[EXOFFI FREELANCE] Unneeded (Chapter 3)

UNNEEDED

written by:

Shiraayuki

main cast:

EXO’s Park Chanyeol with Red Velvet’s Son Seungwan

other casts:

AOA’s Seolhyun and Oc

genre:

School life, romance, funny, AU, etc.

length:

Multichapter

Rating:

Teen

DISCLAIMER

Real from author’s imagination. Hope you like this story, happy reading<3

.

.

Aku tak biasa, bila ada kau disisiku,”

Author’s side

“Kau tidak apa-apa?” sadar akan sesuatu, Seungwan refleks menendang sosok yang tadinya berjongkok di depan kakinya.

Bugh!

“Argh..” ringis pria itu pelan, Wendy terkesiap. Matanya dan mulutnya terbuka lebar akibat ulahnya barusan.

Astaga! Apa yang baru saja aku lakukan?!” batinnya merutuk, dengan langkah takut-takut serta kepala menunduk dia mendekati sosok yang baru saja dia tendang cukup kuat sehingga tubuhnya menghantam lantai.

“Ka-kau ba-baik sa-saja, su-sunbae?” Seungwan menelan ludahnya pelan, takut jika sebentar lagi dia akan menghadapi amukan pria yang notabene pria paling populer di sekolahnya itu.

“Hahaha.. aku baik-baik saja, lihat tidak ada yang lecet ‘kan?” tiba-tiba saja pria itu berdiri membuat Seungwan hampir saja terjungkal ke belakang.

Apa dia tidak marah?” batin Seungwan bertanya, lantas ditundukkannya kembali kepalanya agar sunbae-nya itu tidak bisa melihat wajahnya, lagipula menunduk adalah hobinya.

“Ma-maafkan aku, sunbae. I-itu ge-gerakan re-refleks,” ujar Seungwan dengan suara pelan, pria itu tersenyum tipis seraya menepuk celananya yang berdebu.

“Iya, tidak apa-apa. Aku kira rumor itu palsu ternyata memang benar,” pria itu terkekeh pelan, Seungwan hanya mengerutkan dahinya tak mengerti. Kedua tangannya menggenggam erat kedua tali ranselnya.

“Ada gadis yang mirip hantu di sekolah, hahaha..” Seungwan mencelos, ledekan itu terasa sangat sakit jika diucapkan oleh pria setampan sunbae ini.

“A-aku ti-tidak pe-pernah de-dengar ru-rumor i-i-tu, su-sunbae,” kata-kata Seungwan membuat perpustakaan yang suasanya sudah mencekam semakin mencekam.

“Kau gagap karena ada pria tampan di dekatmu atau memang sudah dari sananya?” tanya pria itu seraya berusaha mensejajarkan wajahnya dengan wajah Seungwan.

“E-e-eh? I-i-itu…” Seungwan berusaha menjauh dari pria itu, membuat pria itu terkekeh lagi.

“Tidak usah dijawab, aku sudah tahu jawabannya,” Seungwan hanya menggigit bibir bawahnya dan semakin menundukkan kepalanya.

“A-aku pu-pulang du-duluan, su-su-sunbae,” Seungwan segera melangkahkan kakinya dengan cepat, berusaha menjauh dari sana dalam waktu yang singkat.

Ah, aku bingung, aku ini sedang bahagia atau bagaimana?” Seungwan berargumen dengan pikirannya, dia tak sadar bahwa sunbae yang sudah dia tolong tadi memperhatikan kepergiannya.

“Dia manis,” dua kata itu lolos dari mulut pria itu beserta sebuah senyuman tipis dibibirnya.

Istirahat siang ini akan menjadi istirahat yang tenang seperti sebelum-sebelumnya jika Seungwan tidak bertemu dengan orang-orang ini. Meja Seungwan yang biasanya sepi kini menjadi ramai karena keberadaan Seolhyun dan antek-anteknya.

Sunbae, tidakkah kau merasa punya hutang maaf padaku?” suara Seolhyun membuat Seungwan keringat dingin, Seungwan lupa kalau semalam dia melakukan hal yang kurang pantas terhadap musuh tercintanya ini.

“Aku bisa saja melaporkanmu dan aku yakin keluargamu tidak akan mampu membayar ganti rugi yang akan aku minta,” ucap Seolhyun sombong, teman-temannya tertawa meremehkan melihat Seungwan yang hanya diam seraya menundukkan kepalanya seperti biasanya.

Sombong sekali, kau belum tahu saja siapa appa-ku,” ledek Seungwan di dalam hati, ingat, di dalam hati.

“Jadi, kau akan sujud dan minta maaf, atau aku laporkan ke pihak sekolah terlebih dahulu?” jika saja Seungwan punya nyali sudah dia bentak habis-habisan gadis di depannya ini.

“Ya Tuhan, kau ini manusia atau patung, hah? Dasar tidak tahu malu!” kali ini suara Seolhyun naik satu oktaf, kini mereka menjadi pusat perhatian seisi kantin.

Seolhyun merutuk karena dia baru saja merusak image-nya. Dia kemudian menatap seisi kantin lalu melemparkan senyumnya agar orang-orang tidak salah paham terhadapnya. Dan akibat senyumnya orang-orang yang berada di kantin kembali melanjutkan aktivitas mereka.

“Ish! Ini gara-gara kau! Kau benar-benar cari masalah denganku, ya? Kau iri karena aku yang jadi pemeran utamanya?” Seungwan meremas ujung roknya, dia sudah sangat emosi namun nyalinya tidak cukup.

“A-a-aku mi-mi-minta ma-ma-maaf, Seol-Seolhyun-ssi,” suara Seungwan yang pelan dan gagap itu membuat Seolhyun dan teman-temannya tertawa remeh.

“Hahaha.. usiamu berapa, hm? Kenapa bicara saja belum lulus?” ledek Seolhyun kemudian, tawa teman-temannya semakin meledak. Seolhyun bahkan sampai memegangi perutnya.

Gadis sialan! Nanti kalau aku sudah populer lihat saja pembalasanku,” rutuk Seungwan di dalam hatinya, lagi.

“Dan bagiku minta maaf saja tidak cukup, kau ha―”

“Minggir, aku mau duduk disini,”

Seungwan’s side

Tubuhku menegang sempurna, suara bass ini, siapa lagi pemiliknya kalau bukan Chanyeol.

Oppa, bukankah biasanya kau duduk disana?” suara Seolhyun kini nampak memelan, ternyata nyalinya ciut di hadapan pria tampan.

“Kalau aku mau duduk disini memangnya kenapa? Kau keberatan? Sudah sana, jauh-jauh dari sini. Kalau kau dan pembantu-pembantumu disini makanannya akan terasa pahit,” aku mengulum senyumku mendengar ledekan yang Chanyeol lontarkan kepada Seolhyun dan kawan-kawan.

Oppa kau yakin mau duduk bersama si―”

“Hush! Sudah sana pergi, aku eneg melihatmu dimana-mana,” cibiran Chanyeol itu benar-benar mengerikan, tapi aku malah senang mendengarnya berbicara seperti itu.

Setelah mendengus, Seolhyun dan pengikutnya segera pergi menjauh dari sini. Dan aku bisa merasakan bahwa kini Chanyeol sudah duduk dan mulai menikmati makanannya.

“A-anu, te-te-terima ka-ka-kasih,” aku berucap gagap seperti biasa dengan kepala menunduk dalam.

“Memangnya siapa yang berniat menolongmu?” aku menelan ludahku dengan susah payah dan wajahku memanas.

“Aku memang mau duduk disini, kebetulan kursi yang biasa aku duduki sudah ditempati orang lain,” suara Chanyeol terdengar sinis, tapi masa bodohlah, toh aku tetap cinta, hehe.

“Kau tidak makan?” aku menggeleng pelan kemudian dibalas dengan ‘oh’ oleh Chanyeol. Dia aslinya cuek seperti ini, ya?

“Kau harus melihat orang yang sedang berbicara denganmu,” aku hanya diam, aku sudah sering mendapat nasihat seperti itu. Tapi ini dari Chanyeol dan kesannya berbeda.

“Ma-ma-maaf,” aku hanya mengucapkan satu kata yang terputus-putus itu, ingin sekali rasanya aku mengangkat kepalaku lalu menatap mata Chanyeol sambil menikmati kesempurnaan wajahnya.

“Chanyeol, dia pacarmu?” suara lembut ini? God, aku belum siap menghadapinya lagi.

Chanyeol’s side

Sebenarnya aku heran kenapa gadis ini selalu menundukkan kepalanya. Berbicara saja dia gagap dan suaranya sangat pelan. Aku bahkan penasaran bagaimana wujud asli wajah gadis ini. Meski kami sudah pernah bicara berdua seperti ini sebelumnya di atap, aku belum pernah berhasil melihat wajahnya.

“Chanyeol, dia pacarmu?” aku menolehkan kepalaku dan mendapati si ‘nomor satu’ duduk di kursi kosong di sebelahku.

“Tidak, dia satu klub denganku, hyung,” jawabku kemudian, orang yang bertanya hanya mengangguk-angguk. Namun tiba-tiba perhatiannya beralih ke Seungwan. Tidak biasa.

“Kakimu sudah baikan?” aku bisa melihat gelagat pria di sampingku ini melalui ujung mataku. Sejak kapan dia peduli pada wanita? Bukankah dia paling anti dengan wanita?

“Su-su-sudah, su-su-sunbae,” gadis bernama Seungwan itu semakin menunduk, dia bahkan lebih gagap lagi saat kehadiran si ‘nomor satu’.

Apa jangan-jangan dia menyukai pria di sebelahku ini?

“A-a-aku du-du-duluan, ya, su-su-sunbae,” gadis itu berdiri lalu beranjak dari tempatnya. Lihat ‘kan? Dia bahkan hanya pamit pada si ‘nomor satu’ dan si ‘nomor dua’ yang tadi sudah membantunya diabaikan. Aku yakin, dia pasti memiliki perasaan terhadap sunbae ini.

Hey, Park Chanyeol,” aku menolehkan kepalaku ke arah sunbae yang tampan―tapi lebih tampan aku―ini.

“Iya, hyung?” aku menatapnya penasaran, entah kalimat apa yang akan dikatakannya padaku.

“Siapa namanya? Kalian seangkatan ‘kan?” aku memelototkan mataku, astaga si ‘nomor satu’ akhirnya tertarik pada wanita.

“Son Seungwan, dia anggota klub teater jadi aku tahu namanya,” jawabku kemudian, lagi-lagi pria yang duduk di sebelahku ini mengangguk-angguk tak jelas. Lantas aku memalingkan pandanganku darinya.

Aku menatap malas makan siangku. Ah.. entah kenapa selera makanku menghilang.

“Chanyeol,” aku bisa merasakan lenganku baru saja disikut oleh sunbae ini, aku menghela nafasku pelan, apa lagi sekarang?

“Apa lagi, hyung?” tanyaku dengan nada jengkel, dia hanya memasang cengiran innocent miliknya.

“Kau tidak memakan itu? Kalau tidak, biar aku saja yang makan, kebetulan aku sedang sangat lapar,”

“Ini, makan semua, hyung. Selamat menikmati!” aku menggeser nampan makanku ke hadapannya dengan sedikit kasar lalu pergi meninggalkan kantin.

Nah, nah, sekarang kenapa aku merasa ingin marah begini?

Seungwan’s side

Setelah memastikan aku tidak salah masuk kelas lagi, aku segera berjalan menuju kursiku dan segera duduk disana. Sempat aku memerhatikan seisi kelas yang keadaannya ramai dan ricuh karena tugas Lee-ssaem, guru ter-killer di sekolah ini akan dikumpul hari ini.

Dan sekarang aku berusaha mengatur deru nafasku dan cara kerja jantungku yang tak lagi sesuai proporsi. Bayangkan, dua pria tampan duduk di depan kalian! Nikmat Tuhan apalagi yang kau nistakan, hm?

Lantas aku menenggelamkan wajahku di kedua lenganku. Aku yakin wajahku pasti sangat merah sekarang, karena aku bisa merasakan panas menjalar di kedua pipiku. Ohh.. ini tidak baik, aku bahkan hampir lupa cara untuk bernafas!

Dibalik lenganku, aku tersenyum, senyum yang tidak pernah aku tunjukkan pada siapapun, ah.. lebih tepatnya tidak berani untuk memamerkannya.

Tuk!

Tubuhku menegang, seseorang mengetuk kepalaku. Astaga, apa sekarang keberadaanku sudah disadari? Siapa yang berani mengetuk kepalaku?

“Mungkin dia sedang tidur,” aku menelan salivaku pelan, aku kenal suara itu. Suara itu adalah milik Kang Seulgi anggota klub dance yang kemampuan dancenya sudah tidak perlu diragukan lagi. Jangan tanya kenapa aku mengenal suaranya karena aku diam-diam mengagumi gadis yang berbakat itu.

Asal kalian tahu, dia adalah gadis yang masuk dalam jajaran siswi yang memiliki body goals. Kalian harusnya disini dan melihat bagaimana indahnya bentuk tubuh gadis itu.

Tapi kenapa Seulgi mengetuk kepalaku?

Tuk!

Aku menggigit bibir bawahku, ternyata dia belum menyerah. Aku pun mengubah posisiku, berusaha sedikit mengangkat kepalaku, lagipula gadis ini bukan tipe orang yang suka pilih-pilih teman. Dia mau berteman dengan siapapun, jadi aku rasa aku tidak perlu takut padanya.

“I-iya, a-a-ada apa, Se-Seulgi-ssi?” aku bertanya seraya mengangkat sedikit kepalaku, wah ini kemajuan besar! Aku sudah tau caranya mengangkat kepala! Dan semoga dia tidak heran kenapa aku tahu dia yang mengetuk kepalaku padahal aku tidak melihatnya.

“Se-sejak ka-kapan namaku jadi Seulgi, huh?” oh tidak, jantung bekerja lebih cepat lagi. Kali ini mataku bahkan bertemu dengan bola mata coklat miliknya. Dia nampak menatapku dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Dan entah kenapa aku lupa caranya untuk menundukkan kepala.

“Cha-Cha-Chanyeol?”

Chanyeol’s side

Selepas aku meninggalkan kantin, aku segera berjalan menuju kelasku dengan perasaan jengkel. Lalu kenapa aku jengkel coba?

Aish! Masa bodohlah!

Aku akhirnya memutuskan untuk fokus berjalan, sesekali aku melempar senyum kepada adik-adik kelas yang malu-malu kucing saat melihatku. Aku tahu aku tampan.

“Eh, annyeonghaseyo, sonsaeng-nim,” aku menundukkan tubuhku singkat saat aku berpapasan dengan Na-ssaem, pembina klub teater.

“Iya, Chanyeol-ssi,” jawabnya seraya melempar senyum manisnya padaku, “Oh, Park Chanyeol, boleh aku minta tolong padamu?” aku memberhentikan langkahku dan memutar tubuhku sehingga aku dan Na-ssaem berhadapan.

“Pergilah ke kelas 11-A, temui Son Seungwan dan katakan padanya untuk menemuiku pulang sekolah nanti. Kau kenal Son Seungwan ‘kan?” aku mengangguk mengerti sekaligus menjawab pertanyaan Na-ssaem.

“Gadis yang suram itu ‘kan, ssaem?” ucapku sirat dengan ledekan, Na-ssaem terkekeh cukup kuat dan hal itu membuatku menatapnya heran.

“Iya, terserah kau mau memanggilnya apa, tapi asal kau tahu dia itu sangat cantik loh,” aku bergedik mendengar penuturan Na-ssaem, tidak mungkin gadis suram yang terlihat menyedihkan itu cantik, hei, lagipula aku belum melihat wajahnya bagaimana aku bisa tahu?

“Sudahlah, ssaem tidak usah mengada-ada,” aku mengibaskan tangan kananku di depan wajahku, sedangkan ssaem berambut pendek yang memiliki kemampuan akting yang luar biasa itu hanya tersenyum simpul.

“Terserah kau saja, hati-hati, nanti kau menyesal. Aku duluan, ya,” dia menepuk pundakku lalu kembali melangkahkan kakinya.

Aku hanya mengangkat kedua bahuku acuh, sulit untuk mempercayai perkataan ssaem itu sekarang. Son Seungwan itu cantik? Ada-ada saja.

Entah kenapa aku memutuskan untuk langsung ke kelas A untuk menemui gadis aneh dengan selera tinggi itu. Iya seleranya sangat tinggi, buktinya dia menyukai si ‘nomor satu’. Aku lebih suka memanggil sunbae tampan itu dengan sebutan itu daripada nama aslinya, lebih keren menurutku.

Tidak sampai sepuluh menit aku sudah sampai di kelas A. Aku memperhatikan seisi kelas nampak serius dengan aktivitasnya masing-masing. Ah, aku lupa ini kelas A, mereka tidak akan terkesan meski pria setampan dan sepopuler aku ini menginjakkan kaki di kelas mereka.

Seisi kelas nampak sibuk namun satu orang yang duduk di sudut dan duduk di dekat jendela―persis sama dengan posisi kursiku―malah asyik tidur dan tak peduli dengan sekelilingnya. Jangan bilang itu si ‘aneh’?

“Park Chanyeol? Sedang apa kau disini?” aku menolehkan kepalaku ke kanan dan mendapati sosok Seulgi dengan wajah penasarannya.

“Oh, Seulgi, aku ingin menemui seseorang tapi aku tidak tahu orangnya yang mana,” Seulgi lantas terkekeh pelan dan aku membalasnya dengan senyum hambar.

“Oh ayolah, bagaimana kau bisa menemuinya jika tidak tahu orangnya? Memangnya siapa namanya?” Tanya Seulgi.

“Namanya Son Seungwan,” jawabku cepat.

“Ahh.. Son Seungwan, tumben sekali ada yang mencarinya. Ayo, ikuti aku,” Seulgi masuk ke dalam kelas dan diikuti olehku lalu kami berhenti tepat di samping gadis yang tertidur itu.

Seulgi menunjuk gadis itu dengan jari telunjuknya dan aku mengangguk mengerti.

Tuk!

Aku mengetuk kepala Seungwan namun tidak ada respon. Seperti biasanya, Seungwan si patung aneh yang bergerak.

“Mungkin dia sedang tidur,” terka Seulgi, tapi aku tidak bisa mempercayainya. Aku rasa gadis ini pura-pura tidak peka saja.

Tuk!

Aku mengetuk kepalanya sekali lagi. Dan sekarang tubuh si suram mulai bergerak, dia mengangkat tubuhnya dan mulai mengangkat kepalanya meski dengan ragu-ragu.

“I-iya, a-a-ada apa, Se-Seulgi-ssi?” dia mengangkat kepalanya sedikit namun pandangan kami bertubrukkan.

Astaga, matanya indah sekali! Astaga, perkataan Na-ssaem benar! Na-ssaem tidak berbohong! Gadis suram ini benar-benar cantik! Ya ampun kenapa aku jadi berlebihan seperti ini? Kenapa dadaku jadi bergemuruh begini?

Chanyeol, aku tidak tahu ternyata kau ini alay. Cukup Chanyeol, kalau diperhatikan dia tidak terlalu cantik juga, kau saja yang berlebihan!

“Se-sejak ka-kapan namaku jadi Seulgi, huh?”

Dan sekarang aku mulai heran pada diriku sendiri. Dimana aku belajar berbicara terbata seperti ini?

  [to be continue]

cuit-cuit:

Ada yang rindu sama Seungwan atau aku? :3 wkwkwk

Ciee.. yang masih kepo sama si ‘nomor satu‘ 😀 Chapter depan bakal ketauan kok, jangan kaget. eh?

Iklan

10 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Unneeded (Chapter 3)

  1. wkwkwkw jadi wendy selama ini penampilannya benar benar kaya hantu 😀 rambut didepan semua wkwkwk astaga…

    siapa sih si nomor satu itu kayanya jg suka sma wendy hhhh so.. nanti biar si nomor satu buat cemburu sama si chanyeol wkwkwkw

  2. Huwaaaa…baru baca masaa😥😭😭
    Lagi ngestalk ff tiba tiba nemu ni ff klo udh update.. dan itu udh lama bangett… Yahh maapkan ketelatan anii inii😞😞

    Yaampun….ecie ciee cy udh kepikat sm wendy…wkwk😸 si ‘nomor satu’ juga… Hahaha.
    Eh btw no 1 itu siapa thor?? Member exo juga? Luhan? Buruan update lgi yaa thor…
    Yaudah lah yaa.. SEKIAN~~❤❤

  3. Siapa si ‘nomer satu’ thor? kepo banget aku..
    kayaknya bakal makin seru nih ceritanya..
    di tunggu next chapnya ya.. Fighting.. 🙂

  4. Ditunggu lanjutannya thor. Si ‘nomor satu’ sapa sih kepo dah:v. Kalo perkiraan gue kok suho yah😅kalo gak ya member suju. Pertama ngiranya sehun,tp baru sadar kalo sunbaenya mereka😪😂. Fighting thorr!!!

  5. hai author,kumuncul lagi *lambaikaki* /ditampol/ hehe. aku kangen syekali sma chanyeol(?) eh,sma seungwan 😀 :v pasti yg jadi ‘nomor satu’ yg itu kan? yg itu loh. hehe ditunggu yaa lanjutannye!! fighting author,,

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s