[KEPING 1] Autumn Elegy: Run With Me — Joongie

Autumn Elegy

Joongie © 2017

Oh Sehun || Irene Bae || Jackson Wang || Kang Seulgi

Adult, AU, Angst, Romance

Chaptered (PG17)

This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. No profit was made from this work. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Don’t be silent reader, please.

Start Here: Teaser  

Summary :

Dalam perjumpaan klasik, Irene mengenal Sehun. Pria seribu luka, orang-orang menjulukinya. Namun di mata Irene, Sehun seolah memohon disembuhkan dalam kebisuannya. Dan tanpa disadari Irene malah terperangkap oleh kemisteriusan juga teka-teki soal penghuni hati Sehun, ketika hatinya diam-diam berharap jadi wanitanya Oh Sehun.

Run With Me!

Won’t you try just holding my hand?

Together with fingers intertwined…

Run with me….

.

.

Dalam ruang berukuran sedang dengan perabot serta nuansa khas monokrom, dua pria duduk berhadapan terjerumus keheningan panjang. Pada sofa berlengan panjang Sehun bersandar, menatap Cho Seong Ha lewat pandangan apatis. Seong Ha, psikiater paling dihormati seantero Korea cuma menyatukan kesepuluh jari menopang dagu atas sikap defensif Sehun.

“Biar kuulang. Bisa kau respons tayangan barusan, Oh Sehun?”

Hening.

Sehun bergeming, sibuk memainkan jari tanpa peduli situasi. Sementara dua asisten beserta seorang perawat—yang selalu disiagakan seandainya Sehun berontak atau melarikan diri—saling melirik jengah. Sejak kejadian itu, Sehun membisu. Seong Ha menyimpulkan bahwa Sehun terjebak dalam depersonalization disorder. Dia menolak kenyataan yang berlangsung, sedang alam bawah sadarnya nyaris meracuni akalnya dengan doktrin bahwa segala yang terjadi cuma mimpi buruk. Semua ini cuma skenario mencekam yang harus ditemukan akhirnya. Juga menganggap bahwa kesadaran hanyalah perasaan, bukan realitas.

Dia hidup sekaligus mati bersamaan.

Seong Ha mendesah keras. “Tinggalkan kami berdua.”

Ketiga orang yang dimaksud menyahut lantas meninggalkan Sehun dan Seong Ha dengan perasaan sangsi. Lantaran sulit menebak apa yang mungkin akan dilakukan pasien dengan mental yang tidak stabil kepada pria tua yang terus mendiktenya melalui terapi verbal—dalam hal ini perlawanan mungkin saja terjadi.

“Kau hidup seperti robot, gagal dalam merespons secara emosi maupun aksi,” tutur Seong Ha sembari melirik sekilas riwayat perkembangan terapi Sehun. “Sampai kapan kau akan begini? Perlu kuperlihatkan hasil CT scan yang benar-benar tidak menunjukkan adanya masalah?”

Sehun menatap pria lima puluhan itu lebih intens.

“Kau masih muda dan masa depanmu masih panjang. Kau cuma harus menerima kenyataan dan merelakannya sebagai masa lalu. Sampai kapan kau akan menyia-nyiakan hidupmu sementara semua orang berharap banyak padamu?” imbuh Seong Ha sembari beranjak menduduki meja yang berhadapan langsung dengan Sehun.

“Hentikan,” timpa Sehun, vokalnya mengintimidasi.

“Kau barusan bicara?” Seong Ha tersenyum lalu menepuk hangat bahu Sehun. “Hilangkan semua bayang-bayangnya dan mulai kembali hidupmu. Aku dan Profesor Cheon akan mendukung kariermu, karena kami yakin kau masih genius yang sama.”

“AKU BILANG HENTIKAN!” Sehun bangkit, menepis tangan besar yang menekan bahunya kemudian meledak, “Orang seperti kalian cuma bisa berteori!”

“Lalu, kau puas dengan sikapmu? Kalau masih ada sedikit kewarasan di kepalamu, coba pikirkan tentang orangtuamu yang juga kauhancurkan perasaannya. Kau tidak lebih dari bayi besar yang keterlaluan meratapi segalanya. Membuat dirimu menyedihkan dan seolah-olah jadi orang paling malang di dunia ini. Begitukah kau akan hidup? Berakhir jadi pecundang?”

Bahu Sehun melesa, kepalanya kembali berdentam disudutkan kebenaran dalam tiap kalimat Seong Ha. Kemudian dengan suara yang nyaris seperti embusan napas dia berucap, “Lalu apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku akan hidup? Aku sudah tidak tahu mana yang benar.”

“Lanjutkan saja hidupmu seperti seharusnya. Menangis kalau sedih, tertawa jika bahagia, atau setidaknya tersenyumlah dengan ramah,” saran Seong Ha, kembali ke kursinya dan bersiap menuliskan resep dalam pertimbangan untuk menurunkan dosis.

“Apa dengan begitu semua akan berubah? Keadaan akan kembali normal ketika aku yang sekarang nyaris lupa seperti apa rasanya bahagia? Bullshit. Aku tetap hidup bukan karena aku ingin. Aku cuma ingin mati dengan terhormat,” tekan Sehun, caranya memandang berganti sinis—yang justru dianggap Seong Ha sebagai suatu kemajuan.

“Memangnya dengan membatu semuanya bisa berubah?” balas Seong Ha sarkartis, lalu dengan santai menyodorkan resep ke muka Sehun. “Paling tidak waktu akan menyembuhkan sakitnya, Hun. Asalkan kau percaya.”

Dan Sehun mendadak berlaku bagai kerbau yang dicucuk hidungnya.

—o0o—

Sial, sial, sial! Umpatan sambung-menyambung keluar dari bibir Irene yang dipoles lipstik merah jambu. Dia berlarian di sepanjang koridor rumah sakit sambil memeluk beberapa berkas seperti lesatan meteor. Menyempil masuk ke lift yang hampir tertutup, kemudian keluar dengan langkah lebar, menerobos kerumunan pasien rawat jalan dengan gigih dan menerjang apa pun guna mempersingkat waktu.

Terlambat di hari sesibuk ini adalah masalah besar.

Irene yang mengejar waktu berhenti ketika badannya yang mungil menabrak pasien yang baru saja keluar dari poli psikiatri sampai terjungkang. Di hadapannya laki-laki itu tegak menjulang tanpa ekspresi, tetap kokoh seakan-akan yang barusan menabraknya cuma sebuah bantal. Irene mendongak terperangah, kaget sekaligus terheran. Hingga pada sekon selanjutnya dia sadar bahwa sekarang bukan waktunya berleha-leha.

Maka Irene bergegas bangun, lantas membungkuk berulang kali. “Maafkan aku, Tuan. Aku benar-benar tidak melihat Anda keluar dari sana. Kalau ada yang terluka sila—”

Belum sempat Irene menyelesaikan basa-basi, laki-laki itu telah berlalu tanpa mengindahkan permintaan maafnya. Sialan, bukannya mengatakan tidak apa-apa malah pergi begitu saja, senandika Irene sebal sembari lekas berjongkok mengumpulkan kertas yang berceceran saat tubuh mereka beradu. Namun, Irene tak bisa mencegah matanya mengiringi kepergian si Sombong ketika sensasi familier mendadak menggelitik memori. Laki-laki itu berhenti sebentar di ujung koridor usai disapa sosok yang amat dikenal Irene.

Si Kampret, Jackson Wang yang sekarang menghampirinya.

“Irene! Bae-rene!” sapanya, melambai-lambai seperti bocah.

“Dasar sialan!” Satu tendangan mendarat ke tulang kering Jackson sebagai penyambutan. “Kita ini tetangga. Kerja di tempat yang sama, satu shift pula. Sampai hati kaubiarkan aku terlambat dan tidak memberi tumpangan?”

“Aduh, sorry!” seru Jackson sambil melompat-lompat mengelus satu kaki. “Tadinya aku sudah mampir dan kau masih tidur. Aku juga sempat masuk ke kamarmu, karena tidurmu nyenyak sekali—sampai mengorok—aku jadi tidak tega.”

“Tidak tega, pantatmu,” omel Irene, bersungut-sungut merapikan berkas dalam genggaman. “Bilang saja kalau kau senang melihatku diomeli Suster Hwang. Iya, kan?”

Jackson meringis, buru-buru menyusul Irene yang berjalan cepat lantas merangkulnya. “Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau siang ini aku traktir yang manis-manis? Mau apa? Macaroon? Gelato? Tiramisu? Atau cukup senyumanku saja?”

Dan siku Irene kontan melesat ke rusuk Jackson, membuat mimiknya berkerut nyeri. Jackson Wang, sahabat sedari kecil sekaligus putra bungsu dari teman ibu Irene. Kaya dari lahir, juga diberkahi tampang tengil yang menjanjikan bagi kebanyakan perempuan. Berprofesi sebagai dokter—yang juga sedang menempuh pendidikan spesialis—dan punya reputasi baik sejauh ini. Sedangkan Irene adalah perawat yang selalu ditempeli Jackson di dalam tiap kesempatan.

Orang bilang tidak ada yang namanya persahabatan murni antara laki-laki dan perempuan. Sekarang pun mereka berdua ibarat, teman rasa pacaran. Disadari atau tidak, cara Jackson memandang Irene adalah milik seorang pria yang menatap seisi dunianya. Hanya saja, pihak yang dituju terlalu bebal untuk merasakan.

“Omong-omong yang tadi siapa?”

“Yang mana?”

“Yang tadi kau sapa di ujung koridor. Pasienmu?”

Jackson menggeleng. “Bukan. Dia teman lamaku yang kebetulan berobat di sini. Padahal dulu orangnya sangat ramah, tapi sekarang—ah, sudahlah panjang ceritanya. Memangnya kenapa?”

“Bukan apa-apa. Aku cuma merasa tidak asing dengan wajahnya.”

“Jangan bilang—” Jackson menggantung ucapannya, kemudian sambil menyipitkan mata dia menduga, “—kau punya minat padanya, ya?”

Irene menyunggingkan senyum, dengan tinju dikepalkan dia bertanya sesantun mungkin, “Dokter Wang, Anda mau coba double headshot?”

—o0o—

Sehun adalah lelaki yang diam-diam mencuri perhatian Irene dalam setiap perjumpaan mereka yang kian intens, meski hanya berpapasan tanpa lirikan berarti. Dari gosip yang sampai ke telinga, dia tahu bahwa Sehun dulunya seorang dokter yang baru kembali ke Korea setelah menghilang tanpa jejak. Sehun juga tidak pernah terlihat berbincang dengan orang lain, apalagi dia selalu mengaktifkan mode angkuh dan itu semakin memancing kuriositas Irene.

Kembali terulang, Sehun keluar dari ruangan dokter Cho persis seperti robot. Irene memandang setiap mili dalam diri Sehun tanpa terkecuali, membuat gelombang pertanyaan berduyun-duyun datang. Siapa? Di mana? Dan kapan tepatnya mereka pernah bertemu? Menjengkelkan saat Irene berusaha mengorek ingatan akan sosok lelaki jangkung itu, tapi semua selalu berakhir nyaris.

Ini keafamilieran yang janggal.

Saking fokusnya mengamati Sehun, Irene tak lagi memperhatikan ke mana kakinya berpijak. Sepatu dolly-nya mendadak selip saat mendaki tangga, keseimbangan Irene kontan hilang hingga dia memekik panik. Kakinya tergelincir tepat ketika dia merasakan cengkeraman kuat di pinggulnya. Dan Irene yang merasakan kematian baru saja mengimbaunya dengan takut-takut mencari tahu sang empunya lengan.

Mata Irene terbeliak. “Se… Hun?”

“Nyaris,” ungkap Sehun, datar juga lebih mirip bisikan.

Dia melepas tangan Irene yang menarik kencang sebelah bahunya dan pergi sebelum Irene bisa menyuarakan terima kasih. Dalam selayang pandang, Irene bisa melihat kesedihan berpendar di matanya beserta sejumput ketegaran yang menyerupai percik-percik embun di padang gersang. Menularkan perasaan merinding dan ketidaknyamanan yang menjadikan Irene termangu, menyaksikan punggung yang semakin mengecil lalu hilang.

“Kau dengar aku, Irene?” panggil Joy sambil menjentik pipi Irene.

Segala yang berseliweran dalam angan Irene memudar sewaktu Joy memboyongnya kembali ke alam sadar. “Ya, Joy? Ada apa?” sahutnya dengan sorot linglung.

“Sudah waktunya ganti shift,” kata Joy, mengumpulkan barang-barang pribadi ke dalam tas. “Kenapa dari tadi melamun terus? Sedang tidak enak badan, ya?”

Irene langsung melirik jam dinding, kemudian menggeleng. “Tidak, kok. Aku baik-baik saja, cuma sedang terpikirkan sesuatu saja.”

“Memikirkan apa?”

“Kalau kuceritakan memangnya kau akan percaya?” pancing Irene dan Joy segera menyeret kursi untuk mendengarkan lebih jelas. “Sebenarnya aku lumayan penasaran soal laki-laki ini. Siapa sebenarnya dan banyak lagi hal lainnya. Tadi saat aku tergelincir dan nyaris jatuh, dia—entah bagaimana—menolongku dengan dramatis seperti pahlawan super.”

“Dan kau jadi terpikat padanya?” timpa Joy, tersenyum-senyum meledek.

Sebelah alis Irene terjungkit dan gesturnya mendadak rikuh. “Sepertinya kau harus mengurangi hobimu membaca novel romansa, Joy. Di dunia yang serba rasional tidak ada cinta seinstan itu,” dia menyanggah.

Joy cuma menjengitkan kepala, tapi romannya masih mencibir.

Mana mungkin hati bisa terpaut secepat itu.

—o0o—

Menyusuri jalan setapak terapit jajaran pohon maple yang menguning, Irene masih belum bisa mengenyahkan Sehun dari kepalanya. Terngiang-ngiang oleh tatapan Sehun yang membelitnya semakin dalam pada keingintahuan. Sambil menggelengkan kepala dan berlarian kecil, dia berupaya mengenyahkan pikiran yang bukan-bukan.

Musim gugur masih menjajaki peralihan, angin bertiup kering dan suhu terjun beberapa derajat. Euforia musim panas rasanya cuma sebentar, sekarang semua orang bersiap menyambut Chuseok. Dari rumah-rumah penduduk, aroma manis songpyeon akan segera tercium sampai ke jalan. Daun-daun akan mulai berguguran, sementara burung-burung bermigrasi dan hewan-hewan kecil mempersiapkan hibernasi.

Irene memasang earphone ke telinga, memutar lagu The Man Who Can’t Be Moved dari The Script guna mengusir sepi. Bersenandung sambil berjalan, meredakan sedikit kepenatan yang hinggap. Kini Irene tertawa kecil, mengingat-ingat lagi sensasi yang dia rasakan sewaktu otot bisep itu bersentuhan langsung dengan punggungnya. Alih-alih Danny O’Donoghue, yang muncul di angannya malah Sehun yang bertingkah bak vokalis.

Kelajuan membawanya sampai di taman manula, di mana seorang lelaki duduk dalam sapuan cahaya temaram. Irene melaluinya, kemudian berjalan mundur setelah menyadari itu Sehun. Apa yang dilakukannya di sini? Kening Irene mengernyit. Dia berderap mendekat, Sehun tak bereaksi duduk kaku dengan kepala menekuk.

“Dia tidur atau mati, sih?” Irene mengibas-ngibaskan tangan di kepala Sehun.

Bertepatan gerimis turun dengan syahdu, titik-titiknya bergantian menyerbu keduanya. Irene mengembangkan payung, menegakkannya dalam posisi yang mencakupi Sehun. Sekilas mungkin lancang, tapi begitulah kepribadian Irene. Hitung-hitung balas budi, batinnya. Irene mengisi tempat di sebelah Sehun, mengambil waktu mengkaji garis wajah yang rupawan serta bulu matanya yang lentik bila dilihat lebih dekat. Hidungnya mencuat tinggi dan alisnya tumbuh lebat.

“Apa hidupmu sebegitu melelahkannya?” gumam Irene, teringat kemuraman Sehun.

Umh….” Sehun melenguh pelan diikuti mata yang mencelang.

Sehun tersentak menyadari kehadiran Irene, lekas memberi ruang di antara mereka. “Dengar, aku tidak punya maksud jahat. Lihat aku baik-baik. Aku yang kau tolong di rumah sakit tadi. Ingat?” Irene berusaha menerangkan situasi sambil menunjuk diri.

Pandangan Sehun jatuh kepada payung yang terbentang. “Punyamu?”

Um, ya.” Irene mengangguk canggung, meraih payung lantas menguncupkannya. “Aku melihatmu ketiduran dan gerimis—jadi, begitulah. Sebelumnya terima kasih untuk yang tadi siang. Anggap saja ini sebagai balas budi.”

“Kau suka padaku?”

“Apa?” Pertanyaan itu membuat Irene tertohok sampai lupa cara berkedip.

“Pergilah,” kata Sehun, susah payah berdiri seakan-akan kakinya yang jenjang adalah sepasang ranting lapuk. Dia menyesap udara malam sejenak, lantas meninggalkan Irene seperti hobinya, pergi seolah Irene cuma lembaran tidak penting dalam kronologis kehidupan.

“Tunggu sebentar!” Irene menyusul selangkah di depan, lalu mencegat lawan bicaranya dengan rentangan tangan. “Apa kau tidak penasaran tentang siapa aku? Atau bagaimana aku bisa tahu namamu? Dalam serentetan pertemuan picisan ini, sedikit pun tidak?”

“Tidak,” jawabnya enteng.

Sehun baru akan mengitari Irene, kala matanya terlanjur menangkap sekelompok pria tegap berpakaian hitam mirip algojo muncul dari segala arah seperti sedang mencari-cari seseorang. Sehun tersentak, orang-orang itu melongok ke kanan dan ke kiri memburunya. Sialnya satu dari mereka barusan terlibat kontak mata dengan Sehun. Melihat ekspresi wajah mereka saja, Sehun tahu kalau ini akan jadi pelarian panjang.

Well, shit,” desahnya refleks.

“Kau bilang apa?” sahut Irene.

Pria yang berdiri paling depan langsung memberi isyarat dengan tangannya begitu menemukan Sehun. Tanpa ba-bi-bu Sehun menyambar tangan Irene, membawanya berlari melintasi hutan buatan di pusat taman. Pandangannya berubah liar, mencari-cari pojok strategis untuk bersembunyi. Namun nihil, pohon-pohon poplar yang mengelilingi terlalu kurus untuk menyembunyikan dua orang. Jadi, opsi yang dimiliki Sehun cuma melarikan diri. Sejauh mungkin yang disanggup.

“Ke mana kau akan membawaku? Hei!”

Irene mencoba menghempaskan jemari mereka yang bertaut, tapi genggaman Sehun terlalu erat hingga jari-jarinya yang cilik sedikit sakit. Sehun menoleh, mata Irene dan matanya yang mengawasi sekeliling dengan tergesa-gesa saling bertemu. Sejenak bunyi hentakan tapak sepatu mereka melambat, Sehun spontan mendorong Irene ke dalam celah wahana permainan anak-anak. Dia berhati-hati agar kepala Irene tak sampai terbentur dinding ketika mendesak tubuh mereka masuk.

“Kau dikejar-kejar rentenir, ya?”

Sehun menyangkal. Napasnya memburu, dadanya yang atletis naik-turun dalam tempo cepat sedang peluh bertali-tali di pelipis. Kendati penat, tak sedikit pun kewaspadaannya dilepaskan. Setiap perempuan pasti berdesir dibuatnya, berharap diizinkan berlabuh dalam dekapannya. Ingin benaung di sana, memilikinya selamanya.

“Lalu, kenapa harus kabur?”

“Karena belum waktunya pulang,” jawab Sehun sambil memegang bahu Irene, mendorongnya lebih dalam ke tembok juga mengikis jarak. Dia menyusupkan tangan sehingga punggung Irene tidak perlu menempel pada tembok yang dingin. “Tunggulah sebentar lagi.”

“Kalau begitu, kenapa aku ikut dibawa-bawa?” tanya Irene setenang mungkin, tanpa mengeluarkan emosi yang bercampur aduk dalam relung. Sosok Sehun yang semakin dekat membuatnya bernapas hati-hati.

Sehun kembali merapat sehingga udara panas dari hidungnya menyentuh kulit Irene. “Karena aku tidak mau kau dapat masalah,” bisiknya.

Suaranya yang rendah dan halus menggelitik telinga Irene, tetapi jantungnya menunjukkan gejala tidak normal. Berdetak kencang menggebuk rongga dada. Jangan bilang….

.

Won’t you try?

Just take my hand and run… run… run with me…

I vow to never make you regret….

.

.

You guys wanna know something funny? Senang dengan respons kalian, sedikit curcol tulisan ini dibuat tahun 2013, pernah dipublish tahun 2014 dan sekarang di-remake tahun 2017. Well, dulu cerita ini cuma dianggap sampah karena eksekusi yang jauh dari kata maksimal, LOL! You’ve made my day! Thank you! ❤

Terima kasih buat kalian yang sudah membaca, sempatkan menulis komentar sebagai pelajaran buat aku di tulisan selanjutnya ❤ Psst, aku bukan author yang garang kok jadi kalau mau nulis kritik atau saran pun aku terima dengan legowo XD

 

 

XOXO,

Joongie

Iklan

61 pemikiran pada “[KEPING 1] Autumn Elegy: Run With Me — Joongie

  1. Ping balik: [KEPING 3] Autumn Elegy: That Woman — Joongie | EXO FanFiction Indonesia

  2. FF pertama dg pairing sesama idol yg aku suka.. biasanya kurang minat baca ff yg dipairing dg idol lagi, tpi entah knapa aku penasaran dan pgn tahu kelanjutan cerita ini. juga, diksinya bagus, enak dibaca. semangat buat kakak authornya!

  3. Ping balik: [KEPING 2] Autumn Elegy: Stuck On Him — Joongie | EXO FanFiction Indonesia

    • Hei kamu maafin aku baru balas ya 😭😭😭
      Udah lanjut kok lanjut lagi trus ada note permintaan maafku juga di keping 2
      Sekali lagi minta maaf ya karena telat T.T

  4. Well, now it’s def a masterpiece. Tbh, udah lamaaaaaa bgt ga baca ff yg bhs indonesia gegara nongkrongnya sering di aff. Trs mau baca ff indo lg kok keknya aneh gt kalo bahasanya eummm well you know what lah. Tapi beneran ini bagus bgt, diksinya sumpeh kece!!! Mana castnya juga mendukung, mendukung for my liking sih hahaa. Ditunggu keping keduanya

    • Hai, RIN! Sorry late reply, thank you so much buat pujiannya yang bikin aku berbunga-bunga 😘
      Hahahah I know that feel so well bahkan sempat kecanduan baca novel west dan sekedar kasih tau, keping kedua sudah update dan so sorry banget buat keterlambatannya 😭

  5. Well; aku baru baca aja udah terpikat ngga karuan gini. By the way, diupdate nya jarak berapa hari? Seminggukah? I hope ngga lama2 lah yaa wkwk. So monggo dilanjut❤❤

  6. wehh sehun dulunya dokter???
    ehmmm sehun ini amnesia ringan kah… masak gk inget sama irene yg dulu nemenin dia pas sadar..
    irene jg kok ya gk inget.. ingetnya pas jatoh ditolongin… kkkkkk
    pengen dong desek”an sama sehun…hahaha

    • Hai, VeeHun! Maaf baru balas ya, namanya juga orang baru bangun kadang suka keliyengan antara liat antara nda wahahaha
      Nah si Irene tuh yang kudu dipertanyakan XD

  7. Aku tadi sempet bingung sama latarnya hehe
    Penasaran banget sehun itu kenapa
    Ditunggu pake banget kelanjutannya thor^^
    Hwaiting^^

  8. Ihhh irene jackson nya luchuuww hehehe gemes gitu bacanya jackson tuh pas juga imagenya lucu lucu uun gila gimanaa gituu. Aku tau itu yang baju hitam pasti satpam kann, sehun nyolong sendal dimana sampe di cariin gitu? HEHE GAK DEENG ceritanya makin bikin penasaraaannn di tunggu next nyaaa💖

    • Punya bestie kek mereka berdua itu cucok yak 😆😆😆
      Hakhakhak ya kali Sehun abis jumatan, trus nuker sendal Swallownya, sip kungakak pagi” 😂😂😂
      Thank you 😘

  9. Sebener’a apa yg terjadi dgn sehun?dan apa kabar sm Wendy yg nama’a disebut di teaser tp mghlg di 1st chapter ini….msh bnyk yg blm terjwb.well yg plg ditunggu sbnr’a bagaimana,kenapa,dan kapan Hunrene nikah.kkkke
    Next chap’a jgn lma2 y *nawar
    btw joongie pny jdwl publish ga?biar reader’a ga koma ky sehun *sking pnsaran’a.

    • Sengaja ga dijelasin dulu kemana si Wendy biar jadi misteri, karena alurnya maju bukan mundur hoakaka :v
      Hihi sebenernya masih panjang, pen ganti genre “romance” kok ya males 😂😂😂
      Hihi ntar aku publish insyaallah mah tanggal 31 kelar event XIUMIN ke depannya mau update tiap sabtu :3
      Thank you 😘

  10. feel nya ya ampunnnn, dapet banget. tapi emang kalo hunrene selalu dapet feelnya *jiwa hunrene gue keluar >,<

    suka banget sama scane irene mayungin sehun yang lagi tidur.
    btw itu ceritanya di korea apa luar negeri?

    • Hahaha kalo dah ngeshipper apa pun jadi syahdu ya XD
      Dia mayungin Sehun, sendirinya malah kehujanan 😂😂😂
      Ini udah Korea, nanti yang di Hamburg ada bahasannya sendiri kok :3

  11. Sehun kenapa sihhh..sebegitu nya banget dah,gw makin bingung sm si sehun.dy di kejar pengawal ato rentenir???terus tadi thorr ko gk ad tulisan TBC???ini madih lanjut kan???o iya Btw gw belum di buat baper sm mereka,tapi gw tunggu banget thor kelanjutan nya.

  12. Rada bersalah ama papih myun .. pih , ijinkanlah gue selingkuh sama couple ini dulu .. #ngomongapasih #surene

    Keren . Lanjut pokoknya . Ditunggu kelanjutannya , btw ini marriage life kan ??, nikah dong yah … haha

  13. Aku suka sama deskripsinya yang ringan tapi pas dan detil 🙂 bacanya jadi nyaman~ Oiya, ini settingnya udah di Korea kah? Di teasernya kemaren perasaan di luar negeri kan ya? Karakternya Irene yang kelihatan easygoing gitu sama friendshipnya dia sama jackson, malah bikin salah fokus dari scene Irene-Sehun HAHA
    Anyway, sukaak lah! Keep writing ya~ Oya, pat disini (99liners), salam kenal sebelumnya 🙂

    • Hihi thank you 😚
      Iya ini settingnya Korea, kemaren kan di Hamburg dan itu nanti ada ceritanya sendiri kok :3
      Iyaaa aku berusaha ngegambarin gimana sih interaksi persahabatan yang ga canggung XD
      Btw salah kenal adekku, silakan panggil aku apa saja 😘

  14. emang chemistry hunrene selalu ngena di hati😍 rada greget ma sehun yang pasif kek gitu, tapi semoga cepet dapet jalan terang haha

  15. Ku jingkrak-jingkrak dulu, baru baca loh kak 😀 Baru tadi siang disuguhkan teaser and malamnya udah disuguhin keping pertama, kyaa, kusukaa ini serius >< gak apa-apa gandengan dulu lah nanti ujung-ujungnya jadian jugaa ahhh :)) Ada aroma triangle love kah ini? Semangat terus kak Kekeee~

  16. Yeyyy…update!!!
    Aku pikir Sehun bakalan jatuh cinta pda pandangan prtama sama Irene…rupanya Irene blim mampu menggoyahkan hatinya Sehun😂😂
    Nice unnie…aku ngga nyangka Sehun bakalan jadi batu kayak gitu, krna d awal sadar dia meluk Irene…
    Okey….waiting for next chap yya unnie^^
    Semangattt ng’remakenya…

    • Ngahahaha Sehunnya masih jadi manusia setengah batu, antara sadar ga sadar sama dunia ini 😂😂😂
      Iyaaaa kadang tekanan batin yang keterlaluan bisa bikin orang jadi kek gitu kan 😆😆
      Thank you, moah 😗

  17. uaaaaaaaa.. kerennya 👍👍👍👍suka sama karaktermya sehun ..irene juga . penasaran nih sama cerita selanjutnya 😋
    publisnya hr senin ya thor??

  18. Love it!!!
    Entah kenapa aku selalu suka fanfic dengan karakter Sehun yang misterius. Penasaran banget kenapa Sehun bisa sampe gitu. Gara-gara Wendy? Tapi ada kejadian apa? Terus kenapa Irene lupa Sehun dan Sehun lupa Irene? Well banyak sekali pertanyaan yang semoga cepet kejawab dengan cepet update ff nya😂

    • Hehehe thank you 😙
      Nah itu diaa! Ke manakah Wendy trus dia ngapain Sehun ampe sawan begitu 😂😂😂
      Hakakaka mungkin efek beda suhu di Hamburg ama Seoul/ ga 😂

  19. Well kak, aku excited banget pas nemu chapyer pertamanya dipublish. Astaga, langsung penasaran dan buka, dan seperti yg diharapkan, aku speechless. 😂
    Sehun, ente lupa Irene itu suster pas ente sadar dari koma eui?😂
    Sejun dokter genius, dan sepertinya ini masih karena wendy dia meratapi nasib kek begitu. Iya gak kak?/digampar karena sok tau/
    Well, kenapa eki senyam senyum gak jelas ketika sehun narik Irene buat kabur? Kenapa eki ngebayanginnya super lancar kayak emang ada Taman dan mereka berdua masuk ke celah-celah mainan bocah? Astaga, eki sepertinya bakal kecanduaan ff ini.😂
    Keep writing kak, aku tunggu next chapnya, bahkan sangat ditunggu.😍
    Hwaiting!!😆😆

    • Kyaaa senangnya dibilang gitu ama kamu, Ki ><
      Tadi rada khawatir bakal dianggap retjeh soale 😢
      Duh maklum namanya juga orang baru sadar itu otaknya masih anyep 😂😂😂
      Dan kenapa coba Wendy diratapin, kemana dia? 😂😂😂
      Duh ya ampun Ki, dalam hati kujuga pengen desek"an bareng Sehun /-\
      By the way, thank you ya 😗

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s