadi pelindung pertama saat dia dalam bahaya sekalipun, ia tetaplah lelaki yang hanya Ji Won anggap sebagai sahabatnya dan bukan sebagai lelakinya. Ia tak akan mampu menggeser lelaki brengsek yang telah membuat Ji Won menjadi wanita yang menyedihkan seperti ini dari hati Ji Won.

Tiba tiba suara knop pintu yang terbuka menyeruak dari dinding ruang operasi itu sontak melepaskan tautan Ji Won dari rengkuhan hangat seorang Oh Sehun, expresi datar yang terpetak jelas di paras putihnya berubah menjadi raut gusar, kedua hazel hangatnya beralih pada sosok yang baru saja menyembulkan wajahnya dari balik pintu, perlahan ia menarik masker yang masih saja bertengger di hidung mancungnya dan menarik nafas panjang kala ia menemukan manik Ji Won yang tengah gusar saat menatap manik hijaunya.

” A..apa dia baik baik saja dokter?” ucap Ji Won terbata saat ia lihat wajah yang kini telah berada di hadapannya itu menunjukkan kegelisahan

”Pasien kehilangan banyak darah, dan kami telah kehabisan darah golongan A, apakah di antara kalian yang memiliki golongan darah A ? pasien harus segera mendapatkannya, kalau tidak nyawanya tidak dapat terselamatkan” jelas dokter Albert dengan nada yang sangat serius di dalamnya

” Aku, aku dokter,aku akan mendonorkan darahku untuknya” ucap Ji Won.

Setelah mendengar itu, dokter Albert menyuruh salah satu perawat untuk segera mengambil darah Ji Won agar tidak membuang banyak waktu yang akan membuat kondisi pasien semakin melemah.

“ mari nona ikut saya “ titah perawat itu pada Ji Won agar ia mengikuti langkahnya, perlahan Ji Won melangkah pergi, tapi kaki jenjangnya berhenti setelah ia mengambil dua langkah pertama , ia memutar tubuh rampingnya kebelakang, maniknya kini menatap dua orang sahabatnya yang kini masih berdiri mematung

“ Sudah kukatakan bukan, dia membutuhkanku, Jongin membutuhkanku untuk hidup” ucap Ji Won sebelum ia benar benar melenggang pergi meninggalkan Sehun dan Junghwa yang masih mencoba mencerna perkataan Ji Won barusan, dan sebuah senyum yang ia sunggingkan pada mereka tepat di akhir frasanya membuat Ji Won benar benar menjadi wanita yang telah memelihara obsesi cinta gilanya.

Di sisi lain Sehun tengah mengacak rambutnya frustasi, ia benar benar tak habis pikir tentang kelakuan Ji Won yang entah sejak kapan semakin memburuk, makhluk brengsek yang berada di dalam tubuh wanita itu seakan mengambil alih kendali dalam dirinya hingga Sehun tak mampu lagi mengenali wanita yang amat ia cintai. Sedangkan Junghwa perlahan mendekatkan tubuhnya ke arah kursi dan mendudukkan dirinya di atas kursi dingin itu, kepalanya tertunduk dan entah apa yang sedang ia pikirkan sekarang.

2 jam kemudian….

Setelah menunggu berjam jam akhirnya operasi yang di jalani Jongin berhasil, dan sekarang Jongin telah di pindahkan diruang rawat rumah sakit, dokter Albert juga mengatakan bahwa Jongin akan segera kembali pulih dalam beberapa hari kedepan, dan ia juga harus sering kontrol ke rumah sakit agar dokter Albert dapat memantau kesehatannya.

Tapi entah apa yang Ji Won pikirkan hingga ia memaksa dokter Albert agar Jongin bisa dirawat dirumah saja sebelum Jongin sadar setelah menjalankan operasi beberapa jam lalu , dan tuntutan itu membuat dokter Albert menyerah, hingga ia juga telah merekomandasikan dokter terbaik untuk merawat dan mengontrol kondisi Jongin apabila ia terpaksa harus menjalani perawatan di rumah. Dan keputusan bahwa Jongin harus di rawat di rumah adalah keputusan gila yang diambil Ji Won saat ini. Ia terlalu khawatir jikalau Jongin akan kabur dan pergi dari sisinya seperti tahun tahun lalu.

Ji Won yang baru saja keluar dari ruangan dokter Albert tiba tiba saja terhuyung jatuh membuat kedua tangannya lantas mencengkram erat kursi yang berada di depannya,ia merasakan pening yang amat mendera kepalanya hingga perlahan penglihatannya semakin buram

“ Kau tidak apa apa Ji Won?” samar samar suara bariton itu mulai menelisik indera pendengarannya,serta rengkuhan dari tangan kekar yang kini menyentuh pundaknya, Ji Won berusaha memalingkan wajahnya kearah sumber suara tapi tiba tiba saja semuanya telah menjadi gelap.

-o0o-

“ Kau sudah bangun?” lamat lamat suara itu terdengar di indra pendengaran Ji Won saat kedua kelopak matanya perlahan mulai terbuka. Maniknya berpencar menelisik ke berbagai arah, memastikan dimana dirinya berada sekarang, tapi hanya ruangan serba putih yang mendominasi ruangan ini, dan kini indra penciumannya mencium aroma khas obat obatan.

“ Apa kau baik baik saja ? bagaimana keadaanmu sekarang?” ucap seorang lelaki yang sontak membuat Ji Won memalingkan wajahnya ke arah kiri hingga ia mendapati paras Sehun yang menampakkan raut gelisah.Lelaki itu duduk di samping ranjang rumah sakit ini dengan pakaian yang sama semenjak beberapa jam lalu, pakaian itu terlihat sangat lusuh dengan lengan kemeja biru yang telah di gulung hingga batas lengan dan dua kancing yang telah terbuka.

“Apa kau baik baik saja eoh?” ucapnya mencoba menerka pikiran Ji Won lewat hazelnya yang terlihat sangat lelah. Dan pertanyaan itu hanya di tanggapi dengan sebuah anggukan pelan dan senyuman tipis di  sudut bibirnya.

“ Kenapa kau tak makan setelah kau mendonorkan darahmu hah? Sekarang makanlah ! aku akan menyuapimu” ucap Sehun sembari mengambil semangkuk bubur dari nakas di samping ranjang dan menyendokkan bubur itu sampai memenuhi cekungan dan di detik kemudian ia menyodorkan sendok itu tepat di depan mulut Ji Won

“Sehun.. aku tidak mau makan ” bantah Ji Won, ia tetap menutup rapat bibirnya bersamaan dengan gelengan pelan.

“ Kau harus makan, lihatlah tubuhmu yang kurus itu! Cepatlah buka mulutmu! “

“ Tapi aku tidak lapar, aku sedang die..”

“Apa? Kau mau menyangkalku dengan mengatakan kau sedang diet? lihatlah dirimu baik baik! ,apa kau mau terlihat seperti tengkorak berjalan eoh?, Kau sangat rapuh dan mudah sakit, apa kau ingin setiap bulan menginap disini hah?” crocos Sehun tanpa henti, yang entah kenapa terlihat lucu dan terdengar sangat berisik secara bersamaan dimata Ji Won.

“ Aku baik baik saja Sehun, kau berlebihan” tegas Ji Won

“ Apa? Berlebihan katamu?! Baiklah, terserah kau mau makan atau tidak aku tidak akan peduli! “ Ucap Sehun kesal, ia segera menarik sedok dari depan mulut Ji Won dan meletakkannya kembali ke dalam mangkuk, dengan gerakan kasar ia meletakkan mangkuk itu di atas nakas putih di samping ranjang Ji Won.

“Hey.. apa kau marah padaku?” ucap Ji Won sembari menarik lengan kiri Sehun agar ia menatapnya.

Ya Tuhan…Apa Jiwon tidak lihat wajah Sehun bahkan sudah seperti kertas lipat yang telah di telipat sembarang akibat perkataannya? dan dia masih bertanya apa Sehun marah padanya? Hell yeah.

“ Tidak” ucap Sehun singkat.

Netra coklat Jiwon kini menelisik lelaki yang masih saja duduk disampingnya, menatap lamat lamat paras lelaki itu dengan jarak sedekat ini meskipun lelaki itu tetap saja mengacuhkannya. Ji Won mengernyitkan dahinya hingga kerutan samar terpetak jelas di keningnya, ia melepas tautan tangannya di lengan lelaki itu dan mendudukan dirinya di atas ranjang lalu melipat kedua tangannya di depan dada.

“ Lalu bagaimana denganmu? Lihatlah, apa pakaian itu masih cocok kau bilang pakaian kerja!?” ucap Ji Won sedikit kesal, bagaimana mungkin lelaki di hadapannya masih memakai pakaian yang ia kenakan sejak kemarin malam, kemeja itu sudah terlihat lusuh dengan dua kancing atas yang telah terbuka dan lengan kemeja itu sudah di gulung kasar hingga batas siku. Ia tahu benar sifat Sehun yang terkesan masa bodoh dengan penampilan hingga ia hanya menggunakan kemeja dan celana jeans di balut sneakers hitam, lucunya ia menyebut pakaian itu sebagai pakaian kerja, yang benar saja.

“Kenapa dengan pakaianku? Ini seperti biasa, tidak ada yang salah dengan pakaianku?” protes Sehun sembari melihat dirinya sendiri memastikan bahwa memang tidak ada yang salah dengan dirinya.

Perlahan tangan kiri Ji Won menarik lengan kanan Sehun dan merapikan lengan kemeja panjangnya hingga tergulung lebih rapi daripada sebelumnya, Disisi lain Sehun mengalihkan pandangannya yang beberapa detik lalu ke arah lengannya kini ia menatap wanita yang tengah duduk di depannya, lamat lamat ia terus saja memperhatikan paras manis wanita itu, mata coklat yang kosong, hidung dan bibir yang masih menyunggingkan senyum, hingga ia sendiri tak sadar jika ke dua sudut bibirnya terangkat membuat senyuman tipis di wajah datarnya.

“ Sehun ..”

“ Hem….” hanya deheman kecil ia utarakan guna menjawab panggilan dari wanita yang kini masih saja sibuk merapikan lipatan kemejanya, bukan karena malas menjawab pertanyaannya, tapi ia masih ingin menikmati pemandangan indah di depan matanya.

“ Dimana Junghwa? Kenapa bukan dia yang menemaniku disini? Bukankah kau harus berangkat bekerja sekarang?” crocos Ji Won setelah selesai merapikan lengan kemeja Sehun, lalu Ji Won  menatap netra Sehun yang sejak tadi tak berhenti memperhatikan gerak gerik wanita itu

“ Junghwa pergi ke rumah sakit, dia bilang ada pasien baru yang harus ia tangani dan ia langsung pergi setelah menerima telepon dari rumah sakit” jelas Sehun tapi hanya di respon anggukan pelan dari Ji Won yang mengisayaratkan bahwa ia mengerti penjelasan dari Sehun.

Deringan telepon memecah keheningan yang sempat menguar di ruangan ini hingga membuat Ji Won dan Sehun mengalihkan pandangannya pada nakas putih yang berada disamping ranjangnya, segera Sehun menyerahkan handphone itu pada Ji Won karena panggilan itu tertuju padanya, Ji Won menerima handphone itu dan segera menggeser tombol hijau itu lalu menempelkan benda itu di daun telingannya.

“ Hello it’s me “

“……..”

“ Sure  thank you “

“………”

Hanya beberapa percakapan singkat yang terjadi antara Ji Won dan sesorang yang berada di seberang sana sebelum ia menutup panggilan itu, tapi Sehun tak mengetauhi perihal apa yang terjadi hingga ia melihat wajah Ji Won berubah, terpetak jelas kerutan samar di keningnya dan tatapan kosong ke arah pintu keluar. Apa ini ada hubungannya dengan Chanyeol? Entahlah, mendengar nama itu membuat hatinya sangat sakit, ia tidak ingin memikirkan lelaki brengsek yang telah melukai Ji Won hingga seperti saat ini.

“ Apa terjadi sesuatu? “Tanya Sehun hati- hati hingga wanita itu berjingkat kaget dan tersadar dari lamuanannya.

“ Ada kasus yang harus aku tangani, ini kasus pembunuhan Sehun” ucap Ji Won sembari meletakkan kembali ponsel itu di atas ranjangnya. Ji Won melihat Sehun yang kini tengah mengernyitkan dahinya setelah mendengar penuturan Ji Won.

“ Dan kau menerima kasus itu?” tanya Sehun penuh penekanan, ia menatap tajam netra coklat itu dengan kilatan amarah yang tecatak jelas di mata Sehun.

“ Tapi aku harus melakukannya, ini tugas ku Sehun “ ucap Ji Won dengan lirih tapi masih mampu menelusup gendang telingan Sehun. Bukan hak dia melarang apa yang harus atau tidak harus di lakukan Ji Won,apa lagi ini sangat terkait dengan pekerjaanya sebagai pengacara, ia hanya khawatir jika saat menjalankan tugas Ji Won akan terluka, karena kasus yang ia tangani kali ini bukan masalah bisnis atau perceraian seperti yang selama ini dia tangani semenjak ia memutuskan menetap di London, tapi kasus pembunuhan yang mungkin saja juga akan mengancam nyawanya sendiri. Dan ia tidak mau itu terjadi pada Ji Won , ia tak mau melihat Ji Won terluka lagi.

“ Batalkan saja, terimalah kasus lain selain pembunuhan, aku tak mau terjadi apa apa denganmu?” ucap Sehun tegas yang kini terkesan memerintah, dan kata kata itu di tujukan pada Ji Won yang masih mematung menatapnya.

“ Aku tidak bisa, ini pekerjaanku Sehun, apa kau lupa aku seorang jaksa dulu? Aku bisa menangani kasus ini ,dan aku berjanji akan baik baik saja, jangan terlalu khawatir Sehun” ucap Ji Won dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya berusaha meyakinkan Sehun bahwa ia bisa mnyelesaikan kasus ini dan ia akan tetap baik baik saja.

Sehun yang mendengar penuturan itu hanya mampu menutup matanya rapat rapat, meraup oksigen dan menghembuskan perlahan hingga sejenak ia merasa tenang saat amarah itu mulai merasukinya lagi. Jantungnya bergemuruh seiring rasa khawatir mendominasi relung hatinya saat ini,disisi lain ia takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada gadis itu, tapi disisi lain pula ia tak berhak untuk menghentikannya, selain ini adalah pekerjaannya ia juga bukan ayah atau suaminya karena Ji Won hanya menganggapnya sebagai sahabat. Ya, sahabat yang selalu berada disampingnya, itulah status sebenarnya seorang Oh Sehun dan ia sadar benar dengan kenyataaan itu.

Sehun membuka matanya perlahan hingga netra kembali menatap manik coklat milik Ji Won, tangannya perlahan terangkat dan mengelus lembut surai kecoklatan milik Ji Won yang kini ia biarkan tergerai begitu saja, ia merapikan tatanan surai itu dengan menyibakkan beberapa helai surai kecoklatan itu ke belakang telinga, senyuman tipis ia sunggingkan sebagai isyarat bahwa ia menyetujui permintaan Ji Won.

“ Kau ingin pulang sekarang?” ucap Sehun dengan tangan yang masih saja mengelus lembut surai kecoklatan milik Ji Won, ia berusaha mengubah obyek pembahasan yang menurutnya dapat membuat suasana semakin tegang dan akan membuat Ji Won semakin stress jika ia mendapat tekanan lagi, lebih baik ia menuruti permintaan Ji Won kali ini.

Pertanyaan itu hanya di balas dengan anggukan pelan oleh Ji Won hingga membuat senyum tipis Sehun berubah menjadi senyuman yang jauh mengembang

“ baiklah, aku akan mengurus administrasinya lalu kita pulang” ucap Sehun sembari bangkit dan beranjak dari kursi di samping ranjang Ji Won, perlahan tungkai itu menyeret langkahnya menjauh dari ranjang Ji Won dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.

Satu langkah

Dua langkah

Tiga langkah

“Sehun…” suara Ji Won kembali menelusup gendang telingannya sebelum ia sempat memutar knop pintu ruang rawat ini hingga ia menghentikan langkah kaki panjangnya, ia memutar kepalanya disusul tubuh kekarnya dan mengalihkan pandangannya dari knop pintu ke arah gadis yang masih duduk bersila di atas ranjang rumah sakit.

“ Apa ada hal lain yang kau butuhkan?” tanya Sehun dengan senyum yang terukir di akhir frasanya

“Apa Jongin bisa pulang bersamaku sekarang?Aku…aku mengkhawatirkanya” ucap Ji Won dengan hati hati, ia takut jika pertanyaannya akan menyinggung perasaan Sehun, ia hanya begitu mengkhawatirkan keadaan Jongin saat ini.Ia berusaha menatap netra milik Sehun tapi ia tidak berani, kepalanya terus tertunduk, bola matanya terus bergerak kesana kemari.

Disisi lain, senyum itu mulai menghilang dari wajah Sehun, hingga kali ini wajahnya benar benar datar dan aura dingin tengah mendominasinya,ia kembali merasakan sakit yang beberapa detik lalu telah menghilang dari hatinya, membuat Ji Won merutuki mulutnya karena tidak bisa dia ajak kompromi dan membaca situasi macam apa sekarang.

Perlahan Ji Won memberanikan diri mengangkat kepalanya dan mencoba menatap netra milik Sehun, wajahnya mulai memerah menahan amarah.” A…aku t..tidak bermaksud untu…”

“ Jongin bisa pulang bersamamu sekarang, aku akan mengurusi semua, istirahatlah! Aku akan segera kembali” Sesaat setelah menjawab pertanyaan dari Ji Won, Sehun segera berbalik dan membuka knop pintu putih itu, tapi tiba tiba suara Ji Won kembali menginstrupsinya

“ Sehun…”

Apa lagi sekarang? Aku mohon jangan katakan apa pun tentang Jongin lagi di hadapanku

Kali ini ia tidak menjawab panggilan Ji Won ataupun membalikkan tubuhnya menghadap gadis itu lagi, ia tetap berdiri di depan pintu yang hampir terbuka jika saja Ji Won tak memanggilnya.

“ Terima kasih Sehun” Sehun sama sekali tak merespon ucapan Ji Won, ia masih mematung di posisi yang sama, entahlah hari ini Sehun dalam keadaan mood yang sangat buruk, segera ia melangkahkan kaki panjangnya keluar dari ruang rawat Ji Won, hingga suara decitan kecil yang terdengar sesaat kemudian.

Disisi lain, Ji Won hanya mampu memandang punggung Sehun yang kini telah hilang di balik pintu, matanya mulai memanas dan kepalanya tertunduk, entahlah ia merasa menjadi wanita jahat yang telah melukai dua laki laki yang amat ia sayang,tetapi ego yang terlalu besar tetap saja mengalahkan hati nuraninya, meski hati itu tengah memberontak keras akan kelakuaan dirinya saat ini.

-o0o-

Terpaan angin musim gugur perlahan mencabiknya hingga membuat anak anak rambut itu terus bergerak gusar, terombang ambing seperti daun momiji yang terhenyak jatuh dari tangkainya dan tak tahu arah kemana takdir akan membawanya pergi. Matanya mengerjap perlahan mencoba menetralkan rasa perih di manik coklatnya akibat hembusan angin yang tak juga sudi memberinya alasan untuk tetap berdiri diatas balcon ini. Tubuhnya yang hanya terlapis dengan dress biru tipis tanpa jaket penghangat kini mulai membeku, bahkan bibir cherynya mulai berubah keunguaan.

“ Apa yang kau lakukan disini Jiwon? “ Suara Junghwa yang mulai menginstrupsi, membuatnya mengalihkan pandangannya dari hamparan lampu lampu London, hingga ia melihat Junghwa disampingnya.

“ Aku …hanya sedang berfikir, emmm……apa dokter telah memeriksa keadaan Jongin?” Jiwon mencoba membuka pembicaraan.

“Hem ….keadaannya masih sama saat dia berada di rumah sakit” Ucap Junghwa sembari memberikan secangkir coklat panas dan jaket tebal untuk membalut tubuh Jiwon yang kini hampir beku.” Masuklah …kau bisa saja mati beku jika tetap disini” ucap Junghwa yang hanya di jawab dengan anggukan lemah dari Jiwon setelah ia meneguk coklat panas itu beberapa kali.

“ Apa kau tidak ingin menemui Jongin? Apa kau tidak ingin memastikan sendiri keadaanya?” Junghwa mencoba membangun pembicaraan tentang Jongin lebih luas sekaligus membuat Jiwon beranjak dari balcon kamarnya, karena Jiwon akan tetap di sini jika ia tak berhasil membujuknya.

Jiwon kembali mengalihkan hazelnya menatap Juhwa yang masih berdiri disampingnya ”hem…kau benar, aku harus memastikan sendiri keadaannya.” Ucap Jiwon sembari beranjak pergi meninggalkan Junghwa yang kini hanya menatap sendu jejak Jiwon, ia tak habis pikir bagaimana bisa Jiwon kembali seperti Jiwon enam tahun lalu, bahkan keadaan Jiwon kini jauh lebih parah dari enam tahun lalu.

“ Apa dia baik baik saja ?” Sehun yang tiba tiba muncul membuat Junghwa kembali tersadar hingga manik matanya bersirobok dengan mata coklat Sehun, lelaki itu entah sejak kapan berdiri di sana , kedua tangannya ia sembunyikan di dalam saku celana jeansnya dengan tatapan yang sangat serius.

“ Maksudmu?” Junghwa kembali melontarkan pertanyaan kepada Sehun, ia belum mengerti kemana arah pembicaraan Sehun saat ini. “ Jiwon, apa dia baik baik saja ?” Sehun kembali mengulang pertanyaannya beberapa detik lalu, tapi sebuah gelengan pelan jauh lebih dari cukup sebagai jawaban untuknya, hingga hembusan nafas berat kini menguap bersama udara di sekitarnya, kepalanya tertunduk hingga manik matanya menatap ujung sepatu miliknya.

“ Aku tak menyangka keadaanya jauh lebih buruk dari enam tahun lalu” Juhwa melanjutkan frasanya yang tertinggal, perlahan ia berjalan mendekati Sehun yang masih saja berdiri di hadapannya, tangannya terulur menyentuh pundak Sehun untuk menyalurkan semangat.

“ Percayalah dia akan sembuh, dia pasti sembuh Sehun, aku yakin itu” ucap Junghwa sembari melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sehun yang masih mematung dengan hembusan nafas frustasinya.

“ Apa yang harus aku lakukan Tuhan ?” erangan frustasi semakin jelas saat tangan tak bersalah itu meninju dinding hingga buku buku tangannya mengeluarkan darah, nafasnya memburu saat kepalanya memutar kembali memori enam tahun lalu.

Pukul 07:00 London Time

Sinar matahari perlahan menembus celah celah jendela yang telah terbalut tirai putih yang menjulur kebawah , tapi angin tak henti hentinya mencoba menerobos hingga tirai itu bergerak gusar. Di atas ranjang dengan ukuran king size nya, terlihat seorang wanita tergolek lemas dan handuk kecil yang masih saja menempel di dahinya.

Perlahan wanita itu mencoba membuka matanya meskipun terasa amat berat, ia berusaha untuk bangun karena sinar matahari itu tak usai memcoba membangunkannya, hingga beberapa detik kemudian ia berhasil membuka matanya, manik coklat itu masih berpendar menelisik keseluruh ruangan hingga kesadarannya mulai kembali terkumpul. Jiwon mencoba bangkit dari tempat tidur tapi terhenti ketika sebuah haduk jatuh ke pangkuannya.

“ Kau sudah bangun?” tiba tiba suara khas yang amat ia kenal kembali menelesup gendang telingannya sebelum ia menerka tentang apa yang sebenaranya terjadi padanya. Sehun tengah berjalan menuju ranjang dengan membawa semangkuk bubur saat ia mendapati Jiwon sudah bangun

“ Hemm… kenapa aku bisa ada di kamar? Bukankah kemarin aku sedang ada di kamar Jongin?” suara serak khas orang baru bangun tidur itu kini mulai mendominasi pembicaraan. “ Kau demam tinggi dan aku menemukanmu pingsan di kamar Jongin” ucap Sehun sembari mendudukkan tubuhnya di pinggiran ranjang milik Jiwon.

“ Benarkah? Jadi semalam aku pingsan “ ucap Jiwon yang hanya di tanggapi Sehun dengan anggukan “ Sekarang makanlah dan minum obatmu !” titah Sehun yang langsung di turuti Jiwon, entahlah tiba tiba saja Jiwon menjadi gadis penurut saat Sehun memerintahkannya untuk makan, biasanya ia akan sangat sulit untuk makan bubur, karena Jiwon sama sekali tidak menyukai bubur kalau dia benar benar tidak di paksa untuk makan . Sehun mengulum senyumnya dengan sangat lebar saat ia mendapati Jiwon makan dengan lahap bubur buatannya.

“ Aku tahu aku sangat sexy setelah bangun tidur, kau tak perlu melihatku seperti itu“ ucap Jiwon dengan makanan yang masih penuh di dalam mulutnya, hingga membuat mata Sehun membulat sempurna

“ Apa? Wahhh …yang benar saja, lihatlah!! tubuhmu itu rata, lalu bagian mana yang terlihat sexy?” ucap Sehun tidak terima, yang benar saja ada gadis dengan kepercayaan diri penuh mengatakan dirinya sexy seperti itu padahal kenyataannya tidak sama sekali.

Tuk…

Kepalan tangan Jiwon yang sedari tadi memegang sendok kini telah melayang bebas kedahi Sehun, hingga menimbulkan ringisan tertahan dari empunya, Sehun mengusap kasar dahinya dengan telapak tangan kanannya “ Ya Oh Sehun! Kau bilang apa tadi ? kau menghinaku ? “ ucap Jiwon tidak terima, bagaimana mungkin pria di hadapannya mengatakan jika tubuhnya rata, padahal ia sudah berusaha membentuk badannya dari mulai gym, dan latihan taekwondo.

“ Memang benar tubuh mu rata, sudahlah cepatlah mandi! Aku akan mengantarkanmu kekantor hari ini, bukankah aku ini baik seperti malaikat?” Ucap Sehun dengan senyum yang mengembang lebar di wajah datarnya

“ Tumben sekeli kau tidak memaksaku istirahat ? Biasanya kau akan mengomel jika aku tetap berangkat bekerja saat aku baru sembuh?” tanya Jiwon asal

Sehun memutar bola matanya malas “ Aku tidak ingin bedebat dengan mu pagi ini, aku tahu kau pasti akan berkata ‘ aku harus profesional, Sehun’ bukankah kau selalu seperti itu?” Jawabnya santai.

“ Hemm..kau benar, tapi tunggu, kau bilang apa tadi? malaikat ? malaikat pantatmu !” ucap Jiwon sakartik sembari beranjak dari ranjang untuk segera membersihkan diri karena ia merasa tubuhnya sangat lengket.

[Flashback]

Kamar  Kim Jongin 22:00 London Time

Bunyi EKG terus saja menggema di seluruh ruangan saat pintu pembatas itu telah terbuka sempurna, berbaur bersama udara yang kini terperangkap dalam modern interior yang Jiwon mampu bangun dalam labirin labirin laranya. Pancaran coklatnya kini menatap lurus   hingga ia mendapati seorang pria tertidur sangat pulas meski banyak sekali kabel yang melilit tubuh lelaki itu , hingga membuatnya meringis ngeri

Apa kau benar benar kesakitan dengan itu semua Jongin ?

Pertanyaan itu terus saja berputar seperti kaset rusak yang hanya berputar pada detik yang sama, hingga menorehkan luka semakin dalam di dalam kenangannya, kaki jenjangnya yang semula hanya terdiam kini mulai berulah, hingga tanpa Jiwon sadari ia kini berada di samping ranjang Jongin, manik matanya bergerak gusar kesana kemari dan lapisan lapisan kaca itu seakan membendung penglihatannya, pancaran matanya sangat sendu saat dengan beraninya manik coklatnya menelisik paras lelaki yang kini tengah berada di hadapannya dengan tak berdaya.

Bagi Jiwon, Jongin sangatlah jauh dari pemahaman Jiwon, dimana ketika ia berusaha keras membangun jarak seminim mungkin, tetaplah Jongin sangatlah jauh darinya, Jiwon masih terlalu asing untuk pria Kim, ia terlihat nyata dengan mata telanjang tapi ia seperti bayangan yang tidak bisa ia sentuh dan sebentar lagi ia akan menghilang. Entahlah, mungkin takdir mempermainkannya lagi , atau mungkin takdir tengah menegaskan bahwa Jongin memang bukan seseorang yang Tuhan ciptakan untuknya.

“ Bagaimana mungkin kau membuatku sekacau ini Kim Jongin?” racauannya sungguh membuat Jiwon menertawakan dirinya sendiri hingga tanpa ia sadari lapisan lapisan kaca itu luruh menuruni lekuk paras cantiknya.

Kedua tangannya yang hanya ia biarkan menjuntai di samping tubuhnya perlahan mencengkram kedua bahu Jongin yang hingga kini masih saja tergelatak tak berdaya di atas ranjang ini, Jiwon mengguncangkan kedua bahu rapuh itu dengan tenaga yang tersisa di dalam tubuhnya.“Kenapa kau membuat ku menjadi seperti ini ? kenapa!!!!!? “ Air mata itu semakin deras membasahi paras putihnya , tubuhnya pun bergetar hebat “ harusnya dulu kau bersedia bersamaku, tapi kenapa kau meninggalkanku saat aku benar benar hancur dan membutuhkanmu, kenapa kau sama seperti yang lain? Seperti orang orang yang mengkhianatiku, orang orang yang menghinaku dan orang orang yang meninggalkanku, kenapa?” nafasnya memburu, pancaran matanya begitu kosong “Hah…??? kenapa ? jawab aku Kim Jonginl!!!” .

Tubuhnya bergetar hingga ia tak mampu lagi menompang tubuhnya, membuatnya kini terduduk di dinginnya lantai marmer, guncangan hebat di hatinya menambah beban berat yang selama ini ia tanggung sendirian, entahlah rasanya ia ingin mati tapi ia tidak boleh mati secepat itu, tidak, akalnya masih memaksanya untuk terus hidup meski takdir akan terus mempermainkannya, apakah ia berakhir bahagia atau tidak, ia tak ingin tahu. Ia hanya lelah, sangat lelah. Di saat semua hanya sebuah kepalsuan yang mampu ia terima, tidak, bahkan jauh lebih buruk dari ini. Iya, ini jauh lebih buruk saat dirimu sendirilah yang akan mengkhianatimu dan akan pergi kapanpun sesukanya. Jiwon memeluk lututnya, paras cantiknya tak lagi secantik beberapa menit yang lalu, jejak air mata masih melekat di paras cantiknya, surai kecoklatannya telah berantakan, ia terus menangis meski sakit di kepalanya semakin mendera, ia tak peduli. Hingga tiba tiba saja pandangannya menjadi kabur dan berubah menjadi gelap.

Pukul 07:00 London Time

Jiwon keluar dari kamar mandi setelah hampir satu jam ia membersihkan diri , entahlah, ia hanya merasa sangat nyaman jika berada di kamar mandi sangat lama. Ia berjalan menuju walking closet dengan tangan yang masih sibuk mengeringkan rambutnya, sejenak ia berhenti pada satu almari besar miliknya, membukanya perlahan lalu memilih pakaian kerja mana yang harus ia kenakan untuk ke kantor hari ini. Senyumannya merekah saat ia mendapatkan pakaian yang ia mau, ia mengambil setelan pakaian kantor dengan warna hitam putih dari dalam almari kemudian menutupnya kembali.

Ia menatap pantulan dirinya di sebuah cermin yang berdiri tidak jauh darinya berada, pakaian itu sungguh pas melekat di tubuhnya membuat Jiwon terlihat seperti independent woman sejati, tak lupa ia meraih heels di rak heelsnya lalu memilih memakai heels yang tidak terlalu tinggi dan bersiap memoleskan make up tipis di paras cantiknya, beberapa menit kemudian make up nude itu telah terpoles rapi di paras cantiknya , segera ia mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang masih basah.

“ Noona ! apa kau sudah siap? “Teriak Sehun yang kini tengah meregangkan tubuhnya di atas ranjang Jiwon sembari menunggu Jiwon selesai berpakaian.

“Sebentar lagi !” balas Jiwon kemudian. Jiwon segera meraih tas dan Alexsandre Christinya yang masih tergelatak di salah satu laci coklat bersama koleksi jam tangan lainnya lalu bergegas keluar dari walking closetnya, Jiwon hampir terlonjak kaget saat melihat Sehun tengah merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya.

“ Apa yang kau lakukan? Kenapa kau tidak bersiap siap bekerja ?” Ucap Jiwon sembari berjalan mendekat kearah Sehun yang kini masih terlentang diatas ranjangnya.

“Menunggumu, apalagi? Lagipula aku sudah siap pergi ke kantor, bukankah aku berpakaiaan seperti ini jika aku ke kantor sekalipun ?” ucap Sehun sembari memutar bola matanya malas.

“ Bukankah kau akan pergi ke Manhattan hari ini untuk bertemu para pemegang saham? Kenapa pakaianmu seperti ini?” Ucap Jiwon kesal, bagaimana mungkin ia tidak kesal melihat Sehun yang tidak bisa membedakan pakaian untuk acara penting atau tidak.

Sehun melirik Rolex yang melingkar memastikan pukul berapa sekarang” satu jam lagi aku akan berangkat ke sana “ ucap Sehun setelah memastikan ia tidak akan terlambat untuk menghadiri rapat itu,” Bagaimana kau tahu aku akan pergi ke Manhattan hari ini? “ tanya Sehun dengan tetap menatap langit langit kamar Jiwon

“ Aku melihat pesan di ponselmu saat kau sedang mengurusi administrasi di rumah sakit “ ucap Jiwon sembari berjalan menuju walking closetnya kembali, dan masih dalam posisi yang sama, Sehun masih saja merebahkan dirinya di atas ranjang Jiwon, pikirannya terus saja melayang pada kejadian kemarin malam saat ia menemukan Jiwon tergelatak tak sadarkan diri disamping ranjang Jongin membuat hatinya teriris. Ia benar benar tidak memahami Jiwon meskipun ia berusaha selalu berada di sampingnya untuk menjaga dan melindunginya.

Suara pintu yang terbuka tidak membuatnya terbangun dari lamunannya hingga sebuah suara berhasil menelusup di gendang telinganya .

“Sehun, buka bajumu sekarang !” ucap Jiwon yang berhasil membuatnya bangkit dan menatap wanita yang kini tengah berjalan menuju ke arahnya sekarang dengan tatapan tak percaya.

“ Ya…noona, apa kau tidak sabar untuk menunggu malam tiba eoh? Ayolah noona, ini masih pagi dan aku harus berangkat bekerja, tapi….. tidak apa apa jika kau mengingin…” sebelum ucapan Sehun selesai Jiwon memotong silabel Sehun yang sudah berada di ujung lidahnya “ ya Oh Sehun! Apa yang sedang kau pikirkan ha!? Pakai tuxedo ini!, aku akan menunggumu di luar . Dasar mesum !!!”ucap Jiwon sembari melemparkan tuxedo hitam ke arah Sehun dan bergegas meninggalkan kamar, sedangkan Sehun hanya tersenyum simpul setelah berhasil mengerjai Jiwon hingga wajahnya berubah merah padam.

Kamar Kim Jongin 07:05 London Time

Suara EKG masih saja mendominasi saat ruang itu kembali Jiwon buka, manik coklatnya masih menerawang pada tubuh yang masih saja terbaring lemah dihadapannya,perlahan kaki jenjangnya melangkah mendekat. Di tatapnya pria Kim itu dengan tatapan sendu, ingin sekali ia mengucapkan selamat pagi untuk pria yang kini masih terbaring lemah, tapi kata kata itu hanya tertahan di ujung lidahnya, ia tak mampu mengucapkannya, sungguh, entah kenapa.

Pancaran coklatnya masih saja menelisik paras tampan pria Kim, ia mencoba merangkai kembali silabel yang beberapa detik lalu hanya tertahan di ujung lidahnya,tapi nihil, tak ada satu frasa pun yang terucap dari bibir cherynya. Hingga didetik kemudian tanpa ia sadari tangannya mulai berulah dengan mengenggam tangan Jongin yang kini masih terlilit beberapa kabel di tangannya, ia mengelus tangan itu dengan ibu jarinya lembut seakan ia sangat takut jika Jongin akan lebih tersakiti jika ia menyentuhnya dengan kasar, pancaran mata kosong itu terus saja menatap paras tampan Jongin, ia tak melihat mata nyalang yang menatap benci dirinya, menatap rendah dirinya.Tidak, ia tidak melihat itu lagi kali ini, ia hanya melihat jika Jongin sedang tidur dengan sangat damai.

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Empat detik

Tepat di detik kelima, Jiwon tersadar dari lamunannya hingga ia menghempaskan genggamannya dengan cukup keras, membuat tangan Jongin sedikit terhenyak di atas ranjangnya. Disisi lain, Jiwon hanya menggeleng pelan, matanya bergerak gusar saat ia melihat tangan kanannya yang dengan berani menggengam tangan milik Jongin.

” Tidak, aku tidak boleh menyentuhmu Jongin, tidak “ suara itu begitu lirih dan bergetar saat ia berusaha mengucapkan kalimat itu, kini kaki jenjangnya perlahan bergerak mundur menjauhi ranjang Jongin hingga punggungnya menabrak pintu coklat ruangan itu, ia menggigit bibir bawahnya menahan isakan yang akan keluar dari mulutnya, sedangkan tangan kanannya beralih menepuk dadanya yang kini mulai sesak.

“ Noona! Kita harus berangkat sekarang” suara bariton milik Sehun yang tiba tiba menelusup gendang telingannya membuat Jiwon terperanjat kaget, segera ia menghapus jejak jejak air mata itu kasar dengan kedua punggung tangannya dan segera beranjak keluar dari kamar Jongin.

Sehun yang kini telah siap dengan tuxedo hitamnya tampak terlihat tampan dan gagah, kesan manly jelas ketara saat Jiwon baru saja keluar dari kamar Jongin, Sehun tengah berdiri di ruang tamu menunggu Jiwon yang entah pergi kemana, tangan kirinya ia biarkan bersembunyi di saku celananya sedangkan tangan kanannya memegang kunci mobil, karena hari ini ia sendiri yang akan mengendarai Ferary putihnya.

Sehun menolehkan kepalanya kebelakang saat gendang telinganya mendengar heels yang beradu dengan lantai, berirama teratur meski menimbulkan suara yang cukup nyaring.

“ Kau dari mana saja noo…” silabel itu terputus saat ia melihat Jiwon berjalan kearahnya dengan senyum yang mengembang di kedua sudut bibirnya, tapi bukan itu yang membuat Sehun menghentikan ucapannya, tapi saat ia melihat jejak air mata di sudut mata dan pipi pualam milik Jiwon. Sehun ingin sekali berjalan ke arah Jiwon, memberikan pelukan yang menenangkan dan bertanya apa yang membuat Jiwon menangis, tapi pertanyaan itu hanya tertahan di ujung lidah hingga ia mendapati Jiwon telah berdiri di hadapannya dengan senyum yang merekah di paras cantiknya.

“ Wah… kau terlihat sangat tampan Sehun, lihatlah dirimu…..kau harus memakai pakaian seperti ini ketika bekerja, kau tahu?, pasti wanita wanita diluar sana akan tergila gila padamu” ucap Jiwon dengan nada kebahagiaan didalamnya, Ia juga mengulas senyum yang sangat lebar di akhir frasanya, sejenak ia meneliti pakaian Sehun, hingga kerutan tipis terpetak di keningnya,

“ Tunggu, aku akan memperbaiki dasimu” sambung Jiwon yang dengan segera mendekat kearah Sehun untuk memperbaiki dasi yang Sehun kenakan, dengan cekatan Jiwon menyimpulkan dasi hitam itu dengan jari jari lentiknya.

Disaat Jiwon mencoba memperbaiki dasinya, Sehun hanya menatap Jiwon dengan tatapan yang sangat sulit diartikan, ia menelisik setiap inchi wajah Jiwon yang kini berada begitu dekat dengan dirinya, mengamati jejak jejak air mata yang Jiwon hapus dengan kasar hingga suara Jiwon menginstrupsi dan memenuhi pendengarannya

“ Kau seharusnya segera menikah Sehun, agar ada yang mengurusi kebutuhanmu seperti memakaikan dasi seperti ini “ tutur Jiwon dengan senyum yang masih saja mengembang di paras cantiknya, di detik kemudian ia menghembuskan nafas lega setelah menyimpulkan dasi itu dengan begitu rapi. “ selesai “ ucap Jiwon sembari mengalihkan pandangannya ke arah pancaran mata coklat milik Sehun yang kini di sambut dengan senyuman tipis oleh Sehun.

Kini manik mata coklat mereka saling beradu, hingga didetik kelima, Sehun merengkuh tubuh rapuh Jiwon ke dalam dekapan hangatnya, ia melingkarkan tangan kirinya di pinggang ramping Jiwon sedangkan tangan kanannya terbenam dihelaian helain surai kecoklatan milik Jiwon, ia menompangkan dagunya diatas bahu Jiwon dan semakin mengeratkan pelukannya, aroma musk Sehun yang begitu kental kini menyeruak dalam di indera penciuman Jiwon

“ Aku akan menikah setelah kau menikah, dan memastikan jika kau akan bahagia hidup bersama orang  yang kau cintai “ ucap Sehun tepat di telinga kanan Jiwon dengan sebuah senyuman tipis di akhir frasanya.

Disisi lain, tubuh Jiwon seakan membeku dengan perlakuan Sehun yang tiba tiba memeluknya, ditambah lagi perkataan Sehun yang begitu terdengar jelas di telinganya membuat hatinya berkecamuk, apakah kata kata itu membuatnya senang atau kata kata itu membuat dirinya semakin merasa bersalah pada Sehun, selama ini Sehun selalu begitu baik padanya, menjaganya,menghiburnya, dan menjadi sandaran ketika ia benar benar hancur dan ingin mati, Sehun selalu memberikan semua yang terbaik untuk dirinya. Tapi kenapa ia tak mampu untuk sekedar membalas kebaikan Sehun dengan menerima perasaan Sehun untuknya, kenapa ia tidak bisa? Kenapa?.

Matanya kini semakin memanas hingga bulir bulir bening itu kembali menyelami lekuk paras cantiknya, ia mencoba menahan isakkannya dengan mengigit bibir bawahnya “ maaf……maafkan aku Sehun” tanpa ia sadari kata kata itu terlontar dari bibir cherynya hingga membuat Sehun semakin mengeratkan rengkuhannya.

To Be Continue….

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s