NUVOLA

44495

; nuvola

Bila © 2017

— Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti. Apa artinya menunggu. Bagaimana indahnya mencintai. Mengapa jantungmu berdetak tak karuan untuk hal yang kecil. Berapa lama waktu yang engkau butuhkan untuk kembali normal, setelah kegilaan kecil terjadi terhadapmu. Dan juga, aku belajar, siapa yang pantas disalahkan atas semua ketidakwarasan yang terjadi kepadaku. Dia adalah kamu. Aku tak ada hak untuk menuntutmu bertanggung jawab. Karena aku seperti ini bukan karena paksaanmu. Tapi karena keegoisanku untuk dekat denganmu, untuk selalu bersama, dan untuk menyuruhmu nyaman terhadapku.

#

Sudah sekitar 30 menit hening menyelimuti suasana disini. Bukan keinginanku. Aku sudah berusaha mencairkan suasana disini. Namun anggota kelompokku  yang menyebalkan.

“Ya, bagaimana jika aku membeli–”

“Kerjakan saja tugasmu.”

“Aku memutar musik, ya!”

“Jangan. Menganggu kosentrasi.”

Cih. Menyebalkan. Aku tidak tahu apa yang harusku kerjakan sekarang. Tugasku dalam kelompok sudah selesai. Lalu, sekarang apa? Sungguh, bukan sebuah jackpot mendapatkan kelompok yang begitu pintar. Lihatlah mereka berdua. Yang satu membaca buku dan mencari referensi, yang satu tidak bergeming di depan laptop.

Aku meangangkat tubuhku, melangkahkan kaki keluar kelas. Bukan salahku lagikan? Tugasku sudah selesai, dan aku tak tahu harus berbuat apa. Bahkan kakiku sudah berada di daun pintu, tapi tidak ada yang mencegahku. Tch, aku seperti kerak saja diantara dua orang jenius ini.

Awan telah menunjukan warna jingganya yang indah. Sekolah pun juga sudah hampir kosong. Dari kelasku yang berada di lantai dua, aku melihat dengan jelas ke lapangan. Di lapangan, ada klub basket sedang bermain. Pft, benar-benar tidak ada yang bisa menghilangkan rasa bosanku. Aku melangkahkan kakiku asal. Hanya mengikuti kemana naluriku berjalan.

Aku terdiam sejenak ketika telingaku menangkap suara indah yang tidak begitu asing bagiku. Sekarang, akhirnya aku menemukan tujuanku yang pasti. Aku membuka perlahan pintu ruang musik yang ada di depanku. Masuk perlahan, sebisa mungkin tidak mengeluarkan suara. Sungguh, aku tidak ingin melewatkan satu nada pun.

Aku masuk lebih dalam dengan perlahan, dan bersembunyi-sembunyi tentunya. Ah, ketemu. Ternyata benar. Dia lagi. Aku tidak tahu pasti kapan hatiku mulai berdegup kencang ketika mendengar alunan indah yang tercipta dari musisi favoritku.

Namanya Byun Baekhyun. Teman sekelasku. Aku tidak begitu dekat dengannya. Bukan dia tipe orang yang cuek, malah dia seorang yang humble. Masalahnya adalah aku. Bagaimana ingin berteman, berada lima meter darinya saja berhasil membuat bibirku tertempel dengan kuat.

Dia, orang pertama yang membuatku ingin terus bersamanya. Eye contact dengannya adalah hal yang paling aku suka, ya, walaupun dengan cepat aku mengalihkan pandanganku. Melihat senyumnya adalah hobiku yang paling menyenangkan. Suaranya adalah nada terindah yang pernah aku dengar.

Dia benar-benar yang pertama.

Tapi yang pernah aku dengar, jika kau mencintai seseorang, kau takkan pernah lepas darinya. Setiap hari, jam, menit, bahkan detik, yang kau ingat hanya dia. Dan kau selalu menyelipkan namanya dalam doamu.

Tapi aku tidak. Benar-benar tidak seperti itu. Aku tidak selalu memikirkannya. Aku tidak pernah mendoakannya dengan rencana, atau setiap aku berdoa. Yang aku tahu, aku tidak dapat mengontrol jantung dan napasku. Oh iya, aku juga tidak pernah memberikan hal seperti surat cinta atau semacamnya di dalam lokernya. Itu menjijikan, kau tahukan?

Bukan. Aku sadar, sejak berada di sekolah menengah pertama, aku sudah mulai kagum padanya. Hanya kagum. Aku tahu itu.

Ha.

Aku bahkan tertawa mengingat semua itu. Sejak sekolah menengah pertama bertemu, tapi aku belum juga berani. Bahkan hanya untuk menyapa. Bodohkan? Iya, aku tahu, aku sebodoh itu.

Ada perasaan sedikit kecewa ketika aku menyadari alasanku berada di sini sudah tidak terdengar lagi. Aku menyembunyikan diriku di balik sebuah dinding. Iya, aku menghindar. Belum siap jantungku untuk berdetak abnormal jikaku melihatnya. Aku keluar ketikaku mendengar suara pintu tertutup. Aku menuju piano yang barusan dimainkan oleh Baekhyun. Aku tersenyum bahagia melihat piano itu. Sudah semakin bodoh saja kan.

Sudah semakin malam. Mungkin lebih baik aku keluar dari tempat ini. Aku melangkahkan kakiku ke arah pintu. Aku mengalami kesulitan ketika membuka pintu. Dan aku tersadar ternyata aku terkunci di ruang gelap ini. Aku memukul-mukul dengan keras di pintu. Berharap ada seseorang di luar sana yang mendengarnya. “Ya! Siapa pun diluar! Tolong aku!” ucapku sekeras mungkin. Aku benar-benar terjebak di sini. Handphone ku berada di dalam tas yang berada di kelas.

Aku rasa semua usahaku sia-sia. Tidak ada yang mendengarkan. Aku menyerah. Sekarang sudah benar-benar gelap. Aku sangat takut pada gelap. Aku terduduk dan memeluk kakiku. Airmataku memaksa keluar. Disini sangat dingin, dan aku benar-benar takut.

Aku tidak tahu sudah berapa lama aku menangis dengan memeluk kakiku. Aku terdiam ketika terdengar suara handphone berdering. Aku berdiri dan mencoba mencari sumber suara. Ketika ketemu, aku langsung mengangkat telpon itu tanpa melihat nama penelpon.

“Halo? Halo? Bisakah kau menolongku? Aku terkunci sekarang!” ucapku langsung dengan ditemani suara isakku.

Kau dimana sekarang?” ucap seseorang di sebrang sana.

“Aku berada di ruang musik, di SMA–” aku berhenti ketika mendengar suara pip. “Halo? Halo? Apa kau mendengarkanku? Halo?” ucapku lagi berusaha mendengar suaranya. Tapi hasilnya nihil. Tidak ada respon. Aku kembali menangis. Bagaimana ini? Apa aku benar-benar terjebak.

Aku tahu ini lancang, tapi kepada pemilik handphone, aku sampaikan permintaan maafku karena ingin meminjam pulsamu.  Aku membuka ponselnya. Ah iya, ada polanya. Bagaimana ini? Sejenak aku sedikit tenang. Aku melihat layar handphone tersebut. Locksreen itu. Itu adalah gambar lukisan yang pernah ku buat. Bukan lukisan indah yang mendapat nilai A. Aku bahkan tidak bisa menggambar, sedikit pun. Tapi melihat ini, aku jadi sedikit tenang. Dalam gelap yang paling aku takuti, aku menemukan saat ternyamanku disini.

Ketika mendengar suara pintu terbuka, aku tersadar. Aku langsung berlari ke arah pintu, dengan handphone yang aku genggam dengan kuat. Aku terdiam menyadari sosok yang berada di depanku.

Bingung menyelimuti. Di satu sisi, aku sangat senang ternyata aku bisa selamat. Di sisi lain, ternyata orang yang berhasil membuatku gila. Kau benar. Kau pasti bisa menebak siapa dia.

“Kau tidak apa-apa?” ucapnya yang tentu saja membuatku terdiam. Ditambah lagi napasnya yang terengah-engah, dan juga keringat yang bercucuran, berhasil membuatku makin terdiam.

“Ah, a-aku,” aku bahkan tidak mampu mengatakannya.

“Mengapa kau bisa berada disini? Untung saja aku menyimpan kuncinya.” Lanjutnya, “Sudahlah, ayo kita keluar dulu. Dimana tasmu?” tanyanya lagi.

“Itu, ada di kelas..” ucapku sedikit terbata. Aku melangkahkan kakiku keluar ketika Baekhyun menarik tanganku dengan pelan. Sungguh, saat ini aku benar-benar kacau.

Setelah mengunci pintunya, Baekhyun menuntunku berjalan ke kelasku. Aku mengiringi di sebelahnya. Setelah sampai di kelas, Baekhyun mempersilahlanku untuk masuk dan mengambil tasku. Ia menungguiku di depan kelas. Ketika aku keluar kelas, Baekhyun menutup kembali kelasku. Ah bukan, kelas kami.

Ia menatapku. Aku tidak tahu maksudnya apa.

Ah, apa mungkin ponselnya? “Ini..” ucapku padanya sambil memberikan ponselnya.

Setelah ia mengambil ponselnya, kami pun berjalan.

#

Aku sudah berada di kamarku dengan senyum menerkah di wajahku. Berbeda dengan ekspetasiku. Di jalan, kami banyak mengobrol. Dan aku mulai terbiasa dengannya. Dan bahkan ia mengantarku sampai rumah. Aku benar-benar senang!

#

Hari ini aku tidak tahu harus bagaimana. Apakah aku harus menganggap Baekhyin seperti layaknya teman dekat? Atau bersikap seperti biasanya? Aku memikirkannya dalam perjalanan ke kelas. Sampai aku melihatnya. Dia bersama Hana, sahabatnya. Mereka selalu bersama sepertinya.

Hana mengalungkan tangan kirinya di leher Baekhyun, sehingga Baekhyun berjalan menunduk. Tampak sekali Baekhyun meronta, memohon untuk di lepaskan. Dan akhirnya, tinggal beberapa langkah lagi aku akan berpapasan dengan mereka. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Menyapanya? Atau aku biarkan saja.

“Oh, Yeonhee-ah!” sapa Baekhyun, “Akh! Ya ya! Lepaskan! Aku bisa jalan sendiri!” mohon Baekhyun kepada Hana.

“Tidak akan.” Balas Hana.

Aku tersenyun sangat lebar sekarang. Yeo.. Yeonhee-ah? Apakah ini mimpi? Apa karena kejadian semalam aku dan dia sudah bisa mulai berteman? Ini adalah hal yang paling ku tunggu! Eh, apa ini hanya perasaanku saja? Ah, tidak tahulah.

#

Sekarang jam makan siang. Tapi aku memilih berada di ruang musik. Ruang favoritku mulai semalam. Aku tersenyun ketika membayangkan kejadian tadi malam. Aku duduk di belakang piano yang dimainkan oleh Baekhyun semalam. Jujur, nilai pianoku tidak begitu bagus. Tapi aku akan mencoba untuk menyukainya.

Aku memainkannya, lalu aku berhenti ketik aku melihay sebungkus roti dan susu mendarat di depan mataku. Aku melihat orang yang memberiku itu. Ternyata dia Baekhyun.

Aku melihatnya dengan tatapan ‘ini apa?’

“Tadi aku nelihatmu kesini, kau tidak makan siang?” ucapnya. Ini.. benar-benar pertama kalinya seseorang peduli dengan makan siangku, selain orang tuaku tentunya. “Makanlah, ucapan terima kasih karna telah menemukan handphoneku.”

“Ah, terima kasih.” Ucapku. Aku membuka bungkus roti itu. “Tapi, bukankah aku yang harus berterima kasih?” ucapku sebelum memakan roti itu dan melihat Baekhyun yang duduk tidak begitu jauh dariku.

Aku melihatnya tersenyum kecil. Sepertinya itu tertular. Aku juga tersenyum.

“Yeonhee-ah..” ucap Baekhyun. Aku memfokuskan pandangan dan pendengaranku padanya. “Kau tahu, aku sangat ingin menyanyikan sebuah lagu untuk seseorang.” Ucapnya lagi. Lalu? Mengapa ia memberitahuku? Pertanyaan itu tertahan di diriku.

“Seorang wanita yang kau sukai?” tanyaku begitu saja.

Baekhyun tertawa kecil, “Aku tidak tahu.” Jawabnya, “Apakah itu tandanya kau menyukai seseoranh jika kau sangat suka jika hanya berdua dengannya?” tanya Baekhyun.

Tentu saja! Seperti diriku saat ini. Apa mungkin dia membicarakan Hana?

“Mungkin saja..” jawabku. “Hm, kemungkinan kau menyukainya.” Lanjutku.

“Tapi, aku takut, bagaimana jika dia membenciku?” tanyanya lagi.

“Untuk alasan?”

“Sudah membuatnya menunggu. Terlalu lama.” Ucap Baekhyun.

“Jangan pesimis. Kau harus optimis!”

“Lalu, apakah aku harus menintanya mencintaiku?”

Maksudnya?

“Baekhyun-ah, kau tahu seseorang menyukaimu, dan kau juga suka, tapi kau tidak bertindak?” ucapku iri. Andai saja wanita itu aku.

“Yeonhee-ah..” panggilnya. “Tetaplah menyukaiku. Aku tidak tahu pasti kapan, tapi aku akan menyanyikan lagu ini untukmu.”

“Maaf?” ucapku tidak percaya. Aku yang masih di rundung perasaan aneh hanya melihatnya yang tersenyum. Ia mengacak rambutku ringan, lalu pergi. Aku mengamati punggungnya.

Mengapa dia pergi begitu cepat? Aku bahkan belum mengucapkannya.

Mengucapkan rasa terima kasihku padanya.

Iklan

3 pemikiran pada “NUVOLA

  1. Hai penulis, salken yak aku saras, mau komen ttg cerita kamu mnurut pandanganku..

    Title (3/5)
    Nuvola. Aku sama sekali clueless sama judulnya karena ga tau itu artinya apa. Dan secara pribadi aku tertarik sama sesuatu yg belum kuketahui. Aku googling dan nemuin artinya, yaitu awan. Tp kok rada ngga nyambung sama isi cerita?

    Poster (2/5)
    Belum bisa dibilang poster juga ya karena ini cuma nampilin gambarnya bh. Tp pemilihan gambarnya rada pas karena ekspresi baek disitu rada confess gitu.

    Foreword (3/5)
    — Sampai sekarang, aku masih tidak mengerti. Apa artinya menunggu. Bagaimana indahnya mencintai. Mengapa jantungmu berdetak tak karuan untuk hal yang kecil. Berapa lama waktu yang engkau butuhkan untuk kembali normal, setelah kegilaan kecil terjadi terhadapmu. Dan juga, aku belajar, siapa yang pantas disalahkan atas semua ketidakwarasan yang terjadi kepadaku. Dia adalah kamu. Aku tak ada hak untuk menuntutmu bertanggung jawab. Karena aku seperti ini bukan karena paksaanmu. Tapi karena keegoisanku untuk dekat denganmu, untuk selalu bersama, dan untuk menyuruhmu nyaman terhadapku.

    Dari foreword di atas aku udh mikir, ini ff bakalan rada puitis nih. Bagus deskripsinya aku suka.

    Plot, flow (3/5)
    Jalan ceritanya runtut, terus pas ketahuan kalau baek suka sama si cewek juga mudengin.

    Characterization (3/5)
    Karena ini oneshot jd karakterisasinya masih belum maksimal ya.. Lebih condong ke si cewek, ke confess-nya si cewek.

    Spelling, diksi (3/5)
    Diksi yang digunakan agak berat. Tp aku tipe orang yg suka cerita begini hehehe xD

    Terus typo-nya ada, sebagian besar di dialog sih ..
    Aku ambil contoh satu ya, “Sudah membuatnya menunggu. Terlalu lama.” Ucap Baekhyun.

    Kalau sehabis dialog menggunakan kata kerja, yang harus digunakan setelah dialog adalah huruf kapital, dan sebelum tanda petik penutup itu menggunakan tanda baca koma. Jadi seperti ini, “Sudah membuatnya menunggu. Terlalu lama,” ucap Baekhyun.

    Overall (8/10)
    Cerita tentang dua orang yang saling menyukai tapi ngga saling mengungkapkan. Jadi dua orang yg dilema.. Bagus sih. Keep writing buat authornya . .

  2. Yeey 🙌 the last fanfic. Akhirnyaaa 😀

    Suka sama ceritanya ^^ manis manis gimana gitu, apalagi pas bagian awal, kayak puitis puitis gitu 😄 tapi gak nyangka juga Baek bisa begini /eh ya kan taulah kelakuan dia di real life gimana hehe

    Alurnya udah rapi, feelnya udah cukup dapet, cuma paling masih ada beberapa typo yang mungkin lain kali bisa diperbaiki. Sama ada sedikit koreksian dari aku. Langsung aja ya.

    “Apa artinya menunggu. Bagaimana indahnya mencintai. Mengapa jantungmu berdetak tak karuan untuk hal yang kecil. Berapa lama waktu yang engkau butuhkan untuk kembali normal, setelah kegilaan kecil terjadi terhadapmu.” Aku juga gak begitu yakin sebenarnya, tapi setau aku bukannya harusnya pake tanda tanya ya? Kan di depannya ada kata ‘apa, bagaimana, mengapa, berapa’ yang biasa diakhiri dengan tanda tanya.

    Dari kelasku yang berada di lantai dua, aku melihat dengan jelas ke lapangan : Dari kelasku yang berada di lantai dua, aku bisa melihat dengan jelas ke arah lapangan

    Aku keluar ketikaku mendengar suara pintu tertutup : Aku keluar ketika kudengar suara pintu tertutup

    “Kau tahukan?” Setau aku, biasa sebelum kan ada pake tanda petik satu(‘) jadinya “Kau tahu’kan?”

    Sejak sekolah menengah pertama bertemu : Sejak bertemu di sekolah menengah pertama

    Sisanya mungkin lebih ke penggunaan tanda baca. Kalau kalimat penjelas dialog dia pake tanda koma sedangkan yang kalimat penjelas tindakan pake tanda titik. Bisa dicari di google buat lebih jelasnya.

    Semangat terus thor😊 jangan berhenti bikin karya. Keep fighting 💪

  3. Hai Hyera88. Fanfiksi kamu jadi yang terakhir kubaca. :3

    Aku ngga tau harus bilang apaan. Tapi, kita belajar bareng yah, anggep ini sekadar sharing. :3

    Aku tidak tahu apa yang harusku kerjakan sekarang. = Aku tidak tahu apa yang harus kukerjakan sekarang.

    Belum siap jantungku untuk berdetak abnormal jikaku melihatnya. Aku keluar ketikaku mendengar suara pintu tertutup. = Belum siap jantungku untuk berdetak abnormal jika kumelihatnya. Aku keluar ketika kumendengar suara pintu tertutup.

    Airmataku memaksa keluar. Disini sangat dingin, dan aku benar-benar takut. = Air mataku memaksa keluar. Di sini sangat dingin, dan aku benar-benar takut.

    “Mengapa kau bisa berada disini? Untung saja aku menyimpan kuncinya.” Lanjutnya, “Sudahlah, ayo kita keluar dulu. Dimana tasmu?” tanyanya lagi. = “Mengapa kau bisa berada di sini? Untung saja aku menyimpan kuncinya,” lanjutnya, “Sudahlah, ayo kita keluar dulu. Dimana tasmu?” tanyanya lagi.

    Aku sudah berada di kamarku dengan senyum menerkah di wajahku. = menerkah apa ya? :’v

    Dari koreksi di atas, kamu punya kelemahan di “di-“, “ke-“, “-ku”, “ku-“. Belajar lagi yaaaa, Dear. Sama kalimat penjelas sebelum maupun sesudah dialog, jika merupakan penjelas dialog-nya bukan penjelas tindakan, maka diberi tanda koma (kalo dalam bentuk pernyataan). Kalau menjelaskan tingkah si tokoh, memakai tanda titik (kalo dalam bentuk pernyataan).

    Soal karakter, aku sangat-sangat-sangat­ suka karakter Baekhyun di sini. Diem-diem ternyata peduli dari jauh. Aahhhh lovely banget. Jadi jatuh cinta juga sama Baekhyun. :’v

    Penokohan udah bagus, cerita juga lumayan, tinggal terus diasah lagi kemampuan menulisnya, biar jadi mastah. Oke? Semangat ya. :3

    Salam kasih,
    WhitePingu95

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s