Agent Lu – Scene 1 [A Wrong Rendezvous]

Agent Lu

[Scene 1 — A Wrong Rendezvous]

©2017 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Luhan as Luhan || Hyerim (OC) as Kim Hyerim

Genre : Politic, Romance, AU, slight! Action, Sad, Tragedy, Melodrama ||  Length : Mini Chapter || Rating : PG-17

Poster By : ByunHyunji @ Poster Channel

Summary :

Pada tahun 2030, terpecah perang antara China, Rusia, Korea Utara—negara kesatuan komunis, melawan Korea Selatan yang dibantu oleh sekutunya, Amerika Serikat. Disaat itu juga, Agen Lu yang dikenal sebagai Luhan melaksankan misi untuk membunuh presiden Korea Selatan berserta keluarganya. Namun Luhan malah jatuh cinta pada Kim Hyerim serta harus menelan pil pahit bahwa Hyerim adalah putri presiden Korea Selatan, yang merupakan salah satu target yang harus dibunuh Luhan.

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without premission.


In a situation that was ruined, we fell in love


HAPPY READING

 ║  ║  ║  ║

Chapter 2 sudah tersedia di http://www.hyekim16world.wordpress.com

2030. Pendeskripsian kilat akan angka yang merangkai aksara tahun itu terlihat jelas di hadapan manik seorang gadis bersurai legam dengan kilatan elangnya. Tahun demi tahun berlalu, layaknya lomba maraton yang terjadi sekejap mata. Sejauh mata memandang, tahun 2030 bukanlah sesuatu tahun yang indah, setidaknya itu terjadi di negara penghasil gingseng. Korea Selatan.

Siapa sangka bahwa perang beku antara Korea Selatan serta Korea Utara akan tercuat kembali menimbulkan bencana menggempurkan hampir seluruh penjuru dunia. Tatkala pemilu kembali digelar, kursi kepresidenan pun digantikan oleh sosok baru. Sosok dengan sifat ambisius yang membelengu Si Pemimpin baru tersebut. Kim Jaehyun, presiden yang berambisi untuk menyatukan kembali Korea menjadi satu, tanpa terpisah titel selatan ataupun utara.

Ambisinya bukan semata-mata untuk memperluas kekuasaan ataupun wilayah negaranya. Salah satu alasan tercuat kembali genjatan senjata diantara perang dingin dua negara satu rumpun itu adalah Korea Utara yang membuat nuklir dan hendak meluncurkannya kepada Amerika dan Pulau Jeju—salah satu aset Korea Selatan.

Semenjak itulah, perang genjatan senjata terjadi. Korea Utara pun dibantu oleh China serta Rusia. Sementara Korea Selatan dibantu oleh Amerika. Namun naas menyelimuti negara Korea bagian selatan tersebut. Shinkhole mulai bermunculan membelah tanah yang dipijaki tungkai warga Korea Selatan. Serangan teroris kerap terjadi. Bahkan turut andil pesawat militer tiga negara yang tergabung dalam satuan komunis itu menyerang negara Korea Selatan yang sekejap negara gingseng tersebut berubah menjadi negara malang yang rapuh.

Daerah yang berbatasan dengan Korea Utara sudah tersulap menjadi daerah miskin yang kesusahan. Lubang mahakarya shinkhole terlukis layaknya lingkaran setan di daerah tersebut. Tenda-tenda pengungsi berjajar layaknya pohon baru yang ditanam pemerintah. Warga dengan penderitaan berupa kelaparanpun merajalela layaknya hama. Walau hanya satu daerah yang tumbang, daerah lain pun diwajibkan waspada karena Korea Selatan diambang kebinasaannya.

“Huft,” napas manik gadis yang memutar reka ulang insiden yang tercuat di negara yang ia lihat dikacamata netranya ini, karap terjadi. Kepalanya menggeleng, miris akan keadaan warga yang sengsara hanya karena ambisius pemimpin dan kegilaan negara utara membuat bom nuklir.

Badan Si Gadis berbalik, kembali ia merajut langkah yang tertunda. Tak dipedulikan warga-warga yang tersaruk-saruk di sekitarnya. Dirinya terpaksa membuang jauh rasa simpati kepada warga yang tersiksa sementara pencuat perang yakni Sang Presiden malah duduk santai di kediamannya sambil berlindung dibalik para pengawalnya yang patuh.

Gadis itu membuang rasa simpati bukan tanpa alasan sama sekali. Alasannya mengalir jelas dalam dirinya. Ia berdarah Tiongkok, salah satu negara yang merupakan musuh Korea Selatan saat ini. Si Gadis Tiongkok yang memakai jubah hingga melapisi rambutnya itu, memaksimalkan derapan langkah sepatu ketsnya menuju satu titik perjanjiannya.

Sebuah gang kala ini merupakan wilayah yang dijamah oleh gadis dengan aliran darah Tiongkok tersebut. Kelereng legamnya menelisik liar disertai derapan langkahnya yang sudah terhenti, kepalanya pun ikut mendongak. Gang yang ia jamah merupakan tempat kumuh dengan di setiap sisi terdapat balkon apartemen yang tak terurus oleh manusia kembali setelah serangan udara yang dilakukan Rusia satu bulan kebelakang.

“Hoi Wu!” suara bass lelaki menyentil gendang telinganya membuat Wu Lian—Si Gadis Tiongkok itu, memutar kepala ke arah sumber suara.

Oknum vokal lelaki itu membuahkan gema langkah dari hadapan Lian untuk mendekati gadis Wu itu, lalu sekon selanjutnya Si Lelaki sudah menampakan batang hidung di depan Lian dengan tangan berada di saku celana jeans sobek-sobeknya. Putung rokok yang masih mengeluarkan asap pun berada dibibirnya yang sengaja dihitamkan agar terlihat layaknya seorang gangster urak-urakan.

“Yah Yixing, aku mencarimu,” ujar Lian akhirnya melontarkan kata diiringi gerakan tangan yang membuka tudung kepalanya.

Yixing yang merupakan teman konversasi Lian, menarik ujung bibir membentuk senyum miring. Jari tengah dan telunjuk kanannya itu menjepit putung rokok untuk ia tarik sebentar dari bibirnya. “Begitu? Apa ada kabar menarik dari Agen tersayang kita?”

Pertanyaan Yixing dipenggal menjadi aksara kasat mata disertai alis berjungkit. Dengusan tak tahan untuk Lian tahan. Ia pun menatap Yixing dengan sorot tajam obsidiannya.

“Hanya kabar biasa, ngomong-ngomong,” Yixing menghisap rokoknya dengan tampang kelewat penasaran saat Lian menjeda ucapan. Gadis marga Wu itu membuang pandangan. “Dia makin dekat dengan putri presiden Kim Jaehyun.”

Setelah ranum Lian menyelesaikan kata-katanya, Yixing membuang putung rokoknya lalu menginjak-injaknya hingga hancur layaknya butiran debu. Sekilas melihat, tak akan ada yang menyangka bahwa kedua manusia dengan aliran darah Tiongkok itu ialah seorang agen mata-mata yang menyelami Korea Selatan, penampilan semeraut keduanya menutupi identitas keduanya secara apik. Napas Yixing terhela kemudian ikut membuang pandang.

“Agen Lu sudah terjebak sepertinya Wu,” desah Yixing lantas menghela napas panjang membuat tangan Lian terkepal. “Sekali ia terjerat asmara, dirinya tak akan mudah keluar dari sana.”

 ║  ║  ║  ║

Meski negara gingseng yang budayanya dielu-elukan dengan titel hallyu wave, bertransformasi menjadi negara yang tergetar akan perang saudara. Bukan berarti wilayah aman itu tidak ada. Beberapa wilayah di negara gingseng itu masih sebagian besar aman tak terjamah shinkhole biadab dengan teroris tak waras. Jejeran bunga melati tumbuh di sebuah perkarangan rumah. Suasana damai terpancar dari rumah mewah tersebut, tak mengidahkan suasana kacau dunia luar, bangunan mewah itu masih berdiri kokoh.

Seorang gadis dengan kepangan rambut satu yang tersampir dibahu kanannya itu, nampak duduk di pinggiran petak taman melati yang menguarkan harum memabukan pangkal hidungnya. Tangannya pun beraktifitas untuk memetiki bunga tersebut dan menaruhnya di keranjang.

“Lalalala~,” bibirnya bersenandung merdu disela kegiatannya. Bunga melati pun makin menyesaki keranjang kayu yang ia bawa.

Sang Dara cantik itu terlalu larut akan bunga melatinya, hingga tak menyadari sepasang mata menaruh fokus padanya. Sepasang mata yang merupakan seorang lelaki itu mengulum senyum melihat seorang Kim Hyerim yang sedang memetiki bunga melati. Perlahan ia mendekati Sang Dara bernama Kim Hyerim itu yang masih mengaumkan senandung merdu. Buahan langkah Luhan pun berhenti tepat dibelakang gadisnya, kemudian badannya mulai membungkuk guna menjajarkan posisi dengan Hyerim. Setelahnya, ia pun memeluk leher kekasihnya diiringi dagu yang ia taruh dipundak kanan Hyerim.

“Aku merindukanmu.” Luhan lantas berbisik ditelinga Hyerim lalu menyarangkan sebuah ciuman dipipi gadis itu.

Hyerim yang terpaku karena kaget akan hadirnya Luhan bahkan aktifitas memetiknya pun terhenti, hanya menampakan senyum dengan rona merah yang agak samar dipipi. Dirinya pun menoleh hingga obsidiannya saling tatap dengan manik yang membiaskan kehangatan milik Luhan.

“Kamu seperti pencuri, main menyeludup masuk ke rumahku,” sambar Hyerim dengan tatapan memicing namun mengundang kekehan Luhan lepas, kemudian pria itu duduk di sebelah Hyerim sambil mengelus rambut gadis Kim itu dengan senyum hangat.

Disela adegan saling menatap hangat itu, Luhan membuka mulut. “Aku ingin mengajakmu jalan-jalan. Kamu mau tidak?” Luhan menelengkan kepala dengan senyum menggoda.

Kerucutan bibir Hyerim tercipta. Wajahnya tercetak merajuk. “Tentu aku mau,” aksinya membuat Luhan mencubit pipinya dan membuat Hyerim makin merajuk.

Detik berikutnya, Luhan berdiri dengan tangan terulur pada Hyerim. “Ayo berdiri dan kencan,” ujar Luhan dengan tatapan menggoda. Hyerim mendengus lalu menerima uluran tangan Luhan dan sahlah kedua tangannya terpaut dengan derap langkah keluar dari kawasan rumah Hyerim.

 ║  ║  ║  ║

Kawasan Gangnam yang merupakan distrik elit tersebut sudah sedikit hancur dengan bangunan kosong bekas hasil karya serangan udara serta kaca pecah akibat tarikan pelatuk peluru teroris. Lubang bernamakan shinkhole pun terdapat di sana. Namun bencana yang mencacatkan beberapa daerah Gangnam itu tak mempengaruhi redupnya daerah sosialita  warga Seoul itu.

Kedua kaki dengan tangan bergandengan itu tampak membelah jalanan Gangnam. Beberapa warga masih ada yang berani melihatkan diri di daerah berkelas itu walau terhantui rasa takut akan serangan dadakan, tapi setidaknya tentara Amerika bahkan Korea Selatan pun ada yang mendirikan camp darurat di sana.

Hyerim dan Luhan yang merupakan pasangan dimabuk asmara itu terlihat menikmati dua cup berisi es krim kesukaan masing-masing. Keduanya menciptakan obrolan hangat sambil sesekali tertawa. Tiba-tiba Hyerim menghentikan langkah diikuti oleh Luhan yang mengernyit tak paham pada sosok Hyerim yang terlihat menerawang.

“Lu, kamu ingat tidak pertama kali kita bertemu?” tanya Hyerim yang membuka kenangan masa lampau, dirinya pun menatap Luhan dengan cengiran lebar. Tanpa berpikir untuk merekaulang kejadian itu, Luhan mengangguk. “Kamu benar-benar keren saat itu, menyelamatkanku yang nyaris mati.”

Pancaran senyum diparas gadisnya makin lebar, namun anehnya Luhan malah tersenyum tipis tanpa berniat melontarkan kebahagiaan, sama halnya dengan kekasihnya ini. Luhan membatu dengan mimik yang sulit dimengerti. Di lain sisi, Hyerim masih tersenyum mengingat pertemuannya dengan Luhan yang sangat mengesankan.

“Gadis ini salah satu targetmu, Luhan,” hatinya melolongkan penegasan yang sanggup membuat hati Luhan tergetar. Hyerim adalah putri presiden Kim Jaehyun sementara dirinya adalah lelaki berdarah Tiongkok yang…

Hyerim menatap Luhan kembali dengan senyumannya, lalu menarik tangan prianya untuk kembali berjalan. “Aku ingin jalan-jalan ke Hangang. Jembatan Banpo sudah ditutup karena serangan teroris beberapa minggu lalu, jadi agak lenggang untuk ke sana.”

Kaki Luhan nampak sukar digerakan, akan tetapi dirinya bisa menyamai langkah Hyerim. Tatkala memperhatikan profil belakang gadisnya, tersemat senyum tipis tersirat kepedihan ditampang Luhan. Jalinan merah takdir menghantarkannya pada suatu realita pahit. Memenjarakannya di sebuah penjara asrama pada timing yang tak tepat.

Saat langkahnya masih terangkai mengekori Hyerim, Luhan mengendus sesuatu. Siluet bayangan nampak diujung netranya. Gerakan liar menelisik keadaan pun dilakukan maniknya. Seseorang menguntitnya dengan melayangkan tatapan elang menusuk padanya. Luhan menajamkan pandangan sampai tak menyadari dirinya sudah berhenti, menyebabkan Hyerim membalik tubuh dengan wajah bertanya-tanya.

“Luhan, ada apa?” langsung saja Luhan terkesiap dan menatap Hyerim salah tingkah. Sementara gadis marga Kim di hadapannya ini masih setia melayangkan binar mata bertanya-tanya.

Mulut Luhan meloloskan kata agak terbata. “Aa…ku, emmm…” logam matanya bergerak tak santai ke suatu objek, seorang dengan jubah dan tudung hitam. “Tiba-tiba aku ingin ke toilet,” karena mendesak Luhan berusaha bersilat lidah agar Hyerim melepaskannya.

Mata gadis bernama lengkap Kim Hyerim itu mengedip dengan dahi berkerut. “Jadi—“

“Iya, aku ingin ke toilet dulu. Tunggu aku di Hangang Park, oke?” segera Luhan menyambar bahkan dengan keparat mengecup bibir Hyerim kilat, membuat Hyerim menampilkan wajah super bodohnya.

Secepat kilat Luhan melesat pergi. Kecupan diranum gadisnya itu berefek magis agar Hyerim bungkam dan tak curiga dengan bertanya lebih banyak.  Karena langkah lebarnya, Luhan sudah jauh dari tempat Hyerim berpijak barusan. Kepala pemuda Lu itu menengok ke belakang, memastikan Hyerim tak akan menangkap aksinya. Setelah merasa aman, Luhan langsung memfokuskan mata ke arah depan. Wajah yang terlukis pada parasnya sangat serius dengan logam berkilat tajam. Kembali tungkainya memulai larinya, lari gesit menyamai cheetah.

Kepala Luhan tertoleh ke kanan dan ke kiri dengan mata fokus tanpa mengabaikan satu debu bertebaran sekalipun. Saat dirinya menyelusuri gang masih dengan larinya, sosok yang ia tangkap sekon lalu tampak memunculkan diri. Sosok dengan jubah berkibar itu menjatuhkan pandang pada Luhan yang sedang berlari untuk menggapai tempatnya. Tapi, sebelum Luhan berada tepat di dekatnya, sosok tersebut langsung membalik badan dan ikut berlari tak kalah kencangnya, guna menghindari Luhan.

Maksimal lari keduanya menyamai angin yang menusuk pori-pori kulit dengan tak sopannya. Luhan terus menyarangkan tatapan pada sosok bertudung hitam itu. “Hei kau! Berhenti!” seru Luhan menggunakan bahasa aslinya, namun Si Manusia Bertudung tak mengidahkan.

Tetesan keringat mulai nampak. Lari kencang keduanya masih terurai, menelaah gang-gang kumuh yang tak terjamaah lagi. “Kubilang berhenti!” kali ini Luhan menggunakan bahasa Korea.

Seperti sekon lalu, hanya berupa angin topan sajalah seruan Luhan yang pecah khusus pada sosok bertudung tersebut. Apa mungkin sosok itu agen dari Rusia? Pandangan Luhan mulai fokus, sementara sosok bertudung yang ia kejar mulai meloncat dengan lihai ke arah balkon apartemen yang berada di setiap sisi gang kumuh tersebut.

Hampir Luhan kehilangan jejak. Sosok misterius itu melompat dengan lihai dari balkon satu ke balkon satunya lagi. Gerakan gesitnya lantas membuat Luhan teringat seseorang namun segera menampiknya. Si Sosok Berjubah pun melompat tinggi lalu meraih tiang pembatas balkon membuatnya bergelantungan selama satu detik, lantaran sekon selanjutnya ia menarik diri ke atas balkon tersebut. Dikarenakan aksi melompatnya itu, posisinya makin jauh dari Luhan dan nampak pemuda Lu itu membulatkan mata, mendeteksi akan kehilangan jejak pada sosok yang ia kejar.

Hey! Stop!” teriak Luhan, ia menggunakan bahasa Inggris karena merasa sosok bertudung itu agen rahasia dari negara selain China ataupun Korea.

Luhan berdecak disebabkan akan sosok yang ia kejar malahan makin melompat ke lain sisi dan berlari cepat di penyanggah besi apartemen yang sudah agak bobrok. Tak mau kalah, Luhan pun melompat tinggi lalu mendaratkan tungkai di dinding kumuh yang ada di sebelahnya. Tubuh Luhan memutar lalu mendarat di balkon yang berada di apartemen di sebelahnya. Dengan manik terpancarkan kilatan elangnya, Luhan kembali mengejar dan meloncat ke balkon-balkon selanjutnya.

“Hosh!” napas Luhan mulai terpenggal habis. Namun tak gentar untuk mengejar sosok yang menguntitnya itu.

‘Duk!’

Suara tersebut diasalkan dari tubuh sosok bertudung hitam tersebut yang mendarat mulus di jalanan gang, kelihaiannya menandakan ia sama seperti Luhan yakni seorang agen. Dilihat dari caranya melompat turun dari penyanggah besi ke jalanan sempit gang yang mempunyai tinggi satu meter. Tak mau kalah, Luhan yang berada di satu balkon apartemenpun ikut meloncat turun dan berada beberapa jengkal di belakang Si Sosok Bertudung.

Senyum menyeringai terulas diranum Luhan, kembali larinya tercuat dengan kecepatan di atas rata-rata. Merasa akan tertangkap, sosok bertudung itu menoleh ke belakang, melihatkan kembali wajahnya yang tertutup cadar dan hanya melihatkan mata yang sekon ini membola.

“I got you, dude!” sorak Luhan penuh akan hasrat kemenangannya, leher targetnya sudah ia penjarakan dalam lengannya. Tangannya yang satunya lagi pun ia gunakan untuk menahan dua tangan sosok yang ia kejar sedaritadi.

Tentu saja sosok yang Luhan tangkap itu memberontak dan berusaha melepaskan diri. Luhan sendiri pun menatapnya tajam dan melontarkan pertanyaan. “Tell me, who are you?”

Raga Luhan seakan terbang ke awang-awang dengan mimik tak terbaca, mulutnya menciptakan celah ketika sosok yang ia tangkap itu berhasil melepaskan diri serta membalikan badan. Muka layaknya orang dungu itu terlukis karena sosok berjubah itu adalah seorang yang sangat dikenalnya.

Mata Luhan mengedip sekali, dua kali, tiga kali. Bibirnya mengatup masih dengan wajah tanpa ekspresi. “Wu Lian,” ceplosnya tak percaya.

Wu Lian—sosok berjubah yang sudah melihatkan jati dirinya, hanya meringis dan merenggangkan otot lehernya. “Ya, ini aku,” respon Lian tajam dibarengi oleh tatapan yang tak kalah tajamnya.

Kesadaraan Luhan akan keterkejutannya sudah pulih, ia balas menatap Lian dengan binar menyelidik. “Apa maksudnya kau mengikutiku seperti itu?” pita suara Luhan terdengar tak terima, air mukanya pun menampakan hal yang seirama.

Tampak Lian buang muka, gadis Wu itu menampakan senyum meringis juga tangannya yang terlipat didepan dada. Kembali ia menjatuhkan pandangan pada Luhan, kilatan kelereng matanya seakan mengobarkan api.

“Kau…” ucap Lian penuh penekanan, wajahnya ia dekatkan pada wajah Luhan dan tangannya sudah terkepal di sisi tubuh. “… seperti pengkhianat. Dan makin lama makin dekat dengan putri presiden Kim Jaehyun.” Lian berucap sinis lalu menjauhkan wajah dari Luhan yang membatu.

“Bilang saja kau ini memanfaatkan kedekatanmu itu untuk membunuhnya atau langsung membunuh ayahnya,” kala Luhan masih bergeming, Lian lagi-lagi menyajakan kata dengan tampang tak bersahabat juga lipatan tangan didada. Luhan pun menatapnya tanpa binar yang mudah dipahami. “Dan jangan bilang kau malah jatuh cinta padanya dan sungguh-sungguh berkencan dengannya.”

Paham akan topik pembicaraan kali ini, Luhan langsung membalik badan hendak pergi. “Cukup Wu, aku tak ingin membahasnya. Aku tahu, aku adalah agen mata-mata yang ditugaskan membunuh keluarga Kim Jaehyun.” Luhan berkata dengan darah yang seakan mendidih sampai kepalanya, bahkan kepalan tangannya pun terlihat.

Lian berkacak pinggang lalu menyematkan senyum mengejek dengan menatap punggung tegak Luhan yang tak kunjung beranjak. “Kalau kau tahu kenapa tak langsung saja membunuh gadis Korea itu?” sambar Lian sinis membuat gejolak dalam diri Luhan menjadi, pemuda itupun memejamkan mata sesaat.

Setelah merasa agak tenang, Luhan membalik badan dan menatap Lian lama. Kedua manik tersebut bertabrakan dengan kilatan tajam membara layaknya gejolak api. “Jangan urusi, ursanku Wu.”

Langsung saja Lian berdecak dengan kepala menggeleng kuat-kuat, fokus mata yang terlekat pada Luhan masih saja tajam. “Kau salah, Luhan. Kau salah untuk jatuh cinta padanya.” sekejap, tatapan tajam Lian berubah dengan wajah dingin yang agak luntur.

“Cinta tidak pernah salah, hanya waktulah yang salah,” balas Luhan cepat dan masih mempertahankan tameng tajam serta dinginnya. Tak mau melanjutkan konversasi, Luhan berbalik dan mulai berderap pergi.

“Hei Luhan,” panggilan Lian membuat Luhan memberhentikan petakan langkahnya tanpa membalikan badan. Lian sendiri pun menatap punggung Luhan tajam. “Bila saja kau tidak menyelamatkan gadis Korea itu. Timing yang tak tepat itu tak akan terjadi, penjara cinta yang memenjarakanmu pada gadis Korea sialan itu tak akan terjadi.”

Darah Luhan kembali mendidih, napasnya tersenggal, kepalan tangannya tercipta lagi. Otaknya merangkai kembali kejadian tempo itu. Kejadian yang merupakan awal mulanya bersama Hyerim. Insiden itu yang membuatnya tak bisa merelasasikan tugasnya sebagai agen mata-mata Tiongkok, membuang realita bahwa gadisnya itu adalah salah satu target yang harus ia bunuh. Sebuah pertemuan pertama yang Hyerim sebut sebagai awal mengesankan.

 ║  ║  ║  ║

Aroma tak bersahabat dari asap ban yang terbakar itu menyeruak menggelitik pangkal hidung. Pemuda dengan tatapan tajam dan sejak lahir bernama Luhan itu melangkah di daerah dekat DMZ Korea. Keadaan kacau sehabis tercuat serangan senjata terlihat didepan mata. Tenda klinik terpajang serta disesaki orang-orang yang memiliki berbagai luka, tenda pengungsipun terjejer dan terisi oleh orang-orang yang malang, shinkhole yang tertanam pun nampak layaknya kolam mahakarya terbaru, gedung yang mewah tersulap menjadi gedung kumuh dengan kaca-kaca pecah.

“Dokter, tolong di sini ada orang sekarat!” seruan pecah saat Luhan melewati tenda klinik. Oknum penyuaranya ialah seorang wanita dengan wajah panik di depan tenda klinik.

Langsung saja langkah tergesa-gesa dari seorang pria dengan jas dokter itu terdengar, tenda klinik langsung mengaumkan kegiatan pertolongan pada sosok sekarat itu. Luhan terus berjalan sambil memasukan tangan ke saku celana jeans. Disaat dirinya masih berjalan, sesosok gadis lewat di depannya dan terlihat sibuk dengan isi tas selempangnya, seperti membereskan isi tas tersebut. Perhatian Luhan langsung berpusat pada sosok gadis itu, matanya membola, air wajahnya tercetak tegang. Sebuah pesawat militer melintas cepat lalu melempar bom tepat ke arah Si Gadis. Refleks Luhan berjalan cepat, ia melangkah cepat ke arah gadis tersebut, dengan gesit ia mendekati Si Gadis. Tubuhnya yang mendekap gadis itu pun sama-sama ia jatuhkan ke aspal jalanan kemudian Luhan menggulingkan tubuhnya bersama tubuh perempuan yang ia dekap erat.

‘Byar!’

Bom yang dijatuhkan pesawat militer Rusia itu mengenai bangunan yang berjarak beberapa meter dari tempat perempuan yang Luhan selamatkan. Pecahan gedung bertebaran ke berbagai tempat, teriakan dari orang-orang sekitar pun pecah. Sementara Luhan masih berguling-guling dengan mendekap tubuh perempuan berdarah Korea yang nyaris mati sekon lalu.

‘Duk!’

Gulingan tubuh pemuda China dan gadis Korea itu mencapai finalnya. Napas yang terhembus dari diri Luhan pun tersenggal-senggal, lengannya masih mendekap Si Gadis yang napasnya juga tersenggal habis. Perlahan Luhan mulai melihat kondisi Si Gadis yang nampak syok.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Luhan pada perempuan tersebut.

Detik selanjutnya, perempuan yang Luhan selamatkan pun balas menatap pemuda marga Lu itu. Tatapan keduanya bersibobrok. Keadaan kacau akan bom yang kembali dijatuhkan seakan hanya sebuah figuran. Dentuman gila-gilaan dirongga dada kaum adam dan hawa tersebut terdengar memenuhi runggu. Kim Hyerim, ia tak mampu berkedip menatap pemuda yang mendekapnya sekon ini, ranumnya pun seakan dilem rapat-rapat. Dari sinilah awal kisah keduanya dimulai.

 ║  ║  ║  ║

Putaran ulang memori itu terhenti, menghantarkan Luhan kembali pada masa kini. Sosok pemuda itu masih setia memunggungi Lian yang terus menghujamnya dengan tatapan tajam. Kepala Luhan menunduk, menerawang ke arah  bawah.

“Kau tahu sangat jelas kesalahanmu, Luhan,” vokal Lian memecah keheningan menyebabkan pandangan Luhan mendongak lurus ke arah depan. “Predisen Kim Jaehyun selalu menyembunyikan keluarganya, termasuk putrinya, Kim Hyerim. Dirinya tahu bahwa keluarganya serta ia sendiripun diincar. Dirimu yang mendapatkan misi untuk membunuh keluarganya pun kesulitan untuk mencari siapa putri tunggalnya itu. Disaat kita sudah tahu bahwa siapa putrinya…”

Lekatan tatapan Lian makin menjadi pada punggung Luhan, terlihat bahu pria itu naik turun dengan matanya yang terpejam. Dengan iris mata miris, Lian menyambung kata-katanya. “Kita langsung saja meminta bantuan Rusia untuk membunuh putri Kim Jaehyun tanpa memberitahumu karena mendesak. Namun naas, dirimu malah meloloskan gadis Korea itu dari maut.”

Bibir Luhan mengatup rapat. Hatinya pun mengakui, pertemuannya dengan Hyerim adalah awal mula masalah ini terjadi. Bila Luhan tidak menyelamatkan gadis itu, maka misinya akan sedikit ringan dengan satu target yang sudah dimusnahkan. Bila Luhan tak menyelamatkan Kim Hyerim, dirinya tak akan jatuh kedalam gadis itu. Perkataan Lian waktu lalu seratus persen akurat, timing yang tak tepat itu tak akan terjadi bila Luhan tak menyelamatkan Hyerim.

“Aku tak mau membahasnya lagi,” ucap Luhan dengan kaki tergeret pergi meninggalkan Lian.

Akan tetapi baru saja lima langkah, rajutan langkah Luhan terhenti lantaran frasa yang dirangkai Lian. “Tapi tetap saja kau ini seorang agen, Luhan! Agen mata-mata China yang mempunyai misi untuk membunuh Kim Jaehyun dan keluarganya!” oktaf suara Lian naik kala mengucapkannya, bahkan wajah gadis itu seakan menggebu-gebu, membuat gejolak dalam diri Luhan berperang hebat. “Kau mempunyai tugas dari negaramu, Lu!” Lian mengingatkan dengan tegas, mata Luhan kembali terpejam rapat. “Tugas yang salah satunya adalah untuk membunuh Kim Hyerim.”

 ║  ║  ║  ║

Pancaran surya yang menunjukan senja nampak terlihat di balik jendela sebuah mansion mewah milik keluarga mentri pertahanan Korea Selatan. Di petak ruangan di bangunan mewah tempat tinggal itu, tersajikan acara minum teh. Dua sosok gadis ditambah sosok pemuda rupawan lah yang menggelar acara minum teh itu. Kim Hyerim adalah salah satu dari gadis yang tengah menyesap tehnya, di depannya terduduk Lee Yara—sahabatnya sekaligus tuan rumah, juga Park Chanyeol—kekasih Yara sekaligus putra bungsu ketua MPR Korea Selatan.

Bunyi sapaan dari cangkir teh dan tatakan pun terdengar ketika ketiga remaja itu selesai menyesap teh. Sebelum menciptakan konversasi, Yara berdehem sambil menatap Hyerim kelewat penasaran. “Hyerim-ah, mana kekasihmu itu? Aku sudah sangat penasaran.”

Yara terlihat antusias membuat Chanyeol menyenggolnya sambil menghadiahi tatapan tajam. Timbal balik Yara pun berupa tatapan datarnya dengan wajah memprotes. Di lain sisi, Hyerim hanya menahan tawa melihat sepasang kekasih di depannya ini.

Setelah perang adu tatap tajam dengan Yara, Chanyeol pun menatap Hyerim dengan tatapan agak penasarannya. “Dia orang Tiongkok ‘kan?” anggukan Hyerim langsung menjawabnya. “Kamu yakin dia orang yang tak berbahaya? Aku tahu orang Tiongkok tak semuanya jahat tapi—“

Kali ini Yara lah yang menyikut Chanyeol dengan bola mata bergerak-gerak serta wajah tak enak. Chanyeol yang merasa ucapannya terpotong pun menatapnya tak terima dan Yara pun melayangkan tatapan tajam kepada Chanyeol. Lantas pemuda Park itu menangkap kode gadisnya, ia kembali menatap Hyerim dengan senyum bersalah. Tetapi Hyerim sendiri malah berlagak santai dengan alis berjungkit melihat tingkah laku dua makhluk di hadapannya.

“Maaf, Hyerim,” ujar Chanyeol menggaruk tenguk, merasa ucapannya keterlaluan. “Aku tak bermaksud mencurigai kekasihmu.”

Senyum tipis terlihat diparas Hyerim, gadis Kim itu menelengkan kepala. “Tak apa, aku tak tersinggung,” jawab Hyerim kemudian meminum kembali sisa tehnya. Dirinya memaklumi kecurigaan Chanyeol, mengingat Tiongkok juga turut andil membantu Korea Utara untuk mengempur negaranya.

Disela kegiatan ketiganya yang meminum teh kembali sambil memakan beberapa biskuit, seorang pelayan rumah Yara mendekati ketiganya lalu membungkuk sopan. Yara yang sedang menuangkan teh pun, memutar kepala untuk mengalihkan fokusnya.

Sebelum memberitahu akan maksud kedatangannya untuk medekati tiga remaja itu, Si Pelayan menegakan tubuhnya. “Nona, ada tamu yang ingin bertemu Nona Hyerim,”

Radar Hyerim langsung menyala dan mengalihkan pandangan dengan wajah berbinar. Yara yang sudah sangat penasaran dengan kekasih sahabatnya selama satu bulan terakhir ini, melihatkan wajah antusias dengan seuntas senyum ke pelayannya.

“Suruh dia masuk dan bawa saja ia ke mari,”

Si Pelayan kembali membungkuk dengan ranum yang menggumam. “Baik.” lantas undur diri untuk melaksanakan perintah majikannya.

Ketiga remaja itu tak terkecuali Chanyeol sekalipun, tampak antusias menanti kedatangan Luhan. Hyerim sendiri pun sudah memasang senyum lebar dimukanya, walau dalam hati terbesit juga rasa penasaran yang membelengu. Rasa penasaraan akan kencannya dengan Luhan kemarin sore. Sehabis dari toilet dan menghampirinya di Hangang Park, Luhan seakan puasa bicara dan Hyerim tak enak bertanya lebih, entah apa yang meganggu kekasihnya itu.

Gema langkah dari sepatu pentofel Luhan terdengar mendekati meja acara minum teh itu. Jantung Hyerim seakan bertalu saat Luhan menampakan diri sambil melempar senyum. Di tempatnya, Yara membuka mulut sambil menilik Luhan. Begitupula Chanyeol tapi tidak dengan mulut yang terbuka.

“Hallo,” sapa Luhan sambil setengah membungkuk, kemudian matanya menatap satu-satu ketiga sosok yang reflek berdiri menyambutnya. “Maaf aku datang terlambat.” Luhan meminta maaf, ia  pun menjatuhkan tatapan pada Hyerim dengan binar mata lembut dan senyum yang tak kalah lembutnya.

“Luhan-ah!” Hyerim berujar sambil melambai, segera Luhan menggeret langkah mendekati gadisnya. “Ayo duduk,” tatkala Luhan sudah ada di dekatnya, Hyerim mempersilahkannya duduk. Seperti robot, Luhan menurut dan duduk di sebelah gadis marga Kim itu.

Yara dan Chanyeol yang sudah tersadar pun, berdehem juga kembali duduk. Keduanya menyunggingkan senyum ramah pada Luhan, timbal balik pemuda China itu pun juga sama. Yang pertama berniat mengenalkan diri adalah Yara, tangannya pun terulur kepada Luhan dengan sematan senyum yang makin lebar.

“Hai, Luhan-ssi. Kenalkan aku Lee Yara, sahabat dari Kim Hyerim,” pita suara Yara tersuarakan dengan ramah.

Sejenak, Luhan memandangi tangan yang terulur di depannya itu. Sekon berikut, Luhan menatap paras Yara yang masih menampilkan senyum lebarnya. “Lee Yara, putri tunggal Mentri Lee yang merupakan tangan kanan Presiden Kim. Ayahnya merupakan salah satu otak yang merencanakan gagasan persatuan Korea Selatan dan Utara.” gumam Luhan dalam hati, sebagai agen mata-mata negara musuh Korea Selatan, ia tahu banyak hal.

Bibir Luhan melukis senyum penuh arti, tangannya terangkat serta terulur menyambut jabatan tangan Yara. “Luhan, kekasih dari sahabatmu yang cantik ini, Kim Hyerim.” Luhan balas mengenalkan diri sambil ujung matanya melirik Hyerim dengan godaan. Gadis yang merupakan putri presiden itu nampak bersemu tapi dengan gengsinya ia buang muka, mengabaikan brengseknya kupu-kupu yang menggelitik perutnya.

Selesai berjabat dengan Yara, fokus netra Luhan teralih pada Park Chanyeol yang langsung melempar senyum ramahnya namun tak selebar senyum milik Yara. Tangan pemuda bermarga Park itu juga terulur kepada Luhan.

“Aku Park Chanyeol. Teman dari Hyerim,” tak lama Luhan menyambut uluran tangannya membuat kedua tangan pemuda itu berjabat. Senyum saling terlempar dari pemuda itu.

Sambil mencermati Chanyeol, dalam hati Luhan kembali berkata. “Park Chanyeol, putra bungsu Ketua MPR Park yang merupakan pendukung kuat Kim Jaehyun hingga menduduki kursi kepresidenan. Dirinya merupakan tim devisi khusus kepolisian.”

Dari tampang Chanyeol, mungkin ada yang sebagian tak percaya bahwa pemuda itu adalah seorang polisi dari kesatuan devisi khusus seperti mata-mata. “Luhan. Senang bertemu denganmu,” Luhan mengenalkan diri secara ringkas lantas jabatan tangan Luhan dan Chanyeol pun terselesaikan.

“Luhan, ayo minum tehnya. Yara selalu menyiapkan teh terbaik,” Hyerim berkata setelah acara perkenalan singkat itu selesai. Gadis bernama lengkap Kim Hyerim itu meraih teko dan menuangkan isinya ke cangkir kosong milik Luhan.

Setelah cangkirnya ditampungi teh manis buatan dapur rumah Yara, Luhan pun mulai menyesap isinya. Dan acara minum teh itu terlaksana kembali dan kali ini ditambahi oleh sosok Luhan. Keempatnya bercengkrama hangat dengan menyisap teh juga memakan kudapan yang tersedia. Gelak tawa kadang tercipta dikarenakan lelucon yang dilontarkan mulut Chanyeol. Atmosfer hangat tercipta.

Tiba-tiba, Chanyeol agak mencondongkan tubuh ke arah depan dengan aura mencemarkan kepenasaran. “Tahu tidak…” ucapnya hasrat akan kemisteriusan membuat fokus netra terarah sepenuhnya ke arahnya dengan alis berjungkit. “Aku dengar ada agen mata-mata China yang berkeliaran di sekitar Seoul.” Chanyeol berkata antusias membuat mata Yara juga Hyerim membulat seakan akan copot dari sarangnya.

Tapi hanya satu sosoklah yang seakan terhantam sesuatu dan nyaris tersedak kudapan yang ia kunyah bila tak dapat mengontrol diri. Luhan, ia mengerjapkan mata kemudian menatap Chanyeol lekat. Mendengar informasi yang menarik baginya itu, Yara mendekat kepada Chanyeol dengan tampang tercetak penasaran.

“Serius? Kamu tahu dari mana?”

Tangan Chanyeol bergerak mengambil kudapan, detik berikutnya kudapan tersebut ia gigit dan terkunyah dimulutnya. “Aku dengar dari ketua devisiku, maka aku pun selama ini berjaga-jaga karena hal tersebut.” respon yang diberikan Yara adalah anggukannya dengan mulut menggumamkan kata oh yang panjang.

Di depan pasangan tersebut, Hyerim kembali menyesap teh dan menaruh cangkir di tatakan kala cairan teh itu tersetor habis ketubuhnya. Gadis Kim itu terlihat tak minat akan topik konversasi akan agen mata-mata China itu. Dan diam-diam, Luhan meliriknya dari ujung obsidian. Perasaan was-was menyelimutinya, takut gadisnya itu seketika menaruh kecurigaan yang akurat akan dirinya. Ya, dirinya yang merupakan agen yang diberikan misi untuk membunuh ayahanda bahkan kekasihnya sendiri.

“Oh ya, Luhan…” arus pembicaraan berubah apalagi ketika hening disambut keempatnya beberapa waktu lalu. Hyerim menoleh pada Luhan yang langsung tersenyum dengan tatapan bertanya. Bibir gadis Kim itu mengulas senyum riang. “Ayahku mengundangmu ke acara makan malam di rumah keluargaku besok!”

Undangan yang tertuju padanya itu membuat Luhan terkejut. Di sebelahnya, Hyerim menghambur ke arah Luhan dan tangannya melingkar dilengan pria itu. Ia pun menatap Luhan dengan binar bahagianya.

“Kamu harus datang, oke? Ayahku ingin mengenalmu,” mata Luhan mengerjap sekali untuk menghantarkannya untuk sadar tatkala Hyerim kembali berkata sambil sedikit mendongak menatapnya.

Dengan wajah kaku yang berusaha ia samarkan, Luhan tersenyum manis sebisa mungkin. Tangan milik Luhan pun mengelus pelan surai Hyerim disertai anggukannya. “Tentu saja, aku akan datang.”

Bagaimana pun, Luhan akan datang ke acara makan malam yang diselengarakan Presiden Kim Jaehyun. Seketika pikiran Luhan melayang akan satu pemikiran. Untuk pertama kalinya, Luhan akan berhadapan langsung dan sangat dekat dengan target utamanya, Kim Jaehyun, presiden Korea Selatan yang harus ia bunuh.

—To Be Continued—


Jangan lupa RCL ya ❤

Chapter 2 udah tersedia di blogku. Jikalau ingin langsung membacanya tinggal klik di sini

P.S : Telat ngepost jadi modal ganti tanggal aja LOLOL

[HYEKIM WORLD]

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s