[TWOSHOT] MARRIAGE 2: 39 WEEKS — IRISH’s Tale

Marriage 2: 39 Weeks  |

|  EXO`s Kai   x  Red Velvet`s Seulgi  |

|   Marriage  x  Hurt-comfort  x  Slice of Life x Slight!Medical   |  Twoshot  Mature for sexual content  |

|   supported EXO`s Sehun & Kyungsoo mentioned Red Velvet`s Irene   |

2017 © Little Tale Created by IRISH

standart disclaimer applied

Pernikahan itu suatu ikatan yang rapuh, katanya. Karena terkena angin sedikit saja sudah bisa menggoyahkannya. Menjalani hidup dengan mencintai seorang Kang Seulgi dan kekurangannya, bertemu dengan seorang Bae Joohyun yang sempurna, akankah jadi alasan bagi hati Jongin untuk goyah? ’

Show List:

 Marriage 2: 8 Weeks  [PLAYING] Marriage 2: 39 Weeks

Related To:

Marriage: 14 Weeks & Marriage: 32 Weeks

♫ ♪ ♫ ♪

In Author’s Eyes…

“Kau sedang selingkuh, Bung?”

Jongin tersadar dari lamunannya saat mendengar Sehun bicara.

“Apa maksudmu?” tanyanya tidak mengerti. Pasalnya, dia hanya berdiam memandangi sekertaris pribadi Sehun—Bae Joohyun—menyusun file-file yang akan ditandatangani oleh pria bermarga Oh tersebut di luar ruangan.

“Kau memandanginya tanpa berkedip, Kim Jongin-ssi. Melakukan hal semacam itu bisa disebut sebagai perselingkuhan.” Sehun berkelakar.

“Jangan bercanda. Aku hanya melihatnya saja.” dengan tidak nyaman Jongin menepis perasaan bersalah yang diam-diam menyelinap masuk ke dalam kalbu. Bagaimana mungkin Sehun bisa menyebutnya sebagai seorang pria yang tengah berselingkuh padahal yang dia lakukan hanyalah memandang seseorang?

“Dia wanita yang baik.” lagi-lagi Sehun berkata. Seolah mengisyaratkan pada Jongin kalau kemungkinan bahwa Jongin melakukan perselingkuhan dengan wanita bermarga Bae itu adalah hal yang wajar.

“Tidak ada yang lebih baik dari Seulgi, dalam pandanganku.” komentar Jongin.

“Tapi kau tidak pernah memandang Seulgi seperti itu. Beberapa tahun terakhir, maksudku. Aku sudah mengenalmu bertahun-tahun, Jongin-ah. Dan seperti itulah caramu dulu memandang Seulgi saat kita masih sama-sama duduk di bangku sekolah.”

Lagi, perasaan bersalah itu datang mengusik batin Jongin.

Apa benar dia memandang wanita lain dengan cara yang sama seperti saat dia memandang Seulgi? Tidak mungkin hatinya dengan lancang berani memandang orang lain, bukan?

“Bukan begitu, Sehun-ah. Aku hanya merasa sedikit iri padanya. Seulgi seharusnya juga bisa menjalani kehidupan yang normal, dan bekerja—meski sebenarnya aku juga tidak ingin dia bekerja—tapi kupikir, Seulgi sekarang mungkin kesepian.” Jongin menjelaskan.

Ia menerangkan pada Sehun kalau dia memandangi Joohyun karena teringat pada Seulgi, memikirkan apa yang tengah wanita itu kerjakan sendirian di rumah. Apa Seulgi pernah merasa jenuh karena terus ada di rumah tanpa bisa beraktifitas.

“Kata bisa berbohong tapi hati tidak, Kim Jongin. Aku mengenalmu dengan baik, dan aku tahu apa yang sedang terjadi padamu. Sudah hampir tujuh tahun kau dan Seulgi menikah, kudengar orang-orang mulai merasa jenuh pada pernikahan mereka setelah pernikahan itu menginjak tahun ke-tujuh.

“Aku memberitahumu bukan karena aku ingin menuduh, atau menjerumuskanmu. Aku memberimu peringatan, jangan terlalu membiarkan dirimu terlarut pada kesempurnaan wanita lain yang tidak Seulgi miliki. Karena jika hatimu goyah karena wanita lain, saat itulah kau benar-benar selingkuh, Jongin-ah.

“Dan jika kau sudah mencintai seseorang yang lain, itu artinya kau sudah tidak memiliki cinta sebesar yang kau banggakan selama ini pada Seulgi. Ingat itu.”

Memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan kata melawan Sehun, Jongin akhirnya memejamkan mata. Sebersit perasaan bersalah lagi-lagi hinggap dalam batinnya ketika membayangkan dirinya tertawa lepas bersama wanita lain sementara Seulgi kesepian dan menunggunya.

Mana mungkin, Jongin bisa melakukan hal terkutuk itu?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kau pulang, Jongin-ah?”

Sebuah suara terdengar menyapa Jongin. Pria itu bahkan lupa untuk sekedar mengucap ‘aku pulang’ hari ini, dan akhirnya vokal Seulgi yang terdengar menyapa.

“Oh, maaf, ada sedikit pekerjaan yang harus kuselesaikan.” Jongin berucap saat maniknya menangkap jarum pendek jam dinding analog rumahnya sudah menunjuk angka sepuluh.

“Tidak apa-apa, aku sudah menyiapkan malam malam—”

“—Aku sudah makan malam tadi, di kantor.” lekas Jongin memotong, ia lepaskan ikatan dasi yang seharian ini mengukungnya, sementara mantel tebalnya ia gantungkan di gantungan yang ada di dekat pintu.

“Aku sangat lelah hari ini, Seulgi-ah. Apa yang sedang kau lakukan?” Jongin bertanya, sembari membawa tubuhnya berjalan menuju pantry, meraih sebuah gelas kaca dan mengambil sebotol air putih dari dalam kulkas.

“Merajut, aku ingin membuat sepasang syal untuk In-soo dan bayi kita nanti.” Seulgi menyahut. Dari sudut mata, bisa Jongin lihat wanita itu tengah duduk di sofa dengan kaki yang ia selonjorkan sementara tubuhnya bersandar di lengan sofa.

Televisi di hadapan Seulgi juga menyala, menampilkan drama favorit wanita itu yang selalu ditontonnya setiap malam saat menunggu Jongin pulang. Meski sekarang Seulgi tengah membelakanginya, Jongin tahu Seulgi pasti sudah mengantuk.

“Istirahatlah, Seulgi-ah. Aku juga sudah begitu lelah hari ini.” Jongin berucap, pria itu kemudian melangkah masuk ke dalam kamar, mengabaikan eksistensi Seulgi yang sedari tadi menunggu.

Kini, Seulgi mengalihkan pandangnya dari syal merah tua yang sejak tadi ia rajut. Jongin tidak tahu, jika wanita itu tengah menahan tangisan. Sepasang mata Seulgi berkaca-kaca, bahkan beberapa likuid mengalir turun dari netranya tanpa mau tahu bagaimana usaha Seulgi menahan mereka.

Tarikan dan hembusan nafas Seulgi lepaskan, ketika kemudian lengannya bergerak meraih ponsel yang ada di sisinya. Delapan pesan Seulgi kirimkan, sembilan panggilan ia lakukan, pada Jongin malam ini.

Tapi pria itu bahkan tidak membahas apapun tentang pesan maupun panggilan Seulgi. Apa Jongin benar-benar kelelahan? Tapi… mengapa ia bahkan tidak sempat untuk sekedar memberikan kecupan kecil di kening Seulgi seperti yang biasanya pria itu lakukan?

Seulgi tahu benar… selelah apapun seorang Kim Jongin, pria itu tidak akan pernah lupa menyapa bayi mereka. Tapi dua bulan terakhir, pria itu perlahan berubah.

Apa Seulgi saja yang merasa seperti itu?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Jongin merebahkan tubuhnya di tempat tidur, membiarkan ponsel—yang ia letakkan di meja—menyala karena sejak jam tujuh malam tadi kehabisan daya, sementara pria itu mengatur nafasnya.

Ucapan Sehun membayangi pria itu. Tentang kebiasaannya yang ‘tidak biasa’ selama beberapa minggu terakhir. Menurut Sehun, Jongin terlalu sering memperhatikan Joohyun dengan pandangan yang dulu ia berikan pada Seulgi.

Tapi tidak, hati Jongin tidak goyah karena wanita itu. Bahkan meski seisi kantor mengatakan kalau Joohyun adalah seorang yang sempurna untuk dinikahi, Jongin tidak berpikir seperti itu.

Dia hanya mencintai Seulgi.

PIP! PIP! PIP! PIP!

Berurutan, nada khas masuk ke dalam ponsel Jongin. Membuyarkan pria itu dari lamunan tak berujung yang sejak tadi mengganggu benaknya. Well, meski nada itu sangat sederhana, tapi Jongin tahu siapa yang mengiriminya pesan.

Kang Seulgi. Istri yang sangat ia cintai.

Lekas, Jongin meraih ponselnya, tatapan pria itu membulat ketika sadar bahwa pesan beruntun Seulgi baru saja dibacanya. Bagaimana ia bisa begitu bodoh dan mengabaikan kekhawatiran Seulgi?

“Cara yang sempurna untuk menyakiti orang yang kau cintai, Kim Jongin.” ia mengumpat pada diri sendiri.

Tanpa sempat membaca tiap isi pesan dari istrinya, Jongin bangkit dari tempat tidur, melangkah pelan mendekati pintu yang dibiarkannya separuh terbuka supaya dia bisa melihat Seulgi—

Tunggu. Jongin jelas melihat wanita itu sekarang tengah menangis.

Tak tahan karena situasi yang telah diciptakannya, Jongin memejamkan mata dan menghembuskan nafas panjang. Bagaimana bisa dia membuat Seulgi menangis karena ulah ceroboh dan tidak pedulinya?

“Kau bodoh, Kim Jongin, benar-benar bodoh.” lagi-lagi Jongin mengumpat pada diri sendiri.

Tidak ada jalan lain selain bicara, bagi Jongin saat ini. Dan ya, itulah yang pria Kim itu tengah lakukan. Merajut langkah hati-hati mendekati istrinya, sebelum akhirnya merengkuh tubuh wanita itu dari belakang.

“Maaf,” silabel itu terucap dari bibir Jongin, jelas dia tahu, dari sekian banyak alasan yang membuat Seulgi menangis, pria itu adalah salah satu penyebabnya.

“Oh, Jongin-ah…” segera Seulgi mengusap air mata yang membasahi wajahnya, malu lantaran tertangkap basah oleh sang suami.

“Sungguh, aku minta maaf, sayang. Ponselku mati, dan pekerjaan bertumpuk membuatku lupa dalam sekejap mata untuk menghubungimu.” Jongin berucap, ia lepaskan pelukannya dari Seulgi, kemudian ia langkahkan kaki memutari sofa untuk duduk di ruang kosong yang ada di sebelah wanita itu.

“Aku bahkan terlalu lelah dan lupa pada dirimu yang juga lelah menungguku.” Jongin lagi-lagi berucap, penuh penyesalan karena kini dia ingat, dia benar-benar mengabaikan Seulgi begitu mereka masuk ke dalam rumah.

“Maafkan aku,” lagi-lagi ia berkata karena Seulgi masih memilih bungkam.

“Kau bahkan tidak menyapa Hee-soo.” Seulgi berucap, menatap pria-nya dengan mata yang masih basah karena air mata.

“Hee-soo?” Jongin mengulang.

“Ya, Dokter Do mengatakan kalau bayi kita perempuan. Kau dulu setuju jika anak kita akan diberi nama Hee-soo kalau dia perempuan.” Seulgi mengusap kedua matanya bergiliran dengan telapak tangan, sementara hidung wanita itu masih memerah sebab sedari tadi ia menahan tangisannya agar tidak terdengar oleh Jongin.

“Aku sudah sangat menyakitimu, bukan?” tanya Jongin menyadari berapa banyak air mata wanita itu yang sudah terbuang malam ini karena perilakunya.

Seulgi terdiam, wanita itu mengalihkan pandangannya, tidak ingin mengatakan pada Jongin tentang malam-malam sebelumnya yang juga dia lalui dengan tangisan karena tingkah Jongin yang dinilainya telah berubah.

“Orang-orang bilang, mungkin ini karena kehamilanku. Jadi aku terus berpikir yang tidak-tidak tentangmu selama beberapa bulan terakhir.” Seulgi memulai konversasi.

“Oh, ya? Memangnya apa yang kau pikirkan?” tanya Jongin.

Entah, rasa lelah yang tadi mendorong keinginan Jongin untuk membaringkan diri dan tidur untuk menyambut hari esok sudah menguar kemana. Kini, pria itu terjaga sepenuhnya.

“Kupikir… kau mungkin bertemu dengan wanita cantik di kantor yang berusaha menggodamu.”

Ah, hati berkaca, rupanya. Sekarang Jongin paham benar kalau bukan hanya dirinya yang terbebani pikiran aneh karena perhatian tidak wajar yang diberikannya pada si cantik Joohyun.

Bagaimana bisa Tuhan memberi Seulgi firasat serupa?

Menggodaku?” tanya Jongin mengulang ucapan Seulgi.

Seulgi mengangguk dua kali. “Aku lihat di drama, kalau wanita-wanita yang bekerja di kantor adalah wanita cantik dengan tubuh yang bagus. Bahkan, di drama ada pria yang bermain gila dengan pekerja kantornya sendiri padahal dia sudah beristri.”

Jongin tergelak. Mendengar bagaimana Seulgi menceritakan tentang drama yang ditontonnya adalah hal yang makin menghilangkan penat di tubuh Jongin. Pria itu sadar, Seulgi selama ini mungkin telah khawatir pada Jongin dan kesibukannya di kantor yang bahkan tidak bisa Seulgi ketahui.

Well, sebenarnya firasat Seulgi juga tidak sepenuhnya salah. Belakangan, Jongin memang beberapa kali memperhatikan si cantik yang berstatus sebagai sekertaris sahabatnya, Sehun.

Dan sekarang, Jongin merasa mual lantaran menyadari bahwa istrinya mungkin punya pikiran yang sama dengan Sehun. Meski Seulgi tidak mengenal siapapun di kantor Jongin—selain Sehun, tentunya—tapi bagaimana jika wanita itu membayangkan adanya Joohyun lain yang berusaha merebut Jongin darinya?

“Kau mau kuberitahu satu hal?” tanya Jongin kemudian.

Dia tidak mau, tidak—Jongin tidak ingin membiarkan Seulgi terkurung dalam ketidak tahuan. Bukannya dia ingin berdusta, tapi dia ingin Seulgi tahu segalanya tentang pria itu.

Jongin percaya, meski ceritanya akan terdengar mengerikan di telinga Seulgi, tapi wanita itu akan memahaminya karena percaya pada pria itu dan kesetiaannya.

“Satu hal? Tentang apa?” tanya Seulgi.

“Ingat kan, aku berada di perusahaan yang sama dengan Sehun. Kau tahu, dia punya seorang sekertaris pribadi, namanya Bae Joohyun. Dan dia adalah wanita tercantik ketiga yang kutemui setelah kau dan ibu.”

“Dia cantik? Seberapa cantik?” Seulgi bertanya dengan penuh rasa penasaran.

“Sangat cantik. Sungguh. Kuakui, beberapa kali aku sempat memandanginya sampai Sehun berpikir aku mungkin menyukai Joohyun. Kau pasti tidak tahu bagaimana terganggunya aku karena tuduhan Sehun itu, bukan?”

Ekspresi Seulgi perlahan berubah cemas, dan takut.

“Kau… sering memandanginya?” tanya wanita itu memastikan.

“Tidak sering. Hanya beberapa kali. Aku bahkan tidak pernah bicara padanya, dan aku memandangnya hanya karena dia cantik, itu saja.” Jongin menjelaskan.

“Benarkah?” Seulgi lagi-lagi bertanya dengan ragu.

Melihat ketakutan di dalam pandangan Seulgi, timbul keinginan Jongin untuk menggoda wanita itu.

“Ya, kau pikir aku memandanginya karena ingin menjadikannya istri ke-dua?” sontak, pandang Seulgi membulat saat mendengar ucapan Jongin.

“Istri ke-dua?” ulangnya membuat Jongin terkekeh geli.

“Aku hanya bercanda, sayang. Kau tahu kau sudah mencuri cintaku seluruhnya, mana bisa aku membagi cintaku untuk orang lain selain kau?” Jongin kemudian bergerak merebut rajutan yang sejak tadi masih ada di tangan Seulgi meski tangan wanita itu bergeming.

Jongin singkirkan rajutan itu, sementara kini kedua tangannya menggenggam lembut jemari Seulgi yang dipastikannya tengah dilingkupi kekhawatiran.

“Jangan khawatir, kau percaya padaku, bukan? Kau percaya aku tidak akan melanggar janji untuk sehidup semati denganmu, bukan?” Jongin bertanya, dilihatnya, ketakutan yang sempat mencekam Seulgi perlahan menghilang, bergantikan dengan sebuah senyum yang membuat Jongin tersadar.

Meski usianya menua, tapi Seulgi masih secantik dulu.

“Apa kau pergi ke salon akhir-akhir ini?” alih-alih melanjutkan pembicaraan tentang Joohyun, Jongin justru merasa terusik pada perbedaan di wajah Seulgi yang baru disadarinya.

“Memangnya kenapa?” Seulgi menatap tidak mengerti, ia tarik tangannya dari genggaman Jongin sementara ia bergerak menyentuh kedua pipinya bergiliran, bahkan rambutnya.

“Mengapa aku tidak sadar kalau kau semakin bertambah cantik?” pertanyaan Jongin berikutnya berhasil membuat wajah Seulgi memerah.

“Kau meledekku, huh?” Seulgi berucap, kepalan tangan mungilnya bergerak memukul pelan lengan Jongin sementara pria itu masih memperhatikan parasnya lekat-lekat.

“Tidak, Seulgi-ah. Aku bersungguh-sungguh. Kau bertambah cantik. Apa ini… karena kau akan segera jadi seorang ibu dari dua anak-anakku?” Jongin lagi-lagi terkekeh, ditariknya Seulgi ke dalam pelukan, didekapnya erat seolah wanita itu telah begitu dirindukannya selama beberapa waktu.

Kekehan kecil Seulgi dan omelan wanita itu bahkan Jongin abaikan. Pria itu terlampau lama membiarkan dirinya kesepian, sampai-sampai hatinya bisa dengan lancang berani melirik wanita lain padahal ia sudah memiliki seorang yang sangat sempurna.

“Oh… Seulgi-ah, bagaimana aku bisa memandang wanita lain kalau aku punya wanita secantik dirimu…”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Minggu pagi seharusnya jadi hal yang menyenangkan bagi Jongin, maupun Seulgi. Karena setidaknya sekali dalam seminggu, mereka bisa menghabiskan waktu di rumah. Well, akhir-akhir ini Jongin memang tidak ada di rumah meski di hari minggu. Pertemuan dengan klien, alasannya.

Tapi kali ini Jongin bahkan sudah mematikan ponselnya, sebab ingin menebus rasa bersalah pada Seulgi yang semalam dibuatnya menangis. Pikir Jongin, merelakan satu hari dan membiarkan dirinya diomeli habis-habisan oleh atasan di esok hari, adalah pilihan terbaik daripada meninggalkan Seulgi sendirian di hari minggu.

Terutama, karena tanggal persalinan Seulgi sudah dekat, mereka harus banyak mempersiapkan—tunggu. Jongin kini tersadar, maniknya segera bersarang pada kalender yang ada di dinding.

Tidak salah lagi. Dia ingat benar dokter mengatakan bahwa batas akhir kehamilan Seulgi mencapai usia ‘cukup bulan’ adalah hari sabtu, enam hari lagi. Tapi mengapa Seulgi masih tenang-tenang saja?

Yah, bukan salah Seulgi yang tenang-tenang saja. Di kehamilan pertamanya, Jongin mengingat angka tiga puluh sembilan minggu sebagai usia kandungan saat Seulgi melahirkan putra pertama dan kedua mereka.

Jongin juga ingat, Seulgi sempat kesakitan selama beberapa jam. Kontraksi1, kata dokter. Tapi ya, Jongin juga yang jadi korban. Pasalnya, setiap kali Seulgi mengalami kontraksi, ia akan mencengkram lengan Jongin tanpa ampun, menyisakan bekas kuku kentara di lengan pria itu.

Belum lagi jeritan memekakkan telinga yang Seulgi keluarkan karena rasa sakitnya. Duh, mengingatnya saja sudah cukup membuat Jongin bergidik ngeri.

“Sayang,” akhirnya Jongin membuka pembicaraan. Diam-diam dia merasa khawatir juga.

“Hmm?” Seulgi menyahut, dia lemparkan sebuah lirikan pada Jongin sementara dirinya masih sibuk dengan semangkuk soup di hadapan.

Ingatkan Jongin kalau mereka sedang makan malam saat pikiran Jongin tentang persalinan Seulgi tadi hinggap.

“Bukankah sekarang sudah mendekati hari persalinanmu? Kau tampak… masih baik-baik saja.” Jongin berucap.

“Memangnya aku harus bagaimana saat mendekati persalinan?” Seulgi balik bertanya, tidak mengerti mengapa Jongin memandangnya ‘aneh’ karena masih terlihat baik-baik saja padahal seharusnya Jongin merasa senang.

Sadar kalau dirinya baru saja salah bicara, Jongin kemudian menutup mulut. Sekilas bayangan tentang bagaimana dirinya sempat dijambak oleh Seulgi saat mereka ada di ruang bersalin beberapa tahun lalu tiba-tiba saja muncul.

“Maksudku, kau tidak khawatir? Perkiraan persalinanmu dalam minggu depan, kau tidak merasa kontraksi atau semacamnya itu?” tanya Jongin memastikan.

Seulgi menjawab dengan gelengan pelan.

“Sama sekali tidak. Haruskah kita kontrol ke Dokter Do? Kau khawatir?” tanya Seulgi membuat Jongin menatap tidak mengerti.

“Dan kau tidak merasa khawatir?” ia balik bertanya.

“Kata orang-orang, wajar saja kalau persalinan mundur satu atau dua minggu.” Seulgi mengangkat bahu acuh, hal yang kemudian membuat Jongin semakin tidak mengerti.

“Mengapa kau begitu percaya pada perkataan orang-orang?” ia bertanya.

“Karena orang-orang itu sudah melahirkan sekitar tiga atau empat anak. Mereka lebih berpengalaman, menurutku.”

Jongin akhirnya menghela nafas panjang. Tidak ingin berdebat dengan Seulgi terutama karena mereka tengah makan malam. Keributan di atas meja makan adalah hal tidak baik yang sama sekali tidak ingin Jongin pelihara.

“Kalau begitu kita ke Dokter Do setelah ini, bagaimana?” tawar Jongin.

“Kau sungguh khawatir?” Seulgi justru bertanya dengan nada tidak berdosa.

“Bagaimana mungkin aku tidak khawatir pada keadaan anak dan istriku?”

Sebuah senyum tanpa sadar muncul di wajah Seulgi saat mendengar Jongin mengatakan hal tersebut. Well, tiap kalimat manis dari Jongin memang kerapkali berhasil membuat Seulgi tersenyum, tidak dulu, tidak sekarang.

Pria itu selalu berhasil membuat jantungnya berdegup tidak karuan meski tahun demi tahun sudah berlalu. Kadang, Seulgi sempat berpikir, bagaimana Jongin bisa terus mencintainya? Bagaimana pria itu bisa menerima kekurangan Seulgi?

Tapi Seulgi pikir, dia kini tahu jawabannya.

Karena dia percaya pada Jongin. Dan kepercayaan itu yang Seulgi yakini telah membuat Tuhan tidak sampai hati untuk melukainya.

“Benar, kita harus ke Dokter Do. Selesai makan malam kita langsung berangkat ke sana. Pakai pakaian yang rapi, mengerti?” Jongin memberi komando, seolah sekarang Seulgi tidak sedang memperhatikannya dan memikirkan tentang pria itu dan semua cinta juga kasih yang telah ia berikan pada Seulgi selama ini.

“Seulgi-ah, kau dengar aku?” Jongin melambaikan tangannya di depan wajah Seulgi karena wanita itu tidak kunjung memberi jawaban.

Tentu saja, Seulgi tersadar dari lamunan setelahnya. Wanita itu kemudian mengulum senyum. Lenyap sudah rasa lapar yang sejak sore tadi memburunya, perutnya sudah penuh karena puluhan kupu-kupu sekarang memenuhinya bak metafora tentang kebahagiaan tengah terjadi.

Di tengah kekurangan yang kadang membuat Seulgi ingin mengakhiri hidup, Jongin adalah kebahagiaan yang Tuhan kirim padanya. Sehingga Seulgi tahu, secantik apapun Bae Joohyun yang semalam Jongin ceritakan, hati Jongin bahkan tidak akan membuka celah sekecil apapun untuk wanita itu.

Akhirnya, Seulgi meletakkan sendoknya, senyuman kecil ia berikan pada Jongin yang masih memasang raut khawatir sementara Seulgi sendiri sekarang merasa geli. Wanita itu kemudian membuka mulut, menjawab pertanyaan yang sejak tadi jawabannya telah ditunggu oleh Jongin.

“Ya, ya, aku mendengarmu dengan jelas, Kim Jongin-ssi.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Kapan terakhir kali kalian berhubungan intim?”

Pertanyaan cukup tajam Kyungsoo utarakan pada sepasang suami istri di hadapannya. Sementara ekspresi keduanya, sudah jadi jawaban pasti bahwa mereka bahkan sudah lupa eksistensi kewajiban suami-istri itu selama beberapa waktu terakhir.

“Dua bulan—”

“—Satu bulan yang lalu.”

Alis Kyungsoo terangkat mendengar dua jawaban berbeda itu.

“Dua atau satu?” tanyanya memastikan.

“Dua bulan, Kim Jongin. Apa kau sudah pikun?” bisikan cukup keras Seulgi berikan pada pria itu, membuat Jongin akhirnya menciut—menyadari bahwa dia memang benar-benar sudah pikun—dan akhirnya menunduk.

“Ya, kupikir istriku benar.” Jongin menyetujui ucapan Seulgi.

Mendengar perdebatan kecil sepasang suami-istri di hadapannya, Kyungsoo akhirnya memasang senyum kecil sebagai respon. Ia kemudian berdeham pelan, membuat Jongin mendongak menatapnya, dan juga merebut atensi Seulgi yang sedari tadi sibuk memandang Jongin seolah menuntut pengakuan dan bukannya pendapat meragukan.

“Di beberapa kasus kehamilan, memang ada yang mungkin bisa menjadi keterlambatan persalinan. Post date2 istilahnya. Meski jarak dari kelahiran pertama sudah enam tahun, tapi melahirkan normal bagi Nyonya Kang sangat beresiko.” Kyungsoo menghentikan sejenak aktifitasnya, ia kemudian memandangi kalender di mejanya.

“Kita bisa merencanakan persalinan. Berdasarkan hasil USG3 terakhir, usia kehamilan dan berat badan bayi kalian sudah cukup baik. Aku punya jadwal kosong dalam minggu depan.

“Kalau kalian tidak punya hari tertentu yang diinginkan untuk kelahiran bayinya, aku sarankan kalian untuk berhubungan intim. Meski akan sedikit kesulitan—terutama bagi Nyonya Kang—tapi setidaknya bisa memancing tanda gejala persalinan.”

“Berhub—” segera Jongin menutup mulut saat bibirnya dengan lancang hampir saja menyebutkan satu istilah intim yang entah mengapa dirasanya begitu tabu untuk dikatakan dengan lantang.

Meski dia tahu benar Kyungsoo adalah seorang dokter kandungan dan ia tidak perlu merasa khawatir pada pembicaraan-pembicaraan semacam ini, tetap saja… mendengar seseorang memintanya untuk berhubungan badan dengan sang istri dengan cara terang-terangan seperti ini terdengar cukup aneh bagi Jongin.

“Maksud Dokter… aku mungkin akan mengalami kontraksi setelah melakukannya?” Seulgi bertanya hati-hati.

“Ya. Kecuali kalian punya tanggal tertentu dalam minggu depan yang bisa dijadikan rencana untuk tanggal kelahiran bayi kalian, lakukan hubungan intim seperti yang kusarankan tadi.”

Sedikit merasa canggung, Jongin akhirnya menjilat bibirnya, sementara jemarinya bergerak menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

“Umm, Dokter, di awal kehamilan Seulgi kau pernah berpesan padaku untuk tidak mengeluarkannya di dalam karena akan beresiko bagi kehamilan Seulgi. Lalu kali ini, apa aku harus—”

“—Di dalam.” Kyungsoo memotong, menyelipkan sebuah senyum kecil yang bahkan dengan jawaban singkatnya saja Jongin sudah paham benar tentang apa yang harus dia lakukan.

Tapi, melakukannya dengan Seulgi saat wanita itu bahkan kepayahan akibat perut besarnya—yang dikatakan Kyungsoo bahwa bayi mereka mungkin punya berat badan yang cukup besar—saja sudah membuat Jongin merasa tidak sampai hati.

Bagaimana kalau nanti Jongin menginginkan lebih? Bukankah itu artinya dia akan menyakiti Seulgi? Tapi, ah… sekali lagi, pikiran kotor kini terselip di ceruk batin Jongin. Semenjak menjadi seorang ibu, Seulgi tampak begitu cantik di mata Jongin.

Terutama, di kehamilan kedua ini. Seulgi semakin terlihat cantik. Wanita itu seringkali berdandan sederhana namun begitu membuatnya terlihat menarik. Seulgi sendiri berkeras kalau efek ‘cantik’ yang Jongin katakan itu disebabkan karena dia tengah hamil seorang anak perempuan—Seulgi bilang, itu kata orang-orang.

Tapi Jongin sendiri tidak tahu pasti. Karena dia seringkali begitu sibuk dan tidak pernah sempat menanyakan pada Seulgi tentang apa saja yang sehari-hari dilakukan wanita itu.

“Jadi… aku akan tunggu kalian, menelepon untuk menentukan tanggal, atau datang sewaktu-waktu karena kontraksi.”

Kalimat Kyungsoo akhirnya jadi akhir dari konversasi berat mereka malam itu.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Sudah dua hari berlalu, dan Jongin masih larut dalam kebimbangan. Berhubungan intim dengan Seulgi sejujurnya adalah hal yang ia rindukan dan… membayangkannya saja sudah bisa membuat Jongin ingin melakukannya.

Tapi bagaimana mereka harus melakukannya? Jongin tahu sendiri, jika terlalu banyak berbaring terlentang, Seulgi akan merasa sesak karena perut besarnya. Memaksa Seulgi untuk ada di atas tubuh Jongin sama saja dengan menyiksa wanita itu karena toh, dia tidak bisa menggerakkan kakinya.

Ugh, sekarang Jongin merasa seolah dia adalah pria mesum yang sibuk membayangkan posisi berhubungan seksual.

“Apa yang kau pikirkan, Jongin-ah?” sapaan Sehun terdengar, membuat Jongin tersadar dari lamunan ‘kotor’-nya sedari tadi.

“Oh, Sehun-ah. Aku sedang memikirkan saran dari dokter.” Jongin menyahuti.

“Saran apa? Kenapa kau sampai terlihat letih begitu?” Sehun bertanya penasaran.

“Dokter memintaku untuk tidur dengan Seulgi.”

Alis Sehun sekarang menyernyit bingung mendengarnya. “Memangnya selama ini kau tidur dengan siapa? Bukan dengan Seulgi?” pertanyaan bodoh itu justru meluncur dari mulut Sehun, membuat Jongin mendesah panjang.

“Bukan tidur yang itu, bodoh. Yang kumaksud adalah dokter memintaku untuk ‘tidur’ dengannya.” mendengar penuturan Jongin—meski sama-sama menggunakan kata tidur sebagai kata kerja untuk dua makna berbeda—Sehun akhirnya mengerti juga.

“Ah… ya, ya, aku mengerti. Lalu apa masalahnya? Jangan bilang kalau kau sudah tidak bernafsu lagi melihat tubuh istrimu.” Sehun menatap dengan pandang menyelidik.

“Kau bodoh, atau apa? Mana mungkin aku begitu?” Jongin mendengus kesal, ia alihkan pandangan lantaran perkataan bodoh Sehun baru saja membangkitkan imajinasinya yang lain. “Dia pasti akan terlihat sangat seksi dengan kehamilannya sekarang.” tanpa sadar Jongin menggumam—dan gumaman itu berhasil membuat Sehun tergelak.

“Pervert. Kau pikir aku tidak tahu kalau kau sedang membayangkan tubuh istrimu sekarang, huh?” Sehun menyenggol lengan pria itu. Sekon kemudian, Sehun lagi-lagi tersadar kalau bukan mau-tidak mau yang jadi masalah Jongin.

“Lalu apa yang mengusikmu? Kau hanya tinggal melakukannya saja, bukan?” tanya Sehun membuat Jongin menatapnya dengan alis terangkat.

“Bagaimana aku mela—maksudku, kami harus melakukannya dengan posisi—ah, sudahlah. Bicara denganmu saat ini sangat tidak membantu.” Jongin mengurungkan niatnya untuk secara terang-terangan menanyakan pada Sehun tentang alasan yang membuatnya sejak dua hari lalu kebingungan dan bimbang.

Paham kemana larinya arah pembicaraan Jongin sekarang, timbul niat Sehun untuk menggoda pria itu.

Hey, kau kan sudah sering menonton blue film. Mana mungkin kau tidak ingat satu pun posisi yang ada di dalamnya. Jangan berpura-pura polos, Kim Jongin-ssi. Lagipula, bukannya kau sendiri pernah berkata padaku kalau kau rindu tubuh istrimu? Daripada menghabiskan waktu untuk memandangi tubuh sekertarisku, lebih baik kau habiskan malam ini dengan istrimu, bodoh.”

Siapa yang meledek siapa bodoh, sekarang? Jongin tiba-tiba jadi merasa kesal.

“Aku tidak bodoh. Aku hanya memikirkan keadaan Seulgi saja.”

“Dia juga akan menikmatinya.” Sehun mengedikkan bahu acuh. Dan ya, tentu Jongin sadar benar kalau Sehun benar-benar tidak paham tentang apa yang mengganjal di tengah keinginan Jongin itu.

“Kau rupanya benar-benar bodoh, Oh Sehun-ssi.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Jongin yakinkan dirinya kalau ia harus melakukannya malam ini.

Jadi, setelah membasuh tubuh dengan air hangat dan mengenakan kaos berwarna cream yang Seulgi siapkan, Jongin melangkah keluar dari kamar.

Seulgi sedang duduk di sofa, tangan kanannya sibuk mengganti channel televisi tapi pandangannya kosong. Seulgi pasti sedang melamun. Ah, diam-diam Jongi tersenyum saat sadar bahwa malam ini Seulgi secara tidak sengaja menyiapkan pakaian yang sama untuk mereka.

Jongin ingat, ia membelikan kaos ini sepasang bersama Seulgi. Dan sekarang Seulgi juga mengenakannya. Meski kaos yang dikenakan Seulgi tampak begitu ketat di bagian perutnya yang besar, tapi Seulgi tetap terlihat cantik.

Surai gelap panjang Seulgi diikat ke atas, membuat Jongin tanpa sadar memperhatikan leher jenjang wanita-nya yang entah sudah berapa lama tidak ia jamah.

Merasa cangung atas pemikirannya sendiri, Jongin akhirnya menghembuskan nafas panjang. Ia kemudian melangkah mendekati Seulgi, duduk di sebelah istrinya sementara wanita itu akhirnya memutuskan untuk mematikan televisi.

“In-soo sudah tidur?” tanya Jongin memulai pembicaraan.

“Hmm, ya. Dia tidur dengan Bibi Kim di kamar belakang.” Seulgi menjawab.

Ah, timing yang tepat karena Bibi Kim hari ini menginap di rumah mereka dan menempati kamar belakang—yang Jongin ketahui berjarak cukup jauh dari kamar utama.

“Apa menurutmu In-soo akan tiba-tiba bangun dan datang ke kamar?”

“Memangnya kenapa?” tanya Seulgi, melirik Jongin sekilas.

Jongin segera memutar otak. “Hmm… karena mungkin aku akan mengajakmu melakukan sesuatu yang cukup ‘berisik’ malam ini, jadi… aku tidak ingin In-soo mengganggu kita.”

“In-soo? Mengganggu?” ulang Seulgi dengan nada aneh.

“Ya, kau tahu aku sudah sangat cemburu pada In-soo. Dia merebutmu dariku, Kang Seulgi. Aku bahkan tidak bisa bebas memelukmu setiap malam saat kita di kamar karena ada In-soo.” mendengar protes yang Jongin ucapkan, Seulgi akhirnya terkekeh pelan.

Memang, In-soo selama ini tidur bersama mereka di kamar yang sama, sehingga untuk melakukan hubungan intim pun keduanya tidak bisa. Hanya di beberapa waktu saat In-soo tidur bersama Bibi Kim saja mereka benar-benar punya waktu berdua.

“Memangnya kau mau melakukan apa?” sengaja Seulgi memancing pria itu.

Sengaja, Jongin mendekatkan tubuhnya, merengkuh pinggang Seulgi dan menenggelamkan diri di ceruk bahu wanita itu, mengendus aroma tubuh Seulgi yang sungguh dirindunya dan selama ini memang selalu menjadi candu.

“Sesuatu yang Dokter Do sarankan, dan yang terakhir kali kita lakukan dua bulan lalu.” Jongin berbisik, membuat Seulgi berjengit karena geli.

“Hentikan, Jongin. Jangan menggodaku.” Seulgi memperingatkan.

Entah, kapan terakhir kali Jongin bisa bebas menggoda wanitanya ini dan bicara tentang hal-hal yang terkesan vulgar. Karena sejak keadaan Seulgi seperti ini, rasanya hari-hari mereka lalui dengan kegiatan dan konversasi yang monoton.

“Kenapa? Kau dulu sangat suka kalau aku bersikap seperti ini.” Jongin makin menjadi, lengan satunya yang bebas kini bergerak memeluk Seulgi dari depan, menarik wanita itu untuk makin berhimpit dengan tubuhnya sementara bibir Jongin bergerak nakal mengecup rahang gadis itu, meninggalkan sebuah kissmark tidak kentara di sana.

“Jongin.” Seulgi memperingatkan, sekon kemudian Jongin dengar wanita itu ber-aduh pelan.

“Ada apa?” tanya Jongin khawatir, ia lepaskan pelukannya pada Seulgi—berpikir jika pelukannya terlalu erat dan menyakiti wanita itu.

“Kupikir Hee-soo menendangku dari dalam.” Seulgi berucap, tangan kanannya bergerak mengelus perut, sementara Jongin tersenyum simpul.

“Aigoo… Hee-soo-ku, apa kau cemburu?” tanya Jongin, tangan kirinya bergerak mengelus perut Seulgi perlahan, sebelum jemarinya menggapai tangan Seulgi dan menggenggamnya lembut.

“Dia menendang, lagi.” Seulgi berucap, tawa pelan terselip dalam suaranya sementara tatapan Jongin masih bersarang pada parasnya.

“Benarkah? Mungkin Hee-soo marah padaku karena aku jarang menyapanya.” Jongin berkata, perlahan tangan kanannya yang tadi merangkul pinggang Seulgi kini bergerak menyentuh perut Seulgi.

Jongin kemudian menunduk, menyejajarkan tubuhnya dengan perut Seulgi sebelum ia akhirnya mendekatkan telinganya ke perut Seulgi, berharap ia bisa mendengar atau setidaknya merasakan gerakan bayi mungilnya yang beberapa hari lagi akan menyapa dunia, meski tidak melihatnya melalui monitor USG.

“Oh, kau benar, Seulgi-ah. Putri kecil kita bergerak di dalam sana. Ya Tuhan… Hee-soo-ya, apa kau akan jadi pelari nanti saat sudah besar? Kenapa kau begitu aktif?” Jongin terkekeh pelan, pasalnya, ia memang bisa merasakan gerakan-gerakan kecil yang diciptakan bayinya.

Melihat bagaimana Jongin sekarang bersikap, mau tidak mau Seulgi akhirnya tersenyum. Jongin mungkin saja disibukkan oleh pekerjaan yang merenggut energinya sehingga tidak banyak bisa menghabiskan waktu dengan Seulgi, tapi tetap saja… dia seorang ayah yang sadar bahwa dirinya punya tanggung jawab.

Lembut, jemari Seulgi bergerak di sela-sela surai gelap Jongin, mengelus kepala pemuda itu sementara ia masih memasang senyum yang sama—meski sekarang diiringi dengan sebuah tangisan tertahan.

Seulgi tidak bersedih, dia sedang terharu. Di waktu yang bersamaan, dia merasa berterima kasih sekaligus merasa bersalah karena telah membuat Jongin bekerja keras sendirian.

Tapi dia juga berterima kasih karena setidaknya, Jongin tetap ada di sisinya, dan tidak lelah-lelahnya mengucap kata cinta.

“Hee-soo-ya, malam ini kau harus tidur nyenyak, mengerti? Ibu dan Ayah harus melakukan tugas penting dari dokter.” Jongin berpesan pada bayinya, ia elus pelan perut Seulgi seolah ia tengah mengelus puncak kepala putrinya.

“Tugas penting?” Seulgi berucap diiringi tawa kecil.

“Ya, walaupun Hee-soo protes seperti ini, keinginanku sudah bulat, Kang Seulgi.” Jongin akhirnya menegakkan tubuh, ia sarangkan sebuah kecupan kecil di bibir Seulgi sebelum melanjutkan.

“Ayo kita ke kamar.”

Perlahan, Jongin bangkit dari sofa, menatap Seulgi dan kursi roda yang ada di sana, kemudian menggeleng pelan.

“Tidak bisa, aku tidak bisa membiarkanmu dengan kursi roda malam ini. Aku akan buktikan kalau aku masih kuat menggendongmu meski aku sudah menua.” Jongin memutuskan.

Dengan lembut, ia menyelipkan satu lengannya di bawah lutut Seulgi, sementara satu lengannya ada di punggung Seulgi. Paham dengan tindakan suaminya, Seulgi segera mengalungkan kedua tangannya di leher Jongin.

“Aku sudah sangat gemuk sekarang, Jongin-ah…” Seulgi berucap.

“Walaupun kau bertambah gemuk kau tetap wanita tercantik.” Jongin mengecup pipi Seulgi, tersenyum pada wanita itu sebelum ia kemudian menggendong tubuh Seulgi dari sofa.

Well, kenaikan berat badan Seulgi agaknya tidak menjadi masalah besar bagi Jongin. Pria itu masih mampu menggendong Seulgi dengan kedua lengan kekarnya.

Ia kemudian mendudukkan Seulgi di tepi tempat tidur, sementara ia bawa langkahnya menuju pintu, menutup—dan tidak lupa, mengunci pintu kamar mereka—sebelum ia melangkah ke arah meja rias Seulgi dan melepaskan kaos yang ia kenakan.

Bisa Jongin lihat dari pantulan cermin, bagaimana tatapan Seulgi membulat sebelum wanita itu mengalihkan pandang dan menutupi kedua pipinya dengan telapak tangan. Diam-diam, dada Jongin bergemuruh karenanya. Sikap Seulgi masih sama. Wanita itu masih saja sering tersipu tiap kali melihat tubuh Jongin meski ia sudah sering melihatnya.

“Haruskah aku matikan lampunya?” tanya Jongin membuat Seulgi menoleh, menatap pria itu dan mengangguk malu-malu.

Gemas pada tingkah Seulgi, Jongin akhirnya cepat-cepat melangkah ke dekat pintu, mematikan lampu utama kamar mereka, menyisakan sepasang lampu jingga redup di tepi tempat tidur yang membuatnya masih punya kuasa untuk memperhatikan ekspresi Seulgi.

“Aku sudah benar-benar merindukanmu, Kang Seulgi,” Jongin berucap, langkah pendek ia tempuh untuk mencapai Seulgi, duduk di sebelah wanita itu dan sekali lagi memperhatikan kesempurnaan wanitanya yang tak pernah lelah ia puji.

“Aku tidak pernah berhenti berterima kasih pada Tuhan karena sudah menciptakanmu dengan begitu sempurna, sayang.” Jongin berucap pelan, telapak tangannya kemudian bergerak menangkup rahang Seulgi, mendongakkan wanita itu untuk menatapnya.

Begitu pandang mereka bertemu, Jongin tidak lagi menahan diri. Ia raup bibir ranum wanitanya, mengecupnya dalam dan lembut seolah selama ini ia telah kehilangan. Tangannya yang lain bergerak melepas ikatan rambut Seulgi perlahan, sementara Seulgi sendiri sudah larut dalam permainan yang Jongin ciptakan untuk mengawali malam panjang mereka.

Tiap lumatan Jongin berikan dengan lembut, tidak ada niatannya untuk melukai Seulgi barang sedikit pun, sementara jemari Seulgi kini bergerak seduktif, menyelipkan diri di antara surai Jongin dan mengikis jarak antara mereka.

Akhirnya, Jongin melepaskan pagutannya. Ditangkupnya kedua pipi Seulgi sementara wanita itu mengatur nafas dengan sedikit kesulitan.

“Aku mencintaimu, Seulgi-ah. Terima kasih karena telah menemaniku selama tujuh tahun ini.” Jongin berucap lembut.

Ia kemudian bergerak mengecup rahang Seulgi, menyisakan tanda cinta lainnya di sana sementara tangannya tidak tinggal diam. Ia tanggalkan kaos yang Seulgi kenakan—meski harus menginterupsi ciumannya selama beberapa sekon—dan bibir Jongin kemudian bergerak mengecup tiap inci tubuh wanita itu.

Desahan pelan yang lolos dari bibir Seulgi juga jadi alasan yang membuat Jongin tidak lagi bisa berhenti. Kini, jemarinya bisa menyentuh permukaan kulit Seulgi, merasakan gerakan kecil bayinya di dalam sana yang mungkin akan terganggu malam ini karena aktifitas keduanya.

Lembut, Jongin sarangkan sebuah gigitan di bahu Seulgi, hal yang membuat wanita itu mengaduh pelan tapi tidak juga menunjukkan perlawanan.

“Jongin, sakit,” Seulgi berkata.

Jongin hanya menjawab dengan kekehan pelan. Ia kemudian membaringkan tubuh Seulgi. Pria itu mengulum bibirnya sejenak sebelum akhirnya membuka mulut.

“Jangan khawatir, Seulgi-ah. Aku sudah tahu bagaimana cara melakukannya dengan tidak menyakitimu.” mendengar ucapan Jongin, Seulgi hanya mengalihkan pandang, menutupi rona kemerahan yang muncul di wajahnya karena tingkah Jongin sekarang.

Wanitanya sudah menyerahkan diri, itu yang Jongin tangkap. Tangan pria itu akhirnya bergerak menyentuh pengait rok yang Seulgi kenakan, hendak melepasnya saat—

TOK! TOK!

Eomma…”

JDUK!

Auw! Kang Seulgi!”

—Suara In-soo terdengar di luar pintu. Membuat Seulgi sontak mendorong Jongin sekuat tenaga dengan kedua lengannya, menghilangkan keseimbangan pria itu dan membuat suaminya terjatuh di lantai dengan suara gedebuk cukup keras.

“Ada In-soo, Jongin-ah!” Seulgi berucap tertahan.

Dengan dongkol, Jongin bangun dan mengusap-usap pinggulnya yang baru saja berciuman dengan lantai.

“Kim In-soo. Bocah kecil itu benar-benar merebutmu dariku.” Jongin menggerutu.

 “Aku harus buat perhitungan dengannya setelah ini.” masih dengan kekesalan yang sama, Jongin melanjutkan omelannya. Hal yang membuat Seulgi terkekeh pelan sementara jemarinya mengisyaratkan pada Jongin untuk mengambilkan kaos Seulgi yang tadi Jongin lemparkan ke lantai.

“Sudahlah, kita bisa melakukannya besok malam.” Seulgi mengambil keputusan. Sedangkan Jongin hanya menyahut dengan dengusan jengah, dan kesal.

Well, bukan salah In-soo karena dia terbangun di tengah malam, bukan? Masih untung Jongin ingat untuk mengunci pintu sehingga putra sulungnya tidak bisa begitu saja masuk dan menyaksikan apa yang baru saja mereka lakukan.

Semuanya salah Jongin, kenapa pula dia tidak bernegoisasi dulu dengan putranya?

FIN

Glossarium:

Kontraksi: secara umum dapat dijadikan sebagai tanda bahwa proses persalinan akan dimulai.

Post Date: kehamilan yang melewati 294 hari atau lebih dari 42 minggu.

USG: Ultra Sonography, merupakan penggunaan suatu alat dengan prinsip dasar menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi yang tidak dapat didengar oleh telinga kita. Denga alat USG dapat dilakukan pemeriksaan organ-organ tubuh dengan aman (tidak ada efek radiasi).

IRISH’s Fingernotes:

YAAMSYONG 5,5 RIBU KATA. Apa-apaan ini… T.T

Ngerjainnya perlu mood ekstra karena sebenernya secuil jiwa kejam di hati masih pengen ngebuat sad ending… apa daya daripada kena tuntutan Al buat bikin cerita KaiSeul ini yang lain lebih baik dibuat hepiendingeu (MESKI SEBENERNYA ANE SAMA SEKALI NGGAK RELA, TITIK).

Btw, giyowo gitu bayangin si Kai jealous sama anaknya :”) (GAYA ENTE RISH, TADINYA KAI MAU DIBUAT SELINGKUH SAMA IREN KAN?) ya sih mau dibuat selingkuh sama Iren atau Seulgi metong di ending but that’s too cruel…

Ane takut kualat, WKWK.

Semoga ending yang ini lebih membahagiakan meski ada mature content di dalamnya, LOLOLOLOLOL.

Sekian dariku, duh besok senin kusedih syekali…

Salam ketjup, Irish ~

P.s: di detik terakhir pas mau post ini part, kenapa terpikir alternate ending yang sedih ya… WKWKWKWKWK.

P.p.s: eh Al mianek ngebuat ente kzl di detik terakhir sebelum ngepost ini :”

[    IRISH SHOW    ]

Iklan

18 pemikiran pada “[TWOSHOT] MARRIAGE 2: 39 WEEKS — IRISH’s Tale

  1. Mbak irene sama mas sehun aja ya ya ya!! Lol si kai emang ga bisa jauh sama yg namanya pervert, si seulgi udah sama kai 7th ko ya masih malu malu macan tp malah bikin gemeshhhh..

  2. Suka banget sama tulisannya author Irish! Nggak ngerti lagi, udah mah ceritanya nggak biasa, tulisannya bagus pake banget. 😊😊

  3. Yang baca pada kesel kepotong ditengah jalan XD *astagah tobat dek*
    Duh mba iren salah apa kamu sampe hampir jadi orang ketiga HAAH Anyway aku serius senyum2 sendiri dari awal sampe akhir, gereget sendiri. Mereka berdua itu kaya goals banget 😀
    Sering-sering bikin kaya gini deh karish 😀 Keep writing~

    • IYA BTW, PADA PROTES SAMA ADEGAN YANG DIPOTONG DI TENGAH JALAN XD wkwkwkwkwkwkwkwkwk amin ~ meskipun banyak cobaannya tapi masih bisa jadi goals rumah tangga XD

  4. Ahh iyasih awal2 aku waswas jangan2 sadending lagi tapi pas ngelanjutin bacanya ternyata tidak pemirsa! Dan itu membuatku senyamsenyum gaje apalagi pas mereka bersama Dokter D.o hahaha kecanggunan yg menggelika HAHAHA Huaah seru kok tapi *ehem part terakhir itu lho ngegangtungin bgett~ huaaah maafin keegoisanku ini tapi author dilanjutin yah karna aku ngerasa di gantung sama kaya jongin yg aktivitasnya kegantung (?) dan maafin lagi tapi kalo emang dilanjutin jangan sadending yah yah.. Please .. Dan sekian,Terimakasih.

    • Engga dong :’p enggak kubuat sad ending lagi wkwkwkwkwkwk XD ini Dio cucok kan ya kan jadi dokter wkwkwkwkwkwk XD no no ~ udah segitu aja cukup dia XD

  5. yeay happy ending.. tapi kayaknya belum ending2 banget nih.. apa bakal ada lanjutannya ni kak? wkwk 😀 /ditampol author
    Kai Oppa jadi suami idaman banget ya.. setia banget sma istrinya meskipun udh gak sempurna lagi.. jadi terharuu.. :’)
    ini masih ada sequelnya kan ya kak ? wkwk /berharap puoll
    di tunggu nextnya ya..
    keep writing kak.. ) Fighting..

  6. Ya elah tuh anak ganggu banget sih,kasian dah udh setengah jalan gagal wkwkwk yang sabar ya jongin…lucu dah.yahhhh ko ngegantung sihhh thorrr

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s