[Oneshot] Friend – Shaekiran

Friend-oneshot.jpg

FRIEND

A story By Shaekiran

Chanyeol | Wendy | Sehun

|Friendship, romance, angst, married-life, work life, age manipulation, AU, family |

Oneshot | PG-15

Disclaimer

Pure from my imagination. Don’t plagiarism and copy without permisson. Standard disclaimer applied.

"Because you're my friend."

“Daun tidak pernah menyalahkan angin yang membuatnya gugur, juga tak pernah mendakwa batang yang membiarkannya jatuh dan pergi menghempas tanah.”

Awalnya aku tertawa mendengar satu rentetan kata yang muncul di benakku itu.

Kadang aku berpikir, bagaimana bisa daun tidak marah saat ia harus menjadi terbuang karena 2 hal itu; angin juga batang yang biarkan ia tuk pergi?

Seperti sekarang, saat netraku menatap lurus ke arah sebuah batang pohon yang cukup tinggi. Aku terlalu apatis untuk sekedar tau apa nama pohon yang kini sedang kupandangi secara berlebihan, bagai meniliti tiap inchi batang dan daun yang bertengger saling melengkapi di atas sana.

Lalu sebuah kekehan ringan muncul di bibirku tatkala seberkas angin berhembus sepoi dan sebuah daun berwarna agak kecoklatan jatuh hingga detik selanjutnya tergeletak begitu saja di atas tanah yang kotor. Menyedihkan. Tapi seperti katanya, memangnya apa yang bisa dilakukan daun itu? Meski ia mencintai batangnya, meski ia berharap selamanya berada disana, bisa apa si daun saat angin sudah berkehendak?

“Hei Yoda, apa yang kau lakukan?” aku memalingkan muda dari daun dan kawanannya itu sejenak, lalu berbalik menghadap si pembicara yang dengan lancang menyebutku Yoda sementang tokoh hijau itu punya kuping lebar –yang si albino ini sebut sangat mirip dengan telingaku. Hei, itu penghinaan fisik. Dia seharusnya bersyukur atau tidak melaporkannya ke Dinas Perlindungan HAM atau setidaknya menggugat dia kepada pihak berwajib dengan tuntunan pencemaran nama baik. Baiklah, itu terdengar sedikit berlebihan.

“Ada apa?” tanyaku akhirnya, mulai mengalihkan atensi dari berbagai pemikiran lain dan mulai memfokuskan diri pada satu teman terbaik yang pernah ku punya ini, Oh Sehun –teman sejawatku sejak masih bayi.

“Kau benar-benar tidak bisa datang besok?” tanyanya dengan raut serius, dan dengan cepat aku menggeleng. “Maaf.” lirihku pelan dan Sehun nampak menekuk wajahnya kesal.

“Tega sekali, padahal besok adalah hari bahagiaku,” katanya sambil mengerucutkan bibir. Dasar manusia satu ini, dia benar-benar tidak ingat umur. Bagaimana bisa dia terlihat menggemaskan? Ah, maksudku bagaimana bisa dia terlihat begitu menjijikkan seperti sekarang dengan ekspresi ‘ngambek’-nya itu?

“Maaf Hun, tapi aku memang tidak bisa. Tolong mengertilah kawan, besok aku harus pergi ke Paris, dan itu benar-benar tidak bisa ditunda. Maaf.” Jelasku sekali lagi, berharap Sehun yang umurnya terpaut 2 bulan lebih muda dariku ini bisa mengerti.

“Baiklah, kalau soal pekerjaan memangnya aku bisa apa ‘kan?” ia nampak tersenyum tipis, lalu menepuk bahuku ringan. Aku tau, dia pasti tidak setuju dengan keputusanku pergi di hari bahagianya besok. Memang aku teman yang jahat ‘kan? Tidak punya perasaan sama sekali.

“Semoga besok lancar,” doaku tulus, dan Sehun tersenyum sama tulusnya.

“Semoga kau juga sampai di Paris dengan selamat. Oh, sampaikan juga salamku pada Bibi Margareth, bilang aku sangat rindu olahan kue kering dan acara minum tehnya di sore hari.”

Aku mengangguk sekilas. Permintaan Sehun wajar-wajar saja, mengingat Bibi Margareth adalah seorang wanita Prancis asli yang memang benar-benar baik, dan sakin baiknya beliau mau mengangkat kami berdua menjadi anak angkatnya selama menempuh pendidikan S1 di Paris sana. Bisa dibilang, lewat Bibi Margareth kami yang memang sudah seperti anak kembar sejak kecil menjadi benar-benar saudara dengan Bibi Margareth sebagai ibu kami tercinta.

“Dan maaf juga, aku tidak bisa mengantarmu ke bandara besok,” lanjutnya dengan nada sedih, dan aku hanya tertawa ringan. “Memangnya aku bisa apa kalau besok hari bahagiamu ya ‘kan?” balasku sambil menyengir tak jelas, dan tawa kami pun akhirnya meledak bersamaan.

“Baiklah, selamat tinggal sobat.” Katanya, dan kini aku yang menekuk wajah.

“Kau mengucapkan selamat tinggal seperti aku akan pulang kemana saja. Ini hanya Paris bung, kau bisa pergi ke sana nanti setelah acara bahagiamu selesai.” Ia tertawa ringan, lalu mengangguk mengiyakan.

“Baiklah, kalau begitu mau minum soju? Aku sudah bosan dengan Vermouth dan Gin, ah, Vodka juga terasa membosankan sekarang ini,” tawarnya, dan aku segera mengangguk.

“Baiklah, soju sebagai salam perpisahan sepertinya cukup baik.” Dan sebuah senyum merekah di bibir Sehun.

 –

Ya, memangnya bisa apa kalau angin sudah berkehendak. Kini, aku si Daun harus pergi menjauh, meski menghempas tanah, asal angin bahagia dengan keputusannya menghempas si daun jatuh. Angin juga bisa apa, kalau tanpa sadar dia menghempas daun? Bukan niatnya juga ‘kan membuat daun itu menginjak tanah dan menjadi kotor? Semua hanya karena takdir. Sederhana. Tapi menyakitkan. 

Suasana kota Paris menyambutku dengan hangat, sehangat suasana musim panas yang kini memenuhi langit kota cantik ini dengan teriknya sinar Si Raja Siang padahal bisa dibilang Paris masih dalam sapaan pagi. Aku tertawa ringan, seperti orang bodoh di tengah keramaian bandara. Tak ada satupun orang yang menyambutku di kota yang pernah kujelajahi dengan Sehun selama kurang lebih 4 tahun lamanya ini. Bukan karena aku tidak punya teman disini, juga bukan karena Bibi Margareth sudah tidak menganggapku sebagai anak karena pulang ke Korea 2 tahun lalu. Hanya saja aku memang merahasiakan kedatanganku. Lebih tepatnya aku tengah melarikan diri ke kota ini. Memangnya siapa yang mau menyambut seorang pengecut, huh?

Tawaran pekerjaan oleh salah satu perusahaan design terbesar di Eropa yang memang berlokasi di Paris –yang menjadi alasan keberangkatanku kepada Sehun– sebenarnya juga setengah benar. Memang tidak sepenuhnya salah karena perusahaan itu memang merekrutku, tapi toh aku belum menjawab tawarannya karena berpikir Korea lebih baik. Ntahlah, itu sudah sebulan yang lalu dan aku tidak yakin tawaran itu masih berlaku pada arsitek muda yang kata orang-orang cukup berbakat ini. Sepertinya aku harus menghubungi mereka kalau aku tidak mau melunta-lunta di kota besar ini.

Tak lama, aku akhirnya memutuskan menarik langkahku memasuki sebuah café bergaya minimalis yang berada tepat di seberang pintu masuk bandara. Dengan cepat aku duduk di sudut café yang selalu menjadi tempat persinggahanku sesampainya di Paris –seperti biasanya, lalu detik berikutnya memesan cappucino. Aku menghela nafas sebentar, lalu dengan perlahan aku mulai mengetikkan beberapa angka di layar ponselku.

“Hello, good morning. I’m Chanyeol Park. Can I Speak with Mr. Wu?” sapaku saat panggilan telfon itu tersambung. Niatnya aku ingin menggunakan bahasa Prancis saja, tapi mengingat perusahaan ini bukanlah perusahan asli Prancis dan sudah mencakup satu benua Eropa dengan kantor pusat di Paris, sepertinya penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional lebih mendukung.

Sebuah suara perempuan yang kuyakini adalah sekretaris Mr.Wu, CEO yang kemarin menawariku pekerjaan sebagai salah satu designer di perusahaannya dengan gaji selangit itu menyambutku dengan sopan. Tak lama, panggilanku pun terhubung ke Mr. Wu, dan itu sedikit membuatku gugup saat mendengar suara bass milik pria muda nan sukses itu.

“So, is it Mr.Park? Oh my fortune, welcome with us!” katanya antusias, dan aku hanya tertawa ringan. Sepertinya tawaran itu masih berlaku, dan Mr.Wu seperti masih ingat dengan ucapanku sebulan lalu bahwa aku akan menerima tawarannya kalau aku menelfonnya –sepertiku yang kulakukan sekarang.

“Thankyou Mr. Wu. So, when could I start the job?” tanyaku lagi, dan sebuah tawa terdengar di ujung telfon sana.

“Where are you now?” tanyanya semakin antusias, dan aku hanya tersenyum tipis di balik telfon.

“Paris?” kekehku, dan Mr. Wu makin tertawa keras.

“Come to the office tomorrow morning. I’ll be waiting for you. Enjoy the city!” pesannya dan panggilan telfon itu pun berakhir setelah aku mengatakan ‘yes’ dengan yakin. Akhirnya aku diterima di kota ini, tidak buruk.

Setelah ini aku hanya perlu menelfon Bibi Margareth dan mengatakan bahwa salah satu putranya sedang ada di Paris. Menerima satu dua pukulan ringan dari ibu angkatku itu tidak terlalu buruk karena aku memberitahunya saat aku sudah tiba di Paris, paling nanti dia akan mengomel ‘kalau kau bilang lebih awal, aku bisa menjemputmu di bandara dan memasak beberapa makan malam yang lezat’ –khas seorang ibu. Bibi Margareth memang wanita yang sangat baik. Setelah itu aku bisa memeluk tubuh agak gempalnya dan membelai surai pirang bergelombang Bibi Margareth layaknya seorang anak yang sudah lama tidak pulang ke rumah. Yah, Paris adalah rumah keduaku, ingat? Belum lagi reaksi Bibi Margareth saat tau ini adalah hari bahagia Sehun dan si Albino itu tidak memberitahu Bibi Margareth. Akan sangat lucu melihat reaksi ekspresif Bibi.

Dan seperti dugaanku, Bibi Margareth memukulku 2 kali di bagian lengan dengan sendok makan yang kebetulan sedang dia pegang saat aku tiba di rumahnya. Selepas itu ia tersenyum, sembari marah-marah tentunya karena aku tidak menghubungi saat datang ke Paris. Sejauh ini, hidupku di Paris sepertinya akan berjalan sempurna.

Dering telfon kini menjadi atensiku, padahal aku baru saja selesai mandi dan masih menggunakan handuk. Dengan cepat aku menyambar benda persegi panjang itu di atas nakas, lalu segera tersenyum saat tau siapa yang menghubungiku malam-malam begini.

Ya, bukannya masih pagi di Seoul? Harusnya kau beromantis ria, bukannya menelfonku,” kataku cerewet sebagai pembuka panggilan telfon malam itu –pagi jika di Seoul. Kekehan Sehun terdengar sedetik setelahnya.

“Disini masih jam 4 pagi, asal kau tau Yoda,” jawabnya masih tertawa dan itu makin membuat keningku berkerut.

“Lalu ada hal gila apa sehingga kau menghubungiku sebegitu pagi? Mana Wendy, huh?” tanyaku, dan hanya senyum Sehun yang mungkin terukir diseberang samudera sana.

“Dia tidur, sepertinya kelelahan.” Jawab Sehun enteng, dan itu makin membuatku berniat menggodanya. “Oh ya? Dia pasti benar-benar kelelahan. Kemarin kalian habis berapa ronde? Jangan bilang kalau nanti Wendy susah bergerak saat bangun pagi.” kataku jahil, dan hanya deru nafas Sehun yang terdengar sebagai jawaban.

“Aku bahkan belum menyentuhnya, ronde kepalamu,” jawab Sehun dari seberang sana, dan itu membuatku bingung –tentu saja. Bukannya seharusnya mereka berdua sebagai pengantin baru harusnya melakukan malam pertama? Semalam hari bahagia Sehun, hari pernikahan temanku itu dengan seorang gadis cantik dari keluarga baik-baik; Son Wendy.

“Kenapa?” tanyaku meminta penjelasan sambil duduk di atas tempat tidur.

“Dia kelihatan benar-benar kelelahan dan wajahnya cukup pucat mengingat dia menyalami hampir seribu orang tadi siang. Mana mau aku memaksanya semakin kecapekan? Aku tidak setega itu,” jawab Sehun dan aku tersenyum. Sudah kuduga, Sehun memang pria yang baik, terlebih untuk seorang Wendy.

“Memangnya kau tahan?” godaku lagi, dan sebuah decihan ringan menjadi jawab Sehun. Sebenarnya tidak dijawab pun aku tau bagaimana perasaan Sehun sekarang. Kami sama-sama lelaki normal yang sudah dewasa, ingat?

“Kau bodoh atau apa? Tentu saja aku- “ Sehun menggantung kalimatnya, lalu terdengar deru nafas kasar dari seberang telfon sana. Sepertinya ia baru saja mengacak-acak rambutnya frutasi.

“–tidak.” Jawabnya akhirnya, seperti dugaanku.

“Aku menahan diri sedari tadi, asal kau tau. Aku tidak bisa tidur karena aku takut menerkam Wendy sewaktu-waktu. Sialan,” umpatnya, dan aku hanya tertawa sebagai balasan.

“Selamat berjuang Sehun, semoga kau tidak harus bolak-balik kamar mandi,”

“SIALAN KAU!” balasnya cepat, dan aku hanya tertawa.

“Pokoknya selamat berjuang. Dan oh, selamat atas pernikahan kalian berdua, semoga kalian langgeng sampai tua dan cepat mendapat anak,” godaku dan sebuah umpatan lagi ku dengar dari bibir Sehun. “Dasar byuntae kau!” balasnya cepat.

“Terserah, toh itu memang harapanku. Jadi aku bisa menjadi paman secepat mungkin.” Lanjutku lagi dan belum ada jawaban dari Sehun selain gumaman ‘hmm’ saja.

“Dan juga, titip salamku pada Wendy. Bilang aku minta maaf karena tidak bisa datang ke pernikahannya.” Sehun langsung mengiyakan, lalu detik berikutnya ia mulai berucap lagi. “Dia marah karena kau tidak datang.”

Gwenchana, besok dia akan lupa dan tidak akan marah lagi, hehe,” kekehku dan Sehun di seberang sana hanya mengumam ‘terserah’ dengan nada ogah-ogahan.

Hmm Hun, sepertinya Bibi memanggilku untuk makan malam.” Jelasku dan Sehun tentunya mengerti di seberang sana.

“Baiklah, makan yang banyak, jangan sampai sakit. Sampaikan salamku pada bibi dan bilang aku akan datang mengunjunginya sewaktu-waktu.” Pesan Sehun dan aku hanya mengganguk mengiyakan. Percakapan kami berakhir, dan detik berikutnya sambungan telfon itu terputus.

Panggilan Bibi Margareth yang kutebak baru selesai memasak makan malam karena kini seisi ruangan sudah terisi aroma super lezat seketika menyadarkan perutku yang belum terisi apapun selain secangkir cappucino sesampainya di Paris. Jadi dengan cepat aku akhirnya menyambar sebuah kaos putih sederhana dan celana pendek di lemari dan mengenakannya dengan cepat.

Setelah selesai berganti pakaian dan hendak turun, atensiku teralih saat kini ponsel milikku kembali berdering. Namun bukan dari Sehun. Seorang yang lain; Wendy –istrinya Sehun. Ragu, aku akhirnya hanya memandangi panggilan telfon itu dalam diam, hingga tak seberapa lama dering telfonku berhenti dan tergantikan satu notifikasi panggilan tak terjawab.

Aku tersenyum samar. Dasar pengecut, batinku pada diri sendiri.

Jadi dengan cepat aku menyambar ponselku, dan mengubahnya menjadi mode silent. Kasar, aku meletakkannya di atas nakas, lalu segera turun menuju meja makan dimana Bibi Margareth sudah menungguku sejak 5 menit yang lalu.

Hampir sejam aku duduk di meja makan bersama Bibi Margareth. Tidak hanya makan malam ala restoran bintang 5, bibi Margareth juga bercerita banyak tentang perubahan kota Paris yang sudah 2 tahun ku abaikan karena pulang ke Seoul itu. Percakapan kami mengalir seperti air, dan tak terasa sudah hampir sejam kami saling bertukar kabar. Juga aku menyampaikan salam rindu Sehun dan mengatakan putranya yang satu lagi akan datang mengunjunginya dalam waktu dekat ini. Hanya saja aku tidak menjelaskan Sehun sudah menikah, seperti rencana awalku. Sepertinya Sehun harus mengabarkan kabar bahagia itu pada Bibi Margareth lewat bibirnya sendiri.

“Oh, bukannya kau harus mulai bekerja besok?” tanya Bibi Margareth dengan aksesn Prancis-nya yang kental, dan aku dengan cepat mengangguk mengiyakan.

“Baiklah, kita bicara besok lagi. Kau perlu ke atas dan tidur sekarang juga karena besok kau pasti sangat sibuk. Kau butuh istirahat.” katanya perhatian, dan akupun dengan cepat mengangguk setuju. Lantas aku segera mencium pipinya yang mulai keriput, mengucapkan selamat malam, lalu segera kembali ke kamarku di lantai 2.

Aku merindukan kamar ini. Jujur. Selama 4 tahun aku tidur berdempet dengan Sehun –sahabat karibku dari jurusan bisnis itu– di ranjang yang sama, layaknya kebanyakan saudara yang lainnya. Lantas aku merebahkan diri di atas kasur yang masih saja empuk dan wangi, seperti saat kutinggalkan 2 tahun lalu.

Perlahan, sebelum mataku resmi mengejap dan memasuki alam mimpi, aku meraih ponsel yang kuletakkan di atas nakas. Niatnya aku ingin mengubah alarm-ku yang masih berisi waktu Seoul, dan mengubahnya sesuai dengan waktu Paris. Yah, aku memang tidak bisa bangun pagi kalau alarm-ku tidak berbunyi dengan nyaring.

Tapi satu notifikasi pesan yang membuatku mengerjap, hingga aku menduakan aksi mengganti alarm yang menjadi tujuan pertamaku dan lebih memilih membuka 2 pesan yang dikirim oleh 2 orang yang sama itu; Son Wendy.

 

Son Wendy

Kenapa kau tidak hadir, eoh? Padahal aku mengharapkan kehadiranmu di acara ini. Kau benar-benar pria yang jahat dan tidak berperasaan.

Aku melirik waktu Wendy mengirimkan pesan pertama itu, kemarin siang, tepat di acara pernikahannya. Aku hanya tersenyum miris. Itu adalah waktu dimana aku berada di dalam pesawat. Tidak ambil pusing dengan pesan yang menyiratkan kemarahan Wendy atas absent-nya aku di acara berbahagianya, aku lantas beralih ke pesan kedua. Lalu mulai membaca sebuah pesan yang cukup panjang itu.

 

Son Wendy

Kau jahat. Apa kau pikir bisa melarikan diri begitu saja ke Paris?

Apa kau tidak tau bagaimana rasa sakit yang ku derita Park Chanyeol? Putus denganmu adalah sebuah kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Ya, seharusnya aku bertanya kenapa kau meminta putus malam itu dan seharusnya aku tidak dengan emosi mengatakan setuju untuk putus. Aku bodoh kan? Terlebih aku menerima lamaran sahabatmu untuk menjadi kekasihnya keesokan harinya dengan tujuan membalas dendam padamu. Bodohnya, aku baru tau dari Sehun bahwa dia menyukaiku sejak lama, dan baru berani menyatakan perasaannya padaku setelah ia menceritakan isi hatinya padamu dan berakhir dengan lamaran pada mantan kekasih sahabat sendiri. Oh, atau pada saat Sehun curhat, bukankah aku masih menjadi kekasihmu? Kau meminta putus karena Sehun ‘kan? Kau bilang kau suka gadis lain, tapi nyatanya itu semua karena kau mengalah pada temanmu. Bukankah bodoh? Kadang aku berpikir, kau benar menyukaiku atau tidak sehingga kau dengan mudah menyerahkanku pada pria lain, huh? Semuanya berlanjut seperti takdir Chanyeol, dan sikap acuhmu itu membuatku berakhir seperti sekarang. Kini aku menjadi istrinya Sehun, sahabatmu sendiri. Apa kau bahagia? Kau bilang jangan pernah beritahu Sehun kalau kita pernah menjalin hubungan lebih dari sebatas teman kerja, dan dengan bodoh aku menurutinya. Ah, ini menyakitkan. Aku bahkan tidak tau untuk pria siapa hatiku sekarang berlabuh. Untukmu, atau untuk temanmu yang sekarang menjadi suamiku? Apa kenangan kita sebegitu tidak berartinya padamu? Apa memang kau tidak mencintaiku seperti aku mencintaimu? Dan parahnya kau tidak hadir di acara pernikahanku, padahal aku berharap kau datang dan membawaku kabur sebelum acara di mulai. Bukankah aku istri temanmu yang tidak baik sama sekali?

Aku terhenyak membaca pesan dari Wendy. Ya, mantan kekasihku itu. Wendy, gadis yang diam-diam ku kencani tanpa memberitahu Sehun dan ternyata temanku itu malah menaruh rasa pada gadisku –mantan gadisku.

Sekelebat bayangan manis kenanganku bersama Wendy tiba-tiba saja muncul memenuhi akalku. Semuanya, bagaikan rentetan kehidupan film romantis dimana aku dan Wendy menjadi pemeran utamanya.

Bayangan saat aku melamarnya di tepi jembatan, menghabiskan makan siang bersama, menelfon sampai larut malam, bertukar pesan dengan panggilan sayang, kencan romantis di taman hiburan, pergi ke pantai bersama-sama, piknik dan bersepeda ria di taman, juga perang gelembung yang sering kami lakukan di hari Minggu saat Wendy datang ke rumahku untuk membantuku mencuci mobil yang berakhir dengan bermain gelembung.

Tawa Wendy, senyum gadis itu, ekspresi jenakanya yang memabukkan, pelukan hangatnya, jemari mungilnya yang halus, juga sentuhan bibir tipisnya saat menyatu dengan bibirku dibawah redup lampu lampion saat festival setahun yang lalu. Semuanya kini muncul sebagai kenangan terindah bersama gadis yang masih mengisi relung hatiku itu. Ya, aku masih mencintainya, bahkan sangat. Dan jujur, menyaksikan ia bersama temanku sendiri itu menyakitkan.

Kenangan yang super indah, juga manis dalam memori.

Awalnya kupikir aku akan bisa melepas Wendy begitu saja, dan membiarkan Sehun yang sangat mencintai Wendy untuk memiliki gadis itu sepenuhnya. Aku tau bagaimana seorang Sehun jatuh cinta, aku tau tabiatnya dengan baik, aku tau dia akan menjadi lelaki yang sangat baik dan akan selalu membahagiakan Wendy. Atas dasar itu aku melepas gadisku menjadi gadis temanku. Ya, awalnya kupikir akan mudah untuk melepas dan menghapus bayangnya Wendy dari otakku. Sebelum aku sadar, aku mencintai gadis itu lebih dalam dari yang pernah ku bayangkan.

Melihat kini Wendy tertawa bersama Sehun, kencan romantis bersama pria barunya, dan memergoki mereka berdua bercumbu bibir di tengah taman kota membuatku sadar, aku menyesal melepas Wendy. Aku mencintai gadis itu, dan aku hampir gila dengan semua penyesalan yang menghantuiku tiap malam.

Namun semuanya percuma. Daun sudah jatuh diterpa angin yang tak tau apa-apa. Kini daun tergores tanah, terinjak kaki manusia, kotor dan berakhir luka. Daun tidak mungkin meminta kembali bersama batang. Lalu daun memangnya bisa apa saat batang bahkan sudah melupakan eksistensi dirinya karena terbuai dengan angin yang memabukkan?

Aksi melarikan diriku juga tidak jauh dari Wendy, juga rasa tidak ingin meyakiti hati Sehun; teman terbaikku. Jika Wendy berharap aku membawanya kabur sebelum acara pernikahannya dimulai, akupun berharap sama. Aku berharap tidak usah memikirkan perasaan Sehun dan membawa kabur calon istrinya saja dari dalam gereja. Aku sadar, semua hal gila itu mungkin saja terjadi jika aku hadir di acara pernikahan Sehun juga Wendy. Mungkin akal sehatku akan bertindak di luar batas, dan aku tidak mau itu. Sehun tidak boleh terluka, dia sahabatku, saudaraku, dan aku tidak mau hubungan kami retak hanya karena seorang gadis yang sudah sukses memorak-porandakan hatiku selama ini. Biar saja hatiku yang hancur, tapi jangan hatinya Sehun –karena dia temanku.

Jadi aku memilih kabur ke Paris dengan dalih bekerja. Menjauhkan diri dari kemungkinan aksi gila membawa kabur calon istri temanku sendiri meski aku sangat ingin melihat bagaimana cantiknya Wendy dalam balutan gaun pengantin. Masalahnya aku takut, takut aku berharap kalau aku yang akan bersanding di sebelahnya dan bukannya Sehun. Takut aku menjadi serakah dan melakukan hal-hal gila itu. Dan aku tidak mau itu sampai terjadi.

Lantas aku meraih ponselku yang sudah tergeletak begitu saja di atas tempat tidur, lalu dengan susah payah mengetikkan pesan balasan karena jemariku yang mulai bergtar saat mengetik. Selesai, aku segera meletakkan ponselku di atas nakas, lalu kembali merebahkan diri. Aku menarik selimut hingga menutupi badanku hingga batas kepala, takut kalau Bibi Margareth mungkin saja masuk ke dalam kamar dan aku tidak mau dia melihatku dalam keadaan menyedihkan seperti ini.

Malam itu aku menangis. Melupakan sejenak ego-ku sebagai pria dewasa, aku menangisi seorang gadis yang sangat aku cinta, tapi ku relakan untuk menjadi istri seorang sahabat yang bahkan tidak tau kalau gadisnya pernah menjadi gadisku, bahkan masih memporak-porandakan hatiku. Aku hanya menangis. Berharap esok pagi aku lupa semua permasalahan ini, bangun dengan ceria dan memulai hidup baru di Paris. Semoga saja.

Park Chanyeol.

Happy wedding my ex-girl. My friend love you more than I love you.

Fin.

Iklan

17 pemikiran pada “[Oneshot] Friend – Shaekiran

  1. Sbg KrisHun shipper, role 찬 replace sm Kris ya 😍 trus eike yg nkh sm 세훈 😘
    masa lalu tu akan slalu jd duri dlm daging di khdpn 찬-wen slnjt’ny. Cz mrk prnh pcrn smp hmpr nkh, tp pisah krn 찬 ngalah bwt 세훈, more over mantan couple tu sm 1x ga ju2r ke 세훈 ttg masa lalu mrk! 😓 Siap2 di bayang2in/di kjar dosa slama sisa hdp’ny! Shock’ny 세훈 klo nanti tau trnyt 2org penting dlm hdp’ny prnh pny hub special 😢 mgkn 세훈 bkl marah sjadi jd’ny, kcewa, or even murka! 😟 & 3org ni ga kan prnh bs bahagia spt sblm’ny, so~ drama..
    Um.. I wish bs bnrn stuck diantara cinta KrisHun 💞

  2. huaaa sedih banget thor.. 😥
    bayangin CY Oppa nahan sakit hatinya dan nangis sendirian itu rasanyaa…. jadi pengen nemenin CY Oppa dan nangis bareng dia.. 😥 /di tampol author
    ku kira Wendy itu cuma temen / sahabat yg disukain sama CY Oppa, eh ternyata malah mantannya.. jalan ceritanya bagus dan nyesekkin banget..
    keep writing ya thor..
    di tunggu next karyanya.. Fighting.. 🙂

  3. Ya gusti.. nyesek banget pasti jadi Chanyeol. Dan Sehun juga kasian sih. Dia gak tau apa2, dan aku gk yakin Wendy cinta sama Sehun. Well, menurutku klo urusan cinta meskipun karena sahabat klo misalnya saling cinta ya pertahanin aja. Aku sih mikirnya; gimana klo lu udah ikhlas nyerahin cinta lu ke sahabat tapi nyatanya dia cintanya sama lu, bukan sahabat lu? Kan sama aja nyakitin.
    *DanguepernahngalaminrasanyajadiChan😏

    • Nyesek pan jadi mereka berdua? Ketika persahabatan harus dipilih dibanding Cinta, dimana satu orang terluka dan satu orang gak tau apa-apa. Bayangin deh gimana syok-nya sehun pas tau tentang chanyeok dan wendy/plakk/😂
      Dan sepertinya chingu sangat berpengalaman kayaknya. Duh, curhat kuy.😂
      Well, kalo menurut eki sih tergantung pribadinya masing-masing, mau milih Cinta atau temen. Hehe, Thanks for reading.😍

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s