[KEPING 1] Autumn Elegy: Run With Me — Joongie

Autumn Elegy

Joongie © 2017

Oh Sehun || Irene Bae || Jackson Wang || Kang Seulgi

Adult, AU, Angst, Romance

Chaptered (PG17)

This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. No profit was made from this work. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Don’t be silent reader, please.

Start Here: Teaser  

Summary :

Dalam perjumpaan klasik, Irene mengenal Sehun. Pria seribu luka, orang-orang menjulukinya. Namun di mata Irene, Sehun seolah memohon disembuhkan dalam kebisuannya. Dan tanpa disadari Irene malah terperangkap oleh kemisteriusan juga teka-teki soal penghuni hati Sehun, ketika hatinya diam-diam berharap jadi wanitanya Oh Sehun.

.

Dengusan Jordan menggambarkan dirinya yang sedikit putus asa. Musik klasik tidak cukup membantu, ketika pasiennya—yang tinggi, kurus dan pucat seperti vampir itu—bersandar pada sofa lengan panjang tanpa daya. Jordan membetulkan letak kacamata yang merosot dari hidung jambunya. Dengan lagak khas dokter senior dia menyisir riwayat medis Sehun yang keras kepala. Telunjuknya mengetuk-ngetuk meja keramik, kemudian dia bicara seakan keoptimisannya tidak pernah goyah.

“Menurutmu apa yang begitu salah?”

Hening.

Butuh waktu menanti Sehun kembali fokus. Matanya yang memerah menatap kepada Jordan dari balik cekungan hitam. Mata itu seolah balik melontarkan pertanyaan yang sama, yang jenuh dijawabnya, yang tidak akan berubah sampai bumi jadi seukuran kacang. Dengusan lagi, dari dua perawat yang mengapit Sehun di kanan dan kiri. Kedua pria klimis itu saling melirik, lelah sekaligus prihatin akan situasi ini. Melakukan pendekatan pada anak lima tahun terasa lebih gampang. Yang disesalkan Sehun menghukum dirinya berlebihan, menyisakan khawatir bagi orang lain. Yang dia sendiri tidak sadar.

Sehun itu egois. Dia memberontak pada kenyataan, membangun dimensinya sendiri. Bertembok angan dan beratap duka. Realitas dan fiksi dicampur aduknya jadi abu-abu.

“Tinggalkan kami,” perintah Jordan dengan suaranya yang dalam.

Yang dimaksud menyahut bergegas meninggalkan Sehun dan Jordan dengan sangsi. Sulit menebak apa yang mungkin akan dilakukan pasien yang mentalnya tidak stabil kepada pria tua tukang dikte. Kerut-kerut kesabaran di wajah Jordan semakin jelas ketika kaca matanya dilepas. Dia akan mulai semuanya lagi hari ini, menarik napas dalam-dalam adalah hal yang mesti diutamakan.

“Ini kekanakan, Hun.” Jordan beralih duduk di sisi Sehun, merangkul pundaknya sebagai seorang paman. “Sampai kapan mau begini? Tidak ada yang salah denganmu selain kurangnya kemauan.”

Sehun bersipekak.

“Dengar, masa depanmu masih panjang. Cukupkan semua sampai di sini. Hidupmu terlalu berharga untuk disiakan,” imbuh Jordan berempati.

“Hentikan,” Sehun bersuara seperti memohon.

“Sudah lama sejak terakhir aku dengar suaramu.” Jordan tersenyum cerah, menepuk bahu Sehun dan meneruskan nasehatnya hati-hati, “Berdamailah dengan penyesalanmu. Belum terlambat untuk memulai lagi. Aku dan ayahmu mendukungmu, kami percaya kau belum berakhir, Hun.”

“HENTIKAN!” Sehun bangkit, menepis tangan besar yang mencengkeram bahunya dan meledak, “Sulit … itu sulit! Dia masih jadi mimpi besarku, hidup dalam tiap tarikan napasku.” Dia jatuh, terduduk dengan dada sesak.

“Dewasalah. Bagaimana dengan orangtuamu? Tidak pernah kaupikirkan?” cecar Jordan seperti peluru yang meletus, “Kau egois. Tidak lebih dari bayi besar. Beginikah caramu hidup? Selamanya jadi pecundang?”

Bahu Sehun melesa, kepalanya berdentam disudutkan kebenaran dalam tiap kalimat Jordan. Kemudian dengan suara yang bagai tercekik dia bicara, “Aku harus apa? Semuanya sudah salah.”

“Badai bukannya tanpa akhir,” nasehat Jordan sembari kembali ke kursinya, menyesal masih harus meresepkan penenang untuk Sehun. “Kau manusia, punya emosi. Lepaskan saja. Marah, menangis, tertawa atau apa pun itu.”

Bullshit. Motivasi tidak merubah segalanya secara instan. Aku hidup bukan karena ingin,” tekan Sehun, memandang dokternya sinis—yang justru ditanggapi Jordan dengan senyum kemenangan.

“Begini ya, Hun. Berteriak atau diam saja juga tidak akan menolong orang yang tenggelam, ‘kan? Ini soal usaha dan kemauan,” Jordan membalas sarkastis, lalu menyodorkan resep ke muka Sehun. “Waktu akan menyembuhkannya, Hun. Asal kau percaya.”

Asal kau percaya. Sehun tercenung, kalimat itu mencucuk benaknya. Yang bimbang haruskah dia terapkan dalam hati atau cuma dianggap blablabla tanpa arti. Langkahnya masih menggantung di bibir jurang depresi.

—oOo—

Gerutuan sambung-menyambung keluar dari bibir Irene yang dipoles lipstik merah jambu. Seperti lesatan meteor dia berlarian memeluk setumpuk berkas. Badannya yang mungil menyempil masuk ke dalam lift tiga detik sebelum pintu tertutup. Dia menghirup udara sebanyak-banyaknya. Irene turun di lantai tiga, bergegas dengan langkah lebar membelah kerumunan pasien rawat jalan di sepanjang koridor. Apa pun demi mempersingkat waktu, terlambat di hari sesibuk ini adalah petaka.

Mungkin tidak seharusnya dia begadang menamatkan serial netflix semalam.

Irene yang seperti kereta cepat terhenti saat menabrak pasien yang muncul dari Poli Psikiatri. Dia terjungkang, berkasnya terbang berhamburan. Sementara di hadapannya Sehun menjulang tanpa ekspresi, kokoh layaknya mercusuar. Irene mendongak, kaget juga cemas saat mata mereka bersua. Sempat terlena dan sadar kalau ini bukan waktunya berleha-leha.

Dia segera bangkit dan berkali-kali membungkuk. “Maafkan saya. Saya buru-buru dan tidak melihat Anda. Kalau ada yang luka biar sa—”

Belum usai basa-basi, Sehun berlalu meninggalkan Irene tanpa acuh. Sialan, batin Irene sembari berjongkok memungut kertas yang berceceran. Tapi dia tidak bisa mencegah matanya mengiringi kepergian Sehun. Sensasi familier menggelitik pojok memorinya yang berdebu. Sudah beberapa kali mereka berpapasan di lorong yang sama. Sehun beraura angkuh, tidak punya ekspresi apalagi senyum, kecuali hari ini. Lelaki itu singgah di ujung koridor, bertukar sapa dengan Jackson Wang—si Kampret nomor satu yang didelik Irene penuh dendam.

Si Kampret itu sekarang menghampirinya.

“Irene! Bae-rene!” sapanya, melambai-lambai seperti bocah.

“Kampret!” Satu tendangan mendarat cantik ke tulang kering Jackson. “Kita ini tetangga. Kerja di tempat yang sama, satu shift pula. Sampai hati kaubiarkan aku terlambat dan berangkat sendirian?”

“Aduh, sorry!” seru Jackson sambil melompat-lompat memegangi kaki kirinya. “Tadi aku mampir dan kau masih tidur. Aku juga sempat masuk ke kamarmu, karena tidurmu nyenyak sekali—sampai mengorok—aku jadi tidak tega.”

“Tidak tega, pantatmu,” omel Irene yang bersungut-sungut menata berkas. “Bilang saja kalau kau senang melihatku disembur Suster Na. Iya, ‘kan?”

Jackson meringis, buru-buru mengekori Irene yang berjalan cepat dan merangkulnya. “Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau siang ini aku traktir yang manis-manis? Mau apa? Macaroon? Gelato? Red Velvet? Atau cukup senyumku saja?”

Siku Irene melesat ke rusuk Jackson, membuat dokter muda itu menyeringai nyeri. Jackson Wang, sahabat kecil sekaligus putra bungsu dari teman ibunya. Kaya dari lahir, juga diberkahi tampang tengil yang menjanjikan. Berprofesi sebagai dokter—sedang menempuh pendidikan spesialis malah—dan punya reputasi baik sejauh ini. Sedang Irene hanya perawat biasa-biasa saja yang selalu ditempeli Jackson dalam tiap kesempatan. Dia sendiri bingung, siapa benalu dan inangnya dalam hubungan ini.

Orang bilang tidak ada yang namanya persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan. Keduanya pun ibarat teman rasa pacaran. Disadari atau tidak, cara Jackson memandang Irene adalah milik seorang pria yang menatap seisi dunianya. Hanya saja, pihak yang dituju terlalu bebal untuk mengerti. Sedihnya, Irene tidak pernah memandang Jackson sebagai lelaki.

“Omong-omong yang tadi siapa?”

“Yang mana?”

“Yang tadi kau sapa di ujung koridor. Pasienmu?”

Jackson menggeleng. “Dia senior populer di angkatanku. Padahal dulu orangnya ramah, tapi sekarang—ah, sudahlah panjang ceritanya. Memangnya kenapa?”

“Bukan apa-apa. Aku cuma sering melihatnya berlalu-lalang di sini.”

“Jangan bilang—” Jackson menggantung ucapannya, kemudian sambil menyipitkan mata dia menduga, “—kau punya minat padanya, ya?”

Irene menyunggingkan senyum, dengan tinju dikepalkan dia bertanya santun, “Dokter Wang, Anda mau coba double headshot?”

—oOo—

Sedikit mengulik sana-sini, Irene akhirnya tahu laki-laki itu bernama Sehun. Dia punya bakat mencuri perhatian, entah karena visualnya yang menarik atau kesan misteriusnya yang pekat. Sambil menggigiti ujung pulpen, Irene mengingat tiap perjumpaan mereka; dia meragukan lelaki itu benar bernyawa. Untuk tingginya, porsi tubuhnya terbilang kurus dan tidak ada kehidupan di matanya. Dari gosip yang sampai ke telinga, dia tahu bahwa Sehun adalah dokter VVIP yang baru kembali ke Korea setelah hilang ditelan bumi. Ini memancing keingintahuan Irene, masalah apa yang membuatnya setertekan itu sampai jadi langganan psikiater.

Hari ini pun demikian, Sehun keluar dari ruangan Profesor Jordan. Seperti robot kehabisan baterai. Irene membuntutinya, mengamati punggungnya yang lebar berbalut parka. Dia tidak punya alasan lain, selain rasa penasaran yang mendorongnya semakin berani. Saking hanyut mengamati Sehun, Irene tidak lagi memerhatikan ke mana kakinya berpijak. Sepatu dolly-nya mendadak selip saat menuruni tangga, dia memekik panik hilang keseimbangan. Kakinya tergelincir dan siap tersungkur tepat ketika dia merasakan cengkeraman kuat di pinggulnya. Dan Irene yang merasakan kematian baru saja mengimbau dengan takut-takut mencari tahu.

“Se … Hun?” Matanya terbeliak, napasnya terhenti seolah tertangkap basah.

“Hati-hati,” ungkap Sehun, pelan mirip bisikan.

Sehun melepas tangan yang meremas kencang sebelah bahunya begitu Irene tegak. Menghela napas dengan letih dan berlalu sebelum Irene punya cukup tenaga untuk menyuarakan terima kasih. Irene tidak mengira Sehun bisa selembut itu. Wajah Sehun yang khawatir saat itu tampak samar, tapi dia bisa melihat kegelisahan berpendar di matanya. Irene cuma termangu menyaksikan punggung yang semakin mengecil lalu hilang ditelan keramaian.

“Kau dengar aku, Irene?” panggil Joy sambil menjentik hidung Irene.

Segala yang berseliweran dalam angan Irene terpencar sewaktu Joy memboyongnya kembali ke alam sadar. “Ya, Joy? Ada apa? Pasien di kamar berapa?” sahutnya linglung.

“Sudah waktunya ganti shift,” kata Joy, mengumpulkan barang-barang pribadi ke dalam tas. “Melamun terus sih, makanya tidak fokus. Lagi ada masalah, ya? Atau kurang fit?”

Irene menggeleng lalu melirik jam dinding yang jarum pendeknya mengarah ke angka tujuh. “Aku tidak apa-apa, cuma sedang terpikirkan sesuatu saja,” jawabnya sambil meregangkan tangan.

“Memikirkan apa?”

“Kalau kuceritakan memangnya kau akan percaya?” pancing Irene dan Joy segera menyeret kursi untuk mendengarkan lebih jelas. “Sebenarnya aku lumayan penasaran soal pria ini. Siapa dia dan banyak lagi hal lainnya. Tadi saat aku tergelincir dan nyaris jatuh, dia—entah bagaimana—menolongku dengan dramatis.”

“Dan kau jadi terpikat padanya?” timpa Joy, tersenyum-senyum meledek.

Sebelah alis Irene terjungkit dengan gestur mendadak rikuh. “Kau harus mengurangi hobimu membaca novel cinta-cintaan, Joy. Di dunia yang serba rasional tidak ada cinta seinstan itu,” dia menyanggah.

Joy cuma menjengitkan kepala, tapi mimiknya masih mencibir.

“Aku serius, Joy!”

—oOo—

Musim gugur adalah masa terbaik untuk jalan-jalan malam di taman. Menyusuri jalan setapak yang dijajari pohon maple. Mereka mulai menguning dan kering. Sayang bulan bersembunyi dalam mendung malam ini. Musim gugur masih menjajaki peralihan, angin bertiup kering dan suhu terjun beberapa derajat. Euforia musim panas rasanya cuma sebentar, sekarang semua bersiap menyambut Chuseok. Dari rumah-rumah penduduk, aroma manis songpyeon akan segera tercium sampai ke jalan. Daun-daun akan mulai berguguran, sementara burung-burung bermigrasi dan hewan-hewan kecil mempersiapkan hibernasi.

Irene berjalan sendirian, menjejalkan tangan di saku mantel yang hangat setelah mencantelkan earphone di telinga. Adalah lagu Close to You dari The Carpenters yang menemaninya sejak tadi dan tidak bosan dia senandungkan. Irene masih memikirkan Sehun, orang yang dianggapnya lemah rupanya bisa sekuat itu. Otot bisep itu bersentuhan langsung dengan punggungnya. Tatapan Sehun waktu itu juga membelitnya semakin dalam pada keingintahuan.

“Dokter apa yang sedingin itu. Dokter kulkas?” celotehnya.

Langkah membawanya sampai di taman manula yang sepi. Tetapi ada orang lain di sana, duduk dalam sapuan cahaya lampu taman yang temaram. Irene melaluinya, kemudian berbalik mundur begitu menyadari itu Sehun. Apa yang dilakukannya malam-malam begini? Irene mengernyit heran. Dia berderap mendekat tanpa reaksi dari Sehun.

“Dia tidur atau mati, sih?” gumam Irene, mengamati Sehun duduk kaku, kepalanya tertekuk ke satu sisi. Dia mendekat, mencoba memastikan dengan mengibaskan tangan.

Dan gerimis turun dengan syahdu, rintiknya bergantian menyerbu keduanya. Irene segera mengaduk-aduk isi ranselnya, mencari payung lalu mengembangkannya untuk Sehun. Dia menegakkan payung dalam posisi yang mencakupi lelaki itu. Hitung-hitung balas budi, lagi pula tidurnya terlalu nyenyak untuk diusik gerimis, pikir Irene. Dia mengisi tempat di sisi Sehun, mengkaji garis wajah Sehun yang rupawan. Bulu matanya lentik bila diamati lebih dekat. Hidungnya mencuat tinggi dan alisnya tumbuh lebat.

“Apa hidupmu sebegitu sulitnya?” gumam Irene, teringat cerita soal Sehun.

Umh ….” Sehun melenguh diikuti mata yang perlahan terbuka.

Lelaki itu tersentak menyadari kehadiran Irene, kepalanya terbentur payung dan dia langsung memberi ruang di antara mereka. Irene berusaha menerangkan situasi sambil menunjuk diri. “Dengar, aku tidak punya maksud jahat. Lihat aku baik-baik. Aku yang kau tolong di rumah sakit tadi. Ingat?”

Pandangan Sehun beralih kepada payung yang jatuh. “Punyamu?”

Um, ya.” Irene mengangguk, meraih payung lantas menguncupkannya dengan kikuk. “Aku melihatmu ketiduran dan gerimis—jadi, begitulah. Sebelumnya terima kasih untuk yang tadi siang. Anggap ini balas budi.”

“Kau suka padaku?”

“Apa?” Pertanyaan itu membuat Irene tertohok sampai lupa berkedip.

“Pergilah,” kata Sehun, susah payah berdiri seakan-akan kakinya yang jenjang adalah sepasang ranting lapuk. Dia menyesap udara malam, lantas meninggalkan Irene seperti hobinya. Pergi seolah Irene cuma lembaran tidak penting dalam kronologis kehidupan.

“Tunggu!” Irene menyusul selangkah di depan, mencegat lawan bicaranya dengan rentangan tangan. “Apa kau tidak penasaran tentangku? Atau bagaimana aku bisa tahu namamu? Dalam serentetan pertemuan picisan ini, sedikit pun tidak?”

“Tidak,” jawabnya enteng.

Sehun baru akan mengitari Irene, kala matanya terlanjur menangkap sekelompok pria tegap berpakaian hitam mirip algojo muncul dari segala arah seperti sedang mencari-cari seseorang. Sehun terkesiap, orang-orang itu melongok ke kanan dan ke kiri memburunya. Sialnya satu dari mereka barusan terlibat kontak mata dengan Sehun. Melihat ekspresi wajah mereka saja, Sehun tahu kalau ini akan jadi pelarian panjang.

Well shit,” desahnya refleks.

“Kau bilang apa?” sahut Irene.

Pria yang berdiri paling depan langsung memberi isyarat dengan tangannya begitu menemukan Sehun. Tanpa ba-bi-bu Sehun menyambar tangan Irene, membawanya berlari melintasi hutan buatan di pusat taman. Pandangannya berubah liar, mencari-cari pojok strategis untuk bersembunyi. Sial. Pohon-pohon poplar yang mengelilingi terlalu kurus untuk menyembunyikan dua orang. Jadi, opsi yang dimiliki Sehun cuma melarikan diri. Sejauh mungkin yang disanggup.

“Ke mana kau akan membawaku? Hei!”

Irene mencoba mengempaskan jemari mereka yang bertaut, tapi genggaman Sehun terlalu erat hingga jari-jarinya yang kecil sedikit nyeri. Sehun menoleh, mata Irene dan matanya yang mengawasi sekeliling dengan tergesa-gesa saling bertemu. Sejenak bunyi entakan tapak sepatu mereka melambat, Sehun sigap mendorong Irene ke dalam celah kubah permainan anak-anak. Dia berhati-hati agar kepala Irene tak sampai terbentur dinding ketika mendesak tubuh mereka masuk.

“Kau dikejar-kejar rentenir, ya?”

Sehun menyangkal. Napasnya memburu, dadanya yang bidang naik-turun dalam tempo cepat. Peluh bertali-tali di pelipisnya. Sangat jelas dia kelelahan, tapi tak sedikit pun kewaspadaannya kendur. Irene kebingungan, dia menyilangkan tangan di dada dan menghindari kontak fisik yang kian tipis.

“Kenapa harus kabur?”

“Karena belum waktunya pulang,” jawab Sehun ambigu sambil memegang bahu Irene, mendorongnya ke tembok dan mengikis jarak. Dia menyusupkan tangan sehingga punggung Irene tidak perlu menempel pada tembok yang dingin. “Tunggulah sebentar lagi.”

“Kalau begitu, kenapa aku ikut dibawa-bawa?” tanya Irene setenang mungkin, tanpa mengeluarkan emosi yang bercampur aduk. Sosok Sehun yang semakin dekat membuatnya bernapas hati-hati.

Sehun kembali merapat hingga udara panas dari hidungnya menyentuh kulit Irene. “Karena aku tidak mau kau dapat masalah,” bisiknya.

Suaranya yang rendah dan halus menggelitik telinga Irene, tetapi jantungnya menunjukkan gejala tidak normal. Berdetak kencang seperti genderang. Jangan bilang ….

tbc_zpstb22jlav

Won’t you try?

Just take my hand and run… run… run with me…

I vow to never make you regret….

.

.

You guys wanna know something funny? Senang dengan respons kalian, sedikit curcol tulisan ini dibuat tahun 2013, pernah dipublish tahun 2014 dan sekarang di-remake tahun 2017. Well, dulu cerita ini cuma dianggap sampah karena eksekusi yang jauh dari kata maksimal, LOL! You’ve made my day! Thank you! ❤

Terima kasih buat kalian yang sudah membaca, sempatkan menulis komentar sebagai pelajaran buat aku di tulisan selanjutnya ❤ Psst, aku bukan author yang garang kok jadi kalau mau nulis kritik atau saran pun aku terima dengan legowo XD

 

 

XOXO,

Joongie

63 tanggapan untuk “[KEPING 1] Autumn Elegy: Run With Me — Joongie”

  1. FF pertama dg pairing sesama idol yg aku suka.. biasanya kurang minat baca ff yg dipairing dg idol lagi, tpi entah knapa aku penasaran dan pgn tahu kelanjutan cerita ini. juga, diksinya bagus, enak dibaca. semangat buat kakak authornya!

    1. Hei kamu maafin aku baru balas ya 😭😭😭
      Udah lanjut kok lanjut lagi trus ada note permintaan maafku juga di keping 2
      Sekali lagi minta maaf ya karena telat T.T

  2. Well, now it’s def a masterpiece. Tbh, udah lamaaaaaa bgt ga baca ff yg bhs indonesia gegara nongkrongnya sering di aff. Trs mau baca ff indo lg kok keknya aneh gt kalo bahasanya eummm well you know what lah. Tapi beneran ini bagus bgt, diksinya sumpeh kece!!! Mana castnya juga mendukung, mendukung for my liking sih hahaa. Ditunggu keping keduanya

    1. Hai, RIN! Sorry late reply, thank you so much buat pujiannya yang bikin aku berbunga-bunga 😘
      Hahahah I know that feel so well bahkan sempat kecanduan baca novel west dan sekedar kasih tau, keping kedua sudah update dan so sorry banget buat keterlambatannya 😭

  3. Well; aku baru baca aja udah terpikat ngga karuan gini. By the way, diupdate nya jarak berapa hari? Seminggukah? I hope ngga lama2 lah yaa wkwk. So monggo dilanjut❤❤

  4. wehh sehun dulunya dokter???
    ehmmm sehun ini amnesia ringan kah… masak gk inget sama irene yg dulu nemenin dia pas sadar..
    irene jg kok ya gk inget.. ingetnya pas jatoh ditolongin… kkkkkk
    pengen dong desek”an sama sehun…hahaha

    1. Hai, VeeHun! Maaf baru balas ya, namanya juga orang baru bangun kadang suka keliyengan antara liat antara nda wahahaha
      Nah si Irene tuh yang kudu dipertanyakan XD

  5. Aku tadi sempet bingung sama latarnya hehe
    Penasaran banget sehun itu kenapa
    Ditunggu pake banget kelanjutannya thor^^
    Hwaiting^^

  6. Ihhh irene jackson nya luchuuww hehehe gemes gitu bacanya jackson tuh pas juga imagenya lucu lucu uun gila gimanaa gituu. Aku tau itu yang baju hitam pasti satpam kann, sehun nyolong sendal dimana sampe di cariin gitu? HEHE GAK DEENG ceritanya makin bikin penasaraaannn di tunggu next nyaaa💖

    1. Punya bestie kek mereka berdua itu cucok yak 😆😆😆
      Hakhakhak ya kali Sehun abis jumatan, trus nuker sendal Swallownya, sip kungakak pagi” 😂😂😂
      Thank you 😘

  7. Sebener’a apa yg terjadi dgn sehun?dan apa kabar sm Wendy yg nama’a disebut di teaser tp mghlg di 1st chapter ini….msh bnyk yg blm terjwb.well yg plg ditunggu sbnr’a bagaimana,kenapa,dan kapan Hunrene nikah.kkkke
    Next chap’a jgn lma2 y *nawar
    btw joongie pny jdwl publish ga?biar reader’a ga koma ky sehun *sking pnsaran’a.

    1. Sengaja ga dijelasin dulu kemana si Wendy biar jadi misteri, karena alurnya maju bukan mundur hoakaka :v
      Hihi sebenernya masih panjang, pen ganti genre “romance” kok ya males 😂😂😂
      Hihi ntar aku publish insyaallah mah tanggal 31 kelar event XIUMIN ke depannya mau update tiap sabtu :3
      Thank you 😘

  8. feel nya ya ampunnnn, dapet banget. tapi emang kalo hunrene selalu dapet feelnya *jiwa hunrene gue keluar >,<

    suka banget sama scane irene mayungin sehun yang lagi tidur.
    btw itu ceritanya di korea apa luar negeri?

    1. Hahaha kalo dah ngeshipper apa pun jadi syahdu ya XD
      Dia mayungin Sehun, sendirinya malah kehujanan 😂😂😂
      Ini udah Korea, nanti yang di Hamburg ada bahasannya sendiri kok :3

  9. Sehun kenapa sihhh..sebegitu nya banget dah,gw makin bingung sm si sehun.dy di kejar pengawal ato rentenir???terus tadi thorr ko gk ad tulisan TBC???ini madih lanjut kan???o iya Btw gw belum di buat baper sm mereka,tapi gw tunggu banget thor kelanjutan nya.

    1. Hahaha yang jelas bukan rentenir 😂😂😂
      Ini masih lanjut kok emang sengaja ga tulis tbc kkk~
      Iyaaap tentunya kan masih part awal nanti bertahap kok 😆

  10. Rada bersalah ama papih myun .. pih , ijinkanlah gue selingkuh sama couple ini dulu .. #ngomongapasih #surene

    Keren . Lanjut pokoknya . Ditunggu kelanjutannya , btw ini marriage life kan ??, nikah dong yah … haha

  11. Aku suka sama deskripsinya yang ringan tapi pas dan detil 🙂 bacanya jadi nyaman~ Oiya, ini settingnya udah di Korea kah? Di teasernya kemaren perasaan di luar negeri kan ya? Karakternya Irene yang kelihatan easygoing gitu sama friendshipnya dia sama jackson, malah bikin salah fokus dari scene Irene-Sehun HAHA
    Anyway, sukaak lah! Keep writing ya~ Oya, pat disini (99liners), salam kenal sebelumnya 🙂

    1. Hihi thank you 😚
      Iya ini settingnya Korea, kemaren kan di Hamburg dan itu nanti ada ceritanya sendiri kok :3
      Iyaaa aku berusaha ngegambarin gimana sih interaksi persahabatan yang ga canggung XD
      Btw salah kenal adekku, silakan panggil aku apa saja 😘

  12. emang chemistry hunrene selalu ngena di hati😍 rada greget ma sehun yang pasif kek gitu, tapi semoga cepet dapet jalan terang haha

  13. Ku jingkrak-jingkrak dulu, baru baca loh kak 😀 Baru tadi siang disuguhkan teaser and malamnya udah disuguhin keping pertama, kyaa, kusukaa ini serius >< gak apa-apa gandengan dulu lah nanti ujung-ujungnya jadian jugaa ahhh :)) Ada aroma triangle love kah ini? Semangat terus kak Kekeee~

    1. Hihi senengnya dengar kamu bilang gitu :3
      Mumpung ini cerita remake jadi cepet kelarnya hakakak 😂
      Iya ada aroma cinta segitiga, bisa jadi segi banyak juga sebenernya karena banyak yang belum pada muncul 😂😂😂
      Thank you, Yuki 😙

    2. Jadi ini remake? Udah pernah di-post gak kak?
      Kuharap segi banyak, pasti konfliknya bikin greget ini ><
      Sama-sama kak Keke 😙

    3. Hakakaka bukan cintaku, tapi cinta orang lain yang sebenarnya di dunia nyata, baik Sehun, Irene, bahkan Wendy ada orangnya yang asli 😂😂
      So, sebelum posting di sini daku permisi dulu, Ki XD

  14. Yeyyy…update!!!
    Aku pikir Sehun bakalan jatuh cinta pda pandangan prtama sama Irene…rupanya Irene blim mampu menggoyahkan hatinya Sehun😂😂
    Nice unnie…aku ngga nyangka Sehun bakalan jadi batu kayak gitu, krna d awal sadar dia meluk Irene…
    Okey….waiting for next chap yya unnie^^
    Semangattt ng’remakenya…

    1. Ngahahaha Sehunnya masih jadi manusia setengah batu, antara sadar ga sadar sama dunia ini 😂😂😂
      Iyaaaa kadang tekanan batin yang keterlaluan bisa bikin orang jadi kek gitu kan 😆😆
      Thank you, moah 😗

  15. uaaaaaaaa.. kerennya 👍👍👍👍suka sama karaktermya sehun ..irene juga . penasaran nih sama cerita selanjutnya 😋
    publisnya hr senin ya thor??

  16. Love it!!!
    Entah kenapa aku selalu suka fanfic dengan karakter Sehun yang misterius. Penasaran banget kenapa Sehun bisa sampe gitu. Gara-gara Wendy? Tapi ada kejadian apa? Terus kenapa Irene lupa Sehun dan Sehun lupa Irene? Well banyak sekali pertanyaan yang semoga cepet kejawab dengan cepet update ff nya😂

    1. Hehehe thank you 😙
      Nah itu diaa! Ke manakah Wendy trus dia ngapain Sehun ampe sawan begitu 😂😂😂
      Hakakaka mungkin efek beda suhu di Hamburg ama Seoul/ ga 😂

  17. Well kak, aku excited banget pas nemu chapyer pertamanya dipublish. Astaga, langsung penasaran dan buka, dan seperti yg diharapkan, aku speechless. 😂
    Sehun, ente lupa Irene itu suster pas ente sadar dari koma eui?😂
    Sejun dokter genius, dan sepertinya ini masih karena wendy dia meratapi nasib kek begitu. Iya gak kak?/digampar karena sok tau/
    Well, kenapa eki senyam senyum gak jelas ketika sehun narik Irene buat kabur? Kenapa eki ngebayanginnya super lancar kayak emang ada Taman dan mereka berdua masuk ke celah-celah mainan bocah? Astaga, eki sepertinya bakal kecanduaan ff ini.😂
    Keep writing kak, aku tunggu next chapnya, bahkan sangat ditunggu.😍
    Hwaiting!!😆😆

    1. Kyaaa senangnya dibilang gitu ama kamu, Ki ><
      Tadi rada khawatir bakal dianggap retjeh soale 😢
      Duh maklum namanya juga orang baru sadar itu otaknya masih anyep 😂😂😂
      Dan kenapa coba Wendy diratapin, kemana dia? 😂😂😂
      Duh ya ampun Ki, dalam hati kujuga pengen desek"an bareng Sehun /-\
      By the way, thank you ya 😗

Tinggalkan Balasan ke shaekiran Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s