2ND GRADE [Chapter 18] by l18hee

2ndgradepstr

2ND GRADE

─by l18hee

.

Now Playing ► Chapter 18 [One, Two, and Smile]

Pertama, dapat impian baru. Kedua, bertemu yang lalu. Lalu yang ketiga … senyum semanis susu?

.featuring

[OC] Runa | [CLC] Seunghee | [RV] Wendy

[EXO] Sehun | [EXO] Chanyeol | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Fluff | Friendship | Hurt | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17

.

.

follow my wattpad l18hee

Jumat pagi, Runa sudah meyangga dagu di bangku. Ini sudah berjarak dua hari setelah ia mengetahui perasaan rumit para karibnya. Dua hari belakangan dipenuhi tugas individu yang lumayan menguras tenaga. Sebenarnya bisa saja, sih, Runa tidak mengurangi waktu tidurnya demi menyelesaikan tugas yang bahkan pengumpulannya masih agak lama. Tapi yang ia takutkan jika mengandalkan sistem kerjakan-dalam-semalam, tak akan sampai, karena sedikitnya waktu yang ia punya setelah bekerja. Bisa-bisa ia tidak tidur sama sekali jika tak dicicil sejak sekarang.

“Terlalu banyak begadang?” Seunghee datang tepat saat Runa hampir menjatuhkan kepalanya. Padahal gadis tersebut tengah berusaha menyelesaikan gambar abstraknya─sebuah kebiasaan si gadis. Sebuah gumaman disertai anggukan pun tercipta. “Hari yang cerah, harusnya aku juga bersinar,” ia merenggangkan tangan. “Bagaimana hubunganmu dengan Sehun?”

Ditanya tiba-tiba perihal masalah keluarga, Seunghee tergagap juga, “Ya … biasa saja. Seperti biasa, maksudku.” Tahu jika Sehun belum bergerak sejak mengobrol dengannya, Runa mendesah panjang dan bergumam kecil pada dirinya sendiri, “Bisa-bisanya dia masih diam saja.” Idenya untuk melanjutkan gambar menipis tiba-tiba.

“Keraskan suaramu, Kwon Runa,” ujar Seunghee, mengira bahwa kawan sebangkunya itu sedang mengajak bicara.

“Begini, Sehun sedikit bercerita banyak kemarin.” Sebenarnya lumayan banyak, tapi, ah sudahlah. Diletakkannya pensil untuk memberi atensi penuh pada teman sebangkunya. Suara Runa baru akan keluar lagi tatkala Seunghee menyela, “Kak Sehun bercerita padamu?”

“Aku sedikit salah fokus karena kau memanggilnya kakak─terdengar lucu, tapi, ya memang harusnya begitu,” sadar jika ia malah membahas yang lain, Runa buru-buru membenahi ucapannya, “Maaf, lagi-lagi aku membahas hal yang berbeda secara mendadak.”

“Aku sudah mulai terbiasa. Lanjutkan,” titah Seunghee sedikit tak sabar. Bukan hanya penasaran dengan apa yang akan Runa ucapkan, ia juga penasaran kenapa bisa Sehun bercerita pada gadis itu? Bukannya Seunghee tidak suka, dia hanya merasa … aneh? Ada yang ganjal di sini, sungguh.

“Begini, akan kupaparkan kesimpulan yang aku dapat. Jadi, Sehun tidak membencimu─atau ibumu, dia hanya … belum siap menjadi kakak, kurasa.” Runa sedikit geli, “Kenapa ucapanku membuat mulutku sendiri gatal, ya? Pokoknya begitu, dia bilang belum mau jadi kakak karena takut akan menjadi kakak seperti kakaknya. Apa kalimatku terlalu berputar-putar?”

“Iya. Tapi aku tahu maksudmu,” sejemang Seunghee mengambil waktu untuk berpikir. “Kau pikir, apa aku bisa─” dia mengernyit, “─sial, kenapa malah rumit begini?”

Segera Runa mencoba menenangkan, “Hei, hei, kau tak harus melakukan apa-apa.” Setelah mendapat tatap tanya dari sang karib, Runa kembali membuka mulut, “Inti pergerakan ada pada Sehun. Kau hanya perlu melakukan semuanya seperti biasa. Oh, mungkin lebih sedikit menunjukkan bahwa kau ‘ada’.” Dia menggunakan dua tangannya untuk membentuk tanda kutip.

“Tapi jika kakak tidak bergerak?”

“Wow, kau mengatakannya lagi. Cute.” Runa baru terkekeh beberapa detik, namun ia langsung berhenti, “Oke. Maaf, jangan memandangku begitu.” Dia kembali ke mode serius, “Entah kenapa firasatku bilang kalau Sehun tetap akan bergerak. Um, jika dia benar-benar jantan.”

Kembali Seunghee terdiam. Beberapa saat Runa membiarkan hening menggandeng. Sampai akhirnya ia angkat bicara, “Dia ingin kau melihat dari sudut pandangnya juga. Jadi, dia butuh waktu untuk menjadi kakakmu.” Sejujurnya memang Seunghee lebih sering mendapati diri menyimpulkan sesuatu hanya dengan pandangannya. Tak lama usai tenggelam dalam pikiran, ia mau membuka katup bibirnya, “Runa,” napasnya terbuang panjang, “terima kasih.”

“Santai saja.” Setelah menelengkan kepala, Runa membentuk tanda hati dengan telunjuk dan ibu jarinya. Tepat saat itulah Wendy datang dan langsung menghampiri bangku Runa dan Seunghee, “Gurls, berita bagus. Tanggal libur musim panas sudah ditentukan. Ada yang mau beli bikini bersamaku?”

“Aku masih punya beberapa,” jawab Seunghee seadanya, tidak begitu tertarik. Wendy hanya mencibir, “Belilah satu lagi yang baru agar kau terlihat bersinar, Oh Seunghee.” Sekon selanjutnya ia beralih pada Runa, “Run, kau?”

“Setelah DSLR di tangan, aku mau.” Runa kembali meraih pensilnya untuk melengkapi gambar. Diam-diam Runa teringat bahwa mungkin untuk kali kedua ia tak akan ke pantai saat musim panas. Memangnya dia akan mengajak siapa Ayah? Sunyoung? Mana mau! Dan lagi, itu akan terasa canggung.

“Kalau begitu nanti kita beli. Aku punya kenalan, dan tabunganmu masih, kan? Perfect.” Jentikan jari Wendy lakukan, ia lalu menunjuk Seunghee, “Kau harus ikut.”

.

Dan begitulah kejadian selanjutnya dapat ditebak. Sepulang sekolah ketiganya bergegas menuju toko milik kenalan Wendy. Disuguhi tiga gadis SMA yang salah duanya banyak bicara, si pemilik toko sedikit tersipu-sipu juga. Perlu beberapa negosiasi yang dilakukan Wendy untuk mendapatkan DSLR dengan kualitas bagus seharga tabungan dan gaji Runa─kalau bisa lebih rendah. Walau bukan sepenuhnya baru, tapi setidaknya masih terlihat baik.

Tepuk tangan yang dilakukan Wendy adalah pertanda bagus. Runa mendapatkan kamera pertamanya. Oh, tidak sia-sia ia menabung sekian lama.

“Hei, kita bertemu lagi.” Tidak tahu dari mana, seorang lelaki tiba-tiba menyapa ketiganya. Sebentar, sepertinya hanya menyapa Wendy. Berhubung jaraknya masih agak jauh, Wendy mencoba pura-pura tak melihat, ia berbisik pada Runa, “Kita harus pergi. Itu anak Sekolah Seni Yeonso yang waktu itu.” Dia beralih pada kenalannya, “Terima kasih banyak. Aku akan mampir lagi. Sampai jumpa.” Mau tak mau, kala Wendy mengambil langkah seribu, Runa dan Seunghee ikut melakukan hal yang sama.

“Memangnya siapa, sih?” Kendati kesal harus terbirit pergi, Seunghee tetap mengikuti sampai Wendy berhenti. Sedang Runa, menahan kekeh yang ditakutkan terlalu keras nantinya, “Yang waktu itu korban game kita? Yang minta ID Line?”

“Iya yang itu.” Wendy menggaruk pucuk kepalanya kesal, “Sudah, deh. Langsung cari bikini saja.”

“Kau mengatakannya terlalu keras,” sindiran Seunghee tak digubris. Sebagai orang mengklaim diri serba tahu akan fashion, Wendy membimbing kedua karibnya menuju salah satu toko di dalam mall nomor tiga di kota mereka. “Di sini bagus, dan harganya murah jika beli banyak.” Seretan tangannya pada Runa dan Seunghee sampai di deretan dalaman wanita.

“Aku yang murah saja, uangku tinggal sedikit.” Satu per satu Runa meneliti label harga yang ada. Sebenarnya sedikit merasa tidak perlu bikini baru, toh juga ia tidak ada rencana pergi berlibur di liburan musim panas ini. Dalam waktu cepat ia menemukan satu yang disuka, menyimpannya di tas belanja. “Kau sudah sampai sini, setidaknya pilihlah satu,” kata Runa ketika ia mendapati Seunghee malah duduk di kursi yang disediakan. “Aku bantu pilihkan,” tanpa menunggu persetujuan, Runa menarik karibnya itu dengan paksa.

“Kau suka yang polos, bergaris, atau corak lain? Nah, polkadot suka?” Tangan Seunghee lekas menepis apa yang disodorkan si pemilik suara. Kembali Runa angkat bicara, “Baik, yang polos saja. Warna gelap, cocok.” Tangannya menelusuri gantungan yang ada, mengambil satu-dua yang mungkin akan Seunghee suka.

Tak mau memperpanjang pening, Seunghee memilih apa pun yang terbaik menurut Runa. Jadilah mereka kini duduk di kursi tunggu, menatap Wendy yang masih sibuk dengan bikini-bikini di sana. “Memangnya dia mau beli berapa?” Decihan mencuat dari bibir Seunghee, sementara Runa hanya terkekeh, “Biasanya dia sangat lama jika memilih sesuatu. Tapi memang seleranya bagus, sih.” Mendadak ia teringat sesuatu, “Ah, aku dapat satu model!”

“Model?” Seunghee menyilakan rambut legamnya ke balik daun telinga. Sebuah anggukan semangat Runa tunjukkan, “Kau yang pertama kuberi tahu. Aku sudah menemukan tujuanku!”

“Kau mau jadi model?” simpul Seunghee. Kali ini Runa menggeleng, “Eii, percaya diriku masih kurang banyak.” Ia menepukkan kedua tangan satu kali, “Aku lebih mempelajari tentang desain atau fotografer. Walau rasanya sedikit terlambat, harusnya aku belajar di sekolah seni.”

“Tidak masalah. Lagipula kau sering melakukan keduanya, bukan? Menggambar dan memotret sesuatu, maksudku.” Selama menjadi teman sebangku Runa, Seunghee sudah mulai paham. Paham akan kebiasaan aneh gadis di sampingnya, membuat gambar di sela jam pelajaran (omong-omong gambarnya lumayan), atau memotret hal sepele dengan ponsel pribadi (bisa dibuktikan dengan memori ponselnya yang cepat penuh). Selama ini Seunghee sampai berpikir, apa sebegitu memaksanya Ayah Runa memasukkan anaknya ke SMA Chunkuk untuk jadi pengacara?

“Rencananya, aku akan lebih mempelajari dasar-dasarnya di internet. Masalah buku sketsa dan pewarna aku sudah punya banyak─hadiah ulang tahun dari sepupuku tahun lalu.” Runa sedikit memerosotkan bahu di akhir kalimat, “Jika akhir tingkat dua ini ayah belum memberi izin, mungkin memang takdirku jadi pengacara.” Tawa yang Runa suguh bagi Seunghee sama sekali tak menyirat bahagia.

“Jangan merebut lahanku. Kau tidak boleh jadi pengacara.” Berlagak tak suka, Seunghee menyedekapkan tangan di depan dada, memancing gadis di sampingnya tertawa kecil. “Oh, baik, baik. Memangnya siapa yang bisa mengalahkan Oh Seunghee?”

Keduanya terkekeh kecil. Lantas mendadak saja Wendy sampai di hadapan mereka, menunjukkan dua bikini yang dipilihnya. “Kanan atau kiri?”

“Kanan-kirimu atau kanan-kiriku?” Satu alis Runa terangkat, lalu Wendy mengembus napas, “Tunjuk saja yang paling cocok untukku.” Dan detik selanjutnya Wendy kembali mendesah kesal. Seunghee menunjuk yang kiri, dan Runa malah menunjuk yang kanan. “Baiklah, aku beli semua saja.”

“Kau sudah pilih satu tadi,” ujar Seunghee tak percaya. Percuma saja, Wendy sudah terlanjur suka pada pilihannya, “Aku memang mau beli tiga, kok.”

“Astaga, Wendy Son, kau mau tidur pakai bikini juga?” Terang-terangan Runa mengejek. Sayangnya sama sekali tak bisa menyentuh sisi acuh Wendy, “Ayo bayar, dan kita lihat berapa potongan harga yang kita dapat.”

Setelah menenteng paper bag masing-masing, mereka berjalan di sepanjang pertokoan. Mengobrolkan sesuatu yang tak terlalu penting seperti ukuran sepatu, tempat yang pernah dikunjungi, atau rencana liburan musim panas.

“Aku akan mengunjungi suatu tempat, cuma itu,” aku Runa. Dia geli sendiri melihat wajah dua temannya kusut. “Curang, aku bahkan belum diajak seseorang,” sungut Wendy, tidak serius kesal tentu saja. “Kau bilang tidak akan ke pantai,” Seunghee masih ingat beberapa patah kata yang sebelumnya Runa ucapkan.

Lho? Siapa yang bilang aku akan ke pantai?”

“Teruslah bermain rahasia-rahasiaan, Kwon Runa.” Setelah berkata begini, Seunghee mencoba menusuk pinggang Runa dengan telunjuknya─dibantu dengan senang hati oleh Wendy. Sedang tertawa-tawa tak jelas, mendadak Seunghee menunjuk salah satu kedai kecil. “Es krim, es krim!” Dan gadis itu segera melangkahkan kaki lebih dulu.

“Hanya itu yang membuatnya terlihat seperti gadis manis sungguhan.” Begitu usai berdecak, Wendy menarik Runa untuk menyusul kawan mereka yang sudah lebih dulu menyebutkan pesanan.

Baru saja Runa akan menyebutkan pesanan, ponselnya tiba-tiba bergetar, “Pesankan yang cokelat untukku, tambahannya terserah.” Ia memutuskan untuk mengecek, namun baru saja ia mengeluarkan ponsel, sepasang sepatu sneaker berhenti di hadapannya. Begitu sadar siapa sosok yang dihadapannya sekarang, Runa menahan napas. Ada rasa tak enak dalam perutnya.

“Sudah seminggu─” sosok itu meneguk saliva, “─tidak bertemu begini.” Runa menggigit bibir dalamnya, geram. Dia baru akan membua suara kala sebuah suara lain menghalangi, “Silakan es krim cokelatnya.”

“Runa, kau beruntung pelayanannya cepat seka─” pupil Wendy langsung melebar begitu melihat sosok yang tengah mengulurkan tangan untuk mengambil es krim cokelat tadi, “Yang cokelat pasti punyamu.” Kalimat buat Runa, rupanya.

“Bajingan! Jangan bicara pada Runa!” Segera Wendy menarik lengan Runa untuk mundur. Dia menunjuk sosok tadi dengan tatapan tajamnya, “Kau pikir kau siapa berani mengeluarkan suaramu di depan kami?” Segera, Seunghee mencoba menenangkan Wendy, meninggalkan Runa yang masih sibuk mengingat bagaimana cara menelan ludah sekarang.

“Park Chanyeol, lebih baik kau pergi.” Usulan yang paling tepat diutarakan oleh Seunghee─masih mencoba menahan lengan Wendy. Tapi Chanyeol tetap pada pendiriannya, masih menatap Runa dan mencoba bicara, “Kebetulan sekali kita bertemu di sini. Bisa mengobrol sebentar sambil makan?”

“Busuk! Urusi Nami-mu saja, sana!” Wendy benar-benar membuat Seunghee kewalahan. Sadar bahwa dirinya terlalu lama diam, Runa akhirnya beralih meraih es krim dalam genggaman Chanyeol. Tanpa berucap apa pun, ia lalu berbalik dan melangkahkan kaki untuk pergi. Membiarkan langkahnya semakin cepat. Membiarkan Chanyeol membuang napas panjang. Membiarkan Wendy dan Seunghee bergegas melakukan hal yang sama─untung mereka sudah membayar es krimnya.

Bagaimanapun juga, Runa hanya tak ingin retak hatinya terdengar oleh Chanyeol.

.

.

.

Yang menyebalkan dari memiliki rumah terjauh di antara teman yang lain adalah akan turun dari bus sendirian. Runa baru saja memencet tombol untuk berhenti. Lumayan berterima kasih dalam hati pada dua teman gadisnya yang telah rela berbuat banyak hal konyol untuk memancing tawa, beberapa saat yang lalu. Kini, kala bus berhenti, dia melangkah pelan untuk menuruni tangga bus yang tingginya tak seberapa.

Mungkin sudah ratusan kali Runa mengembus napas panjang semenjak hubungannya dengan Chanyeol berakhir. Dan ia melakukannya lagi sekarang. Membuang sebagian resah yang membelenggu kuat dadanya. Tatkala mencari hal lain untuk pengalih pikiran, Runa ingat ponselnya tadi sempat bergetar. Diraihnya ponsel dalam saku, lantas menekan tombolnya. Sebuah panggilan tak terjawab dan satu pesan ada di sana. Dari orang yang sama.

Oh Sehun:

Bisa bertemu besok?

.

.

.

-0-

.

.

.

Dari Rabu sampai Jumat ini, di sela kegiatannya Sehun diam-diam masih memikirkan obrolan yang sempat tercipta antara ia dan Runa. Sikapnya jadi lebih diam di rumah, tapi kali ini memberi kesan misterius bukannya dingin. Perlakuan biasa dari adik dan ibu tirinya membuat ia makin tenggelam dalam bimbang.

“Akan sangat aneh jika mendadak aku sok akrab.” Di atas kursi empuknya di dalam kamar, Sehun seolah frustasi sendirian. Dia menengadah, tiba-tiba hasrat memindah ponsel dari saku celana ke tangan begitu besar.

Maniknya memerhatikan salah satu nomor. Keningnya berkerut seolah memikirkan hal yang begitu berat. Ketika ia memutuskan untuk menelpon nomor tersebut, ada gejolak yang menendang-nendang perutnya dengan gerakan kecil. Baru saja nada sambung terdengar tiga kali, ia sudah membatalkannya. Menggeleng lagi seolah tidak membenarkan apa yang barusan akan ia lakukan.

“Tapi aku memang butuh bantuannya.” Kalimat ini adalah kalimat pertama untuk Sehun mulai memainkan monolognya. “Pertama, dia seorang kakak. Kedua, dia dekat dengan Seunghee. Ketiga, kami sudah mengobrol. Tidak ada yang sekomplit dia.” Dengan tiga jari yang terbuka, Sehun mengangguk-angguk puas.

Oke, sepertinya ada yang sedang mencari-cari alasan di sini.

“Baik, kirim pesan saja.” Lantas ia sibuk mengetikkan kalimat singkat di ponsel. Begitu terkirim, Sehun masih belum mau mengalihkan pandangan dari benda kotak canggihnya. Sampai selang tiga menit ia masih bertahan. Begitu selang lima menit ke atas ia hanya mencoba melakukan hal lain sambil sesekali mengecek ponsel. Memutuskan kalau menghitung waktu justru malah menambah beban, akhirnya Sehun pasrah menunggu. Memilih bergabung dalam obrolan grup di komputer untuk membahas tugas kelompok kelasnya.

Radarnya akan suara ponsel belum hilang, tentu. Nyatanya setelah bunyi khas terdengar, ia langsung berjalan lebar melewati ranjang untuk meraih ponsel di atas kursi empuk kesayangannya. Dia masih dalam posisi berjongkok ketika senyumnya melebar ke samping.

 

Kwon Runa:

Bisa, kok. Siang saja, jam 11.

“Oke. Jam sebelas!”

Jentikan jari yang Sehun lakukan membuka jalan bagi sang lelaki untuk merasa tidurnya akan tenang sepanjang malam.

Yang ajaib, pagi harinya Sehun sampai sepuluh menit lebih awal. Menunggu di depan rumah Runa. Dia tidak mau mengetuk karena ingin berlagak baru sampai. Setidaknya tidak begitu menunjukkan betapa bersemangatnya ia sekarang.

Saat mendengar pintu dibuka, reflek Sehun berlari sedikit menjauh dan membalikan badan untuk mencipta langkah santai. Dan Runa dengan wajah panik ada di sana.

“Aku ada masalah besar.” Runa berlakon seakan baru mendapat berita kalau rumahnya akan kena bom. “Bicaranya lain kali saja bagaimana? Aku lupa ulang tahun sepupuku, serius aku sama sekali belum beli kado dan pesan kue, sialan.” Tadinya Sehun benar-benar akan melayangkan protes, namun genggaman tiba-tiba di lengan yang Runa lakukan membuat ia bungkam.

“Sehun, kau punya uang? Pinjami dulu, boleh?” Raut wajah memohon milik Runa begitu kentara sekarang, “Uang gajiku sudah kutukarkan dengan DSLR dan bikini.”

“Wow, kau beli bikini baru?”

“Kenapa bahas yang itu?” Satu pukulan keras dilayangkan Runa ke lengan Sehun. Selesai menyempatkan diri untuk terkekeh sebentar, akhirnya Sehun menunjukkan anggukan, “Boleh saja kau pinjam. Tapi tentu dengan syarat.”

“Lelaki selalu memanfaatkan kesempatan.” Kali ini Runa menyedekapkan tangan, mulai sedikit kesal tidak diberi kepastian. “Apa syaratnya?”

“Jadi asistenku selama dua minggu?”

“Aku pinjam Baekhyun saja.” Begitu Runa mencipta langkah, Sehun meraih lengan gadis itu, “Satu minggu?” Gelengan kuat adalah jawaban tegasnya. Sehun menarik lengan si gadis lagi, tersenyum meyakinkan, “Tiga hari, deh. Dan kau bisa mengembalikannya dengan cicilan tanpa batas, tanpa bunga.”

“Dua hari dan aku setuju.” Tangan Runa terulur, menunggu Sehun menyambutnya. Sejemang Sehun memandang gadis di depannya dengan satu alis terangkat. Tadinya Runa ingin menertawai itu, tapi tidak jadi karena tangannya lebih dulu ditepuk oleh si lelaki.

“Ayo, beli sesuatu untuk sepupumu.” Begitu saja Sehun membalik badan Runa, dan mendorong punggung gadis itu untuk segera berjalan. “Kenapa posisinya seperti aku yang memohon padamu?”

“Tidak boleh merubah keputusan. Kita sudah deal.” Telunjuk Runa terarah ke wajah Sehun. Sang lelaki hanya menggunakan tangannya untuk memutar kepala Runa agar menghadap ke depan lagi, “Pendek jangan cerewet.”

Kurang ajar. “Tinggiku normal, tahu! 163 senti─eh, bukan, 162. Aku, kan, bukan model.”

“Kenapa gadis-gadis yang berkeliaran di sekelilingku pendek semua, ya?”

Runa memutar mata, malas, “Sadarlah kau yang terlalu tinggi.”

Butuh waktu singkat untuk Sehun melontar jawaban, sedikit menunduk agar wajahnya setara dengan gadis di sampingnya, “Aku sadar dengan sepenuh hatiku, pen-dek.” Sepertinya baru menemukan ledekan baru.

Padahal Runa sendiri sudah menghadapi lelaki yang lebih tinggi dari Sehun sebelumnya; Chanyeol. Namun lelaki yang satu ini lebih sok, rupanya. “Diam, Sehun.”

“Pendek.” Walau mengatakannya dengan suara pelan, Sehun dapat menarik Runa untuk membalas lagi, “Besok pagi-pagi aku tinggi, kok.”

“Besok pagi?” Sehun mendapati Runa menoleh padanya dengan cengiran, “Iya, hanya pagi saja. Siangnya sudah pendek lagi.” Dan Sehun benar-benar tergelak keras. Ternyata Runa tahu benar bagaimana cara menistakan diri sendiri.

.

Tidak bohong, mendadak saja Sehun makin ingin semuanya berjalan melambat.

.

.

.

.to be continue

Alurnya lambatkah? Hmm aku sengaja sih bikin yang gak terlalu cepet, jadi bisa hampir detail gitu kesehariannya gimana. Tapi gak menutup kemungkinan juga entar konsep itu bisa berubah (tapi gak sepenuhnya berubah, jelas wkwk).

Lalu … coba tebak, Runa udah move on belum? wkwk Well, untuk hubungan yang lumayan lama emang butuh waktu juga kan ya.

Dan wow ini udah chapter 18 aja, kedua kali aku bikin ff chap dan ini sungguh di luar ekspektasi. Sejak aku nulis draft tentang poin sampe ending, aku kira cuma bakal sampe chapter belasan, tapi sepertinya ini meluber lumayan banyak :’v Entah harus bersyukur atau merutuki diri sendiri (bikos di satu sisi aku pen segera nyelesein ini, di sisi lain akhir-akhir ini emang aku agak susah ngeluangin waktu buat fokus nulis :’)) (iya sok sibuk aku tau wkwk) Yang jelas, aku selalu baca komenan yang kalian tinggalin kok, buat bikin aku semangat dan makin pen lanjut nulis gidu :3 Makasih banyak yang terus ngikutin 2nd grade ini, big love lah buat kalian

(oh ya! jangan lupa folo wattpad-ku yah wkwkwk /promosi promosi/)

((btw KYAA chapter 18 di tanggal 18)) ((andai tiap hari rilis ya, ANDAI BISA YA :’)))

.nida

Iklan

20 pemikiran pada “2ND GRADE [Chapter 18] by l18hee

  1. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 22] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 21] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 20] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: 2ND GRADE [Chapter 19] by l18hee | EXO FanFiction Indonesia

  5. Runa udh move on blm ya….
    Nid bikin Chanyeol cemburu dong runa jln bareng sehun hahA… Keep writing nid… Jgn lama” nge post nya 😚😚

  6. Gak ppa lambat juga. Kan pergerakan Sehun itu perlahan tapi pasti 😀
    Tapi penasaran juga sama Seunghee dan Jungkook apa mereka bener saling menyukai? Ditunggu kelanjutannya 🙂

  7. kenapa mendadak ada chanyeol…itu bener” merusak suasana deh… untung ada sehun..
    ehh kenapa runa malah nistain diri sendiri coba… aduh neng jangan jujur” napa… kkkkk
    tapi itu lah yg bikin beda…hahahah
    chanyeol lu bakal nyesel banget udah main belakang….

  8. Kyaaa… runa ketemu chanyeol…. aura gregetnya nyampe kesini loh thor… hihihi
    Eh itu yang modusin anak perawan orang…. TENGGELAMKAN.!!/plak/ wkwk
    tapi gue support ko hubungan kalian berdua… tenang aja elah.. ntar malem gue doain koo… tapi ntar klo udah jadian jangan lupa ya vuluss nya../plak/mueheheheh….

    Oh yaudh deh thor, ditunggu kelanjutannya.. Sekian…

  9. Ia nid di cptr ni aga slow alur’ny, tp gpp cz brasa detail kseharian’ny. Wkt awal bc casts di atas dah notis da nm 찬열 tp pas scene mo bli ice scream tu msh brhrp ja so2k yg sms & tiba2 muncul di dpn runa tu 세훈. Msh speechless ya runa di dpn 찬열 😕 klo da disana paling diri ini dah ky wendy yg sewot abis ke tkng slngkh tu! Pnasaran ma 1 t4 yg mo runa dtg-in pas summer break 😕 cm ke mini mrkt t4 krj sambilan/cb nemuin 엄마ny kah? Main dipantai sm 세훈 pk bikini yg br bis di bli dong ya 😍 kyaa~
    Duh, klo diri ini di twrn jd PAny 세훈 mo bwt brp lama jg pasti lngsng okein 😀 ga ky runa yg bargaining skill’ny mlh bikin as if 세훈 yg ‘mhn/bth’ 😅 mule maen fisik nih 세훈 😒 untung runa tau cara menistakan diri sendiri 😂 ㅋㅋㅋㅋㅋ
    Ia, andaikankan bs release chptr tiap hr, dah ky nntn k-drama kjar tyng 😄 love this ff so~ much!

  10. Wow! Second date? Kkyyyaaaaa……
    Ga sabar nunggu kelanjutannya. Btw chap 18 lebih cpt dari perkiraan mksh thor. Bnr2 seneng bgt waktu ada notif ff ini udh update.
    Ga nyangka ternyata seunghee bisa ngumpat juga toh.
    Smngt trs thor nulisnya.
    Debess lah bwt author bwt ff ini… ^^

  11. makin dekat aja sehu ama runa.. seneng liatnya..
    Runa emang kelakuan ama sifatnya aneh bin ajaib ya
    okelah aku tunggu next chapternya ya..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s