[EXOFFI Facebook] Good Bye All (Oneshot)

Good Bye All

Autor : Shin Rin Rin
Main Cast : Park Hera (OC).
Other Cast : Park Hara (OC), Park Chanyeol, Oh sehun, dll
Genre : sad, hurt and Family
BackSound : Good Day Bye (Yui Aragaki), Bye (Taeyeon SNSD)

Tidak menerima kritikan yang tidak bersifat membangun.

Tidak suka, jangan baca.

Tolong berikan kritik dan saran setelah membacanya.

DON’T COPAS

HAPPY READING
.
.
.
.
.

HERA PROV

.
.

Malam yang sejuk mengiringi kesepianku. Angin malam turut membelai lembut rambutku. Menemaniku yang tengah sendiri menatap indahnya bumi. Sebagai teman paling setia dikesendirianku dalam ketidakadilan ini.

“Oh Tuhan, kapan semuanya akan berubah?” tanyaku dalam pengharapan.

Tok tok tok

Tiba-tiba pintu kamarku diketuk dengan cukup pelan.

“pasti ahjuma jung.” Tebakku dan tersenyum

“iya, sebentar!” sahutku sembari berjalan dari serambi kamar.

“Maaf nona muda hera, waktunya makan malam. Yang lain sudah berkumpul dibawah.” Ucap Ahjuma Jung saat pintu kamarku terbuka.

“Baiklah ahjuma hera juga sudah sangat lapar” Candaku padanya.

Ahjuma Jung Eun Bi adalah seseorang yang merawatku sejak lahir. Bagiku, ia sudah seperti umma kandungku. Dirumahku, hanya Ahjuma Jung Eun Bi yang peduli dengan keadaanku. Disaat aku sakit, hanya ia yang selalu repot menyiapkan obat, hanya ia yang selalu tahu betapa sedihnya aku disaat nilai laporan hasil belajarku jauh dari nilai eonni Hara. Hanya ia yang tahu betapa aku ingin seperti eonni hara, saudara kembarku.

.
.
.

****

“wah ada ayam bakar. Heem enak sekali” ucapku seraya menduduki kursi favoritku.

“dasar tidak sopan…” sindir appa padaku.

“makanya, jangan nyerocos dulu jadi yeoja” Timpal oppa ku, CHANYEOL

“iya hera, kau duduk dulu baru ngomong, kan ada Appa sama umma disini. Jadi sopan sedikit Ra.” Tambah eonni hara menatap ku tidak suka.

“iya hera, betul tuh kata hara. Contoh dia.” Tambah umma lagi.

“Baiklah, aku pergi. Silahkan makan!!” ucapku dengan tersenyum sinis.

Aku pun bergegas naik menuju kamarku tanpa sedikit pun menyentuh makanan disana. Padahal sebenarnya maagku kambuh dan rasanya sangat perih. Tapi lebih perih lagi disaat aku tak pernah mendapatkan kasih sayang dari semua orang yang aku sayangi.

.
.

****

Matahari menjelma masuk kedalam kamarku yang pemiliknya masih tertidur lelap. Hingga aku terbangun karena silaunya sinar yang menerpa mataku.

“humh, sudah pagi ya?” ucapku pada diri sendiri,

Aku bergegas mandi dan memakai pakaian sekolahku. Dengan aksesoris biru yang lengkap. Pagi ini, aku tak ingin sarapan. Aku hanya mengunjungi Ahjuma Jung yang ternyata sedang menyiapkan bekal untukku.

“Terimakasih ya Ahjuma Jung, hera sayang Ahjuma Jung Eun Bi.” Ucapku dengan tulus padanya

“iya nona muda hera, ahjuma juga sayangg sekali sama nona muda hera, semangat ya sekolahnya.” Sahut Ahjuma Jung menyemangati.
Setibanya disekolah, aku segera menuju ruangan tempatku ulangan. Jadwal hari ini adalah matematika dan bahasa inggris. Pelajaran menghitung yang sangat menyebalkan untukku. Karena aku tak seperti eonni hara yang jago menghitung. Dugaanku tepat, soal kali ini susahnya minta ampun. Hingga kertas ulanganku hampir tak terisi. Namun kalau bahasa inggris, inilah kehebatanku. Semua soal dapat kukerjakan dengan mudah. Karena sejak kecil aku sudah sangat hebat berbahasa inggris. Seperti Tuan dan nyonya OH yang semasa di seoul sangat menyayangiku jauh lebih besar dari orang tua kandungku. Namun kini mereka telah pindah ke Amerika dengan anaknya.

.
.

****

Waktu seakan berjalan dengan sungguh cepat, kini saatnya pembagian hasil belajar siswa. Kebetulan, aku dan eonni hara berbeda kelas dan sekolah. Kalau aku masih berada dikelas satu SMA, sedangkan ia sudah berada dikelas dua. Semua terjadi karena aku pernah tak naik kelas sewaktu disekolah dasar. Kalau eonni hara sengaja appa sekolahkah di sekolah terfavorit di seoul, sedangkan aku bersekolah di SMA yang didalamnya hanyalah siswa buangan dari sekolah lain yang tidak menerima kami. Karena nilaiku tak sehebat nilai eonni hara dan oppa chanyeol. Mereka memiliki IQ yang jauh lebih tinggi daripada aku.

“ApPa, ambilin nilai laporan hera ya.” Pintaku sambil menggoyangkan lengan kanannya

“appa sudah janji sama hara kalau appa yang akan mengambilkan nilai laporannya. Kalian kan beda sekolah.” Jawab Appa ku menepis tangan ku kasar dan mengusap tangannya dengan sapu tangan yang telah dipegang oleh ku seakan merasa jijik, aku merasa sedih hati ku sakit apakah aku bakteri? Tanya ku dalam hati

“Umma, ambilin nilai laporan hera ya!” pintaku lagi pada umma sambil memegang tangannya, umma ku juga sama seperti appa ku merasa jijik pada ku

“Umma sudah janji sama chanyeol ngambilin nilai laporannya, diakan sudah kelas tiga jadi harus diwakilin.” Jawab umma datar.

“oh begitu ya.” Balasku dengan kecewa.

Aku hanya bisa menangis sendirian didalam kamar. Tidak ada satu orangpun yang mau mengambilkan nilai laporanku. Jalan terakhir adalah ahjuma jung. Dan tentu saja ia sangat mau mengambilkan nilai laporanku.

“Bagaimana ahjuma hasilnya?” tanyaku dengan penasaran

“Nona muda hera juara 1.” Ucap ahjuma jung dengan semangat.

“hah? Benarkah ahjuma?” sahutku tak kalah semangat.

Ternyata usahaku tak sia-sia, akhirnya aku bisa menyamai prestasi eonni hara.

.
.

****

Setibanya dirumah, semua orang yang sedang tertawa ria melihat hasil belajar eonni hara dan oppa chanyeol menjadi terdiam disaat kedatangan ku dan Ahjuma jung.

“Bagaiimana hasilnya Ra?, pasti jelek.” Ucap oppa chanyeol menyindirku.

“Tidak, aku juara 1.” Ucapku dengan semangat.

“ah, juara 1 disekolahmu pasti juara terakhir dikelas hara.” Ledek Appa padaku.

Raut wajah ku yang tadi begitu bahagia kini luntur, Aku kecewa, benar-benar kecewa karena semua prestasi yang kuraih tak penah dihargai sama sekali. Dengan kecewa aku berlari menuju kamarku, kuratapi semua ketidakadilan ini. Aku tidak keluar kamar selama dua hari pun tak ada yang peduli. Semua orang dirumah hanya sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, tak terkecuali ahjuma jung yang hampir setiap jam membujukku untuk keluar. Maagku kambuh, rasanya teramat perih dari yang biasanya.

“oh Tuhan, kuatkan aku!” pintaku

“Tuhan, apa yang harus ku lakukan sekarang?” Lanjut ku sambil menangis

Dihari ketiga aksi diamku dikamar, tiba-tiba rumahku terdengar sebuah suara yang sangat kukenal. Ternyata hari ini, keluarga Oh sudah tiba di seoul untuk berlibur bersama keluarga kami.

“Sehun? Aku merindukanmu.” Ucapku dengan tertunduk lesu dikamar.

Aku keluar kamar untuk menemuinya, namun ternyata ia sudah berubah dan tak peduli lagi padaku. Semuanya benar-benar berubah, dan kini janjinya ia ingkari untuk menemuiku. Penantianku sia-sia, semua orang telah membenciku dan menjauhiku. Aku sendirian dirumah, ahjuma jung pulang ke rumahnya karena anaknya sakit. Sedangkan yang lain sedang makan malam dihotel. Dan aku? Tertinggal disini.

.
.

****

Aku hanya makan dan terus memasukkan roti berselai coklat kemulutku. Sedangkan yang lain asyik berbincang-bincang dengan topic eonni Hara dan Sehun. Yang aku tahu, mereka terus membanggakan dua orang yang berprestasi tersebut. Hingga tuan oh dan nyonya oh juga turut berubah padaku. Semua orang mengucilkanku disini. Sesudah sarapan pagiku habis, aku segera pamit menuju taman belakang yang ternyata disana ada eonni hara dan seseorang yang sangat aku sayangi, oppa sehun. Disana, aku sedang melihatnya memberikan setangkai mawar pada eonni hara dan ..

Mereka berciuman hati ku terasa sangat sangat sakit tak sanggup melihatnya aku berlari sekencangnya dan tentu juga aku menangis aku berlari entah kemana. Ternyata mereka sudah jadian dan aku tahu, bahwa oppa sehun telah melupakanku.

****

Akhirnya, hari yang telah lama kunantikan tiba juga. Hari ini, pertandingan karateku akan berlangsung. Namun sayang, semua orang yang kusayang tak ada yang mau hadir disini. Semuanya memilih hadir dilomba eonni hara, olimpiade sains. Walau sedikit kecewa, akan kubuktikan bahwa aku adalah hera yang hebat. Keinginanku terwujud, aku menang dan meraih juara satu dipertandingan karate nasional yang diadakan di incheon.

“kita panggil, juara nasional karate tahun ini. PARK HERA dari SEOUL.” Panggil pembawa acara.
Dengan diiringi tepuk tangan meriah, ku naiki podium kebesaranku, dan kurasakan aku sangat dihargai disini.

.
.

****

Setibanya dirumah, kuletakkan foto keberhasilanku diruang tamu, namun disaat kedatangan eonni hara dan yang lainnya, kulihat kemurungan disana. Dan setelah melihat foto keberhasilanku, eonni hara malah menangis dan berlari menuju kamarnya. Aku menatap kepergiannya bingung, ada apa? Pikir ku.

“Ahh mata ku pasti merah jika melihat itu” ucap chanyeol oppa menyindir lalu pergi setelah melihat poto keberhasilan ku, aku menunduk sedih

“kau sengaja meledek hara?” Tanya appa dengan sinis.

“Tidak! maksud appa apa?” tanyaku tak mengerti.

“Hara kalah sedangkan kau menyombongkan diri dengan memajang fotomu diruang ini. kau tahu kan bahwa diruang ini hanya foto-foto keberhasilan hara yang boleh menempatinya.” Jawab appa dengan nada keras dan inilah yang membuatku sangat kecewa.

“Lepas Fotomu!” ucap umma dengan agak ketus padaku.

Kulepas foto yang sangat aku harapkan menjadi penghubung agar keluargaku menyanjungku. Sebuah harapan yang sejak dulu selalu ku inginkan. Karena aku selalu iri disetiap eonni hara dipuji dan disanjung oleh appa dan umma, serta semua tamu yang pernah berkunjung kerumahku. Sekarang pertanyaan terbesarku adalah,

“apakah aku anak kandungmu umMa? ApPa?”

Pertanyaan yang tak pernah terjawab oleh lisan, namun terjawab oleh perbuatan mereka padaku. Seorang anak yang selalu tersingkirkan oleh ketidakadilan.

.
.

****

Hari demi hari terus berganti, dan semenjak itu pula eonni hara menjadi seseorang yang terpuruk. Aku bisa merasakan perasaannya yang tertekan karena ia kalah diolimpiade. Yang kutahu, saudara kembarku ini terlihat lemah dari yang biasanya.

“Sudahlah eon, tidak ada gunanya ditangisin terus.” Ucapku menyemangati.

“Sudahlah Ra, kamu senang kan melihat aku seperti ini? Kau senang kan melihat aku kalah?” jawabnya dengan menangis.

“Tidak eon, tidak. Aku tidak pernah ada niatan seperti itu.” Sahutku.

“Sudahlah, pergi kau dari kamarku, pergi…” ucapnya terpotong karena akhirnya ia terjatuh tepat didepanku.

“Appa, umma, tolong eonni hara. Eonni hara pingsan Pa!” beritahuku. Appa ku masuk dan terkejut

“apa? Kamu apain dia?” Tanya appa sinis padaku.

“aku, aku tidak ada apa-apain dia appa.” sahutku dengan menyembunyikan kesakitanku.

“pasti penyakitnya kambuh lagi appa, ayo cepat kita bawa kerumah sakit.” Ucapku pada appa.

.
.

****

Hari ini tepat seminggu sebelum ulang tahunku dengan eonni hara. Aku takut kehilangannya, saudara kembarku yang sangat aku sayangi. Dokter bilang bahwa ginjalnya sudah benar-benar rusak. Yang aku tahu, kini ginjalnya hanya satu setelah setahun yang lalu satu ginjalnya sudah diangkat. Sedangkan aku masih mempunyai dua ginjal.

“hanya saudara kembarnya yang ginjalnya cocok dengan hara. Jadi usahakan dengan secepat mungkin diadakan pencangkokan ginjal tuan park” beritahu dokter pada appa.

Setelah itu, aku menjadi sasaran semua orang yang menyayangi eonni hara. Semuanya memintaku untuk mendonorkan satu ginjalku padanya. Niatku memang sudah bulat bahwa aku akan mendonorkan kedua ginjalku pada eonni hara, tapi aku tak ingin ada yang tahu semuanya. Karena aku tidak mau mereka akan menyayangiku karena bersimpati denganku yang telah memberikan satu ginjal pada saudaraku. Aku hanya ingin kasih sayang tulus dari mereka, entahlah bagaimana caranya agar aku mendapatkannya.

“ah sudahlah hera, kau memang saudara yang kejam. Hanya menyumbangkan satu ginjal saja tidak mau. Untunglah ada seseorang yang baik hati yang mau menyumbangkannya pada hara.” Ucap appa menatap ku tajam dan tersenyum kecut aku terdiam menunduk

“aku kecewa sama kau hera, tega sekali kau sama eonni mu sendiri.” Ucap sehun datar namun kecewa padaku.

“Appa, siapa yang mendonorkan ginjalnya?” Tanya oppa chanyeol.

“entahlah, pendonor itu tidak mau diberitahu namanya. Bahkan ia memberikan dua ginjalnya dengan gratis pada hara. Dia benar-benar berhati malaikat.” Jawab appa senang.

“andaikan kalian tahu kalau itu aku? Apakah aku akan diberi penghargaan dari appa?” gumamku dalam hati menatap appa ku sedih, aku ingin menangis tapi aku tidak ingin disini aku ingin pergi dari tempat ini jika aku ingin menangis aku harus berada dalam kamarku.

.
.

****

Beberapa jam sebelum operasi pencangkokan dilakukan, aku menulis sebuah surat untuk semua orang yang aku sayangi. Entahlah, aku merasa akan meninggalkan mereka semua. Rasanya, aku sudah sangat lelah dengan hidupku sendiri. Sesudah selesai ku tulis, surat itu kutitipkan pada ahjuma jung.

“Ahjuma, berikan ini pada mereka semua pada hari ulang tahun eonni hara” pesan ku pada ahjuma jung, ahjuma jung menerimanya dan langsung memelukku dengan erat

“Nona muda hera kumohon jangan pergi” ucap ahjuma jung menangis aku tahu dia menangis karena aku merasakan pundak kanan ku basah

“Aku baik – baik saja, ahjuma selamat tinggal” ucap ku lalu Akupun berangkat menuju rumah sakit untuk segera menjalani operasi.

.
.
.

@ ruang operasi

Ruang ini tersasa begitu menakutkan. Semua benda yang kulihat hanyalah jarum suntik dan gunting. Alat-alat yang terlihat menakutkan bagiku. Aku dibawa lebih dulu keruang ini, agar tidak ada yang tahu siapa aku sebenarnya. Posisiku dan eonni hara dipisahkan oleh dinding pembatas. Hingga akhirnya aku dibius, dan kurasakan semuanya gelap.

“Selamat tinggal semuanya semuga kalian akan bahagia tanpa ku” ucap ku dalam hati sebelum menutup mata

HERA PROV END

.
.
.

****

.

Autor Prov

Seminggu kemudian. . . .

“akhirnya kau sembuh juga sayang. Umma sangat khawatir pada mu sejak kau dioperasi. Untung ada pendonor itu.” Ucap ummanya dengan penuh kasih sayang.

“Dan Happy Brithday hara…” ucap semua orang serentak

“Terimakasih semuanya. Aku sangat senanggg. Oh iya, hera mana ya umma? Tidak tahu kenapa hara kepikiran dia terus. Hari ini kan ulang tahun kami” Sahut hara.

“iya ya? Ahjuma Mana dia?” Tanya ummanya pada ahjuma jung

“Sebentar nyonya.” Jawab ahjuma jung dengan ekspresi sebiasa mungkin padahal ahjuma jung ingin menangis tapi diurungkan, ahjuma jung dengan berlari menuju kamar hara.

“Umma perasaan ku jadi tidak enak sekarang?” Ucap chanyeol yang berdiri disamping ummanya

“Kenapa?” Tanya ummanya bingung

“Entahlah” jawab chanyeol

Dan beberapa menit kemudian sudah tiba dengan membawa sepucuk surat.

“ini surat dari nona muda hera sebelum pergi.” Beritahu ahjuma jung menunduk sedih.

Walau agak heran, ummanya pun membacanya dengan agak keras.

“Untuk semua orang yang sangaaat hera sayang
Mungkin saat kalian baca surat ini hera tidak ada lagi disini. Hera sudah pergi ketempat yang saangaat jaauh. Oh ya, bagaimana kabar eonni hara? Tidak sakit lagi kan? Semoga ginjalku dapat membantumu untuk meraih semua mimpi-mimpimu yang belum terwujud.

Teruntuk APPA yang SANGAT KURINDUKAN
Bagaimana APPA? rumah kita sudah tenang belum? Tidak ada yang tidak sopan lagi kan? Oh pasti tidak ada iya kan? Ya iyalah, Hera si pembuat onar kan sudah tidak ada.

Teruntuk UMMA yang SANGAT-SANGAT KU RINDUKAN
Umma, Hera pasti akan sangat rindu dengan teddy bear pemberian umma lima tahun yang lalu. Umma, hera kangeeen sekali pelukan umma. Hera selalu iri saat umma hanya mencium eonni Hara disaat ia tidur. Hera iri melihat umma yang selalu menyemangati eonni hara disaat ia sedang sedih. Hera iri dengan semua perhatian yang umma berikan pada Oppa chanyeol dan eonni hara. Hera sangaat iri.

Teruntuk OPPA CHANYEOL dan saudara kembarku, HARA
Bagaimana Oppa? Eonni?, tidak ada lagi kan yang ganggu kalian belajar? Tidak ada lagi kan yang menyalakan music sekeras-kerasnya dikamar? Pasti rumah kita tenang ya, pastinya tidak akan ada lagi yang akan membuat kalian malu karena punya saudara yang bodoh bukan? Oh, pastinya. Oh iya, SELAMAT ULANG TAHUN YA EONNI, SELAMAT MENJALANI UMURMU YANG KE-17 TAHUN. Yang mungkin takkan pernah aku rasakan.

Kalian semua harus tau, betapa AKU SANGAT MENYAYANGI KALIAN. Mungkin dengan kepergianku, semuanya akan tenang dan rumah kita menjadi tentram. Hera harap, tidak akan ada lagi yang terkucilkan seperti Hera. Yang selalu menangis setiap malam. Yang selalu merindukan hangatnya kekeluargaan. Mungkin dengan kepergian ini, aku akan tahu bagaimana kalian akan mengenangku, seperti aku yang selalu mengenang kalian setiap malam dengan tangisan. . . Semoga KALIAN SEMUA BAHAGIA TANPA HERA, AAMIIN.

Salam rindu penuh tangis bahagia

Dan titip salam ya untuk OH SEHUN aku sangat menyukai, menyayangi dan mencintai namun dia sudah ada yang memilikinya

SELAMAT TINGGAL SEMUANYA

PARK HERA”

Semua yang mendengar menangis. Mereka bertanya-tanya pada ahjuma jung dimana hera. Namun tiba-tiba telepon rumah berbunyi..

“iya, saya PARK san jo, ada apa ya?” Tanya appanya dengan penasaran.

Dan sesaat kemudian appanya menangis dan segera mengajak anggota keluarganya ke Rumah sakit keluarga PARK berpas-pasan dengan keluarga OH saat akan masuk rumah sakit, sebelum pergi kerumah sakit, chanyeol menghubungi sehun untuk datang kerumah sakit, mereka terus berlari dikoridor rumah sakit setelah sampai diruang yang dituju. Dan mereka terlambat, Hera telah pergi untuk selama-lamanya. Dan menginggalkan berjuta penyesalan disetiap tangis yang jatuh. Kini, ia telah tenang dan jauh dari ketidakadilan selama hidupnya. Walau air mata tengah menangisinya yang telah pergi untuk selama-lamanya. . .

“Maafkan oppa hera” ucap chanyeol menangis “aku menyayangi mu” lanjutnya

“Maafkan aku hera, tidak seharusnya aku menjauhi mu dan juga mengikari janji ku yang dulu aku dan kau buat” ucap sehun pelan air matanya sukses jatuh dari pelupuk matanya

The End

RCL yaaa….

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI Facebook] Good Bye All (Oneshot)

  1. huaa.. sedih banget.. kasihan Hera yang terkucilkan padahal dia sangat banget sma keluarganya..:'(
    ceritanya bagus..
    di tinggu karya selanjutnya ya.. Fighting.. 🙂

  2. ceritanya sedih, apalagi cerita akhirnya keluarganya pilih kasih banget
    tapi bagus kok,kamu bikin ceritanya.
    semangat bikin lagi yang baru ya ☺

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s