[TWOSHOT] MARRIAGE 2: 8 WEEKS — IRISH’s Tale

Marriage 2: 8 Weeks  |

|  EXO`s Kai   x  Red Velvet`s Seulgi  |

|   Marriage  x  Hurt-comfort  x  Slice of Life x Slight!Medical   |  Twoshot  |  Teenagers  |

|   supported EXO`s Sehun & Kyungsoo   |

2017 © Little Tale Created by IRISH

standart disclaimer applied

Ah, bagaimana Jongin bisa mengurangi sedikit saja rasa cintanya pada wanita itu jika sekarang saja ekspresi sederhana Seulgi sudah membuat Jongin tersenyum sendiri? ’

Show List:

[PLAYING] Marriage 2: 8 weeks

Related To:

Marriage: 14 Weeks & Marriage: 32 Weeks

♫ ♪ ♫ ♪

In Author’s Eyes…

Pagi berjalan dengan sama sunyinya di kediaman Kim Jongin dan istrinya, Kang Seulgi. Putra mereka—Kim In-soo—akan merayakan ulang tahunnya yang ke-enam tahun ini, dan keadaan Seulgi sudah bisa dikatakan baik-baik saja.

Meskipun, selama bertahun-tahun ini dia telah membiasakan diri untuk beraktifitas dengan menggunakan kursi roda, dan mengikuti beberapa fisioterapi1 untuk melatih tungkainya bergerak, tetap saja sesuatu yang buruk telah terjadi pada wanita bermarga Kang yang dicintai Jongin itu.

“Aku akan mulai bekerja di kantor yang lain hari ini, Seulgi-ah. Mungkin aku akan melewatkan makan siang, dan… tidak bisa menjemput In-soo dari sekolah. Kau tahu sendiri, aku sudah mendapatkan promosi karena usaha selama beberapa tahun ini.” Jongin memulai konversasi kecil di tengah sarapan pagi mereka.

“Oh, benarkah? Bagus kalau begitu. Bibi Kim—seorang pembantu yang bekerja di rumah mereka sejak beberapa tahun lalu—akan kuminta untuk menjemput In-soo hari ini. Kau tidak perlu khawatir.” Seulgi berkata, dilahapnya soup di mangkuk tanpa ada sedikit pun rasa khawatir pada suaminya yang kemungkinan besar akan pulang larut malam.

Ah, jangan lupakan kalau usaha Jongin menempuh pendidikan di bangku universitas beberapa tahun lalu adalah hal yang mudah. Dia sudah banyak berkorban demi anak dan istrinya.

Mengingat bahwa Seulgi berada dalam tahap terendah dalam kehidupannya setelah ia melahirkan In-soo, Jongin hampir saja memutuskan untuk keluar dari universitas dan mengurus istrinya saja.

Beruntung, Jongin bertemu dengan Bibi Kim—seorang juru masak di kantin universitas—yang menaruh empati pada keluarga kecilnya dan kemudian memilih untuk menemani Seulgi di rumah selagi Jongin menempuh pendidikan.

Kesabaran yang berbuah manis, sekarang rasa manis itu tengah dituai oleh Jongin maupun Seulgi, karena kesabaran mereka.

Pernikahan mereka dibangun dengan pondasi yang kuat, dan kehidupan nyata rumah tangga mereka—dimana In-soo hadir ke dunia—adalah bangunan yang kuat di atas pondasi tersebut.

Sekarang, mereka hanya tinggal menambah hiasan saja di rumah tangga tersebut. Sehingga orang-orang tidak lagi menganggapnya sebagai bangunan kokoh yang tidak menarik.

Well, hiasan ‘kecil’ itu tengah Seulgi coba utarakan pada Jongin pagi ini.

Umm, Jongin-ah.” Seulgi membuka konversasi baru. Dia paham benar bagaimana sibuknya Jongin di kantor, dan tidak juga ingin menjadi over-protektif pada suaminya itu.

Seulgi percaya Jongin mencintainya, dan mencurigai pria itu melakukan hal-hal aneh yang membuatnya tidak kunjung pulang ke rumah meski hari sudah hampir berganti adalah hal yang akan meretakkan kepercayaan itu.

“Ya, ada apa, sayang?” Jongin berucap, dengan menyelipkan sebuah senyum dia memandang Seulgi—salah satu aktifitas favoritnya selain memeluk wanita itu.

“Ada yang ingin kubicarakan.” Seulgi berdeham kecil.

Aih, jangan minta Jongin untuk menggambarkan bagaimana perasaannya sekarang. Meski orang-orang berkata bahwa Seulgi adalah wanita dengan ‘kekurangan’ fatal yang membuatnya tidak lagi pantas untuk bersanding di samping Jongin yang tengah merintis kesuksesan, tetap saja perasaan Jongin tidak bisa berbohong.

Jantungnya masih saja sering berdegup kencang saat pandangnya bertemu dengan Seulgi. Mendengar vokal wanita itu masih jadi favorit Jongin, dan kecantikan Seulgi bahkan lebih membiusnya. Seiring bertambahnya usia mereka, di mata Jongin Seulgi justru semakin terlihat cantik.

Seulgi kini seringkali berpenampilan sederhana. Sekarang musim dingin, dan Seulgi seringkali membalut diri dengan sweater berwarna lembut yang dipadukannya dengan rok berwarna senada. Surai gelap panjangnya juga seringkali dibiarkan tergerai, atau kadang kala dikucir kuda jika ia merasa gerah.

Cantik.

Jongin tidak pernah bisa mengenyahkan kata itu dari benaknya jika ia sudah memikirkan tentang Seulgi.

“Jongin? Kau dengar aku?” Seulgi menyadarkan pria itu dari lamunannya.

“Ah, maaf—aku melamun. Apa yang tadi kau katakan?” Jongin berucap.

Seulgi, menatap pria-nya dengan raut sedikit kesal—yang di mata Jongin justru terlihat lebih cantik lagi—sebelum akhirnya dia mengulang perkataannya.

“Tentang rencana kita tempo hari. Kau bilang mungkin lebih baik kalau aku berhenti menggunakan kontrasepsi, ingat?” Seulgi berkata.

“Hmm, ya, aku ingat. Kau katakan kalau kau masih ingin memikirkannya karena trauma setelah operasi caesar yang kau jalani, bukankah begitu, sayangku?” Jongin sedikit menyelipkan perkataan cheesy di akhir kalimat—sekedar ingin menghapus kekesalan Seulgi.

Dan ya, Seulgi memang melengos mendengar perkataan ‘sayang’ yang tumben-tumbennya diucapkan dua kali pagi ini oleh Jongin, tapi di saat yang bersamaan, dia juga tersenyum.

“Aku sudah berhenti, kau tahu.” Seulgi berucap.

“Oh, benarkah? Sejak kapan?” Jongin membulatkan pandangan, sedikit terkejut karena Seulgi sama sekali tidak memberitahunya tentang keputusan itu.

“Kalau kau memberitahuku, aku tidak akan melakukannya denganmu—maksudku, aku tidak akan mengeluarkannya di dalam.” Jongin menuturkan dengan tergeragap.

Agaknya, bicara tentang apa yang mereka lakukan sebagai sepasang suami istri di saat sarapan bukanlah topik pembicaraan yang layak.

“Lupakan saja, aku tidak bermaksud merusak suasana.” Jongin cepat-cepat menetralisir keadaan. Karena didapatinya wajah Seulgi memerah menahan malu, wanita itu bahkan menunduk untuk menutupi ekspresinya.

Ah, bagaimana Jongin bisa mengurangi sedikit saja rasa cintanya pada wanita itu jika sekarang saja ekspresi sederhana Seulgi sudah membuat Jongin tersenyum sendiri?

Beberapa sekon berlalu, keduanya kembali makan dalam diam. Seolah tidak satupun dari mereka bisa menemukan kata untuk memulai lagi konversasi yang sempat terhenti karena pembicaraan yang tiba-tiba saja berbelok cukup jauh.

Dehaman pelan Seulgi kemudian membuat Jongin menyarangkan sebuah lirikan. Tahu bahwa istrinya akan segera membuka konversasi lain, Jongin lekas meletakkan sendok dan garpu yang ada di tangan, meneguk air putih di gelas dan menyiapkan diri untuk kembali mendengarkan.

“Aku ingin memberitahumu tentang ini.” benar adanya, Seulgi lagi-lagi membuka pembicaraan, tangan kanannya bergerak mengambil sesuatu dari pangkuan dan meletakkannya di meja, mendorongnya pelan mendekati Jongin.

“Apa in—”

“—Hasilnya masih buram, jadi aku tidak tahu bagaimana pastinya. Kubaca-baca di internet, kalau hasilnya bisa terlihat jelas kalau sudah—”

“—Kau hamil?”

Seulgi terdiam. Tatapan Jongin jelas tertuju pada test-pack2 yang ditunjukkan Seulgi, sementara wanita itu menundukkan kepala lantaran tidak siap menghadapi ekspresi Jongin sekarang. Dia tahu, keputusannya untuk tidak menggunakan kontrasepsi memang beresiko pada kehamilan.

Tapi mana Seulgi tahu kalau kehamilan keduanya akan begitu cepat terjadi? Tidak seperti yang pertama—dimana mereka membutuhkan hampir dua tahun—Seulgi bahkan baru berhenti dari kontrasepsi selama tiga bulan.

“Seulgi-ah, kau hamil?” Jongin mengulang pertanyaannya, suara tawa kemudian terdengar lolos dari bibir pria itu, membuat Seulgi memberanikan diri untuk menatap suaminya yang kini menatap dengan senyum lebar terpasang di wajah.

“Kupikir, ya. Aku hendak mengajakmu ke dokter kandungan malam ini, tapi kupikir kau akan sibuk jadi… tidak masalah, aku bisa pergi bersama Bibi Kim.” Seulgi tersenyum simpul, tidak ingin merepotkan suaminya untuk hal yang bahkan belum diketahuinya dengan pasti.

“Kau bercanda? Mana bisa kubiarkan kau berangkat dengan menaiki taksi? Bagaimana kalau sesuatu terjadi? Kau hamil, sayang. Tidakkah kau tahu apa artinya itu? Astaga, hari ini terlalu sempurna.

“Aku tidak bangun terlalu siang, dan pagi ini kuketahui istriku hamil. Kita akan punya seorang anak lagi, Seulgi-ah.” Jongin segera bangkit dari kursinya, mengabaikan ekspresi sarat akan ketakutan yang sekarang terpasang di wajah Seulgi sekarang, dia justru menarik kursi roda istrinya, dan berlutut di hadapan wanita itu.

“Kau sangat luar biasa, Seulgi-ah. Kau sudah melupakan trauma itu dan berani. Kau tahu, aku tidak akan membuat kesalahan untuk kedua kalinya. Tidak akan kubiarkan apapun terjadi pada kehamilanmu ini.” Jongin berucap, ditariknya Seulgi ke dalam pelukan sementara Jongin sendiri terlampau bahagia.

Dadanya bergemuruh seolah akan meledak karena bahagia. Jongin pikir, hari ini terlalu sempurna untuk dikatakan sebagai sebuah hari. Kebahagiaan apa lagi yang bisa menyambut Jongin pagi ini selain berita kehamilan istrinya?

“Tapi aku takut…” Seulgi menggumam.

Jongin, melepaskan pelukannya dan menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Seulgi. Ditatapnya wanita itu seolah Seulgi sekarang adalah mahakarya rapuh yang Tuhan berikan padanya.

“Jangan takut. Ingat, aku selalu ada di sisimu. Apapun yang terjadi, aku akan menemanimu. Kalau kau mulai merasa mual, biar aku saja yang memasak. Kau hanya perlu beristirahat dan katakan padaku apapun yang kau inginkan.

“Meski kau katakan kau tidak ingin bertemu dokter kandungan, aku akan membawamu untuk memeriksakan kehamilanmu dengan rutin, sayang. Aku akan menemanimu selama sembilan bulan ini—ah, tidak.

“Aku akan menemanimu sampai kapan pun. Kalau dokter katakan kehamilanmu beresiko terhadap indera penggerakmu, tidak masalah. Aku akan tetap mencintaimu bagaimanapun keadaanmu nanti, Seulgi. Kau tidak perlu khawatir.”

Bukan, bukan itu yang sekarang Seulgi khawatirkan.

“Bagaimana jika terjadi sesuatu lagi pada bayi kita?” pertanyaan itu lolos dari bibir Seulgi begitu saja. Ketakutan itu masih memburu meski sekarang Seulgi memberanikan diri untuk mengambil resiko dan kembali hamil.

Dia yang menjalani sembilan bulan penuh ketakutan ini, bukan Jongin. Meski eksistensi Jongin juga Seulgi yakini akan mengusir ketakutannya, tapi akan tetap ada ketakutan yang hinggap dan betah menunggu sampai sembilan bulan berlalu.

“Kau punya aku di sisimu, Seulgi-ah. Selama kita mendengarkan nasehat dari dokter, percayalah kalau semua akan baik-baik saja. Tuhan tidak akan memberi kita kebahagiaan seperti ini kalau Dia ingin kita menderita lagi, sayang.”

Sebuah senyum kecil akhirnya bisa muncul di wajah Seulgi. Walaupun begitu, Jongin masih bisa melihat ketakutan yang melekat di ekspresi Seulgi.

“Seulgi-ah, kau tidak perlu takut. Aku ada di sisimu, ingat?” Jongin berkata lembut. Pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Seulgi, mendaratkan sebuah kecupan penuh sayang di bibir wanita-nya, lembut, tanpa ada paksaan atau nafsu di dalamnya.

Ciuman itu Jongin berikan sebagai pengganti dari ucapan terima kasih yang ingin ia katakan pada Seulgi. Mungkin, Seulgi sudah bosan mendengar bagaimana Jongin setiap harinya berterima kasih pada wanita itu padahal Seulgi pikir dia tidak pernah melakukan apa-apa.

“Aku mencintaimu, Seulgi-ah.” Jongin melepaskan pagutannya, beralih mengecup pipi wanita itu dan membisikkan satu kalimat cinta yang sebenarnya ingin ia ucapkan ratusan—tidak, ribuan kali.

“Aku juga mencintaimu, Jongin0ah. Dan, terima kasih…” akhirnya Seulgi lah yang mengucapkan kalimat itu.

“Terima kasih karena sudah mencintaiku walaupun sekarang aku tidak sempurna. Aku tidak lagi bisa menemanimu kemana pun kau pergi. Tidak juga bisa bekerja dan membantumu. Aku bahkan tidak sanggup hidup tanpa bantuan dari orang lain karena—”

“—Hey, hey. Seulgi, dengar. Kau mencintaiku saja sudah lebih dari cukup. Kau setiap malam terjaga untuk menungguku pulang dan menyambutku di pintu dengan senyuman juga pelukan saja sudah lebih dari cukup.

“Kita sudah bersumpah untuk saling mencintai dalam suka maupun duka. Dan juga, sudah jadi tugasku untuk bekerja keras dan menafkahi istri juga anak-anakku. Saat kau putus asa dulu, aku sudah katakan kalau aku akan menjadi kakimu, bukan?

“Sekarang, apa yang kau khawatirkan lagi, sayang?”

Tidak, tentu tidak ada lagi alasan yang bisa membuat Seulgi khawatir.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Maaf, aku tidak bisa bekerja lembur hari ini, Bung.”

“Kenapa? Hey, tunggu Kim Jongin. Ada yang aneh denganmu hari ini.”

Jongin, melemparkan sebuah lirikan pada rekan kerjanya—Oh Sehun—yang juga jadi atasannya sekarang meski dulu mereka adalah teman satu sekolah.

“Apa yang aneh denganku?” Jongin berucap.

“Sejak tadi kau terus tersenyum seperti orang gila.” Sehun berkomentar.

Jongin, hanya mengangkat bahu acuh, menyelipkan sebuah senyum—senyum yang sejak tadi Sehun tuduhkan sebagai senyum orang gila—sementara dia menyusun file-file di mejanya.

“Katakan, apa hari ini ulang tahun pernikahanmu?” Sehun menerka-nerka.

“Tidak, ulang tahun pernikahanku masih enam bulan lagi. Oh, aku juga tidak bisa lembur saat hari itu datang.” Jongin berkata dengan santai.

Well, kalau saja dia bukan teman dekat Sehun, mungkin dia tidak akan bisa bicara dengan begitu santai sekarang. Sayang, Sehun yang sudah tahu benar bagaimana sulitnya Jongin dan kehidupan rumah tangganya, sama sekali tidak bisa untuk tidak memberi toleransi pada sahabatnya itu.

“Lalu, apa hari ini ulang tahun istrimu?” tanya Sehun.

“Tidak.” Jongin menjawab dengan penuh keyakinan.

“Lalu ada apa? Ceritakan padaku, baru aku bisa memutuskan untuk memberimu izin pulang cepat atau tidak.” Sehun memutuskan.

Jongin, mengisyaratkan pada Sehun untuk mendekat menggunakan jarinya. Bodohnya, Sehun menurut juga. Pria bermarga Oh itu mendekatkan diri ke arah Jongin, menunggu apa yang akan dikatakan pria bermarga Kim itu selanjutnya.

“Istriku hamil. Aku harus menemaninya ke dokter kandungan malam ini.” Jongin berbisik.

Berkebalikan dengan ekspresi Jongin, Sehun justru tampak terkejut.

“Wah! Istrimu hamil?! Kenapa tidak kau katakan dari tadi huh?”

Hampir saja, Jongin melempar Sehun dengan tumpukan file di mejanya karena reaksi pria itu begitu tidak diduganya, untung saja Jongin ingat posisinya sekarang sebagai orang baru di kantor cabang ini. Siapa yang tahu kalau Sehun akan bereaksi begitu berlebihan?

“Jangan berlebihan, Oh Sehun. Aku dan Seulgi sama-sama belum bisa memastikannya jadi malam ini kami akan ke dokter.” ucap Jongin.

“Baiklah, mengingat kau hampir tidak pernah mengambil cuti tahunan, jadi sah saja bagimu untuk pulang cepat demi istrimu. Tapi lain kali, aturlah jadwal ke dokter kandungan itu supaya tidak mengambil jam kerja. Aku tidak ingin orang-orang menganggapmu meremehkan pekerjaan.

“Aku mungkin bisa mengerti, tapi orang lain belum tentu. Kau tahu sendiri, manusia tidak sebaik bagaimana mereka terlihat. Kau juga seorang jenius, Kim Jongin, pasti kau tahu bagaimana cara mengatur jadwalmu dengan baik, bukan?”

Sebuah senyum Jongin pamerkan sebagai persetujuan.

“Tentu saja aku tahu. Hanya saja, hari ini begitu tidak kuduga, Sehun-ah. Kau tahu bagaimana bahagianya aku karena ini bukan?”

Sehun hanya mengangguk-angguk pelan.

“Ya, ya. Aku tahu jelas, ekspresimu mengatakan segalanya. Tapi kau tahu sendiri Tuhan tidak suka segala sesuatu yang berlebihan, bukan? Jadi batasi euforiamu itu, Kim Jongin.”

Lekas, Jongin merapatkan bibir dan memamerkan ekspresi datar meski senyum masih bisa terlihat di kedua manik gelap matanya. Berpura-pura bertindak sopan, Jongin memberi hormat pada sahabatnya itu—hal yang ditanggapi Sehun dengan memutar bola mata jengah—sembari berkata.

“Aku mengerti, Oh Sehun-ssi.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Tidak banyak pembicaraan tercipta saat Jongin dan Seulgi ada di dalam mobil—mobil yang susah payah Jongin dapatkan dengan kredit yang dimilikinya dari kantor—dan selama hampir tiga puluh menit perjalanan mereka menuju praktek dokter kandungan, hanya ada sekitar lima atau kalimat saja yang keluar dari bibir mereka.

Entah, siapa yang terlalu sibuk sampai tidak sadar mengabaikan siapa.

Jongin yang menuruti pesan Sehun untuk tidak terlalu bereaksi berlebihan terhadap kehamilan Seulgi. Atau Seulgi yang masih begitu dilingkupi rasa takut dan trauma akibat kejadian enam tahun lalu.

Yang jelas, sampai mereka duduk menunggu di ruang tunggu praktek sang dokter, hanya ada satu kalimat yang memecah keheningan keduanya.

“Ayo, Seulgi-ah, sekarang giliranmu.”

Jongin sekarang duduk di depan meja dokter, sementara Seulgi berbaring di tempat tidur dan dokter sendiri tengah melakukan USG3 pada wanita itu. Meski Jongin tidak mengerti ilmu kedokteran, sedikit banyak dia bisa punya insting mengenai keadaan istrinya sekarang.

“Enam tahun ternyata berlalu dengan sangat cepat, Tuan Kim.” Jongin tersenyum mendengar ucapan sang dokter.

“Terima kasih, Dokter Do.” ucapnya sopan.

“Seingatku, enam tahun lalu ketika aku masih menjadi seorang residen di rumah sakit, Nyonya Kang adalah wanita yang sangat kuat. Mempertahankan kehamilan kembarnya dan melawan hipokalemia4.” dokter tersebut—Do Kyungsoo—mengalihkan USG dari perut Seulgi, tersenyum menatap Jongin dari balik kacamata ber-frame bulat miliknya.

“Nyonya Kang juga jadi pasien ketiga operasi caesarku5. Sayang, salah satu bayinya tidak bisa bertahan karena kelainan kongenital6.” Kyungsoo lagi-lagi berkelakar, tidak tahu kalau pria di hadapannya tengah menunggu dengan cemas.

“Istri Anda hamil, Kim Jongin-ssi. Usia kehamilannya menginjak delapan minggu saat ini. Dari hasil USG saat ini, kemungkinan besar janinnya tunggal jadi mungkin kalian tidak harus khawatir pada kehamilan kembar.

“Tadi Anda katakan kalau istri Anda terlalu khawatir, bukan?” Kyungsoo beralih pada lembar pemeriksaannya, sementara Jongin beranjak dari tempat duduk, membantu istrinya merapikan pakaian dan turun dari tempat tidur, berpindah ke kursi roda yang setia menemaninya selama beberapa tahun ini.

“Anda sudah berhasil melewati satu kehamilan kembar, Seulgi-ssi. Bisa kukatakan, kalau sekarang kehamilan ini memang beresiko, karena penyakit yang Anda derita. Tapi keadaan psikologis juga sangat mempengaruhi kehamilan.

“Jika ibu calon janin terlalu stres, ada kemungkinan janin di dalam kandungan juga akan mengalami stres. Yang jelas, kurangi aktifitas sehari-hari, dan perbanyak konsumsi makanan bergizi—terutama kalium. Oh, mengenai fisioterapi Nyonya Kang, mungkin bisa kubicarakan dengan petugas Rehab Medik7 rumah sakit untuk menundanya sementara demi kehamilan ini.

“Bukankah kalian berdua menginginkan kehamilan ini?”

Jongin, dan Seulgi hanya saling melempar pandang setelah mendengar penjelasan sekaligus nasehat dari Kyungsoo. Keduanya sama-sama tidak bisa berbalas kata, tapi senyum kecil di wajah Seulgi sudah jadi jawaban bagi Jongin bahwa Seulgi memang menginginkan kehamilan ini.

“Ya, kami memang menginginkannya.” Jongin mengambil keputusan untuk angkat bicara.

“Aku yakin istriku juga menginginkannya, Dokter. Karena enam tahun lalu istriku dirawat oleh Anda, kali ini aku juga percayakan kehamilan juga kelahiran anak kami nanti pada Anda.” lagi-lagi Jongin berkata.

Kyungsoo, menyelipkan sebuah senyum sementara kini tatapannya bersarang pada Seulgi, seolah menunggu wanita itu mengucapkan keyakinannya.

“Aku juga akan berusaha untuk tidak terlalu stres.” Seulgi akhirnya berucap.

“Bagus…” Kyungsoo menggumam, segera pria itu beralih pada monitor di hadapannya, mengetikkan barisan resep di komputer untuk diambil Jongin dan Seulgi di ruang obat yang ada di sebelah ruang tunggu.

“Aku sudah berikan beberapa vitamin. Luangkan waktu di minggu depan untuk datang ke rumah sakit, karena harus ada pemeriksaan darah lengkap juga untuk Nyonya Kang.

“Pemeriksaan rutin juga tidak boleh terlewat seperti kehamilan yang dulu. Lagipula, tempat praktekku buka saat akhir pekan. Aku yakin kalian akan punya waktu untuk datang, bukan?”

Well, Jongin kini merasa takjub pada dokter di hadapannya. Heran sekali bagaimana pria itu bisa begitu mengingat keadaan Seulgi enam tahun lalu—karena dulu Jongin beralasan mereka sibuk bekerja sampai-sampai tidak sempat melakukan pemeriksaan kehamilan rutin pada Seulgi—dan sekarang bisa mengungkit kembali hal itu.

“Ya, kupastikan kali ini istriku akan kontrol dengan rutin, Dok.” Jongin berucap penuh keyakinan.

Ya, dia sudah mengambil keputusan dan sebuah komitmen pada dirinya sendiri. Bahwa keadaan Seulgi kali ini tidak boleh lebih buruk daripada dulu. Karena dulu keduanya sama-sama kurang pengetahuan dan belum terbuka, kali ini tidak boleh terjadi sesuatu yang buruk pada Seulgi, maupun bayi mereka nanti.

Kyungsoo, akhirnya mengangguk-angguk pelan.

“Kalau begitu, untuk saat ini Nyonya Kang hanya perlu kontrol satu bulan sekali, atau sewaktu-waktu saat ada keluhan. Ingat, minggu depan Nyonya Kang harus ke rumah sakit untuk pemeriksaan darah.

“Dan juga, jangan berputus asa. Meskipun sekarang keadaan Nyonya Kang dianggap orang-orang penuh kekurangan dan tidak pantas untuk hamil, tapi di luar sana masih ada wanita-wanita lainnya yang juga menderita sakit—bahkan ada yang lebih parah daripada Nyonya Kang—tapi mereka sanggup bertahan.”

Anggukan pelan Seulgi berikan sebagai jawaban. Sementara Jongin sendiri tidak hentinya berucap terima kasih. Dia memang berterima kasih, karena kepedulian Kyungsoo pada keadaan Jongin juga Seulgi, karena Seulgi yang akhirnya memutuskan untuk melawan ketakutan.

Usai mendapatkan pemeriksaan, Jongin akhirnya membawa Seulgi keluar dari ruangan dokter, menunggu di dekat ruang obat.

“Ada banyak yang harus aku siapkan.” Jongin menggumam.

“Apa yang mau kau siapkan?” tanya Seulgi, menatap Jongin tidak mengerti sementara suaminya tampak sibuk sendiri dengan pemikirannya.

“In-soo.”

Kini, alis Seulgi bertaut bingung. Apa yang harus disiapkan dengan putra mereka? Seingat Seulgi, In-soo tidak punya kegiatan apapun dalam waktu dekat.

“Menyiapkan apa?” tanya Seulgi.

Jongin, menatap istrinya dengan sebuah senyuman, sementara jemarinya bergerak mengacak surai gelap Seulgi dengan gemas.

“Apa kau bodoh? Tentu saja aku harus menyiapkannya untuk jadi seorang kakak, Seulgi sayang.”

Ugh, pemikiran apa lagi yang sekarang ada di benak Jongin? Menyiapkan putranya yang bahkan belum genap berusia enam tahun untuk jadi seorang kakak?

♫ ♪ ♫ ♪

♫ ♪ ♫ ♪

♫ ♪ ♫ ♪

Glossarium:

Fisioterapi: proses merehabilitasi seseorang agar terhindar dari cacat fisik melalui serangkaian penilaian, diagnosis, perlakuan, dan aktivitas pencegahan.

Test Pack: Alat tes kehamilan

USG: Ultra Sonography, merupakan penggunaan suatu alat dengan prinsip dasar menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi yang tidak dapat didengar oleh telinga kita. Denga alat USG dapat dilakukan pemeriksaan organ-organ tubuh dengan aman (tidak ada efek radiasi).

Hipokalemia: merupakan kondisi dimana kadar kalium (potassium) di dalam darah, serum, atau plasma darah menurun atau di bawah normal. Penderita hipokalemia seringkali tidak merasakan gejala apapun, terutama bila masih berada dalam tahap ringan. Keadaan hipokalemia pada ibu hamil dapat menyebabkan perubahan fungsi otot, bahkan kelumpuhan.

Operasi Caesar: merupakan proses persalinan dengan melalui pembedahan dimana irisan dilakukan di perut ibu dan rahim untuk mengeluarkan bayi.

Kelainan Kongenital: kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Kelainan bawaan dapat dikenali sebelum kelahiran, pada saat kelahiran atau beberapa tahun kemudian setelah kelahiran.

Rehab Medik: Pelayanan kesehatan menyeluruh penderita gangguan fisik dan fungsi tubuh karena kondisi sakit atau cedera yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan fungsional dan kualitas hidup  secara maksimal dengan menggunakan alat terapi fisik berdasarkan ilmu kedokteran fisik dan rehabilitasi medik.

♫ ♪ ♫ ♪

♫ ♪ ♫ ♪

♫ ♪ ♫ ♪

IRISH’s Fingernotes:

Ini awalnya twoshot si Marriage udah cukup sampai si Seulgi abis lahiran -_- berhubung Al nyepam tujuh puluh pesan di-wa yang berisi kekecewaan sama ending yang sebelumnya, mau enggak mau diri ini enggak tenang juga.

Akhirnya, ketika malem ini si Al pundung—karena satu-dua-tiga hal—dia ngingetin ane kalo dia bisa dirayu pake ff -____-

TERPAKSA, KaiSeul ane debutkan lagi cerita pernikahannya di sini. Twoshot lagi—Al minta satu aja tapi ane baik jadi ane kasih dua sekaligus—dan kali ini do’akan aja enggak akan berbelok jadi melodrama kayak kemarin, LOLOLOL.

Duh, ini ngetiknya ngebut sejam… entah ada berapa banyak typo di atas sana… entah alurnya kecepetan atau enggak… entah… diri ini udah terlalu ngantuk dan migrain T.T

Sekian dariku, salam kecup, Irish!

P.s: kenapa masukin Kyungsoo jadi dokter itu bikin trauma…

[    IRISH SHOW    ]

Iklan

20 pemikiran pada “[TWOSHOT] MARRIAGE 2: 8 WEEKS — IRISH’s Tale

  1. Aku kok bahagia kak irish bikin lanjutannya marriage ini. begitu muncul langsung aja ku-klik aja 😀 ceritanya baca ini sambil nunggu jemputan di depan sekolah dan senyum2 sendiri gitu di pinggir jalan XD Dan yaampun Seulgi hamil lagi WAAA
    Aku juga kok agak aneh saat kyungsoo jadi dokter kandungan ya kak XD nggak bisa fokus, pengen ngakak mulu HAHA
    Keep writing lah, anyway!

    • XD aku juga bahagia kok bisa bikin lanjutannya wkwkwk soalnya sekarang udah engga sanggup ini otak mau ngetik marriage life lagi XD wkwkwkwkwkwkwk

  2. Kaiseul chukkae~
    duh makasih lho thor mau dilanjutin cerita mereka dgn bumbu2 happy.. Ga kayak kemaren yg miris bgett… Hehehe smangat nulisnya thor and next!!

  3. Awhhhh mereka so sweet banget…mereka org tua hebat yang gk pernah nyerah meski pernah terpuruk keren,Daebak.lanjutkan kan thorrrr

  4. Ping balik: [TWOSHOT] MARRIAGE 2: 39 WEEKS — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  5. wah cerita kaiseul lanjut lagi.. yeay..
    semoga kali ini bener” happy ending ya thor.. 😀
    di tunggu next chaptnya.. Fighting..

  6. Oh, ini ‘bribe’ bwt Al ya, ko heran at 1st, bukan’ny 2shots marriage’ny dah kelar di melodrama kmrn, apa.. casts’ny laen 😕 tp msh kaiseul. Glad to know khdpn klrg kcl mrk berjln baik pasca lhrn in soo. Pen liat in soo 😙 dah tumbuh jd anak imut & pntr skrg ya? Kbayang kai di oh my baby ☺ anak tu ja ya yg jd in soo’ny 😃
    Ngakak pas kai bilang ‘dktr d.o’ 😂 trnyt 6년 ago d.o msh jd residen ya. Dktr jd profesi tetap d.o di ff bwtn irish nih 😄 mule dr yg saiko ampe yg nrml, ㅋㅋㅋㅋㅋ
    세훈 sang classmate jd bos di kntr cbng 😍 pen krj disana jg nih 누나 jd secretary kamu 세훈아~💋

    • Kak Nindy mbb egen XD wkwkwkwkwkkw hamdallah ini udah kelanjut, kalo sekarang keknya jiwa aku udah engga sanggup buat ngetik marriage lagi XD wkwkwkwkwkwkkwkwkwkwkwkwk YAAMPON DOKTER DO KYUNGSOO INI BIKIN KEBAYANG SAMA SERIES BESDEY DULU KAN YA XD WKWKWKWKWK

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s